Ternyata Kita Masih Bodoh…

“Tidak ada seorang ulama-pun melainkan apa yang dia tidak ketahui lebih banyak dari apa yang dia ketahui.

Kalimat Imam Adz Dzahabi (Taarikhul Islam 38) diatas mengingatkan kita pada firman ALLAH ta’ala:

‏ وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Tidaklah kamu diberi pengetahuan (ilmu) melainkan sedikit saja.”
(Al Israa’ 17:85)

Teruslah mendengar dan belajar…!
Mintalah nasehat!
Terimalah kritik yang membangun!
Rendahkanlah hati!
Jangan pernah merasa pintar!
Karena sehebat apapun ilmu kita ternyata… kita tetap saja masih bodoh.

Muhammad Nuzul Dzikri,  حفظه الله تعالى 

Nasihat Syaikh Prof. DR. Sulaiman Ar Ruhailiy,  حفظه الله

Diantara Poin-Poin Penting Nasihat Yang Sangat Mendalam dan Begitu Berharga Dari Syaikh Prof. Dr. Sulaiman Ar Ruhailiy hafizhahullah Pada Daurah di Batu, Malang, 15 Syawal 1437 H:

** Sangat disayangkan sebagian pembawa kebenaran itu malas dalam mendakwahkan Tauhid, padahal sekarang antum berada dalam kenikmatan yang besar, yakni nikmat kemudahan dalam mendakwahkan Tauhid, dan ini akan dipertanyakan oleh Allah.

** Sekitar 40 sampai 50 tahun yg lalu bila seseorang hendak menyampaikan beberapa kalimat tentang Tauhid maka dia tidak tahu apakah bisa kembali pulang kerumahnya atau tidak!?

** Kemudian muncullah orang-orang yang berjuang dan bersabar dalam menjelaskan Tauhid, lalu Allah pun memudahkan tersebarnya dakwah Tauhid ini sehingga manusia bisa mendengar gaung dakwah ini, sehingga mereka pun ikut mendakwahkan Tauhid dan Sunnah, Alhamdulillah.

** Camkanlah, jika telah terbuka suatu pintu kebaikan maka masukilah, karena Demi Allah, antum tidak tahu kapan pintu itu tertutup!

** Sekarang pintu-pintu itu telah terbuka untuk berdakwah pada Tauhid dan Sunnah, serta memperingatkan umat dari Syirik dan bid’ah, dengan metode yang ilmiah dan baik. Antum tidak tahu kapan pintu ini tertutup. Demi Allah, bisa saja pintu itu tertutup atau bisa juga tetap terus terbuka dengan karunia Allah, maka manfaatkanlah kesempatan ini!

** Saya sangat yakin dakwah Salafiyyah di Indonesia ini kuat dan tersebar, Alhamdulillah. Dan tidak ada yang menghalangi tersebarnya melainkan Salafiyin itu sendiri!!

** Sangat disayangkan saat ini justru Salafiyin malah saling menghalangi satu sama lain. Padahal, disekeliling mereka, kelompok-kelompok sesat begitu gencar menyebarkan kesyirikan dan bid’ah! Sebagian Salafiyin malah disibukkan dengan perselisihan diantara mereka. Demi Allah, ini akan ditanyai oleh Allah!

** Hendaklah seseorang itu mengobati kesalahan dirinya sendiri dan janganlah angkuh.

** Hendaklah seseorang menasihati saudaranya (seiman) dan menjelaskan kesalahannya, karena diantara kenikmatan yang besar adalah Allah mengaruniakan teman yang berilmu yang bisa menunjukkan kesalahan antum.

** Tetapi tidak boleh bagi Salafiyin menghabiskan waktu dalam berprasangka buruk dengan hal yang belum jelas sehingga tertipu syetan yang menjerumuskan pada kedengkian.

** Saya berbicara pada saudara-saudara yang berada dalam lingkup dakwah Salafiyah yang mengetahui keutamaan dakwah ini dan hidup di atasnya namun tentu mereka memiliki beberapa kesalahan, dan bagi yang telah keluar maka kita tidak bisa berbuat banyak.

** Tidak boleh kita menghalangi dakwah Tauhid dan Sunnah ini dengan hal-hal yang terlarang secara Syar’i, seperti saling bermusuhan, dan saling memboikot (hajr).

** Dan justru wajib bagi kita memiliki ghairah (semangat) dalam dakwah dan ilmu.

Oleh : M. Hilman Alfiqhy
Rabu, 15 Syawal 1437 H.

Posted by Ustadz DR. Musyaffa ‘Ad Dariny MA,  حفظه الله

Anda Ahlus-Sunnah..?

Pada ngaku AHLUSSUNNAH, dan menuduh orang lain BUKAN ahlussunnah, hanya karena berbeda pendapat dalam suatu masalah.

Apakah mereka mengatakan sesuatu tanpa mengetahui maksudnya?!

Tidakkah mereka tahu bahwa makna “ahlussunnah”, adalah “Pengikut Sunnah Nabi”, atau lebih diindonesiakan lagi “Pengikut Ajaran Nabi” -shollallohu ‘alaihi wasallam-.

Jika mereka mengaku “Pengikut Ajaran Nabi”, lalu mana peraktek ajaran Nabi pada diri mereka?!

Mana sholat berjama’ah di masjid?!

Mana jenggot yang panjang?!

Mana baju yang tidak isbal?!

Mana jilbab yang syar’i?!

Mana pengharaman musik?!

Mana ajaran Nabi yang kau tampakkan pada dirimu dan amalmu?!

Pantaskah mereka mengaku sebagai Ahlussunnah “Para Pengikut Ajaran Nabi”, tapi hidupnya selalu menyelisihi beliau?!

Lihatlah para sahabat -rodhiallohu ‘anhum-! Mereka berusaha mencari tahu mana yang SUNNAH untuk mereka LAKUKAN. Tapi orang sekarang, berusaha mencari tahu mana yang SUNNAH untuk mereka TINGGALKAN.

Nas’alullahassalamah, semoga Allah memperbaiki keadaan ini, amin.

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Yang Kurang Dari Kita.. PRAKTEKNYA

Mungkin berat untuk jujur dalam hal ini, namun kenyataannya memang kita kurang dalam menerapkan ilmu agama yang telah kita ketahui.

Banyak dari kita -bahkan yang berstatus penuntut ilmu- tidak menjalankan amalan-amalan sunnah.. shalat sunnah rowatib bolong-bolong, shalat sunnah malam bablas terus, shalat dhuha malas, dst.

Begitu pula dalam puasa sunnah.. puasa senin-kamis jarang, puasa tiga hari tiap bulan tidak pernah terpikir, puasa Daud apalagi.

Silahkan lihat amalan lainnya.. misalnya dzikir pagi dan sore, membaca Alqur’an, dzikir mutlak (yang tidak terikat dengan tempat dan waktu), dst… Padahal tujuan utama ilmu agama adalah amalan, bukan hanya pengetahuan saja.

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Yang kurang dari kita dalam ilmu (agama) kita, bahwa kita tidak menerapkan ilmu kita dalam tingkah laku kita. Yang paling banyak di kita, bahwa kita mengetahui hukum syariat, adapun menerapkannya, maka ini sedikit, semoga Allah memperlakukan kita dengan ampunan-Nya.

Padahal manfaat dari ilmu adalah praktek nyatanya, sehingga tampak pengaruh ilmu itu pada tatapan wajahnya, tingkah lakunya, akhlaknya, ibadahnya, ketenangannya, takutnya (kepada Allah), dan pada hal lainnya. Dan inilah yang penting.

Saya kira seandainya ada seorang nasrani yang cerdas, dan dia belajar fikih sebagaimana kita mempelajarinya, tentu dia akan memahaminya sebagaimana kita memahaminya, atau bahkan lebih baik lagi. Lihatlah sebagai contoh dalam (ilmu) bahasa arab ada “Almunjid”, orang-orang mengatakan penulisnya seorang nasrani, dan dia bisa membahasnya dengan baik.

Oleh karena itu, perkara-perkara teori itu bukanlah tujuan dalam ilmu (agama), -Ya Allah kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat-, manfaat dari ilmu (agama) adalah ketika kita bisa mengambil manfaat darinya (dengan mengamalkannya).

Betapa banyak orang awam yang jahil, tapi kamu dapati dia lebih khusyu’ kepada Allah, lebih merasa diawasi Allah, lebih baik perilaku dan akhlaknya, lebih dalam ibadahnya, jauh melebihi apa yang ada pada penuntut ilmu (agama)”.

[Kitab Syarhul Mumti’ 7/166].

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

Eeeuh, Banyak Sekali Musuhku..!

Sobat,
barang kali itulah gumaman anda ketika menyadari betapa banyak orang yang mengganggu, menyakiti, memusuhi dan membenci anda. Orang kafir dengan berbagai modelnya membenci anda , ahlul bid’ah dengan berbagai produk bid’ahnya juga membenci anda, pelaku maksiat juga membenci anda, bahkan banyak pula orang yang berbeda pendapat dengan anda juga turut membenci anda.

Sobat!
sepatutnya sebagai orang yang beriman anda tidak bersikap cengeng, namun sebaliknya, tumbuhkan keteguhan dan ketegaran dalam diri anda, karena anda pasti yakin bahwa menjadi baik itu bukan karena mengikuti banyaknya orang, sebagaimana kebenaran tidak diukur dengan sedikit atau banyaknya orang, Kebenaran diukur dengan dalil dan bukti.

Seiring dengan keyakinan anda bahwa kebanyakan orang jauh dari kebenaran atau bahkan menyimpang maka anda sepatutnya sadar bahwa setiap yang menyimpang besar kemungkinan membenci anda, karena setiap manusia senang bila orang lain mengikuti jejaknya, agar hidupnya terasa gayeng nan semarak.

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللّهِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (Al An’am 116)

Karena itu, tidak perlu risau dengan kebencian orang, pusatkan pikiran, tenaga dan perhatian anda untuk mengasihani dan menyayangi orang-orang yang terjerumus dalam kesalahan agar mereka selamat dari kesesatannya dan mengikuti langkah anda menjadi orang baik.

Sebagaimana ketahuilah bahwa menjadi orang bak itu adalah satu keberhasilan, namun sadarkah anda bahwa keberhasilan yang lebih besar adalah tatkala anda bersabar, tabah menghadapi, mengajari, membimbing, mendakwahi orang yang tersesat hingga berhasil menjadikannya menjadi baik seperti diri anda ? Bukanlah satu keberhasilan bila anda mentertawakan apalagi memperolok-olok orang yang terjerumus dalam kesesatan.

Kesesatan bukan untuk dijadikan bahan perolok-olokan. namun untuk dikikis dan dihapuskan. Sebaliknya kebenaran bukan untuk dibangga-banggakan, namun untuk diamalkan, diajarkan dan ditularkan.

Karenanya jangan puas dengan menjadi orang baik, kerahkan segala kemampuan anda untuk menjadikan orang lain baik seperti anda atau bahkan lebih baik dari diri anda.

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Siapapun yang menyeru kepada kebaikan, niscaya ia mendapatkan pahala seperti yang didapatkan oleh setiap orang yang mengikuti seruannya tanpa sedikitpun mengurangi pahala mereka. Dan sebaliknya siapapun yang menyeru kepada kesesatan, niscaya ia menanggung dosa seperti yang dipikul oleh setiap orang yang mengiuti seruannya tanpa sedikitpun mengurangi dosa mereka. (Muslim)

Sebaliknya, bersedihlah tatkala anda menemukan saudara anda tersesat dan menyimpang, sebagaimana dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersedih karena menyadari betapa banyak dari ummatnya yang menyimpang dan menolak ajakannya untuk masuk Islam.

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلَى آثَارِهِمْ إِن لَّمْ يُؤْمِنُوا بِهَذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا

“Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al Qur’an).” (Al Kahfi 6)

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Kaidah Memahami Al Qur’an Ke 17 : Orang-Orang Yang Mendapat Hidayah dan Yang Tersesat…

Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.

Kaidah ke 17:

Al Qur’an menyebutkan tentang orang orang yang mendapat hidayah dan orang orang yang tersesat. Dan menyebutkan sebab sebab hidayah dan sebab sebab kesesatan.

Allah berfirman:

يهدي به الله من اتبع رضوانه سبل السلام

“Allah memberi hidayah orang yang mengikuti keridloanNya kepada jalan jalan keselamatan.”  (Almaidah:16)

Ayat ini menunjukkan bahwa sebab mendapatkan hidayah adalah mengikuti keridloan Allah.

Allah juga berfirman:

وما يضل به إلا الفاسقين

“Tidaklah Dia menyesatkan dengannya kecuali orang orang yang fasiq.” (Albaqoroh: 26)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa sebab sebab kesesatan adalah berbuat fasiq yaitu dosa dosa besar atau terus menerus berbuat dosa kecil.

Al Qur’an juga menyebutkan sebab sebab mendapat ampunan dan rahmatNya. Allah berfirman:

وإني لغفار لمن تاب وءامن وعمل صالحا ثم اهتدى

“Sesungguhnya Aku Maha pengampun untuk orang taubat dan beramal shalih kemudian ia mendapat hidayah.” (Thaha: 82)

Al Qur’an juga menyebutkan sebab sebab datangnya adzab, sebab sebab datangnya rezeki dan sebagainya. Semua ini memberi faidah bahwa Allah tak akan menyesatkan orang yang bersungguh sungguh menginginkan hidayah dan mencarinya. Segala sesuatu pasti ada sebabnya. Tak mungkin Allah menzalimi hamba hambaNya.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Ke 18 : Mengembalikan Makna Ayat Mutasyabih Kepada Ayat Muhkam…

KAIDAH MEMAHAMI Al QUR’AN – Daftar Isi LENGKAP

Istri Sholehah Adalah Sahabat Hidup

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

“Istri sholihah menjadi sahabat hidup suaminya yang sholeh dalam mengarungi tahun-tahun yang panjang. Dialah perhiasan yang telah disebutkan oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, ‘Dunia adalah perhiasan, dan perhiasan dunia yang terbaik adalah wanita sholihah..’

‘Ketika kaupandang, ia membuatmu bahagia..
Ketika kauperintah, ia menaatimu..
Ketika engkau tiada di sisinya, ia berjuang keras menjaga diri dan harta yang bersamanya..’

Dia pula wanita yang dimaksudkan oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya ketika sebagian Muhajirin bertanya, ‘Harta apa yang harus kami bawa..?’ Beliau menjawab, ‘Lisan yang senantiasa berdzikir, hati yang senantiasa bersyukur, dan istri sholihah yang akan membantu menjaga keimanan kalian..’

Di dalam jiwa suami yang sholih dan istri yang sholihah terpatri rasa kasih dan sayang, sebagai anugerah dari Allah. Hal ini sebagaimana termaktub dalam Kitabullah. Oleh karena itulah, rasa sakit nan perih datang menghampiri ketika mereka ‘berpisah’, seakan-akan melebihi rasa sakit ketika ajal menjemput. Hati serasa tersayat, pedih, melebihi kepedihan ketika kehilangan harta benda atau kepergian dari negeri tercinta. Lebih-lebih ketika rasa cinta telah kuat melekat dalam sanubari keduanya. Atau karena kehadiran buah hati di tengah mereka, entah bagaimana nasibnya apabila keduanya harus ‘berpisah’.”

( Majmu’ al-Fatawa 35/299 )

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin,  حفظه الله تعالى

100% Atau Tidak Usah Saja…

Diantara pekerjaan besar yang harus dilakukan oleh para kiyai, ustadz, atau dai ialah bercokolnya pemikiran : 100% kawan, bila tidak maka 100 % musuh.

Ketika ada kawan berbuat jujur sekali, buru buru dibongkar sepuluh kebohongannya, bukannya diapresiasi kejujurannya agar esok ia kembali jujur.

Ketika ada kawan berbuat kebaikan, buru buru sebagian kita mengekspos kesalahan kawan tersebut, bukannya didorong agar semakin baik.

Izinkan saya bertanya: adakah dari Anda yang saat ini telah menjadi orang baik 100%.? Atau adakah dari Anda yang sekali berbuat baik tiada lagi pernah melakukan kesalahan lagi.?

Sadarilah sobat! Mencari musuh tuh mudah, menjadikan kawan berubah menjadi musuh juga ringan, namun menjaga persahabatan dan merubah musuh menjadi kawan, itulah pekerjaan besar yang harus Anda upayakan dan perjuangkan. Allah Taala berfirman:

ادفع بالتي هي احسن فاذا الذي بينك وبينه عداوة كأنه ولي حميم وما يلقاها الا الذي صبروا وما يلقاها الا ذو حظ عظيم

Balaslah dengan cara cara yang lebih baik, niscaya orang yang memusuhimu segera berubah menjadi pembelamu yang setia. Dan tiada yang kuasa melakukan hal itu kecuali orang orang yang bersabar dan tiada yang kuasa melakukannya kecuali orang yang mendapatkan bagian besar (dari karunia Allah) .( Fusshilat 34-35)

Ya Allah, satukanlah hati ummat ISLAM di atas iman dan akidah yang benar, bersihkan jiwa kami dari kedengkian kepada sesama muslim. Amiin.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله

Menebar Cahaya Sunnah