Category Archives: Mutiara Salaf

Ahli Ibadah Dan Ahli Ilmu Yang Rusak Dari Ummat Ini

● Al Imam Sufyan bin Uyainah rohimahullah mengatakan,

من فسد من عبادنا ففيه شبه من النصارى، ومن فسد من علمائنا ففيه شبه من اليهود

Orang yang rusak dari kalangan ahli ibadah ummat ini, padanya ada kemiripan dengan kaum Nasrani. Adapun orang yang rusak dari kalangan ulama ummat ini, padanya ada kemiripan dengan kaum Yahudi.

● Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah menjelaskan,

لأن النصارى عبدوا بغير علم، واليهود عرفوا الحق وعدلوا عنه.

(Hal itu) karena kaum Nasrani beribadah tanpa landasan ilmu, sementara kaum Yahudi mengetahui kebenaran tetapi berpaling darinya.

(Ighotsatul Lahfan – 36]

Empat Tingkatan Dalam Mengingkari Kemungkaran

Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahullahu ta’ala berkata,

“فإنكار المنكر أربع درجات الأولى أن يزول ويخلفه ضده الثانية أن يقل وإن لم يزل بجملته الثالثة أن يخلفه ما هو مثله الرابعة أن يخلفه ما هو شر منه فالدرجتان الأوليان مشروعتان والثالثة موضع اجتهاد والرابعة محرمة”

Ingkarul mungkar (mengingkari kemungkaran) memiliki empat tingkatan :

1. Dengan mengingkari kemungkaran, kemungkaran itu hilang dan diganti dengan kebalikannya (dengan hal yang baik).

2. Dengan mengingkari kemungkaran, kemungkaran itu menjadi mengecil walaupun tidak hilang sama sekali.

3. Dengan mengingkari  kemungkaran, akan memunculkan kemungkaran yang semisal.

4. Dengan mengingkari kemungkaran, justru memunculkan kemungkaran yang lebih besar.

Pada dua tingkatan yang pertama di atas, tindakan mengingkari kemungkaran disyariatkan.

Pada tingkatan yang ke 3, mengingkari  kemungkaran membutuhkan ijtihad.

Pada tingkatan yang ke-4, mengingkari kemungkaran diharamkan.

(I’lamul Muwaqqi’in – 4/338)

Jangan Ujub

● Syaikh Sholeh al-Fauzan hafizhohullah berkata,

الإعجاب بالنفس مهلك لها فالمذنب التائب خير من المطيع المعجب.

“Ujub (merasa kagum) terhadap diri sendiri justru akan membinasakannya. Sebab, orang yang bertaubat dari dosa itu lebih baik daripada orang yang taat tetapi merasa ujub dengan amalnya..”

(Syarh Kitab al-Kabair, hlm. 47)

● Beliau hafizhohullah juga berkata,

لا يغتر الإنسان بعلمه، فإن ما يجهله أكثر مما يعرفه.

“Seseorang tidak boleh tertipu (ujub atau sombong) dengan ilmunya. Sebab, apa yang dia tidak ketahui itu sungguh lebih banyak daripada apa yang dia ketahui..”

(Syarh ad-Durratil Mudhiyyah, hlm. 277)

Wudhu Adalah Ibadah

● Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

“Ibadah adalah satu istilah yang menghimpun seluruh apa yang dicintai dan diridhoi oleh Allah, baik berupa perkataan dan perbuatan, yang lahir dan yang batin..”

(Al-‘Ubudiyah, hlm: 23)

● Beliau rohimahullah juga mengatakan,

“Wudhu adalah ibadah, karena ia tidak diketahui kecuali dari Pembuat syari’at, dan semua perbuatan yang tidak diketahui kecuali dari Pembuat syari’at, maka itu adalah ibadah, seperti sholat dan puasa, dan karena hal itu juga berkonsekuensi pahala..”

(Al-Mustadrok ‘alaa Majmuu’ al-Fatawa 3/29)

Diantara Dampak Dari Meninggalkan Dosa Dan Maksiat

Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

Diantara pengaruh pada diri seseorang yang meninggalkan dosa dan maksiat adalah :

– mendapat solusi dalam setiap masalah,
– mudah memperoleh rezeki lewat jalan yang tidak disangka-sangka,
– diberi kemudahan memperoleh ilmu
– do’anya cepat dikabulkan Allah
– dijauhkan dari syaitan jin dan manusia,
– dunia itu terasa kecil di hatinya, dan akhirat terasa begitu besar baginya,
– merasakan manisnya ketaatan kepada Allah.

(Fawaa-idul Fawaa-id – 302)

Akibat Tamak Terhadap Dunia

Al Imam Ahmad rohimahullah berkisah dari Abu Aliyah rohimahullah, beliau mengatakan,

“يأتي على الناس زمانٌ تَخْرُبُ صدورُهم من القرآن، ولا يجدون له حلاوةً ولا لذاذةً، إن قصّروا عما أُمِروا به؛ قالوا: إن الله غفور رحيم! وإن عملوا بما نُهوا عنه؛ قالوا: سيُغفر لنا، إنّا لم نشرك بالله شيئا! أمرُهم كلُّه طمع ليس معه صدق”

Akan datang suatu zaman pada umat manusia dimana dada-dada mereka hancur (lalai) dari Alqur’an dan mereka tidak mendapatkan kemanisan dan kelezatan (dengan menghayati Alqur’an).

Ketika mereka menyia-nyiakan perkara yang telah diperintahkan, mereka pun akan menyangkal dengan berkata, “Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang..”

Namun ketika mereka mengerjakan perkara yang dilarang (oleh agama), mereka akan berkata, “Kami akan diampuni selama kami tidak berbuat syirik kepada Allah..”

Urusan mereka seluruhnya adalah ketamakan (terhadap dunia) dan tidak ada padanya kejujuran.

(Az Zuhd – 1760)

Hidayah Berbuah Hidayah

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

Hidayah akan mendatangkan hidayah berikutnya, sebagaimana kesesatan itu akan mendatangkan kesesatan lainnya.

Amalan kebaikan itu akan membuahkan hidayah. Semakin bertambahnya amalan kebaikan pada seseorang, maka hidayah akan bertambah. Sebaliknya, amalan amalan kejelekan akan membuahkan kesesatan.

Sebab, Allah Ta’ala mencintai amalan amalan kebaikan sehingga Dia membalas dengan hidayah dan kemenangan.

Dan Allah pun membenci amalan kejelekan sehingga membalasnya dengan kesesatan dan kecelakaan.

(Tanwiirul Hawaalik I/338)

Kehidupan Yang Baik

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

مـَنْ عَمـِلَ صَالِحـاً مِـنْ ذَكـَرٍ أَوْ أُنثَى وَ هُـوَ مـُؤْمِـنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَـاةً طَيِّـبَةً…

“Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki laki maupun perempuan dalam keadaan dia beriman, niscaya pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik..” (Qs. An-Nahl/16: 97)

● Syaikh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

الحياة الطيبة ليست كما يفهمها بعض الناس السلامة من الآفات من فقر ومرض، لا بل الحياة الطيبة أن يكون الإنسان طيب القلب، منشرح الصدر، مطمئنا بقضاء الله وقدره، إن أصابته سراء شكر فكان خيراً له، وإن أصابته ضراء صبر فكان خيراً له، هذه هي الـحياة الطيبة، وهي راحة القلب، أما كثرة الأموال وصحة الأبدان فقد تكون شقاء على الإنسان وتعباً

Kehidupan yang baik bukanlah seperti yang dipahami oleh sebagian orang, yaitu selamat dari petaka petaka berupa kefakiran dan sakit.. bukanlah demikian..

Kehidupan yang baik itu adalah seseorang TELAH :
– menjadi baik hatinya dan lapang dadanya,
– tenang dengan qodho dan qodarnya Allah.

Apabila mendapatkan kebaikan, maka ia bersyukur, niscaya itu adalah kebaikan untuknya..

Apabila tertimpa musibah, maka ia pun bersabar, niscaya itu adalah kebaikan untuknya..

Inilah kehidupan yang baik, yaitu adanya ketenangan di dalam hati..

Adapun dengan banyaknya harta dan juga sehatnya badan itu terkadang menjadi kesengsaraan dan kepayahan terhadap manusia.

(Fatawaa Islaamiyyah – 4/64)

Memaafkan Kesalahan Seseorang Karena Allah

Al Hafizh Ibnu Katsir rohimahullah berkata,

أَنَّ خَادِمًا لِعَبْدِ اللهٍ بْنِ عُمَرَ أَذْنَبَ فَأَرَادَ ابْنُ عُمَرَ أَنْ يُعَاقِبَهُ عَلَى ذَنْبِهِ فَقَالَ : يَا سَيِّدِي أَمَا لَكَ ذَنْبٌ تخاف من الله فيه ؟ قال : بلى، قال : بالذي أَمْهَلَكَ لَمَّا أَمْهَلْتَنِي؟ ثُمَّ أَذْنَبَ الْعَبْدُ ثَانِيًا فَأَرَادَ عُقُوبَتَهُ فَقَالَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ فَعَفَا عَنْهُ، ثُمَّ أَذْنَبَ الثَّالِثَةَ فَعَاقَبَهُ وَهُوَ لَا يَتَكَلَّمُ، فَقَالَ لَهُ ابْنُ عُمَرَ : مَا لَكَ لم تقل مثل مَا قُلْتَ فِي الْأَوَّلَتَيْنِ ؟ فَقَالَ : يَا سَيِّدِي حَيَاءً مِنْ حِلْمِكَ مَعَ تَكْرَارِ جُرْمِي، فَبَكَى ابْنُ عُمَرَ وَقَالَ : أَنَا أَحَقُّ بِالْحَيَاءِ مِنْ رَبِّي، أَنْتَ حرٌّ لِوَجْهِ اللهِ تَعَالَى

Sesungguhnya budak milik Ibnu Umar telah melakukan kesalahan, lantas Ibnu Umar ingin menghukumnya karena kesalahannya.

Maka budak itu berkata,
“Wahai tuanku.. tidakkah engkau memiliki kesalahan (dosa) yang engkau pun takut kepada Allah atas kesalahan tersebut..?”

Ibnu Umar menjawab, “Tentu..”

Budak itu berkata, “Demi Dzat yang telah menunda (hukuman)mu, maka (kenapa) engkau tidak menunda (hukuman)ku..?”

Lantas budak itu kembali berbuat salah untuk yang ke 2 kalinya dan Ibnu Umar ingin menghukumnya lagi. Lalu budak itu mengatakan seperti perkataan yang sebelumnya, maka Ibnu Umar pun memaafkannya lagi.

Lantas budak itu melakukan kesalahan untuk yang ketiga kalinya. Maka Ibnu Umar ingin menghukumnya, namun budak tersebut tidak berkata kata sama sekali.

Lantas Ibnu Umar pun berkata,
Mengapa engkau tidak mengatakan seperti yang telah engkau katakan di 2 kesalahanmu terdahulu..?”

Budak itu pun menjawab,
“Wahai tuanku.. (aku) malu terhadap kemurahan hatimu, padahal kesalahanku berulang ulang..”

Lalu Ibnu Umar menangis, dan berkata,
“Aku yang lebih pantas untuk malu kepada Robbku. (Saat ini) engkau pun merdeka karena mengharap wajah Allah Ta’ala..”

(Al Bidaayah wan Nihaayah 13/205)

Pentingnya Berniat Untuk Taat Kepada Allah Selama Lamanya

Imam Al Kirmani rohimahullah berkata,

لأن تخليد الله تعالى العبد في الجنة ليس لعمله، وإنما هو لنيته؛ لأنه لو كان لعمله لكان خلوده فيها بقدر مدة عمله أو أضعافه، إلا أنه جازاه بنيته ؛ لأنه كان ناويا أن يطيع الله تعالى أبدا لو بقي أبدا ، فلما اخترمته منيته دون نيته جزاه الله عليها، و كذلك الكافر ؛ لأنه لو كان مجازى بعمله لم يستحق التخليد في النار إلا بقدر مدة كفره ، غير أنه نوى أن يُقيم على كفره أبدا لو بقي ، فجازاه الله على نيته .انتهى

Allah mengekalkan hamba hamba-Nya di surga bukan karena amalnya .. akan tetapi karena niatnya. Kalaulah karena amalnya tentu ia tinggal di surga sebatas lamanya masa amalnya tsb atau kali lipatnya.

Akan tetapi Allah memberinya balasan karena niatnya. Ia berniat untuk senantiasa mentaati Allah selama lamanya .. ketika kematian menghalangi niatnya, maka Allah memberinya balasan sesuai dengan niatnya.

Demikian pula orang kafir. Jika ia diberi balasan sesuai dengan amalnya tentu ia akan tinggal di neraka sebatas masa kekafirannya saja.

Namun ia berniat untuk senantiasa kafir selama lamanya. Maka Allah pun membalas sesuai dengan niatnya.

(Syarah Shohih Al Bukhori – 1/183)

Niat mukmin itu lebih baik dari amalnya..
Ia berniat untuk senantiasa beriman kepada Allah selama lamanya ..

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى