Category Archives: Mutiara Salaf

Ingin Panjang Umur..?

Ingin panjang umur ? jauhi sifat hasad !

‘Abdul Malik bin Kuraib Al-Ashma’iy rohimahullah berkata :

رأيتُ أعرابيا قد بلغ عُمره مئةً وعشرين سنة، فقلتُ له: ما أطولَ عُمرك؟ فقال: تركتُ الحسدَ فبقيتُ.

“Aku berjumpa dengan seorang badui yang telah berusia 120 tahun, maka aku bertanya kepadanya, “Apa resep panjangnya usiamu?” Dia menjawab : “Aku tinggalkan sifat hasad, maka akupun masih hidup.”

[Al-Mustathraf, hlm. 279]

Diterjemahkan oleh
Ustadz DR. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى

https://www.facebook.com/Dr.SufyanBaswedan.MA/

Berdakwah Dengan Harta…

Setelah Rosulullah dan kaum muslimin menang di perang Hunain, Nabi memberi Shofwan bin Umayyah seratus binatang ternak, kemudian seratus lagi, kemudian seratus lagi.

Shofwan bin Umayyah berkata:

‎والله لقد أعطاني رسول الله ﷺ ما أعطاني وإنه لأبغض الناس إِلَيَّ.
‎‏فما بَرِحَ يعطيني حتى إنه لأحب الناس إِلَيَّ

“Demi Allah, Rosulullah telah memberiku banyak. Sungguh tadinya beliau adalah orang yang paling aku benci. Namun ia terus memberiku hingga ia menjadi manusia yang paling aku cintai.”

[HR Muslim]

Diterjemahkan oleh
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Langit Dan Bumi Menangisi Kematian Mukmin…

Sa’id bin Jubair berkata, “Ada seorang lelaki datang kepada ibnu Abbas dan bertanya: “Wahai ibnu Abbas apa pendapatmu tentang ayat ini,

فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنظَرِينَ

“Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka (Fir’aun dan kaumnya) dan merekapun tidak diberi tangguh.” (Addukhan: 29)

Apakah langit dan bumi dapat menangisi seseorang ?” 

Ibnu ‘Abbas berkata, “Iya. Tidak ada seorang makhlukpun kecuali di langit ada pintu untuknya yang rezekinya turun dari pintu tsb dan amalnya naik dari pintu tsb. 
Apabila mukmin meninggal akan tertutuplah pintu tsb sehingga langitpun menangis.
Dan bumi pun kehilangan tempat yang si hamba itu biasa sholat dan berdzikir padanya sehingga bumi menangis. 

Adapun Fir’aun dan kaumnya tidak meninggalkan bekas yang baik dan tidak pula memiliki kebaikan yang naik kepada Allah sehingga langit dan bumi tidak menangisi mereka.”

[Tafsir Ath Thabari]

Diterjemahkan oleh
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tawadhu Yang Luar Biasa

Dengan tingkatan keilmuan yang sangat tinggi dalam banyak bidang ilmu, Syeikh Utsaimin -rohimahullah- tetap berpesan kepada para pendengarnya:

“Apabila kalian mendengar dariku, sesuatu yang kalian ingkari, maka hendaklah kalian menanyakannya kepadaku !

Bisa jadi aku salah, sehingga Allah memberikan hidayah-Nya kepadaku melalui kalian.”  [Liqa’ Babil Maftuh 68].

Dengan sikap tawadhu’ seperti inilah Allah meninggikan kedudukan beliau di tengah-tengah manusia, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

“Tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah, melainkan Allah akan mengangkatnya” [HR. Muslim 2588].

Silahkan dishare, semoga bermanfaat.

Ditulis oleh :
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

Ucapan Dan Perbuatan Adalah Cermin Isi Hati…

Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rohimahullah berkata:

*فالخبيث يتفجر من قلبه الخبث على لسانه وجوارحه، والطيب يتفجر من قلبه الطيب على لسانه وجوارحه.*

“Orang yang busuk akan terpancar dari hatinya kebusukan melalui lisan dan anggota badannya, sedangkan orang yang baik akan terpancar kebaikan dari lisan dan anggota badannya pula.”

[Zaadul Ma’ad, jilid 1 hal. 68]

Yang Menakjubkan…

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

TIDAK mengherankan bila seorang hamba merendahkan dirinya kepada Allah, dan terus beribadah kepada-Nya, dan tidak bosan berkhidmat kepada-Nya, karena adanya hajat dan butuhnya dia kepada-Nya.

Namun yang MENAKJUBKAN adalah bila seorang RAJA menarik rasa cinta hamba-Nya dengan bermacam-macam kenikmatan, dan menarik hati hamba-Nya dengan berbagai kebaikan, padahal Dia sama sekali tidak membutuhkan hamba tersebut.

Cukuplah sebagai KEMULIAAN, karena Anda adalah hamba-Nya… dan cukuplah sebagai KEBANGGAAN, karena Dia adalah Robb Anda.”

[ Al-Fawaid hal. 35 ]

 

Orang-Orang Yang Tidak Boleh Diambil Ilmunya…

Pertanyaan:
Ustadz siapakah Orang Yang Tidak Boleh Diambil Ilmunya..?

Jawab:
Abdurrahman bin Mahdi rohimahullahu berkata :
“Ada tiga (golongan) yang tidak boleh diambil ilmunya, (yakni) :
1⃣ Seseorang yang tertuduh dengan kedustaan,
2⃣ Ahlul bid’ah yang mengajak (manusia) kepada kebid’ahannya, dan
3⃣ Seseorang yang dirinya didominasi oleh keraguan serta kesalahan-kesalahan.”

Al-Imam Malik rohimahullahu berkata:
“Tidak boleh seseorang mengambil ilmu dari empat (jenis manusia) dan boleh mengambilnya dari selain mereka (yaitu) :
1⃣ Ilmu tidak diambil dari orang-orang bodoh,
2⃣ Tidak diambil dari pengekor hawa nafsu yang menyeru manusia kepada hawa nafsunya,
3⃣ Tidak pula dari seorang pendusta yang biasa berdusta dalam pembicaraan-pembicaraan manusia meskipun tidak tertuduh berdusta pada hadits-hadits Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam,
4️⃣ Tidak pula dari seorang syaikh yang memiliki keutamaan, keshalihan serta ahli ibadah tetapi dia tidak lagi mengetahui apa yang tengah dibicarakannya.”

(an-Nubadz fi ‘Adab Thalabil ‘Ilmi, hal. 22-23)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

 

 

Hina Di Masa Tua…

Ibnul Jauzy rohimahullah berkata:

وقد يهان الشيخ في كبره حتى ترحمه القلوب، ولا يدري أن ذلك لأهماله حق الله تعالى في شبابه، فمتى رأيت معاقبا، فاعلم أنه لذنوب.

“Terkadang orang yang tua renta dihinakan di masa tuanya hingga hati orang lain pun merasa iba, dan dia tidak sadar bahwa hal itu karena dia menelantarkan hak Allah Ta’ala di masa mudanya, jadi kapan saja engkau melihat seseorang dihukum maka ketahuilah bahwa itu disebabkan oleh dosa-dosa.”

[Shaidul Khathir, hlm. 30]

MUTIARA SALAF : Antara Ilmu dan Kebodohan

Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ’anhu berkata,

“Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai tanda keilmuan, dan ightirar/terpedaya karena curahan nikmat Allah sebagai bukti kebodohan..

Bahkan, Allah ta’ala telah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang BERILMU.” [QS. Fathir: 28]

[ Miftah Daar as-Sa’aadah 1/225) ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL