Macam-Macam Hadits Dlaif…

Hadits dloif yang disebabkan oleh terputusnya sanad ada beberapa macam:

1. Mu’allaq.
2. Mursal.
3. Mu’dlol.
4. Munqothi’.
5. Mudallas.
6. Mursal Khofi.

1. Hadits Mu’allaq.

Definisi

مَا حُذِفَ مِنْ مُبْتَدَأِ إِسْنَادِهِ رَاوٍ فَأَكْثَرَ وَلَوْ إِلَى آخِرِ اْلإِسْنَادِ

Apabila dari awal sanad dihilangkan seorang perawi atau lebih dan seterusnya sampai akhir sanad.

Penjelasan Definisi

Awal Sanad, dihitung dari penyusun kitab.

Seorang rawi atau lebih, yaitu gurunya penyusun kitab, gurunya sang guru, dan seterusnya dihilangkan sanadnya

Sampai akhir sanad, tempat dimana dikatakan, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda”, atau “Diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam”

Contoh; Diriwayatkan oleh Al Bukhari di dalam kitabnya Ash Shahih, Kitab Al Iman, Bab: Husnu Islami Al Mar’i (1/17), ia mengatakan,

قَالَ مَالِكٌ، أَخْبَرَنِي زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ، أَنَّ عَطَاءَ بْنَ يَسَّارٍ أَخْبَرَهُ، أَنَّ أَبَا سَعِيْدِ الْخُدْرِيّ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِذَا أَسْلَمَ الْعَبْدُ فَحَسُنَ إِسْلاَمُهُ يُكَفِّرُ اللهُ عَنْهُ كُلَّ سَيِّئَةٍ كَانَ زَلْفَهَا، وَكَانَ بَعْدَ ذَلِكَ الْقِصَاصِ الْحَسَنَةِ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِئَةٍ ضِعْفٍ وَالسَّيِّئَةُ بِمِثْلِهَا، إِلاَّ يَتَجَاوَزُ اللهُ عَنْهَا

Telah berkata Malik, telah memberitakan kepada kami Zaid bin Aslam, bahwa ‘Atha’ bin Yasar memberitahu kepadanya, bahwa Abu Sa’id Al Khudri memberitahu kepadanya, bahwasannya ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda; Apabila seseorang masuk Islam, dengan keislaman yang bagus maka Allah akan menghapuskan semua kejahatannya yang telah lalu. Setelah itu balasan terhadap suatu kebaikan sebanyak sepuluh kali sampai 700 kali lipat dari kebaikan itu, dan balasan kejahatan sebayak kejahatan itu sendiri, kecuali pelanggaran tehadap Allah.

Al Bukhari tidak menyebutkan nama gurunya, padahal ia meriwayatkan hadits dari Imam Malik melalui perantara seorang rawi.

Contoh lain:

Dikeluarkan oleh Al Bukhari di dalam kitabnya Ash Shahih, Kitab ath-Thaharah, Bab Ma Ja’a fi Ghusli Al Baul, (1/51)

وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِصَاحِبِ الْقُبْرِ: كَانَ لاَ تَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada penghuni kubur, “Dahulu dia tidak membersihkan kencingnya.”

Al Bukhari menghilangkan semuasanadnya, dan hanya mengatakan, “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda”.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Baca artikel terkait sebelumnya : Keunggulan Shahih Bukhari di Atas Shahih Muslim…

1 Milyar Kebaikan Setiap Hari.. Mengapa Tidak..?! Bahkan Bisa Lebih..!!!

Saudaraku… Allah yang Maha Rahman menginginkan hamba-hambaNya bahagia baik di dunia maupun di akhirat… sehingga Dia banyak membuka pintu-pintu amal kebaikan yang dengannya mereka bisa menambah beratnya timbangan amal shalih nanti di akhirat…

Pintu-pintu kebaikan yang Allah buka selain banyak juga sangat mudah… bahkan terkadang amalan yang sangat ringan namun memiliki bobot pahala yang sangat luar biasa dan besar…

●  INILAH DIANTARA AMALAN MUDAH DAN HEBAT YANG DI KABARKAN

مَنِ استغفَرَ للمؤمنينَ وللمؤمناتِ ، كتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ مؤمِنٍ ومؤمنةٍ حسنةً

“Barang siapa yang memohonkan ampun kepada Allah untuk kaum mu’minin dan mu’minah, niscaya Allah akan mencatat baginya satu pahala dari setiap mu’min dan mu’minah”
(HR. Al Bukhori dalam Adab Mufrod dishohihkan oleh syekh Albani)

●  TERNYATA ITU PERINTAH ALLAH DALAM AL-QURAN

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19)

Subhanallah… betapa besar pahala memintakan ampun untuk orang-orang yang beriman baik yang masih hidup atau yang sudah wafat….maka sisipkanlah diantara do’a kita :

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“(Doa Nabi Ibrahim): Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan seluruh orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (QS. Ibrahim: 41)

●  DIANTARA ORANG-ORANG YANG PERLU KITA DO’AKAN SETIAP HARI

1⃣ Kedua Orang Tua kita
2⃣ Istri, suami dan anak-anak kita.
3⃣ kerabat dekat kita
4⃣ Guru-guru kita
5⃣ Ulil amr / Pemerintah kita
6⃣ Orang-orang yang senantiasa memberikan kebaikan kepada kita
7⃣ Seluruh kaum Muslimin dan Muslimah.

Semoga manfa’at dan kita bisa mendulang miliyaran pahala dalam sekejap.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Ismail Fachruddin Nu’man MA,  حفظه الله تعالى.

Ma’had Riyadhusshalihiin Pandeglang.

Menjawab Beberapa Dalih / Syubhat Tentang Memilih Pemimpin Kafir..

Jawabannya sangat mudah, ana rangkum dalam poin-poin berikut ini:

1. Para ulama sudah ijma dalam masalah haramnya mengambil pemimpin yang kafir, sebagaimana dinukil oleh Imam Nawawi dan yang lainnya.

Dan ijma’ mereka adalah hujjah bagi kita semua sebagai kaum muslimin di zaman akhir ini, karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (yang artinya): “umatku tidak akan ber-ijma’ dalam kesesatan”.. ini menunjukkan bahwa ijma’ umat ini adalah kebenaran yang harus diambil dan tidak boleh diselisihi.

Jika demikian, sebenarnya masalah haramnya mengambil pemimpin kafir, tidak perlu dibahas lagi dan diganggu-gugat karena kebenaran dalam masalah sudah Allah tunjukkan melalui ijma’ para ulama dalam masalah ini.

2. Para ulama ahli tafsir dan ahli ushul fikih telah mengemukakan kaidah baku yang sangat masyhur; bahwa “yang menjadi standar sebuah nash adalah keumuman lafalnya, bukan kekhususan sabab (nuzul/wurud)-nya”.

Maksud dari kaidah ini, bahwa setiap nash yang datang dari Al Qur’an maupun Hadits, pada asalnya berlaku umum, tidak hanya berlaku pada kasus yang menjadi sebab nash itu datang atau diturunkan.. Contoh sederhananya adalah nash yang diturunkan karena meninggalnya para syuhada di perang uhud, juga berlaku untuk para syuhada di peperangan lainnya, dan kita tidak boleh mengkhususkan nash tersebut untuk para syuhada uhud, selama nashnya bermakna umum.

Sehingga asbabun nuzul sebuah ayat atau asbabul wurud sebuah hadits, itu sebenarnya hanya untuk penjelas dan penguat sebuah hukum yang menyertainya saja, tidak bisa digunakan untuk mengkhususkan hukum nash tertentu dalam kasus itu saja.

Jadi, apapun sebab turunnya ayat tersebut, tetap saja ayat itu berlaku umum, karena redaksi ayat itu adalah redaksi yang umum.. berlaku kapan pun dan dimana pun.. beginilah para ulama kaum muslimin memuliakan Alquran dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

3. Apapun makna yang digunakan untuk redaksi “awliya'”, maka tetap saja bisa menjadi dalil tentang haramnya mengambil pemimpin kafir bagi kaum muslimin.

Jika “awliya'” dalam ayat itu bermakna pemimpin dan inilah yang sesuai dengan pemahaman Amirul Mukminin Umar bin Khottob -rodhiallohu :anhu-, maka sudah sangat jelas bahwa ayat itu menegaskan tentang haramnya memilih pemimpin yang kafir.

Jika “awliya'” dalam ayat itu bermakna: temanan, atau sekutu, teman akrab, dst.. maka petunjuk ayat ini dalam mengharamkan tindakan mengambil pemimpin kafir lebih kuat lagi.. karena artinya menjadi demikian; bahwa jika mengambil teman akrab, atau sekutu (dst) saja Allah haramkan, apalagi menjadikan mereka pemimpin.. karena menjadikan seseorang pemimpin lebih dahsyat pengaruh buruknya bagi kaum muslimin daripada hanya menjadikannya sebagai teman akrab, atau sekutu, dst.. inilah illatnya (inti masalahnya), dan hukum itu selalu berjalan seiring dengan illatnya.

4. Perkataan Ibnu Taimiyah -rohimahulloh- yang menyatakan bahwa “Allah akan menolong negara yang adil meski ia kafir dan tidak akan menolong negara yang zalim, meski ia mukmin”, bukan berarti beliau membolehkan memilih pemimpin kafir.. karena konteks perkataan beliau itu hanya berkenaan tentang pengaruh baik keadilan dan pengaruh buruk kezaliman dalam sebuah negara, bukan dalam konteks boleh tidaknya memilih pemimpin kafir.

Jadi perkataan “keadilan bisa memakmurkan negara”, tidak otomatis bermakna “boleh memilih pemimpin kafir yang adil”.. karena dua masalah ini sangat berbeda.. dan harusnya dibedakan. Oleh karena itulah, Ibnu Taimiyah di tempat lain dengan jelas mengharamkan memilih pemimpin yang kafir.

5. Penulis ingin menegaskan di sini, bahwa jika ada orang yang mengatakan; “ada lebih dari seratus ayat yang menunjukkan larangan memilih orang kafir sebagai pemimpin”, maka dia tidaklah salah.. karena disamping ayat yang mengharamkan mengambil awliya’ dari orang kafir, ada ayat-ayat yang mencela kekafiran, kemunafikan, kemaksiatan, kezaliman, berhukum dengan selain hukum Allah, dan keburukan-keburukan lainnya, dan itu semua bisa digunakan untuk mengharamkan tindakan memilih pemimpin yang kafir.. karena sebagaimana dikatakan oleh para ulama; “tidak ada dosa yang lebih besar dari kekufuran”, bagaimana orang yang demikian dijadikan pemimpin kaum muslimin.. dan kita tahu ayat yang menjelaskan hal itu semua berjumlah ratusan, wallohu a’lam.

Sekian, semoga bermanfaat bagi kita semua, amin.

Silahkan dishare..

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Wong Printer Kelewat Pinter…

Sobat jadi orang pinter atau pandai itu bagus, namun bila Kelewat pinter, bisa berbahaya, barangkali salah satu sikap orang yang kelewat pinter ialah bila ia berkata kepada saudaranya yang sudah basah kuyup bahkan sudah kebanjiran: Awas, bawalah payung agar tidak kehujanan!

Ya, sikap seperti ini namanya kebablasan pinter. Serupa dengan orang yang berkata: Awas, jangan mengganggu tetangga nanti dibalas, padahal tetangga sudah menginjak leher Anda.

Serupa pula dengan orang yang berkata: awas jangan meludahi teman, padahal wajahnya sudah basah kuyup diludahi temannya.

Serupa pula jangan menghina tuhan orang lain, padahal orang lain sudah seenak perutnya menghina Allah Ta’ala.

Kalau ada yang berkata: Lo kan orang lain hanya menghina ucapan atau Kalamullah, tidak menghina Allah! La ini namanya apa ya? apa sudah pada lupa bahwa Kalamullah adalah sifat Allah?

Wallahu a’alam bisshawab

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sungguh Allah Akan Menghinakan Musuh Al Qur’an

Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah menyabdakan (yang artinya):

“Sungguh dengan sebab Kitab (Al Qur’an) ini, Allah akan mengangkat sekelompok kaum, dan dengannya pula Dia akan merendahkan sekelompok kaum yang lain.” [HR. Muslim: 817].

Siapapun yang membela Al Qur’an, Allah akan mengangkat derajatnya.. sebaliknya siapapun yang merendahkannya, Allah akan meruntuhkan martabatnya.

Karena Al Qur’an adalah kalamullah; firman Allah yang Dia jamin penjagaannya dan kemurniannya.. maka merendahkannya berarti merendahkan Allah ta’ala.. Sungguh Dia tidak akan rela dengan siapapun yang merendahkannya.. Ingatlah, disamping Allah maha pengampun dan maha penyayang, Allah juga maha kuat perkasa, serta maha pedih siksa dan hukumanNya.

Kaum Muslimin, jadilah pasukan-pasukan pembela Al Qur’an, sehingga Allah memuliakan kalian.. Dan jangan sampai kalian merendahkan Al Qur’an atau membela orang-orang merendahkannya, sehingga Allah meruntuhkan martabat kalian.

Jangan sampai Anda menjadi pelajaran bagi orang lain.. Tapi, cerdaslah, dan ambillah pelajaran dari orang lain.

Lihatlah orang-orang yang hari ini mencari ketenaran dan kedudukan dengan jalan merendahkan Al Qur’an atau membela orang yang merendahkan Al Qur’an, nantinya Allah pasti akan menghinakannya.

Allah azza wajalla telah berfirman (yang artinya):

“Harusnya orang-orang yang menyelisihi perintah RasulNya, takut akan mendapatkan cobaan atau azab yang pedih.” [QS. Annur: 63].

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Resep Manjur Penangkal Penyakit Hasad…

Sobat !
Anda merasa kawatir dijangkiti penyakit hasad? Atau bahkan anda merasa bahwa diri anda benar-benar telah dijangkiti penyakit kronis ini?

Bisa jadi, ketika anda membaca status ini anda merasa tersinggung dan berkata: aaah, sori ya, saya tuh orangnya baik, jadi pantang hasad kepada siapapun.

Ya, saat ini anda berkata demikian, namun benarkah faktanya demikian? Coba diingat-ingat lagi, sikap anda tatkala mengetahui atau melihat saudara anda mendapat nikmat baru. Anda acuh tak acuh atau anda hanyut dalam pembicaran tentang nikmat tersebut, minimal anda kagum dengan nikmat yang dia dapat dan tidak anda miliki tersebut ?
Ya, sadarilah bahwa sikap anda ini adalah awal dari jalan pintas masuknya hasad atau iri pada hati anda.

Sekarang anda memuji, atau kagum, dan membicarakannya, namun tatkala anda telah menyendiri, anda mulai berpikir, bagaimana caranya anda bisa memiliki kenikmatan serupa, dan bisa jadi di hati anda terbetik ucapan: mengapa dia kok bisa mendapatkannya sedangkan anda tidak atau belum bisa memilikinya? Itulah benih-benih hasad mulai tumbuh dan bersemi di hati anda.

Sobat! Jangan kawatir, ada resep manjur penawar dan sekaligus penangkal penyakit hasad. Resep ini murah, mudah dan tentu berkah. Setiap kali anda melihat saudara anda memiliki satu kelebihan atau nikmat, segera angkat kedua tangan anda dan pusatkan hati anda untuk berdoa memohon kepada Allah Ta’ala agar berkenan melimpahkan kepada anda kenikmatan serupa atau bahkan lebih darinya.

Ingat! Allah Ta’ala tiada pernah kehabisan stok kenikmatan serupa bahkan yang lebih baik dari yang dimiliki saudara anda, dan Allah Ta’ala juga kuasa memberikannya kepada anda.

SImak dan camkanlah kisah berikut:

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقاً قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَـذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللّهِ إنَّ اللّهَ يَرْزُقُ مَن يَشَاء بِغَيْرِ حِسَابٍ {37} هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء {38} فَنَادَتْهُ الْمَلآئِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَـى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِّنَ الصَّالِحِينَ

Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. Di sanalah Zakaria mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan salat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.” (Ali Imran 37-39)

Cermatilah, bagaimana nabi Zakaria ‘alaihissalam setelah mendapat jawaban bahwa itu adalah karunia Allah, nabi Zakaria alaihissalam, segera berdoa, bukan hanyut dalam kekaguman atau ikut sibuk mencicipi atau mendengarkan cerita kronologi datangnya makanan tersebut.

Sobat! Sejak sekarang, mari kita rubah kebiasaan lama anda, setiap kali anda melihat atau mengetahui saudara anda mendapat nikmat baru, segera sibukkan diri dengan berdoa meminta kepada Allah Ta’ala kenikmatan serupa atau yang lebih baik darinya. Jangan sampai anda hanyut dalam kekaguman apalagi sampai melotot terbelalak karenanya.

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Dan janganlah kamu pusatkan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami coba mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (Thaha 131)

Selamat mencoba resep ini, semoga anda terbebas dari benih-benih hasad dan iri kepada siapapun yang mendapat karunia dan nikmat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah