Dulu Imam Malik bin Anas Paling Anti Dengan Fanatik…

Imam Malik adalah guru Imam Syafi’i; begitu besar ilmu yang beliau wariskan kepada Imam Syafi’i, salah satunya ialah pengagungan kepada dalil dan anti fanatik.

Begitu keras sikap Imam Malik terhadap fanatik kepada selain Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Salah satu ucapan beliau yang terkenal mencela sikap fanatik sekaligus sebagai wejangan yang beliau sampaikan kepada murid muridna ialah ucapan beliau berikut:

كل يؤخذ من قوله ويرد الا صاحب هذا القبر

Ucapan setiap manusia boleh diterima dan juga boleh ditolak selain ucapan penghuni kuburan ini ( Nabi shallallahu alaihi wa sallam)

Namun demikian, tidak semua murid beliau berhasil mengamalkan pesan dan pendidikan beliau ini. Sepeninggal beliau; mulailah sikap taasshub bersemi dengan subur; sampai sampai murid-murid beliau tidak lagi bersemangat mempelajari hadits hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang dilakukan oleh guru mereka. Para murid lebih bersemangat dan fokus mempelajari buku tulisan imam Malik dan ucapan ucapan beliau yang dibukuka oleh murid murid beliau “Al Mudawwanah“.

Majlis-majlis murd beliau lebih sering menukil ucapan Imam Malik bukan lagi hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini terus berkelanjutan pada banyak ulama mazhab Maliky&kitab kitab karya mereka sebagai buktinya. Kitab-kitab fiqih Malik lebih banyak dipenuhi dengan nukilan dari ucapan imam Malik dan murid-muridnya dibanding dalil.

Karena itu dahulu Imam Syafi’i begitu getol mengingatkan dan berusaha mengembalikan teman teman atau adik-adik seperguruan beliau agar kembali pada metode dan teladan sang guru yaitu Imam Malik rahimahullah.

Bila ini terjadi pada murid-murid Imam Malik; bagaimana dengan murid-murid saya dan juga ulama ulama atau kiyai atau ustadz zaman sekarang.

Murid tidak selalu merepresentasikan guru seutuhnya; karena ada murid yang gagal paham dan ada murid yang dadanya sempit dan ada murid yang mbeling ndak nurut kepada gurunya.

Ya Allah limpahkanlah ilmu yang bermanfaat kepada murid murid hamba-Mu ini dan kepada para penuntut ilmu secara umum. Amiin.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Penyesalan…

الصَّمْتُ زَيْنٌ وَالسُّكُوْتُ سَلاَمَةٌ ***
فَإذَا نَطَقْتَ فَلاَ تَكُنْ مِهْذَارًا (وفي رواية :مِكْثَارًا )
مَا إِنْ نَدِمْتُ عَلَى سُكُوْتِي مَرَّةً ***
وَلَقَدْ نَدِمْتُ عَلَى الْكَلاَمِ مِرَارًا

Tidak berbicara itu indah, dan diam adalah keselamatan…
Maka jika engkau berbicara hendaknya janganlah ngawur (suka banyak omong).
Tidaklah aku menyesali atas sikap diamku sekali kecuali aku telah menyesali berkali-kali atas omonganku…


Kata jika telah kau ucapkan maka ia akan lepas tidak bisa lagi kau menguasainya…
Maka kuasailah kata-kata sebelum terlanjur kau melepaskannya.

Firanda Andirja,  حفظه الله تعالى

Faidah Hadits…

Para shahabat bertanya:
“Wahai Rasulullah islam apa yang paling utama? Beliau menjawab: Yaitu orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR Al Bukhari)

Hadits ini menunjukkan bahwa islam itu berderajat ada yang paling utama dan ada yang kurang darinya. Tidak seperti yang diyakini kaum khowarij dan murjiah bahwa Islam dan iman tidak berderajat dan tidak bercabang cabang tapi hanya satu saja.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa iman itu bertambah dan berkurang, karena paling utama menunjukkan keimanan yang naik.

Hadits ini juga menunjukkan fiqih dalam beramal, yaitu hendaknya dalam beramal kita mencari amal yang paling utama.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Perseteruan Antara Ulama’ dan Juhala’…

Dalam banyak kesempatan, orang alim merasa dirinya orang yang berilmu sepatutnya dihormati, sehingga ia sangat mengharap agar orang jahil tahu diri, sehingga senantiasa mengerti dan memahami apapun yang terjadi dan dilakukan oleh orang alim. Orang alim berharap agar orang jahil lebih dahulu mengucapkan salam kepadanya sebagai bentuk penghormatan kepadanya.

Orang jahil diharapkan lebih bisa bersabar menghadapi sikap atau ucapan orang alim yang terasa menusuk di hati, Orang jahil sepatutnya lebih dahulu mengucapkan salam kepada orang yang berilmu dan demikian seterusnya.

Namun di sisi lain, orang jail berkata: seharusnya orang alim lebih bisa memahami, memaklumi, mengalah dan berlapang dada sehingga lebih pandai memaafkan kekurangan orang jahil.

Orang alim sewajarnya bisa lebih bersabar dalam menghadapi sikap orang jahil yang memang mencerminkan akan kejahilannya.

Orang jahil menuntut, agar orang alim senantiasa menjadi contoh dan teladan dalam segala hal, paling cepat dalam kebaikan dan paling jauh dari kejelekan, dan demikian seterusnya.

Menurut anda, kira kira kapan selesaikah perseteruan ini?

Tahukah anda dimana letak masalahnya dan sumber perseteruannya?

Sumbernya ialah karena masing-masing hanya berpikir tentang hak dirinya, dan lalai akan kewajibannya. Andai masing masing berpikir sebaliknya, fokus pada kewajibannya dan melupakan atau menimal memaafkan sebagian haknya niscaya kondisinya sangat indah.

Orang alim pengertian kepada orang jahil dan orang jahil juga pengertian kepada orang alim. Indahnya kondisi ini andai dapat terwujud.

Status ini adalah nasehat untuk anda yang membaca bukan nyindir alim tertentu atau jahil tertentu, dan kalaupun ada yang merasa maka seharusnya andalah orang yang harusnya paling merasa dituju dari status ini, naif sekali bila anda membaca nasehat lalu anda hanya berperan sebagai agen nasehat atau calo nasehat.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

KUNYAH… Sunnah Yang Telah Menjadi Asing di Tengah Kita-Kita…

Kunyah adalah panggilan yang berawalan “abu” bagi laki, atau “ummu” bagi perempuan, misalnya: Abu Bakar, atau Ummu Salamah.

Kunyah ini sekarang sangat asing di sekitar kita.. bahkan di zaman ini memakai kunyah diidentikkan dengan teroris, atau Islam radikal, atau garis keras!!

Padahal dulu di zaman Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- kunyah adalah sesuatu yang sangat lazim di masyarakat beliau.. beliau sendiri berkunyah Abul Qosim, bahkan semua isteri beliau berkunyah.. suatu hari Aisyah -rodhiallohu ‘anha- pernah mengatakan:

“Ya Rasulallah, semua isterimu mempunyai kunyah, kecuali aku.”

Maka beliau mengatakan kepadanya: “Ambillah kunyah, kamu (berkunyah) ‘ummu abdillah.'”

Dan Aisyah pun setelah itu dipanggil dengan panggilan Ummu Abdillah hingga wafatnya, padahal beliau tidak pernah melahirkan sama sekali. [HR. Ahmad: 25181, dishahihkan oleh Al-Arnauth].

Bahkan Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- pernah menyapa anak kecil yang sedih karena burungnya mati dengan tujuan menghiburnya: “Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan (burung) ‘Nughoir’ terhadapmu ?

Oleh karena inilah, dalam Madzhab Syafi’i kunyah dianjurkan, hal itu telah ditegaskan oleh Imam Nawawi -rohimahullah-:

Disunnahkan memanggil orang yang mulia dengan kunyah, baik laki-laki maupun perempuan, baik memiliki anak maupun tidak, baik berkunyah dengan nama anaknya atau nama lainnya.

Dan tidak mengapa kunyah bagi anak kecil.

Bila orang yang berkunyah itu memiliki beberapa anak, maka sunnahnya memakai nama anak pertamanya untuk kunyahnya.

Dan Imam Syafi’i telah menegaskan akan tidak bolehnya berkunyah dengan ‘Abul Qosim’, baik dia namanya Muhammad atau selainnya, karena adanya hadits shahih dalam masalah itu (yang melarangnya).” [Kitab: Roudhotut Tholibin 3/235].

Silahkan dishare, semoga bermanfaat..

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Nasehat Emas…

Nasehat Syaikh Sa’ad bin Nashir al Syatry hafidzahullah pada penutupan daurah syar’iyyah di Sudan. Diakhir nasihatnya beliau menangis, diantara yang disampaikannya adalah,

“…berapa banyak kata yang engkau ucapkan dengan mulutmu, yang engkau tidak pikirkan akibatnya.. Engkau tidak memperhatikan terlebih dahulu apa hukum Allah padanya sebelum engkau mengucapkannya.. Setiap kita seperti itu.. Keliru, keliru, keliru lisan-lisan kita, karena tidak mengikut kaidah emas, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”

Karenanya, kita pantas untuk merasa sangat takut terkena hukuman, akibat dosa-dosa kita, maksiat-maksiat kita dan lisan-lisan kita…”

Abu Khaleed Resa Gunarsa,  حفظه الله تعالى 

Hantu Grand Design…

Menjadi sebuah momok yang menakutkan kaum muslimin di negeri ini..

Bila itu benar, maka hadapilah ddngan banyak taqorrub kepada Allah dan banyak istighfar..

Suatu malam tiba tiba Nabi shallallahu alaihi wasallam bangun tidur lalu bersabda: Subhanallah.. fitnah apa yang diturunkan di malam ini.. Perbendaharaan apa yang Allah turunkan di malam ini.. Siapakah yang mau membangunkan para pemilik kamar? Berapa banyak orang yang berpakaian di dunia ternyata telanjang di akherat. HR Bukhari dan Muslim..

Al Hafidz ibnu Hajar ketika mensyarah hadits tersebut mengambil pelajaran bahwa di zaman fitnah hendaknya kita lebih banyak bertaqorrub dan munajat kepada Allah…

Saudaraku.. ingatlah bahwa Allah sebaik baik penolong.. dan Allah tak akan menolong hamba hambaNya yang berbuat kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan serta kezaliman..

Grand Design akan berhasil ketika kesyirikan dibiarkan merajalela, kebid’ahan dan kemaksiatan mewarnai kehidupan..
Karena syarat datangnya pertolongan Allah adalah di saat kita hanya mentauhidkan Allah dan menjauhkan kesyirikan.

Teruslah berdakwah kepada tauhid..
Teruslah perbaiki aqidah umat..
Teruslah mendalami ilmu Allah..
Karena hasil bukan tujuan..
yang penting kita bisa wafat di atas jalan salafushalih.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Mengapa Mendo’akan Kebaikan Untuk Pemimpin Muslim..?

Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah iniIkuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu

Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :

DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…

Faidah Hadits : Tasyabbuh…

Dari Al Mughiroh bin Syu’bah ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah memakai jubah romawi. Muttafaqun alaih.

Hadits ini menunjukkan bahwa tidak semua tasyabbuh (menyerupai orang kafir) itu haram. Karena dalam hadits tersebut disebutkan bahwa Nabi memakai jubah romawi.

Tasyabbuh yang diharamkan adalah memakai pakaian atau melakukan perbuatan yang khusus dipakai atau dilakukan oleh orang orang kafir. Atau menjadi syi’ar mereka.
Adapun bila bukan khusus mereka dan bukan juga syi’ar mereka maka tidak dilarang.

Demikian yang disebutkan oleh para ulama seperti syaikh Utsaimin dan lainnya.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah