Badru Salam, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu
Syeikh Al-Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:
“Jika seseorang menziarahi kuburan, maka hendaknya dia lakukan karena dorongan mengambil ibroh, bukan karena dorongan perasaan.
Karena sebagian orang menziarahi kuburan ayahnya, atau kuburan ibunya, karena dorongan perasaan kasihan, iba, dan cinta.
Keadaan ini, meskipun manusiawi, namun yang lebih baik adalah menziarahi kuburan, karena dorongan tujuan yang telah disebutkan oleh Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-, yaitu: mengingatkan diri kepada hari akhir dan kematian.
Bahwa mereka yang berada di kuburan sekarang ini, sama seperti dirimu hidup di muka bumi kemaren hari, dan sekarang mereka telah berada di perut bumi, mereka tergadaikan oleh amal-amal mereka.
Mereka tidak mampu lagi menambah, meski hanya satu kebaikan. Dan tidak mampu lagi mengurangi, walau hanya satu keburukan..”
[Durus wa fatawa Alharomil Madani, hal: 51]
Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Diantara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا
“Ya Allah janganlah Engkau jadikan musibah kami pada agama kami”
Musibah pada agama adalah semua perkara yang mengurangi agama kita, seperti malas beribadah, malas pengajian, malas sholat malam, malas bersedekah dll.
Seringkali kita benar-benar merasa terkena musibah jika musibah tersebut berkaitan dengan dunia kita, seperti berkurangnya harta, jiwa, atau ditimpa penyakit. Akan tetapi tatkala kita menjadi malas dalam beribadah malah kita anggap hal yang biasa. Padahal itu adalah musibah… bukankah musibah agama lebih parah daripada musibah dunia.
Betapa sering musibah yang menimpa agama kita tersebut karena kemaksiatan yang kita lakukan, sebagaimana dikatakan, “Kemaksiatan dan dosa mengantarkan pelakunya terjerumus dalam kemaksiatan dan dosa berikutnya”
Ya Allah ampunilah dosa kami. jangan Kau jadikan musibah menimpa agama kami yang sangat minim ini.
Penulis,
Ustadz Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى
Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى
Sebuah nasehat mengatakan:
“Ada tiga makhluk yang bekerja, tapi hasilnya untuk orang lain:
1. ANJING yang mengejar hewan buruannya, lalu menyerahkannya kepada pemiliknya.
2. Orang yang PELIT, dia mengumpulkan harta, tapi setelah banyak terkumpul, harta itu menjadi milik ahli warisnya.
3. Orang yang menggunjing (GHIBAH), sehingga pahala-pahala amal baiknya diberikan kepada orang lain”.
Courtesy of Mutiara Risalah Islam
Abu Riyadl Nurcholis, حفظه الله تعالى
Wahai kaum hawa…
Apa yang anda rasakan jika seorang kaum adam memandang wajahmu dengan seksama…
Ia melihatmu dengan cermat untuk beberapa menit…
Ia melihati wajahmu yang cantik untuk dinikmati sesaat…
Pasti dirimu akan menunduk malu atau malah marah…
Atau anda akan balas matanya seperti dia melihatmu?? Aaah saya kira tidak bagi yang memilki malu..
Di DP-mu apa yang engkau pajang terkadang akan ada yang memperhatikannya… Entah dia di DP BB atau FB atau WA, atau media lain…
Jika engkau malu… Simpanlah ia ditempat yang aman… Media sosial bukanlah untuk ajang penampakan itu…
جَزَاك اللهُ خَيْرًا
Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Jangan lewatkan kajian menarik berikut ini dengan tema “Kiat-kiat mencapai kebahagiaan di zaman fitnah”…
Simak penjelasan Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى berikut ini. Kami bagi menjadi beberapa audio (per kiat bahagia) agar bisa disimak lebih jelas.
Kiat pertama : Meminta kebahagiaan kepada Allah…
Kiat kedua : Meninggalkan perkara yang bukan urusannya…
Kiat ketiga : Membantu orang lain…
Kiat keempat : Memiliki sifat Qona’ah…
Kiat kelima : Mudah memaafkan…
Kiat keenam : Ikhlas…
Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum.
Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Jangan lewatkan kajian menarik berikut ini dengan tema “Kiat-kiat mencapai kebahagiaan di zaman fitnah”…
Simak penjelasan Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى berikut ini. Kami bagi menjadi beberapa audio (per kiat bahagia) agar bisa disimak lebih jelas.
Kiat pertama : Meminta kebahagiaan kepada Allah…
Kiat kedua : Meninggalkan perkara yang bukan urusannya…
Kiat ketiga : Membantu orang lain…
Kiat keempat : Memiliki sifat Qona’ah…
Kiat kelima : Mudah memaafkan…
Kiat keenam : Ikhlas…
Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum.
Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Jangan lewatkan kajian menarik berikut ini dengan tema “Kiat-kiat mencapai kebahagiaan di zaman fitnah”…
Simak penjelasan Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى berikut ini. Kami bagi menjadi beberapa audio (per kiat bahagia) agar bisa disimak lebih jelas.
Kiat pertama : Meminta kebahagiaan kepada Allah…
Kiat kedua : Meninggalkan perkara yang bukan urusannya…
Kiat ketiga : Membantu orang lain…
Kiat keempat : Memiliki sifat Qona’ah…
Kiat kelima : Mudah memaafkan…
Kiat keenam : Ikhlas…
Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum.