Simak penjelasan Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
Simak penjelasan Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
.
KAIDAH SEBELUMNYA (KE-50) bisa di baca di SINI
=======
🌼 Kaidah yang ke 51 🌼
⚉ Bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah menyeru kepada apa yang di seru oleh Alqur’an yaitu akhlak yang mulia.
Allah berfirman [ QS Al-A’raf : 199]
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Ambillah maaf dan perintahkanlah kepada yang ma’ruf dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh“
Ibnul Qayyim berkata:
“Perhatikanlah ayat ini apa yang terkandung padanya berupa akhlak yang baik dan melaksanakan hak Allah pada mereka dan selamat dari keburukan mereka.
Kalaulah manusia seluruhnya mengambil dan mengamalkan ayat ini tentu itu akan mencukupi mereka, karena sifat maaf itu menyebabkan akhlak mereka itu menjadi selamat, tabiat mereka pun menjadi lembut, demikian pula untuk memberikan harta.”
Demikian pula sikap yang baik, maka itu adalah sikap mereka kepadanya, adapun sikap ia kepada mereka yaitu menyuruh kepada mereka kepada yang ma’ruf, dan itu sesuatu yang sifatnya disaksikan oleh akal akan kebaikannya bahwasanya itu adalah perkara yang baik, demikian pula apa yang Allah perintahkan. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh kita untuk berpaling dari orang-orang yang bodoh supaya kita selamat daripada kebodohan mereka.
Orang bodoh kalau kita layani pasti mereka akan membalas dengan yang lebih, maka sehingga akhirnya kitapun ikut berbuat bodoh, tapi dengan cara kita berpaling dari orang bodoh maka kita selamat dari kebodohan mereka.
Beliau melanjutkan lagi, “Maka adakah kesempurnaan bagi seorang hamba dari belakang ini semua, maka adakah pergaulan dan siasat yang lebih baik daripada pergaulan dan siasat seperti ini.”
👉🏼 Ini merupakan ayat yang luar biasa, memberikan kepada kita pendidikan bagaimana kita bersikap kepada makhluk, yaitu dengan sikapi mereka dengan maaf. Dan maaf itu tidak sama sekali tidak menjatuhkan harga diri kita, bahkan menambah kemulian.
👉🏼 Yang kedua, memerintahkan mereka kepada yang ma’ruf, kemudian berpaling dari orang yang bodoh. Terkadang banyak orang-orang yang mencaci maki kita ataukah sikap-sikap lainnya yang merupakan kebodohan, tidak perlu kita ladeni, tidak perlu kita layani. Kita berpaling dari orang yang bodoh itu adalah lebih baik.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj
Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

.
.
Yang terbiasa puasa ayyamul bidh bisa puasa di tanggal 14, 15 Dzulhijjah. Dan ini kurang satu. Maka sebagai gantinya, dia bisa puasa di tanggal 16 Dzulhijjah.
.
Karena inti dari puasa ayyamul bidh adalah mengamalkan anjuran puasa 3 hari tiap bulan. Dan bukan syarat puasa 3 hari tiap bulan harus dilakukan di ayyamul bidh.
.
An-Nawawi mengatakan,
وثبتت أحاديث في الصحيح بصوم ثلاثة أيام من كل شهر من غير تعيين لوقتها، وظاهرها أنه متى صامها حصلت الفضلية، وثبت في صحيح مسلم عن معاذة العدوية أنها سألت عائشة: أكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم من كل شهر ثلاثة أيام؟ قالت: نعم، قالت: قلت: من أي أيام الشهر؟ قالت: ما كان يبالي من أي أيام الشهر كان يصوم
Terdapat banyak hadis sahih tentang anjuran puasa 3 hari tiap bulan, tanpa menentukan tanggal pelaksanaannya. Dan yang dzahir, selama orang itu puasa 3 hari tiap bulan, dia telah mendapat keutamaanya. Disebutkan dalam shahih Muslim bahwa Mu’adzah al-Adawiyah pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Apakah Rasulullah puasa 3 hari tiap bulan ?” jawab A’isyah, “Ya.”
.
“Tanggal berapa beliau puasa ?” tanya Muadzah.
.
Jawab A’isyah,
ما كان يبالي من أي أيام الشهر كان يصوم
“Beliau tidak memperhatikan tanggal berapa beliau puasa.” (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 6/384).
.
Sehingga, siapa yang tidak bisa melaksanakan puasa ayyamul bidh di tanggal 13 Dzulhijjah, bisa diganti di tanggal setelahnya.
.
Wallahu a’lam
Ustadz Ammi Nur Baits, حفظه الله تعالى
Ref : https://konsultasisyariah.com/28331-puasa-ayamul-bidh-di-hari-tasyriq.html
Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- berkata:
Mungkin saja engkau memakai jam tanganmu, lalu yang melepaskannya dari tanganmu itu pewarisnya…
Mungkin saja engkau menutup pintu mobilmu, lalu yang membukakannya untukmu petugas ambulan…
Mungkin saja engkau memasang kancing bajumu, lalu yang membukakannya untukmu pemandi mayat…
Mungkin saja engkau memejamkan mata saat berbaring di kamarmu, lalu mata itu tidak terbuka lagi melainkan di hadapan Allah Penakluk langit dan bumi pada hari kiamat…
Tidakkah kita melihat bagaimana kita menghidupkan waktu kita, dengan apa kita mengisinya, dan dengan apa hidup kita akan ditutup ?!
Ya Allah… sadarkanlah kami dari kelalaian ini!
Penterjemah:
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
da110717-2032

.
.
YUUK… INI JUGA BISA SEBAGAI ALTERNATIF PLIHAN IBADAH BAGI WANITA MUSLIMAH YANG SEDANG MENJALANI SIKLUS BULANAN/HAIDH, ini kesempatan besar untuk tetap mendapatkan pahala puasa…
.
Alhamdulillah.. Allah mudahkan segala sesuatunya.. sekarang ini bisa telpon restoran dan melakukan pemesanan dan pembayaran, dan minta mereka untuk antar makanan tersebut ke tempat tujuan tanpa anda harus pergi ke luar rumah.. YUK SIAPKAN/PESAN SEKARANG… karena waktu Maghrib tak lama lagi akan tiba, in-syaa Allah..
.
Bagaimana bila belum ada cukup dana untuk membelikan makanan buka puasa ?…
.
Jangan kawatir.. sebarkan saja tulisan ini disertai niat dalam hati, semoga ada diantara mereka yang menerima pesan ini dan tergerak untuk mengamalkannya, maka andapun, in-syaa Allah, akan mendapatkan pahala yang serupa dengannya.. ini sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits dari sahabat Uqbah bin ‘Amr bin Tsa’labah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
.
.من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه.
.
“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).
.
.
#puasa
#puasaarofah
#haji
#pahala
.
.
Follow IG: @bbg_alilmu
Follow IG: @bbg_alilmu
Follow IG: @bbg_alilmu
Masalah ijtihadiyah adalah masalah yang tidak ada nash yang sharih yang menunjukkannya.
Para ulama telah menjelaskan masalah ini dengan amat gamblang.
Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
“Sebagaimana kaum muslimin berbeda pendapat mana yang lebih utama; tarji’ dalam adzan atau tidak,
mengganjilkan iqomah atau menggenapkannya,
sholat shubuh yang paling utama di saat terang atau ketika masih gelap,
qunut shubuh atau tidak,
mengeraskan basmalah atau mensirrkannya dan sebaagainya.
Ini adalah masalah masalah ijtihad yang diperselisihkan oleh salaf dan para ulama.
Setiap mereka menghormati ijtihad ulama lain.
Siapa diantara mereka sesuai dengan kebenaran diberi dua pahala, dan siapa yang salah diberi satu pahala dan kesalahannya diampuni.
Maka barang siapa yang mentarjih pendapat syafi’iy, tidak boleh mengingkari orang yang mentarjih pendapat Malik.
Siapa yang mentarjih pendapat Ahmad, tak boleh mengingkari orang yang mentarjih pendapat Syafi’i dan sebagainya.”
(Majmu fatawa 20/292).
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata tentang qunut shubuh:
“Ahlul hadits tengah tengah diantara mereka dan orang yang menganggapnya sunnah ketika nazilah atau selainnya.
Mereka lebih dekat dengan hadits. Mereka qunut bila Nabi qunut dan tidak qunut bila beliau tidak qunut. Mereka mengikuti Nabi melakukan dan meninggalkan…
Namun mereka tidak mengingkari orang yang terus menerus melakukannya, tidak pula membenci atau menganggapnya bid’ah..“
(Zadul Ma’ad 1/274-275).
Imam Asy Syathibi berkata:
“Bukanlah kebiasaan para ulama memutlakkan kata bid’ah dalam masalah parsial..“
(Al i’tisham: 1/208).
Itulah sikap para ulama dalam masalah ijtihadiyah..
saling menghormati dan tidak memaksakan pendapatnya kepada orang lain.
namun..
terkadang kita lihat sebagian penuntut ilmu..
amat fanatik dengan gurunya..
ia menganggap bahwa pendapat gurunya adalah kebenaran yang tak boleh disalahi..
bila itu dalam masalah yang disepakati ulama, memang harus demikian..
tetapi seringkali tak dapat membedakan mana masalah ijtihadiyah dan mana yang bukan..
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
da130416-1016

.
.
Perlu dipahami bahwa do’a malaikat adalah do’a yang mustajab, benar-benar mudah diijabahi atau dikabulkan.
Do’a tersebut ditujukan pada orang yang memperhatikan nafkah.
Ibnu Batthol rohimahullah menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah mengeluarkan infak yang wajib seperti nafkah untuk keluarga dan nafkah untuk menjalin hubungan kekerabatan (silaturahim).
Siapa yang beri nafkah pada keluarga, pada kerabat, dan rajin pula mengeluarkan sedekah sunnah, maka malaikat akan mendoakan supaya orang tersebut mendapatkan ganti. Hal ini serupa seperti yang disebutkan dalam ayat Al Qur’an,
“Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).” Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya” (QS. Saba’: 39). Maksud ayat, siapa saja yang mengeluarkan nafkah dalam ketaatan pada Allah, maka akan diberi ganti.
Dalam hadits qudsi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Allah Tabaraka wa Ta’ala: Wahai anak Adam, berinfaklah, Allah akan mengganti infakmu.” (HR. Bukhari no. 4684 dan Muslim no. 993)
disebutkan oleh Imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits doa malaikat di atas dalam Syarh Shahih Muslim,
“Para ulama menyatakan bahwa infak yang dimaksud adalah infak dalam ketaatan, infak untuk menunjukkan akhlak yang mulia, infak pada keluarga, infak pada orang-orang yang lemah, serta lainnya. Selama infak tersebut tidaklah berlebihan, alias boros.
Adapun enggan berinfak yaitu enggan mengeluarkan untuk nafkah dan semisal itu.”
Hadits yang kita kaji menunjukkan keutamaan orang yang memperhatikan nafkah pada keluarga dengan baik, juga pujian bagi orang yang rajin sedekah. Sedangkan yang enggan memberikan nafkah kepada keluarga mendapatkan doa jelek dari malaikat, yaitu didoakan kebangkrutan atau kehancuran.
Semoga kita bisa memperhatikan kewajiban dalam hal menunaikan nafkah dan terus gemar sedekah.
Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى
#sedekah
#pagi
#doa
Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata:
” ما من إنسان في الغالب أعطي الجدل
إلا حرم بركة العلم
لأن غالب من أوتي الجدل
يريد بذلك نصرة قوله فقط
وبذلك يحرم بركة العلم
أما من أراد الحق
فإن الحق سهل قريب
لا يحتاج إلى مجادلات كبيرة
لأنه واضح …
“Kebanyakan orang yang suka berdebat itu terhalang dari keberkahan ilmu.
Karena orang yang suka berdebat kebanyakan ingin membela pendapatnya saja.
Oleh karena itu ia terhalang dari keberkahan ilmu.
Adapun orang yang menginginkan alhaq (kebenaran).
Maka alhaq itu mudah dan dekat.
Tidak membutuhkan banyak berdebat.
Karena ia jelas..”
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Pendapat yang mengharuskan sama antara Indonesia dan Arab Saudi dalam puasa arafah, itu masuk dalam bab ilmu ushul fikih: “TAKLIFU MAA LAA YUTHOOQ” (**) apabila diterapkan di zaman dahulu, yakni zaman disabdakannya hadits tentang keutamaan puasa arafah.
Dan kalau di zaman dulu tidak mungkin dijalankan, bagaimana di zaman ini menjadi diwajibkan ?!
Ingatlah bahwa agama Islam ini mudah dari asalnya, dan bisa diterapkan oleh siapapun dan kapanpun.
—–
** “TAKLIFU MAA LAA YUTHOOQ“, adalah membebani seorang hamba dengan sesuatu yang tidak dimampui olehnya .. ini tidak ada dalam syariat Islam yang Allah penuhi dengan kemudahan.
Allah berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidaklah membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kemampuannya.” [Al-Baqarah, 286]
Silahkan dishare, semoga bermanfaat.
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Salah satu amalan utama di awal Dzulhijjah adalah puasa Arafah, pada tanggal 9 Dzulhijjah. Puasa ini memiliki keutamaan yang semestinya tidak ditinggalkan seorang muslim pun. Puasa ini dilaksanakan bagi kaum muslimin yang tidak melaksanakan ibadah haji.
Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
“Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)
Mengenai pengampunan dosa dari puasa Arafah, para ulama berselisih pendapat. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah dosa kecil. Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika bukan dosa kecil yang diampuni, moga dosa besar yang diperingan. Jika tidak, moga ditinggikan derajat.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 51)
Sedangkan jika melihat dari penjelasan Ibnu Taimiyah rahimahullah, bukan hanya dosa kecil yang diampuni, dosa besar bisa terampuni karena hadits di atas sifatnya umum. (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 7: 498-500).
Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى
Ref : https://muslim.or.id/18509-keutamaan-puasa-arafah.html