Bagaimana Cara Memuji Allah dan Bersholawat Sebelum Berdo’a…?
Memuji Allah sebelum berdoa bisa dilakukan dengan cara menyebut nama-nama Allah yang sesuai dengan isi doa yang kita sampaikan. Misalnya, kita mohon ampunan maka kita menyebut nama Allah “Al-Ghaffar” atau “Al-Ghafur” (yang Maha Pengampun).
Bisa juga membaca bacaan pengantar doa, di antaranya adalah dengan membaca lafal berikut,
اللَّهمَّ إِني أسألُكَ بأني أَشْهَدُ أنَّكَ أنْتَ اللهُ ، لا إلهَ إلا أنتَ، الأحَدُ الصَّمَدُ ، الذي لم يَلِدْ ولم يُولَدْ ، ولم يكن له كُفُوا أحَدٌ
Keutamaannya: Barang siapa yang berdoa dengan membaca bacaan di atas sebelum memulai doa maka doanya akan dikabulkan. (HR. Turmudzi dan Ahmad; dan dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani)
Adapun salawat, maka hal tersebut bisa dilakukan dengan membaca “Allahumma shalli wa sallim ‘ala Muhammad“, baik sebelum atau seusai berdoa.
Sementara itu, hukum membaca doa dengan selain bahasa Arab dapat dirinci:
Jika doa yang diucapkan adalah doa yang sifatnya umum dan lafalnya tidak ada dalam Alquran dan Sunah maka kita boleh menggunakan bahasa selain bahasa Arab, misalnya: bahasa Melayu. Sebagai contoh: Doa meminta tambahan rezeki atau meminta agar disegerakan berjumpa dengan jodoh.Jika doanya terkait dengan amal tertentu dan lafalnya telah ada dalam Alquran atau Sunahmaka kita harus berdoa dengan menggunakan bahasa Arab. Misalnya: Doa setelah azan, doa setelah berwudhu, doa masuk kamar mandi, dan semacamnya.
Allahu a’lam.
Ammi Nur Baits, حفظه الله تعالى
Ref : https://konsultasisyariah.com/4677-bagaimana-cara-memuji-allah-dan-bersalawat-sebelum-berdoa.html
Berilah 70 Udzur
Ja’far bin Muhammad rohimahullah berkata,
“Apabila sampai kepadamu dari saudaramu sesuatu yang kamu ingkari, maka berilah ia sebuah udzur sampai 70 udzur.. Bila kamu tidak mendapatkan udzur, maka katakanlah, “Barangkali ia mempunyai udzur yang aku tidak ketahui..”
(Dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman no 8344).
Abdullah bin Muhammad bin Munazil rohimahullah berkata, “Mukmin adalah yang selalu memberi udzur kepada saudaranya, sedangkan munafiq adalah yang selalu mencari kesalahan saudaranya..”
(Dikeluarkan oleh Abu ‘Abdirrahman As Sulami dalam Adab ash Shuhbah).
Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Akhlak Baik Yang Sesungguhnya….
Al-Ghozali berkata :
لَيْسَ حُسْنُ الْخُلُقِ كَفَّ الأَذَى، بَلِ احْتِمَال الأَذَى
Bukanlah akhlak yang baik adalah tidak mengganggu orang lain, tapi (akhlak yang baik yang sesungguhnya adalah) bersabar dengan gangguan orang lain.
Firanda Andirja, حفظه الله
Do’a Ini… Apakah Dibaca Sebelum Atau Sesudah Salam…?
Pertanyaan:
Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarakatuh Ustadz, baarakallah fiikum Ustadz. Maaf mengganggu waktu antum Ustadz, Ingin tanya, apakah do’a dibawah ini termasuk Dzikir/wirid SETELAH sholat fardhu ?
Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tanganku dan berkata, ‘Wahai Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar mencintaimu.’ Lalu aku berkata, “Ayah-ibuku menjadi penebus engkau, demi Allah, sesungguhnya aku juga benar-benar mencintaimu.” Beliau berkata, ‘Wahai Mu’adz, sesungguhnya aku berwasiat kepadamu. Janganlah engkau tinggalkan untuk mengucapkan pada akhir tiap shalat:
“اَللّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.”
“Ya Allah, tolonglah aku agar senantiasa mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.” (Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 7969)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/384 no. 1508), dan Sunan an-Nasa-i (III/53)
ATAUKAH sebenarnya dibaca ANTARA tahiyat akhir dan salam ?
Jawaban :
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Baiknya (dibaca – adm) SEBELUM SALAM.
Allahu a’lam
Faidah : Batilnya Imsak
Imam Abdurrozaq mengeluarkan atsar ibnu Abbas dalam Mushonnafnya dan dishahihkan oleh Al Hafidz ibnu Hajar dalam fathul baari (4/135). Ibnu Abbas berkata, “Allah menghalalkan untukmu makan dan minum (sahur) selama kamu masih ragu.”
Atsar ini menunjukkan batilnya imsak, karena mereka yang mengatakan adanya imsak dasarnya adalah kehati hatian.
Adapun perkataan imam Al qurthubi mengomentari hadits Zaid bin Tsabit: Padanya terdapat dalil bahwa selesai dari sahur itu sebelum munculnya fajar.”
Pendapat beliau ini tidak ada satupun shahabat Nabi yang memahami demikian, dan bertabrakan dengan perkataan ibnu Abbas tadi.
Imam Malik meriwayatkan dari Abdullah bin Abu Bakar ia berkata, “Kami selesai dari sholat malam lalu kami tergesa gesa makan sahur karena khawatir terbit fajar.
Salaf terdahulu sholat taraweh semalam suntuk sampai mendekati fajar, sehingga mereka tergesa gesa makan sahur karena khawatir terbit fajar. Riwayat ini membantah pemahaman imam Al Qurthubi tersebut.
Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله
Courtesy of Al Fawaid
Sunnah Dalam Sholat Yang Sering Ditinggalkan
Sunnah ini lebih terlihat pada seorang imam dalam sholat, meskipun sebenarnya berlaku juga bagi selain imam.
Itulah sunnah “berdiam sejenak setelah selesai membaca surat” (sebelum beralih ke ruku’).
Sebaliknya, seringkali seorang imam berdiam lama setelah membaca Alfatihah (sebelum membaca surat), dengan alasan ingin memberikan kesempatan bagi makmum untuk membaca Alfatihah, padahal hal tersebut tidak memiliki sandaran hadits yang shohih.
Intinya, setelah membaca Alfatihah sunnahnya tidak berdiam lama, tapi hendaknya berdiam sejenak untuk persiapan membaca surat setelah Alfatihah saja, bukan berdiam lama sekedar makmum membaca Alfatihah.
Dan setelah membaca surat, sunnahnya berdiam sejenak dan tidak langsung ruku’, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam.
Syeikhul Islam -rohimahulloh- mengatakan :
“Tidak disunnahkan bagi imam, untuk berdiam agar makmumnya bisa membaca (Alfatihah) menurut pendapat mayoritas ulama, dan inilah madzhabnya (Imam) Abu Hanifah, Malik, Ahmad bin Hambal dan yang lainnya.
Hujjah mereka dalam hal ini adalah (hadits) bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah berdiam agar para makmumnya membaca (Alfatihah), dan tidak ada satu orangpun yang menukil hal itu.
Bahkan telah valid dari beliau dalam kitab shohih, tentang berdiamnya beliau setelah takbiirotul ihrom. Dalam kitab sunan (empat) disebutkan bahwa :
“dahulu Beliau (saat berdiri dalam sholat) memiliki dua waktu berdiam; berdiam di awal bacaan, dan berdiam di akhir bacaan” dan itu adalah berdiam sejenak untuk pemisah saja, dan tidak cukup untuk membaca Alfatihah..” [Alfatawal Kubro 2/292].
Syeikh Binbaz -rohimahulloh- juga mengatakan :
“Yang valid dalam beberapa hadits adalah dua waktu berdiam. Pertama: setelah takbiirotul ihrom, dan ini disebut berdiam untuk membaca doa istiftah. Kedua: di akhir bacaan sebelum imam ruku’, dan ini adalah berdiam sejenak, yang memisahkan antara bacaan dengan ruku’.
Dan ada riwayat tentang waktu berdiam yang ketiga, (yaitu) setelah membaca Alfatihah, namun hadits yang menjelaskannya “lemah”, dan tidak ada dalil yang jelas padanya, sehingga afdholnya ditinggalkan.
Adapun penyebutan bahwa berdiam di saat itu merupakan bid’ah, maka itu tidak benar, karena perselisihan dalam masalah itu sudah masyhur di kalangan ulama, dan ada syubhat bagi orang yang menganjurkannya, sehingga tidak sepantasnya masalah ini disikapi dengan keras..”
[Majmu’ Fatawa Syeikh Binbaz 11/84]
Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Berapakah JARAK Yang Tidak Boleh Kita Lalui Di Depan Orang Yang Sedang Shalat..?
“Jarak yang tidak boleh dilalui di depan orang yang sedang shalat, apabila orang yang shalat itu memiliki sutroh (pembatas di depannya), maka diharamkan bagi siapapun untuk berjalan di antara orang yang shalat itu dengan sutrohnya.
Apabila dia tidak ada sutrohnya, tapi ada alas tempat shalatnya, seperti sajadah yang dia pakai untuk shalat di atasnya, maka sajadah tersebut harus dihormati, dan tidak boleh bagi siapapun untuk melewati alas tempat shalatnya itu.
Apabila tidak ada alas tempat shalatnya, maka jarak yang diharamkan adalah antara kaki dan tempat sujudnya, maka tidak ada yang boleh berjalan antara dia dan tempat sujudnya itu”.
[Oleh: Sy Al-Utsaimin -rohimahulloh- dalam Majmu’ Fatawa 13/241].
Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى
Membaca Shalawat Ketika Kita Lupa…?
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Terdapat hadis yang menyatakan anjuran shalawat ketika lupa.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إذا نسيتم شيئاً فصلوا علي تذكروه إن شاء الله
“Jika kalian lupa sesuatu, bacalah shalawat kepadaku, kalian akan segera ingat, insyaaAllah.”
Hadis ini disebutkan Ibnul Qoyim dalam Jalaul Afham. Beliau menyebutkan riwayat yang dibawakan Abu Musa al-Madini, dari jalur Muhammad bin Itab al-Maruzi, dari Sa’dan bin Abdah, dari Ubaidillah al-Atki, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
Ada 2 perawi yang menjadi bukti bahwa hadis ini dhaif,
[1] Ubaidillah al-Atki
Banyak ulama hadis memberikan komentar miring untuknya.
Diantaranya, Al-Bukhari menyebutnya, “Banyak meriwayatkan hadis munkar.” Komentar al-Uqaili, “Hadisnya tidak bisa diangkat dengan penguat.” Al-Baihaqi berkomentar, “Hadisnya tidak bisa jadi penguat.” (Tahdzib at-Tahdzib, 7/27)
[2] Sa’dan bin Abdah
Kata Ibnu Adi dalam al-Kamil, “Tidak makruf”.
Karena itulah, hadis ini didhaifkan oleh al-Hafidz as-Sakhawi dalam al-Qoul al-Badi’ (hlm. 326).
Lalu apa yang bisa dilakukan ketika lupa?
Tidak ada amal khusus ketika lupa. Sebagian ulama menganjurkan untuk mengingat Allah. Karena lupa itu dari setan, sementara cara untuk mengusir setan adalah dengan mengingat Allah.
Diantara dalil mengingat Allah ketika lupa adalah firman Allah,
وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا
ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini.” (QS. al-Kahfi: 24).
As-Syinqithy menyebutkan salah satu tafsir yang disampaikan ulama terkait ayat ini,
إذا وقع منك النسيان لشيء فاذكر الله ؛ لأن النسيان من الشيطان ، كما قال تعالى عن فتى موسى : (وَمَآ أَنْسَانِيهُ إِلاَّ الشيطان أَنْ أَذْكُرَهُ)
Jika kamu mengalami lupa, maka ingatlah Allah. karena lupa itu dari setan. Seperti yang Allah firmankan tentang kawannya Musa, “tidak adalah yang membuat aku lupa untuk menceritakannya kecuali setan.” (Adhwaul Bayan, 4/62).
Allahu a’lam.
Ammi Nur Baits, حفظه الله تعالى
Ref :
https://konsultasisyariah.com/27843-dianjurkan-membaca-shalawat-ketika-lupa.html
Untaian Nasehat Dari Ulama…
جالس العلماء بعقلك
Duduklah bersama ulama dengan akalmu
وجالس الامراء بعلمك
Duduklah bersama pemimpin dengan ilmumu
وجالس الاصدقاء بأدبك
Duduklah bersama teman dengan adab/etikamu
وجالس أهل بيتك بعطفك
Duduklah bersama keluarga dengan kelembutanmu
وجالس السفهاء بحلمك
Duduklah bersama orang bodoh dengan kemurahan hatimu
وكن جليس ربك بذكرك
Jadilah “teman” Allah dengan mengingatNYA
وكن جليس نفسك بنصحك
Dan jadilah teman bagi dirimu sendiri dengan nasihatmu
لا تَحزنْ على طيبتك؛ فَإن لَم يُوجَد في الارض مَن يقدرها؛ ففي السَماء مَن يباركهَا…
Tidak perlu bersedih jika di dunia tidak ada yang menghargai kebaikanmu, karena di langit ada yang mengapresiasinya
حياتنا كالورود فيها من الجمال ما يسعدنا وفيها من الشوك ما يؤلمنا.
Kehidupan kita ibarat mawar, disamping memiliki keindahan yang membuat kita bahagia, juga memiliki duri yang bikin kita tersakiti
ما كان لك سيأتيك رغم ضعفك.!!
Apa yang ditetapkan bagimu niscaya akan mendatangimu, meskipun kamu tidak ada daya
وما ليس لك لن تناله بقوتك.!!
Sebaliknya apa yang bukan milikmu, kamu tidak akan mampu meraihnya meski dengan kekuatanmu
لا أحد يمتاز بصفة الكمال سوى اللہ. لذا كف عن نبش عيوب الآخرين.
Tidak seorangpun yang memiliki sifat sempurna selain Allah, oleh karena itu berhentilah dari menggali aib orang lain
الوعي في العقول وليس في الأعمار، فالأعمار مجرد عداد لأيامك، أما العقول فهي حصاد فهمك وقناعاتك في حياتك..
Kesadaran itu pada akal, bukan pada usia, umur hanyalah bilangan harimu, sedangkan akal adalah hasil pemahaman dan kerelaanmu trhadap kehidupanmu
كن لطيفاً بتحدثك مع الآخرين، فالكل يعاني من وجع الحياة وأنت ﻻتعلم.
Berlemah lembutlah ketika bicara dengan orang lain, karena setiap orang merasakan derita hidupnya masing-masing sedangkan kamu tidak mengetahuinya
كل شيء ينقص إذا قسمته على اثنين إلا
“السعادة”
فإنها تزيد إذا تقاسمتها مع الآخرين.
Semua hal akan berkurang jika dibagi menjadi 2, kecuali KEBAHAGIAAN, justru akan bertambah jika kamu bagi kepada yang lain
وصية الشنقيطي من اروع ما قد تقرأه اليوم
Wasiat syaikh As-Syanqithi, diantara hal yang paling menarik yang engkau baca pada hari ini.
Courtesy of konsultasisyariah.com
