Bukanlah Seperti Tugas Piket..

Berbakti kepada ibu dan bapak bukanlah seperti tugas piket yang dibagi jadwalnya antar saudaramu.

Tapi itu adalah perlombaan apakah engkau berhak untuk mendapatkan salah satu pintu surga ataukah tidak. Sebelum pintu itu ditutup, berbaktilah.

رب اغفرلنا ولوالدينا وارحمهما كما ربيانا صغارا

Ya Rabb, ampunilah kami dan kedua orang tua kami. Dan sayangilah mereka sebagaimana mereka merawat kami ketika kami kecil.

Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

George dan Idhul Adha…

Mohon dibaca dan direnungi berdasarkan realita kita dengan seksama…

George (50 th) tinggal bersama istri, dan dua orang anaknya (Tony & Julia) di Washington. Menjelang datangnya bulan Dzul Hijjah, George dan istri serta anak-anaknya mengikuti berita-berita seputar penentuan tanggal 1 Dzul Hijjah.

George aktif menyimak berita di radio. Istrinya menyimak lewat televisi. Sedangkan Tony rajin searching di internet.

Ketika pengumuman tanggal 1 Dzul Hijjah diumumkan, George sekeluarga bersiap-siap untuk menyambut Iedul Adha yang bertepatan dengan tanggal 10 Dzul Hijjah, setelah acara wukuf di Arafah tanggal 9-nya.

Keesokannya, mereka sekeluarga pergi ke desa untuk membeli domba sesuai kriteria syari untuk dijadikan hewan kurban (udhiyyah), yaitu: tidak boleh buta sebelah, pincang, atau terlalu kurus. Mereka berniat menyembelihnya begitu hari raya tiba.

Domba pun mereka bawa dengan pick-up sambil terus mengembik di perjalanan…

Adapun Julia yang baru berusia 5 tahun, asyik berceloteh dan mengatakan, “Ayah… alangkah indahnya hari raya Iedul Adha! Aku akan pakai gaun baru, dapat THR, dan bisa membeli boneka baru… aku akan pergi bersama teman-temanku ke TOY CITY untuk bermain sepuasnya di sana… Duh, alangkah indahnya saat-saat hari raya”, katanya. “Andai aja semua hari adalah hari hara” lanjutnya.

Begitu mobil tiba di rumah, istri George berbisik, “Wahai suamiku tercinta… Kamu tahu khan, bahwa disunnahkan membagi daging korban menjadi tiga: sepertiga kita makan sendiri untuk beberapa hari ke depan, sepertiga kita sedekahkan ke fakir miskin, dan sepertiga lagi kita hadiahkan ke tetangga kita David, Elizabeth, dan Monica”.

Begitu Iedul Adha tiba, George dan istrinya bingung di manakah arah kiblat, karena mereka hendak menghadapkan domba kurban ke kiblat. Setelah menebak-nebak, mereka memutuskan menghadapkan kurban ke arah Saudi Arabia, dan ini sudah cukup.

Setelah mengasah pisau, George menghadapkan dombanya ke kiblat lalu menyembelihnya. Ia kemudian menguliti dan memotong-motong dagingnya. Adapun istrinya membaginya menjadi tiga bagian sesuai sunnah. Namun tiba-tiba George berteriak mengatakan, “Waduh, kita terlambat ke gereja… sebab ini hari Minggu dan kita akan terlambat menghadiri misa!”. George konon tidak pernah ketinggalan misa di Gereja setiap hari Minggu. Ia bahkan rajin membawa istri dan anak-anaknya ke gereja.

Sampai di sini, pengisah mengakhiri kisahnya tentang George.

Salah satu yg hadir bertanya: “Waduh, kamu membingungkan kami dengan kisah ini !!! George ini seorang muslim ataukah Kristen??”.

Pengisah menjawab: “George dan keluarganya adalah penganut Kristen. Mereka tidak meyakini kemahaesaan Allah, namun menganggapnya salah satu dari Tuhan yg tiga (trinitas). Mereka juga tidak percaya bahwa Muhammad adalah penutup para nabi dan rasul” jelasnya.

Majelispun geger mendengar penjelasan tersebut. lalu salah satu yang di majelis berseru, “Hai Ahmad, kamu jangan membohongi kami. Siapa yang percaya kalau George dan keluarganya melakukan itu semua? Mana mungkin seorang Nasrani menerapkan syiar-syiar Islam… mana mungkin mereka membuang-buang waktu untuk menyimak radio, televisi, dan internet sekedar untuk mengetahui kapan hari raya Iedul Adha tiba?? Mana mungkin mereka rela merogoh koceknya untuk membeli hewan kurban, lalu menyembelih dan membagi-baginya… dst!!!” kata si penanya.

Ahmad pun menjawab dengan senyum dan sedikit heran, “Wahai saudara-saudaraku tercinta, tentu kalian tidak mempercayai ceritaku. Kalian tidak akan membenarkan jika ada sebuah keluarga Kristen yang melakukan hal tersebut. Akan tetapi, kita yang berada di negeri-negeri muslim: Abdullah, Muhammad, Khalid, Khadijah, Fatimah, dan nama-nama muslim lainnya dengan santai turut merayakan hari raya kaum Nasrani dan Yahudi. Kita turut merayakan tahun baru Masehi (Masehi nisbat kepada Isa Al Masih/Yesus), mengucapkan selamat Natal, merayakan Valentine’s Day, April Mop, Paskah, ulang tahun, hari raya ini… dan itu…?”.

“Mestinya, kita tidak perlu mengingkari bila George melakukan hal itu. Namun kita harus mengingkari diri dan keluarga kita sendiri”. kemudian dengan nada serius Ahmad melanjutkan, “Aku pernah tinggal di Amerika lebih dari 10 tahun, namun demi Allah, aku tak pernah sekalipun melihat seorang Kristen maupun Yahudi yang merayakan salah satu hari raya kita kaum muslimin. Aku juga tidak pernah mendapati seseorang dari mereka menanyakan tentang acara atau pesta yang kita rayakan. Sampai-sampai ketika aku berhari-raya di apartemenku, tidak ada seorang pun yang memenuhi undanganku setelah mereka tahu bahwa yang kurayakan adalah hari raya Islam. Aku menyaksikan itu semua selama aku tinggal di Barat, namun sekembaliku ke negeri muslim, ternyata kita merayakan hari raya mereka… falaa haulaa walaa quwwata illa billaahil azhiem.

Kisah ini ditulis oleh Syaikh Abdul Malik Al Qasim dengan judul (جورج والعيد).

Mengucapkan Selamat Natal dan Selamat Hari Raya kepada orang kafir hukumnya haram berdasarkan ijma’ ulama. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
“Mengucapkan selamat atas hari raya yang menjadi ciri khas orang kafir hukumnya haram berdasarkan kesepakatan ulama. Seperti mengucapkan selamat atas hari raya mereka, atau puasa mereka dengan mengatakan, “Selamat Natal dan Tahun Baru Masehi… (Selamat Paskah, Selamat Waisak, Selamat Nyepi, dsm”). Kalau pun yang mengatakan tidak sampai jatuh kepada kekafiran, tetap saja itu merupakan perbuatan haram yang setara dengan mengucapkan selamat kepada seseorang karena sujud kepada salib; bahkan ucapan selamat tadi lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkaiNya, daripada mengucapkan selamat kepada orang yang minum khamer atau membunuh orang lain, atau berzina, dan semisalnya. Namun banyak kalangan yang tidak menghargai agamanya, terjerumus dalam perbuatan yang sangat ‘menjijikkan’ tersebut tanpa disadari… Sebab barangsiapa mengucapkan selamat kpd seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah, atau kekafiran; berarti menjerumuskan dirinya kepada murka dan amarah Allah” (Disadur dari kitab: Ahkaam Ahlidz Dzimmah).

Sufyan Basweidan,  حفظه الله تعالى 

Ref : http://basweidan.com/george-dan-iedul-adha-must-read/

Apa Untungnya Ikut Perayaan Tahun Baruan..?

Bagi kaum muslimin yang ikut-ikutan merayakan tahun baru, mari pikirkan baik-baik..

1. Apa yang Anda dapatkan dari pergantian tahun ini ?

Anda dapat uang kah? atau dapat pahala? atau dapat kesehatan darinya? atau naik pangkat karenanya? atau ada nikmat lain dengan bergantinya tahun ini?!

Jika tidak, bahkan sebaliknya, uang Anda akan banyak berkurang… Anda akan mendapatkan banyak dosa… bahkan bisa jadi ada bahaya menimpa Anda? … Lalu mengapa anda merayakannya?!

2. Apa alasan Anda melakukannya ?

Kalau ikut-ikutan tren, siapa yang Anda ikuti? Nabi Muhammad ﷺ kah, atau kiyai kah, atau ustadz kah, atau sebenarnya Anda mengikuti non muslim?

Tahun baru masehi itu kalender siapa?
Bukankah kalender kaum muslimin adalah kalender hijriyah?
Apakah masehi itu kalender Islam, atau kalender dari non muslim?
Lalu mengapa Anda merayakannya?!

3. Anda sebagai kaum muslimin, adalah umat yang besar !

Oleh karena itu, tidak pantas anda menjadi ekor bagi umat lain, kemanapun mereka pergi Anda ikuti!

Yang pantas bagi Anda adalah mengikuti manusia terbaik dan paling sempurna, Nabi agung Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-.

Lihatlah bagaimana beliau menyikapi tahun baru yang dirayakan di zamannya. Sahabat Anas -rodhiallohu anhu- mengisahkan:

Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- dahulu ketika datang ke Madinah, masyarakat di sana memiliki dua hari (istimewa) yang dimeriahkan dengan acara permainan.

Maka beliau bertanya: “Ada apa dengan dua hari ini?”.
Mereka menjawab: “Dahulu di zaman jahiliyah, kami biasa memeriahkannya dengan permainan”.

Maka beliaupun mengatakan: “Sungguh Allah telah menggantikan untuk kalian dengan dua hari yang lebih baik dari keduanya; itulah hari raya Idul Adha dan hari raya Idul Fitri”.

[HR. Abu Dawud: 1134 dan yg lainnya. Dishahihkan oleh Syeikh Albani].

Para pensyarah hadits ini, menjelaskan bahwa dua hari yg dirayakan oleh masyarakat Madinah ketika itu adalah hari Nairuz (hari pertama tahun syamsiyah/masehi) dan hari Mihrojan (hari pertengahan tahun syamsiyah/masehi).

Dua hari ini dirayakan oleh mereka, karena keadaan cuaca yang baik, cuacanya sedang; tidak panas dan tidak dingin, dan waktu malam dan siangnya seimbang lamanya. [sumber: Aunul Ma’bud 3/341].

Jadi, sekali lagi, apa untungnya ikut perayaan tahun baru ?! Lebih baik, gunakanlah untuk yang ibadah dan amal kebaikan yang akan sangat besar manfaat dan untungnya bagi diri Anda.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Musyaffa’Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Renungan Bermakna Di Akhir Tahun Akan Pentingnya Ilmu Agama…

✅ Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ

🌴 “Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” [Az-Zumar: 9]

➡ Banyak sekali perbedaan antara orang yang berilmu dan tidak berilmu, diantaranya yang sangat mendasar adalah, orang yang mengetahui suatu kemungkaran dan akibat-akibat jeleknya akan lebih terdorong untuk meninggalkannya dan mewaspadainya.

✅ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Barangsiapa tidak mengetahui kecuali kebaikan saja, maka bisa jadi datang kepadanya keburukan sedang ia tidak menyadari bahwa itu adalah keburukan, sehingga mungkin ia melakukannya dan mungkin juga ia tidak mengingkarinya, sebagaimana orang yang telah mengetahui keburukan dapat mengingkarinya.” [Majmu’ Al-Fatawa, 10/301]

➡ Sebagai contoh, di setiap malam pergantian tahun masehi, kita bisa mengukur seberapa jauh perbedaannya dan betapa pentingnya ilmu agama dalam kehidupan seorang hamba, dan tidak usah terlalu jauh, lihatlah kepada diri kita sendiri.

🌃 Dulu, sebagian kita ada yang ikut merayakan Tahun Baru, dan mungkin ketika itu sama sekali tidak terbayang kalau ternyata perayaan tersebut hukumnya haram, lalu setelah kita menuntut ilmu agama kita pun mengerti walhamdulillah, bahwa perayaan tersebut hukumnya haram karena termasuk tasyabbuh (menyerupai) orang kafir.

➡ Bahkan kita juga mengerti bahwa tasyabbuh terhadap orang-orang kafir dapat mengantarkan kepada kekafiran.

➡ Inilah pentingnya ilmu wahai Saudaraku.

🌌 Dulu, kita tidak tahu bahwa hari perayaan dalam Islam bukan sekedar seremonial belaka, hanya kebiasaan atau tradisi atau urusan dunia, lalu setelah kita menuntut ilmu agama kita pun tahu ternyata hari perayaan diatur dalam Islam, tidak boleh ditambah.

➡ Inilah pentingnya ilmu wahai Saudaraku.

🌠 Dulu, kita ikut membantu untuk suksesnya perayaan Tahun Baru, setelah kita menuntut ilmu agama kita pun tahu tidak boleh tolong menolong dalam perkara yang haram.

➡ Bahkan dulu, diantara kita masih mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru, setelah kita menuntut ilmu agama kita pun paham bahwa itu menunjukkan keridhoaan kita terhadap kesesatan dan ulama sepakat atas keharamannya.

➡ Inilah pentingnya ilmu wahai Saudaraku.

⛺ Dulu, kita tidak tahu bahwa membakar uang (rokok, petasan, mercon) adalah pemborosan harta, lalu setelah kita menuntut ilmu kita pun tahu bahwa hukumnya haram karena termasuk pemborosan dan penyia-nyiaan harta.

➡ Inilah pentingnya ilmu wahai Saudaraku.

🌃 Dulu, kita tidak tahu bercampur baur bahkan berdua-duaan dengan lawan jenis dan berpacaran hukumnya haram, lalu kita menuntut ilmu agama kita pun tahu keharamannya sebab itu semua mengantarkan kepada zina.

➡ Inilah pentingnya ilmu wahai Saudaraku.

🌌 Dulu, kita tidak tahu kalau musik, lagu-lagu dan nyanyian yang enak dinikmati ternyata hukumnya haram, lalu setelah kita menuntut ilmu kita pun mengerti keharamannya.

➡ Inilah pentingnya ilmu wahai Saudaraku.

🌠 Dan masih banyak lagi, kemungkaran yang dulu kita tidak mengetahuinya, dengan menuntut ilmu maka Allah ta’ala menganugerahkan hidayah kepada kita untuk mengenalnya dan menjauhinya.

➡ Inilah pentingnya ilmu wahai Saudaraku.

Sofyan Chalid Ruray,  حفظه الله تعالى 

Tahun Baru, Apa Salahnya..?

Malam pergantian tahun terutama 00.00 adalah momentum yang istimewa bagi banyak orang, dan bisa jadi anda salah satunya.

Kehadiran 00.00 pada malam ini begitu anda nanti-nantikan, namun ijinkan saya saat ini bertanya: sebenarnya apa yang anda dapatkan pada saat tersebut..?

Uang anda bertambah..?
Usaha anda jadi sukses..?
Penyakit anda sembuh..?
Masalah anda selesai..?

Sobat ! Sadarkah anda sejatinya momentum 00.00 bukan hanya anda yang mendapatkannya.. perampok, pencuri, pembunuh, pemerkosa, pengkhianat, penista agama, munafik sampaipun kafir yang paling kafir juga mendapatkannya.

Lalu apa yang membedakan 00.00 anda dari 00.00 mereka..?

Hura-hura..?! mereka juga hura hura.. bertambah umur..?! mereka juga bertambah umur, bahkan hewan-hewanpun juga mendapatkannya.

Yang membedakannya tentu sikap dan amalan anda..

Panjangnya umur, semua bisa mendapatkannya.. namun amal kebajikan, ibadah, dan ketaqwaan hanya orang-orang cerdas dan pilihan yang dapat melakukannya pada setiap detik dari umurnya.

Suatu hari Rosulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “siapakah orang yang paling baik..?”  beliau bersabda:

من طال عمره وحسن عمله

“Orang yang panjang umurnya dan baik amalannya..” (HR. Ahmad dll)

Dengan demikian yang istimewa bukan 00.00 nya namun yang istimewa adalah amalan anda. Karena dahulu Fir’aun juga mendapatkan momentum ini, sebagaimana manusia terkutuk lainnya juga mendapatkannya dan merayakannya.

Masihkah anda peduli dengan 00.00 melebihi momentum momentum lainnya..?

Ataukah anda mulai menyadari bahwa yang pantas diperdulikan ialah amalan anda, agar anda menjadi orang yang terbaik..

Selamat berjuang menjadi orang terbaik dengan amal dan karya anda.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Teman Yang Baik…

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata:

“Diantara nikmat yang agung yang Allah berikan kepada hambaNya yang mukmin..
Diberikan teman yang shalih..
Dan sanksi Allah untuk hambaNya adalah diberikan teman yang buruk..

Teman yang baik menyampaikan ia kepada derajat yang tinggi..
Dan teman yang buruk menyampaikannya kepada derajat yang paling rendah..

Teman yang shalih memberikan ilmu yang bermanfaat, akhlak yang mulia, dan amal yang saleh..
Sedangkan teman yang buruk menghalangi itu semua..

Allah Ta’ala berfirman:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا * يَاوَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا * لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

“Pada hari orang zalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Andaikan aku dahulu mengambil jalan Rasul. Aduh andaikan aku tidak menjadikan si fulan sebagai temanku. Sungguh, ia telah menyesatkan aku dari peringatan setelah ia datang kepadaku. Dan setan itu selalu ingin merendahkan manusia.” (Al Furqon: 27-29).

(Bahjatu qulubil abror hal 189).

Badru Salam, حفظه الله تعالى

 

da180513

 

#COVID_19 : Musibah Menghapus Dosa

Akhi, ukhti…

Tatkala kita mengetahui besarnya jumlah utang kita
Dan kita mengetahui pula bahwa jumlah aset kita tidak cukup untuk melunasinya
Bahkan kalau kita mempekerjakan diri kita dan keluarga kita untuk menebus hutang
Maka kita tergolong orang yang bangkrut, pailit.

Sekarang coba bayangkan, dalam setiap harinya, berapa banyak dosa yang kita lakukan.. 
Kita tidak pernah menghitungnya, kalau amal kebajikan insyaAllah dihitung..

sebagian tidak merasa berbuat dosa, karena memang ia tidak mengetahui mana yang dosa dan mana yang bukan…

Lepas dari semua itu, Allah, Ar Rahman Ar Rahiem…
Yang Maha mengetahui dengan segala kekurangan hambanya, telah membuat suatu sistem pelunasan dosa yang sangat indah…
Yaitu, dengan menurunkan berbagai macam musibah

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ ؛ وَلَا نَصَبٍ ؛ وَلَا هَمٍّ ؛ وَلَا حَزَنٍ ؛ وَلَا غَمٍّ ؛ وَلَا أَذًى
حَتَّى الشَّوْكَةُ يَشَاكُهَا إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit (yang terus menerus), rasa capek, kekhawatiran (pada pikiran), sedih , kesusahan hati atau sesuatu yang menyakiti sampai pun duri yang menusuknya melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari no.5641 dan Muslim no. 2573)

Jadi yang lagi sakit, pada hakekatnya dia sedang melunasi hutang-hutangnya
Maka tiada kata yang lebih pantas diucapkan pada waktu itu kecuali bersyukur kepada Allah

Salah satu ulama’ salaf berkata:

لولا مصائب الدنيا لوردنا الآخرة مفلسين

“Andai kata bukan karena musibah-musibah dunia, niscaya kita akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bangkrut”.

Bagi akhi ukhti yang sedang dapat musibah…
saatnya menjadikan musibah itu sebagai ladang pelunasan dosa…
Dengan menata hati
Bersabar
Meridhoi takdir Ilahi
Bersyukur kepada Rabbi

Selamat mengamalkan

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Syafiq Riza Basalamah MA, حفظه الله تعالى

JANGAN LEWATKAN YANG BERIKUT INI:
Kumpulan Artikel Terkait Covid-19

Cara Beribadah Dengan Nama Allah – AL QOHHAAR

Berikut ini merupakan rekaman dari ceramah agama Ustadz Abu Yahya Badrusalam حفظه الله تعالى sekaligus kajian kitab Mausu’ah Fiqh Al-Qulub (موسوعة فقه القلوب) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.

Daftar Isi Lengkap… Bagaimana Cara Beribadah Dengan Nama dan Sifat ALLAH

Menebar Cahaya Sunnah