Fatwa Ulama : Dapat Hadiah Dari Orang Yang Bisnisnya RIBA, Ditolak..?

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- pernah ditanya: “bolehkah mengambil hadiah dari orang yang berbisnis dengan sistem riba..?”

Jawaban beliau:

“Kita memiliki kaidah, bahwa harta yang diharamkan karena cara mendapatkannya, maka harta itu diharamkan untuk orang yang menghasilkan saja, tidak (haram) untuk orang yang mengambilnya dengan cara yang mubah.

(Oleh karena itu) Nabi -shollallohu alaihi wasallam- pernah menerima hadiah dari orang yahudi, yaitu ketika menghadiahkan kepada beliau seorang perempuan (yahudi) seekor kambing di daerah Khoibar, beliau juga berbisnis dengan mereka, dan beliau wafat dalam keadaan baju perangnya digadaikan kepada seorang yahudi.

Padahal Allah ta’ala telah mengabarkan tentang mereka:

فَبِظُلْمٍ مِنْ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا * وَأَخْذِهِمْ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Maka disebabkan kezaliman orang-orang yahudi itu, Kami haramkan atas mereka makanan-makanan yang baik yang dahulunya dihalalkan bagi mereka, juga karena mereka banyak menghalangi manusia dari jalan Allah, dan disebabkan mereka mengambil (harta) riba, padahal mereka telah dilarang darinya, juga karena mereka memakan harta manusia dengan cara yang batil”. [An-Nisa’: 160-161].

Oleh karena itu, dibolehkan menerima hadiah dari orang yang berbisnis dengan riba, dibolehkan pula untuk melakukan transaksi jual beli dengannya, kecuali jika ada maslahat dalam memboikotnya, maka tidak mengapa kita menghindarkan diri dari hal ini karena maslahat tersebut.

Adapun harta yang diharamkan karena dzatnya, maka harta itu diharamkan, baik atas orang yang menghasilkannya maupun orang lain.

Misalnya: khomr (sesuatu yang memabukkan), jika ada seorang yahudi atau nasrani menghadiahkannya kepadaku, dan dia termasuk orang yang memandang halalnya khomr, maka tidak boleh diterima, karena itu diharamkan secara dzatnya.

Begitu pula jika ada seorang yang mencuri harta, dan dia memberikan sebagiannya kepada orang lain, maka tidak boleh diterima, karena harta itu diharamkan secara dzatnya”.

[Sumber: Liqo’ Babil Maftuh 2/59, dengan penyesuaian redaksi].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

============

ARTIKEL TERKAIT – (Klik Link Dibawah Ini)

Kumpulan Artikel – Tentang RIBA

Konsisten Walau Sedikit…

Ibnu Hajar, رحمه الله تعالى :

Hadits, “Amalkanlah apa yang sesuai kemampuan kalian..”. Barangsiapa yang dirinya bersungguh-sungguh dalam suatu ibadah namun khawatir tidak mampu melanjutkannya hendaklah ia meninggalkannya. Konsisten dalam ibadah meskipun kuantitasnya sedikit, lebih utama daripada bersungguh-sungguh dalam kuantitas namun putus di tengah jalan.

Yang sedikit namun langgeng, lebih utama daripada yang banyak tapi terputus.

(Al Fath 4/215)

Courtesy of Twit Ulama

image

Malu Tuh Bisa Putus Alias Hilang…

Sebagian orang bahkan thullabul ilmu, saking girangnya menikah sampai lupa daratan alias kalap hingga matapun gelap.

Istrinya yang dipoles habis difoto lalu dipajang di halaman Facebook, atau Twitter atau lainnya. Mereka merasa bangga mendapat like atau ucapan selamat, padahal tanpa ia sadari sejatinya itu ucapan selamat atas telah tersesat, karena tanpa sadar dengan pemajangan foto istrinya tesebut ia telah menjejakkan kakinya di tangga DAYYUTS, alias suami yang rasa malunya luntur bin hancur lebur.

ثلاثة لا ينظر الله عز وجل إليهم يوم القيامة: العاق لوالديه، والمترجلة، والديوث. رواه أحمد والنسائي.

“3 golongan orang yang klak pada hari qiyamat Allah Azza wa Jalla tiada sudi melihat kepada mereka : anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang meniru lelaki dan lelaki DAYYUTS alias tiada memiliki rasa cemburu atas istrinya.” (Ahmad dan An Nasai).

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Tukang Kepruk…

Di dunia ini ada orang orang yang berprofesi bahkan memiliki hobi menjadi tukang kepruk. Dari mereka ada yang melakukannya dengan imbalan, ada pula yang melakukannya karena hobi dan kepuasaan karena ingin unjuk kekuatan.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di pasar induk, atau pusat perbelanjaan atau masyarakat umum. Di kalangan orangan orang khusus semisal para penuntut ilmu juga demikian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ، أَوْ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، أَوْ لِيَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ، فَهُوَ فِي النَّارِ»

“Siapapun yang menuntut ilmu agar dapat mendebat orang orang bodoh, atau unjuk kebolehan di hadapan para ulama’, atau mendapatkan perhatian masyarakat, maka tempat tinggalnya di neraka.” (Ibnu Majah)

Waspadalah sobat, tuntutlah ilmu untuk diamalkan, dan diajarkan. Mari kita belajar untuk beramal dan berdakwah, bukan untuk berdebat atau unjuk kebolehan.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Istiqomah Dalam Islam…

Ketahuilah amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling langgeng dan istiqamah meskipun sedikit, ibarat prinsip berdagang, biar untung sedikit yang penting lancar!!!

Dan keistiqamahan beramal sangat ditentukan oleh keistiqamahan hati, sedangkan hati seorang hamba tidak akan bisa istiqamah dalam kebaikan dan kebenaran Islam kecuali dengan dua cara,

Pertama, hendaknya seorang hamba mendahulukan cinta Allah diatas segalanya. Bila ada pertentangan antara cinta Allah dengan cinta selain-Nya maka wajib mengutamakan cinta Allah.

Dan betapa mudahnya dalam orasi dan tulisan, namun betapa beratnya dalam tindakan. Dalam alam realita dan tataran pembuktian, akhirnya seorang ketahuan belangnya.

Sering kali dalam soal cinta, kita lebih mendahulukan hawa nafsunya kita, atau keinginan tokoh kita, atau pembesar kita atau guru panutan kita, atau keluarga kita ketimbang sesuatu yang dicintai oleh Allah.

Dan sudah menjadi sunnatullah Allah, orang yang mengalahkan cinta Allah akan ditimpa gundah karena mengejarnya dan gelisah karena menjaganya serta resah saat lepas darinya sebagai bentuk sanksi dan akibat dari mengutamakan dan mengagungkan sesuatu diatas cinta Allah.

Sudah menjadi putusan Allah yang tidak bisa dirubah, bahwa siapa yang mencintai sesuatu selain Allah akan tersiksa dan sengsara dalam menanggung akibatnya, siapa yang takut kepada selain Allah maka ia akan

terbebani petakanya dan siapa yang sibuk dengan sesuatu dengan melupakan Allah maka ia akan menjadi bencana hidupnya, siapa yang lebih mengunggulkan selain Allah maka tidak ada berkah baginya serta siapa yang mengejar ridha manusia akan berakhir dengan kebencian dan permusuhan.

Kedua, perkara yang menghantarkan keistiqamahan hati adalah mengagungkan perintah dan larangan Allah yang tumbuh dari sikap pengagungan kepada dzat yang memerintah dan melarang, yaitu Allah, karena Allah menegurkan seorang hamba yang tidak mempunyai rasa pengagungan kepada Allah sebagaimana Allah berfirman,

“mengapa kalian tidak mengagungkan kepada Allah”. Nuh: 13).

Para ulama menafsirkan ayat tersebut dengan menyatakan, kenapa kalian tidak takut kepada Allah sebagai bentuk pengagungan kepadaNya.

Betapa indahnya ucapan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam mengajak umat manusia agar mengagungkan perintah dan larangan Allah, hendaknya perintah dan larangan Allah tidak dibenturkan dengan longgarnya orang yang teledor dan sempitnya orang yang berlebihan serta tidak boleh kita tarik-tarik kepada alasan yang melemahkan ketundukan.

Zainal Abidin Syamsuddin,  حفظه الله تعالى 

Beda Selera Beda Rasa, Beda …. Beda ….

METODE PENGAJARAN TAUHID

Pagi hari ini tersebar sebuah postingan di sebagian media sosial, yang kami pribadi tidak mengetahui siapa penulisnya. Sebab di akhir tulisan tidak dicantumkan nama sang penulis. Hanya saja kami cukup menyayangkan sebagian isi postingan tersebut. Karena kurang sesuai dengan fakta yang ada.

Kami hanya akan menukil potongan postingan yang bermasalah tersebut, bukan semuanya.

Berikut potongannya:

“Fawaa-id Dari Liqaa Maftuuh Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili -hafizhahullaah-:
1- Ada pertanyaan:
Bolehkah kita mengajarkan Tauhid di sela-sela pelajaran Tafsir dll. dikarenakan masyarakat sensitif kalau kita langsung mendakwahkan Tauhid.

Jawaban beliau:
Yang perlu diperhatikan: yang terjadi adalah bahwa sifat sensitif itu muncul dari diri Da’i itu sendiri!!
Dia takut kepada para mad’u-nya untuk mengajarkan Tauhid!!!”.

Komentar kami:

Jawaban Syaikh yang dinukil dalam postingan di atas kurang lengkap. Sebab, sebenarnya secara garis besar, jawaban beliau terbagi menjadi dua poin. Sedangkan yang dinukil dalam postingan tadi hanya poin pertama saja. Sedangkan poin kedua tidak disampaikan. Dan itu berakibat munculnya pemahaman yang berbeda dengan apa yang beliau sampaikan.

1. Poin pertama: Adalah apa yang sudah dipaparkan dalam postingan di atas.

2. Poin kedua: Beliau menyampaikan, bahwa bilamana kondisi masyarakat seperti apa yang digambarkan dalam pertanyaan itu, yakni mereka sangat sensitif dengan pembahasan tauhid. Maka bagi seorang dai yang menghadapi mereka, yang terpenting baginya adalah tetap menyampaikan pembahasan tauhid, lewat pintu apapun yang syar’i.

Bisa dengan cara mengajarkan tafsir, tauhid, tazkiyatun nufus, sirah nabawiyah, lalu memasukkan tauhid melalui berbagai pintu tadi.

Mengajarkan tauhid tidak harus dengan membaca Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Kemudian kita juga perlu berupaya untuk menjadikan masyarakat senang dengan tauhid. Antara lain dengan memperbaiki uslub (cara penyampaian) kita dalam mengajarkan tauhid. Juga dengan memaparkan perkataan para ulama Ahlus Sunnah yang mereka kenal, semisal Imam Syafii dan yang lainnya.

Demikian global jawaban yang disampaikan Syaikh Sulaiman ar-Ruhailiy hafizhahullah.

Dalam kesempatan ini, kami merasa perlu menyampaikan nasehat untuk kami pribadi dan para ikhwah agar lebih AMANAH dalam menyampaikan ilmu. Betapa banyak problematika dakwah muncul akibat penyampaian ilmu yang sepotong-sepotong.

Meringkas sebuah tema ilmu atau fatwa ulama diperbolehkan, asalkan tidak merubah inti pembahasan.

Wallahu yahdi ila sawa’is sabil…

Kusuma Agrowisata Batu, 16 Syawal 1437 H

Abdullah Zaen,  حفظه الله تعالى 

Posted on FB by :
Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Ternyata Kita Masih Bodoh…

“Tidak ada seorang ulama-pun melainkan apa yang dia tidak ketahui lebih banyak dari apa yang dia ketahui.

Kalimat Imam Adz Dzahabi (Taarikhul Islam 38) diatas mengingatkan kita pada firman ALLAH ta’ala:

‏ وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Tidaklah kamu diberi pengetahuan (ilmu) melainkan sedikit saja.”
(Al Israa’ 17:85)

Teruslah mendengar dan belajar…!
Mintalah nasehat!
Terimalah kritik yang membangun!
Rendahkanlah hati!
Jangan pernah merasa pintar!
Karena sehebat apapun ilmu kita ternyata… kita tetap saja masih bodoh.

Muhammad Nuzul Dzikri,  حفظه الله تعالى 

Nasihat Syaikh Prof. DR. Sulaiman Ar Ruhailiy,  حفظه الله

Diantara Poin-Poin Penting Nasihat Yang Sangat Mendalam dan Begitu Berharga Dari Syaikh Prof. Dr. Sulaiman Ar Ruhailiy hafizhahullah Pada Daurah di Batu, Malang, 15 Syawal 1437 H:

** Sangat disayangkan sebagian pembawa kebenaran itu malas dalam mendakwahkan Tauhid, padahal sekarang antum berada dalam kenikmatan yang besar, yakni nikmat kemudahan dalam mendakwahkan Tauhid, dan ini akan dipertanyakan oleh Allah.

** Sekitar 40 sampai 50 tahun yg lalu bila seseorang hendak menyampaikan beberapa kalimat tentang Tauhid maka dia tidak tahu apakah bisa kembali pulang kerumahnya atau tidak!?

** Kemudian muncullah orang-orang yang berjuang dan bersabar dalam menjelaskan Tauhid, lalu Allah pun memudahkan tersebarnya dakwah Tauhid ini sehingga manusia bisa mendengar gaung dakwah ini, sehingga mereka pun ikut mendakwahkan Tauhid dan Sunnah, Alhamdulillah.

** Camkanlah, jika telah terbuka suatu pintu kebaikan maka masukilah, karena Demi Allah, antum tidak tahu kapan pintu itu tertutup!

** Sekarang pintu-pintu itu telah terbuka untuk berdakwah pada Tauhid dan Sunnah, serta memperingatkan umat dari Syirik dan bid’ah, dengan metode yang ilmiah dan baik. Antum tidak tahu kapan pintu ini tertutup. Demi Allah, bisa saja pintu itu tertutup atau bisa juga tetap terus terbuka dengan karunia Allah, maka manfaatkanlah kesempatan ini!

** Saya sangat yakin dakwah Salafiyyah di Indonesia ini kuat dan tersebar, Alhamdulillah. Dan tidak ada yang menghalangi tersebarnya melainkan Salafiyin itu sendiri!!

** Sangat disayangkan saat ini justru Salafiyin malah saling menghalangi satu sama lain. Padahal, disekeliling mereka, kelompok-kelompok sesat begitu gencar menyebarkan kesyirikan dan bid’ah! Sebagian Salafiyin malah disibukkan dengan perselisihan diantara mereka. Demi Allah, ini akan ditanyai oleh Allah!

** Hendaklah seseorang itu mengobati kesalahan dirinya sendiri dan janganlah angkuh.

** Hendaklah seseorang menasihati saudaranya (seiman) dan menjelaskan kesalahannya, karena diantara kenikmatan yang besar adalah Allah mengaruniakan teman yang berilmu yang bisa menunjukkan kesalahan antum.

** Tetapi tidak boleh bagi Salafiyin menghabiskan waktu dalam berprasangka buruk dengan hal yang belum jelas sehingga tertipu syetan yang menjerumuskan pada kedengkian.

** Saya berbicara pada saudara-saudara yang berada dalam lingkup dakwah Salafiyah yang mengetahui keutamaan dakwah ini dan hidup di atasnya namun tentu mereka memiliki beberapa kesalahan, dan bagi yang telah keluar maka kita tidak bisa berbuat banyak.

** Tidak boleh kita menghalangi dakwah Tauhid dan Sunnah ini dengan hal-hal yang terlarang secara Syar’i, seperti saling bermusuhan, dan saling memboikot (hajr).

** Dan justru wajib bagi kita memiliki ghairah (semangat) dalam dakwah dan ilmu.

Oleh : M. Hilman Alfiqhy
Rabu, 15 Syawal 1437 H.

Posted by Ustadz DR. Musyaffa ‘Ad Dariny MA,  حفظه الله

Anda Ahlus-Sunnah..?

Pada ngaku AHLUSSUNNAH, dan menuduh orang lain BUKAN ahlussunnah, hanya karena berbeda pendapat dalam suatu masalah.

Apakah mereka mengatakan sesuatu tanpa mengetahui maksudnya?!

Tidakkah mereka tahu bahwa makna “ahlussunnah”, adalah “Pengikut Sunnah Nabi”, atau lebih diindonesiakan lagi “Pengikut Ajaran Nabi” -shollallohu ‘alaihi wasallam-.

Jika mereka mengaku “Pengikut Ajaran Nabi”, lalu mana peraktek ajaran Nabi pada diri mereka?!

Mana sholat berjama’ah di masjid?!

Mana jenggot yang panjang?!

Mana baju yang tidak isbal?!

Mana jilbab yang syar’i?!

Mana pengharaman musik?!

Mana ajaran Nabi yang kau tampakkan pada dirimu dan amalmu?!

Pantaskah mereka mengaku sebagai Ahlussunnah “Para Pengikut Ajaran Nabi”, tapi hidupnya selalu menyelisihi beliau?!

Lihatlah para sahabat -rodhiallohu ‘anhum-! Mereka berusaha mencari tahu mana yang SUNNAH untuk mereka LAKUKAN. Tapi orang sekarang, berusaha mencari tahu mana yang SUNNAH untuk mereka TINGGALKAN.

Nas’alullahassalamah, semoga Allah memperbaiki keadaan ini, amin.

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Yang Kurang Dari Kita.. PRAKTEKNYA

Mungkin berat untuk jujur dalam hal ini, namun kenyataannya memang kita kurang dalam menerapkan ilmu agama yang telah kita ketahui.

Banyak dari kita -bahkan yang berstatus penuntut ilmu- tidak menjalankan amalan-amalan sunnah.. shalat sunnah rowatib bolong-bolong, shalat sunnah malam bablas terus, shalat dhuha malas, dst.

Begitu pula dalam puasa sunnah.. puasa senin-kamis jarang, puasa tiga hari tiap bulan tidak pernah terpikir, puasa Daud apalagi.

Silahkan lihat amalan lainnya.. misalnya dzikir pagi dan sore, membaca Alqur’an, dzikir mutlak (yang tidak terikat dengan tempat dan waktu), dst… Padahal tujuan utama ilmu agama adalah amalan, bukan hanya pengetahuan saja.

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Yang kurang dari kita dalam ilmu (agama) kita, bahwa kita tidak menerapkan ilmu kita dalam tingkah laku kita. Yang paling banyak di kita, bahwa kita mengetahui hukum syariat, adapun menerapkannya, maka ini sedikit, semoga Allah memperlakukan kita dengan ampunan-Nya.

Padahal manfaat dari ilmu adalah praktek nyatanya, sehingga tampak pengaruh ilmu itu pada tatapan wajahnya, tingkah lakunya, akhlaknya, ibadahnya, ketenangannya, takutnya (kepada Allah), dan pada hal lainnya. Dan inilah yang penting.

Saya kira seandainya ada seorang nasrani yang cerdas, dan dia belajar fikih sebagaimana kita mempelajarinya, tentu dia akan memahaminya sebagaimana kita memahaminya, atau bahkan lebih baik lagi. Lihatlah sebagai contoh dalam (ilmu) bahasa arab ada “Almunjid”, orang-orang mengatakan penulisnya seorang nasrani, dan dia bisa membahasnya dengan baik.

Oleh karena itu, perkara-perkara teori itu bukanlah tujuan dalam ilmu (agama), -Ya Allah kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat-, manfaat dari ilmu (agama) adalah ketika kita bisa mengambil manfaat darinya (dengan mengamalkannya).

Betapa banyak orang awam yang jahil, tapi kamu dapati dia lebih khusyu’ kepada Allah, lebih merasa diawasi Allah, lebih baik perilaku dan akhlaknya, lebih dalam ibadahnya, jauh melebihi apa yang ada pada penuntut ilmu (agama)”.

[Kitab Syarhul Mumti’ 7/166].

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

Menebar Cahaya Sunnah