Apakah SURGA dan NERAKA Telah Diciptakan..?

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى

Dari pembahasan Kitab Al-Intishar (الانتصار بشرح عقيدة أئمة الأمصار) yang menjelaskan secara gamblang tentang aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang dihimpun dari 2 (dua) karya ulama besar, yaitu: Abu Zur’ah Ar-Razi dan Abu Hatim Ar-Razi rahimahumallah.

Benarkah ALLAH Akan Berbicara Kepada Penduduk Surga..?

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى

Dari pembahasan Kitab Al-Intishar (الانتصار بشرح عقيدة أئمة الأمصار) yang menjelaskan secara gamblang tentang aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang dihimpun dari 2 (dua) karya ulama besar, yaitu: Abu Zur’ah Ar-Razi dan Abu Hatim Ar-Razi rahimahumallah.

Hadits SHAHIH… part 3

Hadits shahih adalah yang terpenuhi padanya lima syarat:

Syarat pertama: Bersambung sanadnya. (baca part 1)
Syarat kedua: Perawinya adil. (baca part 2)

Syarat ketiga: Dlobith

Dlobith artinya menguasai hadits yang ia riwayatkan dan selamat dari kesalahan atau kelalaian.

Dlobith ada dua macam:

1. Dlobith shodr. Yaitu menguasai hadits dengan hafalan dan hafalannya tidak berubah sampai akhir hayatnya. bila berubah maka periwayatan setelah berubah tidak diterima.

2. Dlobith kitab. Yaitu menguasai dengan kitab, dimana ia memiliki catatan yang selamat dari kesalahan dan telah dimuqobalah dengan kitab asalnya.

Sebagian perawi hadits ada yang diterima periwayatannya bila meriwayatkan dari hafalan tapi tidak diterima bila meriwayatkan dari catatan. Sebagian lagi ada yang sebaliknya. Dan ada juga yang diterima dari keduanya.

Bagaimana mengetahui kedlabitan perawi?

Ada dua cara yang digunakan oleh para ahli hadits untuk mengetahui kedlabitan perawi, yaitu:

Pertama: Membandingkan periwayatannya dengan periwayatan perawi-perawi lain yang terkenal ketsiqahan dan ke-dhabit-annya.
Jika mayoritas periwayatannya sesuai walaupun dari sisi makna dengan periwayatan para perawi yang tsiqah tersebut dan penyelisihannya sedikit atau jarang maka ia dianggap sebagai perawi yang dhabit. Dan jika periwayatannya banyak menyelisihi periwayatan perawi-perawi yang tsiqah tadi maka ia dianggap kurang atau cacat kedlabitannya dan tidak boleh dijadikan sebagai hujah. Akan tetapi jika si perawi tersebut mempunyai buku asli yang shahih dan ia menyampaikannya hanya sebatas dari buku bukan dari hafalannya maka periwayatannya dapat diterima.

Kedua: Menguji perawi.
Bentuk-bentuk ujian kepada perawi bermacam-macam diantaranya adalah dengan membacakan padanya hadits-hadits lalu dimasukkan di sela-selanya periwayatan orang lain, jika ia dapat membedakan maka ia adalah perawi yang tsiqah dan jika tidak dapat memebedakannya maka ia kurang ketsiqahannya.

Diantaranya juga adalah membolak-balik matan dan sanad sebagaimana yang dilakukan oleh para ahli hadits Baghdad terhadap imam Bukhari. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum menguji perawi, sebagian ulama mengharamkannya seperti Yahya bin Sa’id Al Qathan dan sebagian lagi melakukannya seperti Syu’bah dan Yahya bin Ma’in. Al Hafidz ibnu Hajar rahimahullah memandang bahwa menguji perawi adalah boleh selama tidak terus menerus dilakukan pada seorang perawi karena mashlahatnya lebih banyak dibandingkan mafsadahnya yaitu dapat mengetahui derajat seorang perawi dengan waktu yang cepat.

Hal hal yang meniadakan kedlabitan.

Ada tujuh perkara yang merusak kedlabitan perawi hadits, yaitu:

1. Katsrotul wahm: Yaitu perawi banyak melakukan wahm (kesalahan karena kurangnya menguasai) seperti memursalkan hadits yang harusnya mausul. Atau memuqufkan hadits yang seharusnya marfu dan sebaliknya.

2. Seringkali menyelisihi periwayatan perawi lain yang lebih tsiqot.

3. Buruk hafalan. Yaitu sisi salahnya tidak dapat mengalahkan sisi benarnya, artinya dua kemungkinan itu sama sama kuat.

4. Fuhsyul gholath. Yaitu kesalahan perawi dalam meriwayatkan hadits jauh lebih banyak dari periwayatannya yang benar.

5. Syiddatul ghoflah. Yaitu perawi tidak memiliki kepiawaian untuk membedakan mana riwayatnya yang benar dan mana yang salah.

6. Terlalu longgar dalam catatannya sehingga ia tidak berusaha membetulkan kesalahannya atau membandingkannya dengan kitab asal. Ini khusus untuk dlobit kitab.

7. Tidak memiliki ilmu tentang apa saja yang merusak makna hadits. Ini khusus ketika meriwayatkan secara makna.

Bersambung… part 4

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Hadits SHAHIH… part 2

Hadits shahih adalah yang terpenuhi padanya lima syarat:

Syarat pertama: Bersambung sanadnya. Dari awal sanad sampai akhir sanad. (baca part 1)

Syarat kedua: Perawinya adil.

Disebut adil apabila memenuhi lima syarat:
1. Muslim. Maka periwayatan orang kafir tidak diterima. kecuali bila ia masuk islam dan meriwayatkan apa yang ia dengar di saat kafir setelah islamnya.

2. Baligh. diterima Apa yang ia dengar di saat belum baligh lalu disampaikan setelah baligh.

3. Berakal.

4. Tidak fasiq. Yaitu pelaku dosa besar atau pelaku bid’ah. Adapun pelaku dosa besar maka tidak boleh diterima secara mutlak. Sedangkan pelaku bid’ah dapat diterima jika ia tsiqoh, amanah, dan tidak menghalalkan dusta.

5. Tidak melakukan khowarim almuruah. Seperti terbiasa meninggalkan sunnah sunnah muakkadah, atau melakukan adab adab yang buruk. maka yang seperti ini tercela pelakunya.

bersambung… part 3

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Hadits SHAHIH… part 1

Hadits shahih adalah hadits yang bersambung sanadnya dengan perawi perawinya yang adil dan sempurna kedlobitannya, tidak syadz dan tidak mengandung illat yang merusak keabsahannya.

Definisi ini memberikan kepada kita faidah bahwa hadits shahih adalah yang terpenuhi padanya lima syarat:

Syarat pertama: Bersambung sanadnya. Dari awal sanad sampai akhir sanad.

Kebersambungan sanad ada yang sharih (jelas) yaitu dengan menggunakan lafadz yang menunjukkan kepada mendengar atau mengambil langsung dari gurunya seperti lafadz: haddatsana, akhbarona, sami’tu dan semacamnya.

Ada juga yang tidak shorih, yaitu dengan menggunakan lafadz yang mengandung ihtimal (kemungkinan) mendengar atau tidak, seperti lafadz ‘an (dari), dan qoola (ia berkata).

Lafadz yang tidak shorih ini dianggap bersambung bila:
1. Perawinya tidak mudallis. Akan dibahas makna mudallis pada tempatnya in sya Allah.

2. Ada kemungkinan besar bertemu, seperti sezaman dan satu daerah dan sebagainya.

Jika perawinya mudallis maka tidak diterima periwayatannya dengan menggunakan lafadz ‘an atau qoola. Dan diterima bila menggunakan lafadz yang shorih ssperti haddatsana dsb bila perawi mudallis ini tsiqoh.
Kecuali bila perawi mudallis ini amat banyak meriwayatkan dari seorang syaikh maka perbuatan para ulama menunjukkan tetap diterima seperti periwayatan Al A’masy dari ibrahim An Nakho’iy dan sebagainya.

Demikian pula tidak diterima bila ada indikasi atau pernyataan ulama bahwa perawi tersebut tidak mendengar dari syaikhnya.

bersambung… part 2

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Memahami Al Qur’an ke 20 : Maksud Perumpamaan Dalam Al Qur’an…

Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.

Kaidah ke 20 :

Maksud perumpamaan dalam al Qur’an

Al Qur’an mengandung tata cara taklim yang paling baik dan lebih sampai kepada jiwa pembacanya. Diantara tata cara taklim al qur’an adalah memberikan perumpamaan agar lebih mudah difahami.

Seperti Allah mengumpamakan kalimah thoyibah dengan sebuah pohon yang tumbuh dengan baik. Ia memiliki akar, batang, cabang dan ranting yang menjulang.

Kalimah thayibah itu adalah laa ilaaha illallah yang merupakan pokok iman. Dan iman itu mempunyai 70 puluh cabang lebih. Bila hilang salah satu cabang tidak membuat hilang nama pohon itu namun ia berkurang kesempurnaannya.

Allah juga mengumpamakan ilmu bagaikan air hujan. Allah berfirman:

أو كصيب من السماء فيه ظلمات ورعد وبرق

“Atau bagaikan hujan yang terdapat padanya kegelapan, halilintar dan kilat.”

Dalam ayat ini Allah mengumpamakan ilmu dan hidayah bagaikan air hujan yang bermanfaat untuk bumi. Dan mengumpakan penyakit kemunafikan dan kekufuran dengan kegelapan. Kilat dan halilintar bagaikan perintah dan ancaman.
Sungguh perumpamaan yang amat tepat dan indah.

Maksud perumpamaan itu adalah lebih memahamkan pembacanya. Namun diantara manusia ada yang memahaminya dan diantara mereka ada juga yang tidak memahaminya.

Tentunya kewajiban kita adalah berusaha memahami perumpamaan perumpamaan tersebut dengan benar.

Badru Salam, حفظه الله

Kaidah Ke 21 : Bimbingan Al Qur’an Ada Dua Macam…

KAIDAH MEMAHAMI Al QUR’AN – Daftar Isi LENGKAP

Apa Yang Kita Lakukan Jika Ada Orang Yang Sedang Marah..?

Tidak disyariatkan untuk mengucapkan kepada orang yang sedang marah: berdzikirlah kepada Allah atau bershalawatlah kepada nabi. Sesungguhnya yang termasuk sunnah adalah engkau mengucapkan kepadanya: “Berlindunglah kepada Allah dari setan.”

(Ibnu Utsaimin rahimahullah)

Adapun Do’a Ketika Marah adalah:

أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

“A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim”

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. (HR. Al-Bukhari 7/99, Muslim 4/2015.)

Fuad Hamzah Baraba’, حفظه الله 

Dahsyatnya Do’a Sapu Jagad Bagi Yang Ingin Hidup Bahagia Di Dunia dan Akhirat…

Bismillah. doa sapu jagad merupakan doa yang cukup pendek namun penuh makna. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat menyukai doa-doa yang singkat tetapi sangat padat maknanya, sehingga wajar saja jika doa sapu jagad adalah doa yang lebih sering diucapkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِبُّ الْجَوَامِعَ مِنْ الدُّعَاءِ وَيَدَعُ مَا سِوَى ذَلِكَ

Artinya :
“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyukai doa-doa yang singkat dan padat maknanya, dan meninggalkan selain itu.” (HR. Abu Daud no. 1482, dan derajatnya dinyatakan Shohih oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah).

Dan diriwayatkan pula dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, bahwa beliau mengatakan:

كَانَ أكثرُ دعاءِ النبيّ – صلى الله عليه وسلم – : (( اللَّهُمَّ آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ )) متفقٌ عَلَيْهِ

Artinya :
“Doa yang lebih sering diucapkan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam adalah Allahumma Aatinaa fid Dunyaa Hasanah, wa fil Aakhiroti Hasanah, wa Qinaa ‘Adzaaban Naar (artinya: Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa Neraka).” (HR. Imam Bukhari no. 4522, dan Muslim no. 2690).

»» Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqarah ayat 201:

﴿ وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴾

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

Beliau berkata: “Termasuk dalam KEBAIKAN yang diminta di DUNIA ialah apa saja yang baik bagi seorang hamba, seperti:
» Rezeki yang lapang lagi halal,
» Istri Sholihah
» Anak keturunan yang menyejukkan mata
» Bisa beristirahat dengan tenang
» Ilmu yang bermanfaat
» Amal Sholih
» Dan selainnya dari hal-hal mubah yang disukai jiwa.

Sedangkan yang termasuk KEBAIKAN di negeri AKHIRAT ialah:
» Selamat dari berbagai siksaan di alam kubur, padang mahsyar dan neraka.
» Memperoleh keridhoan dari Allah
» Sukses dengan mendapatkan kenikmatan abadi (di dalam surga)
» Dan kedudukan yang tinggi dan dekat dengan Allah, Tuhan yang Maha Penyayang.”

Maka doa ini menjadi doa yang paling ringkas dan padat maknanya, serta paling pantas untuk sering dibaca. Oleh karenanya, Nabi shallallahu alaihi wasallam sering membaca doa sapu jagad ini dan menganjurkan (umatnya) agar senantiasa membacanya.”

»» Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -semoga Allah merahmati beliau- berkata:

“Diantara DOA yang paling singkat dan komprehensif maknanya ialah DOA yang disebutkan di dalam hadits Anas (bin Malik) radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa memperbanyak membaca doa:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

(Robbanaa Aatinaa Fid-Dunyaa Hasanatan wafil Aakhiroti Hasanatan wa Qinaa ‘Adzaaban-Naar)

Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia ini, dan kebaikan di akhirat (kelak), dan lindungilah kami dari siksa api neraka.”

Sesungguhnya doa ini merupakan DOA yang paling singkat dan padat maknanya.

Bacaan doa:

(رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً)

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia ini”

Maknanya telah mencakup segala KEBAIKAN di DUNIA, yaitu berupa:
» Istri Sholihah
» Kendaraan yang nyaman
» Tempat tinggal yang menentramkan
» Dan kebaikan selainnya.

Demikian pula bacaan doa:

ً (وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً)

“dan berilah kami kebaikan di akhirat (kelak)”

Maknanya telah mencakup segala KEBAIKAN di dalam kehidupan AKHIRAT, yaitu berupa:
» Hisab (Penghitungan amalan) yang mudah
» Menerima kitab catatan amalan dengan tangan kanan
» Menyeberangi Ash-Shirot (Jembatan yang terbentang di atas neraka Jahanam menuju Surga) dengan mudah
» Minum air telaga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
» Masuk Surga
» Dan selainnya dari segala kebaikan di negeri akhirat.

Oleh karenanya, doa (sapu jagad) ini merupakan DOA yang paling singkat dan padat maknanya, karena mengandung makna yang lengkap dan komprehensif.”

(Lihat Syarah Riyadhus Sholihin Juz VI hal.16).

Demikian pelajaran yang dapat kami sampaikan pada pagi hari ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Dan semoga kita senantiasa bersemangat dalam berdoa dan beribadah kepada Allah. Dan semoga Allah selalu mendengar dan mengabulkan setiap doa yang kita panjatkan kepada-Nya, serta menganugerahkan kepada kita kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat. Amiin. (Jakarta, 8 Agustus 2016)

Muhammad Wasitho, حفظه الله 

Urusi Saja Dirimu Sendiri..? 

Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه
berkata:

“Termasuk dosa besar di sisi Allah adalah manakala ada orang yang mengucapkan padanya: ‘Bertakwalah kepada Allah!’, seseorang itu menjawab: ‘Urusilah dirimu sendiri!’

Contoh lain: ‘Jangan ikut campur dalam masalah ini! Urusi saja dirimu sendiri!’

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Munajjid,  حفظه الله تعالى 

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Menebar Cahaya Sunnah