Category Archives: Mutiara Salaf

Meraih Ridho Allah

Allah Ta’ala berfirman,

وَالسّٰبِقُوْنَ الْاَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِاِحْسَانٍۙ رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَاَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ ۝١٠٠

“Orang orang yang terdahulu lagi yang pertama tama (masuk Islam) dari orang orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka ridho kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar..“

(Qs At Taubah/9:100)

Tentang penafsiran ayat di atas, Imam Ibnu Katsir rohimahullah berkata,

“(Kalimat) ‘orang orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan’, (maksudnya) ialah orang orang yang mengikuti jejak (petunjuk) mereka (para sahabat) yang baik, dan sifat sifat mereka yang terpuji, serta selalu mendo’akan kebaikan bagi mereka secara diam diam maupun terang-terangan..”

(Tafsir Ibnu Katsir – 4/432)

Ringkasnya, Allah ‘Azza wa Jalla memberikan jaminan keridhoan-Nya bagi orang orang yang mengikuti petunjuk para sahabat rodhiyallahu ‘anhum secara keseluruhan dalam memahami dan mengamalkan agama ini, baik dalam :

– aqidah (keyakinan),
– ibadah,
– tingkah laku,
– bergaul,
– bersikap,
– berdakwah, dan
– semua sisi lainnya dalam beragama.

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam,

“Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan. Sedangkan ummatku terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu..” Para sahabat bertanya, “Siapa golongan yang selamat itu wahai Rosulullah..?” Beliau bersabda, “Yaitu yang mengikuti pemahamanku dan pemahaman sahabatku..”

(HR. At Tirmidzi no. 2641)

Keutamaan Sikap Sabar Dan Memaafkan

Ibnu Hibban al-Busti rohimahullahu ta’ala berkata,

أجلُّ النَّاسِ مَرتبةً مَنْ صَدَّ الجَهلَ بالحِلْمِ، وما الفَضلُ إلّا لِمَنْ يُحسِنُ إلى مَن أساءَ إليه، فأمّا مُجازاةُ الإحسانِ إحساناً؛ فهو المُسَاواةُ في الأخلاقِ

Manusia yang paling mulia kedudukannya adalah yang membalas sikap jahil (kebodohan) orang lain dengan sikap ‘hilm’ (sabar dan memaafkan).

Tidak ada keutamaan (yang lebih besar) kecuali bagi orang yang berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadanya.

Adapun membalas kebaikan orang lain dengan kebaikan, maka perbuatan ini nilainya sama pada akhlak mulia.

( Raudhotul ‘Uqola – hal. 169 )

Jiwa Yang Mulia

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

النفوس الشريفة لا ترضى من الأشياء إلا بأعلاها وأفضلها وأحمدها عاقبة، والنفوس الدنيئة تحوم حول الدناءات وتقع عليها كما يقع الذباب على الأقذار، فالنفس الشريفة العلية لا ترضى بالظلم ولا بالفواحش، والنفس الحقيرة والخسيسة بالضد من ذلك

“Jiwa yang mulia tidak ridho kecuali kepada sesuatu yang mulia, paling utama dan terpuji.

Sedangkan jiwa yang rendah selalu berkutat di sekitar perkara yang rendah. Sebagaimana lalat yang suka hinggap pada kotoran.

Jiwa yang mulia tidak tidak ridho kepada kezholiman dan perbuatan keji.

Sedangkan jiwa yang buruk dan rendah sebaliknya..” (Al Fawaid hal. 178)

Bila kita ingin mengetahui bagaimana jiwa kita..
Maka lihatlah kepada apa keinginan kita..

Jika selalu menginginkan kebaikan, ketaatan dan taqwa..
Maka itulah jiwa yang mulia..

Namun jika lebih menyukai maksiat, zholim dan perbuatan jelek..
Maka itulah keadaan jiwa kita..

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Seburuk Buruk Manusia

Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

فإن الكريم لا يعامل بالإساءة من أحسن إليه. وإنما يفعل هذا لئام الناس. فليمنعه مشهد إحسان الله ونعمته عن معصيته حياء منه أن يكون خير الله وإنعامه نازلا إليه، ومخالفاته ومعاصيه وقبائحه صاعدة إلى ربه. فملك ينزل بهذا وملك يعرج بهذا، فأقبح بها من مقابلة!

Sesungguhnya orang yang mulia tidak akan membalas Dzat yang telah berbuat baik kepadanya dengan keburukan .. yang melakukan hal itu hanyalah seburuk buruk manusia.

Oleh sebab itu, merenungi kebaikan dan nikmat Allah akan menghalangi dirinya dari bermaksiat kepada-Nya. Dia malu jika kebaikan dan nikmat Allah turun kepadanya, namun di saat yang sama pelanggaran, kemaksiatan, dan keburukannya naik ke hadapan Robbnya.

Renungkanlah.. ketika malaikat turun kepadanya dengan membawa nikmat-nikmat untuknya, lalu malaikat lain naik dengan membawa dosa-dosanya .. betapa buruknya balasan yang dia berikan.

(‘Uddatush Shobirin, hlm.102 )

Meninggalkan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Adalah Tipu Daya Setan

Al-Imam al-Hasan al-Bashri rohimahullahu ta’ala berkata,

إن فلاناً لا يعظ ويقول: أخاف أن أقول ما لا أفعل؟!

Sesungguhnya ada seseorang yang enggan memberi nasihat seraya beralasan, “Aku takut menyampaikan apa yang tidak aku lakukan..”

فقال الحسن: وَأَيُّنَا يفعل ما يقول، ود الشيطان أنه ظفر بهذا فلم يأمر أحد بمعروف ولم ينه عن منكر.

Maka beliau menjawab, “Siapakah dari kita yang mampu melakukan semua yang dia ucapkan..?!

Sungguh, setan itu sangatlah berharap agar ia dapat mengalahkan manusia dari hal tersebut, sehingga pada akhirnya, mereka tidak lagi mengajak orang lain kepada kebajikan dan tidak melarang dari yang mungkar.

(Latho’if Al-Ma’arif hal. 55)

Balasan Bagi Orang Yang Bersholawat

● Dari Abdullah bin Amr rodhiyallahu ‘anhumaa, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

”Sesungguhnya siapa saja yang bersholawat kepadaku sekali, maka Allah akan bersholawat kepadanya sepuluh kali..” (HR. Muslim no.384)

===

● Asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin rohimahullah mengatakan,

من حق النبي صلى الله عليه وسلم أن تكثر من الصلاة والسلام عليه، وهو ليس بحاجة إلى صلاتك وسلامك، لكنك أنت بحاجة إلى أجر هذه الصلاة والسلام؛ لأنك إذا صليت على الرسول صلى الله عليه وسلم مرة واحدة صلى الله عليك بها عشراً.

Termasuk hak Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam adalah engkau memperbanyak ucapan sholawat dan salam kepada beliau.

Dan bukanlah maknanya bahwa Beliau itu membutuhkan sholawat dan salam dari engkau, namun engkaulah yang membutuhkan pahala dari ucapan sholawat dan salam kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam, karena sesungguhnya bila engkau bersholawat kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam satu kali, niscaya Allah akan membalas sholawat untukmu sepuluh kali.

(Syarah Riyadhus Sholihin – 5/175)

===

● Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

إِذا أَرَادَ اللَّه بِعَبْدِهِ خيرا يسر لِسَانه للصَّلَاة على مُحَمَّد ﷺ وَإِذا أَرَادَ بِعَبْدِهِ شرا حبس لِسَانه عَن الصَّلَاة على مُحَمَّد ﷺ.

Jika Allah menginginkan kebaikan untuk hamba-Nya, maka Dia akan meringankan lisan hamba tersebut untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad shollallahu ‘alayhi wasallam. Sebaliknya, jika Allah menginginkan keburukan bagi hamba-Nya, maka Dia akan menahan lisan hamba tersebut dari bersholawat.

(Bustanul Wa‘izhin, hlm. 300)

===
Makna sholawat Allah kepada hamba-Nya adalah pujian dan sanjungan Allah kepada hamba tersebut di hadapan para malaikat yang mulia yang berada di sisi-Nya ..

Bayangkan, Robb yang menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya .. Robb yang memiliki dan menguasai hari pembalasan memuji dan menyanjung anda sebanyak 10 kali di hadapan para malaikat yang mulia yang berada di sisi-Nya untuk setiap SATU KALI sholawat yang anda ucapkan .. bagaimana bila anda ber-sholawat sebanyak 10 kali, atau 20 kali, atau 100 kali atau lebih banyak lagi .. subhaanallah.

Keutamaan Bersholawat Untuk Nabi Shollallahu ‘Alayhi Wasallam

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’dy rohimahullah berkata,

الإكثار من الصلاة على النبي ﷺ فيها غفران الزلات، وتكفير السيئات، وإجابة الدعوات، وقضاء الحاجات، وتفريج المهمات والكربات، وحلول الخيرات والبركات، ورضا رب الأرض والسماوات، وهي نور لصاحبها في قبره، منجية من الشرور والآفات .

Banyak bersholawat kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam padanya terdapat (sebab) :
– diampuni berbagai kesalahan,
– digugurkan dosa,
– dikabulkannya do’a,
– dimudahkan segala kebutuhan,
– dihilangkan kesedihan dan kesusahan,
– diraihnya berbagai kebaikan dan keberkahan, dan
– mendapatkan ridho Allah, Dzat yang memiliki langit dan bumi.

Dan bersholawat itu merupakan cahaya bagi hamba di alam kuburnya, dan akan menyelamatkannya dari keburukan dan petaka.

(Al Fawakih Asy Syahiyyah hal. 41)

Adab Dan Etika Dalam Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Al-Imam Sufyan bin Sa’id as-Tsauri rohimahullahu ta’ala berkata,

لا يأمر بالمعروف ، ولا ينهى عن المنكر إلا من كان فيه خصال ثلاث : رفيق بما يأمر ، رفيق بما ينهى. عدل بما يأمر ، عدل بما ينهى. عالم بما يأمر ، عالم بما ينهى.

Tidak layak untuk menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar kecuali orang yang telah memenuhi tiga perkara berikut :

1. Berlemah lembut ketika memerintahkan yang ma’ruf, dan lemah lembut ketika melarang yang mungkar.

2. Bersifat adil terhadap perkara kebajikan yang diperintahkan dan bersikap adil terhadap kemungkaran yang dilarang.

3. Berilmu terkait dengan apa yang akan ia perintahkan dan berilmu terkait dengan apa yang akan ia larang.

(Mausuu‘ah Nadhrotun Nai‘im – 3/538)

Ridho Atas Ketetapan Allah

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah .. dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu..” (at-Taghobun: 11)

Alqomah bin Qois rohimahullah berkata,

هُوَ الرَّجُلُ تُصِيبُهُ الْمُصِيبَةُ فَيَعْلَمُ أَنَّهَا مِنْ عِنْدِ اللهِ فَيَرْضَى وَيُسْلِمُ

(Yang dimaksud ayat ini adalah) seseorang yang ketika ditimpa musibah, ia mengimani bahwa semua itu adalah ketetapan Allah subhaanahu wa ta’ala sehingga ia pun ridho (atas takdir-Nya) dan memasrahkan (segala sesuatu hanya kepada-Nya).

(Tafsir Ibnu Katsir 28/123)

Diantara Amalan Berpahala Puasa Dan Sholat — Tips Bagi Wanita Muslimah Yang Sedang Berhalangan/Haidh

Saat berhalangan/haidh, seorang wanita muslimah sedang menjalankan ketaatan kepada Allah yaitu dengan mematuhi larangan Allah untuk tidak berpuasa dan tidak sholat.

Meskipun demikian, masih ada kesempatan insyaa Allah untuk meraih pahala puasa dan pahala sholat (baik itu di dalam bulan Ramadhan maupun di bulan bulan lainnya sepanjang tahun), yaitu dengan melakukan beberapa amalan berikut :

1. MENYIAPKAN MAKAN BAGI ORANG YANG BERPUASA

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga..” (HR. At-Tirmidzi no. 807)

2. MEMBACA (MINIMAL) 100 AYAT DI WAKTU MALAM

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Siapa yang membaca 100 ayat pada suatu malam, dituliskan baginya pahala sholat sepanjang malam..” (HR. Ahmad – Shohiih Al Jaami’ no. 6468)

Wanita yang sedang haidh bisa membaca Alqur’an dari hafalan atau bisa dari aplikasi Alqur’an yang ada di smartphone ( simak penjelasannya berikut ini : https://youtu.be/mLTlvtoUNmU?feature=shared )

3. MEMBANTU JANDA DAN DHU’AFA

Rosulullah shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Orang yang membantu kebutuhan
seorang janda dan seorang miskin,
itu seperti orang yang berjihad
perang di jalan Allah, atau seperti
orang yang malamnya sholat (dan) siangnya puasa..” (HR. Al Bukhori – 5353)

● Ibnu Batthol rohimahullah berkata,

“Siapa yang :
– tidak mampu berjihad di jalan Allah,
– tidak mampu rajin tahajud, atau
– (tidak mampu) puasa di siang hari,

hendaknya dia praktekkan hadits ini, (yaitu dengan) berusaha memenuhi kebutuhan hidup janda dan orang miskin, agar kelak di hari kiamat dikumpulkan bersama para mujahidin fii sabilillah. Tanpa harus melangkah di medan jihad atau mengeluarkan biaya, atau berhadapan dengan musuh. Atau agar dikumpulkan bersama orang yang rajin puasa dan tahajud..” (Syarh Shohih Bukhari – Ibnu Batthol)

catatan :
– Ke 3 amalan diatas bisa dilakukan sepanjang tahun oleh kaum pria dan wanita (yang haidh maupun tidak haidh), yang tua maupun yang muda. Maka ajarkanlah ke 3 amalan di atas kepada keluarga (orangtua/istri/suami/anak) agar bisa diamalkan semampunya.

– Jangan lupa untuk berdo’a kepada Allah agar diberikan kemudahan untuk tetap melakukan ketaatan dalam kondisi apapun.

Baarokallahu fiikum.