Tahukah Anda…?

Tahukah anda bahwa kita sedang berada di bulan ibadah, bulan haji tepatnya?

Kita terbiasa mengatakan Ramadhan adalah bulan puasa. Sekarang marilah kita populerkan bahwa bulan Syawwal, Dzulqo’dah dan 10 hari pertama Dzulhijjah adalah bulan haji.

Mari kita simak QS. Al Baqarah: 197

الحج أشهر معلومات

“Musim haji jatuh pada beberapa bulan yang telah diketahui (Syawwal, Dzulqo’dah, 10 hari pertama Dzulhijjah).”

Memang benar prosesi haji sendiri baru dimulai tanggal 8 Dzulhijjah, namun jika anda mau, anda sudah bisa melakukan ihram pada bulan Syawwal ini.

Selamat datang di bulan haji…
Hadirkan suasana ibadah, khususnya haji di dalam diri kita!

Perbanyaklah ibadah di hari-hari ini!

Bagi yang akan berangkat tahun ini, lakukan persiapan semaksimal mungkin!

Bagi yang belum mendaftar, segera daftarkan diri anda!

Bagi yang telah mendapatkan nomor porsi, selamat menunggu dengan penuh kesabaran!

Bagi yang telah berhaji, semikan kembali memori indah itu serta bumikan makna dan hikmah dalam keseharian anda, tancapkan tonggak-tonggak tauhid di dalam hati anda.

Catatan:
– Terinspirasi dari nasehat Al ‘Allaamah Syaikh ‘Abdul Aziz Alu Syaikh, mufti KSA tentang bulan haji.
– Lihat tafsir Ibnu Katsir pada QS. Al Baqarah: 197.
– Penjelasan apa saja bulan-bulan haji diatas disitir dari penjelasan ulama, diantaranya pandangan madzhab Syafi’i.

Muhammad Nuzul Dzikri,  حفظه الله

Ternyata Benar, Ada Sungai-Sungai Pencuci Dosa

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Bagi mereka yang banyak dosa, ada tiga sungai besar yang dapat membersihkan mereka di dunia, jika itu tidak cukup membersihkan mereka, nantinya mereka akan dibersihkan di sungai (neraka) jahim pada hari kiamat.

1. Sungai taubat nasuha.
2. Sungai amal-amal kebaikan yang dapat menenggelamkan dosa-dosa yang mengelilingi pelakunya.
3. Sungai musibah besar yang dapat menebus dosanya.

Maka, jika Allah menginginkan hambanya kebaikan; Dia akan memasukkannya ke tiga sungai ini, sehingga pada hari kiamat nanti dia akan datang dalam keadaan baik dan bersih, sehingga dia tidak perlu lagi pembersihan keempat..”

[Madarijus Salikin 1/312]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

 

Cinta Membuat Ia Bertahan…

Muhammad bin Isma’il, seorang ulama yang sangat terkenal dengan nama Imam Bukhari.

Tidak terhitung fitnah dan cela yang beliau rasa layaknya setiap tokoh yang pasti memiliki lawan.

Namun yang membuat sosok ini berbeda adalah beliau tidak membalas atau setidaknya mengangkat tangan lalu berdoa agar ALLAH membalas mereka.

Hal ini menggugah rasa penasaran banyak orang dan pada akhirnya terlemparlah sebuah pertanyaan:
Mengapa engkau tidak pernah mendoakan keburukan terhadap orang-orang yang telah menzhalimi, menyakiti dan memfitnah dirimu?

Beliau menjawab:
Karena Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
“Bersabarlah sehingga kalian dapat berjumpa denganku di telaga (pada hari kiamat).”
(HR. Bukhari)

Ternyata, cinta dan rindu untuk bertemu dengan sang Nabi yang membuat beliau bertahan dan bersabar.

Saudaraku,
Sudahkah kerinduan untuk bertemu dengan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- membuat anda bertahan dan bersabar di tengah badai kehidupan?

Referensi:
Siyar A’lamin Nubalaa’ 12/461 dengan perubahan.

Muhammad Nuzul Dzikri,  حفظه الله تعالى 

Rasa Ujub Akan Hilang Dengan Meyadari Hal Ini

Jika engkau melihat orang-orang takjub denganmu… maka ketahuilah bahwa mereka itu takjub terhadap kebaikan yang Allah tampakkan pada dirimu… Di sisi lain mereka tidak tahu keburukan yang Allah tutupi dari dirimu.

Oleh karena itu, jangan engkau terlena, tapi harusnya engkau bersyukur kepada Allah, yang memberi semua kebaikan yang ada pada dirimu, dan yang menutupi semua keburukan dan kekuranganmu.

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Berjalan Di Atas Hidayah…

“Seorang yang berjalan di atas hidayah akan berinteraksi dengan manusia dengan cara yang diinginkan oleh ALLAH bukan dengan cara yang diinginkan oleh ego dan hawa nafsunya, ia tidak menerapkan standar ganda dalam bersikap, seorang yang tulus hati, lisan yang jujur, ia berhasil lepas dari jeratan hawa nafsunya menuju ketaatan pada Rabb-nya.”

Syaikh Prof. DR. Sulaiman Ar Ruhaili (ulama pengajar di masjid nabawi) –  حفظه الله تعالى 

Muhammad Nuzul Dzikri,  حفظه الله تعالى 

Hadits Mutawatir… part 3

Macam-macam hadits mutawatir.

Pertama: Mutawatir Lafdzi.
Yaitu hadits yang mutawatir lafadz dan maknanya. Dimana diriwayat oleh jumlah yang banyak dengan lafadz yang sama.

Contohnya adalah hadits:

من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار


Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dalam api neraka.”
(HR Bukhari dan Muslim).

Hadits ini diriwayatkan oleh tujuh puluh lebih shahabat dan jumlah tersebut semakin banyak pada tingkatan tingkatan setelahnya.

Kedua: Mutawatir Maknawi.
Yaitu hadits yang diriwayatkan secara mutawatir dengan lafadz lafadz yang berbeda beda, namun mempunyai makna yang sama.

Contohnya adalah hadits mengangkat tangan dalam berdoa. Diriwayatkan dari nabi shalallahu alaihi wasallam sekitar seratus hadits, namun pada kejadian yang berbeda beda.

Contoh lainnya adalah hadits tentang adzab kubur, hadits tentang mengusap dua khuff, hadits tentang larangan isbal, dan lain sebagainya.

Diantara buku yang mengumpulkan hadits hadits mutawatir adalah kitab Al Azhar Al mutanatsiroh fil ahadits almutawatiroh karya imam Assuyuthi.
Juga kitab Nadzmul mutanatsir minal haditsil mutawatir. Karya Muhammad bin Ja’far Al Kattani.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى 

Hadits Mutawatir… part 2

Adapun syarat yang kedua yaitu jumlah yang banyak tersebut harus ada pada semua tingkatan sanad.

Bila tingkatan sahabat hanya dua misalnya, dan tingkatan tabiin banyak demikian pula tingkatan dibawahnya, tidak disebut mutawatir.

Adapun syarat ketiga yaitu sandaran periwayatan mereka adalah panca indera maksudnya adalah bahwa periwayatan mereka dengan mengatakan : aku mendengar, aku melihat, meraba dan sebagainya yang dilakukan oleh panca indera.

Maka bila itu berupa hasil pemikiran akal tidak disebut mutawatir.
Adapun syarat keempat yaitu kabar yang diriwayatkan harus menghasilkan ilmu (keyakinan). Suatu kabar menghasilkan ilmu atau tidak, ditentukan oleh banyak faktor.
Syaikhul Islam ibnu Taimiyah berkata:

“Kabar yang menghasilkan keyakinan terkadang karena banyaknya perawi, terkadang karena sifat pembawa kabarnya, terkadang karena sisi pengabarannya itu sendiri, terkadang karena pengetahuan yang dikabari dan sebagainya.

Terkadang jumlah yang sedikit menghasil keyakinan karena perawinya memiliki agama dan hafalan yang kita merasa aman dari kedustaan atau kesalahan mereka.

Sementara jumlah yang lebih banyak dari itu terkadang tidak menghasilkan keyakinan (karena kurangnya hafalan dan agama mereka).

Inilah pendapat yang benar yang dipegang oleh mayoritas ulama hadits dan fiqih. (Majmu fatawa 20/258)

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah