Cadar Bukan Budaya Bangsa Arab…

Ada sebagian kaum muslimin yang beranggapan bahwa cadar adalah budaya arab, bukan bagian dari syariat Islam.. Dengan begitu, dia bisa menyudutkannya, karena budaya arab pasnya di negara arab saja.

Kita katakan, bahwa orang yang demikian sangat pas dengan sebutan “kurang piknik”, walaupun sebagian dari mereka bergelar doktor, bahkan profesor –Allohu yahdihim wa yahdina jami’an-.

Hal ini karena ternyata sebagian ulama dari madzhab syafi’i justru menegaskan bahwa cadar itu bukan budaya arab, tapi itu adalah syariat Islam yang mulia, yang dibawa oleh Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- menggantikan budaya arab sebelumnya.

Lihatlah penegasan imam Ibnul Mulaqqin -rohimahulloh- (w 804 H) berikut ini:

“Dahulu Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- meninggalkan pakaian hijab (untuk para isteri beliau) karena berjalan sesuai budaya arab ketika itu, sampai akhirnya beliau diperintahkan dengan syariat hijab (cadar).

Perintah berhijab tersebut diturunkan (untuk para isteri beliau) karena kemuliaan mereka, tingginya kedudukan mereka, dan agungnya martabat mereka. Dan karena yang pantas untuk mereka adalah dengan mengenakan hijab di depan orang lain.”

[Kitab: At-Taudhih Li Syarhil Jaami’ish Shohih, 5/412].

——

Lihatlah bagaimana beliau mengatakan dengan tegas, bahwa di budaya arab dahulu justru para wanita tidak berhijab (bercadar), kemudian Allah menurunkan syariat tersebut menggantikan budaya yang ada ketika itu.

Dari sini kita juga bisa memahami bahwa jilbab (tanpa penutup wajah) merupakan budaya kaum muslimin yang telah mendapatkan ikrar (persetujuan) dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, sehingga itu juga termasuk bagian dari syariat Islam yang mulia.

Oleh karena itu, sebagai kaum muslimin di zaman akhir ini, kita harus cerdas melihat tipuan musuh Islam dalam menjauhkan kaum muslimin dari syariatnya… Seringkali mereka menjadikan bagian dari syariat Islam sebagai budaya arab, agar mereka bisa dengan bebas menyudutkan syariat tersebut.

Oleh karenanya, jangan heran jika kita mendengar: jilbab itu budaya arab… merapatkan shaf dalam shalat hanya budaya arab… ucapan assalamu’alaikum itu budaya arab… jenggot juga budaya arab… celana atau sarung cingkrang hanyalah budaya arab… dst.

Dan lihatlah setelah itu, mereka akan mengolok-olok apa yang dia katakan sebagai budaya arab… padahal sebenarnya itu merupakan syariat Islam yang dulu diperjuangkan oleh Nabi tercinta Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Saat Semua Berpaling – Kisah Ka’ab bin Malik, Rodhiyallahu ‘Anhu… Part # 4

Minggu lalu (PART # 3) kita sudah mengikuti penuturan kisah Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu dan penyikapannya untuk memilih jalan kejujuran dalam menyampaikan ketiadaan uzur yang dimilikinya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam karena tidak mengikuti perang Tabuk. Dirinya lebih memilih dimarahi oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam daripada dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lalu kejujuran Ka’ab dipuji oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dengan sabdanya;
”Tentang orang ini, maka pembicaraannya memang benar – tidak berdusta. Oleh sebab itu bolehlah engkau berdiri sehingga Allah akan memberikan keputusannya tentang dirimu.”

Tak kurang ujian yang dihadapi Ka’ab, sepulangnya ke rumah Ka’ab diprovokasi oleh segolongan dari Bani Salimah, demikian ucapan-ucapan mereka telah menghasut hati dan pikiran Ka’ab sampai-sampai dirinya hampir ingin kembali ke Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dan ‘merevisi’ pernyataan jujurnya dengan alasan kedustaan. Terkait cuplikan pengalaman Ka’ab ini, ibrah (pembelajaran) yang dapat kita petik ialah terdapat urgensi bagi kita untuk senantiasa menjaga ketiga organ tubuh kita; pendengaran, penglihatan dan hati guna dijauhkan dari paparan informasi yang jauh dari ajaran Islam & destruktif kepada keimanan kita.

