Category Archives: Tanya – Jawab

667. Tj Do’a Untuk Kesembuhan Orang Lain

667. BBG Al Ilmu – 49

Tanya:
Bagaimana cara do’a untuk kesembuhan orang lain ?

Jawab:
Berdasarkan hadits, bisa dibaca doa-doa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Pertama:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَاسَ اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي
‫ لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا‬

Dari Aisyah, bahwasanya Nabi memohon perlindungan bagi keluarganya, Beliau mengusap dengan tangan kanannya dan berdoa,

“Allahumma rabban naasi, adzhibil ba’sa, isyfihi wa antasy syaafi, laa syifaa-a illa syifaa-uka syifaa-an laa yughaadiru saqaman” (Ya Allah Rabb Pemelihara manusia, hilangkanlah deritanya, sembuhkanlah. Engkaulah Dzat Yang mampu menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dariMu semata, kesembuhan yang tidak meninggalkan rasa sakit).” (Muttaffaqun ‘alaihi).

Kedua:
 
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ الْبَأْسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شَافِيَ إِلَّا أَنْتَ اشْفِ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

Telah menceritakan kepada kami Abdus Shomad telah bercerita kepadaku bapakku telah menceritakan kepada kami Abdul aziz berkata, saya menemui Anas bin Malik bersama Tsabit lalu Tsabit berkata kepadanya: sesungguhnya saya merasa sakit, maka Anas bin Malik menawarkan diri: maukah kamu saya ruqyah dengan ruqyah Abul Qosim Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam?, (Tsabit) berkata: tentu, (Anas bin Malik) berkata: “Ucapkan: ALLAHUMMA ROBBAN NAASI
MUDZHIBAL BA`SI ISYFI ANTASY SYAAFII LAA SYAAFIYA ILLAA ANTA ISYFI SYIFAA`AN LAA YUGHOODIRU SAQOMAN (Ya Allah tuhan manusia, yang menghilangkan segala penyakit, sembuhkanlah, karena Engkaulah yang Maha Menyembuhkan, tiada penyembuh selain Engkau, sembuhkanlah dengan kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit lagi).”

والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://almanhaj.or.id/content/2479/slash/0/penyembuhan-tanpa-obat/

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

666. Tj Do’a Ketika Kita Sakit

666. BBG Al Ilmu – 49

Tanya:
Apakah bacaan do’a ketika sakit ?

Jawab:
Dalam hadits banyak diriwayatkan doa-doa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kita sakit, diantaranya membaca:

– “Bismillah” (baca 3 x), kemudian baca do’a berikut sebanyak 7 x

أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

“A’uddzu billahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru”

’Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan sesuatu yang aku jumpai dan aku takuti’

Do’a diatas terdapat dalam hadits dari Utsman bin Abi Al ‘Ash Ats Tsaqafi, bahwasanya dia mengadu kepada Rasulullah tentang rasa sakit yang ia derita pada badannya semenjak ia masuk Islam, maka Rasulullah berkata kepadanya, ”Letakkanlah tanganmu pada bagian yang sakit dan bacalah bismillah tiga kali dan bacalah tujuh kali, (do’a diatas)…”
(HR Muslim 4/1728).

والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://almanhaj.or.id/content/2479/slash/0/penyembuhan-tanpa-obat/

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

665. Tj Cara Qadha Shalat Ketika Bis Tidak Berhenti

665. BBG Al Ilmu – 421

Tanya:
Apa bila kita safar trus kita berniat menjamak dan qoshor antara sholat dhuhur dan ashar, di waktu ashar. Tapi ternyata bus yang kita naiki tidak berhenti, sehingga habis waktu ashar, bagaimana cara mengqodhonya.

Jawab:
Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله

Pertama, anda harusnya shalat di kendaraan ketika menyadari bis tidak berhenti, karena waktu ‘ashar cukup panjang.

Kedua, jika itu terjadi saat masih safar, cara qodhonya adalah ketika antum tiba di tempat tujuan pada saat waktu maghrib, maka shalat 2 raka’at zhuhur, setelah salam, shalat 2 raka’at ‘ashar, setelah itu baru maghrib.

Ketiga, jika itu terjadi saat selesai safar, cara qodhonya adalah ketika antum tiba kembali di rumah antum pada saat waktu maghrib, maka shalat 4 raka’at zhuhur, setelah salam, shalat 4 raka’at ‘ashar, setelah itu baru maghrib.

والله أعلم بالصواب

664. Tj Datang Ketika Imam Sudah Mulai Khutbah, Mana Yang Utama, Shalat Atau Duduk ?

664. BBG Al Ilmu – 423

Tanya:
Apakah kalau kita datang sholat jumat dan khotib sedang kutbah dan kita baru masuk masjid manakah yang lebih utama langsung duduk mendengarkan khutbah ato sholat sunnat dulu (mutlak).

Jawab:
Ketika kita masuk masjid dan khatib sudah memulai khutbahnya, kita disyariatkan untuk shalat dua raka’at tahiyatul masjid yang ringan sebelum duduk sebagaimana terdapat dalam hadits berikut:
Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu anhu, dia berkata:
“Sulaik Al-Ghathafani datang pada hari Jum’at, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berkhutbah, dia pun duduk. Maka beliau pun bertanya padanya, “Wahai Sulaik, bangun dan shalatlah dua raka’at, kerjakanlah dengan ringan.” Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang dari kalian datang pada hari Jum’at, sedangkan imam sedang berkhutbah, maka hendaklah dia shalat dua raka’at, dan hendaknya dia mengerjakannya dengan ringan.” (HR. Al-Bukhari no. 49 dan Muslim no. 875).

Tambahan:
Shalat 2 raka’at yang dilakukan sebelum duduk itu dinamakan ‘tahiyatul masjid’, akan tetapi ini hanyalah penamaan ulama saja karena pada hakekatnya jika seseorang masuk masjid setelah adzan lalu shalat rawatib atau shalat sunnah wudhu, maka itulah tahiyatul masjid baginya.

والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

663. Tj Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Senin Dengan Puasa Arofah

662. BBG Al Ilmu – 421

Tanya:
insya Allah senin kan puasa arafah, nah pada hari itu misal niatnya di gabung dengan puasa senin dan juga niat puasa membayar hutang Ramadhan. Gimana boleh gak menurut hukum Islam. Jadi satu satu ada 3 niat. Puasa arafah, puasa hari senin dan puasa bayar hutang ramadhan. Mohon penjelasannya.

Jawab:
Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله

Tidak boleh, karena puasa bayar hutang Ramadhan itu hukumnya wajib jadi tersendiri, tidak bisa digabung.

Sedangkan puasa senin-kamis itu disebut “laisa maqshudan lidzaatihi” yaitu bukan puasa yang berdiri sendiri, akan tetapi dia sudah tertutupi dengan puasa apa saja yang kita lakukan pada kedua hari itu, yakni puasa yang sifatnya
sunnah. Karenanya niat puasa senin-kamis bisa dimasukkan ke dalam niat puasa Arofah.

والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

662. Tj Menggabungkan Niat Puasa Arafah, Puasa Senin Dan Puasa Hutang Ramadhan

662. BBG Al Ilmu – 421

Tanya:
insya Allah senin kan puasa arafah, nah pada hari itu misal niatnya di gabung dengan puasa senin dan juga niat puasa membayar hutang Ramadhan. Gimana boleh gak menurut hukum Islam. Jadi satu satu ada 3 niat. Puasa arafah, puasa hari senin dan puasa bayar hutang ramadhan. Mohon penjelasannya.

Jawab:
Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله

Tidak boleh, karena puasa bayar hutang Ramadhan itu hukumnya wajib jadi tersendiri, tidak bisa digabung.

Sedangkan puasa senin-kamis itu disebut “laisa maqshudan lidzaatihi” yaitu bukan puasa yang berdiri sendiri, akan tetapi dia sudah tertutupi dengan puasa apa saja yang kita lakukan pada kedua hari itu, yakni puasa yang sifatnya
sunnah. Karenanya niat puasa senin-kamis bisa dimasukkan ke dalam niat puasa Arofah.

والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

661. Tj Apakah Boleh Ruqyah Bagi Orang Kafir

661. BBG Al Ilmu

Tanya:
Jika ada seorang non muslim ingin di ruqyah oleh seorang muslimin, bagaimana ya hukum nya ?

Jawab:
Tidak ada faktor yang melarang perbuatan tersebut. Allah telah menjadikan Al-Qur’an Al-Karim sebagai obat segala penyakit, sebagaimana halnya madu, minyak zaitun dan lainnya. Perkara-perkara tersebut merupakan faktor-faktor penyembuh, sementara yang menyembuhkan adalah Allah.

Boleh saja dilakukan ruqyah terhadap orang kafir tersebut, apalagi jika anda berusaha menariknya ke dalam Islam.
Dalam sebuah hadits shahih dari Abu Sa’I’d Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, disebutkan ada beberapa sahabat Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam yang singgah di suatu kampung yang dihuni orang2 kafir. Penduduk kampung pada awalnya tidak menerima mereka sebagai tamu, namun ketika ketua kampung disengat binatang berbisa, penduduk kampung itu mendatangi para sahabat dan meminta mereka menyembuhkannya. Seorang sahabat mengatakan mampu melakukannya dengan imbalan untuk para sahabat. Setelah dibacakan Al Fatihah, ketua kampung tersebut sembuh dan para sahabat mendapatkan beberapa kambing sebagai imbalan.

Sebelum imbalan tersebut dibagi, mereka menceritakannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Setelah mendengar kisah mereka itu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Tahukah engkau, bahwa Al-Fatihah itu memang merupakan ruqyah.” Kemudian baginda bersabda lagi: “Tindakan kalian benar, bagilah pemberian mereka dan pastikan aku mendapatkan bagian bersama kalian.” (H.R Al-Bukhari no:2276 dan Muslim no:2201)

والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://www.islam-qa.com/id/6714

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

660. Tj Pendapat Ibnu Taimiyah Rahimahullah Mengenai Safar Bagi Wanita

659. BBG Al Ilmu

Tanya:
Lihat no: 658.

Jawab:
Tentang izin Umar terhadap istri2 Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berhaji, hal tersebut terjadi setelah kebimbangan Umar Radhiyallahu ‘anhu, dan beliau menjaga ketat terhadap istri2 Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dijelaskan dalam berbagai riwayat hadits tersebut. Dan hal itu terjadi setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga Umar tidak mempunyai wewenang merobah apa yang telah ditetapkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, terlebih lagi apa yang dilarang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Yakni Umar bin Al-Khaththab tidak berhak merobah larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi wanita untuk bersafar tanpa mahram-Red). Kemudian Umar tidak membolehkan hal tersebut selain bagi istri2 Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sedangkan pendapat Imam Syafi’i rahimahullah tertolak dan menyelisihi sunnah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Al-Khaththaby berkata:
“Seorang wanita merdeka lagi muslimah dan tsiqoh yang disifatkan oleh Imam Syafi’i rahimahullah, bukanlah seorang laki-laki yang termasuk mahram bagi wanita (yang bersafar) tersebut. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang wanita bersafar kecuali dengan laki-laki dari mahramnya. Maka pembolehan beliau (Imam Asy-Syafi’i) bagi wanita safar untuk berhaji dengan tidak adanya syarat (yakni adanya mahram laki-laki-pent) yang telah ditetapkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah menyelisihi sunnah. Apabila keluarnya wanita tersebut tanpa disertai mahram (laki-laki) adalah suatu perbuatan maksiat, maka tidak boleh mewajibkan wanita tersebut untuk berhaji (tanpa maharam), karena hal itu merupakan ketaatan terhadap suatu perintah yang akan mengantarkan pada perbuatan maksiat.” [Ma’alimus Sunan II/144].
والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://almanhaj.or.id/content/2848/slash/0/hukum-safar-bagi-wanita-tanpa-
mahram/

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

659. Tj Bantahan Atas Pendapat Bahwa Wanita Boleh Safar Tanpa Mahram

659. BBG Al Ilmu

Tanya:
Lihat no: 658.

Jawab:
Tentang izin Umar terhadap istri2 Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berhaji, hal tersebut terjadi setelah kebimbangan Umar Radhiyallahu ‘anhu, dan beliau menjaga ketat terhadap istri2 Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dijelaskan dalam berbagai riwayat hadits tersebut. Dan hal itu terjadi setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga Umar tidak mempunyai wewenang merobah apa yang telah ditetapkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, terlebih lagi apa yang dilarang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Yakni Umar bin Al-Khaththab tidak berhak merobah larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi wanita untuk bersafar tanpa mahram-Red). Kemudian Umar tidak membolehkan hal tersebut selain bagi istri2 Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sedangkan pendapat Imam Syafi’i rahimahullah tertolak dan menyelisihi sunnah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Al-Khaththaby berkata:
“Seorang wanita merdeka lagi muslimah dan tsiqoh yang disifatkan oleh Imam Syafi’i rahimahullah, bukanlah seorang laki-laki yang termasuk mahram bagi wanita (yang bersafar) tersebut. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang wanita bersafar kecuali dengan laki-laki dari mahramnya. Maka pembolehan beliau (Imam Asy-Syafi’i) bagi wanita safar untuk berhaji dengan tidak adanya syarat (yakni adanya mahram laki-laki-pent) yang telah ditetapkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah menyelisihi sunnah. Apabila keluarnya wanita tersebut tanpa disertai mahram (laki-laki) adalah suatu perbuatan maksiat, maka tidak boleh mewajibkan wanita tersebut untuk berhaji (tanpa maharam), karena hal itu merupakan ketaatan terhadap suatu perintah yang akan mengantarkan pada perbuatan maksiat.” [Ma’alimus Sunan II/144].
والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://almanhaj.or.id/content/2848/slash/0/hukum-safar-bagi-wanita-tanpa-
mahram/

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

658. Tj Bolehkah Wanita Safar Tanpa Mahram

658. BBG Al Ilmu

Tanya:
Ada pertanyaan dari anggota group tentang kebenaran hadits berikut.
Haramkah perjalanan Muslimah ke tanah suci tanpa mahram ?

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa ‘Aisyah dan Ummahatul Mukminin lainnya, pergi haji pada zaman khalifah Umar bin Khattab tanpa mahram yang mendampinginya, justru ditemani oleh Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan. Dan tak satu pun sahabat lain yang menentangnya, sehingga kebolehannya ini dianggap sebagai ijma’ sahabat. (Fathul Bari, 4/445)

Sebagian ulama membolehkan seorang wanita bepergian ditemani oleh wanita lain yang tsiqah. Imam Abu Ishaq Asy Syairazi dalam kitab Al Muhadzdzab, membenarkan pendapat bolehnya seorang wanita bepergian (haji) sendiri tanpa mahram jika keadaan telah aman.

Sebagian ulama madzhab Syafi’i membolehkannya pada semua jenis bepergian, bukan cuma haji. (Fathul Bari, 4/446. Al Halabi)

Ini juga pendapat pilihan Imam Ibnu Taimiyah. Mohon pencerahannya.

Jawab:
Dikarenakan keterbatasan tempat, jawaban atas pertanyaan ini ada di no: 659

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