Category Archives: Mutiara Salaf

Yakin Adalah Kunci Sukses Meraih Kesabaran

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu ta’ala berkata,

Tidak akan mungkin seorang itu mampu untuk bersabar bila dia tidak memiliki SESUATU yang :

– membuat dirinya tenteram,
– membuat dirinya terhibur, dan
– membuat dirinya tabah dan kuat,

Dan ‘SESUATU’ itu adalah yakin (akan benarnya janji Allah).

(Kitab Istiqomah – 2/261)

Perbedaan Orang Yang Bahagia Dan Orang Yang Celaka

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullahu ta’ala berkata,

Orang yang bahagia itu adalah :

1. orang yang terus istighfar -mohon ampunan- kepada Allah atas dosa dosa yang telah dia kerjakan, dan

2. bersabar atas musibah yang menimpanya.

Sebagaimana yang Allah firmankan,

{فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ}
[غافر : 55]

“Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi..” (Qs Ghofir: 55)

Dan orang yang celaka itu adalah :

1. orang yang selalu berkeluh kesah ketika mendapat musibah, dan

2. selalu beralasan dengan takdir untuk berbuat dosa.

(Majmuu’ Al Fatawa 8/454)

Penyebab Kerasnya Hati Dan Obatnya

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullahu ta’ala berkata,

Sebab sebab kerasnya hati adalah :

1. Berpaling dari Allah Ta’ala.
2. Menjauh dari membaca Al Quran.
3. Menyibukkan dirinya untuk mengejar dunia dan dia jadikan dunia itu cita cita terbesarnya.
4. Tidak mau peduli dengan urusan agamanya. Padahal mentaati Allah Ta’ala dan kembali kepadaNya dapat menyebabkan lunak dan lembutnya hati.

Adapun obatnya adalah :

1. Taat dan tunduk kepada Allah Ta’ala.
2. Memperbanyak berzikir.
3. Memperbanyak membaca Al Quran.
4. Memperbanyak beramal kebaikan sesuai kemampuan.

Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar melunakkan hati kita dan saudara kita untuk terus mengingat-Nya dan agar memakmurkan hati kita untuk terus mentaati-Nya.

Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Mampu atas segala sesuatu.

(Fatawa Nuurun ‘Alad Darb no: 320)

Makna Tawakal Kepada Allah Ketika Sakit

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahullah berkata,

Tawakal kepada Allah ‘azza wa jalla mengandung dua hal :

PERTAMA
Bersandar penuh kepada Allah dan beriman bahwa tidaklah terjadi sesuatu pun di dunia ini kecuali dengan kehendak dan takdir-Nya.

KEDUA
Melakukan sebab yang syar’i atau yang mubah (boleh) dalam mencari solusi dari permasalahan yang sedang dihadapi.

Jadi, dua hal tersebut harus terkumpul; iman kepada takdir dan melakukan sebab.

Seorang muslim mengetahui bahwa sakit yang diderita terjadi dengan takdir Allah.  Bersamaan dengan itu, dia mencari kesembuhan dengan sebab yang syar’i dan obat-obat yang halal.

Hal ini sama sebagaimana ketika dia :
– menghilangkan haus dengan minum,
– menghilangkan lapar dengan makan,
– menghilangkan rasa takut dengan melakukan sebab yang memberinya rasa aman, seperti orang yang khawatir pencuri lalu dia mengunci pintunya, dan banyak contoh lainnya.

( Akhtha` fi al-‘Aqidah hlm. 30 )

Hindarilah Ketenaran

Al-Fudhail bin Iyyadh rohimahullah berkata,

إن قدرت أن لا تُعرف فافعل، وما عليك ألا تُعرف، وما عليك ألا يُثنى عليك،
وما عليك أن تكون مذمومًا عند الناس إذا كنت محمودًا عند الله عَزّ وَجَلّ.

Jika engkau mampu untuk tidak terkenal, lakukanlah.

– tidak ada ruginya engkau tidak dikenal,
– tidak ada ruginya engkau tidak mendapatkan pujian, dan
– tidak ada ruginya engkau dicela oleh manusia apabila engkau terpuji di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.

(At-Tawadhu’ wal Khumul – 43)

Keutamaan Membaca Alqur’an Dengan Suara Lirih

Nabi shollallaahu ‘alayhi wasallam bersabda,

الْجَاهِرُ بِالْقُرْآنِ كَالْجَاهِرِ بِالصَّدَقَةِ وَالْمُسِرُّ بِالْقُرْآنِ كَالْمُسِرِّ بِالصَّدَقَةِ

Orang yang membaca Alqur’an dengan suara keras seperti orang yang menampakkan sedekah, sedangkan orang yang membaca Alqur’an dengan suara lirih, seperti orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi.

(HR Attirmidzi dan beliau berkata, ‘Hadits Hasan Ghorib’ Dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani)

Imam Attirmidzi rohimahullah berkata,

Makna hadits ini adalah, orang yang membaca Alqur’an dengan suara lirih lebih baik dari yang membaca dengan suara keras, karena sedekah sembunyi-sembunyi itu lebih baik dari sedekah dengan terang-terangan menurut para ulama.

Sedangkan menurut ulama mengenai makna hadits ini adalah agar seseorang terhindar dari sifat ujub, karena orang yang melakukan amalan dengan sembunyi-sembunyi itu tidak dikhawatirkan ujub seperti bila dilakukan secara terang-terangan.

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Penyebab Lapangnya Atau Sempitnya Sebuah Rumah

Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu berkata,

‏ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺒَﻴْﺖَ ﻟَﻴَﺘَّﺴِﻊُ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻫْﻠِﻪِ، ﻭَﺗَﺤْﻀُﺮُﻩُ ﺍﻟْﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔُ، ﻭَﺗَﻬْﺠُﺮُﻩُ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻭَﻳَﻜْﺜُﺮُ ﺧَﻴْﺮُﻩُ، ﺃَﻥْ ﻳُﻘْﺮَﺃَ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ. ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺒَﻴْﺖَ ﻟَﻴَﻀِﻴﻖُ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻫْﻠِﻪِ، ﻭَﺗَﻬْﺠُﺮُﻩُ ﺍﻟْﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔُ، ﻭَﺗَﺤْﻀُﺮُﻩُ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻭَﻳَﻘِﻞُّ ﺧَﻴْﺮُﻩُ، ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﻳُﻘْﺮَﺃَ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ

Sesungguhnya sebuah rumah benar-benar akan :
– terasa lapang bagi penghuninya,
– didatangi oleh para malaikat,
– dijauhi oleh para setan,
– dan banyak kebaikannya

dengan dibacakan al-Qur’an di dalamnya.

Demikian pula sebaliknya, sungguh sebuah rumah benar-benar akan :
– terasa sempit bagi penghuninya,
– dijauhi oleh para malaikat,
– didatangi oleh para setan,
– dan sedikit kebaikannya,

dengan tidak dibacakan al-Qur’an di dalamnya.

( Sunan ad-Darimy no. 3352 )

Penyebab Tertutupnya Hidayah

Syaqiq bin Ibrahim rohimahullah berkata,

Tertutupnya pintu taufik dan hidayah dari hamba adalah karena enam perkara :

1. Disibukkan dengan nikmat tanpa mau mensyukurinya.

2. Bersemangat dengan ilmu tanpa mau mengamalkannya.

3. Berlomba lomba untuk berbuat dosa dan menunda nunda untuk bertaubat.

4. Tertipu dengan memiliki teman yang sholeh tetapi tidak mencontoh akhlak mulianya.

5. Sibuk mencari dunia padahal dunia lari darinya.

6. Berpaling dari akherat padahal akherat itu datang kepadanya.

(Al Fawaid – Ibnul Qoyyim – hal:258)

Agar Dapat Merasakan Manisnya Ibadah

Imam Ahmad bin Harb rohimahullahu ta’ala mengatakan,

Aku telah beribadah kepada Allah selama 50 tahun, dan aku tidak dapat merasakan manisnya ibadah hingga aku meninggalkan 3 perkara :

1. aku tinggalkan untuk mencari ridhonya manusia, sehingga aku mampu untuk berbicara sesuai kebenaran.

2. aku tinggalkan berteman dengan orang orang fasik, sehingga aku mampu untuk berteman dengan orang orang sholeh.

3. aku tinggalkan manisnya dunia, sehingga aku mampu untuk merasakan manisnya akherat.

( Siyar A’lamin Nubalaa 11/34)

Belajarlah Untuk Diam

Abu adz-Dzayyal rohimahullah berkata,

تعلم الصمت كما تتعلم الكلام، فإن يكن الكلام يهديك، فإن الصمت يقيك، ولك في الصمت خصلتان: تأخذ به علم من هو أعلم منك، وتدفع به عنك من هو أجدل منك.

Belajarlah untuk diam sebagaimana engkau belajar bicara.

Sebab, sebagaimana bicara itu akan membimbingmu, maka sesungguhnya diam itu juga akan menjaga dirimu. Dengan diam, engkau akan mendapatkan dua hal :

1. engkau bisa mengambil ilmu dari orang yang lebih berilmu darimu, dan

2. engkau bisa menolak keburukan orang yang lebih pintar debat dari dirimu.

(Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih – 1/550)