Assalamu’alaykum Ustadz, semoga Allah senantiasa menjaga antum dan keluarga dalam kebaikan dan kesehatan… aamiin. Maaf mengganggu waktu antum, Ustadz, ingin bertanya terkait hadits riwayat at Tirmidzi sbb :
Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “..Bagaimana aku bersenang-senang sedangkan pemegang sangkakala telah memasukkan sangkakalanya di mulutnya dan telah memiringkan dahinya serta menyiapkan pendengarannya menunggu diperintahkan (untuk meniupnya) hingga ia meniupnya.. ?” Hal ini tampaknya membuat berat para sahabat beliau, lalu mereka berkata, “..Apa yang mesti kami kerjakan wahai Rosulullah atau kami ucapkan..?”
Beliau menjawab, “..Ucapkanlah, ’Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung, dan hanya kepada Allah kami bertawakal..” Dan tampaknya beliau berkata, “..Kami bertawakal kepada Allah..”
⚉ Apa derajat hadits diatas ini Ustadz ? ⚉ Jika shohih/hasan, bolehkah rutin membacanya ? ⚉ Apakah ada jumlah dan waktu-waktu tertentu untuk membacanya ?
Syukron Ustadz, baarokallahu fiik JAWABAN
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
(Hadits tsb) Dihasankan oleh syaikh Albani. Boleh membacanya tiap hari tapi tidak ditentukan waktu dan jumlahnya.
Wallahu a’lam
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
BOLEH BACA : . HASBUNALLAAHU WA NI’MAL WAKIIL ‘ALALLAHI TAWAKKALNAA . atau boleh juga : . HASBUNALLAAHU WA NI’MAL WAKIIL TAWAKKALNAA ‘ALALLAH
“Setiap orang akan berada di bawah NAUNGAN SEDEKAH-nya hingga diputuskan hukum antara manusia.”
Yazid berkata, “Abul Khair tidak pernah melewati satu haripun melainkan ia bersedekah dengan sesuatu walaupun hanya dengan sebuah kue ka’kah atau lainnya.”
Makhul Asy Syaami seorang tabi’in berkata: “Aku pernah melihat orang yang menangis dalam sholat… aku menuduh dia lakukan itu karena riya saja… rupanya.. aku tidak dapat menangis setahun lamanya karena tuduhan itu…“ Diriwayatkan oleh ibnu abidunya..
orang yang diberikan taufiq.. tidak akan menuduh niat-niat manusia.. barangkali.. ia lebih ikhlas dari kita.. barangkali.. ia lebih tawadlu dari kita.. hanya Allah yang mengetahui hatinya..
“Dahulu, di zaman yang telah lalu, penuntut ilmu agama mendengarkan ta’lim agar dia berilmu. Dia berilmu untuk diamalkan.
Dia mencari ilmu agama Allah untuk mendapatkan manfaat dan memberikan manfaat kepada yang lain.
Namun sekarang, keadaannya menjadi lain; penuntut ilmu mendengarkan ta’lim untuk mengumpulkan maklumat. Dia mengumpulkan maklumat itu agar disebut-sebut. Dan dia menghapal maklumatnya untuk menang dalam debat dan membanggakan diri.”
[Madzhab Mufashshol Li Madzhab Imam Ahmad bin Hambal 1/13]
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
.
. Masuk Masjid : . A’UUDZU BILLAHIL-‘AZHIIMI WA BI WAJ-HIHIL KARIIMI WA SULTHOONIHIL QODIIMI MINASY-SYAITHOONIR-ROJIIM BISMILLAH WASH-SHOLAATU WAS-SALAAMU ‘ALAA ROSUULILLAH ALLAAHUMMAF-TAH LII ABWAABA ROHMATIK
👉🏼 Semua yang memiliki kewalian, maka hukumnya sama dengan pemilik.
Wali ada beberapa macam:
1. Wali yang ditetapkan oleh syariat dan bersifat umum yaitu wali hakim.
2. Wali yang ditetapkan oleh syariat dan bersifat khusus seperti wali nikah, wali anak yatim.
3. Wali yang mendapat mandat dari pemiliknya. ini ada tiga macam juga:
a. Wakil, yaitu orang yang diwakilkan oleh pemilik untuk mengurus di saat ia hidup. Seperti Nabi mewakilkan Urwah bin Al Ja’ad untuk membelikan hewan kurban.
b. Washiy, yaitu orang yang diwakilkan oleh pemilik setelah meninggalnya. Seperti bila A berkata, “Saya berwasiat bila telah meninggal harta saya sepertiga untuk anak-anak yatim. Saya percayakan kepada B untuk mengurusnya.” Maka B ini disebut washiy.
c. Nadzir, yaitu orang yang dipercaya untuk mengurus wakaf. Misalnya ada orang berkata, “Saya mewakafkan rumah di sana untuk para penuntut ilmu dan sebagai nadzirnya adalah si fulan.”
.
. Wallahu a’lam 🌴
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
. Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
. Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page: https://t.me/kaidah_ushul_fiqih https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/
. KAIDAHUSHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP
Mari semarakkan malam Jum’at dan harinya dengan sholawat kepada Nabi tercinta, Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wasallam
Jangan LUPA sabda beliau : “Perbanyaklah ber-SHOLAWAT untukku, pada hari JUM’AT dan malam JUM’AT! Maka barangsiapa bersholawat kepadaku sekali, ALLAH bersholawat kepadanya SEPULUH kali.” [HR. Albaihaqi, dihasankan oleh Syeikh Albani]
Siapa yang tidak ingin ALLAH ta’ala bersholawat kepadanya 10 kali, setiap kali dia bersholawat kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam ? Amal yang ringan dengan pahala yang AGUNG dan ISTIMEWA.
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
. PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 9) bisa di baca di SINI
=======
🌿 Penghalang yang ke 10 🌿
Penghalang yang ke 10 dari kebenaran yaitu…
⚉ HASAD.
Apa itu ?
👉🏼 Yaitu iri hati, dengki, dia tidak suka orang lain diberikan kenikmatan. Ketika kita merasa panas dengan kenikmatan yang di berikan kepada teman kita atau saudara kita.. berarti kita dengki.
الْحَسد: هو الباعث على أوَّل معصية
“Dengki adalah merupakan maksiat pertama di muka bumi.” Dimana iblis dengki kepada Nabi Adam ‘alayhissalam, sehingga ia tidak mau sujud kepadanya.
Dengki juga yang membuat orang Yahudi kufur kepada Allah dan tidak mau mengikuti Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam karena ternyata Nabi Muhammad shollallahu ‘alayhi wasallam bukan dari Banu Israil tetapi dari Banu Isma’il.
Demikian pula dengki menyebabkan banyak orang kufur kepada Allah. Maka kewajiban seorang hamba adalah untuk berhati-hati dari kedengkian.
⚉ Syaikh ‘Abdurrahman Al-mu’alimii berkata dalam Kitab “Attankiil” (jilid 2/ hal 195)
الحسد ، وذلك إذا كان غير ه هو الذي بيَّن الحق فيرى أن اعتر افه بذلك الحق يكون اعتر افًا لذلك المبيَّن بالفضل والعلم واﻹصابة، فيعظم ذاك فِي عيو ن الناس
Dengki yaitu kalau ternyata dia melihat orang lain yang lebih muda misalnya dari dirinya menjelaskan kebenaran dan kalau ia mengakui kebenaran yang dibawa orang tersebut, dia merasa… “wah.. berarti orang ini sama saja akan jadi besar, gara-gara saya mengakui kebenaran yang dia bawa..“
Akhirnya apa yang terjadi..?! akhirnya diapun tidak mau mengakui kebenaran yang dibawa oleh orang tersebut, karena dia tidak ingin orang yang membawa kebenaran tersebut menjadi besar. Maka ini adalah merupakan kedengkian.
⚉ Berkata Abu Hatim Ibnu Hibban dalam kitab “Raudhotul ‘uqolaa” (halaman 136)
وأكثر ما يو جد الحسد بين الأقران
“Hasad itu seringkali terjadi di antara dua orang yang bersaing atau yang dalam satu pekerjaan (misalnya).“
لأن اكتبة لا يحسدها إلا الكتبة
Contoh misalnya kata beliau : sesama penulis sekretaris, biasanya hasadnya kepada yang sama juga. Demikian pula pebisnis biasanya hasadnya kepada pebisnis juga. Ustadz biasanya hasadnya kepada ustadz juga. Murid demikian pula, biasanya dengan yang sama dengan yang sejenis.
⚉ Imam Asy Syaukanii berkata dalam “Adabut-tholab” (halaman 91) : “Diantara sebab yang mencegah dari bersikap adil itu adanya persaingan antara dua orang dalam keutamaan atau dalam kedudukan, baik kedudukan agama maupun dunia. Dimana ketika syetan meniupkan was-was di hatinya, akhirnya kemudian persaingan tersebut membawa salah satunya atau kedua-duanya untuk saling menjatuhkan.” Maka yang seperti ini sangat berbahaya.
Jadi was-was atau dengki itu akibat daripada terkadang dua teman yang sejawat, yang sepekerjaan, yang sama statusnya karena ada persaingan, di situ terjadilah hasad dan kedengkian.
Maka bagaimana cara menghilangkan kedengkian ?
👉🏼 Berusahalah, yang pertama, kita untuk mendo’akan orang yang kita merasa dengki kepadanya. Kita juga berusaha untuk memberinya hadiah. Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda : “Hendaklah kalian saling memberikan hadiah, niscaya kalian saling mencintai” (riwayat Imam Ahmad).
Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam juga menyuruh kita saling mengunjungi. Kata Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam: “Kunjungilah sekali-kali.. niscaya akan tumbuh rasa cinta.“ Kita kunjungi dia, kita do’akan dia, kita berikan hadiah kepada dia, dan berusaha kita lawan rasa dengki di hati tersebut, karena kedengkian itu tidak ada manfa’atnya sama sekali.
Kedengkian itu hanya menyebabkan kita terjerumus kepada berbagai macam kemungkaran dan mendatangkan kemurkaan Allah kepada kita.
.
. Wallahu a’lam 🌴
.
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
. Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
. Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page : https://t.me/aqidah_dan_manhaj https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/
Inilah yang menjadikan orang munafiq merasa puas dan bangga.
Kemunafikan terbesar adalah menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keimanan. Namun demikian, sepandai pandai orang menyembunyikan kemunafikan, tetap saja sikap dan ucapannya, akan menceritakan isi hatinya.
Diantara indikasi kemunafikan ialah adanya rasa girang ketika orang kafir mendapat kemenangan atau minimal bebas malang melintang, ia tiada terusik oleh ulah orang kafir sedikitpun.
Namun sebaliknya, ia berang, meradang, kecewa, naik pitam, dan uring-uringan bila ummat Islam mendapat kemenangan atau kesenangan atau berhasil membungkam juragan orang orang munafiq, yaitu kaum kuffar.
Allah Ta’ala menceritakan indikator orang munafiq ini dengan berfirman:
“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman“; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.
Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (Ali Imran 119-120)
Simak sobat, dan kenalilah betapa banyak saat ini orang yang lisan, dan penanya bertambah tajam kepada ummat Islam di saat mereka berhasil membungkam atau mengalahkan orang kafir. Seakan mereka terpanggil untuk turut memberi perlawanan kepada ummat Islam sebagai bentuk pembalasan atas kekalahan juragannya orang orang kafir.
Namun pena dan lisan mereka seakan patah alias bisu bila mengetahui orang kafir menghina, menindas, merampas, menginjak nginjak kehormatan ummat Islam, seakan hati mereka menari nari kegirangan atas kehinaan ummat Islam.
Karenanya, yuk kita bercermin, untuk siapa lisan dan pena kita tajam saat ini ? dan dalam kondisi apa hati kita merasa girang menari-nari ?
Semoga Allah Ta’ala melindungi kita semua dari kemunafikan dan kekufuran, amiin.
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى
Mohon perhatiannya, rekening “Peduli Gempa dan Tsunami Palu, Donggala dan Sekitarnya” akan, in-syaa Allah, kami tutup malam ini. Namun demikian, kami tetap menerima apabila ada yang ingin menyaluran lewat kami, ini dikarenakan sisa dana yang ada di rekening akan dimanfaatkan untuk program pasca bencana yang mana membutuhkan beberapa pekan/bulan kedepan untuk mentuntaskannya, in-syaa Allah.
Berikut adalah laporan sementara hingga malam ini. Laporan selengkapnya akan kami posting dalam beberapa pekan kedepan, in-syaa Allah.
Jazaakumullahu khoyron atas partisipasi dan dukungannya. Semoga Allah meridhoinya dan menjadikannya pemberat timbangan amal kebaikan kita semua di akherat kelak… Aamiin ya Robb
⚉ LPP dari SABTU hingga SELASA, 13 s/d 23 October 2018,hingga pukul 20:00 WIB,Lihat di bawah.