Jangan Terlena Dengan KELEBIHAN Yang Allah Berikan Padamu…

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Biasanya orang yang takjub (terlena) dengan dirinya; dia akan kalah -dengan izin Allah-.
   Jika dia terlena dengan banyaknya jumlah pasukan; dia akan dikalahkan.
   Bila dia terlena dengan ILMUNYA; dia akan tersesat.
⚉   Bila dia terlena dengan kecerdasannya; dia akan hilang jalan.

Maka janganlah kamu terlena dengan dirimu, begitu pula dengan kekuatan apapun yang kau miliki, namun mintalah pertolongan kepada Allah -azza wajall- dan SANDARKANLAH semuanya kepada-Nya, hingga terlaksana apapun yang kau inginkan”.

[Kitab: Syarah Riyadhus Sholihin: 6/669]

Ustadz DR. Musyaffa Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da270714-2144

Larangan Ber-ilmu Tentang Dunia Tapi Bodoh Tentang Akhirat Dan Menjauhi Sebab-Sebabnya…

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Ar Ruum Ayat 6 dan 7 :

وَلَٰكِ‍‍نَّ أَكْثَرَ ال‍‍نَّ‍‍اسِ لَا يَعْلَمُونَ
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّ‍‍نَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Akan tetapi kebanyakan manusia itu tidak mengetahui, mereka hanya mengetahui lahiriah dari kehidupan dunia saja, sementara mereka lalai dari kehidupan akhirat.”

⚉   Ayat ini mengecam orang yang hanya sebatas pengetahuannya tentang dunia namun mereka bodoh / tidak punya ilmu sama sekali atau sedikit ilmunya tentang kehidupan akhirat.

👉🏼   Maka dari itulah sangat tercela orang yang dia semangat mempelajari ilmu-ilmu dunia tetapi tidak punya semangat mempelajari ilmu-ilmu agama.

Padahal ilmu agama adalah bekal menuju kehidupan akhirat, dalam kuburanpun kita tidak akan ditanya tentang apakah kita belajar biologi atau fisika atau yang lainnya, akan tetapi ditanya tentang siapa Rabbmu, apa agamamu, siapa nabimu.

Walaupun pada awalnya ilmu dunia asalnya hukumnya mubah namun terkadang menjadi fardhu kifayah apabila menyempurnakan kewajiban dari ilmu agama.

Contoh misalnya :
Untuk Ibadah butuh kesehatan, dan tidak mungkin sempurna kewajiban ibadah kecuali dengan badan yang sehat maka tentu ada orang yang belajar tentang ilmu kesehatan itu sifatnya fardhu kifayah.

Kemudian beliau membawakan hadits Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu, Rosullullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda :

إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ بِالأَسْوَاقِ، جِيفَةٍ بِاللَّيْلِ، عَالِمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا، جَاهِلٍ بِأَمْرِ الآخِرَةِ

“Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang sombong lagi kasar suka berteriak-teriak seperti di pasar, bangkai di waktu malam dan keledai di waktu siang. Dia berilmu tentang dunia tapi bodoh tentang akhirat.” (HR. Ibnu Hibbaan dan Baihaqi)

Dan menurut beliau hadits ini hasan walaupun sebagian ulama mendhoifkannya.

⚉    Hadits ini menunjukkan bahwa Allah benci kepada sifat-sifat ini :
Orang yang sombong lagi kasar, demikian pula orang yang suka teriak-teriak itu bukanlah sifat seorang muslim yang berakhlak dengan akhlaq Rasul, dia di waktu malam hanya melewati dengan tidur saja, tidak shalat malam. Dia hanya berilmu tentang dunia tetapi dia bodoh tentang kehidupan akhirat.

Inilah adalah merupakan celaan bagi orang yang sebatas berilmu tentang dunia tapi dia bodoh tentang kehidupan ahirat.

👉🏼   Maka dari itulah kewajiban setiap muslim , betul-betul mempelajari ilmu agama/Akhirat ini supaya kita lurus aqidah kita, lurus ibadah kita, lurus juga akhlaq kita, muamalah kita, paham halal dan haram, paham jalan menuju Surga, jalan menuju api Neraka karena tujuan hidup manusia adalah Surga atau Neraka dan jalan menuju keduanya adalah harus mengetahui dari ilmu syari’at yang Allah turunkan berupa wahyu-Nya

Tidak mungkin kita mengetahui jalan menuju surga hanya sebatas dengan mempelajari ilmu dunia.

Tidak mungkin, karena di dalam Ilmu Biologi, Fisika misalnya tidak ada dijelaskan tentang halal dan haram, tentang jalan menuju ke surga atau neraka. Hanya ada dalam ilmu syariat.

Wallahu ‘alam 💐

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Tauhid Mausu’ah Al Manahi Asy Syar’iyyah – Ensiklopedi Larangan-Larangan Dalam Syariat, yang ditulis oleh Syaikh Salim bin Ied al Hilali, حفظه الله تعالى

KITAB FIQIH – Keutamaan Sujud Tilawah…

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Sujud Sahwi… bisa di baca di SINI

=======

=======

Dari Hadits Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu ia berkata Rosullullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ، اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِي، يَقُولُ: يَا وَيْلَهُ! أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ، فَلَهُ الْجَنَّةُ، وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ، فَأَبَيْتُ، فَلِي النَّارُ

“Apa bila seorang anak Adam membaca ayat As-Sajdah lalu ia sujud maka syaitan pergi sambil menangis, syaitan itu berkata, “Celakalah anak adam diperintahkan sujud maka ia pun sujud ia mendapatkan surga sementara aku disuruh sujud aku tidak mau sujud sehingga aku mendapatkan neraka.” (HR Muslim)

Ini menunjukkan ketika kita sujud membuat syaitan menangis.

=====================
HUKUM SUJUD TILAWAH

Para ulama berbeda pendapat tentang sujud tilawah.

⚉   Sebagian ulama mengatakan WAJIB berdasarkan hadits tadi, yang mengatakan anak Adam diperintahkan untuk sujud iapun sujud, sedangkan kata-kata “diperintahkan itu hukumnya wajib”.

⚉   Mayoritas ulama mengatakan sujud tilawah hukumnya SUNNAH saja.

Berdasarkan beberapa riwayat diantaranya :

⚉   Hadits Bukhari dan Muslim dari Zaid bin Tsabit rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

Aku membacakan kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam surat An-Najm namun ia tidak sujud.”

⚉   Juga berdasarkan riwayat Umar bin Khattab rodhiyallahu ‘anhu ia pernah membaca surat An-Nahl dihari Jum’at diatas mimbar, sehingga apabila beliau melewati ayat As-Sajdah beliaupun turun lalu sujud dan orang-orang pun ikut sujud.

Ketika sholat Jum’at berikutnya beliau juga membaca surat An-Nahl juga ketika beliau melewati ayat As-Sajdah ia berkata,

“Wahai manusia sesungguhnya kami melewati ayat As-Sajdah, maka barangsiapa mau sujud sungguh ia telah benar dan siapa yang tidak sujud ia tidak berdosa.”

Dan Umar saat itu tidak sujud, ini menunjukkan bahwa hukumnya sunnah.

Kenapa ?

Karena tidak ada satupun sahabat yang mengingkari perkataan Umar sementara Umar berkata diantara sahabat.

👉🏼   Sehingga ini menjadi ijma’ mereka dan inilah pendapat yang rojih bahwa sujud tilawah hukumnya tidak wajib tapi SUNNAH MU’AKADAH.

=====================
AYAT-AYAT SAJADAH

Sebagian ulama mengatakan 15 ayat. Namun yang rajih ada 14 ayat yaitu ;

1. Diakhir surat Al-A’raf ayat ke 206
2. Surat Ar Raad : 15
3. Surat An-Nahl : 49
4. Surat Al-Isra’ : 107
5. Surat Mariam : 58
6. Surat Al-Hajj : 18
7. Surat Al-Furqan : 60
8. Surat An-Naml : 25-26
9. Surat As-Sajdah : 15
10. Surat Sad : 24
11. Surat Fussilat : 37
12. Surat An-Najm : 62
13. Surat Al-Insyiqaq : 21
14. Surat Al-‘Alaq : 19

⚉   Dan kalau kita melihat mushaf dalam surat Al-Hajj : 18 ada dua ayat As-Sajdah namun yang shohih yaitu di ayat ke-18, adapun yang diakhir surat itu riwayatnya dho’if sehingga tidak bisa dijadikan hujjah.

Oleh karena itu Syaikh Albani rohimahullah menyatakan bahwa itu dho’if karena didalamnya sanad ada perawi-perawi yang majhul.

Wallahu a’lam

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…

Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah – Tujuan Menuntut Ilmu Untuk Mengamalkannya…

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Ada Apa Dengan Menyukai QS Yusuf Melebihi Surat Lainnya..?

Anda suka mendengar Surat Yusuf melebihi surat lainnya ?

Bila betul demikian, simak penjelasan Imam Ibnu Timiyah berikut:

Sebagian orang dan juga wanita ada yang senang mendengarkan surat Yusuf, dikarenakan pada surat Yusuf dibawakan cerita tentang asmara dan hal-hal yang terkait dengannya.

Ia mencintai surat Yusuf dibanding surat lainnya dikenakan di dalam dirinya ada asmara yang membara dan kecenderungan untuk berbuat keji ( zina). Sampai-sampai sebagian mereka berusaha dengan sungguh sungguh untuk sering memperdengarkan surat tersebut kepada kaum wanita atau lainnya, dikarenakan pada diri mereka terdapat kecenderungan kepada perbuatan buruk, mereka begitu antusias untuk hal itu.

Di saat yang sama, mereka tidak senang untuk mendengarkan kandungan surat An Nur yang menjelaskan tentang hukuman dan larangan dari perbuatan keji (zina).”

(majmmu’ fatawa ibnu Taimiyyah 15/335)

Ayo jujur saja…

Ustadz Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Bagaimana Mengatur Rasa Takut Dan Rasa Harap Kepada Allah

Al-Fudhail bin Iyadh -rohimahulloh- pernah mengatakan:

“Rasa takut lebih baik daripada rasa harap selama seseorang dalam keadaan sehat. Lalu apabila ajal menghampirinya, maka rasa harap lebih baik daripada rasa takut.

Jika pada saat keadaannya sehat dia melakukan kebaikan; tentu akan menjadi besar rasa harap dan husnuzhonnya (kepada Allah) saat kematian (menghampirinya).

(Tapi) bila pada saat sehatnya dia melakukan keburukan; tentu dia akan su’uzhon ketika kematian (menghampirinya), dan tidak akan bertambah rasa harapnya (kepada Allah).”

[Hilyatul Auliya’ 8/89].

——

Inilah cara yang sangat baik dalam mengatur hati kita.. dengan rasa takut saat keadaan baik, maka kita tidak akan terlena dengan nikmat yang Allah berikan kepada kita.. kita akan menggunakan sebaik-baiknya untuk mendapatkan pahala yang dapat memuliakan kita nantinya.

Dan dengan rasa berharap baik kepada Allah saat ajal menjemput kita, maka kita akan tenang, bahagia, dan bisa menghadapi kematian dengan baik, sehingga Allah akan memudahkan kita dalam menutup hidup dengan kalimat “Laa ilaaha illallah”

Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- telah bersabda: “Siapa yang akhir ucapannya Laa ilaaha illallah; pasti dia masuk surga..”[HR. Abu Daud: 3116]

Semoga Allah memberikan kita semua husnul khotimah… amin.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat.

Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Cinta Yang Benar

Kecintaan yang benar dari seorang muslim kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu bagaimana..?

PERTAMA, DIRASAKAN DI HATI

Seorang yang beriman betul-betul merasa dari hatinya, dia mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang beriman, dia beramal siang dan malam agar bisa bersama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kelak di surga yang penuh dengan kenikmatan. Inilah cinta yang benar. Kemudian kecintaan yang ada didalam hati ini akan tampak pada anggota badan dalam perbuatan.

Orang yang jujur dalam cintanya, dia akan mengikuti sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berjalan dengan manhaj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّـهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّـهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّـهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali-Imran[3]: 31)

Ayat inilah yang disebut oleh ulama dengan Ayatul Mihnah (ayat ujian). Yaitu menguji mereka yang mengucapkan “Aku cinta Allah.” Jika cintanya benar dengan dibuktikan dengan mengikuti sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan dengan mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, minimal mendapatkan dua keutamaan. Yaitu mendapatkan cinta Allah dan mendapatkan ampunan.

Cinta kepada Allah adalah pokoknya, sedangkan mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah cabang. Orang yang mencintai Allah, dia akan mencintai RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang mencintai Allah, dia akan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia akan meniti jalannya dan manhajnya. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru manusia kejalan yang lurus. Dan memberikan bimbingan kepada jalan yang lurus. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

…وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“…Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura[42]: 52)

KEDUA, SURI TAULADAN

Cinta yang benar adalah menjadikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai contoh untuk dirinya. Kalau hanya mengatakan, “Aku cinta Nabi”, kemudian tidak mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka cintanya adalah cinta palsu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّـهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّـهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّـهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab[33]: 21)

Perhatikanlah wahai umat Islam, keadaan para pemuda dan pemudi kita, perhatikan juga rumah-rumah kita, kita dapati kita mengambil contoh dari orang-orang kafir. Kita meniru mereka dalam penampilan kita, begitupun dalam makan, dalam perdagangan kita, bahkan cara berbicara kita, kita lebih memilih mencontoh orang-orang kafir dari pada mencontoh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu mari kita perbaiki keadaan kita. Hendaknya kalau kita cinta kepada Rasul, kita jadikan Rasul sebagai suri tauladan kita.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, حفظه الله تعالى.

Kaidah Ushul Fiqih Ke 48 : Pada Asalnya Syarat Dalam Akad Dan Perdamaian Adalah Boleh, Kecuali…

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-47) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 48 🍀

👉🏼  Pada asalnya syarat dalam akad dan perdamaian adalah boleh, kecuali bila syarat tersebut menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal.

Contoh syarat yang boleh:
⚉  Apabila si A menjual rumahnya ke B dan A meminta syarat untuk tinggal dahulu selama setahun di rumah tersebut dan B menyetujuinya.

Contoh lain (*):
⚉  Bila penjual berkata kepada pembeli: Saya mau menjual mobil saya kepadamu seharga 200 juta misalnya dengan syarat kamu menggadaikan rumahmu kepadaku.

Contoh syarat perdamaian yang boleh:
⚉  Bila seorang laki laki mempunyai dua istri, lalu dua istri tersebut berdamai dimana istri yang keduanya berkata, “Nggak apa-apa kamu tidak menafkahi aku asal jangan ceraikan aku.”
Syarat seperti ini diperbolehkan karena nafkah adalah hak istri. Di sini istri telah menggugurkan haknya.

Contoh yang tidak boleh:
⚉  Bila si A meminjamkan uang kepada B dengan syarat mengembalikan uang dengan tambahan sejumlah uang. Maka ini riba.

Dalil kaidah ini adalah hadits:

من اشترط شرطا ليس في كتاب الله فهو باطل و إن كان مائة شرط

Siapa yang memberikan syarat yang tidak sesuai dengan kitabullah maka ia batil walaupun seratus syarat.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dan sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam yang artinya perdamaian dibolehkan dikalangan  kaum muslimin, kecuali perdamaian menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Dan orang-orang Islam bergantung pada syarat-syarat mereka (yang telah disepakati), selain syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.” (HR. Ibnu Hibban dan At Tirmidzi).
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
.
TAMBAHAN :
(*) Pada akhir hayat Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menggadaikan perisai beliau kepada orang Yahudi, karena beliau berutang kepadanya beberapa takar gandum.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: اِشْتَرَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مِنْ يَهُوْدِيٍّ طَعَاماً نَسِيْئَةً وَرَهْنَهً درعَهُ

Dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha, ia mengisahkan, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam membeli bahan makanan (gandum) secara tidak tunai dari seorang Yahudi, dan beliau menggadaikan perisainya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page:
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/
.
KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

HAL-HAL Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN – Penghalang Ke-16

Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 15) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Penghalang yang ke 16 🌿

Penghalang selanjutnya untuk mendapatkan Ilmu dan Kebenaran yaitu..

⚉   Tempat Tumbuh
dimana seseorang tumbuh di atas suatu aqidah atau keyakinan atau suatu kebiasaan.. sehingga kebiasaan yang memang dia sudah berada dari semenjak kecil, dianggap sebagai suatu kebenaran.

Maka ketika seseorang tumbuh di atas perkara yang menyimpang dan diapun dewasa dan bahkan tua diatasnya.. maka dia akan menganggap bahwa itu adalah sebagai sebuah kebenaran yang tidak boleh di rubah.

⚉   Oleh karena itulah Abdulllah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata “Bagaimana keadaan kalian apabila fitnah itu telah benar-benar menguasai kalian ? Anak kecil yang tumbuh di atas fitnah itu, orang dewasa tua diatas fitnah tersebut, sehingga fitnah tersebut dianggap Sunnah (dianggap kebaikan). Apabila fitnah tersebut ada yang merubahnya, disangka telah ada kebenaran atau Sunnah yang di rubah, padahal itu adalah bukan Sunnah tapi fitnah” …(inilah) akibat daripada seseorang tumbuh dan dewasa diatas fitnah tersebut, diatas perkara yang tidak benar itu

⚉   Syaikh Abdurrahman Asy-Sya’di rohimahullah ketika menafsirkan Surat An-Naml ayat 43

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

وَصَدَّهَا مَا كَانَت تَّعْبُدُ مِن دُونِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّهَا كَانَتْ مِن قَوْمٍ كَٰفِرِينَ

Dan yang mencegah (Ratu Bilqis) untuk beriman kepada Allah adalah yang dahulu mereka biasa sembah selain Allah

Kata Syaikh Abdurrahman Asy-Sya’di rohimahullah (dalam Kitab At-Taisil Al-Latif Al-Manan hal. 194) maksudnya yaitu ialah : Aqidah yang ia tumbuh diatasnya, dimana pendapat-pendapat atau keyakinan-keyakinan yang rusak itu telah menguasai akal orang yang berakal, bahkan menghilangkan pikiran yang jernih.”

Kenapa ? Karena ia telah tumbuh diatas keyakinan tersebut, sehingga akhirnya menghalangi dia untuk berfikir dengan yang lurus. Karena dia menganggap itu sebagai sebuah kebiasaan.

⚉   Ibnul Qayyim Rohimahullah (dalam Kitab Al Miftah Darus-Sa’adah dalam jilid I hal 98) berkata : “Diantara perkara yang mencegah seseorang untuk mendapatkan hidayah yaitu kebiasaan dan tempat tumbuh, dimana seseorang tumbuh diatas suatu aqidah dan keyakinan.”

Karena kata beliau.. kebiasaan yang sudah ia terbiasa diatasnya itu menjadi kuat dan mengalahkan tabiat, bahkan ia menjadi sesuatu yang sulit sekali untuk ditinggalkan ketika ia sudah terbiasa diatasnya.

⚉   Oleh karena itulah Imam Ahmad rohimahulah mengatakan “Orang tua itu hampir susah untuk masuk Islam, berbeda dengan anak muda ia lebih mudah masuk Islam.”

Artinya orang tua itu yang sudah tumbuh diatas sesuatu biasanya dia akan kuat sekali memegang sesuatu tersebut, berbeda dengan anak yang masih muda.

Maka ini adalah beberapa yang menjadi sebab seseorang itu terhalang dari hidayah, maka tentu kewajiban seorang hamba Allah adalah :

menggunakan akal pikiran dia untuk memahami apakah kebiasaan yang selama ini ia jalankan sesuai dengan syariat Allah atau tidak,
• kemudian menghilangkan fanatik terhadap nenek moyang dan adat istiadat,
• dan meyakini bahwa adat istiadat itu semua adalah buatan manusia sedangkan syariat itu berasal dari pencipta manusia.

👉🏼   Maka dari itulah TIDAK BOLEH seorangpun beralasan dengan adat istiadat untuk meninggalkan syariat karena syariat itulah yang harus dijadikan sebagai sebuah panduan hidup karena ia berasal dari Allah Subhanahu Wata’ala.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Bila Sholat Sunnah Qobliyah Shubuh Terlewat

Keutamaan sholat sunnah qobliyah Shubuh atau sholat sunnah Fajar.

Dalam shohih Muslim terdapat hadits dari ‘Aisyah, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua roka’at sunnah fajar (qobliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” Dalam hadits muttafaqun ‘alaih, ‘Aisyah mengatakan, “Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan satu pun sholat sunnah yang kontinuitasnya (kesinambungannya) melebihi dua rokaat (sholat rawatib) Shubuh.”

Lalu… bagaimana jika kita telat datang ?
Sesampainya di masjid Imam jama’ah Shubuh sedang menunaikan sholat Shubuh. Apakah boleh sholat sunnah qobliyah Shubuh diqodho’? Kapan diqodho’nya?

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz,rohimahullah, berkata :

“Jika seorang muslim tidak mampu menunaikan sholat sunnah fajar sebelum penunaian sholat Shubuh, maka ia boleh memilih menunaikannya setelah sholat Shubuh atau menundanya sampai matahari meninggi. Karena ada dalil (hadits) yang menunjukkan bolehnya kedua-keduanya.

Akan tetapi jika menundanya sampai matahari meninggi itu lebih baik karena ada perintah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hal ini. Adapun qodho’ sholat sunnah fajar tadi setelah sholat Shubuh maka telah shohih pula dari ketetapan (taqrir) beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bolehnya.”

(Majmu’ Al Fatawa, 11: 373)
.
.
HADITS PERTAMA
.
Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang belum menunaikan sholat sunnah Fajar, hendaklah ia menunaikannya setelah terbit matahari.” (HR. at Tirmidzi)
.
.
HADITS KEDUA
.
Dari Qois (kakeknya Sa’ad), ia berkata, “Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihatku sedang sholat sunnah fajar setelah sholat Shubuh. Beliau berkata, “Dua roka’at apa yang kamu lakukan, wahai Qois ?” Aku berkata, “Wahai Rosulullah, aku belum melaksanakan sholat sunnah Fajar. Inilah dua roka’at sholat sunnah tersebut.” Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam lantas mendiamkannya.” (HR. Al Baihaqi, shohih)

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah