Selamat Natal ? Ogah Aah…

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sebagai orang Islam, saya tidak akan mengucapkan kata di atas. Itu idiologi kufur mereka, saya tidak berkepentingan, apalagi itu nyata nyata kekufuran menurut syari’at agama saya. Biarkan saja, mau natlan atau mau yang lain terserah mereka, Allah Ta’ala berfirman:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ 

Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku . (Al Kafirun 6)

Bahkan sebagai seorang muslim saya merasa iba, sekaligus sedih karena mereka tersesat sehingga masih percaya dengan agama yang telah mansukh (kadaluarsa), karena mereka tersesat jalan, mereka sedang meniti jalan menuju ke neraka. Haram hukumnya bila saya malah bersenang-senang apalagi mengucapkan selamat kepada mereka yang sedang menuju ke neraka dan sedang merayakan kesesatannya.

Walau demikian, saya juga tidak dibenarkan untuk mengejek mereka apalagi memaki mereka dan tuhannya. Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَسُبُّواْ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللّهِ فَيَسُبُّواْ اللّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ {108}

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. (Al An’aam 108)

Saudaraku! bersikaplah secara proporsional dan jangan berlebih-lebihan. Selamat menjadi ummat Islam, semoga istiqomah.

Toleransi Bangsa JIN dan JIL…

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Toleransi Bukan Berarti Menggadaikan Prinsip Agama.
Toleransi dianjurkan, berbuat baik disyari’atkan, tolong menolong menjadi suatu kepastian walaupun anda bersebrangan agama dengan tetangga. Namun itu semua bukan berarti islam membenarkan anda untuk meggadaikan idiologi dan prinsip agama anda. Islam tidak pernah mengizinkan kepada anda untuk bersikap lembek dalam urusan aqidah dan keimanan:

وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

“Maka mereka menginginkan supaya engkau bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak pula kepadamu.” Al Qalam 9

Al Mujahid berkata: Mereka mendambakan jikalau engkau sedikit melunak (mendekat) kepada tuhan-tuhan mereka, dan meninggalkan sebagian dari kebenaran yang ada padamu.”

Inilah prinsip agama Islam yang tidak dapat di tawar-tawar, sebagaimana yang tertuang pada firman Allah Ta’ala berikut:

يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ {1} لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ {2} وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ {3} وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ {4} وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5} لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ 

“Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al Kafirun; 1-6).

Saya yakin, Anda meyakini dan beriman bahwa satu-satunya agama yang benar dan diterima di sisi Allah ialah agama Islam. Keyakinan ini tertanam kokoh dalam jiwa anda, dan tidak mungkin tergoyahkan oleh apapun.

Kebenaran Islam sebagai satu-satunya agama yang sah harus selalu anda yakini.

Kebaikan perilaku dan keluhuran tutur kata, bukan berarti keraguan akan kebenaran agama anda.

Persahabatan dan kerja sama, juga bukan berarti keraguan akan kesalahan agama orang lain.

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ 

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran; 85).

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَم
ُ
“Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah hanyalah agama Islam”. Ali Imran 19

)وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ( 

“Demi Dzat Yang jiwaku berada dalam genggamannya. Tiadalah seorangpun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani, lalu ia mati, sedangkan ia belumberiman kepada agama yang aku diutus dengannya, melainkan ia menjadipenghuni neraka.” Riwayat Muslim

Dengan demikian, bila anda menginginkan toleransi berupa hubungan yang baik, tidak saling melanggar hak dan kepemilikan, maka itu semua telah diajarkan dalam syari’at.

Namun bila yang anda inginkan dari toleransi ialah lunturnya idiologi, iman dan keyakinan, maka sejatinya itu bukan toleransi. Sikap tersebut sejatinya adalah pelecehan harkat dan martabat.

Bila yang anda inginkan dari toleransi ialah merendahkan harga diri dan menerima kehinaan dan penindasan, maka itu sejatinya kemalasan be rookie dan indikasi adanya jiwa pengecut lagi penakut.

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَن تَوَلَّوْهُمْ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُون
َ
“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama, dan mengusir kamu dari negrimu dan membantu orang lain untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan meeka sebagai kawan, maka meeka itulah orang-orang yang berbuat zalim.” Al Mumtahanah 9

Benarkah setiap agama memiliki kebenaran relatif?
Para pendakwah paham Jaringan Islam Liberal (JIL) mempropagandakan adanya “kebenaan relatif” pada setiap ajaran dan agama. Anggapan ini sejatinya hanyalah perangkap dan kamuflase yang sedang diperankan oleh para penggiat paham islam liberal. Sejatinya, dibalik slogan ini mereka menyembunyikan kebencian dan permusuhan terhadap Islam dan pembelaan terhadap segala bentuk kesesatan.

Wajar bila setiap paham baru yang menodai kesucian agama Islam, kaum libralis senantiasa berada di barisan terdepan para pembelanya. Namun sebaliknya, bila ada seruan untuk memurnikan ajaran Islam, apalagi menerapkannya, niscaya kaum islam liberal menjadi orang pertama yang menentangnya.
Aneh bin ajaib.

Kemudian bila anda hendak menerapkan paham liberal ini, yaitu setiap paham dan agama memiliki kebenaran yang relatif, maka mustahil anda dapat melakukannya. Sebab telah menjadi fitrah setiap manusia untuk memilih yang benar dan bermanfaat serta menjauhi dan memerangi segala yang salah dan merugikan.

Dan bila anda sedikit merenung, niscaya anda sampai pada kesimpulan bahwa doktrin ini bertujuan untuk meruntuhkan bangsa dan negara serta umat Islam secara khusus. Bila doktrin ini diterapkan, maka setiap orang yang memiliki paham tertentu, bebas bergerak dan menjalankan pemahamannya. Dengan demikian, kaum komunis bebas lenggang kangkung, kaum banci akan bebas menjalankan hasratnya. Para penjahat bebas menjalankan kejahatannya, koruptor bebas melakukan korupsinya, dan kaum kanibal bebas menerapkan pemahamannya dst.

Bila demikian, maka pengadilan harus ditutup, sebab setiap orang yang melakukan suatu tindakan, baik itu merugikan orang lain atau menguntungkan pada hakekatnya sedang menjalankan pemahamannya.
Dahulu bangsa Indonesia mengenal suatu aliran yang dikenal dengan “Darmo Gandul”. Darmo gandul mengajarkan slogan : “Istrimu adalah istriku, dan hartamu adalah hartaku”. Mungkinkah kaum liberal menoleransi aliran ini, sehingga mereka membiarkan orang-orang yang menganut paham “Darmo Gandul” menerapkan pahamnya kepada istri dan harta mereka?

Walau demikian, kaum liberalis tidak istiqomah dalam menerapkan doktrin ini. Mereka hanya menerapkan doktrin ini kepada setiap paham yang menyelisihi Islam. Akan tetapi tatkala mereka berhadapan dengan kaum muslimin atau aqidah Ahlis Sunnah, mereka berubah wajah. Mereka dengan beringas menyerang serta menganggap sesat paham atau Aqidah Ahlis Sunnah yang meyakini bahwa kebenaran hanya dimiliki oleh Islam. Mengapa mereka tidak menerapkan doktrin mereka, dan berkata: sesungguhnya pada pemahaman ini terdapat kebenaran, dan sepantasnya dibiarkan berkembang di masyarakat.

Sebagai salah satu buktinya ialah tulisan koordinator mereka yang bernama Ulil Abshar Abdallah. Ia menganggap bahwa agama Islam yang diajarkan oleh Nabi dan yang diamalkan oleh Ahlus Sunnah hingga saat ini tidak segar lagi dan sudah ketinggalan zaman atau kurang dewasa dll. Oleh karena itu; ia menyeru untuk mengadakan penyegaran.

Renungkan saudaraku! Bukankah ini merupakan sikap menghakimi dan menyalahkan suatu pemahaman?!

