Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.
👉🏼 Orang yang berbuat ihsan tidak ada jalan untuk memberinya sanksi. Sebaliknya orang yang zholim.
Kaidah ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:
ما على المحسنين من سبيل
“Tidak ada bagi orang yang berbuat ihsan itu jalan (untuk menghukumnya).” (Attaubah:91).
Contoh kaidah ini adalah: ⚉ Apabila ada orang yang menggali sumur jauh dari jalan lalu lalang untuk keperluan air minum warga setempat. Lalu ada orang yang jatuh ke dalam sumur tersebut dan meninggal, maka tidak ada kewajiban mengganti rugi.
⚉ Bila ada orang yang memasang tiang listrik di pinggir jalan untuk kepentingan masyarakat setempat, lalu ada orang yang menabrak tiang tersebut dan meninggal. Maka tidak ada ganti rugi.
⚉ Sebaliknya orang zholim wajib diberikan sanksi. Seperti bila ada orang yang sengaja menggali sumur di tengah jalan agar orang celaka. Atau membuat jebakan. Maka ia wajib mendapat hukuman.
.
. Wallahu a’lam 🌴
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
. Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
. Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page: https://t.me/kaidah_ushul_fiqih https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/
. KAIDAHUSHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP
Rejeki sudah dijamin, mengapa dipikir sungguh-sungguh ? Sedang urusan surga belum ada jaminan, mengapa tidak sungguh-sungguh ?
Demikian pernyataan sebagian orang, seakan itu adalah idiologi yang haqul yaqin tidak boleh dibantah atau minimal diragukan lagi. Padahal ucapan di atas nyata nyata menyelisihi dalil, diantaranya sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:
“Tiada seorangpun dari kalian melainkan telah dituliskan tempat duduknya di neraka atau di surga.” Spontan salah seorang lelaki bertanya: “wahai Rasulullah, bila demikian apa tidak lebih baik kita berpangku tangan saja ?” Beliau menjawab: “beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan untuk menemui apa yang telah ditaqdirkan untuknya.” (Muttafaqun Alaih)
Jadi, masihkah ada dikotomi antara taqdir urusan akhirat dari taqdir urusan dunia ?
Memotivasi agar masyarakat lebih semangat dalam urusan akhirat, tidak perlu menafikan status taqdir dalam urusan dunia.
Lalu yang benar bagaimana ?
Simak metode Imam Ibnu Al Qayyim dalam menunaikan misi mulia di atas; memotivasi akhirat tanpa mengingkari taqdir dalam urusan surga dan neraka. beliau bekata:
يهتمون بما ضمنه الله ولا يهتمون بما أمرهم به, ويفرحون بالدنيا ويحزنون على فوات حظهم منها ولا يحزنون على فوات الجنة وما فيها ,ولا يفرحون بالإيمان فرحهم بالدرهم والدينار
“Mereka begitu peduli dengan urusan yang telah Allah jamin untuk mereka, namun mereka kurang peduli dengan urusan yang Allah perintahkan mereka dengannya.
Mereka girang dengan urusan dunia, dan berduka bila gagal mendapatkan bagian darinya. Namun mereka tidak berduka bila kehilangan kesempatan mengapai surga dan kenikmatan yang ada di dalamnya.
Mereka tidak girang dengan urusan iman, kegirangan mereka hanyalah urusan dirham dan dinar.“
(Al Fawaid Ibnu Al Qayyim 157)
Semoga bermanfaat.
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى
Kita telah menyelesaikan pembahasan kitab yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan, حفظه الله تعالى. Seluruh pembahasannya bisa di baca di SINI
=======
Kini kita memasuki pembahasan baru dari kitab “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
🌼 MUQODDIMAH 🌼
⚉ Beliau (Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman) berkata sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan manusia diatas fithrahnya.
“HATI itu sebetulnya diciptakan untuk mencintai kebenaran, menginginkan dan mencarinya”.
Beliau juga berkata. [Majmu’ Fataawa 16/338]
فَإِنَّ الْحَقَّ مَحْبُوْبٌ فِيْ الْفِطْرَةِ
“Sesungguhnya kebenaran itu disukai oleh fithrah manusia” bahkan ia (kebenaran) lebih ia cintai dan lebih agung menurutnya dan lebih lezat daripada kebathilan yang tidak ada hakikatnya, karena fithrah itu tidak menyukai kebathilan.
Dan itu merupakan perkara yang telah ada pada jiwa-jiwa manusia, dimana setiap manusia sebetulnya fithrahnya mencintai kebenaran, mengetahui “Al HAQ”.
“Dalam jiwa manusia ada sesuatu yang menguatkan kebenaran di atas kebathilan baik dalam masalah aqidah maupun juga masalah keinginan.” Ini cukup menunjukkan bahwa memang manusia diciptakan diatas fithrah.
Beliau juga berkata dalam kitab yang sama jilid 8 halaman 463: “Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan hamba-hambanya di atas fithrah, yang padanya kebenaran dan membenarkannya.”
⚉ Demikian pula ia merasakan kebathilan dan mendustakannya. Dan mengetahui mana yang manfaat dan mencintainya dan mengetahui mana yang mudhorot dan membencinya, maka sesuatu yang haq, apabila fithrahnya masih lurus ia akan membenarkannya.
⚉ Demikian pula perkara-perkara yang bermanfa’at, maka fithrahpun akan menyukainya dan merasa tentram dengannya. Itu adalah yang merupakan perkara yang ada pada setiap manusia, (pada asalnya demikan).
Berkata Syaikh Abdurrahman As-Sa’dy dalam Kitab Taisiirul Lathiifi Al mannaan, hal. 50
“Agama yang hakiki adalah agama hikmah yang dengannya ia mengetahui kebenaran dan beramal dengan benar. Dan mengetahui kebenaran dan beramal dengan kebenaran pada segala sesuatu”.
Berkata Mu’adz bin Jabal:
فَإِنَّ عَلَى الْحَقِّ نُوْرًا.
“Sesungguhnya kebenaran itu terdapat padanya cahaya.”
Ketika Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam datang ke kota Madinah maka kemudian Abdullah bin Salam, (seorang pendeta Yahudi), ini menemui Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, ketika Abdullah bin Salam melihat wajah Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, maka ia berkata, “Aku mengetahui bahwa wajahnya bukanlah wajah orang yang suka berdusta”.
👉🏼 Itu menunjukkan akan fithrah manusia, dimana ia ditabiatkan untuk mencintai kebenaran kecuali orang-orang yang fithrahnya dikalahkan oleh hawa nafsu, oleh kesombongan, oleh kedengkian dan yang lainnya dari perkara-perkara yang menghalangi seseorang untuk mendapatkan kebenaran.
. Wallahu a’lam 🌴
.
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
. Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
. Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page : https://t.me/aqidah_dan_manhaj https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/
Ibnul Jauzi rahimahullah di dalam kitabnya Al-Maudhu’aat, bab Puasa di akhir dan awal tahun (baru Hijriyah) dengan isnadnya, dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barang siapa yang berpuasa sehari pada akhir dari bulan Dzuhijjah dan puasa sehari pada awal dari bulan Muharrom, maka ia sungguh-sungguh telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa. Dan Allah ta’ala menjadikan puasanya itu sebagai kafarat (penghapus dosa-dosanya) selama 50 (lima puluh) tahun.”
(Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnul Jauzi dalam Al-Maudhu’at II/566, Ay-Syaukani dalam Al-Fawa-id Al-Majmu’ah I/96 no.31, dan selainnya).
(*) DERAJATHADITS: Hadits ini derajatnya PALSU (Maudhu’). Karena di dalam sanadnya terdapat dua perowi pendusta dan pemalsu hadits, yaitu: 1. Al-Harwi Al-juwaibari, dan 2. Wahb.
» Ibnul Jauzi rahimahullah berkata tentang kedua perawi tsb, yaitu Al-Harwi atau dikenal juga dengan Al-Juwaibari, dan Wahb bahwa keduanya adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits. (Lihat kitab Al-Mawdhu’at II/566).
» Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata tentang hadits ini: “Di dalam hadits ini ada dua perawi yang pendusta yang meriwayatkan hadits ini.” (Lihat Al-Fawaa-id Al-Majmuu’ah I/96 no.31).
وما نِيل منه شيء قطُّ، فينتقم مِن صاحبه، إلا أن يُنْتَهك شيء مِن محارم الله، فينتقم لله عزَّ وجلَّ
“Beliau jika dicaci dirinya tak pernah membalas (dengan mencaci) pelakunya kecuali jika dilanggar keharaman keharaman Allah, maka beliau membalas karena Allah Azza wajalla.” (HR Muslim)
Sungguh akhlak amat terpuji namun berat. Karena diri jika dicaci biasanya akan marah dan ingin membalas dendam. Tapi marah saat itu bukanlah marah yang terpuji. Cukuplah kita mengingat bahwa ketika dicaci maka dosanya untuk yang mencaci dan kita mendapat pahala darinya dan pahala kesabaran.
Tanya: Apakah hari 1 Muharram di bolehkan puasa mohon pencerahannya ?.
Jawab: Orang yang melakukan puasa tanggal 1 Muharam, ada 2 kemungkinan niat yang dia miliki:
PERTAMA, dia berpuasa tanggal 1 Muharam karena motivasi hadis yang menganjurkan memperbanyak puasa di bulan Muharam. Ini termasuk puasa yang bagus, sesuai sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
KEDUA, dia berpuasa tanggal 1 Muharam karena ’tahun baru’, atau mengawali tahun baru dengan puasa, atau karena keyakinan adanya fadhilah khusus untuk puasa awal tahun, dst, maka ini terlarang.
Perlu diperhatikan bahwa selama bulan Muharam, dianjurkan memperbanyak puasa, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut: Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim 1163).
Namun tidak boleh mengkhususkan hari tertentu dengan puasa pada hari terakhir tutup tahun dalam rangka perpisahan dengan tahun hijriyah sebelumnya atau puasa di hari pertama Muharam dalam rangka membuka tahun baru dengan puasa.
Orang yang mengkhususkan puasa pada hari terakhir tutup tahun, atau hari pertama tahun baru, mereka berdalil dengan hadis palsu/dusta dan kebohongan atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena terdapat perawi bernama Ahmad bin Abdillah al-Harawi dan Wahb bin Wahb. As-Suyuthi menilai, keduanya perawi pendusta. (al-Lali’ al-Mashnu’ah, 2/92). Penilaian yang sama juga disampaikan as-Syaukani dalam al-Fawaid al-Majmu’ah (hlm. 96).
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.