Category Archives: Mutiara Salaf

Cara Mengenali Pendusta

Seseorang bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal rohimahullah,

‘Bagaimana cara engkau mengetahui para pendusta..?’

Imam Ahmad menjawab, ‘Dengan (melihat) janji-janji mereka..’

(Ibnu ‘Ady dalam al-Kamil dan as-Sam’aany dalam Adaabul Imlaa`)

Bila Lupa Sujud Sahwi

Syaikh Bin Baz rohimahullah berkata,

فإذا نسي السجود فصلاته صحيحة، إذا نسي سجود السهو فصلاته صحيحة، لكن متى ذكر سجد سجدتي السهو سواء في المسجد أو في بيته، وقال بعض أهل العلم: إذا طال الفصل سقطت، ولكن الأحوط والأولى أنه متى ذكرها ولو طال الفصل سجد سجدتين بنية السهو، سواء في المسجد أو في بيته. نعم.

Apabila lupa sujud sahwi maka sholatnya tetap sah.

Tetapi kapan ia ingat, hendaknya ia sujud sahwi, baik ingatnya di masjid atau di rumahnya.

Sebagian ahli ilmu berkata, “Apabila jedanya panjang maka gugur kewajiban sujud sahwi..” Namun yang lebih hati hati adalah kapan saja ia ingat, walaupun jedanya panjang, hendaklah ia sujud dua kali dengan niat sujud sahwi baik di masjid maupun di rumah.

http://binbaz.org.sa

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Diantara Tanda Tanda Kebahagiaan

Asy Syathibi rohimahullah berkata,

“من علامات السعادة على العبد: تيسير الطاعة عليه، وموافقة السنة في أفعاله، وصحبته لأهل الصلاح، وحسن أخلاقه مع الإخوان، وبذل معروفه للخلق، واهتمامه للمسلمين، ومراعاته لأوقاته”.

Tanda kebahagiaan hamba adalah :

– dimudahkan untuknya ketaatan,
– perbuatannya sesuai dengan sunnah,
– bersahabat dengan orang orang yang sholeh,
– baik akhlaknya kepada teman temannya,
– suka berbuat baik kepada makhluk,
– perhatian kepada kaum muslimin, dan
– menjaga waktu waktunya.

(Al I’tishom 2/152)

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Makna Penyejuk Pandangan

Ada seseorang bertanya kepada al Hasan al Bashri rohimahullah, tentang firman Allah Ta’ala:

{رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ}

“Wahai Robb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk pandangan..” (Qs al-Furqon/25: 74)

Beliau rohimahullahu berkata,

« بـل فـي الدنــيا هـي والله أن يـرى الـعبد مـن ولـده طاعــة الله، وما شـيء أقــر لعيـن المؤمـن مـن أن يـرى حبيـبه فـي طاعـة الله».

Bahkan itu di dunia, demi Allah yaitu seorang hamba melihat anaknya menjalankan ketaatan kepada Allah .. dan tidaklah ada yang lebih menyejukkan pandangan seorang mukmin dari ia melihat orang yang dicintainya dalam ketaatan kepada Allah.

(Fathul Baari – 8/491)

Jangan Paksa Dia Untuk Menikahinya

Asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al Utsaimin rohimahullahu ta’ala berkata,

“فلا يصح إجبار الرجل علی نکاح من لا يريد ، ولا إجبار المرأة على نكاح من لا تريد “.

Tidak sah memaksa seorang pria untuk menikahi wanita yang tidak dia sukai, demikian pula tidak sah memaksa seorang wanita untuk menikah dengan pria yang tidak disukainya.

(Az-Zawaj wa Majmu’ah As’ilah fii Ahkamihi, hlm. 15)

Terlalu Banyak Bergaul Dapat Merusak Hubungan Dengan Suami

Ibnu Muflih Al-Hambaly rohimahullahu Ta’ala berkata,

وأصلح ما يفعله الرجل : أن يمنع المرأة من مخالطة النساء، فإنهن يفسدنها عليه”.

Termasuk perkara terbaik yang dilakukan oleh seorang suami adalah melarang istri dari (banyak) bergaul dengan kaum wanita .. karena sesungguhnya mereka bisa merusak hubungannya dengan suaminya.

(Al-Furu’ – Ibnu Muflih – 5/108)

Akibat Merendahkan Orang Lain

Al Imam Muhammad al Munawy rohimahullah berkata,

فينبغي للإنسان أن لا يحتقر أحدًا؛ فربما كان المحتقَر أطهرُ قلبًا، وأزكى عملًا، وأخلص نية، فإنَّ احتقار عباد الله يورث الخسران، ويورث الذُّل والهوان.

Semestinya seseorang tidak merendahkan siapa pun. Bisa jadi, orang yang dianggap rendah justru :
– lebih bersih hatinya,
– lebih suci amalnya, dan
– lebih ikhlas niatnya.

Merendahkan hamba hamba Allah sungguh akan mengakibatkan kerugian dan mewariskan kerendahan serta kehinaan.

(Faidhul Qodir – 5/380)

Tanda Sahabat Sejati

Maimun bin Mihran mengatakan kepada Ja’far bin Burqan – rohimahumallah-,

يا جعفر، قل لي في وجهي ما أكره، فإن الرجل لا ينصح أخاه حتى يقول له في وجهه ما يكره.

Wahai Ja’far, katakanlah kepadaku di hadapanku langsung tentang hal-hal yang tidak aku sukai.

Karena sesungguhnya seseorang belumlah menasehati saudaranya dengan sebenarnya, sampai dia mengatakan hal-hal yang tidak disukai oleh saudaranya itu langsung di hadapannya.

(Siyar A’lamin Nubala’ – 5/75)

Balasan Sesuai Dengan Perbuatan

Ibnul Qoyyim rohimahullahu ta’ala berkata,

Balasan itu semisal dengan perbuatan yang dilihat dari jenis perbuatan itu sendiri, baik dalam kebaikan maupun keburukan :

● Maka barangsiapa menutupi (aib/kekurangan) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya.

● Barangsiapa yang memberikan kemudahan terhadap orang yang sedang kesusahan, niscaya Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan di akhirat.

● Barangsiapa yang menghilangkan dari seorang mukmin satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan duniawiyyah, maka niscaya Allah akan menghilangkan satu kesulitan dari kesulitan-kesulitannya di hari kiamat.

● Barangsiapa yang mencari-cari kesalahan (aib/kekurangan) saudaranya, maka niscaya Allah akan membongkar kesalahan (aib) dirinya.

● Barangsiapa yang menimpakan kemudhorotan (bahaya) kepada seorang muslim, maka Allah Akan menimpakan kemudhorotan pula kepadanya.

● Barangsiapa yang memberikan kesulitan (menyulitkan orang lain), maka niscaya Allah juga akan memberikan kesulitan (kesusahan) kepadanya.

● Barangsiapa yang menelantarkan (tidak menolong) seorang muslim dalam suatu kondisi yang seharusnya kita memberikan pertolongan padanya, maka niscaya Allah akan menelantarkannya (tidak menolongnya) dalam suatu kondisi yang semestinya Allah menolongnya.

● Orang-orang yang penyayang (kepada saudaranya) maka niscaya Ar-Rohmaan (Dzat yang Maha Penyayang) akan menyayangi mereka, dan sesungguhnya Allah akan menyayangi dari kalangan hamba-hamba-Nya yang penyayang.

● Barangsiapa yang berinfaq, maka niscaya Allah akan berinfaq (melapangkan rezeki) untuknya.

● Barangsiapa yang memberikan maaf dari haknya (mengalah), maka Allah akan memaafkan baginya dari hak-Nya (adzab).

● Barangsiapa yang memberikan ampunan/maaf (kepada sesama hamba), niscaya Allah akan memberikan ampunan baginya.

Maka Inilah syariat Allah, ketetapan, wahyu, pahala dan hukuman Nya. Seluruhnya tegak di atas prinsip dasar ini (balasan sesuai perbuatan).

(I´laamul Muwaqqi´iin – 1/150)

Balasan Bagi Orang Yang Berlapang Dada Dan Mudah Memberi Maaf

Al Imam Ibnu Hibban rohimahullah berkata,

‏الواجب على العاقل لزوم الصفح عند ورود الإساءة عليه من العالَم بأسرهم؛ رجاء عفو الله جل وعلا عن جناياته التي ارتكبها في سالف أيامه.

Yang wajib atas orang yang berakal adalah selalu berlapang dada dan memaafkan ketika datang perbuatan buruk terhadap dirinya dari seluruh dunia, dalam rangka mengharapkan pemaafan dari Allah Jalla wa ‘Alaa atas berbagai kejahatan yang telah dia lakukan pada hari-harinya yang telah lalu.

(Roudhotul ‘Uqola)