Andai kaum liberal benar-benar menerapkan doktrin ini kepada setiap orang, niscaya mereka menerima/toleransi dengan pemahaman Ahlis Sunnah yang menyakini bahwa paham kaum liberal adalah sesat dan layak untuk dimusnahkan dan disingkirkan dari muka bumi. Namun kenyatannya tidak demikian, mereka sangat berang dan mengerahkan segala daya dan upayanya untuk memerangi agama Islam yang murni, yang diyakini oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Fenomena ini membuktikan kepada kita bahwa sejatinya liberal bangkit dan bergerak guna menghancurkan agama Islam dan menumbuh suburkan setiap paham dan aliran yang menyelisihi Islam. Liberalisasi Islam bukan bertujuan menyegarkan pemahaman Islam.

Saudaraku! Untuk menepis perangkap adanya “kebenaran relatif” pada setiap agama, simaklah beberapa dalil berikut:

فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِن سَوْءَاتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَـذِهِ الشَّجَرَةِ إِلاَّ أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ {20} وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ {21} فَدَلاَّهُمَا بِغُرُورٍ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْءَاتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَن تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَا إِنَّ الشَّيْطَآنَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِينٌ الأعراف 20-22

“Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata:”Rabb kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)” Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya:”Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua” Maka syaitan membujuk keduanya (untuk makan memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah baginya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Rabb mereka menyeru mereka:”Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu:”Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua”. Al A’araf 20-22.

Iblis -guru besar setiap penyeru kabatilan-, tatkala ingin mengoda dan menyesatkan Nabi Adam dan Istrinya Hawwa ‘alaihimas salaam, ia mengemas godaannya tersebut dalam kemasan nasehat, dan saran agar mereka berdua dapat hidup kekal. Tidak cukup hanya dengan mengesankan bahwa bisikannya adalah nasehat agar mereka berdua dapat menjadi malaikat dan kekat di surga. Iblis benar-benar ahli dalam menggunakan tipu muslihat, ia menguatkan godaannya ini dengan sumpah palsu.

Karena begitu lembut dan halus tipu daya Ibllis, sehingga keduanya terperdaya oleh talbis dan tadlis (pengelabuhan Iblis) ini. Tak ayal lagi mereka terjerumus dalam kesalahan besar, yaitu melanggar larangan Allah Ta’ala dengan memakan buah yang telah dilarang untuk mereka makan.

Demikianlah ajaran Iblis dan demikianlah metode para penyeru kebatilan di setiap zaman dan tempat. Mereka mengemas kebatilan dengan kata-kata indah, slogan-slogan menggiurkan, dan iming-iming manis.

Fenomena ini bahkan telah menjadi sunnatullah pada makhluqnya, agar terbukti siapa dari mereka yang benar-benar beriman dan ta’at dan siapa dari mereka yang hanya menuruti setiap bisikan syahwat, nafsu dan akalnya. Rasulullah pernah menceritakan fenomena ini dalam sabdanya berikut ini:

عن أبي هريرة عن رسول الله قال: (لما خلق الله الجنة والنار أرسل جبريل إلى الجنة فقال: أنظر إليها وإلى ما أعددت لأهلها فيها. قال: فجاءها ونظر إليها وإلى ما أعد الله لأهلها فيها، قال: فرجع إليه، قال: فوعزتك لا يسمع بها أحد إلا دخلها، فأمر بها فحفت بالمكاره، فقال: ارجع إليها فانظر إلى ما أعددت لأهلها فيها. قال: فرجع إليها، فإذا هي قد حفت بالمكاره. فرجع إليه، فقال: وعزتك لقد خفت أن لا يدخلها أحد. قال: اذهب إلى النار فانظر إليها وإلى ما أعددت لأهلها فيها، فإذا هي يركب بعضها بعضا، فرجع إليه، فقال: وعزتك لا يسمع بها أحد فيدخلها، فأمر بها فحفت بالشهوات فقال: ارجع إليها فرجع إليها، فقال: وعزتك لقد خشيت أن لا ينجو منها أحد إلا دخلها. رواه أحمد وأبو داود والتِّرمذي والنسائي وصححه الألباني

“Dari sahabat Abu Hurairah , ia menuturkan dari Rasulullah bersabda: “Tatkala Allah menciptakan Surga dan Neraka, Ia mengutus Malaikat Jibril untuk menuju ke Surga, kemudia Ia berfirman: Lihatlah Surga, dan apa yang telah Aku persipakan di dalamnya untuk penghuninya. Maka Malaikat Jibril mendatangi Surga, dan melihatnya dan apa (kenikmatan) yang telah Allah persiapkan di dalamnya untuk para penghuninya. Kemudian Malaikat Jibril kembali kepada Allah, dan berkata: Sungguh demi Keperkasaan-Mu, tidaklah ada seseorang yang mendengar tentangnya, kecuali ia akan memasukinya. Maka Allah memerintahkan agar Surga diliputi dengan kesusahan. Kemudian Allah befirman kepada Malaikat Jibril: kembalilah engkau ke sana, dan lihatlah apa yang telah Allah persiapkan di dalamnya untuk para penghuninya. Maka Malaikat Jibril-pun kembali ke Surga, dan ternyata ia telah diliputi dengan kesusahan. Kemudian Malaikat Jibril kembali ke Allah, lalu ia berkata: Sungguh demi Keperkasaan-Mu, aku amat khawatir tidak akan ada yang masuk ke dalamnya. (Kemudian) Allah berfirman kepadanya: Lihatlah Neraka, dan apa yang telah Aku persipakan di dalamnya untuk penghuninya. Maka Malaikat Jibril mendatangi Neraka, dan melihatnya dan apa (siksa) yang telah Allah persiapkan di dalamnya untuk para penghuninya, ternyata Neraka dalam keadaan saling tumpang tindih, Kemudian Malaikat Jibril kembali kepada Allah, dan berkata: Sungguh demi Keperkasaan-Mu, tidaklah ada seseorang yang mendengar tentangnya, kemudian ia akan memasukinya. Maka Allah memerintahkan agar Neraka diliputi dengan syahwat (kesenangan). Kemudian Allah befirman kepada Malaikat Jibril: kembalilah engkau ke sana, Maka Malaikat Jibril-pun kembali ke Neraka. Kemudian Malaikat Jibril kembali ke Allah, lalu ia berkata: Sungguh demi Keperkasaan-Mu, aku amat khawatir tidak akan ada yang takut darinya kecuali ia akan masuk ke dalamnya. (riwayat Ahmad, Abu Dawud, At Tirmizy, An Nasa’i dan dishahihkan oleh Al Albani).

Ngaku Sama Tapi Tak Sudi Berganti Agama.
Ada satu hal yang mengherankan dalam kehidupan para penggiat paham islam liberal. Mereka mengaku bahwa seluruh agama sama, yaitu sama-sama menuju kepada keselamatan dengan berserah diri. Bahkan tidak canggung-canggung, sebagian tokoh islam liberal mengklaim bahwa agama lain lebih dewasa ketimbang agama Islam.

Ulil Absar Abdallah berkata : “Jadi, Islam bukan yang paling benar. Pemahaman serupa terjadi di kristen selama berabad-abad. Tidak ada jalan keselamatan di luar gereja. Baru pada 1965 masehi, Gereja katolik di Vatikan merevisi paham ini. Sedangkan Islam yang baru berusia 1.423 tahun dari hijrah nabi, belum memiliki kedewasaan yang sama seperti katolik.” (Islam Liberal & Fundamental hal 127) .

Walau demikian, suatu hal yang sangat aneh telah terjadi pada para penganut paham islam liberal. Mengaku bahwa Kristen dan lainnya lebih dewasa, namun mereka tidak sudi berpindah agama. 
Fakta ini menurut hemat saya hanya memiliki dua penafsiran:

1- Klaim bahwa selain Islam lebih dewasa, tidak benar adanya, alias paham liberal adalah salah. Mereka enggan berpindah ke agama yang menurut mereka lebih dewasa, karena bila berpindah agama, berakibat mereka tidak lagi dapat memainkan peranannya dalam tubuh umat Islam, sebagaimana yang dinginkan oleh “tuan-tuan” mereka. 

2- Klaim ini benar, sehingga para penganut Islam Liberal tetap mempertahankan kesalahan, dan kesesatan. Dengan demikian, mereka layak menyandang gelar “penyesat umat manusia.”

Bukan Jaminan…

Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Kaya bukanlah jaminan kebahagiaan, buktinya terkadang seorang supir -yang pas pasan- lebih bahagia, tenang dan ceria daripada majikannya yang kaya raya namun terlihat pusing dan stres

Jabatan bukanlah jaminan kebahagiaan, betapa sering kita kasihan melihat pejabat yang wajahnya menampakan tekanan berat yang sedang dihadapinya, meski kekuasaan dan harta ia miliki…

Ketenaran -apalagi- bukanlah jaminan kebahagiaan. Betapa sering orang yang tenar ingin menjauh dari keramaian, ia ingin pergi ke tempat yang tidak ada orang mengenalnya, agar ia bisa hidup lebih tentram.

Allah maha adil, siapapun anda -kaya atau miskin, pejabat atau rakyat jelata, tenar atau tidak- maka anda bisa bahagia jika bertakwa kepada Allah

6 Adab Setelah Bangun Tidur…

Ammi Nur Baits, حفظه الله تعالى

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Wujud mencintai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berusaha melestarikan ajaran beliau di setiap keadaan. Untuk itu, para ulama menekankan, sebisa mungkin setiap muslim menyesuaikan diri dengan sunah beliau dalam setiap aktivitasnya. 24 jam sesuai sunah, mulai bangun tidur hingga tidur kembali.

Seperti inilah yang pernah dipesankan Sufyan at-Tsauri – ulama Tabi’ Tabiin w. 161 H –,

ان استطعت الا تحك رأسك الا بأثر فافعل

Jika kamu mampu tidak menggaruk kepala kecuali ada dalilnya, lakukanlah. (al-Jami’ li Akhlak ar-Rawi, 1/142).

Berikut kami sajikan beberapa sunah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bangun tidur,

Pertama, mengusap bekas tidur di wajah

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu menceritakan, bahwa beliau pernah menginap di rumah bibinya, Maimunah Radhiyallahu ‘anha, saah satu istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kata Ibnu Abbas,

حَتَّى إِذَا انْتَصَفَ اللَّيْلُ اسْتَيْقَظَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَلَسَ يَمْسَحُ النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ بِيَدِهِ

Kemudian ketika sudah masuk pertengahan malam, RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam bangun, kemudian beliau duduk, lalu mengusap bekas kantuk yang ada di wajahnya dengan tangannya. (HR. Ahmad 2201, Bukhari 183, Nasai 1631, dan yang lainnya).

Kedua, membaca doa ketika bangun tidur

Diantara bacaan yang beliau rutinkan ketika bagun tidur,

الحَمْدُ ِللهِ الَّذِي أَحْيَاناَ بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَ إِلَيْهِ النُّشُوْرُ

“Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami kembali setelah Dia mematikan kami, dan hanya kepada-Nya kami akan dibangkitkan.”

Ada beberapa sahabat yang menceritakan kebiasaan ini. Diantaranya Hudzaifah bin al-Yaman dan al-Barra bin Azib. Kedua sahabat ini menceritakan doa yang biasa dibaca Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hendak tidur dan bangun tidur,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا اسْتَيْقَظَ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bangun tidur beliau membaca: Alhamdulillah alladzi ahyaanaa…dst. (HR. Bukhari 6312, Muslim 2711, dan yang lainnya).

Ketiga, membaca 10 ayat terakhir surat Ali Imran,

Tepatnya mulai ayat,

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”

Ibnu Abbas menceritakan pengalaman beliau ketika menginap di rumah bibinya Maimunah,

فَجَلَسَ يَمْسَحُ النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ بِيَدِهِ ، ثُمَّ قَرَأَ الْعَشْرَ الآيَاتِ الْخَوَاتِمَ مِنْ سُورَةِ آلِ عِمْرَانَ

Beliau duduk, lalu mengusap bekas kantuk yang ada di wajahnya dengan tangannya, kemudian beliau membaca 10 ayat terakhir surat Ali Imran. (HR. Ahmad 2201, Bukhari 183, Nasai 1631, dan yang lainnya).

Keempat, gosok gigi

Sahabat Hudzaifah Radhiallahu ‘anhu menceritakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ، يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ

Nabi Shollallahu’alaihi wassalam apabila bangun malam, beliau membersihkan mulutnya dengan bersiwak. (HR. Bukhari 245 dan Muslim 255)

Ada banyak manfaat ketika orang melakukan gosok gigi ketika bangun tidur. Terutama mereka yang hendak shalat. Disamping menyegarkan, gosok gigi menghilangkan bau mulut sehingga tidak mengganggu Malaikat yang turut hadir ketika dia shalat malam.

Ali bin Abi Thalib Radhiallahu anhu menceritakan, “Kami diperintahkan (oleh Rasulullah) untuk bersiwak, kemudian beliau bersabda,

إن العبد إذا قام يصلي أتاه الملك فقام خلفه يستمع القرآن ويدنو فلا يزال يستمع ويدنو حتى يضع فاه على فيه فلا يقرأ آية إلا كانت في جوف الملك

”Sesungguhnya seorang hamba ketika hendak mendirikan shalat datanglah malaikat padanya. Kemudian malaikat itu berdiri di belakangnya, mendengarkan bacaan Al-Qu’rannya, dan semakin mendekat padanya. Tidaklah dia berhenti dan mendekat sampai dia meletakkan mulutnya pada mulut hamba tadi. Tidaklah hamba tersebut membaca suatu ayat kecuali ayat tersebut masuk ke perut malaikat itu.” (HR. Baihaqi dalam Sunan al-Kubro 1/38 dan dishahihkan al-Albani dalam as-Shahihah).

Kelima, membersihkan hidung

Memasukkan air ke dalam hidung dengan cara disedot dalam bahasa arab disebut istinsyaq dan mengeluarkannya disebut istintsar.

Setelah bangun tidur, kita dianjurkan melakukan semacam ini 3 kali, untuk membersihakn rongga hidung. Karena ketika manusia tidur, setan menginap di lubang hidungnya. Dari mana kita tahu? Tentu saja informasi dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيَاشِيمِهِ

“Apabila kalian bangun tidur maka bersihkan bagian dalam hidung tiga kali karena setan bermalam di rongga hidungnya.” (HR. Bukhari 3295 dan Muslim 238)

Keenam, mencuci kedua tangan 3 kali

Dari Abu Hurairoh Radhiallahu anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam berpesan,

إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ، فَلَا يَغْمِسْ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلَاثًا، فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ

Apabila kalian bangun tidur maka janganlah dia mencelupkan tangannya ke dalam wadah, sebelum dia mencucinya 3 kali, karena dia tidak mengetahui dimana tangannya semalam berada.” (HR. Bukhari dan Muslim 278).

Semoga kita dimudahkan untuk mempraktekkannya.

.Allahu a’lam

Kisah Di Masa Sekarang…

Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Pertama : Kisah Penumpang Kapal Mesir “Salim Express”

Laki-laki ini telah Allah selamatkan dari tenggelam pada kecelakaan kapal, “Salim Express” menceritakan kisah istrinya yang tenggelam dalam perjalanan pulang dari menunaikan ibadah haji. Orang-orang berteriak-teriak “kapal akan tenggelam” maka aku pun berteriak kepada istriku …“ayo cepat keluar!”

Dia pun berkata, “Demi Allah aku tidak akan keluar sampai aku memakai hijabku dengan sempurna.”

Suaminya pun berkata,” inikah waktu utk memakai hijab??? Cepat keluar! Kita akan mati”.

Dia pun berkata, “Demi Allah aku tidak akan keluar kecuali jika telah kukenakan hijabku dengan sempurna, seandainya aku mati aku pun akan bertemu Allah dalam keadaan mentaati-Nya”. Maka dia pun memakai hijabnya dan keluar bersama suaminya, maka ketika semuanya hampir tenggelam, dia memegang suaminya dan berkata, “Aku minta engkau bersumpah dengan nama Allah, apakah engkau ridho terhadapku?” Suaminya pun menangis. Sang istripun berkata, ”Aku ingin mendengarnya.” Maka Suaminya Menjawab, “Demi Allah aku ridho terhadapmu.” Maka wanita tersebut pun menangis dan berucap ”Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah” senantiasa dia ulangi syahadat tersebut sampai tenggelam.

Suaminya pun menangis dan berkata, “Aku berharap kepada Allah agar mengumpulkan aku dan dia di surga”

Kedua : Kisah seorang tukang adzan (Muadzdzin)

Dia adalah seorang yang selama 40 tahun telah mengumandangkan adzan, tanpa mengharap imbalan selain wajah Allah. Sebelum meninggal ia sakit parah, maka dia pun didudukkan di atas tepat tidur. Dia tak dapat berbicara lagi dan juga untuk pergi kemasjid. Ketika sakit semakin parah diapun menangis, orang-orang disekitarnya melihat adanya tanda-tanda kesempitan di wajahnya. Seakan-akan dia berucap ya Allah aku telah beradzan selama 40 tahun, engkau pun tahu aku tidak mengharap imbalan kecuali dari Engkau kemudian akan terhalangi dari adzan di akhir hidupku?. Kemudian berubahlah tanda-tanda diwajahnya menjadi kegembiraan dan kesenangan. Anak-anaknya bersumpah bahwasanya ketika tiba waktu adzan ayah mereka pun berdiri di atas tempat tidurnya dan menghadap kiblat kemudian mengumandangkan adzan di kamarnya, ketika sampai pada kalimat adzan yang terkahir “laa ilaaha illallah” dia pun jatuh di atas tempat tidurnya. Anak-anaknya pun segera menghampirinya, mereka pun mendapati ruhnya telah menuju Allah.

Para pembaca yang budiman…jika kematian telah tiba maka seluruh harta dan kekuasaan yang telah kita usahakan dan perjuangakan dengan mengerahkan seluruh tenaga dan peras keringat akan sirna…

Balon Bocor Lalu Meletus & Balon Meletus Tanpa Bocor…

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Menurut anda, balon manakah yang letusannya lebih keras ? Balon yang sudah bocor beberapa lubang, atau balon yang tidak bocok sama sekali dan tiba tiba meletus?

Ini gambaran sedergana bagi orang yang telah menyalurkan nafsu atau syahwatnya sedikit demi sedikit. Memandang, menyentuh, mencium, memeluk, mencumbu dan lainnya. Giliran sudah saatnya meletus alias setelah nikah, bisa dibayangkan ketusannya paling paling hanya bersuara dor, cicak saja tidak terkejut.

Namun orang yang belum pernah bocor, tidak lewat pandangan atau cumbuan atau sentuhan apalagi pelukan dan ciuman. Bila tiba saatnya meledak karena telah halal alias menikah, bisa dipastikan letusannya : DUUUUUUUUOOOOOOOOOR.

Karena itu Islam mengharamkan praktek bocor balon, agar kelak letusan balon anda sempurna dan selalu sempurna

Inilah salah satu alasan mengapa banyak suami yang kurang bisa meletus di saat berjumpa dengan istrinya, sering membocori balonnya, sehingga kempes.

Betapa Singkatnya Kehidupan DUNIA

Allah ta’ala berfirman:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ * حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

“Tindakan saling membanggakan telah melalaikan kalian, hingga kalian MENGUNJUNGI / MENZIARAHI liang-liang kuburan” [At-Takatsur: 1-2].

Perhatikanlah Allah menyebut masuknya manusia ke liang-liang kuburnya dengan istilah “mengunjungi / menziarahi”, dan kita semua tahu berkunjung / berziarah tidak akan berlangsung lama, padahal manusia di dalam kuburnya bisa sampai ribuan tahun.

Jika bilangan ribuan tahun itu dianggap sebentar sehingga pantas disebut “berkunjung / berziarah”, lalu bagaimana singkatnya kehidupan dunia ini…?!

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah