Jangan…

Jangan gantungkan kebahagiaanmu kepada selain ALLAH.

Karena,

Teman kesayangan, bisa menjadi musuh..
Orang dekat, bisa menjauh..

Yang hidup, bisa mati..
Pasangan, bisa mengkhianati..

Kekayaan, bisa habis..
Paras, akan terus terkikis..

Kedudukan, bisa lepas..
Mobil mewah, bisa naas..

Kesehatan, bisa hilang..
Prestasi, bisa usang..

Dan tidak ada yang kekal.. kecuali Allah yang Maha Hidup lagi Maha Mengatur.

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Bahaya Penyakit “Bebal”..

Tahukah anda bahwa salah satu penyakit yang berbahaya ialah penyakit “bebal”? Orang-orang kaya lama yang setiap hari dan di berbagai tempat menyaksikan orang-orang miskin, tanpa dia sadari dijangkiti penyakit “bebal”. Rasa iba yang kemarin ada dalam hatinya menipis bahkan sirna, akhirnya tiada lagi greget untuk menyantuni atau menyayangi mereka.

Suatu hari ada lelaki yang mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam perihal hatinya yang terasa “bebal” alias keras. Mendengar keluahan ini beliau bersabda:

إِنْ أَرَدْتَ تَلْيِينَ قَلْبِكَ فَأَطْعِمْ الْمِسْكِينَ وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ

“Bila engkau ingin hatimu menjadi lembut, maka biasakan memberi makan orang-orang miskin dan usaplah kepala anak-anak yatim.” (Ahmad dan lainnya)

Orang tua yang terbiasa duduk-duduk dengan pelaku kemaksiatan, cepat atau lambat hatinya ditimpa penyakit “bebal” sehingga tiada lagi greget untuk mengingkari perbuatan mereka bahkan bisa jadi ia tanpa sadar turut hanyut dalam kemaksiatan mereka. Karena itu jauhi para pelaku dosa dan jangan pernah menyepelekan urusan duduk-duduk dengan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يَقْعُدْ عَلَى مَائِدَةٍ يُدَارُ عَلَيْهَا الْخَمْرُ

“Siapapun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah duduk di meja makan yang disajikan minuman khamer padanya.” (At Tirmizy dan lainnya)

Bila penyakit bebal juga bisa saja menimpa orang-orang yang terbiasa tinggal di masyarakat atau negri orang-orang kafir. Cepat atau lambat ia terbiasa dengan perbuatan kakufuran dan bisa jadi suatu saat nanti ia mulai menikmati pemandangan orang-orang kafir berbuat kekufuran dan selanjutnya ia mulai kagum kepada mereka, dimulai dari kagum urusan dunianya dan berlanjut kagum akhlaqnya dan dan akhirnya kagum dengan urusan agamanya alias kekufurannya, dan berkata “kafir-kafir ndak masalah asal pandai, cerdas nan sukses”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

” أنا بَرِيءٌ من كلّ مسلم يُقِيمُ بين أظْهُرِ المشركين “.قالوا: يا رسول الله! لِمَ؟ قال: ” لا تراءى ناراهما “.

“Aku berlepas diri dari setiap muslim yang berdomisili di tengah-tengah orang-orang musyrikin/ kafir. Para sahabat bertanya: mengapa, ya Rasulullah? Beliau menjawab: agar keduanya (muslim dan kafir) tidak saling berdekatan.” (Abu Dawud dan lainnya).

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

MUTIARA SALAF : Berusahalah

Imam Sufyan Ats Tsauri rohimahullah berkata,

“Berusahalah menyeru dan mengajak manusia pada kebenaran dan balutlah dengan kesantunan dan kelembutan.

Jika mereka menerima, ucapkanlah hamdalah dan pujilah ALLAH..!

Namun jika mereka menolak dan menjatuhkan anda, maka kembali fokus pada perbaikan diri anda (jangan meladeni mereka, menjatuhkan mereka dan menjelek-jelekan mereka)..! karena dosa dan kesalahan anda pribadi sudah sangat menyita waktu dan menyibukkan anda..”

(Al Jarh wat Ta’diil 87).

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى

Potret Kesahajaan Syeikh Albani…

Syeikh Masyhur Hasan Salman menceritakan:

Syeikh pernah menyuruhku untuk mengoreksi beberapa juz dari kitab silsilah dho’ifah sebelum dicetak, beliau memberikan kepadaku juz kelima dari kitab tersebut, maka aku pun mengambilnya masih dengan tulisan tangannya sebelu. dicetak.

Maka ketika aku keluarkan dari plastik dan kulihat, aku menangis.

Syeikh pun bertanya kepadaku: ada apa denganmu?

Syeikh Masyhur: aku tidak menjawabnya, tapi syeikh melihat air mataku.

Ternyata syeikh menulis jilid kelima kitab itu di atas kertas-kertas hadiah, di atas bungkus-bungkus gula dan beras, di atas kertas bungkus warna merah yang biasa dipakai orang-orang untuk menimbang gula dan beras!

Syeikh juga mengatakan kepadaku: aku dulu memiliki benang yang kutaruh di tempat tinta, lalu aku tempatkan benang itu di atas kertas, maka jadilah kertas itu bergaris!

Syeikh -rohimahulloh-mengatakan: aku tidak punya uang untuk membeli kertas!

——

Dengan semangat yang luar biasa inilah, beliau meraih kemuliaan yang luar biasa.. sungguh hasil itu akan sebanding dengan usahanya.. karena Allah maha adil kepada hamba-hamba-Nya.

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Mati Mendadak

Mati mendadak, adalah sisi paling menakutkan dari kehidupan di dunia.

Anda tentu yakin, tidak ada yang menjamin kehidupan ini..
ada yang sehat tiba-tiba mati..
ada yang kecil sudah mati..
ada yang baru kaya, mendadak mati..
ada yang lagi bugar-bugarnya, ternyata tidak lama mati..

Tentunya hal itu bisa juga terjadi pada diri Anda..
padahal Anda masih malas-malasan ibadah..
bekal untuk kehidupan kekal Anda masih sangat sedikit..
atau bahkan mungkin dosa Anda masih lebih banyak.

Bayangkan jika nafas Anda mendadak berhenti.. padahal yang Anda pikirkan; dunia dan dunia.. akherat hanya terpikir, ketika Anda tersandung dalam permasalahan.

Bayangkan ketika Anda masih semangat-semangatnya mengejar dunia.. tiba-tiba blaaaas, dunia itu menjadi sama sekali tidak berharga.. tidak bisa menyelamatkan Anda.. bahkan lepas dari tangan Anda ke tangan para pewaris anda !!

Sobat, jangan pelit kepada dirimu sendiri.. bekalmu di akherat adalah amalmu.. dan akheratmu jauh lebih lama.. tentu membutuhkan bekal yang jauh lebih banyak..

Duniamu hanya sementara.. sadarlah dan sadarlah.. selamatkan dirimu sekarang juga, sebelum semuanya menjadi sia-sia !!

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Hukum Hadits AHAD…

Setelah kita mengenal hadits ahad, maka ketahuilah bahwa semua ulama bersepakat wajibnya menerima hadits ahad baik dalam hukum maupun dalam aqidah bahkan dalam semua sisi agama.

Al-Imam Asy Syafi’i berkata dalam kitab beliau Ar Risalah, “Apabila satu orang boleh berbicara dalam suatu cabang ilmu tertentu, bahwa kaum muslimin yang lalu maupun yang sekarang telah bersepakat atas validnya berargumen dengan hadits ahad dan mencukupkan diri dengannya. Dan tidak diketahui seorang pun fuqaha’ dari kaum muslimin kecuali mereka menetapkan validitas argumen dengan hadits ahad. Maka boleh juga untukku menetapkannya Akan tetapi aku berkata, “Aku tidak hafal adanya seorang pun fuqaha kaum muslimin yang berselisih dalam masalah penetapan khabar ahad.”

Maksudnya beliau tidak mengetahui adanya perselisihan. Beliau tidak menyatakan dengan tegas adanya ijma sebagai bentuk kehati hatian dan waro’. Tetapi adanya ijma wajibnya menerima kabar ahad telah dinyatakan oleh banyak ulama.

Al-Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah berkata, “Adapun tingkatan yang kedelapan: Meyakini telah bersepakatnya umat atas hal-hal yang telah diketahui dan diyakini, yaitu dengan menerima hadits-hadits dan menetapkan sifat-sifat Rabb Ta’ala dengannya. Dalam hal ini tidak boleh meragukan suatu khabar yang sedikit penukilnya, yaitu dari kalangan shahabat radhiyallahu ‘anhum. Merekalah yang meriwayatkan hadits-hadits dan sebagian mereka saling bertemu satu sama lain dan saling menerima kabar tersebut, dan tidak ada satupun dari mereka yang mengingkari riwayat (ahad) tersebut. Kemudian bertemulah mereka dengan segenap tabi’in, dari awal sampai akhir’” (Mukhtashar As Shawa’iq Al Mursalah).

Al-Imam Ibn Abdil Barr berkata mengenai khabar ahad dan sikap para ulama terhadapnya, “Seluruh ulama berpegang dengan khabar ahad yang ‘adl dalam masalah aqidah, mereka menetapkan loyalitas dan permusuhan dengan khabar ahad, meyakininya sebagai sumber dalam syariat dan agama, dan seluruh ahlus sunnah bersepakat dalam hal ini.” –selesai kutipan dari kitab At Tamhid 1/8.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى 

Menyiapkan Diri Menyambut Kematian …

Ibnul Jauzi -rohimahulloh- mengatakan: “Sungguh dungu, orang yang tidak tahu kapan ‘mati’ mendatanginya, tapi dia tidak menyiapkan diri untuk menghadapinya. Dan manusia paling bodohdan paling lalai adalah orang yang usianya sudah melewati 60 tahun dan mendekati 70 tahun, tapi dia tetap lalai tidak mempersiapkan diri, padahal usia antara 60 sampai 70 tahun adalah medan perang ‘hidup mati’, dan seharusnya orang yang terjun di medan perang itu menyiapkan dirinya.”

[Shoidul Khoothir, hal: 439, ad dariny]

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Sebuah Surat Undangan…

Anda pernah diundang seorang ulama, pemimpin, atau pejabat ?

Bagaimana perasaan anda jika diundang oleh Bill Gates untuk berkunjung ke markas microsoft di Redmond, Washington?
Senang, haru, bangga, antusias??!

Sekarang, bandingkan dengan perasaan anda saat diundang oleh Pencipta anda untuk berhaji ke tanah suci!

Berikut surat undangannya:

‏﴿٢٧﴾ وَأَذِّن فِى ٱلنَّاسِ بِٱلْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

“Dan berserulah kepada (undanglah) manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.”
(QS. Al Hajj: 27)

ALLAH yang mengundang anda!
Anda andalah tamu ALLAH!
Tidakkah anda bahagia, haru, dan penuh antusias dalam memperjuangkannya?

“Setiap insan yang memiliki secercah iman akan berjuang untuk memenuhi undangan tersebut walaupun tidak ada kendaraan yang bisa ia tumpangi sehingga ia harus berjalan dengan kedua kakinya.”
(QS. Al Hajj: 27)

Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله 

Menebar Cahaya Sunnah