Category Archives: Mutiara Salaf

Diantara Tanda Tanda Kebahagiaan Dan Keberuntungan

Ibnul Qoyyim rohimahullahu Ta’ala berkata,

Termasuk tanda tanda kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba :

– tatkala bertambah ilmu maka bertambah pula tawadhu’ (rendah hati) dan kasih sayangnya

– tatkala bertambah amalannya, bertambah pula rasa takut dan kewaspadaannya

– semakin bertambah umurnya, maka semakin berkurang ambisinya

– tatkala bertambah pada hartanya, maka semakin bertambah pula kedermawanan dan pemberiannya

– semakin bertambah kedudukannya dan kekuasaannya, semakin bertambah pula kedekatannya dengan manusia dan menunaikan kebutuhan mereka dan tawadhu’ (rendah hati) terhadap mereka.

(Al Fawaid, hlm. 148-149)

Nasehat Untuk Para Suami

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin rohimahullahu ta’ala berkata,

ﺛﻢ ﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﻣﻌﺎﻣﻠﺘﻚ ﻟﺰﻭﺟﺘﻚ ﻳﺠﺐ ﺃﻥ ﺗﻘﺪﺭ ﻛﺄﻥ ﺭﺟﻼً ﺯﻭﺟﺎً ﻻﺑﻨﺘﻚ، ﻛﻴﻒ ﻳﻌﺎﻣﻠﻬﺎ؟ ﻓﻬﻞ ﺗﺮﺿﻰ ﺃﻥ ﻳﻌﺎﻣﻠﻬﺎ ﺑﺎﻟﺠﻔﺎﺀ ﻭﺍﻟﻘﺴﻮﺓ؟ ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ: ﻻ، ﺇﺫﺍً ﻻ ﺗﺮﺿﻰ ﺃﻥ ﺗﻌﺎﻣﻞ ﺑﻨﺖ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﻤﺎ ﻻ ﺗﺮﺿﻰ ﺃﻥ ﺗﻌَﺎﻣَﻞ ﺑﻪ ﺍﺑﻨﺘﻚ، ﻭﻫﺬﻩ ﻗﺎﻋﺪﺓ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﻌﺮﻓﻬﺎ ﻛﻞ ﺇﻧﺴﺎﻥ.

Ketahuilah bahwa hubunganmu dengan istrimu wajib engkau ukur seperti seorang pria yang menjadi suami bagi putrimu, bagaimana seharusnya dia memperlakukan putrimu.

Apakah engkau ridho dia memperlakukan putrimu dengan keras dan kasar..?! Jawabannya pasti tidak.

Jikalau demikian, janganlah engkau sesuka hati memperlakukan anak orang lain dengan sesuatu yang tidak engkau sukai bila hal itu dilakukan kepada anakmu sendiri..!!

Dan ini merupakan kaidah yang sepantasnya diketahui oleh semua orang.

(Syarhul Mumti’ – 12/381)

Diantara Tanda-Tanda Orang Berakal

Abu Hatim rohimahullahu Ta’ala berkata,

والعاقل لا يبتدئ الكلام إلا أن يسأل، ولا يكثر التمادي إلا عند القبول، ولا يسرع الجواب إلا عند التثبت.

Orang yang berakal :

– tidak akan memulai pembicaraan kecuali setelah ditanya,

– tidak sering melanjutkan pembicaraan kecuali apabila ucapannya diterima, dan

– tidak tergesa-gesa menjawab kecuali apabila sudah memastikan (jawabannya).

(Roudhotul ‘Uqola wa Nuzhatul Fudhola hlm. 17)

Sibukkanlah Dirimu Untuk Memperbaiki Diri

Ibnu Qudamah al-Maqdisy (w. 629 H) rohimahullahu ta’ala berkata,

“واياك أن تشتغل بما يصلح غيرك قبل إصلاح نفسك، واشتغل بإصلاح باطنك وتطهيره من الصفات الذميمة، كالحرص، والحسد، والرياء، والعجب، قبل إصلاح ظاهرك.”

Waspadalah engkau dari tersibukannya diri mu dengan upaya memperbaiki orang lain sebelum memperbaiki dirimu sendiri.

Sibukkanlah untuk memperbaiki kondisi batinmu dan membersihkannya dari sifat-sifat tercela seperti ambisi, hasad, riya dan bangga diri sebelum engkau memperbaiki penampilan lahiriyahmu.

(Mukhtashor Minhajil Qoshidin hal. 14)

Balasan Sesuai Dengan Perbuatan # 2

Al Imam Ibnul Qoyyim (w. 751 H) rohimahullahu ta’ala berkata,

– siapa saja yang berlemah-lembut terhadap hamba-hamba Allah, niscaya Allah akan berlemah-lembut kepadanya.

– siapa yang menyayangi makhluk-makhluk Nya, niscaya Allah akan menyayanginya.

– siapa yang berbuat baik kepada mereka, niscaya Allah akan berbuat baik kepadanya.

– siapa yang berderma kepada mereka, niscaya Allah juga akan berderma kepadanya.

– siapa yang memberikan manfaat kepada mereka, niscaya Allah juga akan mmberi manfaat kepadanya.

– siapa saja yang menutupi aib-aib mereka, niscaya Allah akan menutupi aibnya.

– siapa saja yang memaafkan kesalahan mereka, niscaya Allah akan memaafkan kesalahannya.

– siapa yang mencari-cari aib mereka, Allah akan membongkar aibnya.

– siapa saja yang merusak nama baik (kehormatan) mereka, niscaya Allah akan membongkar aibnya, dan

– siapa yang mencegah perbuatan kebaikannya terhadap orang lain, niscaya Allah ‘Azza wa Jalla akan menahan kebaikan darinya.

(Al-Wabil ash-Shoyyib – hal. 35)

Manfaatkan Masa Kuatmu Dan Masa Mudamu Dalam Ketaatan Kepada Allah

Al-Imam as-Sa’di rohimahullahu Ta’ala berkata,

“فرحم الله عبدا اغتنم أيام القوة والشباب وأسرع بالتوبة والإنابة قبل طي الكتاب.”

Semoga Allah merahmati seorang hamba yang memanfaatkan masa-masa kuatnya dan waktu mudanya (dalam ketaatan kepada Allah), dan bersegera untuk bertaubat serta kembali kepada Allah, sebelum dilipatnya catatan amal (kematian).

(al-Fawakih asy-Syahiyyah, hlm. 217)

Hilangkan Perasaan Dengki

Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rohimahullahu ta’ala memberikan nasehat,

فالواجب على الإنسان إذا رأى من نفسه حسدا لأحد أن يتقي الله وأن يوبخ نفسه ويقول لها: كيف تحسدين الناس على ما آتاهم الله من فضله كيف تكرهين نعمة الله على عباده ؟! يقول: أرأيتني لو كانت هذه النعمة عندك أتحبين أن أحدا يحسدك عليها؟! ويوبخها يوبخ النفس وكذلك يقول لها: أنت لو حسدت وكرهت ما أعطى الله من فضله فإن ذلك لن يضر المحسود بل هو ضرر على الحاسد.

Wajib bagi seseorang apabila mendapatkan dalam dirinya ada penyakit dengki terhadap orang lain, hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan mencela dirinya sendiri seraya berkata :

– bagaimana engkau bisa mendengki terhadap orang yang telah Allah berikan keutamaan kepadanya..?!

– bagaimana engkau bisa membenci nikmat Allah terhadap hamba-hamba-Nya..?!

– bagaimana kiranya jika nikmat ini ada padamu, apakah engkau suka orang lain mendengki kepadamu..?!

Demikian pula hendaknya dia berkata, ‘Jika engkau dengki dengan keutamaan yang Allah berikan (kepada orang lain), maka yang demikian itu tidak akan memudhorotkan orang tersebut, bahkan yang merugi adalah orang yang dengki itu sendiri..’

(Syarh Riyadhush Sholihin – 4/164)

Agama Adalah Nasehat

Nasihat al Hasan al Bashri (w. 110 H) rohimahullahu Ta’ala,

Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasehati kalian, bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling sholeh di antara kalian. Sungguh, aku pun telah banyak melampaui batas terhadap diriku. Aku tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam mentaati Robb-nya.

Andaikata seorang muslim tidak memberi nasehat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasehat.

Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah ‘Azza wa Jalla, tidak ada yang mengajak untuk mentaati-Nya, tidak ada pula yang melarang dari perbuatan maksiat kepada-Nya.

Namun dengan berkumpulnya ulama dan kaum mukminin, sebagian memperingatkan kepada sebagian yang lain, niscaya hati orang-orang yang bertakwa akan hidup dan mendapat peringatan dari kelalaian serta rasa aman dari lupa dan kekhilafan.

Maka terus meneruslah, semoga Allah mengampuni kalian, engkau berada pada majelis-majelis dzikir (majelis ilmu), bisa jadi satu kata yang terdengar merendahkan diri kita sangat bermanfaat bagi kita. Bertakwalah kalian semua kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.

(Mawai’zh lil Imam al-Hasan al-Bashri, hlm. 185)

Kekawatiran Sahabat Menjelang Kematian

Salah seorang sahabat menangis ketika menjelang kematiannya dan ketika ditanyakan kepadanya tentang hal itu, maka ia menjawab,

سمعت رسول الله ﷺ يقول : إن الله تعالى قبض خلقه قبضتين فقال : هؤلاء في الجنة وهؤلاء في النار، ولا أدري في اي قبضتين كنت.

Aku mendengar Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda, ‘sesungguhnya Allah Ta’ala menggenggam makhluk-Nya menjadi dua genggam, kemudian Allah Ta‘ala berfirman, ‘yang ini di surga dan yang ini di neraka..’

Sementara aku tidak mengetahui ada di genggaman yang mana diriku.

(Jaami’ul Uluum wal Hikaam – 56)

Jangan Menunda Perbuatan Baik

Al Hasan Al Bashri rohimahullahu Ta’ala berkata,

اِبْنَ آدَمَ إِيَّاكَ وَالتَّسْوِيْفَ فَإِنَّكَ بِيَوْمِكَ وَلَسْتَ بِغَدٍّ فَإِنْ يَكُنْ غَدٌّ لَكَ فَكُنْ فِي غَدٍّ كَمَا كُنْتَ فِيْ الْيَوْمَ وَإِلَّا يَكُنْ لَكَ لَمْ تَنْدَمْ عَلَى مَا فَرَّطْتَ فِيْ الْيَوْمِ

Wahai anak Adam, janganlah engkau menunda-nunda (amalan), karena engkau memiliki kesempatan pada hari ini,

Adapun besok pagi belum tentu engkau memilikinya. Jika engkau bertemu besok hari, maka lakukanlah pada esok hari itu sebagaimana engkau lakukan pada hari ini. Jika engkau tidak bertemu esok hari, engkau tidak akan menyesali sikapmu yang menyia-nyiakan hari ini.

(Taqrib Zuhd Ibnul Mubarok 1/28)