Inilah Alasan Mengapa Hujan Bisa Turun…

Sahabat Zaid bin Khalid Al Juhani rodhiyallahu ‘anhu mengisahkan bahwa di suatu malam, di daerah Hudaibiyah, turun hujan. Dan di pagi harinya Nabi shollallalhu ‘alaihi wa sallam memimpin sholat shubuh para sahabatnya. Seusai menunaikan sholat beliau berbalik menghadap kepada para sahabat lalu bertanya kepada mereka:

“Tahukah kalian, apa yang Allah firmankan ?”

Para sahabat menjawab: “Allah dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui.”

Beliau bersabda: Allah berfirman: ‘Di pagi ini ada sebagian hambaku yang beriman kepadaku dan ada yang kufur kepadaku.’

Orang yang berkata: 

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ.

kita mendapat hujan atas kemurahan Allah dan kerahmatan dari-Nya, maka itulah orang yang beriman kepada-Ku dan ingkar/kufur kapada astronomi (perbintangan).

Adapun orang yang berkata: 

مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا

kami mendapat hujan karena pengaruh bintang ini dan itu, maka ia adalah orang yang ingkar/kufur kepada-Ku dan beriman kepada astronomi/perbintangan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Bagaimana sobat ? masihkah anda berkata: hujan turun karena musimnya, ataukah anda mulai menyadari bahwa yang menciptakan musim dan juga hujan adalah Allah. Keduanya terjadi atas kehendak Allah.

Musim tidak berdiri sendiri dan sesuka hatinya menurunkan atau menghentikan hujan, musim tunduk kepada kehendak Allah Ta’ala.

Karena itu, mengapa anda lebih mengingat musim dibanding mengingat Allah Ta’ala ?

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ.

“kita mendapat hujan atas kemurahan Allah dan kerahmatan dari-Nya”

Semoga bermafaat.

Ustadz Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Kaidah Ushul Fiqih Ke 45 : Orang Yang Amanah Apabila…

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-44) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 45 🍀

👉🏼  Orang yang amanah apabila mengaku telah mengembalikan, maka pengakuannya diterima selama bukan pada barang yang ia mengambil manfa’at padanya.

Contohnya :
⚉  apabila si A menitip uangnya kepada si B yang sangat amanah. Lalu beberapa hari kemudian si A meminta uangnya, dan si B mengaku sudah dikembalikan. Maka  pengakuan B diterima karena ia orang yang amanah.
Dasarnya adalah firman Allah Ta’ala:

ما على المحسنين من سبيل

Orang yang berbuat ihsan, tidak jalan untuk (menghukumnya).”

Kecuali pada barang yang ia mengambil manfa’at padanya, maka pengakuannya tidak diterima sampai membawakan bukti.

Contohnya :
⚉  bila ia meminjam pulpen, lalu pemiliknya memintanya. Namun ia mengaku sudah mengembalikan. Maka pengakuannya tidak diterima.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page:
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/
.
KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Apa Maksud Dari Kalimat “Hisab Yang Dimudahkan” Dalam Do’a Ini..?

Simak penjelasan Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

 

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

HAL-HAL Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN – Penghalang Ke-13

Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 12) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Penghalang yang ke 13 🌿

Yang ke 13… diantara perkara yang menghalangi hidayah, yaitu…

⚉   Lalai dari minta hidayah  [الغفلة عن سؤال الهداية]

Kata beliau (Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى):

‎إذا نظر العاقل فِي كثير مِمَّن ضل من قبله و من أهل زمانه

Apabila orang yang berakal melihat kebanyakan orang yang tersesat (baik sebelum kita ataupun orang yang berada di zaman kita), ia akan melihat bahwa banyak diantara mereka cerdas orangnya (IQ-nya tinggi) namun kecerdasan tidak cukup untuk mengantarkan pelakunya kepada hidayah dan kebenaran… Karena hidayah milik Allah.

Allah berfirman [QS Al Baqoroh : 272]

‎وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهْدِى مَن يَشَآءُ

Akan tetapi Allah memberikan hidayah kepada siapa yang Allah kehendaki

👉🏼   Dan karena kecerdasan itu bukan sebab seseorang dapat hidayah, akan tetapi hidayah itu adalah milik Allah yang Allah berikan kepada siapa yang Allah kehendaki, maka kewajiban seorang hamba adalah untuk selalu minta kepada Allah hidayah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan di dalam Alqur’an bahwa senantiasa mereka berselisih [QS Ar-Rum : 31-32]

Maka karena mereka selalu berselisih, kita minta kepada Allah hidayah dalam perkara yang di perselisihkan.

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam berdoa dalam doa istiftah ( diriwayatkan Imam Muslim dari hadits A’isyah rodhiyallahu ‘anha )

اللَّهُمَّ ربَّ جبريل وميكائيل وإسر افيل، فا طِرَ السموات والأرض، عالِم الغيب والشهادة، أنت تَحكم بين عبادك فيما كانوا فيه يَختلفون، اهدنِي لِما اختُلف فيه من الْحَقَّ بإذنك، إنَّك تَهدي من تشاء إلَى صر اط مستقيم

“Ya Allah Robbnya Jibril, Mika’il, Isrofil pencipta langit dan bumi, yang mengetahui yang ghoib dan yang terang-terangan. Kaulah yang menghukumi antara hamba-hamba-Mu diantara perkara yang di perselisihkan oleh mereka, maka berikan aku hidayah di dalam perkara yang di perselisihkan tersebut hidayah kepada kebenaran dengan izinmu. Sesungguhnya Engkau-pun memberikan hidayah kepada siapa yang Engkau kehendaki, kepada jalan yang lurus.”

⚉   Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah ( dalam Majmu’ Fataawa 5/118)

فإذا افتقر العبد إلَى اللّٰه، وأدمن النظر فِي كلام اللَّه، وكلام ر سو له، وكلام الصحابة والتا بعين وأئمة المسلمين انفتح له طر يق الهدى

Apabila seseorang hamba butuh kepada Allah, lalu ia betul-betul selalu memperhatikan firman Allah, memperhatikan sabda Rosulullah, perkataan para sahabat, para tabi’in dan para ulama kaum muslimin, maka akan terbukalah kepada dia jalan kebenaran.”

⚉   Beliau (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah) juga berkata ( dalam Majmu’ Fataawa 12/103)

فمن تبيَّن له الحقُّ فِي شيء من ذاك اتبعه

“Siapa yang menjadi jelas kepadanya kebenaran dalam suatu permasalahan hendaklah ia mengikutinya dan apabila kebenaran tersembunyi hendaklah dia ‘tawakuf’ (tidak mengambil sikap) dulu sampai Allah memberikan kejelasan kepadanya.”

وينبغي أن يستعين على ذلك بدعا ء اللّٰه

“Dan hendaknya dia mohon pertolongan kepada Allah dengan cara berdo’a kepada-Nya.”

⚉   Syaikh ‘Abdurrohman Assa’dii rohimahullah (dalam kitab Taisiir Al-latifil-mannan hal 180)

‎إن النَّاظر فِي العلم عند الحاجة إلَى العمل، أو التكلُّم به

“Orang yang sedang membahas ilmu disaat ia butuh kepada amal atau berbicara dengan ilmu tersebut apabila belum bisa menentukan mana dua pendapat yang kuat, setelah dia niatnya benar untuk mencari kebenaran dan membahasnya, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan orang seperti ini.”

Selama niatnya benar dan ia berusaha sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran, maka Allah akan memberikan kepada dia hidayah sebagaimana halnya Nabi Musa berdo’a kepada Allah [QS Al-Qoshos : 22]

‎عَسَىٰ رَبِّي أَنْ يَهْدِيَنِي سَوَاءَ السَّبِيلِ

Semoga Allah memberikan kepadaku jalan yang benar.”
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Pahala, Ucapan dan Do’a Ketika Menjenguk Orang Sakit

Keutamaan yang besar dijanjikan bagi seorang muslim yang menjenguk saudaranya yang sakit.

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda :

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُوْدُ مُسْلِمًا غُدْوَةً إِلاَّ صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلاَّ صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ، وَكَانَ لَهُ خَرِيْفٌ فِي الْجَنَّةِ

Tidaklah seorang muslim menjenguk muslim yang lain di pagi hari melainkan 70.000 malaikat bersholawat atasnya (memintakan ampun untuknya) hingga ia berada di sore hari. Dan jika ia menjenguknya di sore hari maka 70.000 malaikat bershalawat atasnya (memintakan ampun untuknya) hingga ia berada di pagi hari. Dan ia memiliki buah-buahan yang dipetik di dalam surga.”

(HR. At-Tirmidzi no. 969, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shoghir no. 5767 dan Ash-Shohihah no. 1367)


.

Nasihat Ibnu Hibban Rohimahullah – Jangan Pelit Dengan Ilmu Yang Dimiliki

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Bagaimana Adab Ketika Kita Dititipi Salam dan Cara Menjawab Titipan Salam

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Kaidah Ushul Fiqih Ke 44 : Orang Yang Mengklaim Wajib Membawa Bayyinah…

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-43) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 44 🍀

👉🏼  Orang yang mengklaim wajib membawa bayyinah dan orang yang mengingkari hendaknya bersumpah.

⚉  BAYYINAH adalah segala sesuatu yang menjelaskan kebenaran berupa saksi, atau qorinah (indikasi) atau kebiasaan atau yang lainnya.

Adapun saksi maka ada beberapa macam:

1. Permasalahan yang memerlukan empat saksi. Yaitu masalah tuduhan zina.

2. Yang memerlukan tiga saksi laki laki. Yaitu orang yang bangkrut dan menjadi miskin lalu ia datang meminta zakat. Maka harus ada tiga saksi yang adil yang menyaksikan bahwa ia memang fakir.

3. Yang memerlukan dua orang laki laki. Yaitu dalam masalah penegakan hukuman Hadi selain zina. Seperti potong tangan.

4. Yang memerlukan dua saksi laki laki atau satu laki laki dan dua wanita. Yaitu dalam masalah yang berhubungan dengan harta. Contohnya bila ada orang dituduh mencuri, dan penuduh hanya bisa mendatangkan satu laki laki dan dua wanita, maka hartanya diberikan kepadanya namun tidak ditegakkan hukuman Hadd karena saksinya tidak memenuhi.

5. Yang membutuhkan satu saksi wanita. Yaitu dalam masalah yang berhubungan kewanitaan seperti penyusuan, melahirkan dan sebagainya.

⚉  Adat kebiasaan pun bisa menjadi bayyinah. Contohnya bila suami istri bercerai lalu istri mengklaim bahwa gelas kopi miliknya. Secara adat kebiasaan bahwa gelas kopi itu milik suami bukan istri.

Apabila yang menuduh tidak dapat membawakan bayyinah, maka orang yang dituduh diminta untuk bersumpah bahwa tuduhan tersebut tidak benar.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page:
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/
.
KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Tips dan Pahala Istimewa Bagi Para Istri Dalam Menjalani Kehidupan Rumah Tangga

Simak penjelasan Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

Ada DELAPAN PINTU SURGA.

● Rosulullah shollallahu ’alaihi wasallam bersabda,

“إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ”.

“Jika seorang wanita :
– menunaikan sholat lima waktu,
– berpuasa di bulan Ramadhan,
– menjaga kemaluannya dan
– menta’ati suaminya
niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau..”. (HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu  dan  dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany).

●   Salah satu pintu surga dinamakan Ar-Royyan dan pintu ini khusus bagi orang yang berpuasa. Dalam hadits disebutkan,

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « فِى الْجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ ، فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ لاَ يَدْخُلُهُ إِلاَّ الصَّائِمُونَ »

Dari Sahl bin Sa’ad rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata, “Surga memiliki delapan buah pintu. Di antara pintu tersebut ada yang dinamakan pintu Ar Royyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa.” (HR. Al Bukhari no. 3257)

Pintu lainnya adalah pintu untuk orang-orang yang rajin mengerjakan sholat, pintu untuk yang rajin bersedekah, pintu untuk para mujahid.

●   Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa beliau pernah mendengar Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ نُودِىَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ ، هَذَا خَيْرٌ . فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلاَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّلاَةِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ

“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah kebaikan.’ Maka orang yang termasuk golongan ahli sholat maka ia akan dipanggil dari pintu sholat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa akan dipanggil dari pintu Ar-Royyan. Dan orang yang termasuk golongan ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah…”

فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ – رضى الله عنه – بِأَبِى أَنْتَ وَأُمِّى يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا عَلَى مَنْ دُعِىَ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ ، فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ « نَعَمْ . وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ »

Ketika mendengar hadits ini Abu Bakar pun bertanya, Ayah dan ibuku sebagai penebus Anda wahai Rasulullah, kesulitan apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut..?”

Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Iya ada. Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka..” (HR. Al Bukhari no. 1897, 3666 dan Muslim no. 1027)

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Faidah…

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا قال الرجل هلك الناس فهو أهلكهم

Apabila seseorang berkata, “Orang orang telah rusak/binasa.” Maka dia yang paling rusak.” (HR Muslim no 2623)

Imam An Nawawi rahimahullah berkata:
Para ulama bersepakat bahwa maksud hadits ini adalah untuk orang yang mengatakan demikian karena meremehkan manusia dan menganggap dirinya lebih. Adapun jika ia mengucapkan demikian karena sedih terhadap apa yang menimpa dirinya dan manusia berupa kekurangan dalam menjalankan agama, maka itu tidak mengapa.”

Al Khothobi berkata:
artinya senantiasa seseorang mencela manusia dan menyebutkan keburukan mereka dan menganggap bahwa manusia sudah rusak atau sejenisnya. Apabila ia melakukan itu maka ia yang paling rusak keadaannya akibat dosa dari memburuk-burukkan mereka. Bahkan bisa jadi ia merasa bangga dengan dirinya dan memandang bahwa dirinya lebih baik dari mereka.”

(Syarah shahih Muslim 16/175).

Demikianlah..
Orang yang selalu memandang orang lain jelek..
Seakan tidak ada kebaikan pada mereka..
Ia tidak sadar bahwa sebetulnya dia yang paling jelek diantara mereka..
Kewajiban kita adalah untuk senantiasa mendo’akan kebaikan dan hidayah..
Dan memandang sedikit amalan kita..
Mungkin mereka diberi taubat oleh Allah..
Mungkin mereka lebih takut kepada Allah..
Mungkin mereka lebih menyembunyikan amalan sholehnya..
Sementara kita, hanya sibuk memuji diri dan ingin diakui..

Allahul Musta’an..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى 

Menebar Cahaya Sunnah