Tj Masbuq Mendapatkan Raka’at Dalam Shalat Jahriyah Maupun Sirriyah

185. BBG Al Ilmu – 271

Pertanyaan:
‘Afwan, ana mau tanya, bagi masbuq, apakah ada perbedaan antara dia ikut imam saat ruku’ di shalat jahriyah dan shalat sirriyah ? Yang ana dengar jika masbuq ikut imam pas saat imam ruku’ di shalat jahriyah dihitung 1 raka’at, sedangkan di shalat sirriyah, tidak dapat raka’at dan masbuq harus tambah 1 raka’at ? Mana yg benar ? Jazakallah khayran

Jawaban:
Ust. Rochmad Supriyadi Lc

Tidak ada perbedaan antara jahriyah dan sirriyah. Siapa saja yang menjumpai rukuk bersama imam bagi nya 1raka’at.

والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

Tj Mengeraskan Suara Dzikir

184. BBG Al Ilmu – 271

Pertanyaan:
Apa derajat hadits berikut:
“Sesungguhnya mengeraskan suara dzikir ketika orang-orang usai melaksanakan shalat wajib merupakan kebiasaan yang berlaku pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Ibnu Abbas menambahkan, ‘Aku mengetahui mereka
selesai shalat dengan itu, apabila aku mendengarnya.”

Jawaban:
Shahih diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Hadits ini dijadiikan dalil bagi sebagian kaum muslimin menganjurkan  mengeraskan suara dzikir setelah shalat.

Namun jumhur ‘ulama menyelisihi pendapat anjuran tersebut berdasarkan beberapa dalil shahih, salah satunya:

“Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika sampai ke suatu lembah, kami bertahlil dan bertakbir dengan mengeraskan suara kami. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Wahai sekalian manusia. Lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah menyeru sesuatu yang tuli dan ghoib. Sesungguhnya Allah bersama kalian. Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Maha berkah nama dan Maha Tinggi kemuliaan-Nya.” (HR. Bukhari no. 2830 dan Muslim no. 2704).

Hal ini menunjukkan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah suka dengan suara keras saat dzikir dan do’a.

Ath Thobari rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan dimakruhkannya mengeraskan suara pada do’a dan dzikir. Demikianlah yang dikatakan para salaf yaitu para sahabat dan tabi’in.” (Fathul Bari, 6: 135)

Adapun anjuran mengeraskan suara pada dzikir sesudah shalat, tidaklah tepat. Karena yang dilakukan oleh Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidaklah membiasakan hal itu.  Beliau boleh jadi pernah melakukannya, namun hanya dalam rangka ta’lim atau pengajaran, bukan kebiasaan yang terus menerus.

Demikianlah pendapat Imam Syafi’i (dalam Al Umm 1:151) dan pendapat mayoritas ulama lainnya.
والله أعلم بالصواب

Sumber:
http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3608-mengeraskan-suara-pada-dzikir-sesudah-shalat.html

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Fitnah Mana Yang Lebih Besar ?

Ust. Badrusalam Lc

Imam Malik pernah ditanya:
“Dari mana aku mulai berihram?”

Beliau menjawab,
“Dari tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mulai berihram yaitu Dzulhulaifah.”

Ia berkata, “Aku ingin berihram dari sisi kuburan Rasulullah.”

Beliau menjawab, “Jangan, aku khawatir kamu tertimpa fitnah.”

Ia berkata, “Fitnah apa? Aku hanya menambah beberapa mil saja.”

Beliau menjawab, “Fitnah mana yang lebih besar dari orang yang mendahului kepada sebuah perkara yang dianggap utama, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melakukannya?”
(Ilmu ushul bida’).

Cobalah renungkan..
Banyak orang ketika melakukan sebuah bid’ah berkata, “Inikan baik.” Atau “Apa bahayanya”.
Jawaban iman Malik ini sudah cukup untuk melempar syubhat seperti itu..

Fitnah yang paling besar..
Ketika seseorang menganggap utama..
Sesuatu yang tidak dianggap utama oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam …

Waspadalah.. Waspadalah..

. Ust. Badrusalam Lc حفظه الله تعالى

– – – – – – 〜 ✽ 〜- – – – – –

Sepuluh Nasihat Ibnul Qayyim

Ust Kholid Syamhudi Lc
Sepuluh nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah untuk menggapai kesabaran diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat:
Pertama,
Hendaknya hamba menyadari betapa buruk, hina dan rendah perbuatan maksiat. Dan hendaknya dia memahami bahwa Allah سبحانه وتعالى mengharamkannya serta melarangnya dalam rangka menjaga hamba dari terjerumus dalam perkara-perkara yang keji dan rendah sebagaimana penjagaan seorang ayah yang sangat sayang kepada anaknya demi menjaga anaknya agar tidak terkena sesuatu yang membahayakannya.
Kedua,
Merasa malu kepada Allah… Karena sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari pandangan Allah سبحانه وتعالى yang selalu mengawasi dirinya dan menyadari betapa tinggi kedudukan Allah سبحانه وتعالى di matanya. Dan apabila dia menyadari bahwa perbuatannya dilihat dan didengar Alloh سبحانه وتعالى tentu saja dia akan merasa malu apabila dia melakukan hal-hal yang dapat membuat murka Rabbnya… Rasa malu itu akan menyebabkan terbukanya mata hati yang akan membuat Anda bisa melihat seolah-olah Anda sedang berada di hadapan Allah…
Ketiga,
Senantiasa menjaga nikmat Alloh سبحانه وتعالى yang dilimpahkan kepadamu dan mengingat-ingat perbuatan baik-Nya kepadamu.
Apabila engkau berlimpah nikmat
maka jagalah, karena maksiat
akan membuat nikmat hilang dan lenyap
Barang siapa yang tidak mau bersyukur dengan nikmat yang diberikan Allah kepadanya maka dia akan disiksa dengan nikmat itu sendiri.
Keempat,
Merasa takut kepada Allah سبحانه وتعالى dan khawatir tertimpa hukuman-Nya
Kelima,
Mencintai Allah… karena seorang kekasih tentu akan menaati sosok yang dikasihinya… Sesungguhnya maksiat itu muncul diakibatkan oleh lemahnya rasa cinta.
Keenam,
Menjaga kemuliaan dan kesucian diri serta memelihara kehormatan dan kebaikannya… Sebab perkara-perkara inilah yang akan bisa membuat dirinya merasa mulia dan rela meninggalkan berbagai perbuatan maksiat…
Ketujuh,
Memiliki kekuatan ilmu tentang betapa buruknya dampak perbuatan maksiat serta jeleknya akibat yang ditimbulkannya dan juga bahaya yang timbul sesudahnya yaitu berupa muramnya wajah, kegelapan hati, sempitnya hati dan gundah gulana yang menyelimuti diri… karena dosa-dosa itu akan membuat hati menjadi mati…
Kedelapan,
Memupus buaian angan-angan yang tidak berguna. Dan hendaknya setiap insan menyadari bahwa dia tidak akan tinggal selamanya di alam dunia. Dan mestinya dia sadar kalau dirinya hanyalah sebagaimana tamu yang singgah di sana, dia akan segera berpindah darinya. Sehingga tidak ada sesuatu pun yang akan mendorong dirinya untuk semakin menambah berat tanggungan dosanya, karena dosa-dosa itu jelas akan membahayakan dirinya dan sama sekali tidak akan memberikan manfaat apa-apa.
Kesembilan,
Hendaknya menjauhi sikap berlebihan dalam hal makan, minum dan berpakaian. Karena sesungguhnya besarnya dorongan untuk berbuat maksiat hanyalah muncul dari akibat berlebihan dalam perkara-perkara tadi. Dan di antara sebab terbesar yang menimbulkan bahaya bagi diri seorang hamba adalah… waktu senggang dan lapang yang dia miliki… karena jiwa manusia itu tidak akan pernah mau duduk diam tanpa kegiatan… sehingga apabila dia tidak disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat maka tentulah dia akan disibukkan dengan hal-hal yang berbahaya baginya.
Kesepuluh,
Sebab terakhir adalah sebab yang merangkum sebab-sebab di atas… yaitu kekokohan pohon keimanan yang tertanam kuat di dalam hati… Maka kesabaran hamba untuk menahan diri dari perbuatan maksiat itu sangat tergantung dengan kekuatan imannya. Setiap kali imannya kokoh maka kesabarannya pun akan kuat… dan apabila imannya melemah maka sabarnya pun melemah… Dan barang siapa yang menyangka bahwa dia akan sanggup meninggalkan berbagai macam penyimpangan dan perbuatan maksiat tanpa dibekali keimanan yang kokoh maka sungguh dia telah keliru.
Semoga jadi renungan….

Mereka Menutup Telinga

Ust. Badrusalam LC

Tafsir Al Baqoroh: 18.

أَوْ كَصَيِّبٍ مِّنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِم مِّنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ ۚ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ
“Atau seperti hujan dari langit yang ada padanya kegelapan, guruh dan kilat. Mereka meletakkan jari di telinga-telinga mereka karena mendengar petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang kafir.”

(Ka shoyyibimminassamaa)
Ibnu Abbas berkata, “Shoyyib adalah hujan,

(Fiihi zulumaat)
Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas berkata, “Maknanya ibtilaa (ujian).”
Sa’I’d bin Jubair dari ibnu Abbas, “Mereka dalam kegelapan berupa kekafiran dan ketakutan dari dibunuh, selain mereka sendiri berselisih.”

(Waro’duwabarq)
Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya kepada ibnu Abbas, bahwa ada seorang Yahudi datang kepada Rasulullah dan bertanya dentang Ro’du (halilintar)?” Beliau bersabda, “Ia adalah malaikat yang ditugaskan mengatur awan dan di tangannya ada percikan api. Ia memerintahkan dan mengatur awan dengannya sesuai dengan perintah Allah.”
Yahudi itu berkata, “Lalu apakah suara halilintar itu suaranya?” Beliau bersabda, “Kamu benar.”

(Wallahu muhiithumbilkafirin)
Ibnu Abbas berkata, “Allah menurunkan adzab kepada mereka, karena Dia meliputi orang-orang kafir.”
Ibnu Katsir berkata, “Artinya Rasa takut mereka itu tidak bermanfaat karena Allah meliputi mereka dengan kekuasanNya, dan mereka berada di bawah kehendakNya.”

Antara Hasil Dan Ikhtiar

Ust Jazuli, Lc

Seharusnya seorang muslim tatkala berikhtiar harus tetap menjaga hatinya kepada Allah & jangan sekali-kali mengarahkan hatinya kepada apa yang dilakukannya, sehebat apapun itu..

Hal itu untuk menjaga kekuatan hati agar siap menerima hasil apapun yang Allah takdirkan..

Ibnul Qoyyim pernah bertutur,” Silahkan anda melakukan sebab apapun yg terbaik, tetapi kosongkan selalu hatimu dari semua sebab itu agar tetap terarah kepada Allah.”

Sehebat apapun ikhtiar manusia. Namun ia harus tetap mengantungkan hatinya kepada Allah..

Bukankankah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah tersihir, padahal beliau adalah orang yang paling berdzikir..??

Peristiwa yang pernah beliau alami memberikan pelajaran penting kpd Qt semua bahwa setiap hamba harus menyadari dan menyakini bahwa..

Setinggi apapun ilmunya & sehebat apapun amalannya boleh saja berikhtiar sebaik mungkin, Namun hasil akhir, tetap Allah jualah yg menentukan..

Manusia hanya berikhtiar, ttp hati harus tetap tertuju kpd Allah, dgn keyakinan bahwa Dia pasti akan memberikan hasil yang terbaik kpd hamba-Nya..

Ya Allah jadikanlah kami sebagai hamba-Mu yang selalu berserah diri kepadaMu..!!

 Ditulis oleh Ustadz Jazuli, Lc

Segera Beraksi

Ustadz Badrusalam, Lc

Syi’ah terus beraksi..
Di TV one dan TV lainnya..
Dengan membawa para anteknya..
Di dukung oleh sebagian tokoh yang dungu..

Di dauroh kemaren syaikh Saad menasehati demikian, “Jangan kalian kira peristiwa suriah tidak mungkin terjadi di negeri ini. Kalian harus mengeluarkan seluruh tenaga untuk membendungnya.”

Tentu kita tidak ingin sebatas berkomentar..
Kita harus beraksi..
Cetak buku saku tentang syi’ah sebanyak banyaknya..
Bagikan ke masyarakat..
Ingatlah.. Ini jihad yang agung..

Ya Rabb..
Beri kami kekuatan dan kesabaran..
Beli kami ketakwaan dan kemenangan..

Hati-Hati Dalam Berucap Dan Bertingkah Laku

Ust. Badrusalam, Lc

Dalam berdakwah, Syiah mengucapkan kata2 halus dan mengajak simpati dengan mengajukan tema persatuan umat Islam.
Sedangkan kaum sunni seperti emosi dg berkata: bodoh, dungu, tukang zina, dsb.

Jika orang awam yg melihat & mendengar, manakah yg akan dipilih? Perkataan syiah yg halus atau perkataan sunni yg kasar?
Wahai ikhwan aswaja, mari kita berkata/berbuat dengan lebih baik.. Jangan sampai kita terperangkap dlm perang emosi.

Inilah Do’a-Do’a Keburukan Yang Dipanjatkan Imam Husain Bin Ali Bin Abu Tholib Bagi Orang-Orang Syi’ah Yang Terlaknat

Ust. Muhammad Wasitho Abu Fawaz

Berikut ini kami akan sebutkan DOA-DOA KEBURUKAN yang dipanjatkan oleh Husain bin Abu Tholib Radhiyallahu ‘anhuma (cucu Nabi) kepada Allah Ta’ala untuk orang-orang Syi’ah Kufah yang telah menipu dan mengkhianatinya sebelum beliau dan sejumlah keluarganya DIBUNUH Oleh mereka:

” اللهم إن متعتهم إلى حين ففرقهم فرقاً ( أي شيعاً وأحزاباً ) واجعلهم طرائق قددا ، و لا ترض الولاة عنهم أبدا ، فإنهم دعونا لينصرونا ، ثم عدوا علينا فقتلونا ”

(*) Artinya: “Ya Allah, apabila Engkau memberikan kepada mereka (orang-orang Syi’ah dan pengikutnya, pent) kenikmatan pada suatu waktu, maka cerai-beraikanlah mereka (menjadi kelompok-kelompok dan golongan-golongan), jadikanlah mereka menempuh jalan yang berbeda-beda, dan janganlah Engkau jadikan para pemimpin (kaum muslimin) merestui mereka selamanya, karena mereka telah mengundang kami untuk menolong kami, namun ternyata malah memusuhi kami dan membunuh kami!”.

(Lihat kitab-kitab referensi Syi’ah berikut: Al-Irsyaad karya Al-Mufiid, Hal.241, i’laamu Al-Waroo karya Ath-Thobrosi Hal.949, Dan Kasyfu Al-Ghummah II/18, 38).

» Imam Husain bin Abu Tholib juga pernah mendoakan keburukan untuk mereka dengan mengatakan kepada mereka:

(*) “Binasalah kalian! Tuhanku (Allah) akan membalas (perbuatan) kalian untuk membelaku (dan keluarga) di dunia dan di akhirat… kalian akan menghukum diri kalian sendiri dengan memukulkan pedang-pedang di atas tubuh dan wajah kalian, Dan kalian akan menumpahkan darah kalian sendiri. Kalian tidak akan mendapat keberuntungan di dunia dan tidak akan sampai kepada hajat (dan tujuan) kalian. Apabila kalian mati, maka Tuhanku telah menyiapkan azab (siksaan) untuk kalian di akhirat. Kalian akan menerima azab sebagaimana azab yang akan diterima oleh orang-orang kafir yang paling keras kekufurannya.” (Lihat Jilaa-u Al ‘Uyuun, karya  Mullah Baqir Majlisi, Hal.409).

Demikianlah DOA keburukan yang dipanjatkan Oleh Husain bin Abu Tholib radhiyallahu anhuma, cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan penghulu pemuda penduduk Surga untuk orang-orang Syi’ah yang terlaknat. Dan kita telah menyaksikan bahwa doa-doa beliau telah DIKABULKAN oleh ALLAH di dunia. Semoga postingan ini bermanfaat bagi setiap para pembaca, Dan dapat menyadarkan pemahaman kaum muslimin bahwa Orang-orang Syi’ah pada hakekatnya bukan dari golongan kaum muslimin, dan bukan pembela dan pengikut setia Imam Husain bin Abu Tholib dan Ahlul Bait. (Klaten, 27 Juni 2013)

» SUMBER: BBG Majlis Hadits, chat room Faedah & Mau’izhoh Hasanah.

(*) Blog Dakwah Kami:
http://abufawaz.wordpress.com

Sudahkan Anda Mempersiapkan Ilmu Sebelum Ramadhan?

Puasa punya keutamaan yang besar. Bulan Ramadhan pun demikian adalah bulan yang penuh kemuliaan. Maka tentu saja untuk memasuki bulan yang mulia ini dan ingin menjalani kewajiban puasa, hendaklah kita punya persiapan yang matang. Persiapan yang utama yang mesti ada adalah persiapan ilmu. Karena orang yang beribadah pada Allah tanpa didasari ilmu, maka tentu ibadahnya bisa jadi sia-sia. Sebagaimana ketika ada yang mau bersafar ke Jakarta lalu tak tahu arah yang mesti ditempuh, tentu ia bisa ‘nyasar’ dan  tersesat. Ujuk-ujuk sampai di tujuan, bisa jadi malah ia menghilang tak tahu ke mana. Demikian pula dalam beramal, seorang muslim mestilah mempersiapkan ilmu terlebih dahulu sebelum bertindak.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

العامل بلا علم كالسائر بلا دليل ومعلوم ان عطب مثل هذا اقرب من سلامته وان قدر سلامته اتفاقا نادرا فهو غير محمود بل مذموم عند العقلاء

“Orang yang beramal tanpa ilmu bagai orang yang berjalan tanpa ada penuntun. Sudah dimaklumi bahwa orang yang berjalan tanpa penuntun tadi akan mendapatkan kesulitan dan sulit bisa selamat. Taruhlah ia bisa selamat, namun itu jarang. Menurut orang yang berakal, ia tetap saja tidak dipuji bahkan dapat celaan.”

Guru dari Ibnul Qayyim yaitu Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata,

من فارق الدليل ضل السبيل ولا دليل إلا بما جاء به الرسول

“Siapa yang terpisah dari penuntun jalannya, maka tentu ia bisa tersesat. Tidak ada penuntun yang terbaik bagi kita selain dengan mengikuti ajaran Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” (Lihat Miftah Daris Sa’adah, 1: 299)

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz juga pernah berkata,

مَنْ عَبَدَ اللَّهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ

“Siapa yang beribadah kepada Allah tanpa didasari ilmu, maka kerusakan yang ia perbuatan lebih banyak daripada maslahat yang diperoleh.” (Majmu’ Al Fatawa, 2: 282)

Juga amalan yang bisa diterima hanyalah dari orang yang bertakwa. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Maidah: 27). Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tafsiran yang paling bagus mengenai ayat ini bahwasanya amalan yang diterima hanyalah dari orang yang bertakwa. Yang disebut bertakwa adalah bila beramal karena mengharap wajah Allah dan sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentu saja ini perlu didasari dengan ilmu.” (Miftah Daris Sa’adah, 1: 299)

Ulama hadits terkemuka, yakni Imam Bukhari membuat bab dalam kitab shahihnya “Al ‘Ilmu Qoblal Qouli Wal ‘Amali (Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat)”. Perkataan ini merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari firman Allah Ta’ala,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

“Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (QS. Muhammad: 19).

Dalam ayat ini, Allah memulai dengan ‘ilmuilah’ lalu mengatakan ‘mohonlah ampun’. Ilmuilah yang dimaksudkan adalah perintah untuk berilmu terlebih dahulu, sedangkan ‘mohonlah ampun’ adalah amalan. Ini pertanda bahwa ilmu hendaklah lebih dahulu sebelum amal perbuatan.

Ibnul Munir rahimahullah berkata, “Yang dimaksudkan oleh Al Bukhari bahwa ilmu adalah syarat benarnya suatu perkataan dan perbuatan.  Suatu perkataan dan perbuatan itu tidak teranggap kecuali dengan ilmu terlebih dahulu. Oleh sebab itulah, ilmu didahulukan dari ucapan dan perbuatan, karena ilmu itu pelurus niat. Niat nantinya yang akan memperbaiki amalan.” (Fathul Bari, 1: 108)

Mengapa kita mesti belajar sebelum beramal? Karena menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah no. 224, dari Anas bin Malik. Hadits ini hasan karena berbagai penguatnya. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Hadits ini diriwayatkan dari beberapa sahabat di antaranya Anas bin Malik, ‘Abdullah bin Mas’ud, Abu Sa’id Al Khudri, Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, ‘Ali bin Abi Tholib, dan Jabir. Lihat catatan kaki Jaami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1: 69)

Ilmu apa saja yang mesti disiapkan sebelum puasa? Yang utama adalah ilmu yang bisa membuat puasa kita sah, yang bila tidak dipahami bisa jadi ada kewajiban yang kita tinggalkan atau larangan yang kita terjang. Lalu dilengkapi dengan ilmu yang membuat puasa kita semakin sempurna. Juga bisa ditambahkan dengan ilmu mengenai amalan-amalan utama di bulan Ramadhan, ilmu tentang zakat, juga mengenai aktifitas sebagian kaum muslimin menjelang dan saat Idul Fithri, juga setelahnya. Semoga dengan mempelajarinya, bulan Ramadhan kita menjadi lebih berkah.

Semoga Allah memudahkan kita dalam meraih ilmu sebelum memasuki Ramadhan. Hanya Allah yang memberi taufik.

Pesantren Darush Sholihin, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, Malam Sabtu, 20 Sya’ban 1434 H

Artikel Rumaysho.Com

Menebar Cahaya Sunnah