Perbedaan Jumlah Roka’at Tarawih Dalam Pandangan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah..

Perbedaan jumlah roka’at Taraweh dalam pandangan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah -rohimahulloh-.

======

“… Dan menyerupai hal ini dari sebagian sisi, perbedaan pendapat para ulama dalam kadar (roka’at) shalat qiyam (taraweh) di bulan Ramadhan.

Karena telah valid kabar tentang sahabat Ubay bin Ka’ab, bahwa dahulu dia mengimami jama’ah dengan 20 roka’at dalam shalat qiyam Ramadhan, dan berwitir dengan 3 roka’at.

Sehingga banyak ulama berpendapat bahwa hal itu merupakan sunnah, karena beliau mendirikan shalat qiyam itu di tengah-tengah kaum Muhajirin dan kaum Anshor, dan tidak ada satupun (dari mereka) yang mengingkari (jumlah roka’at itu).

Sedang ada ulama lain yang menganjurkan 39 roka’at, dengan dasar bahwa itu adalah praktek penduduk madinah dahulu.

Dan sekelompok ulama (lain) mengatakan: bahwa telah valid dalam kitab As-shahih, dari Aisyah: bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menambah, baik di Bulan Ramadhan maupun di bulan lain, melebihi 13 roka’at.

Kemudian ada kaum yang goncang pendapatnya dalam hal ini, karena mereka mengira ada pertentangan antara hadits Nabi yang sahih dengan sunnahnya para Khulafa’ Rosyidin, dan juga praktek kaum muslimin.

Tapi yang benar, bahwa semua itu baik sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ahmad -rohimahullah-, dan bahwa tidak ada ketentuan baku dalam jumlah roka’at shalat qiyam di bulan Ramadhan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memberikan batasan roka’at padanya.

Dengan demikian, banyak dan sedikitnya roka’at itu sesuai dengan panjang dan pendeknya berdiri (dalam shalat).

Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu memanjangkan shalat qiyamullail-nya, sampai-sampai telah valid -dalam kitab As-Shahih dari hadits Hudzaifah-: bahwa beliau dahulu membaca dalam satu roka’at surat Albaqoroh, surat Annisa’, dan surat Alu Imron. Sehingga dengan panjangnya berdiri (dalam shalat itu) tidak dibutuhkan lagi banyaknya roka’at.

Dan Sahabat Ubay bin Ka’ab ketika shalat bersama orang-orang, dan mereka satu jama’ah, tidak memungkinkan bagi dia untuk memanjangkan berdirinya, maka ia pun memperbanyak jumlah reka’atnya, agar banyak jumlah roka’at itu bisa menjadi ganti lamanya berdiri, dan mereka menjadikan shalat qiyam itu dua kali lipat jumlah roka’at beliau, dan dahulu beliau shalat qiyamnya 11 reka’at atau 13 reka’at.

Kemudian setelah itu, penduduk Madinah tidak mampu berdiri lama, maka mereka pun memperbanyak roka’atnya hingga mencapai 39 roka’at”.

[Majmu’ Fatawa Syeikhul Islam, 23/105].

———

Intinya: 11 atau 23 roka’at, dua-duanya baik, tidak perlu dipermasalahkan.. asalkan mengerjakannya dengan khusyu’, hikmat, dan pelan dengan menjaga thoma’ninahnya.. wallohu a’lam.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Tadabbur Surat Al Mulk… part # 1

Ayat pertama:

تبارك الذي بيده الملك وهو على كل شيء قدير.

“Maha berkah Allah yang di tanganNyalah kerajaan. Dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu.”

Tabarok berasal dari kata barokah yang berarti bahwa Allah yang Maha memberkahi dan kerajaan Allah senantiasa dipenuhi dengan keberkahan.

Barokah artinya yang banyak kebaikannya dan terus bertambah dan tetap.
Allahlah pemilik keberkahan dan Allah yang memberi keberkahan pada ciptaanNya.

Lihatlah bumi yang kita pijak ini.
“Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.” (Fushilat: 10)

Keberkahan bumi tak pernah ada habis habisnya. Kekayaan yang tersimpan padanya. Tanaman, buah buahan, batu mulia, minyak bumi, kekayaan laut, dan sebagainya.

Lihatlah keberkahan langit dengan planet yang ada padanya. Allah turunkah hujan yang amat berkah dari langit untuk kehidupan makhluk yang hidup di atas bumi.

Lihatlah air zam zam yang diberkahi. Setiap harinya diambil jutaan liter untuk disebar ke seluruh dunia. Namun sumur zam zam tak pernah kering. padahal berada di tengah padang pasir yang tandus.

Keberkahan Al Qur’an, keberkahan iman dan amal shalih jauh lebih besar lagi. Karena balasannya adalah surga yang abadi.

Ya Allah berkahi kami dengan iman dan amal.. Berkahi harta kami dan keturunan kami..

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Keutamaan Surat Al Mulk…

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Barangsiapa membaca “Tabarokalladzi bi yadihil mulk” (surat Al Mulk) setiap malam, maka Allah akan menghalanginya dari siksa kubur. Kami di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakan surat tersebut “al Mani’ah” (penghalang dari siksa kubur).  Dia adalah salah satu surat di dalam Kitabullah. Barangsiapa membacanya setiap malam, maka ia telah memperbanyak dan telah berbuat kebaikan.” (HR. An Nasai dalam Al Kabir 6/179 dan Al Hakim. Hakim mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih)

Mari membaca, menghafal dan mentadabburi surat Al Mulk…

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Memahami Al Qur’an Ke 10 : Cara Mendakwahi Orang-Orang Kafir…

Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.

Kaidah yang ke 10 :

Tata cara Alquran dalam mendakwahi orang orang kafir.

– Mendakwahi mereka dengan cara menyebutkan keindahan islam dan keistimewaannya dan menyebutkan bukti bukti kebenaran risalah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

– Mendakwahi mereka dengan mengingatkan apa yang menimpa umat umat sebelum mereka berupa siksa yang pedih di dunia dan akherat.

– Dengan mengingatkan keburukan keburukan yang terdapat pada keyakinan mereka yang batil dan mengingatkan agar tidak menaati pemimpin pemimpin mereka yang menyesatkan, karena itu semua akan menjadi penyesalan.

– Mendakwahi mereka dengan menyebutkan kenikmatan kenikmatan Allah yang banyak, dan bahwasanya  Allahlah yang bersendirian dalam menciptakan alam semesta. Maka Dialah yang wajib untuk diibadahi dan ditaati.

– Menjelaskan sebab sebab terhalangnya mereka untuk mengikuti kebenaran, yaitu mencari kedudukan dan kepentingan pribadi. Dan ketika mereka lebih memilih kebatilan, Allah stempel mati hati mereka dan menutup jalan jalan hidayah untuknya.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Memahami Al Qur’an Ke 11 : Memperhatikan Lafadz-Lafadz..

KAIDAH MEMAHAMI Al QUR’AN – Daftar Isi LENGKAP

Pandai Ngaji Namun Pelitnya Melilit…

Saudaraku! Apakah anda rajin membaca Al Qur’an, terutama di bulan suci ini? Atau mungkin juga rajin menghadiri pengajian, sehingga telah banyak menguasai ilmu agama?

Mungkin jawaban anda: Wah kurang tahu ya, apakah saya telah tergolong yang banyak membaca Al Qur’an, atau bukan?!. Dan saya juga bingung, apakah saya telah berhasil mendapatkan ilmu agama yang cukup banyak dari pengajian-pengajian yang saya hadiri atau belum?

Anda ingin mengetahui posisi diri anda dalam dua hal tersebut?

Tenang saudaraku tidak usah bingung, tidak sulit kok mengetahui posisi anda. Anda penasaran ingin mengetahuinya? Mudah saudaraku, renungkan hadits berikut dengan baik, niscaya anda dapat mengetahui posisi anda dalam dua hal tersebut di atas.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه قَالَ: كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم الْقُرْآنَ ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ. متفق عليه

“Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, ia mengisahkan: “Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling dermawan masalah kebaikan (harta benda), dan kedermawanan beliau mencapai puncaknya pada bulan Ramadhan di saat berjumpa dengan Malaikat Jibril. Dan dahulu Malaikat Jibril ‘alaihissalam biasanya senantiasa menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap malam di bulan Ramadhan hingga akhir bulan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al Qur’an di hadapannya. Bila beliau telah berjumpa dengan Malaikat Jibril ‘alaihissalam beliau terasa begitu dermawan dalam masalah kebaikan (harta benda) dibanding angin sepoi-sepoi yang berhembus.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ibnu Hajar Al Asqalaani menjelaskan bahwa kedermawanan dalam syari’at adalah memberi sesuatu yang pantas/layak kepada yang pantas/layak menerimanya. Dengan demikian, kedermawanan lebih luas cakupannya dibanding sedekah. (Fathul Bari 1/31)

Saudaraku! Kedermawanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan terutama setelah bertadarus Al Qur’an bersama Malaikat Jibril ‘alaihissalam mencapai puncaknya. Tahukah anda, apa sebabnya kedermawanan beliau berubah mencapai puncaknya pada bulan Ramadhan?

Bukankah pada bulan ini produktifitas seseorang berkurang, sehingga kemungkinan besar penghasilannyapun berkurang ? 

Bukankah pada bulan ini kita berpuasa sehingga lapar dan haus, akibatnya kitapun semakin berambisi untuk menguasai dan menikmati seluruh makanan dan minuman yang kita miliki? Coba antum ingat-ingat kembali apa yang anda lakukan ketika persiapan berbuka? Rasanya, seluruh hidangan yang tersedia di meja makan hendak disantap seorang diri. Bukankah demikian?

Para ulama’ menjelaskan hikmah perubahan kedermawanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan ramadhan, terlebih-lebih seusai bertadarus Al Qur’an bersama malaikat Jibril ‘alaihissalam. Dijelaskan bahwa membaca Al Qur’an dan memahami kandungannya mendorong beliau untuk semakin merasa kecukupan, dan terbebas dari sifat tamak.

Perasaan berkecukupan semacam inilah yang mendasari setiap kedermawanan. Ditambah lagi pada bulan Ramadhan karunia Allah kepada umat manusia berlipat ganda, karenanya beliau senang untuk meneladani sunnatullah dengan melipat gandakan kedermawanan beliau. Dengan bersatunya beberapa hal di atas, keutamaan waktu ditambah perjumpaan dengan Malaikat Jibril bersatu padu dalam diri beliau sehingga kedermawanan beliau berlipat ganda. (Fathul Bari 1/31)

Anda ingin mengetahui sejauh mana kedermawanan beliau? Berikut adalah salah satu contohnya:

عن أنس رضي الله عنه قال: جَاءَهُ رَجُلٌ فَأَعْطَاهُ غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ فَرَجَعَ إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ أَسْلِمُوا فَإِنَّ مُحَمَّدًا يُعْطِى عَطَاءً لاَ يَخْشَى الْفَاقَةَ.

“Sahabat Anas radhiallahu ‘anhu mengisahkan: “Pada suatu hari ada seseorang yang datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau memberinya hadiah berupa kambing sebanyak satu lembah. Spontan lelaki itu berlari menemui kaumnya dan berkata kepada mereka: “Wahai kaumku, hendaknya kalian semua segera masuk Islam, karena sesungguhnya Muhammad memberi pemberian yang sangat besar, seakan ia tidak pernah takut kemiskinan.” Riwayat Muslim.

Saduaraku! Coba saudara kembali membaca hadits di atas.

Pada hadits itu kedermawanan beliau digambarkan lebih baik dibanding angin sepoi-sepoi yang berhembus. Ini adalah pertanda bahwa kedermawanan beliau tidak hanya dirasakan oleh sebagian orang saja, akan tetapi dapat dirasakan oleh seluruh orang, tanpa ada perbedaan, walaupun diantara mereka ada perbedaan martabat, kekerabatan atau lainnya. Sebagaimana ini sebagai isyarat bahwa kedermawanan beliau terus mengalir dan tidak pernah terhenti.

Nah, sekarang anda sudah mengetahui apakah anda telah banyak membaca Al Qur’an dan telah banyak mendapatkan ilmu agama?

Ketahuilah saudaraku! bila bacaan Al Qur’an dan pengajian yang anda hadiri memotivasi anda untuk semakin bersikap dermawan, berarti anda termasuk orang yang benar-benar rajin membaca Al Qur’an dan telah berhasil menguasai ilmu agama . Sebaliknya, bila bacaan Al Qur’an anda dan juga pengajian anda di hadapan para ustad dan juru ceramah tidak menjadikan anda bersikap dermawan, maka bacaan Al Qur’an anda dan pengajian anda perlu dikoreksi ulang.

Al Qur’an dan ilmu agama senantiasa menuntun anda untuk bertambah iman kepada Allah Ta’ala dan janji-janji-Nya kepada orang yang berlaku dermawan. Ilmu anda membimbing anda untuk semakin beriman bahwa setiap uluran tangan anda kepada orang lain pasti mendapatkan gantinya dari Allah.

(مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.) 

“Tiada pagi hari, melainkan ada dua malaikat yang turun padanya, kemudian salah satunya berucap (berdoa): Ya Allah, berilah orang yang berinfaq pengganti, sedangkan yang lain berdoa : Ya Allah timpakanlah kepada orang yang kikir (tidak berinfaq) kehancuran.”Muttafaqun ‘alaih.

Saudaraku! Bagaimanakah dengan diri anda di bulan suci ini, apakah anda semakin bertambah dermawan atau sebaliknya? Hanya anda yang mengetahui jawaban pertanyaan ini, karenanya buktikan pada diri anda bahwa anda pada bulan suci ini juga bertambah dermawan.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita pada bulan suci ini termasuk orang-orang terbukti bersifat dermawan. Amiin.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Aku Tinggalkan Karena Allah…

Di zaman ini, sangat banyak godaan dunia… sehingga sangat berat bagi sebagian orang untuk menyembunyikan amal baiknya… apalagi setelah medsos menjadi trend di masyarakat.. banyak sekali status yang berpotensi merusak pahala amal ibadah.

Sedang tahajud, tergoda untuk menulis status: “sungguh nikmatnya bermunajat di sepertiga malam terakhir!”.

Ketika sedekah, tergoda dengan status: “hati menjadi terenyuh dan lembut saat menyantuni anak yatim dan kaum dhuafa”.

Saat membaca Al Qur’an, ingin nulis di beranda: “terbukti setelah banyak membaca qur’an, hati menjadi sangat tenang”… “ramadhan ini penuh berkah, sudah khatam 3 kali!”.

Sedang umroh, tergoda menulis, “semoga Allah terima ibadah umrohku yang sangat berkesan ini”… “hanya karena-Mu ya Allah, aku penuhi panggilanmu”.

Ketika sedang towaf, ingin diabadikan dalam video.. ketika shalat di depan ka’bah, minta dijepret, lalu disebar.. ketika berada di madinah, narsis dengan gaya tangan berdo’a.

Wahai saudaraku.. mengapa engkau lakukan itu semua.. tidak cukupkah pahala dan pujian dari Allah.. sehingga engkau masih berharap pujian dari manusia.

Wahai saudaraku.. sungguh kasihan orang yang demikian adanya.. cobalah engkau renungkan, berapa lama orang itu akan menikmati perbuatannya.. paling hanya ketika dia masih hidup, karena setelah meninggal, tidak ada yang akan peduli lagi dengannya.. bahkan bisa jadi ketika dia masih hidup, dia tidak mendapatkan keuntungan apapun dari tindakannya itu.. atau bahkan akan menimbulkan hasad dan dengki orang lain terhadap dia.

Saudaraku… tinggalkanlah itu semua karena Allah.. bukanlah Allah sudah menyimpan detil-detil amalanmu dalam catatan yang aman dan terjaga.. ataukah engkau ingin nantinya tercantum juga dalam catatan itu bahwa engkau beramal sembari narsis, berpose, dan bergaya, karena mengharapkan pujian dari makhluk?!

Ingatlah selalu firman Allah:

وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِهِ عَلِيمًا

“Kebaikan apapun yg kalian lakukan, maka sungguh Allah mengetahuinya”. [Annisa’: 127]

Semoga Allah menjaga amal ibadah kita dari riya dan sum’ah.. sehingga pahalanya terjaga dan bisa memuliakan kita di akherat nanti, amin.

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Nuzulul Qur’an…

Kapan Al Qur’an itu diturunkan? Sebagian mengatakan bahwa turunnya adalah 17 Ramadhan sehingga dijadikan peringatan Nuzulul Qur’an. Padahal tujuan Al Qur’an diturunkan bukanlah diperingati, yang terpenting adalah ditadabburi atau direnungkan sehingga bisa memahami, mengambil ibrah dan mengamalkan hukum-hukum di dalamnya.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr: 1-5).

Dalam surat Al Qadar di atas disebutkan bahwa Allah menurunkan Al Qur’an pada Lailatul Qadar. Malam ini adalah malam yang diberkahi sebagaimana disebutkan dalam ayat yang lain,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi” (QS. Ad Dukhon: 3). Malam yang diberkahi yang dimaksud di sini adalah Lailatul Qadar yang terdapat di bulan Ramadhan. Karena Al Qur’an itu diturunkan di bulan Ramadhan seperti disebut dalam ayat,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran ” (QS. Al Baqarah: 185).

Ada riwayat dari Ibnu ‘Abbas yang menjelaskan mengenai nuzulul Qur’an, yaitu waktu diturunkannya permulaan Al Qur’an. Ibnu ‘Abbas berkata,

أنزل الله القرآن جملة واحدة من اللوح المحفوظ إلى بيت العِزّة من السماء الدنيا، ثم نزل مفصلا بحسب الوقائع في ثلاث وعشرين سنة على رسول الله صلى الله عليه وسلم

Al Qur’an secara keseluruhan diturunkan dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Lalu diturunkan berangsur-angsur kepada Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sesuai dengan peristiwa-peristiwa dalam jangka waktu 23 tahun.” (HR. Thobari, An Nasai dalam Sunanul Kubro, Al Hakim dalam Mustadroknya, Al Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah. Hadits ini dishahihkan oleh Al Hakim dan disetujui oleh Adz Dzahabi. Ibnu Hajar pun menyetujui sebagaimana dalam Al Fath, 4: 9).

Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata, “Allah itu menjadikan permulaan turunnya Al Qur’an adalah di bulan Ramadhan di malam Lailatul Qadar.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 931).

Jika dinyatakan bahwa Al Qur’an secara keseluruhan itu diturunkan di bulan Ramadhan pada malam Lailatul Qadar, maka klaim yang mengatakan bahwa Al Qur’an diturunkan pada 17 Ramadhan, jelas-jelas tidak berdasar. Karena Lailatul Qadar itu terjadi di sepuluh hari terakhir. Sehingga jelas-jelas penetapan 17 Ramadhan sebagai perayaan Nuzulul Qur’an tidak berdasar atau mengada-ngada.

Perayaan Nuzulul Qur’an sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga tidak pernah dicontohkan oleh para sahabat. Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengatakan,

لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ

“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.” Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya. Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, 6: 622, surat Al Ahqof (46) ayat 11.

Al Qur’an pun diturunkan bukan untuk diperingati setiap tahunnya. Namun tujuan utama adalah Al Qur’an tersebut dibaca dan direnungkan maknanya. Allah Ta’ala berfirman,

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. ” (QS. Shaad: 29).

Al Hasan Al Bashri berkata, “Demi Allah, jika seseorang tidak merenungkan Al Qur’an dengan menghafalkan huruf-hurufnya lalu ia melalaikan hukum-hukumnya sehingga ada yang mengatakan, “Aku telah membaca Al Qur’an seluruhnya.” Padahal kenyataannya ia tidak memiliki akhlak yang baik dan tidak memiliki amal.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 418-419).

Membaca saja tentu belum tentu punya akhlak dan amal yang baik. Memperingati turunnya pun tidak bisa menggapai maksud mentadabburi Al Qur’an. Jadi yang terpenting adalah rajin-rajin mengkaji sekaligus mentadabburi Al Qur’an.

Hanya Allah yang memberi taufik.

Muhammad Abduh Tuasikal,  حفظه الله تعالى

Ref : https://muslim.or.id/17594-kajian-ramadhan-14-nuzulul-quran-dan-tadabbur-al-quran.html

Mengintip Aib Diri

Ibnu Qudamah rohimahullah berkata,

“Siapa yang ingin mengetahui kekurangan yang ada pada dirinya, maka ada empat cara:

1. Duduklah di hadapan seorang syaikh yang amat faham mengenal kesalahan diri. Ia akan memberitahumu dan memberi obatnya. Namun cara ini amat jarang di zaman ini..

2. Memiliki teman yang jujur yang mengingatkan kesalahannya. Dahulu Umar bin Khathab berkata, “Semoga Allah merahmati orang yang mengingatkan aib-aib kami..” Demikian pula salafushalih terdahulu suka bila ada yang mengingatkan kesalahannya. Sedangkan di zaman ini, orang yang mengingatkan kesalahan kita mungkin orang yang paling tidak kita sukai..

3. Mendengar dari lisan musuh. Karena mata yang memusuhi biasanya akan memperlihatkan aib sekecil apapun. Ini lebih bermanfaat untuk mengenal aib sendiri dibandingkan teman yang menjilat..

4. Bergaul dengan manusia. Sesuatu yang tercela diantara mereka jauhilah..

(Mukhtashor Minhajil Qoshidin hal 156)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

Enaknya Puasa Puasa Gini Ngapain Ya..?!

Inilah gumaman yang sering terbesit di benak kita di bulan Ramadhan.

Banyak diantara orang yang berpuasa lupa bahwa ALLAH yang Maha Sayang kepada kita memberikan waktu BELASAN JAM setiap hari untuk mengabulkan doa dan hajat kita secara khusus.

Nabi kita -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menegaskan bahwa doa orang yang berpuasa pasti dikabulkan oleh ALLAH.
(HR. Baihaqi dan lain-lain)

Berarti dari DETIK PERTAMA WAKTU SHUBUH SAMPAI DETIK TERAKHIR SEBELUM MAGHRIB , kita bebas berdoa apa saja untuk kebaikan dunia dan akhirat kita.

Maka cukup menggelitik jika ada orang yang berpuasa lalu dia kebingungan mencari aktifitas di bulan suci Ramadhan.

Angkat kedua tanganmu dan minta sebanyak-banyaknya kepada Rabb-mu!!!

Belasan jam promo ini setiap hari ada di hadapan kita dan semenit pun kita tidak memanfaatkannya..?!

Ditulis oleh,
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى

Pendapat Yang Harus Diingkari…

Assalamualaikum tanya ustadz, pada jaman sekarang (saat ini) apa masih ada malam lailatul qodr ? karena ada yang bilang malam lailatul qodr itu malam diturunkannya Al Qur’an.
Atas pencerahannya disampaikan terimakasih.

Jawaban:

Waalaikumussalam warohmatulloh.

Ana jawab dalam beberapa poin berikut:

1. Yang dimaksud malam diturunkannya Al Qur’an, adalah malam diturunkannya Al Qur’an ke langit dunia secara sekaligus.. bukan tahap pertahap.

Karena penurunan Al Qur’an itu dua macam, ada yang sekaligus, sebagaimana penurunan Al Qur’an pada malam lailatul qodar. Dan ada yang bertahap, sebagaimana diturunkannya Al Qur’an sesuai peristiwa yang dialami oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan penurunan Al Qur’an secara sekaligus ke langit dunia itu lebih dahulu.. daripada penurunan Al Qur’an secara bertahap.

2. Ketika Allah mengatakan bahwa Al Qur’an diturunkan pada malam lailatul qodar, bukan berarti tidak ada malam lailatul qodar yang tidak diturunkan Al Qur’an di dalamnya.. seperti ketika kita mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan pada hari senin, bukan berarti tidak ada hari senin yang di situ tidak dilahirkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Karena malam lailatul qodar itu lebih umum daripada malam penurunan Al Qur’an tersebut, sebagaimana hari senin lebih umum daripada hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.. semoga bisa dipahami.

3. Kalau lailatul qodar tidak ada lagi setelah penurunan Al Qur’an, lalu untuk apa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berusaha mendapatkannya, padahal Al Qur’an telah diturunkan secara sekaligus sebelum itu.

4. Lalu untuk apa juga beliau menyarankan kepada para sahabatnya untuk mencarinya di 10 malam terakhir.

5. Untuk apa para isteri beliau, dan para sahabat beliau, setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berusaha mencari dan mendapatkan malam lailatul qodar?!

Begitu pula para imam setelah mereka, mengapa mereka masih mencari malam lailatul qodar.. bahkan membahas tentang kapan lailatul qodar bisa didapatkan.

Intinya, pendapat yang mengatakan bahwa lailatul qodar tidak ada lagi sekarang, adalah pendapat yang ganjil, sangat lemah, tidak berdasar, dan harus diingkari, wallohu a’lam.

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah