Hari-Hari Yang Sangat Istimewa

10 hari terakhir Ramadhan merupakan hari-hari yang sangat istimewa, malam-malamnya lebih baik dari malam apapun di selain Ramadhan, karena ada satu malam yang sangat spesial yaitu LAILATUL QADAR…

Yang dilakukan Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam di malam-malam ini adalah:

1️⃣ Mengencangkan sarungnya (memisahkan diri dari istri / lebih bersungguh-sungguh dalam ibadah).
2️⃣ Menghidupkan malamnya.
3️⃣ Membangunkan keluarganya.

عن عائشة رضي الله عنها قالت: كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر شد مئزره و أحيى ليله و وأيقظ أهله.

Dari ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha “Apabila Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya..” (HR. Bukhari: 2024 dan Muslim:1174).

Semoga Allah menganugerahkan taufiq-Nya kepada kita semua kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya, aamiin..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Kumpulan HADITS

MUTIARA SALAF : Keutamaan Memaafkan Kesalahan Saudaranya

Ibnu Hibban rohimahullah berkata,

“Siapa yang melakukan kesalahan kepada saudaranya, kewajiban dia meminta maaf kepada saudaranya tersebut.. dan saudaranya tersebut berusaha untuk memaafkannya..

Karena orang yang memaafkan diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala keutamaan yang besar, yaitu Allah pun nanti pada hari kiamat akan memaafkan dia.. dan memaafkan akan menambah kemuliaan dirinya..”

[ Roudhotul Uqola ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Manhaj Menuntut Ilmu

Syaikh Bakr Abu Zaid rohimahullah dalam kitabnya ‘hilyah tholibil ‘ilmi’ mengatakan bahwa ilmu itu ibadah. Maka harus memenuhi dua syarat ibadah yaitu ikhlash dan mutaba’ah (sesuai dengan contoh rosulullah).

Diantara manhaj dalam menuntut ilmu adalah sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam:

نضَّر الله امرأً سَمِع مقالتي فوَعَاها وحَفِظها وبَلَّغها، فرُبَّ حامل فِقْه إلى مَن هو أفقه منه،

“Semoga Allah memberikan cahaya kepada wajah orang yang mendengarkan sabdaku lalu ia memahaminya lalu menghafalnya lalu menyampaikannya. Berapa banyak pembawa ilmu kepada orang yang lebih faham darinya.” [ HR At Tirmidzi ]

Hadits adalah hadits mutawatir yang diriwayatkan oleh sekitar 20 orang sahabat.

Perhatikanlah..
Dalam hadits ini Nabi menyebutkan manhaj menuntut ilmu:
1. Mendengar
2. Memahami
3. Menghafal
4. Menyampaikan

Oleh karena itu sebagian ulama berkata, “Awal ilmu adalah husnul istimaa’ yaitu pintar mendengar. Dan mendengar akan lebih sempurna dengan mencatat.” Sebagaimana dikatakan oleh imam Az Zuhri: “Ikatlah ilmu dengan mencatatnya.”

Maka hendaklah para penuntut pintar mendengar dan mencatat ilmu terlebih dahulu. Orang yang tak pandai mendengar ia tidak akan dapat menuntut ilmu.

Janganlah langsung loncat ke fase terakhir yaitu menyampaikan.. sehingga menjadi lebih pandai menshare dari pada mendengar.

Pandailah mendengar, lalu fahami lalu hafalkan dan kuasai lalu terakhir menyampaikan dengan penuh amanah ilmiyah.

Bila manhaj ini diabaikan.. akibatnya banyak bermunculan Lc (Langsung copas tanpa memahami). Sehingga ilmu tak kokoh. Lebih banyak berkicau dan komen bahkan berdebat. Allahul Musta’an.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Cara Jalan Yang Sehat

“Dahulu para sahabat mengadukan kepada nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam lelahnya berjalan maka nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Hendaklah kalian melakukan naslan (berjalan cepat dengan langkah yang pendek).” Lalu kamipun melakukannya dan ternyata itu lebih ringan untuk kami.”

[ HR. AlHakim dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam silsilah shahihah no 465 ]

Di alih-bahasakan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Tidak Siap Menghadapi Ujian

Terbiasa dengan kenikmatan dunia membuat kita tidak siap menghadapi ujian dan kesabaran pun menjadi pendek…
Padahal jangan berkhayal bisa masuk surga sementara kita maunya enak terus..

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Al Baqarah: 214)

Allahumma aatina fiddunya hasanah wafil akhiroti hasanah waqinaa adzabannar..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah