Hukum Mencuci Najis dan Bersuci Dengan Air Zam-Zam…

Tanya:

Bolehkah mencuci najis dan bersuci dengan air zam zam ?

Jawab:

Madzhab yang empat bersepakat bahwa mencuci najis dengan air zam zam itu terlarang. Namun mereka berbeda pendapat bolehkah air zam zam digunakan untuk bersuci dari hadats besar dan kecil? Menjadi tiga pendapat:

1. Pendapat imam Ahmad dalam suatu riwayat: Makruh hukumnya.

2. Pendapat imam Ahmad dalam riwayat lain: makruh untuk mandi besar saja. Boleh untuk wudlu.

3. Pendapat imam Malik, Abu Hanifah, imam Asy Syafi’i dan imam Ahmad dalam riwayat yang masyhur dan menjadi sandaran madzhab: Boleh mandi dan berwudlu dengan air zam zam.

Yang paling kuat adalah pendapat terakhir. Berdasarkan hadits bahwa Nabi pernah berwudlu dengan air zam zam. HR Ahmad dan dihasankan oleh ibnu Hajar dalam fathul bari.

Dan juga diqiyaskan dengan air mutlak lainnya dari sisi bahwa ia suci dan mensucikan.

Wallahu a’lam

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Kaidah Ushul Fiqih Ke 47 : Setiap Syarat Dalam Akad Yang Apabila Dilafadzkan Dapat Merusak Akad, Maka…

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-46) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 47 🍀

👉🏼  Setiap syarat dalam akad yang apabila dilafadzkan dapat merusak akad, maka sebatas berniat pun dapat merusak akad.

Contohnya :
⚉  Orang yang menikah dengan niat talaq, maka akadnya tidak sah atas pendapat yang paling kuat.

⚉  Orang yang menikahi wanita yang ditalaq tiga oleh suaminya dengan niat untuk mentalaqnya setelah itu agar wanita ini menjadi halal kembali untuk suaminya, maka akadnya rusak karena niat tersebut terlarang dalam syari’at.

Tetapi apabila wanita yang dinikahi tersebut tidak mengetahui niat lelaki yang menikahinya, maka nikah tersebut sah untuk wanita tersebut dan berdosa bagi lelaki yang menikahinya. Karena akad berlaku sesuai yang tampak bukan yang tidak tampak.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page:
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/
.
KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

HAL-HAL Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN – Penghalang Ke-15

Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 14) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Penghalang yang ke 15 🌿

Penghalang seseorang dari kebenaran (yang menyebabkan ia berpaling darinya) berikutnya adalah…

⚉   Kurangnya pemahaman dalam memahami kebenaran [ قلة الفهم ]

Ini merupakan salah satu perkara yang menyebabkan seseorang berpaling dari kebenaran… karena ketika seseorang kurang memahami tentang kebenaran, ia akan berpaling darinya.
Dan hal-hal yang menyebabkan ia kurang dalam memahami kebenaran, diantaranya :

1⃣  Kurangnya kecerdasan
Karena ia kurang cerdas akhinya ia kurang memahami kebenaran yang di sampaikan kepadanya.
Dan ini tentunya perkara yang sesuai dengan kemampuan seorang hamba.

Oleh karena itu seseorang semakin cerdas… semakin faham, semakin kurang cerdas… semakin kurang faham.

Maka yang seperti ini sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Allah tidak akan membebani kecuali sesuai kemampuannya.

2⃣  Sebab kenapa dia tidak paham kebenaran, karena tidak ada keinginan untuk memahaminya,
karena misalnya lebih mencukupkan diri dengan apa yang apa yang ia temukan dari nenek moyangnya… atau karena misalnya mengikuti hawa nafsunya, ia lalai dengan kelezatan dunia dan syahwatnya, sehingga ia tidak ingin memahami kebenaran tersebut. Maka pada waktu itu iapun tidak memahaminya.

3⃣  Kenapa seseorang tidak memahami kebenaran ?! bisa jadi karena adanya syubhat,
sehingga karena adanya syubhat akhirnya ia kurang memahami kebenaran yang di sampaikan kepadanya.

4⃣ Kemudian juga diantara perkara yang menyebabkan seseorang kurang dalam memahami dalam kebenaran, adanya tujuan yang buruk.
Tujuan yang buruk itu menyebabkan ia tidak memahami kebenaran. Karena ketika hati niatnya sudah tidak baik, maka Allah akan palingkan ia dari pemahaman yang benar, dan ini yang paling buruk karena ia telah mengumpulkan dua perkara yang buruk;
1. Yaitu tujuan yang buruk
2. Yaitu pemahaman yang buruk.

Maka yang seperti ini sering kali melihat kebenaran itu sebagai sebuah kebathilan.
Ini hal-hal yang menyebabkan seseorang itu tidak memahami kebenaran.

👉🏼   Lalu apa yang harus kita lakukan, ketika kita tidak memahami kebenaran ?

1⃣  Kita harus bersungguh-sungguh… dengan sekuat tenaga untuk mencari kebenaran.

Pepatah orang Arab berkata MAN JADDA WAJADA
“Siapa sungguh-sungguh ia akan dapat”, terlebih ketika terjadi perselisihan di kalangan Ummat Islam, seringkali kebenaran itu menjadi tersembunyi dan samar karena kebodohan yang merajalela atau syubhat yang kuat, sehingga akhirnya samarlah kebenaran tersebut.

Maka jika ia tidak bersungguh-sungguh di dalam mencarinya dan memahaminya, maka disaat itu ia akan terhalang dari kebenaran tersebut

2⃣  Dia berusaha bertanya kepada ahlinya.. agar ia bisa memahami kebenaran tersebut.

3⃣  Dia selalu minta kepada Allah agar di berikan hidayah dan pemahaman untuk memahami kebenaran.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Bekal Juru Dakwah…

⚉   Sufyan Ats Tsauri berkata:

لا يأمر بالمعروف ولا ينهي عن المنكر إلا من كان فيه ثلاث خصال رفيق بما يأمر رفيق بما ينهي عدل بما يأمر عدل بما ينهي عالم بما يأمر عالم بما ينهي

“Tidak layak untuk menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar kecuali orang yang telah memenuhi tiga kriteria:

1. Lemah lembut ketika memerintahkan yang ma’ruf, dan lemah lembut ketika melarang yang mungkar

2. Adil/Proporsional pada urusan ma’ruf yang ia perintahkan dan pada urusan kemungkaran yang ia larang.

3. Menguasai ilmu tentang apa yang ia perintahkan dan yang ia larang.”

(Al Waro’ oleh Imam Ahmad bin Hambal hal 155)

⚉   Ibnu Taimiyah berkata:

“Penguasaan ilmu harus dilakukan sebelum menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar.

Lemah lembut di saat menjalankan amar ma’ruf dan nahi mungkar, sehingga ia menempuh cara yang paling mudah dalam menjalankan misinya.

Tabah setelah menunaikan amar ma’ruf dan nahi mungkar, sehingga ia mampu bersabar menghadapi gangguan orang yang ia perintahkan untuk menjalankan yang ma’ruf atau ia cegah dari kemungkaranya. Karena sesungguhnya orang yang menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar biasanya menghadapi gangguan .”

(Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 15/167)

Ustadz Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

Kaidah Ushul Fiqih Ke 46 : Laksanakanlah Amanah Kepada Orang Yang Memberimu Amanah, Dan…

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-45) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 46 🍀

👉🏼  Laksanakanlah amanah kepada orang yang memberimu amanah, dan jangan mengkhianati orang yang mengkhianatimu.

Kaidah ini berasal dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam sunannya no 3535. Nabi shollallahu ‘alahi wasallam bersabda:

أد الأمانة إلى من ائتمنك ولا تخن من خانك

“Laksakanlah amanah kepada orang yang memberimu amanah dan jangan mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” Diriwayatkan oleh At Tirmidzi juga.

Contohnya :
⚉  bila ada orang yang mengatakan kepada kita, “Sampaikan salamku untuk si fulan.” Lalu kita mengatakan, “Saya sampaikan in-syaa Allah.” Maka kita wajib menyampaikan amanah tersebut. Berbeda bila kita tidak menerima amanah tersebut, maka bila tidak disampaikan pun tidak berdosa.

⚉  Bila ada orang yang berkhianat kepada kita, maka kita tidak boleh membalasnya dengan cara mengkhianatinya lagi. Misalnya bila kita menitipkan emas kepada teman yang kita berhutang kepadanya, lalu setelah sebulan kita memintanya namun ia malah mengingkari. Maka kita wajib membawakan bukti, dan jika tidak ada bukti, dia bersumpah bahwa kita tidak memberikan kepada dia apapun.

Tidak boleh kita membalasnya dengan cara tidak mau membayar hutangnya. Karena kemungkaran tidak boleh dibalas dengan kemungkaran lagi.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Bagaimana Adab Ketika Kita Dititipi Salam dan Cara Menjawab Titipan Salam…
.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page:
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/
.
KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Biasakan Mengucapkan Do’a Ini Ke Keluarga Kita…

Biasakan mengucapkan do’a berikut kepada istri, suami, anak, orangtua, teman, dll. Bila ditujukan ke wanita (istri atau ibu atau anak perempuan) maka katakanlah “Jazaakillahu khoyron“. Bila ditujukan ke pria (suami, ayah atau anak laki), maka katakanlah “Jazaakallahu/Jazaakumullahu Khoyron“, dan jawaban dari do’a tsb adalah “Wa Jazaakallahu/Jazaakumullahu/Jazaakillahu khoyron”

Dari ‘Usamah bin Zaid, ia berkata: Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا؛ فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاء

Barang siapa diberi suatu kebaikan, lalu ia mengucapkan kepada orang yang memberi kebaikan tersebut: “Jazaakallahu khoyron” (*), maka sesungguhnya hal itu sudah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.

[HR. at-Tirmidzi no. 1958, an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubro 6/53, dll. Dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shohih at-Targhib wat Tarhib 969]

(*) Artinya: “Semoga Allah membalas-mu dengan kebaikan

HAL-HAL Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN – Penghalang Ke-14

Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 13) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Penghalang yang ke 14 🌿

Perkara yang ke 14 yang menyebabkan seseorang terhalang dari hidayah yaitu…

⚉   Ia tidak berusaha untuk mengajak manusia kepada kebenaran [ تر ك هداية الناس للحق ]

Yang akibatnya Allah jadikan ia lupa kepada ilmu bahkan lama kelamaan akhirnya ia pun berpaling dari hidayah

قد يتر ك العبد تبليغ الحقَّ

Terkadang seorang hamba meninggalkan untuk menyampaikan hidayah, kebenaran dan ilmu yang ia seharusnya ajarkan kepada manusia….kenapa ?
Karena malas atau karena bakhil.

Maka… tentu ini sesuatu yang sangat buruk sekali, dan ini merupakan akhlaknya orang-orang Yahudi.

Allah mensifati orang Yahudi dalam QS An Nisaa : 37

‎الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُونَ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ

“Yaitu orang-orang yang bakhil dan memerintahkan manusia untuk bakhil dan mereka menyembunyikan apa yang Allah berikan kepada mereka berupa karunia-Nya”

⚉   Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah (Kitab Ash-shirootul-mustaqiim hal 7), berkata:

فو صَفَهُم بالبخل

“Allah mensifati mereka orang-orang Yahudi dengan kebakhilan,

الذي هو البخل بالعلم

yang maknanya adalah bakhil dengan ilmu

و البخل بالمال

dan bakhil dengan harta.

Walaupun redaksi ayat ini (kata beliau) lebih menunjukkan kepada bakhil dengan ilmu.

Maka orang yang bakhil terhadap ilmunya, itu sama halnya dengan orang Yahudi (atau tasyabuh dengan mereka.)

فإ نه سبب لِحر مان بر كة العلم والا نتفا ع به

Sebab ketika seseorang bakhil dengan ilmu, itu sebab terhalang dari keberkahan ilmu, terhalang untuk mengambil manfa’at dan ilmu, bahkan menyebabkan lupa dan hilang.”

⚉   Abdullah bin Mubarok rohimahullah berkata:

من بخل بالعلم ابتُلي بثلاث

“Orang yang bakhil dengan ilmu akan diberikan 3 perkara:

‎إما أن يَموت فيذهب علمه

ia meninggal ilmunya pun hilang

‎أو ينساه

atau ia melupakannya

‎أو يتبع سلطا ناً

atau ia menjadi penjilat penguasa”

Disebutkan dalam Kitab Aljaami’ ‘akhalqirrawii nomer 727

⚉   Berkata Ibnul Qayyim rohimahullah dalam Kitab Miftahdaarissaa’adah jilid 1 hal 172

فإن من خزن علمه، ولَمْ ينشر ه، ولَمْ يُعلَّمه ؛ ابتلاه الله بنسيانه وذها به منه

“Orang yang menyembunyikan ilmu dan dia tidak menyebarkannya/tidak mengajarkannya, Allah akan jadikan ia lupa dan hilang ilmunya

جزاء من جنس عمله

sebagai balasan perbuatannya.”

👉🏼   Oleh karena itulah orang yang mengetahui kebenaran, jangan ia menyembunyikan kebenaran, jangan ia malas untuk menyampaikan kebenaran kepada manusia, jangan ia merasa malas atau bahkan bakhil untuk mengajak manusia kepada AL HAQ (kebenaran), mengajarkan ilmu yang telah Allah berikan kepadanya.

⚉   Kata Ibnul Qayyim rohimahullah dalam kitab Risalah Ilaa kulli muslim hal 11-12

كما أن هدايته للغير وتعليمه ونصحه يفتح له باب الهداية

“Bahwasanya memberikan hidayah kepada orang lain berupa ilmu, mengajarkan dan memberikan nasehat itu membuka pintu hidayah untuknya.

فإن الجز اء من جنس العمل

karena balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan

فكلَّما هدى غير ه وعلَّمه؛ هداه الله و علَّمه

semakin ia memberikan hidayah kepada orang lain dan mengajarkan ilmu semakin Allah juga memberikan kepadanya hidayah dan mengajarkan kepadanya ilmu

فيصير هاديًا مَهديًّا

maka ia pun memberikan hidayah dan diberikan hidayah”

👉🏼   Sebagaimana didalam do’a Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam yang di riwayatkan Imam at-Tarmidzi :

اللٌَهُمَّ زيَّنا بزينة اﻹيْمان

“Ya Allah hiasi kami dengan hiasan iman

واجعلنا هداة مهتدين

dan jadikanlah kami orang-orang yang memberikan hidayah

عير ضالَّين ولا مضلَّين

bukan orang yang sesat, bukan pula orang yang menyesatkan

سِلْمًا لأو ليائك ، حر بًالﻹعدائك ، نُحب بِحبَّك من أحبَّك ، ونعادي بعداو تك من عاداك

kasih sayang kepada wali-walimu dan tegas terhadap musuh-musuhmu, mencintai dengan cintamu orang yang mencintaimu, dan memusuhi orang-orang yang memusuhimu.”
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Jadikanlah Amalmu Sebagai Kekasihmu..!

Hatim -rohimahulloh- mengatakan:

“Aku telah memperhatikan semua makhluk,
kudapati setiap orang memiliki kekasih, tapi
jika sampai ke kuburnya, kekasih itu pun
meninggalkannya.

Oleh karena itu, aku jadikan kekasihku adalah
amal-amal baikku, agar dia di alam kubur
bersamaku”
.

[Sumber: Mukhtashor Minhajul Qoshidin, hal:28]

Penterjemah :
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله

da121215-0449

Menebar Cahaya Sunnah