Category Archives: Kitab HAKIKAT BID’AH dan HUKUM-HUKUMNYA

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Sejarah Munculnya Bid’ah…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Tercelanya Bid’ah # 3…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Sejarah Munculnya Bid’ah 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan kitab Haqiiqotul Bid’ah (Hakikat Bid’ah)

Kita masuk kepada pembahasan…

⚉  Sejarah Munculnya Bid’ah

Ketahuilah bahwa dizaman Rosulullah, demikian pula Abu Bakar, demikian pula ‘Umar, bid’ah belumlah muncul.
Karena dizaman tersebut adalah zaman yang luar biasa terjaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka-mereka yang terus berpegang kepada sunnah Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam.

Munculnya kebid’ahan yang merupakan fitnah, itu setelah zaman ‘Umar bin Khattab rodhiallahu’anhu. Dan ini sudah diisyaratkan dalam sebuah hadits bahwa ketika Umar bertanya kepada para sahabat, “Siapa diantara kalian yang mengetahui hadits tentang fitnah ?”
Kemudian Hudzaifah berkata, “Engkau tidak akan terkena fitnah tersebut hai Umar. Karena antara engkau dan fitnah tersebut ada sebuah pintu.”
Lalu ‘Umar berkata, “Apakah pintu itu akan terbuka atau pecah ?”
Kata hudzaifah: “pecah”
Kata Umar, “Kalau begitu pintu tersebut tidak akan tertutup kembali.”

Ini memberikan kabar bahwa fitnah-fitnah termasuk di dalamnya yaitu munculnya kebid’ahan, yaitu baru muncul setelah dizaman ‘Umar bin Khattab. Tepatnya diakhir zaman ‘Utsman bin Affan, munculnya fitnah khowarij.
Dimana kaum khowarij, mereka akibat daripada hasutan-hasutan orang-orang yang pura-pura masuk Islam, seperti Abdullah bin Saba’ dan kawan-kawannya yang menyebarkan fitnah terhadap ‘Utsman bin Affan yang kemudian terjadilah demo besar-besaran untuk menurunkan ‘Utsman yang berakhir dengan terbunuhnya ‘Utsman bin Affan.

Kemudian digantikan oleh Ali bin Abi Thalib. Dan dizaman Ali terjadi perang antara Ali dan Muawiyah yang disebut dengan perang Shiffiin. Yang kemudian Ali dan Muawiyah bersepakat untuk berdamai. Dimana Ali mengirimkan Abu Musa al-Asy’ari dan Muawiyah mengirimkan Amr bin al-Ash.

Kemudian orang-orang khowarij disinilah muncul karena kedangkalan ilmu mereka, mereka menuduh Ali menyerahkan hukum kepada manusia. Muawiyah menyerahkan hukum kepada manusia, padahal hukum itu kata mereka milik Allah semata. Maka Ali dituduh oleh mereka tidak berhukum dengan hukum Allah.
Sementara orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah itu kafir. Maka merekapun mengkafirkan Ali dan mengkafirkan para pengikut Ali, mengkafirkan Muawiyah dan merekapun juga mengkafirkan para pengikut Muawiyah.
Dan mereka berkumpul disebuah tempat, namanya Haruro’. Mereka kemudian disebut kaum Haruriyyah.

Dan munculnya khowarij ini telah Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam kabarkan akan kemunculan mereka, dalam hadits-hadits yang shohih. Diantaranya Rosulullah bersabda,
“Akan muncul sebuah kelompok saat kaum muslimin sedang berperang, berpecah belah
Mereka menghafal Al Qur’an
Namun tidak sampai kekerongkongannya…”
maksudnya karena sangking dangkal mereka pemahamannya.

Itulah kemudian muncul ternyata benar dizaman Ali bin Abi Thalib rodhiallahu ’anhu.

Tadinya Ali tidak mau memerangi mereka. Tapi ketika mereka telah berbuat keonaran dan membunuhi sebagian kaum muslimin, maka Ali bin Abi Thalib pun bermusyawarah dengan para sahabat. Maka bersepakatlah para sahabat bahwa mereka itulah yang dimaksud oleh Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam

Dan bahwasanya orang yang memerangi mereka akan mendapatkan pahala yang besar sampai hari kiamat.

Rosulullah mengabarkan bahwa tanda diantara mereka adalah ada dilengan salah seorang mereka seperti payudara wanita. Maka Ali pun dengan bertawakal kepada Allah bersama para sahabat memerangi kaum haruro tersebut, dan berhasil ditumpas. Lalu Ali berusaha mencari tanda tersebut dan ternyata mendapatkannya lalu beliaupun sujud sebagai rasa syukur kepada Allah.

Dan tentunya orang-orang khowarij tidak sampai disitu, mereka sisa-sisa mereka yang lari berusaha untuk membalas dendam sampai akhirnya mereka berhasil membunuh Ali bin Abi Thalib.

Kemudian… ini adalah khowarij dan khowarij pemikirannya adalah intinya mengkafirkan pelaku dosa besar, karena mereka memahami secara pemahaman yang dangkal firman Allah, barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka kafir. Sedangkan pelaku dosa besar tentunya tidak berhukum dengan hukum Allah, jadi menurut mereka kafir.

Atas dasar inilah mereka menganggap bahwa seluruh pelaku dosa besar itu murtad kafir halal darahnya. Na’udzubillah

Kemudian nanti akan kita jelaskan firqoh yang lainnya.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Tercelanya Bid’ah # 3…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Tercelanya Bid’ah # 2…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Tercelanya Bid’ah # 3 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan kitab Haqiiqotul Bid’ah (Hakikat Bid’ah)

Kemudian beliau setelah membawakan dalil-dalil dari Alqur’an dan Hadits tentang tercelanya bid’ah,

Beliau membawakan…

⚉  atsar-atsar dari para sahabat dan para tabi’in dan para Ulama Salaf terdahulu tentang tercelanya bid’ah.

Diantaranya yaitu yang dikeluarkan Abu Dawud dengan sanadnya kepada Mu’adz bin Jabal, bahwa beliau berkata:

‎إن من ورائكم فتناً يكثر فيها المال ويفتح فيها القرآن

‘Sesungguhnya dibelakang kalian nanti akan banyak fitnah, dizaman itu harta akan melimpah, Al Qur’an akan dipelajari oleh mukmin maupun munafik, laki-laki maupun wanita, anak kecil maupun orang tua, hamba sahaya maupun merdeka.’

‎فيو شك أن يقول قائل : ما للناس لا يتبعوني؟

‘Hampir-hampir akan ada orang berkata begini: “Mengapa orang-orang tidak mau mengikutiku, sementara aku sudah hafal Qur’an, mereka tidak akan mengikutiku sampai aku membuat bid’ah..?”‘

Maka kata Mu’adz, ‘hati-hatilah kalian apa yang ia ada-adakan berupa bid’ah tersebut’

‎فإن ما ابتد ع ضلالة واحذروا زيفة الحكيم

‘Karena yang ia buat-buat berupa bid’ah itu adalah kesesatan, dan hati-hati juga terhadap kesalahan orang yang bijak karena setan terkadang mengucapkan kata-kata yang sesat melalui lisan orang yang bijak dan terkadang orang munafik mengucapkan kata-kata kebenaran’ [dikeluarkan Darimiy dan Ibnu Waddlhoh]

Disini beliau (Mu’adz bin Jabal) mengabarkan bahwa kelak nanti akan banyak fitnah diantaranya juga akan orang semua akan mempelajari Al Qur’an, betul-betul menghafal Alqur’an bahkan mempelajari tajwidnya dengan sungguh-sungguh. Sampai-sampai orang munafik dan orang berimanpun semuanya mempelajarinya. Namun ternyata ada orang yang mempelajarinya karena ingin mendapat pengikut, ternyata ia tidak mendapatkan pengikut, lalu ia berbuat bid’ah agar diikuti oleh orang.

Maka Beliau mengingatkan agar menjauhi orang seperti ini. Beliau juga mengingatkan, terkadang orang yang bijaksana atau orang alim mengucapkan kata-kata yang ternyata tidak sesuai kebenaran. Maka hati-hati juga jangan sampai menipu kita. Terkadang juga orang munafik mengucapkan kata-kata kebenaran, maka jangan juga kita, gara-gara satu kebenaran yang ia ucapkan, menyebabkan kita tertipu oleh kemunafikannya.

Ucapan beliau ini sangat mengena untuk di zaman sekarang terutama.

⚉  Kemudian Beliau membawakan Atsar Hudzaifah Ibnul Yaman, bahwa beliau berkata:

‎يا معشر القراء استقيموا فقد سبقتم سبقا بعيداً، ولئن أخذ تم يميناً أو شمالاً لقد ضللتم ضلالاً بعيداً

‘Wahai para qori, wahai ma’syarol Qura’ (maksudnya disini orang-orang yang senantiasa mempelajari Al Qur’an, senantiasa berusaha untuk mempelajari ilmu)

Kata beliau : ‘istiqomahlah… kalian telah mendahului manusia dengan pahala, dengan mendahului yang jauh sekali.
Kalau kalian tidak istiqomah dan mengambil jalan kanan atau kiri kalian akan sesat sesesat-sesatnya’ artinya kalau kalian tidak mengikuti sunnah Rosul, tidak mengikuti jalan mustaqiim yang lurus yang dipegang oleh Rosul dan para sahabatnya, kalian akan tersesat.

⚉  Kemudian beliau menyebutkan juga Atsar Abul ‘Aliyah yang dikeluarkan oleh Imam Al Ajurri.

Abul ‘Aliyah seorang tabi’in berkata : ‘Pelajarilah Islam, apabila kalian telah mempelajarinya jangan kalian setelah itu malah membencinya.’ Artinya jangan berubah setelah belajar Islam, akibat mengikuti hawa nafsu dan yang lainnya.

Lalu beliau berkata lagi

‎وعليكم بالصراط المستقيم

‘Hendaklah kalian berpegang kepada jalan yang lurus.
Karena jalan yang lurus itu ada pada Islam, jangan bengkok dari jalan yang lurus itu kekanan atau kekiri’

‎وعليكم بسنة نبيكم
‎والذي عليه أصحابه

‘Dan hendaklah kalian berpegang kepada sunnah Nabi kalian
dan yang di pegang oleh para sahabatnya’

‎فإ نا قد قر أنا القرآن من قبل أن يفعلوا الذي فعلوه خمس عشرة سنة

‘Karena kita sudah membaca Al Qur’an sebelum mereka melakukan yang mereka lakukan, lima belas tahun lamanya. Dan jauhi oleh kalian hawa nafsu-hawa nafsu ini yang bisa menyebabkan permusuhan antara manusia dan menyebabkan kebencian.’

Disini beliau memberikan nasehat agar kita berpegang kepada sunnah Nabi dan apa yang dipegang oleh para sahabat.

⚉  Ibnu ‘Abbas berkata:

‎عليكم بالاستقامة والأثر وإياكم والتبدع

‘Hendaklah kalian istiqomah, berpegang kepada Atsar para sahabat, jauhi oleh kalian perbuatan bid’ah’ [dikeluarkan oleh Ibnu Waddlhoh]
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Tercelanya Bid’ah # 2…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Tercelanya Bid’ah # 1…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Tercelanya Bid’ah # 2 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan kajian kitab Haqiiqotul Bid’ah (Hakikat Bid’ah)

⚉  Masih menyebutkan dalil-dalil tentang tercelanya bid’ah.

Allah Ta’ala berfirman [QS Aali-‘Imron : 105-107]

 وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جاءَهُمُ الْبَيِّناتُ وَأُولئِكَ لَهُمْ عَذابٌ عَظِيمٌ (105

‘Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan, dan bagi mereka azab yang pedih’

‎يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

‘Pada hari wajah-wajah menjadi putih dan wajah-wajah menjadi hitam’

‎فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذابَ بِما كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

‘Adapun orang-orang yang wajahnya hitam, (dikatakan kepada mereka), apakah kalian kafir setelah keimanan kalian, maka rasakanlah azab disebabkan oleh kekafiran kalian’

‎وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَتِ اللَّهِ هُمْ فِيها خالِدُونَ

‘Adapun orang-orang yang putih wajah mereka, mereka berada dalam rahmat Allah dan mereka kekal didalamnya.’

Ayat ini ditafsirkan oleh Ibnu ‘Abbas, dimana Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa orang-orang yang putih wajahnya itu wajah Ahlus-sunnah wal Jama’ah, sedangkan orang-orang yang wajahnya hitam itu wajah ahli bid’ah dan kesesatan
[HR. Al Aallikaai dalam syarah al ‘itikod Ahlusunnah wal Jama’ah]

Kemudian Abu Umamah Al Bahiri juga ketika melihat orang-orang khowarij terbunuh, beliau berkata,

كلاب النار…. كلاب النار…..كلاب النا ر

‘anjingnya api neraka.. anjingnya api neraka’

‎شر قتلى تحت أديم السماء خير قتلى من قتلوه

‘Seburuk-buruknya yang terbunuh dibawah langit adalah orang-orang khowarij dan sebaik-baiknya orang yang dibunuh adalah yang dibunuh oleh orang-orang khowarij.’

Kemudian beliau membawakan ayat tadi,

‎يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

Lalu ada orang yang berkata kepada Abu Umamah, ‘apakah engkau mendengarnya langsung dari Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam ?’
Kata Abu Umamah, ‘kalau aku tidak mendengarnya 2 kali atau 3 kali atau 4 kali atau 5 kali atau 6 kali atau 7 kali, maka aku tidak akan menyampaikannya kepada kalian’  [HR. Tirmidzi, Ibnu Majah juga Imam Ahmad bin Hambal dalam musnajnya]

Maka ini menunjukkan bahwa betapa tercelanya kebid’ahan.

Kemudian beliau membawakan hadits dari Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam dimana Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

‎أما بعد فإن خير الحديث كتا ب اللّٰه، وخير الهدي هدي محمد ﷺ وشر الأمور محدثاتها و كل بدعة ضلالة

‘Sesungguhnya sebaik-baiknya ucapan adalah Kitabullah dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad ‎shollallahu ‘alayhi wasallam dan seburuk-buruknya perkara adalah yang di ada-adakan dan setiap bid’ah itu sesat.’  [HR. Abu Dawud, Nasa’i dan yang lainnya]

Dari Imam Nasa’i memberikan tambahan

‎و كل ضلالة في النار

‘dan setiap kesesatan itu tempatnya dalam api neraka’

Disini Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam dalam khutbah-khutbahnya mengingatkan tentang bahaya bid’ah.

Beliau shollallahu ‘alayhi wasallam mengatakan bahwa seburuk-buruk perkara adalah yang di ada-adakan yaitu kebid’ahan, karena kebid’ahan itu perkara yang sangat buruk dalam agama ini yang bisa merusak kemurnian Islam.

Kemudian Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam mengatakan ‘..dan setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan itu dalam neraka..’, ini menunjukkan bahwa kebid’ahan itu semuanya sesat. Adapun ucapan sebagian ‘Ulama akan adanya bid’ah hasanah itu adalah bid’ah secara bahasa saja.

Juga Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda

‎من أحدث في أمر نا هذا ما ليس منه فهو رد

‘Siapa yang mengada-ada dalam urusan kami ini, apa-apa yang bukan darinya, maka ia tertolak.’ [HR. Imam Bukhori dan Muslim)

Ini menunjukkan bahwa perbuatan bid’ah itu ditolak

Demikian pula hadits Al ‘Irbadl bin Sariih yang masyur, dimana Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

‎فإنه من يعش منكم فسير ى اختلافاً كثير اً فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الر اشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة

“Sesungguhnya orang yang hidup diantara kalian kelak akan melihat perpecahan yang banyak, maka saat itu hendaklah kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah Khulafa Ar Rasyidin yang tertunjuki, gigit ia dengan gigi geraham, jauhi oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena setiap yang baru itu bid’ah.”

Ini Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam mengabarkan bahwa ummatnya akan berpecah belah, lalu Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam memberikan dua solusi:

1⃣  Berpegang kepada sunnah Rasul dan sunnah Khulafa Ar Rasyidin, sunnah para sahabat
2⃣  Menjauhi kebid’ahan

Dan tentu perkara ini berat sekali dizaman yang sangat penuh fitnah dan perpecahan seperti ini

👉🏼  Makanya Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam menyebutkan dalam hadits lain, bahwa berpegang kepada sunnahku disaat ummatku berpecah belah seperti memegang bara api.

Semoga Allah memberikan kepada kita kekuatan terus untuk berpegang kepada sunnah Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam dan sunnah para sahabat serta meninggalkan berbagai macam kebid’ahan
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Tercelanya Bid’ah # 1…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Makna Sunnah…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Tercelanya Bid’ah # 1 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita melanjutkan kajian kita… sekarang pembahasan :

⚉  Tercelanya Bid’ah – ‎ذم ابدع

Ketahuilah bahwa bid’ah itu banyak sekali bahayanya terutama terhadap agama Islam, karena bid’ah itu merusak syari’at dan kemurnian Islam, dimana di masukkan kedalam Islam hal-hal atau perkara-perkara yang sama sekali bukan dari Islam.

Bahkan bid’ah juga menikam kesempurnaan Islam, padahal Islam ini sudah sempurna.
Allah Ta’ala berfirman [Al-Maa-idah: 3]

‎الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan untukmu agamamu”

Bahkan bid’ah juga menikam akan sifat amanah Rosul, karena seakan-akan ada sesuatu yang belum disampaikan oleh Rosul dan Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam belum sempurna menyampaikan Islam ini.

Oleh karena itulah Rosulullah‎ shollallahu ‘alayhi wasallam setiap khutbah jum’at selalu mengingatkan akan bahaya bid’ah. Beliau bersabda:

‎فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ ﷺ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shollallahu ‘alayhi wasallam, seburuk-buruk perkara adalah yang di ada-adakan, dan setiap yang diada-adakan itulah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat.”

Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam selalu sampaikan itu di khutbah Jum’atnya dan di kesempatan-kesempatan yang lainnya. Menunjukkan betapa bahayanya bid’ah terhadap kesempurnaan agama ini.

Disini Beliau (penulis) menyebutkan ayat-ayat dari Alqur’an dan Hadits yang mencela bid’ah.

Diantaranya:

1⃣ QS Aali-Imran : 7

‎هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ

“Dialah Allah yang telah menurunkan kepadamu Al Kitab, diantanya ada ayat-ayat muhkamaat dan itu adalah UMMUL-KITAAB dan yang lainnya mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang ada dalam hatinya kecondongan kepada kesesatan, mereka mengikuti apa-apa yang mutasyaabihaat karena mencari-cari fitnah dan mencari-cari penafsiran sesuai dengan keinginan sendiri.”

‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha berkata:  Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam membacakan ayat ini, lalu Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

‎فَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُوْلَئِكَ الَّذِيْنَ سَمَّى اللهُ فَاحْذَرُوْهُمْ.

‘Kalau kamu melihat orang-orang yang selalu mengikuti ayat-ayat mutasyaabihaat, mereka itulah yang Allah namai dalam ayat tersebut, maka waspadalah kamu darinya’” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim)

Ibnu ‘Abbas menafsirkan, sebagaimana di keluarkan oleh Imam Al Ajurri, bahwa yang dimaksud ayat ini masuk padanya orang-orang khowarij, demikian pula semua ahli bid’ah, yang mereka menafsirkan ayat dengan hawa nafsu mereka, dengan akal mereka sendiri, tidak mau mengikuti pemahaman para sahabat Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam

2⃣ QS Al An’am : 153
Allah Ta’ala berfirman :

‎وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan bahwasanya inilah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah ia, dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan yang lainnya, niscaya jalan-jalan itu akan memecah-belah kalian dari jalan-Nya.”

Imam Mujahid ketika menafsirkan ‘Jangan kamu mengikuti jalan-jalan yang lainnya, niscaya jalan-jalan itu akan memecah-belah kalian dari jalan-Nya’
Kata Imam Mujahid ‘jalan-jalan yang lainnya’ yaitu “Bid’ah dan Syubhat”

Karena bid’ah itu memalingkan kita dari jalan Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam yang merupakan sunnahnya maka orang yang mengikuti kebid’ahan dia akan berpecah-belah dari sunnah Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam dan meninggalkannya.

Ayat ini menunjukkan bahwa makna perpecahan itu artinya tidak mengikuti sunnah, maka ahli bid’ah di sebut ‘ahlul furqoh’ oleh para Ulama, kenapa ? Karena mereka tidak mau mengikuti sunnah, berarti mereka memecahkan diri mereka dari sunnah Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Makna Sunnah…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Berpegang Teguh Dengan Sunnah…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Makna Sunnah 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan Hakikat Bid’ah dan Hukumnya… kemudian kita masuk ke pembahasan…

⚉  Makna Sunnah

Makna ‘sunnah’ secara bahasa dari kata ‘sanna sunatan’ yang artinya mempunyai makna yaitu ‘ath-thoriiqoh wa siiroh’ (tata cara dan siroh)
maka kata-kata ‘sanna’ mempunyai tata cara seperti Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda dalam hadits Riwayat Muslim

‎مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً

“Siapa yang memulai sebuah tata cara yang baik maka ia mendapatkan pahala, dan pahala orang-orang yang mengamalkan sampai hari kiamat.”

‎وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِـّئَةً

“Dan siapa yang memulai tata cara yang buruk

‎عَلَيْهِ وِزْرُهَا

Ia dapat dosanya dan dosanya orang yang mengamalkan sampai hari kiamat”

Kata ‘SANNA SUNNATAN’ dalam hadits ini mempunyai makna secara bahasa, artinya: membuat atau memulai sebuah cara.

Dan tentunya yang di maksud dengan ‘sunnah hasanah’ yaitu tata cara yang sesuai dengan dalil dari Alqur’an dan Hadits Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam

Adapun secara istilah, maka sunnah itu ada dua makna:
1. Makna yang umum
2. Makna yang khusus

⚉  Adapun makna yang umum (kata Beliau)
Sunnah bermakna umum artinya syariat Islam yang ada dalam Alqur’an dan Sunnah
Atau yang di istimbat dari pokok-pokok tersebut.
Ini namanya Sunnah secara makna umum.

⚉  Kata Syaikhul Islam dalam kitab Majmu Fatawaa ( jilid 21/hlm 317)
“Sunnah adalah yang ditunjukkan oleh dalil syari’at
Sebagai keta’atan kepada Allah dan Rosul-Nya
Baik itu dilakukan langsung oleh Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam
Atau ada sahabat yang melakukannya, namun Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam tidak melarangnya
Atau sesuatu yang Nabi tidak lakukan di zamannya karena belum ada pendorongnya atau karena masih ada penghalangnya.
Maka apabila telah shohih bahwa Nabi memerintahkan atau menganggapnya perkara yang baik, maka itu adalah sunnah.”

👉🏼  Jadi makna sunnah secara umum adalah mengikuti jejak kaki Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam secara batin dan dzohir. Dan mengikuti jalannya dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Sebagaimana Allah menyebutkan dalam Surat Attaubah ayat 100 dan mengikuti wasiat Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam dalam Haditsnya

‎فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى

“Berpeganglah kepada sunnahku dan sunnah khulafa ‘ur rasyidin yang tertunjuki setelah ku, peganglah ia kuat-kuat dan gigit ia dengan gigi geraham dan jauhi perkara-perkara yang baru karena setiap perkara yang diada-adakan itu bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat.”

Jadi ini makna sunnah secara umum, itu semua yang Rosulullah ajarkan kepada umatnya adalah Sunnah Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam.

⚉  Adapun makna secara khusus ini sesuai dengan disiplin ilmunya, seperti contohnya

⚉  Sunnah menurut ILMU HADITS
yaitu sinonim dengan hadits, semua yang berasal dari Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam berupa ucapan, perbuatan ataupun persetujuan.

⚉  Sunnah menurut ILMU USHUL FIQIH
yaitu setiap yang diminta untuk melakukannya namun permintaannya tidak kuat seperti yang wajib.

⚉  Sunnah menurut ILMU AQIDAH
yaitu kebalikan dari bid’ah.

⚉  Sunnah menurut ILMU FIQIH (yang disebutkan oleh Imam Al Juwaini), yaitu yang apabila dilakukan dapat pahala, ditinggalkan tidak berdosa.

Ini adalah makna sunnah secara khusus dan itu muncul dengan munculnya disiplin-disiplin ilmu
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Berpegang Teguh Dengan Sunnah…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Syarat-Syarat Amal Yang Diterima…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Berpegang Teguh Dengan Sunnah 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kemudian beliau (penulis Kitab) membahas yaitu tentang pentingnya berpegang kepada sunnah.

‎الا عتصام باسنة

⚉  Berpegang teguh dengan sunnah

Ini adalah merupakan poros agama Islam, bahkan ia adalah talinya yang paling kuat, bahkan ia adalah istana yang paling kokoh untuk mempertahankan agama ini.

Ia adalah tali yang sangat kokoh yang takkan putus, bagi orang yang berpegang kepada sunnah Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam

Bahkan ia adalah sebab diturunkannya risalah.. yaitu dimana risalah berupa sunnah Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam adalah :  “Memperbaiki hamba dalam hidupnya didunia dan akhirat.”

Maka tidak ada kebaikan di akhirat kecuali dengan mengikuti risalah, sebagaimana tidak ada kebaikan di dalam kehidupan di dunianya kecuali dengan mengikuti risalah, dengan menegakkan sunnah Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam

Karena yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan kepada Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam itulah syari’at yang paling baik, yang berasal dari cahaya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Adil, maka dunia ini semuanya terlaknat kecuali dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kecuali yang sesuai dengan risalah Sunnah Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam…

Apa itu ?
Al I’tishom : yang mempunyai makna Al imsak (berpegang)

👉🏼  Maksudnya ini yaitu berpegang kepada Sunnah Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam di dalam seluruh urusan-urusan, baik urusan dunia maupun urusan akhirat.

Kita berusaha untuk berpegang kepada Sunnah Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam, karena Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam telah menjelaskan segala sesuatu. Semua sudah dijelaskan oleh Rosulullah, sudah disampaikan oleh Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam

Allah Ta’ala berfirman [QS Al-Imran : 103]

‎وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا

“Berpeganglah kepada tali Allah seluruhnya”

Yang dimaksud dengan tali Allah yaitu AlKitab wal Sunnah

Allah juga berfirman [QS Aali-Imron : 101]

‎وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Siapa yang berpegang kepada agama Allah, sungguh ia telah diberikan hidayah kepada jalan yang lurus”

⚉  Abu Su’ud dalam tafsirnya berkata

“Siapa yang berpegang teguh dengan agamanya yang haq, yang Allah jelaskan dengan ayat-ayatnya melalui lisan Rosul-Nya ‎shollallahu ‘alayhi wasallam, itu agama Islam dan Tauhid, maka ia telah diberikan hidayah kepada jalan yang lurus”

Allah juga berfirman [QS Az-Zukhruf: 43]

‎فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Peganglah kuat-kuat wahyu yang diwahyukan kepada engkau, sesungguhnya engkau diatas jalan yang lurus”

Maka ini adalah merupakan tali yang harus kita pegang, yaitu tali Sunnah Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam, itu adalah jalan satu-satunya menuju surga, jalan satu-satunya menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka siapa yang berpegang kepada selain sunnah ia telah sesat dan ia telah menjauh dan menyimpang.

Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda (dalam riwayat Tarmidzi dari Zaid bin Arkom) :
“Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian selama kalian berpegang kepadanya, kalian tidak akan tersesat setelah aku.

Yang satu lebih agung daripada yang lain. Ia adalah Kitabullah, tali Allah yang Allah pancangkan dari langit menuju bumi.”

Inilah jalan yang lurus yang harus kita pegang kuat-kuat, apabila kita tidak berpegang tali sunnah ini, kita akan tersesat.

Selama kita berpegang kepada tali sunnah ini in-syaa Allah kita akan terbimbing hidup kita.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Syarat-Syarat Amal Yang Diterima…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
=======

🌿 Syarat-Syarat Amal Yang Diterima 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita akan memulai kitab baru karena kitab ‘Showarif ‘Anil Haq’ sudah selesai. Kitab baru yaitu judulnya “Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa”, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى. 

Disini beliau membawakan Pendahuluan…

‎شروط العمل المقبو ل

⚉  Syarat-syarat amal yang diterima

Beliau memberikan tamhid
Dimana intinya bahwa… amal itu tidak diterima kecuali dengan dua syarat:

1. IKHLAS
Yaitu mengharapkan ridho Allah semata, tidak mengharapkan pujian manusia, tidak pula mengharapkan kehidupan dunia dan kesenangannya.

2. SESUAI DENGAN SUNNAH ROSULULLAH SHOLLALLAHU ‘ALAYHI WASALLAM

Dimana dalil daripada dua syarat ini adalah QS Al Kahfi:110
Allah Ta’ala berfirman:

‎فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

“Barang siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Robbnya hendaklah ia beramal sholeh dan janganlah ia mempersekutukan Allah sedikitpun juga.”

Disini kata Ibnu Katsir dalam tafsirnya, ayat ini menunjukkan dalil bahwa syarat diterimanya amal itu dua:
1. Ikhlas
2. Sesuai dengan tuntunan Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam

⚉  Adapun IKHLAS, maka ia adalah merupakan tujuan diciptakannya manusia dan jin bahkan seluruh mahluk untuk mengikhlaskan ibadahnya kepada Allah.

Dan kebalikannya adalah syirik, yaitu seseorang memalingkan ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka orang yang mengharapkan pujian manusia dalam ibadahnya, ia telah berbuat syirik yaitu syirik riya’ (syirik kecil).
Tapi syirik kecil lebih besar dosanya dari dosa besar.

Demikian pula orang yang mengharapkan dunia lebih besar daripada mengharapkan keridhoan Allah. Inipun juga syirik.
Apalagi apabila ia tidak mengharapkan ridho Allah sama sekali, maka ini syirik besar.

Allah berfirman [QS Huud:15-16],

‎مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا

“Siapa yang menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kami akan berikan sesuai dengan apa yang ia inginkan dari amalannya tersebut tanpa dikurangi”

‎أُوْلَـئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلاَّ النَّارُ

“maka mereka itu di akhirat tidak mendapatkan apa-apa kecuali api neraka dan batal apa yang mereka usahakan dan sia-sia apa yang mereka amalkan”

Berarti ayat ini menunjukkan bahwa orang yang hanya menginginkan kehidupan dunia dari amalannya, bukan hanya ditolak amalnya tapi juga dosa disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Imam As Suyuthi mengatakan:

Orang yang beribadah haji contohnya dengan niat dua;
1. Ikhlas karena Allah
2. Karena untuk tujuan dunia

Maka di lihat mana yang lebih dominan.

Apabila dominannya adalah karena Allah, ia dapat pahala, dan apabila dominannya karena dunia maka ia dapat dosa. Dan apabila sama-sama kuatnya, maka saling berguguran tidak mendapat pahala, tidak pula mendapat dosa.

👉🏼  Maka hati-hatilah, jangan sampai tujuan daripada ibadah kita adalah mengharapkan dunia.

⚉  Adapun SESUAI DENGAN CONTOH Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam itu ada enam perkara:
1. Tata caranya
2. Tempatnya
3. Waktunya
4. Jumlahnya
5. Sebabnya
6. Jenisnya

👉🏼  Maka ibadah yang telah ditentukan tata caranya atau waktunya atau tempatnya atau jumlahnya atau sebabnya atau jenisnya, tidak boleh di rubah-rubah.

Adapun ibadah yang belum ditentukan tata caranya atau waktunya atau tempatnya atau jumlahnya atau sebabnya atau jenisnya, maka tidak boleh kita menentukan sendiri dengan keyakinan adanya keutamaan disitu kecuali dengan dalil
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Pembahasan Lengkap – HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
=======

  1. Syarat-Syarat Amal Yang Diterima…
  2. Berpegang Teguh Dengan Sunnah…
  3. Makna Sunnah…
  4. Tercelanya Bid’ah # 1
  5. Tercelanya Bid’ah # 2 : Dalil-Dalil Tercelanya Bid’ah…
  6. Tercelanya Bid’ah # 3 : Atsar-Atsar Dari Para Sahabat, Tabi’in dan Para Ulama Salaf Terdahulu…
  7. Sejarah Munculnya Bid’ah…
  8. Sebab-Sebab Munculnya Bid’ah # 1…
  9. Sebab-Sebab Munculnya Bid’ah # 2…
  10. Sebab-Sebab Munculnya Bid’ah # 3…
  11. Definisi Bid’ah…
  12. Kaidah-Kaidah Bid’ah # 1…
  13. Kaidah-Kaidah Bid’ah # 2…
  14. Kaidah-Kaidah Bid’ah # 3…
  15. Kaidah-Kaidah Bid’ah # 4…
  16. Kaidah-Kaidah Bid’ah # 5a…
  17. Kaidah-Kaidah Bid’ah # 5b…
  18. Kaidah-Kaidah Bid’ah # 5c…
  19. Sebab-Sebab Terjatuh Dalam Kebid’ahan # 1…
  20. Sebab-Sebab Terjatuh Dalam Kebid’ahan # 2…
  21. Bid’ah Hasanah # 1: Antara Bahasa dan Istilah…
  22. Bid’ah Hasanah # 2…
  23. Bid’ah Hasanah # 3…
  24. Bid’ah Hasanah # 4…
  25. Bid’ah Hasanah # 5…
  26. Pembagian Bid’ah # 1…
  27. Pembagian Bid’ah # 2…