Terdapat faedah yang sayang kita untuk kita lewatkan; yakni manusia memiliki kecenderungan labil yang besar. Dan dari faedah ini, kita dapat mengambil dua pelajaran; yang pertama mengenai istiqomah, janganlah terlarut dalam euforia hijrah. Pembenahan hati tidak berhenti ketika sudah berhijab sesuai syariat. Penegakkan sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam tidak berhenti ketika memiliki jenggot. Bisa jadi seseorang terlena dengan keadaan dan terjebak dalam kelalaian ibadah lainnya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Sesungguhnya hati semua anak cucu Adam itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah subhanahhu wa ta’ala akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya.” (HR. Muslim)

Bayangkan, jika manusia sekaliber Ka’ab, sosok sahabat yang pernah berjuang bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam di perang Badr, yang notabene adalah salah satu dari 70 orang yang tergabung dalam Bai’at Aqobah, dalam hitungan menit dapat terpengaruh dalam hitungan menit. Apalagi diri kita, tak pelak lebih berpeluang untuk dapat mengalami kelabilan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Artinya:
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS: Al Ankabut:2)

Itulah sebab kenapa kita harus istiqomah, karena Allah akan menguji kita. Dan ketika kesempatan ujian itu tiba, jangan sampai kita missed. Jangan mengira ketika kita sudah _ngaji_, kita sudah di comfort zone. Karena pada prinsipnya tidak ada comfort zone di dunia ini bagi orang beriman, karena tujuang akhir orang beriman adalah kampung akhirat.

PELAJARAN KEDUA dari faedah kelabilan manusia setelah istiqomah, yakni hal yang berkaitan dengan muammalah; selama kita berhadapan dengan manusia, maka masihlah terdapat peluang berjuang. Karena manusia mudah berubah, maka usahakan yang terbaik untuk mereka dalam upaya menyampaikan kebaikan.

Kita kembali ke kisah Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu. Dalam kegoncangannya atas pengaruh provokasi golongan Bani Salimah, Ka’ab menanyakan sesuatu kepada mereka:

“Apakah ada orang lain yang menemui peristiwa sebagaimana hal yang saya temui itu?”

Orang-orang itu menjawab:
“Ya, ada dua orang yang menemui keadaan seperti itu. Keduanya berkata sebagaimana yang engkau katakan lalu terhadap keduanya itupun diucapkan – oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam sebagaimana kata-kata yang diucapkan padamu.”

Ka’ab berkata:
“Siapakah kedua orang itu?”

Orang-orang menjawab:
“Mereka itu ialah Murarah bin Rabi’ah al-‘Amiri dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi.”

Ka’ab berkata:
“Orang-orang itu menyebut-nyebutkan di mukaku bahwa kedua orang itu adalah orang-orang sholeh dan juga benar-benar ikut menyaksikan peperangan Badar dan keduanya dapat dijadikan sebagai contoh – dalam keberanian dan lain-lain.”_

Dari momen tersebut kita dapat kembali mengambil ibrah, obat untuk mengobati kegalauan yang kita alami adalah teman sepenanggungan. Keberadaan teman, apalagi jika lebih senior dari kita, yang pernah satu profesi dari kita, dapat menghilangkan penyakit kegalauan di dalam hati kita. Karena tak pelak lagi, ketika kita sedang menapaki jalan hidayah kita membutuhkan figur; tak luput Rasullullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Namun selain beliau, pada tingkatan pergaulan yang sebaya dengan diri kita, kita membutuhkan teman sepenanggungan.

Inilah resep istiqomah untuk survive hidup di kota yang penuh fitnah. Di mana dunia sudah terbuka semua, kita butuh teman. Kita butuh figur. Kita butuh senior. Janganlah kita jadi eksklusif.

Kita kembali ke kisah Ka’ab in Malik RadhiAllahu’anhu. Maka Ka’ab pulang ke rumahnya. Setibanya dirinya di kediamannya, telah tiba kabar hukuman untuk dirinya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam melarang seluruh kaum Muslimin untuk berinteraksi dengan Murarah bin Rabi’ah al-‘Amiri dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi serta Ka’ab bin Malik.

Semenjak hari itu, semuanya berubah. Satu kota Madinah mendadak berubah suasana bagi Ka’ab dua teman lainnya. Sampai Ka’ab merasa asing di kota Madinah. Semua orang berubah, pertanyaan dari Ka’ab tidak ada yang menjawab. Dan hal ini diberlangsungkan selama 50 hari khusus bagi mereka.

Hal ini tentu berbeda dengan apa yang sudah kita ketahui mengenai haramnya sesama muslim untuk mendiamkan selama lebih dari 3 hari. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ، فَمَنْ هَجَرَ فَوْقَ ثَلَاثٍ فَمَاتَ دَخَلَ النَّارَ

Artinya:
“Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot saudaranya lebih dari 3 hari. Siapa yang memboikot saudaranya lebih dari 3 hari, kemudian dia meninggal maka dia masuk neraka.” (HR. Abu Daud dishahihkan Al-Albani).

Inilah mulianya agama Islam. Islam adalah agama yang sangat humanis. Karena yang menurunkan adalah Yang Menciptakan manusia. Allah Jalla jalaluhu yang paling memahami kapasitas emosi setiap manusia yang berbeda-beda, telah diatur bagaimana kita bersikap batas mendiamkan sesama muslim tak lebih dari 3 hari.

