Ini Bacaan Terbaik di Hari Arafah…

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

“Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan “LAA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIIKA LAH, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALAA KULLI SYA-IN QODIIR (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Miliki-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu).”

(HR. Tirmidzi no. 3585; Ahmad, 2:210. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih, lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1503, 4:8.)

Puasa Arafah Ikut Siapa..?

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin juga mendapat pertanyaan sebagai berikut, “Jika terdapat perbedaan tentang penetapan hari Arafah disebabkan perbedaan mathla’ (tempat terbit bulan) hilal karena pengaruh perbedaan daerah. Apakah kami berpuasa mengikuti ru’yah negeri yang kami tinggali ataukah mengikuti ru’yah Haromain (dua tanah suci) ?”

Syaikh rahimahullah menjawab,

“Permasalahan ini adalah turunan dari perselisihan ulama apakah hilal untuk seluruh dunia itu satu ataukah berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah. Pendapat yang benar, hilal itu berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah.

Misalnya di Makkah terlihat hilal sehingga hari ini adalah tanggal 9 Dzulhijjah. Sedangkan di negara lain, hilal Dzulhijjah telah terlihat sehari sebelum ru’yah Makkah sehingga tanggal 9 Dzulhijjah di Makkah adalah tanggal 10 Dzulhijjah di negara tersebut. Tidak boleh bagi penduduk Negara tersebut untuk berpuasa Arafah pada hari ini karena hari ini adalah hari Idul Adha di negara mereka.

Demikian pula, jika kemunculan hilal Dzulhijjah di negara itu selang satu hari setelah ru’yah di Makkah sehingga tanggal 9 Dzulhijjah di Makkah itu baru tanggal 8 Dzulhijjah di negara tersebut. Penduduk negara tersebut berpuasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah menurut mereka meski hari tersebut bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah di Mekkah.

Inilah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian melihat hilal Ramadhan hendaklah kalian berpuasa dan jika kalian melihat hilal Syawal hendaknya kalian berhari raya” (HR Bukhari dan Muslim).

Orang-orang yang di daerah mereka hilal tidak terlihat maka mereka tidak termasuk orang yang melihatnya.

👉🏼  Sebagaimana manusia bersepakat bahwa terbitnya fajar serta tenggelamnya matahari itu mengikuti daerahnya masing-masing, demikian pula penetapan bulan itu sebagaimana penetapan waktu harian (yaitu mengikuti daerahnya masing-masing)”. (Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 20/47-48, Darul Wathon – Darul Tsaroya, cetakan terakhir, tahun 1413 H)

👉🏼  Kesimpulan dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, puasa Arafah mengikuti penanggalan atau penglihatan di negeri masing-masing dan tidak mesti mengikuti wukuf di Arafah. Wallahu a’lam, wallahu waliyyut taufiq.

Semoga bermanfaat.

Ustadz Zainal Abdin Syamsuddin Lc, حفظه الله تعالى.

Kaidah Ushul Fiqih Ke 32 : Haram Melanjutkan Ibadah Atau Muamalah Yang Rusak, Kecuali …

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-31) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 32 🍀
.
👉🏼   Haram melanjutkan ibadah atau muamalah yang rusak, kecuali haji dan umroh tetap wajib dilanjutkan.
.
Apabila suatu ibadah atau muamalah rusak karena tidak memenuhi syaratnya atau meninggalkan rukunnya maka tidak boleh kita melanjutkan ibadah atau muamalah tersebut.
.
⚉    contohnya bila kita sedang berwudlu, lalu nyata kepada kita airnya najis, maka tidak boleh kita lanjutkan dan wajib dibersihkan anggota yang terkena najis tersebut.
.
⚉    Apabila kita sholat lalu buang angin, wajib menghentikan sholat dan berwudlu kembali.
.
⚉    Jual beli yang mengandung riba tidak boleh dilanjutkan kecuali bila tidak mungkin dihentikan seperti bila kita membeli rumah secara kredit namun dengan akad ribawi.
.
⚉    Bila seorang wanita sedang puasa lalu ia haidh, maka haram baginya meneruskan puasanya tersebut.
.
⚉    Dikecualikan dalam masalah ini adalah haji dan umroh. Maka wajib disempurnakan walaupun ia telah rusak, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وأتموا الحج والعمرة لله

Dan sempurnakanlah haji dan umroh untuk Allah.” (Al Baqoroh: 196).

Apabila seseorang berjima disaat mabit di muzdalifah misalnya, maka hajinya rusak  tidak sah tapi ia wajib menyempurnakannya sampai selesai, dan ia wajib haji lagi di tahun mendatang.
Ini tidak ada bedanya antara haji wajib atau haji sunnah. Demikian pula umroh.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page:

https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/
.
KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

TIGA Do’a Yang Jangan Pernah Dilewatkan…

.
.
YUK HAFALKAN DAN RUTINKAN MEMBACA KE – TIGA DO’A INI….
.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

.إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.

Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah Subhanahhu wa Ta’ala akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya.” Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa; “Allahumma mushorrifal quluub shorrif  quluubanaa ‘ala thoo’atik

[Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu!] .

(HR. Muslim no. 2654). An Nawawi membawakan hadits ini dalam bab, “Allah membolak-balikkan hati sekehendak-Nya.”

Faedah hadits:

1. Hati manusia berada di antara dua jari dari sekian jari Allah yang Maha Pemurah. Allah memalingkan hati manusia tersebut  sesuai kehendak-Nya.
.
2. Jika sudah mengetahui demikian, maka hendaklah setiap hamba rajin memohon pada Allah agar diberi hidayah dan keistiqomahan serta agar tidak menjauh dari jalan yang lurus.
.
3. Jika seorang hamba bergantung dan bersandar pada dirinya sendiri, tentu ia akan binasa.
.
4. Hendaknya hamba menyerahkan segala usahanya kepada Allah Ta’ala dan janganlah ia berpaling dari-Nya walaupun sekejap mata.
.
5. Hendaklah setiap hamba memohon kepada Allah agar terus menerus diteguhkan hati  dalam ketaatan dan tidak sampai terjerumus dalam maksiat atau kesesatan.
.
6. Di sini dikhususkan hati karena jika hati itu baik, maka seluruh anggota badan lainnya juga ikut baik.
.
Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal,  حفظه الله تعالى.

Jika Wukuf Di Arafah Berbeda Dengan Penanggalan Di Tanah Air

Fatwa Syaikh Prof. Dr. Sulaiman Ar Ruhaili حفظه الله تعالى (Guru besar di Fakultas Syar’iah Universitas Islam Madinah, pengajar tetap di masjid Nabawi)

SOAL:

Apabila hari Arafah, yakni hari wukufnya para jama’ah haji di Arafah, berbeda dengan penanggalan di negeri kami, apakah kami puasa Arafah ataukah tidak..?

JAWAB:

Yang nampak bagi saya -beriring harap semoga Allah merahmatiku dan mengampuniku- bahwa apabila hari Arafah di Arab Saudi, bertepatan dengan tanggal 8 Dzulhijah berdasarkan penghitungan tanggal di negeri kalian, jadi hari Arafah 9 Dzulhijah di sini (Arab Saudi), bertepatan dengan tanggal 8 Dzulhijah di negeri kalian, maka puasalah di hari ke 8 dan ke 9 Dzulhijah (berdasarkan penghitungan tanggal di negeri kalian. pent).

Melakukan hal seperti ini tidak masalah. Karena hari raya Idul Adha di negeri kalian, sesuai perhitungan tanggal di negeri kalian, bukan ikut negeri kami [1].

Jadi :
– berpuasalah di hari ke 8 dalam rangka menepati hari wukufnya para jama’ah haji di padang Arafah,
– kemudian puasa pada tanggal 9, karena pada hari tersebut adalah hari Arofah berdasarkan penghitungan tanggal di negeri kalian.

Adapun apabila tangal 9 Dzulhijah; yakni hari wukuf jama’ah haji di padang Arafah, bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijah di negeri kalian, maka tidak perlu puasa. Karena hari tersebut adalah hari raya Idul Adha di negeri kalian. Dan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah melarang kita untuk berpuasa di hari raya [2].

Demikian yang nampak bagi kami dalam masalah ini.

Wallahu a’lam.
.
***
.
Catatan kaki:
.
[1] Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

صَوْمُكُمْ يَوْمَ تَصُومُونَ وَفِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّونَ

Hari puasa kalian adalah hari ketika orang-orang berpuasa, Idul Fitri kalian adalah hari ketika orang-orang berbuka, dan Idul Adha kalian adalah hari ketika orang-orang menyembelih” (HR. Tirmidzi. Beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib).

[2]. Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ يَوْمِ الأَضْحَى وَيَوْمِ الْفِطْرِ

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari puasa pada dua hari: Idul Fithri dan Idul ‘Adha” (HR. Muslim no. 1138)
______
.
Fatwa ini beliau sampaikan pada saat sesi tanya jawab kajian fikih haji dari kitab “Dalil at tholib li Nailil mathoolib“, ba’da ashar, di masjid Nabawi. Pada tanggal 12 September 2015.

Rekaman fatwa bisa didengar pada link berikut:

https://www.dropbox.com/s/3799q36d05fmksw/Puasa%20Arafah%20ikut%20mana.m4a?dl=0
.
***Kota Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, 5 Dzulhijah 1436
.
Didengarkan langsung dan diterjemahkan oleh: Ustadz Ahmad Anshori
.
Artikel : Muslim.or.id

Ikut Arofah..

Mereka yang berpendapat bahwa puasa arofah harus ikut arofah berdalil dengan lafadz hadits: puasa hari arofah…dst
.
Namun menurut ana pendalilan tersebut adalah lemah. Coba antum fahami hadits: puasa hari arofah menghapus dosa setahun dan sesudahnya..
.
Nabi mengatakan itu dimana ? di Madinah.
.
Apakah Nabi menunggu nunggu waktu orang orang wuquf di arofah atau nabi melihat hilal sendiri ? padahal bisa saja nabi menerima berita dari mekkah kapan mulai dzulhijjah di sana.
.
Ketika nabi tidak menanyakan hal itu dan tetap melihat hilal sendiri, menunjukkan bahwa hilal tetap yang menjadi acuan.
terlebih Allah berfirman:
.
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ
.
“Mereka bertanya kepadamu tentang hilal, katakan ia adalah waktu waktu untuk manusia dan haji.” (AlBaqoroh: 189)
.
Dan hilal itu berbeda antara suatu negara dengan negara lain atas pendapat yang rojih. Wallahu a’lam.
.
Yang jelas ini adalah masalah khilafiyah yang tak perlu saling memaksakan pendapat. Namun pintu diskusi tetap terbuka.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Jangan Sampai…

Jangan sampai engkau jadikan hubunganmu dengan Allah seperti hubunganmu dengan mobil Ambulance, engkau hanya menghubunginya saat darurat saja.

Akan tetapi,

Jadikanlah hatimu selalu bergantung kepada Allah, baik saat darurat maupun saat lapang.. Ingatlah selalu kepada-Nya, baik saat sedih maupun saat bahagia.

Sungguh, ingat kepada Allah dan dekat dengan-Nya adalah sumber kebahagian.. sebagaimana dekat dengan orang-orang yang engkau cintai mendatangkan kebahagiaan.

Jika dengan mendekat kepada Allah belum menjadikan engkau bahagia, berarti engkau sebenarnya belum mencintai Allah.. Cintailah Allah sepenuh hati, niscaya akan datang kebahagiaan hakiki yang tiada tara.

Dan buktikan cinta itu dengan MENTA’ATI semua yang datang dari utusan-Nya Muhammad shallallahu alaihi wasallam, sebagaimana firman-Nya (yang artinya):

“Katakanlah: jika kalian MENCINTAI Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. [Alu Imran: 31].

Silahkan dishare.. semoga bermanfaat..

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da190817-2052

Sapu Bersih…

Hari ini tanpa terasa kita telah memasuki hari ke 7 bulan Dzulhijjah.

Hari-hari yang disabdakan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagai hari terbaik untuk beramal shalih ini hanya menyisakan beberapa hari saja, namun masih banyak amalan yang belum kita maksimalkan bahkan mungkin sama sekali belum kita sentuh.

Saudaraku,

Jangan putus asa dan menyerah, jangan terbesit untuk mengibarkan bendera putih!

Mari kita SAPU BERSIH hari-hari terakhir ini, puncak 10 hari terakhir (baca: tanggal 7, 8, 9, 10 Dzulhijjah) belum lepas dari genggaman kita.

Bagi yang belum berpuasa, maka berpuasalah di hari ahad, senin dan selasa, karena tanggal 1 s/d 9 adalah hari berpuasa dengan kesepakatan 4 imam madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad), bahkan Imam Mardawi menyatakan tidak ada perbedaan dalam hal ini**.

Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- berpuasa pada 9 hari ini.

(HR. Abu Daud dan An Nasa’i)

Bagi yang belum membaca Al Quran, jangan tunda untuk membuka mushaf anda dan mulai membaca!

Iringi aktivitas anda dengan memperbanyak takbir, dan dzikir seperti yang diperintahkan ALLAH dalam QS. Al Hajj: 28.

Ambilah sebagian tabungan anda dan belilah hewan kurban lalu sembelihlah pada tanggal 10. Yakinlah kurban anda tidak akan sia-sia dan akan membuka pintu surga lalu pintu rizki anda.

Perbanyaklah shalat-shalat sunnah!

Jangan lupa memperbanyak infak, sedekah dan berbagi bersama fakir miskin dan anak yatim.

Tidak lupa, berikan hadiah kepada orang yang anda sayangi dan hormati.

Terakhir, maksimalkan amalan-amalan wajib anda:

Jaga shalat 5 waktu, selesaikan hutang puasa anda sebelum puasa arafah, keluarkan zakat anda jika telah masuk haul, berbaktilah pada orangtua, berkhidmat kepada suami, tunaikan hak istri dan anak serta amalan wajib lainnya.

Ingatlah titik krusialnya bukan pada saat anda memulai, NAMUN BAGAIMANA ANDA MENUTUP 10 HARI INI.

Sekali lagi, mari kita sapu bersih hari-hari yang tersisa dan tutuplah 10 hari ini dengan husnul khatimah

**lihat Al Fatawa Al Hindiyyah 1/201, Syarah Mukhtashar Khalil 3/16-17, Raudhatut Thalibin 2/388, Al Inshaf 3/345.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri,  حفظه الله تعالى

NB: Tulisan ini di posting pertama kali 08 September 2016.
https://bbg-alilmu.com/archives/21617
Diposting ulang dengan sedikit penyesuaian penyebutan hari.
da280817-2211

Melipat-Gandakan Pahala…

Di 10 hari-hari awal Dzulhijjah ini, kaum muslimin seharusnya lebih giat berlomba di hari-hari ini untuk menggapai rahmat dan hidayah Allah melalui peningkatan kuantitas dan kualitas ibadah dan do’a kepada-Nya. Hanya saja, terkadang seorang muslim dihadapkan pada sekian banyak amalan yang ingin ia kerjakan semuanya. Namun kesempatan, waktu dan fisik tidak memungkinkannya untuk menuntaskan segala amalan sholeh yang ia inginkan. 
.
Dalam kondisi demikian, penting bagi seorang muslim untuk mengetahui beberapa amal sholeh yang mengundang pahala yang lebih besar dibandingkan amalan lainnya
.
Berikut adalah beberapa amal sholeh yang kita bisa segera lakukan : 
.
1.  Sholat Berjama’ah di Masjid.  Faedah : Sholat berjama’ah di Masjid bernilai 27 x lipat, dan juga pahala melangkah ke Masjid dimana satu langkah kakinya menghapuskan dosa, dan satu langkah kaki lainnya meninggikan derajat. Simak (audio) penjelasannya berikut ini  : https://bbg-alilmu.com/archives/38030.  Sedangkan bagi kaum wanita, mana yang lebih utama, apakah sholat di Masjid au di rumahnya ? Simak (audio) penjelasannya berikut ini  : https://bbg-alilmu.com/archives/36914
.
====================================
.
2.  Sholat ‘Isya dan Sholat Shubuh Berjama’ah Di Masjid. Faedah : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ

Barangsiapa yang sholat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah sholat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang sholat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah sholat seluruh malamnya.” (HR. Muslim no. 656) 
.
====================================
.
3. Sholat Shubuh Berjama’ah Di Masjid Lalu Duduk Hingga Terbit Matahari Lalu Sekitar 15 Menit Kemudian Sholat Sunnah 2 Roka’at Syuruq. Faedah : Orang yang melaksanakannya diberi pahala oleh Allah seperti pahala haji dan umroh dengan sempurna. Baca penjelasannya berikut ini  : https://bbg-alilmu.com/archives/38812
.
====================================
.
4. Membaca 100 Ayat Al Quran Di Malam Hari. Faedah :  Siapa yang membaca 100 ayat pada suatu malam dituliskan baginya pahala sholat sepanjang malam. Simak (audio) penjelasannya berikut ini terkait apakah 100 ayat ini dibaca di dalam sholat malam atau mutlak : https://bbg-alilmu.com/archives/21334 .
.
====================================
.
5.  Bersiwak Sebelum Sholat. Faedah : Siapa yang bersiwak sebelum sholat, maka nilai pahala sholatnya 70 x dari tanpa bersiwak. Simak (audio) penjelasannya berikut ini : https://bbg-alilmu.com/archives/35400
.
====================================
.
6.  Sholat Sunnah 4 Roka’at Setelah Sholat ‘Isya. Faedah : Sholat sunnah 4 roka’at setelah ‘Isya pahalanya seperti sholat sunnah di malam Laylatul Qodr (Malam 1000 bulan).  Simak (audio) penjelasannya dan juga tata caranya berikut ini : 
https://bbg-alilmu.com/archives/19374 dan
https://bbg-alilmu.com/archives/19394
.
====================================
.
7.  dan amalan-amalan berikut ini.
Puasa dan Al Qur’an Akan Memberikan Syafa’at…
Dzikir Yang Besar Pahalanya…
Beberapa Amalan Yang Mendapatkan Jaminan Rumah di Surga…
Beberapa ADAB SEBELUM TIDUR…
Selalu Menjaga Wudhu…
Beberapa Amalan Yang Dapat Menghapuskan Dosa Meskipun Sebanyak Buih Di Lautan…
TIGA Do’a Agar Diteguhkan Hati Dalam Ketaatan…
Sholat ROWATIB…
TIGA Model Pelaksanaan Sholat Sunnah ROWATIB ZHUHUR….
.
.
Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Menebar Cahaya Sunnah