Seorang Bijak Berkata…

Seorang bijak berkata :

Mengejek orang yang obesitas, takkan
menjadikanmu semakin langsing.”
“Mengejek orang yang buruk muka, takkan
menjadikanmu semakin menarik.”
“Mengejek orang yang lagi gagal, takkan
menjadikanmu sukses.”

Maka biarkanlah keadaan orang lain
dengan Penciptanya, dan berusahalah
memperbaiki dirimu, daripada
mengomentari keadaan orang lain !

Bolehkah Kita Yakin Akan Masuk Surga..?

Sebagai Muslim, apakah dibolehkan apabila kita yakin akan masuk surga ? Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

da190914-0013

Kaidah Ushul Fiqih Ke 38 : Aqad Ada 3 Macam…

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-37) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 38 🍀

👉🏼   Aqad ada TIGA macam:
1. Aqad Mu’awadhoh,
2. Aqad Tabarru’ dan
3. Aqad Tautsiqoh.

⚉    Dalam Aqad Mu’awadhoh : pastikan terpenuhi syarat syaratnya dan hindari ghoror (ketidak pastian).

⚉    Adapun dalam Aqad Tabarru’ dan Tautsiqoh : tidak apa apa bila terjadi ghoror.

PENJELASAN:
1. Aqad Muawadhoh artinya aqad untuk saling mengganti yang tujuannya saling memiliki seperti jual beli. Aqad seperti ini harus dipastikan bersih dari ghoror dan terpenuhi padanya syarat syarat jual beli.

2. Aqad Tabarru’ adalah aqad sosial seperti hibah, waqaf dan sebagainya.

3. Aqad Tautsiqoh adalah aqad penguatan atau anggunan seperti barang gadaian.

Dalam kedua aqad ini (2 dan 3) bila terjadi ghoror atau ketidak jelasan tidak apa apa.
Seperti seseorang berkata:
⚉    Saya akan memberimu hadiah. tapi tidak disebutkan hadiah berupa apa.
⚉    Saya pinjam uang darimu dan saya gadaikan salah satu motor saya tanpa menentukan motor yang mana.

Aqad Mu’awadloh seperti jual beli bila terjadi ghoror atau ketidak pastian maka hukumnya sama dengan judi.

Contoh ghoror misalnya:
⚉    Saya jual kepadamu burung saya yang lepas dan terbang itu.

⚉    atau saya jual kepadamu salah satu mobil saya, tapi tidak ditentukan yang mana.
⚉    Orang yang mengasuransikan mobilnya, dimana dia harus membayar pertahun 400 ribu misalnya. Terjadi padanya ghoror. Sebab bila dalam setahun itu tidak terjadi kecelakaan maka perusahaan asuransi untung. Dan bila kecelakaan itu terjadi setiap minggu, perusahaan rugi. Sehingga aqad ini berada pada ketidak jelasan apakah akan rugi atau untung. Seperti ini dinamakan ghoror dan sama dengan perjudian.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page:
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/
.
KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Resep Manjur…

Resep manjur menghadapi orang bodoh apalagi orang bodoh tidak tahu diri.

Di dunia nyata ketika berhadapan dengan orang gila lalu dia memaki anda, dan kemudian anda membalas maka itu pertanda anda milai ketularan penyakitnya.

Ketika berhadapan dengan orang bodoh, lalu ia memaki anda atau menghakimi anda dan anda membalas atau meladeninya maka itu bukti nyata anda duplikat dia.

Hal serupa juga berlaku di dunia maya dan medsos. Bila ada orang kurang waras nalarnya memaki anda di medsos lalu anda membalas maka itu cermin penyakitnya mulai menular kepada anda.

Demikian pula hanya dengan kebodohan yang ternyata sering kali bisa menular kepada orang lain.

Suata hari ada seorang lelaki yang memaki sahabat Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu.

Sahabat Abu Bakar memilih untuk diam tidak menanggapi makian lelaki tersebut.

Tidak direspon, lelaki itu kembali mengulangi makiannya, namun lagi lagi sahabat Abu Bakar memilih untuk diam.

Geram diabaikan, lelaki itu kembai memakinya untuk ketiga kalinya.

Dan setelah ketiga kali dimaki sahabat Abu Bakar terpancing dan membalas makian lelaki tersebut.

Setelah sahabat Abu Bakar terpancing untuk membalas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam yang semula duduk menyaksikan keduanya, segera bangkit dan bergegas pergi.

Segera sahabat Abu Bakar megikuti langkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam , selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda kepadanya:

,: “مازال مَلَكٌ يَذُبُّ عنك حتى رددت عليه, فلما رددت عليه حضر الشيطان, وما كان لي أن أجلس وقد حضر الشيطان”.

Semula ada seorang malaikat yang selalu membelamu, hingga engkau membalas makian lelaki itu. Tatkala engkau telah membalas sendiri makiannya, maka setan segera turut hadir. Sedangkan aku tidak sudi untuk duduk di majlis yang telah dihadiri oleh setan” ( Abu Dawud dll )

Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

HAL-HAL Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN – Penghalang Ke-1

Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (MUQODDIMAH) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Penghalang yang ke 1 🌿

Lalu beliau (Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman) menyebutkan penghalang-penghalang seseorang untuk menerima kebenaran:
.
⚉   Yang pertama AL-JAHL atau kebodohanBeliau (Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman) berkata : “Kebenaran itu jelas sekali.
.
Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

‎الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ

Yang halal sudah jelas , yang haram juga sudah jelas.

وبَينَهُما أُمُورٌ مُشتَبهاتٌ

Diantara keduanya ada perkara yang samar.
.
Maka dari itu, kata beliau : “kebathilan itu biasanya laris di pasar kebodohan, laris di tengah orang-orang yang tidak punya ilmu, tidak pula (punya) pengetahuan, tidak pula memperhatikan nash-nash Alqur’an dan Sunnah, dan perkataan para sahabat dan tabi’in.
.
⚉   Imam Ahmad rohimahullah berkata sebagaimana dalam kitab I’lamul Muwaqqi’in 1/44

‎إِنَّمَا جَاءَ خِلَافُ مَنْ خَالَفَ لِقِلَّةِ مَعْرِفَتِهِمْ بِمَا جَاءَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Sesungguhnya adanya penyelisihan, orang-orang yang menyelisihi itu akibat sedikitnya pengetahuan dia terhadap apa yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam
.
⚉   Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah berkata dalam Majmu’ Fataawa 27/315-316:
Kebenaran itu bisa diketahui oleh setiap orang, karena kebenaran yang diutus oleh Allah (para Rasul dengan membawanya) tidak akan tertukar dengan yang lainnya bagi orang yang mengetahui, sebagaimana tidak akan tertukar antara emas yang murni dengan emas yang palsu bagi orang yang faham.
.
Berarti kewajiban orang yang bodoh adalah menuntut ilmu agar ia mau menerima kebenaran dan mengetahuinya. Tapi kebodohan itu selamanya menyebabkan ia terhalang dari kebenaran.
.
⚉   Imam Asy-Syaukani rohimahullah berkata:
Kecondongan kepada pendapat-pendapat yang bathil itu bukanlah perbuatan orang-orang yang berilmu, yang mempunyai kekuatan pengetahuan dan kesempurnaan pemahaman. Akan tetapi itu adalah menimpa orang-orang yang tidak punya ilmu yang kokoh, tidak pula pengetahuan yang bermanfaat.
.
⚉   Berkata Syaikh Abdurrahman As-Sa’adi rohimahullah:
Siapa diantara mereka yang ridho dengan kebid’ahannya, berpaling dari mencari dalil-dalil syari’at dan berpaling dari apa yang wajib baginya berupa ilmu yang bisa membedakan antara yang haq dan yang bathil. Bahkan dia malah menolak apa yang di bawa oleh Alqur’an dan Hadits di sertai dengan kebodohan dan kesesatannya. Maka orang seperti ini zholim, karena dia telah menolak kebenaran.
.
⚉   Syaikh Utsaimin rohimahullah berkata :
Terkadang orang yang bodoh itu tidak diberikan maaf (udzur) apabila ia mampu untuk menuntut ilmu, tapi ia tidak mau melakukannya. Maka orang yang mampu untuk menuntut ilmu, wasilah untuk menuntut ilmu juga mudah, tapi ia malah berpaling dari menuntut ilmu… yang seperti ini, kata beliau, tidak diberikan udzur karena kebodohannya, karena ia menganggap remeh masalah menuntut ilmu. Beda dengan orang yang bodoh, berada di suatu tempat yang memang tersebar kebodohan, jarang ulama, dan susah ilmu disana. Maka yang seperti ini tentu diberikan udzur.
.
👉🏼   Yang jelas bahwa kebodohan menyebabkan seseorang itu terhalang untuk mengikuti kebenaran, dan kebodohan menyebabkan seseorang itu condong kepada kebathilan.
.
Betapa banyak kebid’ahan yang diterima akibat kebodohan, larisnya syi’ah, khowarij, pemikiran-pemikiran murji’ah. Itu semua akibat daripada kebodohan. Demikan pula larisnya kristenisasi… itupun juga akibat dari kebodohan disertai lemahnya iman.
.
👉🏼   Kebodohan itu musuh yang harus kita enyahkan dari diri kita sendiri.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Nasihat Ibnu Hibban Rohimahullah – Allah Akan Tampakkan Kelak Di Akhirat Apa Yang Tersembunyi Di Hati

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Antara Bodoh dan Mudah…

1 + 1  = …….?
0 x 1  = …….?
2 – 1   = …….?
12 : 3 = …….?

Menjawab Pertanyaan di atas pasti mudah bagi anda. Namun demikian anak kecil bisa jadi susah menjawabnya.

Nah Islam tuh mudah , dan ringan, namun bagi siapa dulu ?

👉🏼   Orang yang dapat hidayah dari Allah maka mudah, namun orang yang pintu hatinya tertutup maka susah memahami apalagi menerimanya.

Al Qur’an tuh dimudahkan untuk dihafal, tapi bukan berarti semua orang mudah menghafalnya.

Bila demikian adanya, sudah saatnya anda bercermin bila merasa susah menghafal Al Qur’an atau memahami ilmu agama atau mengamalkannya.

Bukan Islamnya, atau Al Qur’annya atau ilmunya yang susah, tapi akal dan nafsu andalah biangnya.

Karena itu jangan jadikan mudah atau susahnya suatu ilmu untuk anda pahami atau diamalkan sebagai standar benar atau salah.

👉🏼   Benar atau salah diukur dengan dalil.

Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Nasihat Ibnu Hibban Rohimahullah – Senantiasa Menjaga Hati

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Akan Ditanya Dalilnya Dari Rosul…

قال الشيخ ابن عثيمين
رحمه الله:

“طالب العلم يجب عليه أن يتلقَّى المسائل بدلائلها
وهذا هوالذي يُنجيه عند الله سبحانه وتعالى
لأن الله سيقول له يوم القيامة:
{مَاذَا أَجَبْتُمُ الْمُرْسَلِينَ}
ولن يقول: ماذا أجبتم المؤلِّفَ الفلاني”

الشرح الممتع(1 /16)

Syaikh ibnu Utsaimin berkata:

Penuntut ilmu wajib mengambil semua permasalahan dengan dalil-dalilnya. itulah yang akan menyelamatkannya di sisi Allah. Karena Allah akan berfirman pada hari kiamat:

ماذا أجبتم المرسلين

Apa yang kalian jawab dari para rosul ?

Allah tidak mengatakan: Apa yang kalian jawab dari penulis buku ini dan itu.

(Syarah Mumti’ 1/16)

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc  حفظه الله تعالى 

Tawakkal dan Usaha…

Imam Ibnu Taimiyah berkata:

Menyandarkan diri kepada sebab/sarana adalah bentuk kesyirikan dalam hal tauhid, mengingkari peran sebab pada akibatnya adalah bentuk nyata kerdilnya nalar pikiran, dan mengabaikan semua bentuk sarana adalah wujud nyata dari celaan terhadap syari’at.

Yang benar, setiap orang hamba diperintahkan untuk bertawakkal, berdo’a, memohon dan mengharap hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan Allah-lah yang akan mentakdirkan untuknya sarana tercapainya keinginan yang ia inginkan, bisa berupa do’a orang lain atau selainnya.

(Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 1/131)

Selamat direnungkan, dan kemudian direnungkan, dan terus direnungkan, semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah