Category Archives: Mutiara Salaf

Salah Satu Cabang Dari Kemunafikan

Imam Abu Hatim rohimahullah mengatakan,

التجسس
من شعب النفاق، كما أن حسن الظن من شعب الإيمان. والعاقل يحسن الظن
بإخوانه، وينفرد بغمومه وأحزانه، كما أن الجاهل يسيء الظن بإخوانه، ولا
يفكر في جنايته وأشجانه.

Mencari-cari kesalahan orang lain adalah cabang kemunafikan, sebagaimana berbaik sangka termasuk cabang keimanan.

Orang yang berakal sehat akan berbaik sangka kepada saudara-saudaranya, dan bersendiri dengan duka dan kesedihannya.

Sementara itu, orang yang jahil akan berburuk sangka kepada saudara-saudaranya dan tidak akan berpikir tentang kesalahan sendiri dan perkara-perkara yang mestinya dia sibuk dengannya.

(Roudhotul ‘Uqola, hlm. 127)

Nasehat Dalam Rangka Menyambut Datangnya Ramadhan

Syaikh Sholeh Fauzan bin Abdillah al-Fauzan hafizhohullah berkata,

Wajib bagi kaum muslimin untuk memohon kepada Allah agar dia :
– bisa sampai ke bulan Ramadhan, dan
– diberi kemampuan untuk berpuasa serta melaksanakan sholat tarawih padanya, dan juga
– bisa beramal sholeh pada bulan Ramadhan.

Sebab, bulan tersebut merupakan kesempatan besar (untuk beribadah) dalam kehidupan seorang muslim.

● “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dikarenakan keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang terdahulu..” (HR. Al Bukhari)

● ”Barangsiapa yang sholat malam pada bulan Ramadhan dikarenakan keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang terdahulu..“ (HR. Al Bukhari)

Oleh karena itu, ini adalah kesempatan besar bagi setiap muslim (untuk beramal). Mungkin saja dia tidak bisa mendapatkan kesempatan kedua setelahnya.

Maka dari itu, seorang muslim hendaknya :
– bergembira dan merasa senang dengan datangnya bulan Ramadhan,
– menyambutnya dengan penuh kebahagiaan dan kegembiraan,
– menggunakan kesempatan pada bulan tersebut untuk memperbanyak ketaatan,
– sholat di malam hari dan berpuasa pada siang harinya,
– membaca Al-Qur’an, dan berdzikir.

Yang demikian itu, merupakan ghonimah bagi setiap muslim.

Adapun orang-orang yang menyambut bulan Ramadhan dengan mempersiapkan berbagai kegiatan-kegiatan yang negatif seperti :
– acara musik,
– acara drama yang bersambung,
– acara-acara lawakan atau perlombaan kuis
yang semua ini melalaikan kaum muslimin (dari ibadah), maka mereka ini adalah bala tentara setan.

Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk berhati-hati dari mereka, dan mentahdzir (memperingatkan dari) mereka.

Bulan Ramadhan bukanlah waktu untuk bermain-main atau perkara sia-sia seperti kuis-kuis dan semisalnya, yang semua ini menyia-nyiakan waktu.

ref : http://alfawzan.af.org.sa/ar/node/14849

Masalah Yang Terkait Dengan Mengadakan Resepsi Pernikahan Di Hotel

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahullahu ta’ala.

PERTANYAAN

Apa pendapat Syaikh yang mulia tentang resepsi-resepsi pernikahan yang diadakan di hotel-hotel..?

JAWABAN

– Resepsi-resepsi pernikahan yang diadakan di hotel-hotel itu banyak mengandung kesalahan dan banyak kritikan-kritikan terhadapnya, di antaranya adalah kebiasaan berlebih-lebihan dan melebihi kebutuhan yang sebenarnya.

– Yang kedua, hal seperti itu menyebabkan sikap memaksakan diri di dalam penyelenggaraan resepsi di hotel, resepsi melebihi kebutuhan dan hadirnya orang-orang yang tidak diperlukan.

– Yang ketiga, hal seperti itu sering mengakibatkan terjadinya percampur-bauran (ikhtilath) antara laki-laki dan perempuan, baik yang berasal dari hotel itu sendiri atau dari lainnya. Jika demikian, maka itu adalah ikhtilath yang sangat tercela.

Maka dari itulah keluar suatu keputusan dari Dewan Kibar Ulama yang dibawa kepada raja, isinya adalah nasihat agar penyelenggaraan pesta dan resepsi pernikahan (walimatul ‘urs) di hotel-hotel dilarang, karena banyak keburukan yang timbul karenanya, demikian pula qushurul afrah (gedung-gedung pesta pernikahan) yang disewa dengan harga yang sangat mahal, semuanya dimuat di dalam nasihat tersebut agar dilarang sebagai :
– wujud dari rasa kasih sayang kepada masyarakat, dan
– demi menjaga sikap sederhana, dan
– tidak berlebih-lebihan atau melakukan penghambur-hamburan (mubadzir), dan
– supaya mereka yang hidup sederhana dapat membiayai pernikahannya dengan tidak memaksakan diri.

Sebab, jika ia melihat anak pamannya (saudara sepupunya) atau salah seorang kerabatnya dengan memaksakan diri melakukan resepsi pernikahan di hotel dan melakukan pesta secara besar-besaran, maka ia akan menyainginya atau melakukan hal yang serupa dengan terpaksa berhutang dan mengeluarkan pembelanjaan yang sangat besar, atau ia menunda pernikahan karena takut akan beban biaya yang sangat besar itu.

Maka nasihat saya kepada segenap kaum Muslimin adalah jangan menyelenggarakan pesta atau resepsi pernikahan di hotel dan tidak pula melakukannya di gedung-gedung pesta (qushurul afrah) yang sangat mahal, akan tetapi cukuplah menyewa gedung yang sewanya ringan (murah).

Bahkan menyelenggarakan resepsi pernikahan di rumah sendiri atau di rumah salah seorang karib kerabat itu lebih baik, jika hal itu memungkinkan.

(Fatawal Mar’ah hal. 59-60 – Syaikh Ibnu Baz)

Antara Berkaratnya Hati Dan Bersihnya Hati

Imam Ibnul Qayyim rohimahullahu ta’ala berkata,

Tidak diragukan lagi, bahwa hati itu akan berkarat sebagaimana berkaratnya tembaga dan perak dan selain keduanya.

Dan yang dapat membersihkannya adalah dengan dzikir, karena dzikir itu akan membuatnya bersih seperti kaca yang bening. Tetapi kalau dia tinggalkan dzikir maka hatinya kembali berkarat.

Dan berkaratnya hati terjadi karena dua sebab :
– karena lalai dari mengingat Allah
– karena dosa dan maksiat kepada Allah

Dan bersihnya hati dengan dua perkara :
– dengan banyak Istighfar
– dengan banyak dzikir

Maka barangsiapa yang kelalaiannya kepada Allah lebih dominan di sepanjang waktunya, maka karat didalam hatinya pun semakin banyak, Sedangkan karatnya hati itu tergantung dengan kelalaiannya kepada Allah Ta’ala.

(Al Wabilus Shayyib – 40)

📍 قال ابن القيم – رحمه الله – :

« ولا ريب أن القلب يصدأ كما يصدأ النحاس والفضة وغيرهما،

وجلاؤه بالذكر؛ فإنه يجلوه
حتى يدعه كالمرآة البيضاء، فإذا ترك صدأ.

🔹وصدأ القلب بأمرين:
📍بالغفلة
📍والذنب
🔸 وجلاؤه بشيئين:
🔸بالاستغفار والذكر .

📌فمن كانت الغفلة أغلب أوقاته, كان الصدأ متراكبا على قلبه، وصدؤه بحسب غفلته ».

[ «الوابل الصيب» (ص ٤٠) ]

Jagalah Lisan Ketika Marah

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rohimahullahu ta’ala berkata,

“Biasakan dan latihlah lisanmu, ketika seorang anak atau istri membuatmu marah, untuk mendo’akan mereka dengan kebaikan.

Sebagian manusia ada yang mengatakan kepada anak dan istrinya ketika dia marah :

– semoga Allah mengadzabmu..!
– semoga Allah membinasakanmu..!
– semoga Allah membuat hitam wajahmu..!
– semoga Allah tidak membimbingmu dunia, akhirat..!

Ini semua adalah ucapan yang haram..!!!

Sabarlah engkau dan tenangkanlah dirimu (ketika marah) lalu kemudian do’akanlah keluargamu dengan kebaikan..”

(Fatawa Liqooil Baabil Maftuh – 187)

➖➖➖➖➖➖
➖➖➖➖➖➖
Catatan :

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Janganlah kalian mendo’akan keburukan untuk diri kalian, dan juga untuk anak-anak kalian, atau harta kalian. Jangan sampai kalian menepati suatu waktu yang pada waktu itu Allah Subhanahu wa Ta’ala diminta sesuatu lantas Dia kabulkan do’a kalian tersebut..”

(HR. Muslim)

Contoh do’a kebaikan itu seperti :

– semoga Allah memberimu hidayah
– semoga Allah memperbaiki keadaan-mu
– semoga Allah menjadikanmu istri yang sholehah
– semoga Allah membimbingmu dunia dan akherat
– dan do’a lainnya yang semisal

=========
#الفوآئــد_العلميّـة 🔰

📌قالـ الإمام ابن عثيمين رحمه الله:

عود لسانك إذا أغضبك أولادك أو أهلك أن تدعو لهم بالخير ..

🚫 بعـض الناس يقـول :
الله يأخذك الله يدمرك الله يسود وجهك الله لا يوفقك لا في الدنيا ولا في الآخرة !!
👈 وهذا حرام ؛ اصبر وطن نفسك وادع لأهلك بالخير

📓【فتاوى لقاء الباب المفتوح【187】

Berbaik Sangka Kepada Allah

Imam Mujahid bin Jabr rohimahullahu ta’ala berkata,

يُؤْمَرُ بِالعَبْدِ يَوْمَ القِيَامَةِ إِلَى النَّارِ ، فَيَقُوْلُ : مَا كَانَ هَذَا ظَنِّيْ ، فَيَقُولُ : مَا كَانَ ظَنُّكَ؟ فَيَقُولُ : أَنْ تَغْفِرَ لِيْ ، فَيَقُولُ : خلوا سَبِيْلَهُ

Seorang hamba diperintahkan untuk ke neraka pada Hari Kiamat. Lalu hamba itu berkata, ‘Aku tidak pernah menyangka yang seperti ini..’

Allah bertanya, ‘Lalu apa yang engkau sangka..?’

Hamba itu menjawab, ‘Engkau mengampuni dosaku..’

Allah berfirman, ‘Beri dia jalan (ke surga)..’

(Mukhtashor Minhajul Qoshidin hlm. 278)

Perkara Yang Bisa Menyelamatkan Sebuah Keluarga

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahullah berkata,

ﻓﻜﻠﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﺃﻛﺜﺮ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﻟﻠﻘﺮﺁﻥ، ﻭﺃﻛﺜﺮ ﻣﺬﺍﻛﺮﺓ ﻟﻸﺣﺎﺩﻳﺚ، ﻭﺃﻛﺜﺮ ﺫﻛﺮﺍً ﻟﻠﻪ ﻭﺗﺴﺒﻴﺤﺎً ﻭﺗﻬﻠﻴﻼً، ﻛﺎﻥ ﺃﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﺎﻃﻴﻦ ﻭﺃﺑﻌﺪ ﻣﻨﻬﺎ .

ﻭﻛﻠﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﻣﻤﻠﻮﺀًﺍ ﺑﺎﻟﻐﻔﻠﺔ، ﻭﺃﺳﺒﺎﺑﻬﺎ ﻣﻦ ﺍﻷﻏﺎﻧﻲ ﻭﺍﻟﻤﻼﻫﻲ ﻭﺍﻟﻘﻴﻞ ﻭﺍﻟﻘﺎﻝ ، ﻛﺎﻥ ﺃﻗﺮﺏ ﺇﻟﻰ ﻭﺟﻮﺩ ﺍﻟﺸﻴﺎﻃﻴﻦ ﺍﻟﻤﺸﺠﻌﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺒﺎﻃﻞ .

Jika sebuah keluarga semakin :
– memperbanyak membaca Al-Qur’an,
– mempelajari hadits Nabi, dan
– berdzikir kepada Allah dengan tasbih dan tahlil

Maka mereka akan semakin selamat dan jauh dari gangguan setan.

