Category Archives: Mutiara Salaf

Sebab Terbesar Dicintai Manusia

Ibnul Munkadir berkata kepada Abu Hazim Salamah bin Dinar,

يا أبا حازم ما أكثر من يلقاني فيدعو لي بالخير، ما أعرفهم وما صنعت إليهم خيراً قط.

“Wahai Abu Hazim, alangkah banyaknya orang yang berjumpa denganku lalu mendo’akan kebaikan untukku, padahal aku tidak mengenal mereka dan tidak pernah melakukan kebaikan untuk mereka sama sekali..”

Maka Abu Hazim menjawab,

لا تظن أن ذلك من قِبَلك، ولكن انظر الذي ذلك من قِبَله فاشكره.

“Engkau jangan menyangka bahwa hal itu berasal dari dirimu, tetapi lihatlah kepada Yang dari-Nya hal itu berasal, lalu bersyukurlah kepada-Nya..!”

Lalu Abdurrahman bin Zaid yang meriwayatkan kisah ini membaca firman Allah Ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ وُدًّا.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh maka ar-Rohman akan meletakkan rasa cinta (di hati manusia) untuk mereka..” (QS. Maryam: 96)

( Hilyatul Auliya’ – 3 / 233 )

Adab Dan Etika Yang Agung Dalam Berbicara

● Dari Abu Hurairoh rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ   :(( مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ)). حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَغَيْرُهَ هَكَذَا.

“Diantara (tanda) kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya..” (HR. at-Tirmidzi no. 2317)

● Dalam kesempatan lainnya, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam..” (HR. Al Bukhari no. 6018)

● Syaikh Sholeh al-Fauzan hafizhohullah berkata,

ما لم تتأكد منه لا تتكلم به، وإذا تأكدت منه اصبر هل فيه مصلحة أم ليس فيه، إن لم يكن فيه مصلحة، اتركه، احفظ لسانك عما لا فائدة فيه.

– hal-hal yang belum engkau pastikan kebenarannya janganlah engkau ucapkan,

– jika engkau telah memastikan kebenarannya, maka bersabarlah hingga engkau memastikan apakah ada maslahatnya atau tidak,

– jika tidak ada maslahatnya maka janganlah berbicara,

Jagalah lisanmu dari hal-hal yang tidak bermanfaat..!!

(Syarh Kitab al-Kabair)

Keutamaan Berdo’a Dengan Nama Nama Allah ‘Al Hayyu Al Qoyyuum’

Ibnul Qoyyim rohimahullahu Ta’ala mengatakan,

Sesungguhnya pada nama ALLAH : Al Hayyu dan Al Qoyyuum memiliki pengaruh yang istimewa terhadap pengkabulan do’a dan terangkatnya berbagai kesulitan.

Oleh karenanya dahulu Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam apabila beliau bersungguh sungguh dalam do’a beliaupun mengatakan,

== Yaa Hayyu Yaa Qoyyuum ==
(wahai Robb yang Maha Hidup, wahai Robb yang Maha Berdiri Sendiri)

(Zaadul Ma’ad 188/4)

قال العلامة ابن القيم رحمه الله تعالى:

«إنَّ لِاسْمِ الْحَيِّ الْقَيُّوم تَأْثِيرًا خَاصًّا فِي إجَابَةِ الدَّعَوَاتِ، وكَشْفِ الْكُرُبَاتِ،

وَلِهَذَا كَانَ النَّبِيُّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-
إِذَا اجْتَهَدَ فِي الدُّعَاءِ قَالَ: «يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ».

زاد المعاد(١٨٩/٤)

Beramallah

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang sholeh..”

( Qs. Al-Munaafiquun: 10 )

=====
Ibrahim At Taimi rohimahullah berkata,

“Aku membayangkan tatkala diriku dicampakkan ke neraka .. lalu kumakan buah Zaqqum dan kuminum nanah, sedang tubuhku terkait dengan rantai dan belenggu.

Saat itu kutanya diriku, “apa yang engkau angan-angankan sekarang..?”

Maka jawabku, “aku ingin kembali ke dunia dan beramal sholeh..”

Maka aku berkata, “engkau sedang berada dalam angan-anganmu sekarang.. maka beramallah..!”

( Umniyat al Mauta )

=====
(*) Ibrahim at-Taimi rohimahullah (w. 92/95 H) adalah salah seorang fuqoha generasi tabi’in dan seorang ahli ibadah.

Siapakah Yang Paling Bagus Amalannya..?

Allah Ta’ala berfirman,

{الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا}

“Dialah Allah yang menciptakan adanya kematian dan kehidupan, untuk menguji siapa di antara kalian yang paling baik amalnya..” (QS al-Mulk [67]: 2)

Saat menafsirkan ayat ini, Ibnul Qoyyim rohimahullahu Ta’ala berkata,

ﻫﻮ أخلصه ﻭﺃﺻﻮﺑﻪ . ﻗﺎﻟﻮا ﻳﺎ ﺃﺑﺎ ﻋﻠـي : ﻣﺎ ﺃﺧﻠـصه ﻭﺃﺻﻮﺑﻪ؟ ﻗﺎﻝ : ﺇﻥ اﻟﻌﻤﻞ ﺇﺫا ﻛﺎﻥ ﺧﺎﻟﺼﺎ ﻭﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺻﻮاﺑﺎ. ﻟﻢ ﻳﻘﺒﻞ . ﻭﺇﺫا ﻛﺎﻥ ﺻﻮاﺑﺎ ﻭﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺧﺎﻟﺼﺎ ﻟﻢ ﻳﻘﺒﻞ،

ﺣﺘﻰ ﻳﻜﻮﻥ ﺧﺎﻟﺼﺎ ﺻﻮاﺑﺎ، ﻭاﻟﺨﺎﻟﺺ : ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻟﻠﻪ، ﻭاﻟﺼﻮاﺏ : ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ اﻟﺴﻨﺔ

Berkata al-Fudhail bin ‘Iyyadh rohimahullah, “Yakni yang paling ikhlas dan yang paling benar..”

Maka mereka berkata, “Wahai Abu Ali, apa yang dimaksud dari kalimat ‘yang paling ikhlas dan paling benar’..?”

Beliau menjawab, “Sesungguhnya sebuah amalan, apabila ikhlas tetapi tidak benar (tidak sesuai bimbingan Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam), maka amalan tersebut tidak diterima. Demikian pula apabila sebuah amalan benar, tetapi tidak ikhlas maka tidak diterima pula.

Sampai amalan tersebut ikhlas dan benar.

– Ikhlas : adalah apabila seorang meniatkan dari amalannya hanya untuk Allah.

– Benar : adalah yang sesuai di atas Sunnah Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam..”

(Tafsir Ibnul Qoyyim – 1/78)

Cara Mensyukuri Nikmat Allah

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

انْظُرُوا إلى مَنْ هو أسْفَلَ مِنْكُم، ولا تَنْظُروا إلى مَنْ هو فَوْقَكُم، فهو أجْدَرُ أنْ لا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ الله عليكم

“Lihatlah kepada orang yang dibawah kalian dan jangan melihat orang yang lebih di atas kalian. Yang demikian itu (melihat ke bawah) akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kalian..”

(HR. Muslim)

Ada sebuah ungkapan menarik dari Aun bin Abdillah bin Utbah rohimahullah. Beliau mengatakan,

“Aku banyak bergaul dengan orang-orang kaya, maka aku tidak menemukan orang yang paling banyak obsesinya melebihi diriku. Aku selalu melihat tunggangan mereka yang jauh lebih baik dari tungganganku, pakaian mereka yang jauh lebih baik dari pakaianku. Namun setelah mendengar hadits ini aku memilih bergaul dengan orang-orang faqir. Maka akupun merasakan ketenangan dan rehat karena letih mengejar obsesi..”

(Sunan at-Tirmidzi hal: 304)

Jangan Tertipu

Hatim Al Ashom rohimahullaahu Ta’ala berkata,

– Jangan tertipu dengan tempat yang suci, karena tidak ada tempat yang lebih suci dari jannah. Namun Adam jatuh kepada dosa.

– Jangan tertipu dengan banyaknya ibadah, karena iblis tadinya ahli ibadah namun terjadilah yang terjadi.

– Jangan tertipu dengan banyaknya ilmu, karena Bal’am bin Ba’ur (tadinya ahli ilmu) namun tersesat padahal ia mengetahui nama Allah yang paling agung

– Jangan tertipu oleh pertemanan dan pertemuan dengan orang sholeh. Tidak ada manusia yang lebih sholeh dari Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam, namun kaum munafik dan yang memusuhi beliau tidak dapat mengambil manfaat apa apa.

(Madarijussaalikin)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Bagaimana Mengamalkan Dzikir Ini..?

 

Al-Imam an-Nawawi rohimahullahu Ta’ala berkata,

قلت: قال العلماء من أصحابنا وغيرهم: ينبغي أن يقول هذا الذكر سرا بحيث يسمع نفسه ولا يسمعه المبتلى لئلا يتألم قلبه بذلك، إلا أن تكون بليته معصية فلا بأس أن يسمعه ذلك إن لم يخف من ذلك مفسدة، والله أعلم

Aku katakan, ‘berkata para ulama dari madzhab kami (Syafi’i) dan yang lainnya’,

‘Semestinya dzikir ini dibaca dengan pelan, yakni hanya didengar oleh dirinya dan tidak didengar oleh yang tertimpa musibah agar hatinya tidak merasa sakit dengan sebab itu.

Kecuali orang tersebut ditimpa musibah berupa kemaksiatan (yang dilakukannya), maka tidak mengapa diperdengarkan kepadanya hal itu, jika tidak dikawatirkan akan muncul kerusakan dari perbuatan ini..’

(Al-Adzkaar no.779)

Tiga Perkara Yang Mengherankan Dan Tiga Perkara Yang Membuat Sedih

Sahabat Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata,

ثلاث أعجبتني حتى أضحكتني, مؤمل دنيا والموت يطلبه. وغافل وليس بمغفول عنه. وضاحك ملء فيه لا يدري أساخط رب العالمين عليه، أم راض عنه.

وثلاث أحزنني حتى أبكيتني، فراق محمد وحزبه، وهول المطلع (الموت)، والوقوف بين يدي ربي ﷻ، ولا أدري إلى جنة أم إلى نار.

Ada tiga hal yang membuatku terheran-heran sehingga diriku tertawa,

1. Seorang yang sangat panjang angan-angannya hidup di dunia, padahal kematian terus mengintainya.

2. Seorang yang lalai (dari ketaatan), padahal semua perbuatannya tercatat.

3. Orang yang banyak tertawa (merasa aman dari siksa), sedangkan dia tidak tahu apakah Allah murka padanya ataukah meridhoinya.

Dan ada 3 perkara yang membuatku sedih sehingga aku pun menangis,

1. Ketika berpisah dengan Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau.

2. Ketika menghadapi sakitnya sakratul maut.

3. Ketika berdiri dihadapan Allah ‘Azza wa Jalla sementara aku tidak mengetahui apakah akan masuk surga atau neraka.

(Shifah Ash-Shofwah – I/259)

Bersabarlah

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rohimahullahu Ta’ala berkata,

وما هي إلا ساعة ثم تنقضي هذه المكاره اصبر عليها ،اصبر على كبح نفسك عن شهواتها ، اصبر على الواجبات التي أمرك الله بها ،اصبر على البلايا التي تصيبك من نفسك ، أو من الله عز وجل ، أو من الناس ، اصبر حتى تنال دار الراحة ،نسأل الله أن يكتب لنا ولكم هذه الدار الصبر والثبات

Tidaklah kehidupan ini melainkan hanya beberapa saat saja, kemudian akan lenyaplah hal-hal yang tidak disukai, maka dari itu bersabarlah dalam menghadapinya.

– bersabarlah atas terkekangnya jiwamu dari berbagai syahwat yang ada.

– bersabarlah terhadap berbagai kewajiban yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu.

– bersabarlah terhadap berbagai musibah yang menimpamu, apakah musibah itu karena perbuatan dirimu sendiri, atau musibah itu datangnya dari Allah, atau dari manusia yang lain.

– bersabarlah sampai engkau mendapatkan negeri yang penuh dengan ketenangan (surga).

Kita memohon kepada Allah agar menganugerahkan kesabaran dan keteguhan kepada kita dalam kehidupan ini.

(Syarh al-Kafiyah as-Syafiyah 4/46)