Category Archives: Mutiara Salaf

Diantara Bentuk Ujian Keimanan Seorang Hamba

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

الله يبتلي المرء بتيسير أسباب المعصية حتى يعلم سبحانه من يخافه بالغيب.

Allah ‘Azza wa Jalla akan menguji seorang hamba dengan mudahnya jalan untuk berbuat maksiat, sehingga dengan hal tersebut, Allah mengetahui orang yang benar-benar takut kepada-Nya, walaupun ia tidak melihat-Nya.

(Al Qoulul Mufid – 1/200)

Sikap Seorang Mukmin Terkait Aib Orang Lain

Al Fudhail bin ‘Iyadh rohimahullahu ta’ala (w. 187 H) berkata,

المؤمن يستر ويعظ وينصح، والفاجر يهتك ويعيّر ويفشي.

Seorang mukmin itu :
– menutup aib saudaranya,
– memperingatkan, dan
– menasehatinya.

Sedangkan seorang fajir (pendosa) itu :
– membongkar aib orang lain,
– mencelanya, dan
– menyebarkannya.

(Hilyatul Auliyaa’ – 8/95)

Ketergesa-Gesaan Yang Tidak Tercela

Hatim al-Ashom (w. 237 h) rohimahullah berkata,

كَانَ يُقَالُ العَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ إِلاَّ فِي خَمْسٍ إِطْعَامِ الطَّعَامِ إِذَا حَضَرَ الضَّيْفُ وَتَجْهِيْزِ المَيِّتِ إِذَا مَاتَ وَتَزْوِيْجِ البِكْرِ إِذَا أَدْرَكَتْ وَقَضَاءِ الدَّيْنِ إِذَا وَجَبَ وَالتَّوْبَةُ مِنَ الذَّنْبِ إِذَا أَذْنَبَ.

Dikatakan, ketergesa-gesaan itu dari setan, kecuali dalam lima perkara :

1. Bersegera menghidangkan makanan ketika ada tamu.

2. Bersegera mengurus penyelenggaraan jenazah setelah kematiannya.

3. Bersegera menikahkan anak gadis jika sudah bertemu jodohnya.

4. Bersegera membayar hutang jika telah jatuh temponya.

5. Bersegera bertaubat jika telah berbuat dosa

(Hilyatul Auliyaa – 8/78)

Memperbagus Amalan

Al Hafizh Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

وكـان الســلـف يـوصــون بـإتــقان الــعمــل وتـحسـينـه دون الإكـثــار مـنــه،

فــإن الــعمــل القــليـل مــع التـحـسيـن والإتــقان، أفضــل مــن الـكثيــر مــع الغــفلـة وعــدم الإتــقـان.

Dahulu para salaf, mereka mewasiatkan untuk menyempurnakan dan memperbagus amalan, bukan sekadar memperbanyaknya.

Maka sesungguhnya amalan yang sedikit, tetapi diperbagus dan disempurnakan, itu lebih utama dibandingkan dengan amalan yang banyak yang disertai dengan kelalaian dan ketidak sempurnaan.

(Majmu Rosail Ibnu Rojab – 1/352)

Renungan Sebelum Beramal

Imam Al Hasan Al Bashry rohimahullah berkata,

رحم الله عبداً وقف عند همّه، فـإن كان لله مضـى، وإن كان لغيره تأخر.

Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti ketika ingin melakukan sesuatu :
– jika hal itu dia niatkan untuk Allah maka dia meneruskannya, namun
– jika hal itu dia niatkan untuk selain-Nya maka dia mundur.

(Ighotsatul Lahafan – 1/81)

Manusia Yang Paling Mulia

Asy Sya’by rohimahullah berkata,

Manusia yang paling mulia adalah yang :
– paling mudah mencintai, dan
– paling lambat bermusuhan,
seperti gelas dari perak, susah pecah dan mudah diperbaiki.

Sedangkan manusia yang paling hina adalah yang :
– paling lambat mencintai, dan
– paling cepat bermusuhan,
seperti gelas dari tanah liat, mudah pecah dan susah diperbaiki.

(Rufaqoo’uth Thoriiq – hal. 22)

Akibat Membanggakan Sesuatu Yang Berharga Yang Dimiliki

● Al Imam Abu Muhammad bin Hazm rohimahullah berkata,

ﻛﻢ ﺭﺃﻳﻨﺎ ﻣﻦ ﻓﺎﺧﺮ ﺑﻤﺎ ﻋﻨﺪﻩ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺘﺎﻉ ﻓﻜﺎﻥ ﺫﻟﻚ ﺳﺒﺒﺎ ﻟﻬﻼﻛﻪ -ﺑﻌﻴﻦ ﺣﺎﺳﺪ ﺃﻭ ﻛﻴﺪ ﻋﺪﻭ- ﻓﺈﻳﺎﻙ ﻭﻫﺬﺍ ﺍﻟﺒﺎﺏ ﻓﺈﻧﻪ ﺿﺮٌّ ﻣﺤﺾ ﻻ ﻣﻨﻔﻌﺔ ﻓﻴﻪ ﺃﺻﻼ.

Betapa banyak kami melihat seseorang yang membanggakan sesuatu yang berharga yang dia miliki, lalu hal itu menjadi sebab kebinasaannya melalui pandangan mata orang yang dengki atau makar orang yang memusuhi.

Maka, jangan sekali-kali engkau melakukannya, karena sesungguhnya hal itu hanya mengakibatkan keburukan tanpa ada manfaatnya sama sekali.

(Al Akhlaq was Siyar – 166)

==========

● Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا

“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu ‘maasyaa Allaah laa quwwata illaa billaah’ sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan..” (Qs. Al Kahfi: 39)

Para ulama menjadikan ayat ini dalil bahwa harta bisa terkena ‘ain dan boleh diruqyah ketika terkena ‘ain.

● Ibnu Katsir rohimahullah berkata,

قال بعض السلف: من أعجبه شيء من حاله، أو ماله، أو ولده فليقل: مَا شَاءَ اللَّهُ لا قوة إلا بالله ـ وهذا مأخوذ من هذه الآية الكريمة

Sebagian salaf mengatakan, orang yang kagum pada :
– keadaannya, atau
– hartanya, atau
– pada anaknya,
hendaknya ia mengucapkan :

مَا شَاءَ اللَّهُ لا قوة إلا بالله

MAASYAA ALLAAH LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH

Ini diambil dari ayat yang mulia ini..”

(Tafsir Ibnu Katsir)

ARTIKEL TERKAIT 
Dua Do’a Melindungi Diri Dan Anak Dari ‘Ain – Pengaruh Mata Jahat

Keutamaan Memaafkan

Abu Hatim Ibnu Hibban Al Busti rohimahullah berkata,

الواجب على العاقل توطين النفس على لزوم العفو عن الناس كافة، وترك الخروج بمجازاة الإساءة، إذ لا سبب لتسكين الإساءة أحسن من الإحسان، ولا سبب لنماء الإساءة وتهييجها أشد من الاستعمال بمثلها

Orang yang berakal sehat wajib mempersiapkan jiwanya untuk senantiasa memaafkan semua orang. Dia juga tidak boleh membalas perbuatan jelek (dengan kejelekan).

Sebab, tidak ada cara yang lebih baik untuk menghentikan perbuatan jelek kecuali (membalasnya) dengan berbuat baik.

Demikian pula, tidak ada jalan yang lebih dahsyat untuk mengembangkan dan mengobarkan perbuatan kejelekan kecuali membalas dengan perbuatan jelek semisalnya.

(Roudhotul ‘Uqola wa Nuzhatul Fudhola hlm. 188)

Jangan Berlebihan Dalam Mencintai Atau Membenci Seseorang

Sahabat ‘Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu berkata,

أَحْبِبْ حَبِيبَك هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَك يَوْمًا مَا وَأَبْغِضْ بَغِيضَك هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَك يَوْمًا مَا

“Cintailah orang yang engkau sayangi sekedarnya saja, karena bisa saja suatu hari nanti engkau akan membencinya. Dan bencilah orang yang engkau benci sekedarnya saja, karena bisa saja suatu hari nanti dia akan menjadi orang yang engkau cintai..”

( Shohih al-Adabul Mufrod no. 992 )

MAKNA ATSAR DI ATAS

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin rohimahullahu ta’ala berkata,

“Sungguh tidaklah semestinya seseorang berlebihan dalam mencintai .. karena mungkin saja suatu hari nanti orang yang dulunya sangat ia cintai menjadi orang yang paling ia benci.

Dan merupakan suatu hal yang lumrah terjadi bahwa seseorang, apabila sudah terlanjur berlebihan mencintai, ia akan menceritakan dan mencurahkan semua privasi pribadi kepada orang yang ia cintai, sehingga bila suatu hari nanti orang tersebut berubah menjadi orang yang dibenci, maka akan diceritakannya dan disebarkan rahasia tersebut kepada orang lain..”

( Fatawa Nuur ‘alad Darb no. 330 )

Diantara Cara Menghilangkan Sifat Ujub

Al Imam Abu Muhammad Ali bin Hazm rohimahullah berkata,

من امتُحن بالعجب فليفكر في عيوبه، فإن أُعجب بفضائله فليفتش ما فيه من الأخلاق الدنيئة.

Siapa yang ditimpa ujian dengan sifat ujub, maka hendaklah dia memikirkan aib-aib dirinya.

Jika dia merasa ujub karena kelebihan-kelebihan yang dia miliki, maka hendaklah dia memeriksa akhlak akhlak rendah yang ada pada dirinya.

( Al Akhlaq was Siyar – 29 )