Soal HISAB…

Pertanyaan:

Ustadz, sebagian organisasi di negeri kita berpegang kepada hisab saja dalam menentukan hilal ramadlan. Bagaimana pendapat ustad dalam hal ini?

Jawab:
Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Berpegang kepada hisab jika hal itu baik tentu telah diperintahkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam, para shahabat, para tabiin dan para ulama setelahnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya membatasi penentuan ramadlan dengan melihat hilal saja. Beliau bersabda:

إذا رأيتم الهلال فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا

Apabila kalian melihat hilal maka berpuasalah, dan apabila kalian melihatnya beriedul fithri lah.”
(HR Muslim)

Berpegang kepada hisab bertentangan dengan dalil dan ijma. Syaikhul islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

والمعتمد على الحساب في الهلال كما أنه ضال في الشريعة مبتدع في الدين فهو مخطئ في العقل وعلم الحساب فإن العلماء بالهيئة يعرفون أن الرؤية لا تنضبط بأمر حسابي

Orang yang bersandar kepada hisab dalam menentukan hilal, ia sesat dalam syariat, berbuat bid’ah dalam agama, salah secara akal dan ilmu hisab. Karena para ulama hisab sendiri mengetahui bahwa melihat hilal tidak bisa ditepatkan dengan hisab….
(Majmu fatawa).

Dan ulama yang menukil adanya ijma harusnya dengan ru’yah adalah banyak diantaranya syaikhul islam, ibnu rusyd, ibnul mundzir dan lainnya.

Courtesy of Al Fawaid

Semangatlah Menghadiri Kajian Ilmiah…

Umar bin Khottob -rodhiallohu anhu-:

“Sungguh ada orang yg keluar dari rumahnya dg membawa dosa seperti Gunung Tihamah, maka ketika dia mendengar kajian ilmu, dia menjadi takut, kembali baik, dan bertaubat. Lalu orang itupun kembali ke rumahnya tanpa dosa sedikitpun.

Maka janganlah kalian menjauhi majlis-majlisnya para ulama!”.

[Miftahu daris sa’adah, Ibnul Qoyyim -rohimahulloh-, 1/122].

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Kita Semua

Seorang bijak mengatakan:

Kita semua; manusia biasa di mata orang yang tidak kenal dengan kita..

Kita semua; manusia yang teperdaya di mata orang yang hasad kepada kita..

Kita semua; manusia hebat di mata orang yang memahami kita..

Kita semua; manusia istimewa di mata orang yang senang kepada kita..

Setiap orang memiliki pandangan masing-masing, maka jangan menyusahkan diri agar dipandang baik oleh orang lain.

CUKUPLAH BAGIMU RIDHA ALLAH, karena ridha seluruh manusia adalah tujuan yang tidak mungkin dicapai, sedang ridha Allah adalah tujuan yang tidak boleh ditinggalkan.

Maka tinggalkan tujuan yang tidak mungkin dicapai, dan raihlah tujuan yang tidak boleh ditinggalkan..

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Menggunakan Jasa Orang Dalam atau Calo…

Assalamu’alaikum. Afwan ustadz. Mau tanya bagaimana kalau kita mengurus kendaran seperti bayar pajak, ganti STNK dan ganti plat nomor kemudian kita minta diurusin sama orang dalam atau mungkin kasarnya calo, karena ada salah satu syarat yang kurang, apabila pulang lagi tidak memungkinkan karena jarak rumah sangat jauh dan disitu ada tambahan biaya. Bagaimana dengan sikap ana, ana merasa tidak tenang dengan kejadian ini, dan kalau itu dosa bagaimana cara bertobatnya. Syukron.

Jawab:

Waalaikumussalam warohmatulloh.

Kalau calonya orang dalam dan kita memberi imbalan atas bantuannya itu, maka ini tidak boleh, karena masuk dalam hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam, “hadiah yang diberikan kepada pekerja adalah harta ghulul (yang diharamkan).”

Kalau calonya orang luar, dan secara aturan tidak melanggar, maka hal itu tidak mengapa, karena itu dia ambil dari jerih payah dia membantu kita, wallohu a’lam.

Mengapa dibedakan antara orang dalam dengan orang luar padahal dua-duanya membantu kita?

Ada dua alasan:

Pertama, karena orang dalam (pegawai), sudah mendapatkan gaji dari atasannya dari layanan yang dia berikan, sehingga kalau dia mengambil dari orang lain, maka berarti dia mengambil dua imbalan dari satu pekerjaan.

Kedua, karena dengan perbuatan orang dalam mengambil upah, maka itu akan mempengaruhi pelayanan dia kepada orang yang tidak memberinya upah, dan ini kezaliman.

Kalau sudah terlanjur memakai orang dalam dan memberinya upah, maka banyaklah beristighfar dan bertobatlah dari perbuatan itu.. Dan jangan diulangi lagi, wallohu a’lam.

Semoga bermanfaat.

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله

Puasa Dan Mental Korup…

Sepanjang hari seorang muslim menahan perihnya lapar dan dahaga.

Lantunan Al-Qur’an dan syahdunya dzikir menghiasi bibir dan relung kalbu paling dalam agar lebih dekat kepada Rahmat dan ampunan.

Saat perut kosong maka syahwat kendur dan godaan setan menurun sehingga hati bening dan rohani jernih serta pikiran bersih. Hasilnya dunia akan ditinggalkan akhirat akan semangat disongsong dan ibadah akan mudah dijalankan. Makanya Rasulullah bersabda puasa itu menjadi tameng dari adzab Allah

Sedekah, infaq, baksos dan memberi makan kepada orang berpuasa amat membentuk muslim menjadi dermawan, cinta fakir miskin dan orang lemah yang tak berdaya.

Berbagai amalan shalih seperti shalat berjamaah, qiyamul lain, duduk di masjid setelah shalat subuh, dzikir pagi dan sore serta menyantuni anak yatim terus dipacu untuk meraih ketakwaan.

Seluruh tindakan maksiat dan dosa seperti ghibah, namimah, fitnah, tabarruj, kekejian, adu domba, sombong, hasad, serakah dan makan harta orang lain secara terhindarkan.

Kejujuran dan kebersihan hidup menjadi moto utama muslim dalam bekerja, mengajar, bersosial dan berinteraksi dampak dari puasanya yang diterima karena memang Rasulullah bersabda puasa akan menjadi tameng selagi tidak merobeknya.

Adakah suatu yang lebih mendalam untuk membentuk sikap jujur, bersih dan amanah daripada puasa.

Siang hari lapar dan dahaga tetap ditahan meskipun tak ada pengawas yang memantaunya.

Siapakah yang menyuruh tetap menjaga mulutnya untuk tidak menyicipi makanan dan menyeruput minuman?

Seharusnya orang yang sudah bisa menahan dari istrinya bisa menahan dari istri orang lain.

Bukankah yang sudah bisa menahan mulutnya dari makanan yang halal lebih bisa menahan dari yang haram.

Harusnya kesabaran sepanjang ramadhan bisa diteruskan sepanjang tahun berikutnya.

Bersih hati tidak dengki
Bersih mulut tidak mencaci
Bersih mata tidak melepas mencuri hati
Bersih tangan dan kaki tidak menyakiti

Zainal Abidin, حفظه الله

Pilihan Ada Di Depanmu

Pilihan ada di depanmu.. Silahkan memilih.. Tapi ingat konsekuensinya.. Harus tanggung-jawab.

=====

Allah ta’ala telah berfirman:

{أَفَمَن يُلْقَىٰ فِي النَّارِ خَيْرٌ أَم مَّن يَأْتِي آمِنًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ۖ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ} [فصلت : 40]

“Apakah orang yang dilemparkan ke neraka itu lebih baik, ataukah orang yang datang pada hari kiamat dengan aman sentosa ?! Lakukanlah apa saja yang kalian kehendaki, karena sesungguhnya Dia maha melihat..” [Fush-shilat: 40].

Dalam ayat lain Allah juga berfirman:

{فَمَن شَاءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا} [الكهف : 29]

“Siapa yang ingin, silahkan (memilih) beriman, dan siapa yang ingin, silahkan (memilih) kafir! Sungguh Kami telah persiapkan bagi orang-orang yang zalim itu api neraka yang gejolaknya menyelimuti mereka..” [Al-Kahfi:29].

Setiap pilihan kita akan punya konsekuensi..
Memilih yang baik, konsekuensinya akan baik..
Memilih yang buruk, konsekuensinya juga akan buruk..
Dan semuanya akan kembali kepada diri kita sendiri.

Allah ta’ala berfirman:

{مَّنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ} [فصلت : 46]

“Siapa yang beramal saleh, maka itu untuk kebaikan dirinya sendiri. (Sebaliknya) siapa yang beramal kemaksiatan, maka keburukannya akan ditimpakan kepada dirinya sendiri pula. Dan Robbmu tidaklah menzalimi para hamba-Nya..” [Fush-shilat:46]

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Kita Tahu, Tapi..

Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah pernah mengisahkan :

“Seorang anak perempuan meninggal karena Tho’un, kemudian ayahnya melihatnya di dalam mimpi, maka ayahnya berkata kepadanya : “Wahai anakku kabarkan kepadaku tentang akhirat..!”

Anak perempuan itu menjawab :
“Kami telah melewati perkara yang sangat besar, dan sesungguhnya kita telah mengetahui, tapi kita tidak mengamalkannya. Demi Allah, sesungguhnya satu ucapan tasbih atau satu roka’at sholat yang tertulis dalam lembaran amalku lebih aku sukai daripada dunia dan seluruh isinya..”

Berkata Ibnul Qoyyim rohimahullah,

“Anak perempuan itu telah mengatakan perkataan yang dalam maknanya (sesungguhnya kami mengetahui, tapi kita tidak mengamalkan), akan tetapi banyak diantara kita yang tidak memahami maknanya..”

●  Kita mengetahui, bahwa ucapan “Subhaanallaahi wa bihamdihi” sebanyak 100 kali dalam sehari akan menghapuskan dosa-dosa kita, walaupun dosa kita sebanyak buih di lautan. Akan tetapi sayang, Berapa banyak hari kita yang berlalu tanpa kita mengucapkannya sedikitpun.

●  Kita mengetahui, bahwa pahala dua roka’at Dhuha setara dengan pahala 360 shodaqoh, akan tetapi sayang, Hari berganti hari tanpa kita melakukan sholat Dhuha.

●  Kita mengetahui, bahwa orang yang berpuasa sunnah karena Allah satu hari saja, akan dijauhkan wajahnya dari api neraka sejauh 70 musim atau 70 tahun perjalanan. Tapi sayang, kita tidak mau menahan lapar.

●  Kita mengetahui, bahwa siapa yang menjenguk orang sakit, akan diikuti oleh 70 ribu malaikat yang memintakan ampun untuknya. Tapi sayang, kita belum juga menjenguk satu orang sakit pun pekan ini.

●  Kita mengetahui, bahwa siapa yang membantu membangun masjid karena Allah walaupun hanya sebesar sarang burung, akan dibangunkan sebuah rumah di surga. Tapi sayang, kita tidak tergerak untuk membantu pembangunan masjid walaupun hanya dengan beberapa puluh ribu.

●  Kita mengetahui, bahwa siapa yang membantu janda dan anak yatimnya, pahalanya seperti berjihad di jalan Allah, atau seperti orang yang berpuasa sepanjang hari tanpa berbuka, atau orang yang sholat sepanjang malam tanpa tidur. Tapi sayang, sampai saat ini kita tidak berniat membantu seorang pun janda dan anak yatim.

●  Kita mengetahui, bahwa orang yang membaca satu huruf dari Al Qur’an, baginya sepuluh kebaikan dan satu kebaikan akan di lipatgandakan sepuluh kali. Tapi sayang, kita tidak pernah meluangkan waktu membaca Al-Qur’an dalam jadwal harian kita.

●  Kita mengetahui, bahwa haji yang mabrur, tidak ada pahala baginya kecuali surga, dan akan diampuni dosa-dosanya sehingga kembali suci seperti saat dilahirkan oleh ibunya. Tapi sayang, kita tidak bersemangat untuk melaksanakannya, padahal kita mampu melaksanakannya.

●  Kita mengetahui, bahwa orang mukmin yang paling mulia adalah yang paling banyak sholat malam, dan bahwasanya Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya tidak pernah meremehkan sholat malam di tengah segala kesibukan dan jihad mereka. Tapi sayang kita terlalu meremehkan sholat malam.

●  Kita mengetahui, bahwa hari kiamat pasti terjadi, tanpa ada keraguan, dan pada hari itu Allah akan membangkitkan semua yang ada di dalam kubur. Tetapi sayang, kita tidak pernah mempersiapkan diri untuk hari itu.

●  Kita sering menyaksikan orang-orang yang meninggal mendahului kita. tetapi sayang, kita selalu larut dengan senda gurau dan permainan dunia seakan kita mendapat jaminan hidup selamanya dan tidak akan akan menyusul mereka.

Wahai Saudaraku yang di Rahmati Allah.. Semoga kita segera merubah keadaan kita mulai detik ini, dan mempersiapkan datangnya hari perhitungan yang pasti akan kita hadapi..

Hari dimana kita mempertanggung jawabkan setiap perbuatan kita di dunia..

Hari ketika lisan kita dikunci, sedangkan mata, kaki, dan tangan kita yang menjadi saksi..

Dan pada hari itu, setiap orang akan lari dari saudaranya, ibu dan bapaknya, teman-teman dan anaknya, karena pada hari itu setiap orang akan disibukkan dengan urusannya masing-masing.

Saya telah mengirimkan Nasehat ini kepada orang yang saya cintai karena Allah, maka kirimkanlah nasehat ini kepada orang yang kalian cintai.

Agama itu Nasihat..

Ditulis oleh,
Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin Lc, حفظه الله تعالى

Menasehati Atau Menebar Aib..?

Faidah:

Berkata Al Hafidz ibnu Rojab rahimahullah:

إخراجُ السوء وإشاعتُه في قالب النصح، فهو يُظهر الشَّفَقَةَ والتألُّم لحال المنصوح، وفي الباطن إنما غرضه التعيير والأذى، فهذا من إخوان المنافقين الذين ذمهم الله؛ 

Mengeluarkan keburukan (seseorang) dan menyebarkannya dengan kedok nasehat. Ia memperlihatkan rasa kasihan dan sedih kepada orang yang dinasehatinya, padahal di batinnya ia ingin menjelekkannya adalah perbuatan kaum munafiqin yang Allah cela.
(al farqu baina ta’yir wanashihah)

Betapa banyaknya jenis ini di zaman ini..
Ia tebar nasehatnya untuk seseorang di media sosial..
dengan dalih dalam rangka menasehati..
padahal perbuatannya tersebut sebetulnya menebar aib..
Semoga Allah melindungi kita dari sifat demikian..

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Courtesy of Al Fawaid

Makna LAZIMUL QOUL…

Pertanyaan:
Ustadz, saya belum faham  penjelasan syaikh Utsaimin dalam kitab al qiwaidul mutsla tentang lazimul qoul. Moga ustadz mau menjelaskannya kepada ana. jazakallahu khaira.

Jawab:
Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Lazimul qoul artinya konsekwensi ucapan. contohnya bila ada orang berkata: Saya tidak mengimani adanya setan.
ucapan ini bila kita ambil konsekwensinya: dia tidak beriman kepada alqur’an. karena alqur’an menegaskan adanya setan.

Syaikh Utsaimin menjelaskan bahwa lazimul qoul ada tiga keadaan:

1. Bila dikatakan kepada orang tersebut: apakah berarti kamu tidak beriman kepada alqur’an? bila ia menjawab: iya. maka ini kufur besar.

2. Bila disebutkan kepadanya konsekwensi ucapannya ia menjawab: saya tidak bermaksud mengingkari alqur’an. tapi rupanya ia terkena syubhat misalnya. maka tidak boleh kita nisbatkan konsekwensi ucapannya tersebut kepada dia.

3. Bila disebutkan kepadanya konsekwensi ucapannya tersebut ia diam.
maka yang kuat tidak boleh juga menisbatkannya kepada dia, karena bisa jadi ia bingung tidak mengerti.

Peringatan:
Di zaman ini banyak yang memvonis orang lain dengan konsekwensi ucapan. terkadang sebagian orang mengambil ucapan seorang ustadz lalu memberikan konsekwensi yang buruk dari ucapannya dan menisbatkannya kepada ustadz tersebut. Padahal ustadz itu tidak bermaksud demikian.
Allahuk Musta’an.

Courtesy of Al Fawaid

Menebar Cahaya Sunnah