Sebaliknya, jika sebuah rumah penuh dengan hal-hal yang melalaikan dan penyebabnya, seperti :
– nyanyian (musik),
– permainan, dan
– pembicaraan yang sia-sia

Maka rumah tersebut semakin dekat dengan setan yang mengajak kepada kebatilan.

(Al-Fawaid Al-Ilmiyah Min Ad-Durus Al-Baziyah, 1/142)

Hukum Ucapan ‘Semoga Allah Memanjangkan Umurmu..’

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rohimahullahu ta’ala

PERTANYAAN

ما حكم قول: “أطال الله بقاءك”، “طال عمرك”؟

Apa hukum ucapan, ‘semoga Allah memanjangkan hidupmu (di dunia)..’ atau, ‘semoga Allah memanjangkan umurmu..’

JAWABAN

لا ينبغي أن يطلق القول بطول البقاء، لأن طول البقاء قد يكون خيرا، وقد يكون شرا، فإن شر الناس من طال عمره وساء عمله

Tidak sepantasnya seseorang mengatakan (mendo’akan) panjangnya hidup secara mutlak. Sebab, panjang umur bisa jadi baik, bisa jadi pula buruk. Manusia yang terburuk ialah yang usianya panjang, tetapi amalannya buruk.

وعلى هذا فلو قال: أطال الله بقاءك على طاعته ونحوه، فلا بأس بذلك

Berdasarkan hal tersebut, jika seseorang menyatakan, ‘semoga Allah memanjangkan hidupmu di atas ketaatan kepada-Nya..’ atau yang semisal itu, maka ini tidak mengapa.

(Majmu’ Fatawa wa Rosail al-Utsaimin 3/71)

====
Dari Abdurrahman bin Abi Bakrah, dari bapaknya, bahwa seorang laki-laki berkata, ‘wahai Rosulullah, siapakah manusia yang terbaik..?’

Beliau menjawab, ‘orang yang panjang umurnya dan baik amalnya..’

Dia bertanya lagi, ‘lalu siapakah orang yang terburuk..?’

Beliau menjawab, ‘orang yang berumur panjang dan buruk amalnya..’

(HR. Ahmad, At Tirmidzi dan al-Hakim. Dishohihkan oleh al-Albani rohimahullah dalam Shohîh at-Targhiib wat Tarhiib, 3/313, no. 3363)

Keutamaan Tersenyum Ketika Bertemu Dengan Seorang Muslim

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda ,

” تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ “

“Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah bernilai sedekah bagimu..”

(HR. At Tirmidzi no. 1956 – dinyatakan hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shohihah no. 572)

● Imam Ibnu Batthol rohimahullahu ta’ala berkata,

Sesungguhnya berjumpa dengan saudaramu yang beriman dengan wajah yang ceria lagi tersenyum, ini merupakan salah satu dari akhlaknya Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam.

Dan ini juga menghilangkan sifat sombong dihati dan dapat menumbuhkan sifat kasih sayang.

(Syarah Shohih Bukhari 5/193)

Akibat Dari Berlebihan (Ghuluw) Dalam Mencintai Orang Sholeh

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya),

Dan mereka (Kaum Nabi Nuh) berkata, “Jangan kamu sekali-kali meninggalkan sesembahan-sesembahan kamu dan (terutama) janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, Suwa, Yaghuts, Ya’quq, maupun Nasr..” (Qs. Nuh: 23).

Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa berkata dalam menafsirkan ayat yang mulia ini,

“Ini adalah nama-nama orang sholeh dari kaum Nabi Nuh. Tatkala mereka meninggal, syaitan membisikkan kepada kaum mereka, ‘Dirikanlah patung-patung mereka pada tempat yang pernah diadakan pertemuan di sana, dan namailah patung-patung itu dengan nama-nama mereka..’

Orang-orang itu pun melaksanakan bisikan syaitan tersebut, tetapi ketika itu patung-patung mereka belum disembah.

Hingga orang-orang yang mendirikan patung itu meninggal dan ilmu agama dilupakan orang, barulah patung-patung tadi disembah..”

(HR. Al Bukhari 5/382 no.4920)

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى