Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى berikut ini :
Kedudukan Adab Dalam Menuntut Ilmu…
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى berikut ini :
Inilah Rasa Malu Yang Sebenarnya…
Bismillah
Akhi ukhti rahimakallah
Menurutmu sifat malu itu terpuji apa tidak?
Ana rasa kita sepakat nich, namun yang terkadang masih abstrak adalah memaknai sifat malu yang terpuji…
Rasa malu adalah bagian dari keimanan
Orang yang berakal sehat niscaya memiliki sifat pemalu, karena ia adalah akar kesehatan akal seseorang dan sumber kebaikan, yang tidak malu hanyalah orang bodoh dan biasanya akan berlaku jahat dan buruk, tindakannya membuat orang lain terperanjat, seraya berucap,
“Koq bisa dia melakukan itu?”
“Tidak menyangka kalau fulan tega berbuat itu”
Ungkapan kekecewaan yang mendalam
Ketika rasa malu hilang…
Tatkala pokok malu telah layu, manusia akan berdusta, menipu, mencuri, merampok, membunuh, memutilasi, memperkosa,korupsi, ingkar janji, jorok ucapannya, mengumbar auratnya….
Dia bertindak seenak perutnya
Bahkan ada yang seperti binatang
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda
((إِنَّ مِـمَّـا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلَى : إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ ؛ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ)).
“Sesungguhnya di antara yang didapat manusia dari perkataan kenabian terdahulu ialah: Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.” [HR. al-Bukhori no. 6120]
Tatkala rasa malu hilang, maka kebaikan telah sirna dan pergi dan ketentraman ini akan segera berakhir
Perasaan malu itu dua macam, malu kepada Allah dan malu kepada manusia, keduanya terpuji,
hanya yang awal wajib dan yang kedua sunnah
Malu kepada Allah mendorong pemiliknya untuk menghindari hal-hal yang dibenci Allah
Malu kepada manusia membuat orang itu menghindari perbuatan dan perkataan yang tidak disukai masyarakat
Perhatikan petuah nabi shallallahu alaihi wasallam di bawah ini, Dari ‘Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ
“Hendaklah kamu benar-benar malu kepada Allâh!”
Para sahabat berkata:
“Wahai Rasûlullâh, al-hamdulillah kami malu (kepada Allah) dan alhamdulilah ”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ
“Bukan begitu (sebagaimana yang kamu sangka-pen). Tetapi (yang dimaksud) benar-benar malu kepada Allâh adalah:
Engkau menjaga kepala dan isinya
Menjaga perut dan apa yang berhubungan dengannya;
Dan hendaklah engkau mengingat kematian dan kebinasaan.
Dan barangsiapa menghendaki akhirat, dia meninggalkan perhiasan dunia.
Barangsiapa telah melakukan itu, berarti dia telah benar-benar malu kepada Allâh Jalla jalaluhu (HR. Tirmidzi, no. 2458; Ahmad, no. 3662)
Akhi ukhti…
Itulah rasa malu yang sebenarnya
Moga engkau sudah merasakannya
Barakallahu fik
Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى
Sebesar Apakah Pengorbananmu..?
Bismillah
Akhi Ukhti Rahimakallah…
Sebesar apakah pengorbananmu dalam menuntut ilmu?
Apalagi untuk ilmu yang akan mengantarkanmu kepada Allah
Menunjukimu jalan ke surga
Menerangi untukmu yang halal dan yang haram
Mengangkat derajatmu di dunia dan di akhirat
Ilmu yang hingga semut dan ikan berdoa untukmu
Salah seorang ulama terkenal dari abad kelima Hijriah Muhammad bin Thahir, yang telah melakukan perjalanan panjang dalam ilmu, mengelilingi Syam, Hijaz, Mesir, Irak, Khurrasan
Abul Hasan al Karji pernah ditanya tentang Kredibilitas Ibn Thahir, dia berkata, “Tidak ada yang menandinginya pada masa itu”.
Tahukah engkau bagaimana perjuangan beliau dalam menuntut ilmu, beliau berkata:
“Aku pernah kencing darah dua kali
Sekali di Baghdad dan sekali di Mekah
Penyebabnya aku berjalan kaki tanpa alas di cuaca yang panas
Aku tidak pernah naik kendaraan selama mengumpulkan hadits
Aku membawa buku-bukuku di punggungku
Aku tidak tidak pernah minta-minta selama masa menuntut ilmu
Aku mencukupkan diri dengan apa yang datang (Siyar A’lam an Nubala 19/363)
MaSya ALLAH…
Kiranya seperti apakah kondisimu dalam masa menuntut ilmu… apalagi ilmu akhirat?
Kalau hanya makan dengan tahu dan tempe
Atau nasi dengan lauk garam
Atau tidur beralaskan tikar…
Sepertinya itu belum seberapa di banding dengan Ibnu Thahir, yang sampai kencing darah…
Apa yang kau berikan kepada ilmu, ilmu hanya akan memberimu sebagiannya…
Coba kau duduk merenung…
Semua yang di dunia ini akan sirna kecuali yang di sisi Allah
Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى
Jadilah Hakim, Jangan Jadi Pengacara…
Bagi Anda yang dapat memahami dalil dan metode berdalil dengan baik, maka posisikanlah diri sebagai HAKIM saat melihat perbedaan pendapat para ulama, bukan sebagai PENGACARA.
Syeikh Al-Mu’allimi -rohimahulloh- mengatakan:
“Intinya, bahwa seorang pencari kebenaran, jika melihat perbedaan pendapat para ulama, harusnya dia memposisikan dirinya sebagai hakim; maka dia mendengar perkataan dan hujjah setiap dari mereka yang berselisih, kemudian memberi keputusan dengan adil.
Sebagaimana seorang hakim, jika melihat perselisihan antara orang yang saleh dengan orang yang bejat, atau antara orang yang mukmin dengan orang yang kafir;
⚫ dia TIDAK BOLEH memutuskan untuk kebaikan orang yang saleh atau orang yang mukmin tanpa hujjah,
⚫ dia TIDAK BOLEH mendengar dari orang yang saleh tapi menolak keterangan dari orang yang bejat, dan
⚫ dia TIDAK BOLEH enggan dalam memberikan pembelaan kepada orang yang bejat atau kafir jika dia berhak mendapatkannya.
Maka demikian pula seorang pencari kebenaran dalam masalah-masalah yang diperselisihkan oleh para ulama.
Ketahuilah, bahwa kebanyakan ulama yang berafiliasi kepada madzhab tertentu; mereka tidak memposisikan dirinya sebagai hakim, tapi mereka memposisikan dirinya sebagai pengacara, setiap dari mereka menjadi pengacara bagi madzhabnya.
Maka sebagai seorang pencari kebenaran; harusnya mendudukkan mereka pada posisinya, jangan menganggap mereka sebagai hakim, sehingga semua perkataannya harus diterima dalam menguatkan (atau membela) madzhabnya, lalu menyalahkan perkataan selain mereka.
Harusnya dia tahu bahwa mereka adalah para pengacara bagi madzhab mereka; maka janganlah mendengar dari mereka kecuali sebagaimana seorang hakim mendengar dari seorang pengacara.
Dalam hal ini telah masyhur perkataan Amirul Mukminin Ali -rodhiallohu nahu-: ‘Janganlah engkau melihat siapa yg berbicara, tapi lihatlah kepada apa yang dia bicarakan’.”
[Kitab: Atsarul Mu’allimi 2/215].
——
Status ini khusus untuk orang yang sudah bisa mencerna dan memahami dalil dengan baik, dan bisa menempatkan dalil pada tempatnya… bukan untuk orang yang masih awam.
Silahkan dishare, semoga bermanfaat…
Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى
Puncak Keinginan
Keinginan meraih dunia seringkali menjadi yang terbesar dalam hati kita. Karena manusia lebih mengejar sesuatu yang kasat mata.
Keinginan meraih dunia seringkali mendatangkan kekecewaan dan kegalauan di saat tak dapat meraihnya. Ketika berhasil meraihnya, seringkali membuat lupa dan menimbulkan kecongkakan dan keserakahan. Bahkan tak pernah puas untuk mengumpulkannya. Menjadikan hati miskin dan rakus.