Adalah pengecualian pada treatment Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam yang memberlakukan hukuman mendiamkan kepada Ka’ab dan dua temannya selama 50 hari. Perlakuan khusus ini dijelaskan oleh Imam al Khattabi di dalam kitab Ma’alimul Sunan, karena terdapat kekhawatiran Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam pada diri tiga sahabatnya yang tidak ikut ke perang Tabuk tumbuh virus kemunafikan. Karena hanya orang munafik yang tidak memiliki uzur untuk tidak ikut dalam perang Tabuk. Pun hukuman yang diberlakukan adalah sarana uji ketahanan kapasitas Ka’ab dan kedua temannya, karena orang munafik tidak akan tahan didiamkan selama 50 hari.

Sejenak mari kita berkaca pada momen tersebut;
Hilal bin Umayyah yang pernah menghancurkan berhala dengan dua tangannya di khawatirkan menjadi munafik.
Ka’ab bin Malik, salah satu figur sahabat alumni perang Badr, perang Uhud, dan Fathul Mekkah telah dikhawatirkan menjadi munafik.

Mereka dikhawatirkan menjadi munafik karena sebuah kesalahan. Lalu pertanyaannya; “bagaimana dengan kita?” Kitalah yang paling pantas dikhawatirkan.

Apa yang sudah kita lakukan dengan masa lalu yang bergelimang dosa? Barulah kita bertaubat kemarin hari. Barulah kita menghadiri kajian dalam hitungan jari. Atau pun janganlah kita merasa senantiasa besar hati telah mengamalkan beberapa anjuran Sunnah.

Al-Hasan Al-Bashri mengatakan; “Tidak ada orang merasa aman dari sifat nifak kecuali orang munafik dan tidak ada orang yang merasa khawatir terhadapnya kecuali orang mukmin.”

Pemboikotan yang dialami Ka’ab dan kedua temannya hendaknya menginsipirasikan diri kita. Audit diri kita sebelum di audit Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat.

Bersambung di PART # 5
Baca kisah sebelumnya di 
PART # 3
PART # 2
PART # 1

Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى
Courtesy of The Rabbaanians
https://www.facebook.com/therabbaanians/photos/a.1433546910282441.1073741828.1433458263624639/1628101810826949/?type=3&theater

Video Kajian : Saat Semua Berpaling… Part # 4

Kafir Adil Atau Muslim Koruptor…

Akhir akhir ini, sering kita mendengar pernyataan: “Kafir Adil Lebih Baik Dibanding Muslim Korup”.

Pernyataan di atas sekilas terdengar cerdas, namun sejatinya bila dipikirkan lebih mendalam, niscaya anda mendapatkan pernyataan di atas jauh menyimpang dari.kebenaran, dan sekaligus bentuk dari pembodohan, kemunduran dan kemalasan berpikir.

Di saat yang sama, perbandingan di atas bukti telah hilangnya nilai nilai keadilan dari diri pelakunya.

Mendengung dengungkan keadilan, namun ternyata keadilan adalah hal pertama yang mereka dustakan.

Seharusnya membuat perbandingan tuh yang adil dan obyektif sebagaimana berikut ini:
Milih Muslim adil atau kafir adil ?
Milih muslim korupsi atau kafir korupsi ?
Milih muslim adil atau kafir korupsi ?
Milih muslim korupsi atau kafir adil ?

Sebagai orang yang beriman tentu anda tidak mungkin salah pilih. Karena anda memilih berdasarkan ilmu dan iman bukan berdasarkan NAFSU dan kebodohan.

Bagi yang mengedepankan nafsu apalagi ditambah dengan kebodohan maka bisa jadi mereka salah pilih.

Namun bagi anda orang yang beriman dan cinta kepada agamanya, pasti anda memilih muslim dalam segala kondisi, sampaipun dalam kondisi yang terburuk, yaitu bila pilihannya muslim koruptor melawan kafir adil, karena selamatnya agama dirinya dan juga agama masyarakatnya lebih penting dibanding segala urusan, sampaipun ia harus kehilangan dunia beserta seluruh isinya.

Sekali lagi kata kunci memilihnya ialah memilih atas dasar ilmu dan iman dan bukan karena NAFSU dan KEBODOHAN.

Sebagaimana dalam segala urusan, orang yang beriman selalu mempertimbangkan keuntungan dan kerugian dalam aspek agamanya ?

Orang islam bertindak berucap selalu mempertimbangkan manfaat di dunia juga di akhirat, madhorot di dunia dan juga di akhirat.
Dan bila keduanya tidak bisa digabungkan, maka pertimbangan akhirat pasti lebih didahulukan.

Ya, memang dalam segala urusan termasuk dalam urusan politik, aspek market atau pasar sangat penting.

Bagi yang marketnya adalah kalangan terpelajar maka ia berkepentingan memperbesar jumlah marketnya, memperbanyak sekolah, perguruan tinggi agar basis marketnya bertambah besar bukan malah mengerucut.

Sedangkan orang yang basis dukungannya wong cilik dan rakyat kecil, maka disadari atau tidak ia berkepentingan menjaga basis marketnya agar tetap eksis dan kalau bisa bertambah besar dan semakin banyak.

Meningkatnya tarap kehidupan dan pendidikan masyarakat berarti menipisnya market mereka, dan menipisnya market berarti ancaman bagi eksistensi mereka.

Sobat! Cerdas dalam berpikir, adil dalam bersikap dan kritis dalam menilai adalah karakter setiap muslim, jangan pernah lagi anda dibohongi dengan kata kata : “kafir adil lebih baik dari muslim korupsi”, karena “Muslim adil tentu lebih bagus dibanding kafir korupsi”.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Terbukti…

Kaum Muslimin, semoga Allah memuliakan kita semua..

Kita telah melihat bersama, bahwa:

Sudah tidak relevan lagi slogan “kafir yang adil lebih baik daripada muslim yang zhalim” bagi masyarakat Jakarta.

Karena sudah nyata yang kafir telah menzalimi banyak sekali wong cilik, bahkan telah nyata menzalimi seorang kyai yang banyak berjasa bagi kaum muslimin.. Justru yang muslim, dari track recordnya terlihat lebih adil dan berhati nurani.

Tidak laku lagi slogan “kafir bersih lebih baik daripada muslim yang koruptor”.

Karena sudah nyata yang kafir telah terendus banyak korupsi, hanya saja karena kesaktiannya atau kekuatan bekingannya, dia kebal dan hukum sangat tumpul terhadapnya… Justru yang muslim, terlihat lebih bersih dan tulus.

Tidak pas lagi slogan “mulut kasar yang memihak rakyat lebih baik daripada mulut santun tapi main di belakang”

Karena ternyata sudah terbukti, ternyata dia disamping mulutnya kasar juga seringkali tidak memihak rakyat kecil, bahkan tidak memihak kaum muslimin dan para ulamanya… Justru yang muslim, terlihat: cerdas, santun, dan lebih sejuk dipandang.

Wahai kaum muslimin Jakarta, sayangilah diri kalian dengan memilih pemimpin yang muslim, bersih, santun, dan berhati nurani.. !!

Dan niatkanlah ibadah dalam memilih pemimpin yg muslim, yaitu dalam rangka menaati perintah Allah dalam Almaidah:51 dan banyak ayat lainnya yg senada.

Dan takutlah digolongkan Allah sebagai orang-orang munafik, sebagaimana dalam firman-Nya (yg artinya):

“Berilah kabar gembira kepada orang-orang MUNAFIK, bahwa bagi mereka adzab yang pedih. (yaitu) mereka yang menjadikan orang-orang KAFIR sebagai pemimpin meninggalkan kaum mukminin. Apakah mereka menginginkan kemuliaan di sisi orang-orang kafir itu?! Maka, sungguh semua kemuliaan itu milik Allah”. [Annisa: 138-139].

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Diskusi Dengan Seorang Politikus Senior Muslim – part 4 (tamat)

Setelah ketiga tema di atas berhasil saya jawab, padahal menurut beliau selama ini beliau belum pernah menemukan jawaban yang memuaskan beliau, kini beliau berpindah ke tema yang lebih krusial karena ini adalah dunia beliau, yaitu masalah politik.

Beliau berkata: ummat Islam harus menguasai tiga hal agar dapat memimpin, ketiga hal itu ialah:
1. Politik.
2. Ekonomi.
3. Pendidikan dan Tekhnologi
Tanpa ketiganya maka ummat Islam akan terus termarjinalkan, karena itu jangan heran bila tokoh-tokoh Islam yang terjun ke dunia politik atau menjadi pejabat publik, banyak yang korupsi, terperangkap dalam iming-iming harta, salah satu sebab utamanya ialah karena mereka miskin.

Pernyataan beliau yang sekilas nampak santun dan beralasan ini, namun sejatinya bagi saya ini adalah sindiran tajam kepada diri saya. Seakan beliau berkata kepada saya: kamu ngomong boleh saja hebat, tapi kamu minus ketiga hal di atas, maka semuanya sia-sia.

Menanggapi pernyataan beliau di atas, saya meminta izin untuk menanggapi pernyataan beliau. Saya memulai tanggapan dengan berkata:
Nampaknya bapak belum mengenal sejarah Islam, bapak hanya melihat fakta ummat Islam hari ini. Islam telah berjaya belasan abad, memimpin dunia, dari belahan timur hingga barat. Kemajuan eropa berdiri di atas pondasi ilmu pengetahuan yang mereka rampas dari tangan ummat Islam. Sampai saat ini bukti sejarah kepemimpinan Islam atas dunia masih berdiri kokoh di berbagai belahan dunia termasuk di eropa.

Jadi jangan hanya melihat fenomena ummat Islam pada hari ini, namun kajilah sejarah Islam secara komprehensif, dari awal datangnya Islam hingga saat ini.

Islam pada awal kehadirannya mampu menundukkan dunia, termasuk dua negara adi daya kala itu Persia dan Romawi bukan karena kemajuan tekhnologi, kekuatan ekonomi atau politik. Namun mereka mengukir semua itu karena kekuatan iman dan ketakwaan mereka kepada Allah Ta’ala.

Sejarah kembali membuktikan dirinya pada perang salib, ummat Islam telah terkalahkan oleh pasukan salib hingga Baitul Maqdis jatuh ke tangan pasukan salib. Tidak tersisa dari negri Islam kecuali negri Mesir, namun dengan pasukan yang tersisa tersebut, dan keimanan mereka kepada Allah, keikhlasan untuk berkorban lillah Azza wa Jalla kembali berkobar, maka mereka berhasil memukul mundur pasukan Salib hingga kembali ke kandangnya.

Demikian pula halnya ketika pasukan Tar-tar, berhasil melumpuhkan berbagai negri Islam, hingga meruntuhkan dinasti Abbasiyah, maka kembali sisa-sisa pasukan Islam yang kala itu berada di negri Mesir kembali mampu bangkit dan mengobarkan iman dan ketaatan mereka kepada Allah Ta’ala, maka mereka mampu memukul mundur pasukan Tar-tar hingga kembali ke negri asal mereka.

Perlu bapak ketahui bahwa sejarah Islam telah membuktikan bahwa siklus 100 tahunan sejarah Islam terus bergulir, termasuk yang sedang kita alami saat ini. Ummat Islam sedang mengalami keterpurukan karena siklus sejarah sedang menuju ke bawah, namun percayalah bahwa penurunan ini tidak akan berkepanjangan. Allah Ta’ala pasti mengembalikan kejayaan ummat Islam bukan melalui jalur politik, atau ekonomi, atau tekhnologi, namun dari pintu iman dan ketakwaan.

Seiring dengan berkobarnya semangat ummat Islam untuk kembali kepada jalan Allah Ta’ala, menjalankan perintah dan meninggalkan segala larangan-Nya maka kejayaan akan kembali. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

“Sesungguhnya Allah akan mengutus orang/figur/tokoh yang mengembalikan kemurnian (kejayaan) ummat ini, pada setiap penghujung seratus tahun.” (Riwayat Abu Dawud)

Para sahabat yang berhasil meruntuhkan persia dan romawi, atau pasukan Sholahuddin yang berhasil memukul mundur pasukan salib, demikian pula pasukan ummat Islam yang berhasil memukul mundur pasukan Tar-tar, bekal mereka bukan kekuatan politik, atau ekonomi atau tekhnologi, namun bekal mereka adalah kekuatan Iman dan ketaatan. Allah berfirman:

إنْ تَنْصُرُوْا اللهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Jikalau kalian menegakkan gama Allah niscaya Allah menolong kalian dan meneguhkan kaki-kaki kalian.” (Muhammad 7)

Saat ini ummat Islam bukan kekurangan orang kaya, atau orang pandai, atau tekhnologi. Namun yang kurang adalah orang kaya yang mengabdikan kekayaannya untuk Islam.

Yang kurang adalah para politikus yang loyal kepada Islam, kebanyakan politikus muslim lebih memilih mengabdikan perjuangannya demi materi dan kelompoknya atau partainya.

Yang kurang adalah ilmuwan yang mengabdikan ilmunya untuk Islam, banyak ilmuwan Muslim yang lebih memilih menjual ilmunya kepada orang kafir dibanding mengabdikan ilmunya kepada ummat Islam, semua karena pertimbangan materi.

Setelah mendengar jawaban saya ini, beliau merasa bergembira dan terbuka wawasannya tentang Islam.

Sebagai respon positifnya, beliau berminat untuk mempelajari Islam lebih jauh

Perlu disampaikan bahwa putra beliau dan juga menantunya mulai rajin mengikuti kajian di majlis Rabbanian di Masjid Al Azhar Jakarta. Sebagaimana istri beliau yang pernah menjabat jabatan strategis di suatu partai politik besar, mengutarakan niatnya untuk mengenakan kerudung, semoga Allah meneguhkan iman beliau sekeluarga dan terus membimbing mereka dan juga anda sekalian ke jalan yang dapat mengantarkan anda semua ke surga, amiin.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Baca Part 3
Baca Part 2
Baca Part 1

Diskusi Dengan Seorang Politikus Senior Muslim – part 3

Setelah terdiam sesaat mendengar penjelasan tentang tema sebelumnya, bapak tersebut kembali menyatakan: lalu bagaimana dengan orang orang yang belum mendapat akses tentang islam, semisal yang hidup di pedalaman ?

Menanggapi pertanyaan beliau saya berkata:
bapak adalah seorang yang terpelajar sehingga saya heran dengan pertanyaan ini. Kaum terpelajar biasa berpikir secara terstruktur. Dan dalam semua urusan biasanya kita berpikir tentang kondisi yang normal dan umum; bukan terbelenggu dengan kondisi spesial.

Mayoritas yang kafir sudah mendengar dan bahkan banyak dari mereka sudah mengetahui dengan baik agama islam, namun tetap kufur.

Adapun kondisi spesial yang biasanya terjadi pada sekelompok kecil alias minoritas bukan menjadi standar penilaian; walaupun mereka tetap saja akan mendapat perlakukan khusus.

Kalau dalam dunia industri moderen yang demikian canggih saja ada sebutan salah produksi atau sering disebut KW2, yang biasanya dijual dengan harga murah dan bahkan dibubuhi merek tersendiri, maka kondisi serupa juga terjadi pada ummat manusia.

Ada saja sekelompok orang yang luar biasa alias tidak wajar; bisa karena cacat fisik; atau komunitas yang kurang mendukung semisal yang di pedalaman; maka dalam Islam juga mendapat perlakuan khusus.

Kelak di hari qiyamat mereka akan diuji tersendiri atau kalau boleh disebut sebagai ujian susulan. Siapa saja yang lulus pada ujian susulan di akhirat; makanianakan dimasukkan ke surga. Disebutkan dalam sebagian riwayat imam Ahmad bin Hambal bahwa mereka dihadapkan kepada dua pilihan; masuk ke dalam api atau air. Siapa yang menuruti nafsunya dan masuk ke air maka ia tercebur dalam nerak. Dan siapa yang mentaati perintah dan melawan nafsunya sehingga ia masuk api, maka ia masuk surga.

Selanjutnya bapak tersebut berpindah tema diskusi ke masalah jilbab dan celana cingkrang.

Menurut beliau kedua hal tersebut adalah budaya arab yang tidak wajib diikuti oleh semua orang.

Menanggapi ucapan beliau saya berkata:
menurut bapak; menyimpan uang agar tidak dicuri orang misal dengan memasukkannya ke saku; atau dompet; atau mengunci rumah agar tidak dimasuki pencuri apakah ini budaya atau tuntunan syariat yang nota bene sejalan dengan nalar sehat?

Apakah paha istri bapak dan kecantikannya begitu hina sehingga tidak perlu di jaga dari mata mata kucing garong? Apakah uang Rp.5000,- lebih layak untuk ditutupi dibanding paha dan kecantikan istri dan putri bapak?

Kalaupun budaya kita membuka aurat dengan memakai kemben atau bikini ketika renang; maka ketahuilah bahwa syariat yang arti secara bahasanya ialah jalan hidup atau sumber mata air; diturunkan untuk mengendalikan budaya dan nafsu agar stabil dan tidak kelewat batas; bukan sebaliknya budaya dan nafsu yang malah dijadikan syariat.

Adapun celana lelaki yang cingkrang dipermasalahkan; maka saya heran ndak kepalang dengan bapak; kalau melihat celana lelaki naik sedikit di atas mata kaki bapak sewot; namun giliran melihat rok wanita yang naik hingga separoh paha; bapak enjoy. Mengapa hal ini bisa terjadi ? bukankah sama sama cingkrang bahkan kelewat cingkrang ?

Ya jawabannya sederhana: nafsu; standar penilaian bapak sarat dengan pengaruh hawa nafsu.

Mendengar jawaban saya; kembali bapak tersebut tersenyum senyum; dan nantikan diskusi sesi ke4, sesi terakhir: tentang sistem kenegaraan insyaAllah.

Baca Part 2

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Diskusi Dengan Seorang Politikus Senior Muslim – part 2

​Diantara pertanyaan yang beliau lontarkan kepada saya ialah : Mayoritas penduduk bumi ini non islam, nyata-nyata mereka tidak bersyahadat, tidak sholat dan tidak mengakui Islam sebagai agamanya, lalu apakah Allah tega dan begitu kejamkah Allah sehingga kelak akan menyiksa mayoritas penduduk bumi ?

Mendengar pertanyaan ini saya tersenyum, lalu kembali meminta izin untuk mengomentarinya:

Bapak! coba bapak renungkan, andai bapak adalah seorang peternak, memelihara ribuan ekor sapi atau domba atau ayam, lalu dari hewan ternak yang bapak pelihara ada beberapa ekor hewan yang bandel, suka membuat onar, melanggar aturan yang bapak terapkan, bahkan menyeruduk bapak, kira-kira apa yang akan bapak lakukan ?

Bapak memukul mereka, atau menyembelih mereka atau minimal menjual mereka kepada orang lain yang juga pada saatnya akan menyembelihnya bukankah demikian ?

Dan kelak hewan hewan yang nurut sehingga badannya gemuk, bukankah ujung-ujungnya juga akan bapak sembelih atau minimal bapak menjualnya kepada orang lain yang akan menyembelihnya ?

Apakah layak bila kemudian ada orang yang menganggap bahwa bapak adalah lelaki bengis, kejam dan tidak berperasaan? karena hewan yang bengal disembelih dan yang nurut juga disembelih ?

Bagaimana halnya dengan Allah Ta’ala yang menciptakan manusia dan menyiapkan untuknya segala yang di bumi, namun kemudian ada dari mereka yang menentang dan melawan aturan Allah Ta’ala, bukankah mereka itu layak untuk di siksa ?

Sedangkan orang-orang yang tunduk dan patuh, maka pasti mendapatkan surga, bukan disembelih atau disiksa. Mana yang lebih layak disebut kejam, para peternak yang menyembelih semua hewan piaraannya, yang nurut atau yang melawan, ataukah Allah Ta’ala yang hanya menyiksa orang-orang yang membangkang kepada-Nya ?

Padahal Allah Ta’ala telah memberi kesempatan dan terus memberi kesempatan, mengutus para Rasul, menurunkan kitab, membuka pintu taubat sepanjang hayat masih dikandung badan. Masihkah ada alasan bagi siapapun untuk tidak patuh kepada Allah Ta’ala ?

Mendengar penjelasan dan ilustrasi di atas kembali bapak politikus tersebut terdiam mengangguk angguk.

…bersambung di Part 3

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Baca :  Part 1

Diskusi Dengan Seorang Politikus Senior Muslim – part 1

Ketika saya duduk bersama seorang politikus senior di senayan, tiba tiba beliau menceritakan satu vidio yang pernah beliau saksikan di youtube. Menurut beliau, pada vidio tersebut seorang lelaki bahkan seorang pendeta tepatnya, bercerita bahwa dia pernah berdoa meminta tiga hal kepada tuhan Yesus, dan ternyata ketiga-tiganya dikabulkan, maka kejadian ini bukti nyata bahwa tuhan yesus adalah benar-benar tuhan.

Kisah di atas menjadi pertanyaan besar bagi sang politikus, dan sudah sekian lama belum menemukan jawabannya, yang dengan dasar itu pula beliau mengajak ummat islam agar tidak terlalu fanatik dengan islamnya, alias toleransi kepada agama lain.

Setelah sang politikus selesai bercerita saya minta izin untuk menanggapi:

1. Saya balik bertanya: bukankah bapak juga tahu berjuta juta manusia mendapat pemberian dan karunia tanpa berdoa, apa itu pertanda bahwa tuhan tidak ada ? Atau pertanda bahwa yesus bukan tuhan?
Mendengar pertanyaan saya, bapak.politikus tersebut terdiam.

2. Selanjutnya saya kembali bertanya: apa buktinya bahwa ketiga hal yang didapat oleh sang pendeta benar benar datang dari yesus ? Bisa jadi itu hanya faktor kebetulan saja, karena betqpa bayak pula orang yang berdoa kepadanya namun tidak dikabulkan.
Kembali bapak tersebut terdiam dan tidak dapat menjawab.

3. Adapun toleransi, maka toleransi yang benar adalah dengan saling membiarkan dan tidak saling mengganggu . Gambaran sederhana tentang toleransi bagaikan suami yang bangga dan meyakini bahwa istrinya adalah wanita tercantik dan bahkan bidadari, numun bukan berarti ia boleh menghina istri tetangga. Kalau toleransi diartikan sehari beribadah di gereja dan sehari di masjid, maka itu sama halnya dengan sehari bermalam dengan istri sendiri dan sehari kemudian bermalam bersama istri tetangga, apa bapak mau seperti itu?
Konsep toleransi dalam islam sudah jelas diajarkan dalam ayat berikut:

لكم دينكم ولي دين

“Bagi kalian agama kalian sedang bagiku agamaku.”

Sebagai orang beriman wajib untuk meyakini bahwa Islam adalah satu satunya agama terbenar dan yang lain tidak benar, namun bukan berarti anda berhak memaksa orang lain mengikuti pilihan dan keyakinan anda.

Sebagaimana orang lain juga pasti meyakini yang serupa, mereka bilang bahwa ummat islam adalah domba domba yang tersesat dan hanya mereka yang tidak tersesat.

Allah Ta’ala berfirman:

لا إكراه في الدين قد تبين الرشد من الغي

“Tiada paksaan dalam urusan mengikuti agama, sungguh telah nyata perbedaan antara petunjuk dari kesesatan.”

…bersambung di Part 2

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Itulah Janji Allah…

Allah Ta’ala berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An Nuur: 55)

Perhatikanlah ayat ini.. Allah berjanji kepada siapa? Kepada orang orang yang beriman dan beramal shalih.
Apa janjinya? Yaitu memberikan kekhilafahan di muka bumi, kekokohan agama, dan keamanan.
Namun apa syarat agar janji tersebut agar terwujud? Yaitu di saat mereka hanya beribadah kepada Allah saja dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun.

Buat kamu yang menginginkan khilafah, camkanlah ayat ini. Sesungguhnya khilafah itu adalah janji Allah untuk orang orang yang beriman dan beramal shalih yang mentauhidkan Allah dan menjauhkan kesyirikan.
Sementara kita lihat kesyirikan merajalela..
Perdukunan dan ilmu ilmu mistik menjadi sesuatu yang biasa..
Kuburan-kuburan diagungkan dan diyakini dapat memberi manfaat dan mudlarat..
Keimanan pun dikoyak dengan syubhat pemikiran yang menyesatkan..
Amal shalih pun diwarnai kebid’ahan yang dianggap sebagai kebaikan..

Maka lihatlah kenyataan ini.. semua ini yang menghalangi kejayaan umat..
Oleh karena itu dakwahi manusia kepada tauhid sebagaimana para nabi terdahulu mendakwah kepada tauhid.
Para Nabi tidak memulai dakwah dengan politik atau memperbaiki perekonomian atau lainnya..
Tetapi mereka memulai dakwahnya dengan tauhid. Bahkan dakwah para nabi dari awal sampai akhir adalah tauhid. Menyeru manusia agar hanya menyembah Allah saja dan memperingatkan bahaya syirik dan macam macamnya..

Khilafah bukanlah tujuan dakwah.akan tetapi tujuan dakwah adalah agar manusia mentauhidkan Allah dan tidak berbuat kesyirikan. Agar manusia beriman dan beramal shalih. Bila mereka semua telah melakukan itu, pasti Allah akan memberikan kepada mereka khilafah.

Badru Salam, حفظه الله تعالى

Jadilah Yang Terbaik…

Bismillah
Akhi ukhti… rahimakallah

Di mana letak tanganmu ketika ruku’?
Dan bagaimana posisi kepala dan punggungmu ketika itu?

Coba kau perhatikan, apakah ruku’mu sudah sesuai dengan buku panduan?
Atau kau berinisiatif sendiri mengikuti kenyamanan perasaanmu?
Hanya kau yang tahu hal itu.

Demi kesempurnaan shalat hamba, seyogyanya setiap muslim mengevaluasi posisi ruku’ dia, apakah sudah mendekati gerakan ruku’ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam panutan kita?

Mungkin ada Sebagian yang berkata, yang penting kan shalatnya sah, tidak usah terlalu muluk-muluk!
Subhanallah, keenapa kita dalam urusan ibadah tidak mengejar yang sempurna dan paripurna, sebagian selalu mencari yang minimal…
minimalis…. he he he

Cobalah untuk tidak meraih yang di bawah bintang
Jadilah yang terbaik…

Dan yang bisa ana simpulkan tentang ruku’ dari hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah sebagai berikut

1. KEDUA TANGAN DILETAKKAN TEPAT DI LUTUT ( bukan di bawah lutut)(lihat HR. Abu Daud no. 863 dan An Nasai no. 1037. (Admin : lihat video berikut : https://www.instagram.com/p/BP5Z5iJjuMo/

2. KONDISI JARI-JARI TANGAN MEREGANG SEAKAN MENGGENGGAM LUTUT (lihat HR. Abu Daud no. 731 dan No. 734)

3. POSISI TANGAN DAN SIKU TIDAK MENEMPEL DENGAN SAMPING TUBUH NAMUN DIJAUHKAN dengan catatan tidak mengganggu yang di sampingnya bila shalat berjamaah (lihat HR Tirmidzi no: 260) )

4. POSISI KEPALA SEJAJAR DENGAN PUNGGUNG TIDAK MENDONGAK( lihat HR. Abu Daud no. 734, Tirmidzi no. 260 dan Ibnu Majah no. 863)

5. KONDISI PUNGGUNG RATA SEHINGGA JIKA AIR DITUANGKAN DI ATAS PUNGGUNGNYA, AIR ITU AKAN TETAP DIAM BUKAN SEPERTI BUKTI BILA DITUANGKAN AIR AKAN MENGALIR (lihat HR. Ibnu Majah no. 872)

6. THUMA’NINAH, TENANG SAMBIL MEMBACA BACAAN RUKU’ (lihatHR. al-Bukhâri,no. 757 dan Muslim,no. 397)

7. TIDAK MEMBACA AL QUR’AN (HR Muslim. no. hadits 1074)

8. MATA MAMANDANG KE TEMPAT SUJUD (ada yang berpendapat memandang pada kakinya ketika ruku’) (HR. Al Baihaqi 2/283)

Mungkin engkau ingin mempraktekkannya, semoga ALLAH memudahkannya untukmu…
(Admin : lihat video berikut : https://www.instagram.com/p/BP5Z5iJjuMo/

Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah