Category Archives: Mutiara Salaf

Makna Tawakal Kepada Allah Ketika Sakit

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahullah berkata,

Tawakal kepada Allah ‘azza wa jalla mengandung dua hal :

PERTAMA
Bersandar penuh kepada Allah dan beriman bahwa tidaklah terjadi sesuatu pun di dunia ini kecuali dengan kehendak dan takdir-Nya.

KEDUA
Melakukan sebab yang syar’i atau yang mubah (boleh) dalam mencari solusi dari permasalahan yang sedang dihadapi.

Jadi, dua hal tersebut harus terkumpul; iman kepada takdir dan melakukan sebab.

Seorang muslim mengetahui bahwa sakit yang diderita terjadi dengan takdir Allah.  Bersamaan dengan itu, dia mencari kesembuhan dengan sebab yang syar’i dan obat-obat yang halal.

Hal ini sama sebagaimana ketika dia :
– menghilangkan haus dengan minum,
– menghilangkan lapar dengan makan,
– menghilangkan rasa takut dengan melakukan sebab yang memberinya rasa aman, seperti orang yang khawatir pencuri lalu dia mengunci pintunya, dan banyak contoh lainnya.

( Akhtha` fi al-‘Aqidah hlm. 30 )

Hindarilah Ketenaran

Al-Fudhail bin Iyyadh rohimahullah berkata,

إن قدرت أن لا تُعرف فافعل، وما عليك ألا تُعرف، وما عليك ألا يُثنى عليك،
وما عليك أن تكون مذمومًا عند الناس إذا كنت محمودًا عند الله عَزّ وَجَلّ.

Jika engkau mampu untuk tidak terkenal, lakukanlah.

– tidak ada ruginya engkau tidak dikenal,
– tidak ada ruginya engkau tidak mendapatkan pujian, dan
– tidak ada ruginya engkau dicela oleh manusia apabila engkau terpuji di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.

(At-Tawadhu’ wal Khumul – 43)

Keutamaan Membaca Alqur’an Dengan Suara Lirih

Nabi shollallaahu ‘alayhi wasallam bersabda,

الْجَاهِرُ بِالْقُرْآنِ كَالْجَاهِرِ بِالصَّدَقَةِ وَالْمُسِرُّ بِالْقُرْآنِ كَالْمُسِرِّ بِالصَّدَقَةِ

Orang yang membaca Alqur’an dengan suara keras seperti orang yang menampakkan sedekah, sedangkan orang yang membaca Alqur’an dengan suara lirih, seperti orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi.

(HR Attirmidzi dan beliau berkata, ‘Hadits Hasan Ghorib’ Dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani)

Imam Attirmidzi rohimahullah berkata,

Makna hadits ini adalah, orang yang membaca Alqur’an dengan suara lirih lebih baik dari yang membaca dengan suara keras, karena sedekah sembunyi-sembunyi itu lebih baik dari sedekah dengan terang-terangan menurut para ulama.

Sedangkan menurut ulama mengenai makna hadits ini adalah agar seseorang terhindar dari sifat ujub, karena orang yang melakukan amalan dengan sembunyi-sembunyi itu tidak dikhawatirkan ujub seperti bila dilakukan secara terang-terangan.

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Penyebab Lapangnya Atau Sempitnya Sebuah Rumah

Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu berkata,

‏ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺒَﻴْﺖَ ﻟَﻴَﺘَّﺴِﻊُ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻫْﻠِﻪِ، ﻭَﺗَﺤْﻀُﺮُﻩُ ﺍﻟْﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔُ، ﻭَﺗَﻬْﺠُﺮُﻩُ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻭَﻳَﻜْﺜُﺮُ ﺧَﻴْﺮُﻩُ، ﺃَﻥْ ﻳُﻘْﺮَﺃَ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ. ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺒَﻴْﺖَ ﻟَﻴَﻀِﻴﻖُ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻫْﻠِﻪِ، ﻭَﺗَﻬْﺠُﺮُﻩُ ﺍﻟْﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔُ، ﻭَﺗَﺤْﻀُﺮُﻩُ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻭَﻳَﻘِﻞُّ ﺧَﻴْﺮُﻩُ، ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﻳُﻘْﺮَﺃَ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ

Sesungguhnya sebuah rumah benar-benar akan :
– terasa lapang bagi penghuninya,
– didatangi oleh para malaikat,
– dijauhi oleh para setan,
– dan banyak kebaikannya

dengan dibacakan al-Qur’an di dalamnya.

Demikian pula sebaliknya, sungguh sebuah rumah benar-benar akan :
– terasa sempit bagi penghuninya,
– dijauhi oleh para malaikat,
– didatangi oleh para setan,
– dan sedikit kebaikannya,

dengan tidak dibacakan al-Qur’an di dalamnya.

( Sunan ad-Darimy no. 3352 )

Penyebab Tertutupnya Hidayah

Syaqiq bin Ibrahim rohimahullah berkata,

Tertutupnya pintu taufik dan hidayah dari hamba adalah karena enam perkara :

1. Disibukkan dengan nikmat tanpa mau mensyukurinya.

2. Bersemangat dengan ilmu tanpa mau mengamalkannya.

3. Berlomba lomba untuk berbuat dosa dan menunda nunda untuk bertaubat.

4. Tertipu dengan memiliki teman yang sholeh tetapi tidak mencontoh akhlak mulianya.

5. Sibuk mencari dunia padahal dunia lari darinya.

6. Berpaling dari akherat padahal akherat itu datang kepadanya.

(Al Fawaid – Ibnul Qoyyim – hal:258)

Agar Dapat Merasakan Manisnya Ibadah

Imam Ahmad bin Harb rohimahullahu ta’ala mengatakan,

Aku telah beribadah kepada Allah selama 50 tahun, dan aku tidak dapat merasakan manisnya ibadah hingga aku meninggalkan 3 perkara :

1. aku tinggalkan untuk mencari ridhonya manusia, sehingga aku mampu untuk berbicara sesuai kebenaran.

2. aku tinggalkan berteman dengan orang orang fasik, sehingga aku mampu untuk berteman dengan orang orang sholeh.

3. aku tinggalkan manisnya dunia, sehingga aku mampu untuk merasakan manisnya akherat.

( Siyar A’lamin Nubalaa 11/34)

Belajarlah Untuk Diam

Abu adz-Dzayyal rohimahullah berkata,

تعلم الصمت كما تتعلم الكلام، فإن يكن الكلام يهديك، فإن الصمت يقيك، ولك في الصمت خصلتان: تأخذ به علم من هو أعلم منك، وتدفع به عنك من هو أجدل منك.

Belajarlah untuk diam sebagaimana engkau belajar bicara.

Sebab, sebagaimana bicara itu akan membimbingmu, maka sesungguhnya diam itu juga akan menjaga dirimu. Dengan diam, engkau akan mendapatkan dua hal :

1. engkau bisa mengambil ilmu dari orang yang lebih berilmu darimu, dan

2. engkau bisa menolak keburukan orang yang lebih pintar debat dari dirimu.

(Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih – 1/550)

Kisah Yang Akan Membuat Seseorang Mengurungkan Niat Buruknya

Ibnu Rojab rohimahullah mengisahkan dalam sebagian kitabnya tentang seorang laki laki badui yang menggoda wanita badui di padang pasir.

Laki Laki itu berkata, ‘kita ada di tempat yang hanya bintang bintang yang melihat kita, apa yang engkau takutkan..?’

Wanita itu menjawab, ‘lalu dimana Pencipta bintang bintang itu..?’ Laki laki tersebut langsung mengurungkan niatnya.

Beliau rohimahullah juga mengisahkan ada laki laki yang memaksa seorang wanita untuk berzina. Laki laki itu berkata, ‘tutuplah semua pintu..’ wanita itu pun menutupnya.

Laki laki itu berkata lagi, ‘sudahkah engkau menutup semua pintu..?’

Wanita tersebut menjawab, ‘sudah.. kecuali satu pintu..’

‘Pintu yang mana..?’ tanya laki laki tersebut.

‘Pintu antara kita dan Allah .. pintu yang tidak mungkin ditutup..’ Laki laki tadi pun tidak jadi berzina.

Begitulah, setiap kali seorang hamba menyadari bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’ala mengetahui dan memperhatikan gerak geriknya, maka itu akan menjadi faktor terbesar yang menghentikannya dari perbuatan dosa.

Dikisahkan oleh,
Syaikh Prof. Dr. Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr حفظه الله تعالى

Simpanan Akherat Bagi Orang Yang Dizholimi

Al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rohimahullah berkata,

«وإن العبدَ لَيَشتد فرحهُ يومَ القيامة بما له قِبل الناس عندهم مِن الحقوق في
المال والنفس والعِرضِ، فالعاقلُ يَعُدُّ هذا ذخْرا ليوم الفقر والفاقة،
ولا يُبْطِلُه بالانتقام الذي لا يُجْدِي عليه شيئا»

Sesungguhnya seorang hamba benar-benar sangat besar kegembiraannya pada hari kiamat nanti dengan hak-haknya yang dikembalikan dari orang lain berupa harta, nyawa, dan kehormatan (yang diambil darinya tanpa hak).

Itu sebabnya, orang yang berakal akan menganggap hal ini sebagai simpanan untuk hari saat dia sangat membutuhkan (pertolongan). Dia tidak akan menggugurkan hak-haknya tersebut dengan cara membalas dendam yang hal itu tidak ada gunanya sama sekali untuknya.

( Madaarijus Saalikiin – 1/306 )

SELINGAN – Ketika Suami Hendak Mendo’akan Temannya

~ TERJEMAHAN BEBAS ~

Syaikh Prof. Dr. Abdurrozzaq Al Badr hafizhohullah menceritakan suatu kejadian,

Ada seorang suami sedang duduk bersama istrinya, lalu sang suami teringat akan temannya yang ditinggal mati istrinya.

Maka sang suami berkata, ‘aku akan memohon kepada Allah agar memberikan dia rezeki seorang istri, aku akan berdo’a..’

Tiba tiba Istrinya berkata, ‘jangan..’

Sang suami berkata, ‘lho kenapa..?! aku khan berdo’a yang baik agar Allah memberikan dia seorang istri pengganti yang sholihah..’

Istrinya berkata, ‘pokoknya jangan pernah engkau berdo’a seperti itu .. karena nanti malaikat akan berkata ‘walaka bi mitslin..’ (semoga engkau mendapatkan yang sama).

Sang istri rupanya teringat akan hadits ~ dimana Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

Do’a seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang dido’akan adalah do’a yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada Malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia mendo’akan kebaikan untuk saudaranya, maka Malaikat tersebut berkata ‘Aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan..’ (HR. Muslim)