Sedangkan keinginan meraih akherat seringkali dikesampingkan. Padahal ketika hati hanya berharap akherat, ia akan menjadi hati yang kokoh. Ia akan selalu merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya dari kehidupan dunia. Karena ia sadar bahwa kenikmatan dunia hanya sementara dan kelak akan dihisab oleh pemiliknya yaitu Allah ‘Azza Wajalla.
Hati yang menginginkan akherat tak mudah galau dan bersedih hati ketika terluput dari dunia. Ia hanya menggantungkan pengharapannya kepada sang pencipta. Ia memandang dunia sebagai sesuatu yang hina. Sehingga ketika dunia mendatanginya, ia tak tertipu bahkan ia khawatir akan beratnya hisab pada hari kiamat. Sungguh indah hati seperti ini.
Inilah rahasia sabda Nabi shollallahu :alaihi wasallam,
مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا كُتِبَ لَهُ وَمَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ
“Barangsiapa yang keinginannya adalah negeri akhirat, maka Allah akan mengumpulkan kekuatannya, menjadikan hatinya kaya dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Namun barangsiapa yang niatnya mencari dunia, Allah akan mencerai-beraikan urusan dunianya, menjadikan kefakiran di pelupuk matanya, dan dunia yang berhasil diraih hanyalah apa yang telah ditetapkan baginya..”
(Hadits Shahih HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/183), mam ad-Darimi (I/75), Imam Ibnu Hibban (no. 72 dan 73–Mawariduzh Zham’an), Imam Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/175-176, no. 184).
Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam selalu memohon kepada Allah agar tidak menjadikan dunia sebagai puncak keinginan dan puncak keilmuannya. Beliau berdoa:
وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا ، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا ، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
“Dan jangan engkau jadikan musibah itu menimpa agama kami. Dan jangan Engkau jadikan dunia sebagai puncak keinginan kami dan puncak pengetahuan kami. Dan jangan Engkau jadikan orang yang tidak menyayangi kami sebagai penguasa kami..” (HR At Tirmidzi)
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Waspadai Pujian…
Pujian itu banyak disenangi orang. Bahkan demi pujian banyak orang yang melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri. Namun bila kita renungkan, sebetulnya pujian itu membahayakan keikhlasan dan keistiqomahan. Pujian membuka pintu riya sehingga dapat membatalkan amalan. Pujian juga membuka pintu ujub sehingga merasa memiliki kelebihan. Pujian membuat seseorang puas dengan pujian tersebut walaupun mungkin sebetulnya ia tak berhak mendapat pujian, sehingga ia merasa puas dengan apa yang tidak ia miliki, dan itu bagaikan memakai dua pakaian kedustaan kata Nabi.
Bahkan keseringan dipuji menjadikan kita lupa untuk intopeksi diri dan mengingat dosa dan kesalahan. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menamai pujian sebagai sembelihan.
Dari Abu Bakrah, ia menceritakan bahwa ada seorang pria yang disebutkan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang hadirin memuji orang tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,
ويحك قطعت عنق صاحبك، (يقوله مراراً)، إن كان أحدكم مادحاً لا محالة، فليقل: أحسِبَ كذا وكذا- إن كان يرى أنه كذلك – وحسيبه الله، ولا يزكي على الله أحداً
“Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu (berulang kali beliau mengucapkan perkataan itu). Jika salah seorang di antara kalian terpaksa/harus memuji, maka ucapkanlah, ’Saya kira si fulan demikian kondisinya.’ -Jika dia menganggapnya demikian-. Adapun yang mengetahui kondisi sebenarnya adalah Allah dan janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah.” (Shahih): [Bukhari: 52-Kitab Asy Syahadat, 16-Bab Idza Dzakaro Rojulun Rojulan]
Lihatlah, Nabi menganggap pujian itu sama dengan memotong leher orang yang dipuji. Al Munawi rahumahullah berkata, “Disebut memotong leher karena itu dapat mematikan hati.. membuatnya tertipu dengan keadaannya bahkan membuatnya ujub dan sombong.. dan itu membinasakan. Oleh karena itu Nabi menamainya sebagai sembelihan.” (Faidlu Qadiir 3/129)
Bila kita dipuji maka jangan lupa memuji Allah dan ingatlah bahwa itu adalah pintu setan untuk merusak keikhlasannya.
Ibnu ‘Ajibah mengatakan, “Janganlah engkau tertipu dengan pujian orang lain yang menghampirimu. Sesungguhnya mereka yang memuji tidaklah mengetahui dirimu sendiri kecuali yang nampak saja bagi mereka. Sedangkan engkau sendiri yang mengetahui isi hatimu. Ada ulama yang mengatakan, “Barangsiapa yang begitu girang dengan pujian manusia, syaithon pun akan merasuk dalam hatinya.” (Lihat Iqozhul Himam Syarh Matn Al Hikam, Ibnu ‘Ajibah, hal. 159, Mawqi’ Al Qaroq, Asy Syamilah).
Abu Bakr Ash Shidiq tatkala beliau dipuji oleh orang lain. Beliau–radhiyallahu ‘anhu- pun berdo’a,
اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ
Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun.
[Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka] ( Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4/228, no.4876. Lihat Jaami’ul Ahadits, Jalaluddin As Suyuthi, 25/145, Asy Syamilah)
Badru Salam, حفظه الله تعالى

1397. Siapa ULIL AMRI..?
Pertanyaan:
Ustadz tolong jelaskan siapa itu ulil amri, dan apakah syarat disebut ulil amri harus dengan pengangkatan secara syari’iy serta bagaimana jika ia berhukum kepada hukum selain islam, apakah masih disebut ulil amri ?
Jawab:
Badru Salam , حفظه الله
Syaikh Shalih Al Fauzan ditanya: “Apakah prinsip ini, khusus untuk untuk penguasa yang berhukum dengan syariat Allah sebagaimana negeri kita yang diberkahi ini, ataukah umum untuk pemerintah kaum muslimin bahkan yang tidak berhukum dengan syariat Allah dan menggantinya dengan qawanin wadh’iyyah (hukum buatan manusia) ?”
Beliau menjawab: “Allah ‘Azza Wajalla berfirman:
مكنم رملأا يلوأو
“Dan ulil amri di antara kalian” [QS An Nisa 59]
Maksudnya, dari kaum muslimin. Maka jika dia penguasa itu muslim, tidak kafir kepada Allah dan juga tidak melakukan salah satu dari pembatal-pembatal keislaman, maka dia adalah ulil amri yang wajib ditaati.
(Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/13289)
Di sini beliau menjelaskan bahwa ulil amri itu setiap penguasa muslim secara mutlak baik diangkatnya secara syari’iy atau pun tidak sesuai syari’at.
Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ulil amri itu hanya bila diangkat bila sesuai syariat saja adalah pendapat yang tidak memiliki pendahulu bahkan ia adalah pendapat yang diada adakan.
Justeru para ulama bersepakat bahwa orang yang menjadi pemimpin karena menang dalam revolusi maka ia wajib ditaati.
Al Hafidz ibnu Hajar rahimahullah berkata:
وقد أجمع الفقهاء على وجوب طاعة السلطان المتغلب والجهاد معه وأن طاعته خير من الخروج عليه لما في ذلك من حقن الدماء وتسكين الدهماء
“Para fuqoha telah berijma’ akan wajibnya menaati penguasa yang menang (dengan senjata) dan berjihad bersamanya. Dan bahwa menaatinya lebih baik dari memberontak kepadanya. Karena yang demikian itu lebih mencegah terkucurnya darah dan menenangkan kekacauan.”
(Fathul Baari 13/7).
Padahal memberontak itu tidak sesuai syariat, namun ketika ia menjadi penguasa dengan cara seperti itu, tetap ditaati dan dianggap sebagai ulil amri.
Ini menunjukkan bahwa walaupun tata caranya tidak sesuai syariat, maka tetap ditaati sebagai ulil amri. Ini juga ditunjukkan oleh hadits:
أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد حبشي
“Aku wasiatkan kalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat kepada pemimpin walaupun ia seorang hamba sahaya habasyah.” (HR At Tirmidzi)
Dalam pemilihan pemimpin secara syariat, hamba sahaya tak mungkin menjadi pemimpin karena semua ulama menyatakan bahwa syarat pemimpin adalah merdeka dan bukan hamba sahaya.
Bila ia menjadi pemimpin pasti dengan cara yang tidak sesuai dengan syariat. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap menyuruh kita untuk menaatinya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengabarkan akan adanya pemimpin yang tidak berhukum dengan hukum Allah. Beliau bersabda:
يكون بعدي أئمة لا يهتدون بهداي ولا يستنون بسنتي وسيقوم فيهم رجال قلوبهم قلوب الشياطين في جثمان إنس
قلت كيف أصنع يا رسول الله إن أدركت ذلك? قال تسمع وتطيع للأمير وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك فاسمع وأطع
“Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mengambil petunjukku dan tidak pula melaksanakan sunnahku. Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”
Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim no. 1847).
Hadits ini tegas menunjukkan bahwa walupun mereka tidak mengambil petunjuk nabi dan sunnahnya, tetap harus ditaati dalam hal yang ma’ruf. Ini sebagai bantahan terhadap orang yang mengatakan bahwa bila pemimpin itu berhukum dengan selain hukum Allah maka tidak disebut ulil amri.
Hadits ini juga membantah orang yang mengkafir setiap penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah secara mutlak. Namun bukan berarti kita menyetujui perbuatan mereka.
Wallahu a’lam
Badru Salam, حفظه الله تعالى
da220816
Merekomendasi Diri Sendiri…
Allah Ta’ala berfirman:
: {فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى} [32: النجم]
“Janganlah kamu merekomendasi diri sendiri, Dia yang lebih mengetahui siapa yang bertaqwa.”
(An Najm: 32)
Ayat ini melarang kita untuk merekomendasi diri sendiri dengan merasa bahwa kita telah baik, telah kokoh keimanan, telah bersih dari kotoran dosa dan sebagainya.
Karena kita tidak tahu dengan apa kita akan ditutup.
Ibnu Abi Mulaikah berkata, “Aku mendapati tiga puluh shahabat, tidak ada seorangpun diantara mereka yang merasa bahwa imannya sudah seperti iman jibril. Mereka semua mengkhawatirkan kemunafiqan menimpa mereka”. Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq.
Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata tentng penyakit munafiq, “Tidak ada yang merasa aman darinya kecuali orang munafiq. Dan tidak ada yang merasa takut darinya kecuali seorang mukmin.”
Seorang mukmin selalu merasa takut akan dosa dosanya. Ia tak pernah merasa dirinya telah baik keimanannya. Ia khawatir amalnya tak diterima. Sehingga ia terus bersungguh sungguh untuk memperbaiki diri.
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Sebab Tersesatnya Semua Golongan Sesat, Dari Zaman Dulu Hingga Sekarang…
Syeikh Albani -rohimahulloh-:
“Pokok-pokok dakwah salaf berdiri di atas tiga pilar:
(1) Al Qur’anul Karim,
(2) Hadits yang sahih,
(3) Memahami keduanya sesuai dengan cara generasi salafus shalih dari para sahabat, para tabiin, dan para tabiut tabiin.
Dan sebab tersesatnya seluruh kelompok sesat, baik di zaman dulu maupun di zaman sekarang adalah tidak berpegang teguh dengan PILAR YANG KE-TIGA.”
[Majalah Al-Asholah, edisi 27].
——
Maka tak heran bila ada orang yang berdalil dengan Al Qur’an atau Hadits yang shahih untuk membela orang kafir dan menyudutkan orang Islam… Karena dia menafsirkan dalil itu dengan cara dia, dalam bahasa orang jawa “sak pena’e udele dewe”, bukan dengan cara generasi salafus shalih.
Semoga Allah melindungi kita semua dari segala bentuk kesesatan dan penyesatan, amin.
Silahkan dishare, semoga bermanfaat…
Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى