Maulid… Oh Maulid…

Badru Salam, حفظه الله تعالى

Di bulan ini banyak orang merayakan maulid..

Katanya sebagai rasa cinta kita kepada Rasulullah..
Padahal hakikat cinta adalah ittiba’..

Cobalah renungkan firman Allah..

قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني

“Katakan, “Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (Rasulullah).. (Ali Imron: 31).

Ittiba’ adalah mengikuti jejak kaki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam..
Bukan mendahuluinya..

Tanyakanlah pada diri kita..
Mampukah Rasulullah merayakan kelahirannya?..

Bukankah para shahabat amat mencintainya?..
Lalu mengapa Rasulullah tidak memerintahkan tidak pula mencontohkan..
Padahal beliau mampu dan pendorong cinta amat kuat..

Tanyakan pada diri kita..
Apakah kita lebih tahu kepada kebaikan..
Ataukah Rasulullah dan generasi yang diutamakan..

Apakah kita lebih cinta kepada Rasulullah..
Ataukah para shahabat yang diridlai oleh Allah..

Bila anda berkata, “Ini hanyalah sarana..
Kita hanya berkata, “Sarana oh sarana..
Seakan engkau menghalalkan segala cara..

Bila itu memang sarana menuju cinta..
Tentu para shahabat, tabi’in dan imam yang empat telah berlomba..

Padahal Rabbuna telah mengabarkan..

اليوم أكملت لكم دينكم

“Pada hari ini aku telah sempurnakan agamamu..” (Al Maidah: 3).

Kabarkan kepadaku..
Apakah islam telah sempurna tanpa perayaan maulid?..

Bila anda berkata, “Ya..
Buat apa kita disibukkan dengan sesuatu yang bukan agama..
Bila anda menjawab, “Tidak..
Sungguh anda telah mengingkari firman pencipta Allam..

Ya Allah berikan petunjuk kepada kami dan mereka.. Amiin

Guru Beda Pendapat, Murid Beda Pendapatan …?

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Serupa bisa jadi, namun sama belum tentu, betapa banyak hal-hal yang sekilas nampak serupa namun ketika dicermati baik baik terbukti tidak sama alias berbeda.

Di sinilah letak ketekunan dan kejelian orang yang berilmu, mengkaji, menganalisa dengan seksama hingga akhirnya dapat membedakan antara berbagai hal yang sekilas nampak serupa.

Sedangkan orang yang kurang ilmu, sering kali malas untuk berpikir apalagi sampai mengharuskan dirinya merenung dalam waktu lama. Mereka lebih sering mencukupkan diri dengan penilaian sekilas walaupun sering kali terbukti kesimpulannya salah.

Sejarah telah membuktikan betapa banyak murid beda pendapat dengan guru, dan semua berjalan baik baik saja. Namun kini, betapa banyak orang yang belum siap melihat fakta itu, mereka menuntut murid harus “sendiko dawuh” sama guru, tidak boleh beda pendapat, sekecil apapun, bila tidak, maka akan segera dihukumi dengan label “kurang ajar” “tidak santun” “tidak menghormati orang tua”.

Andai kondisi ini terjadi, bisa jadi tidak ada mazhab Maliky, Syafii, dan Hambali.

Imam Malik adalah guru Imam Syafi, dan Imam Ahmad adalah murid Imam Syafii. Walau demikian, sejarah telah membuktikan mereka bukan hanya berbeda pendapat dalam satu atau dua masalah. Betapa banyak masalah yang mereka berbeda pendapat, tanpa ada masalah antara mereka.

Masalah terjadi, bukan antara guru, karena sesama guru memahami bahwa perbedaan pendapat itu dinamika ilmu. Namun masalah kemudian terjadi antara sesama murid, karena mereka “cupet ilmu” dan sering kali “ada kepentingan terselubung” dibalik perbedaan pendapat guru, bahkan ada “perbedaan pendapatan” murid yang diselimuti dengan perbedaan pendapat guru.

Karena ulah murid yang cupet ilmu, muncullah fanatik mazhab dan perseteruan tercela antara sesama murid. Karena itu, wahai para murid (baca: panitia kajian) waspadalah, jangan berselimut dengan perbedaan pendapat guru, dan sadarilah bahwa antara guru guru anda pasti akan terjadi perbedaan pendapat, dan akan terus terjadi perbedaan pendapat, karena itu bagian dari dinamika ilmu.

Dahulu, Imam Qatadah As Sadusy berkata:

من لم يعرف الاختلاف لم يشم رائحة الفقه بأنفه

“Orang yang belum mengenal perselisihan pendapat para ulama’ berarti batang hidungnya belum pernah mencium aroma Ilmu Fiqih.”(Ibnu Abdil Bar dalam kitab Jaami’ Bayaanil Ilmi Wa Fadhlihi)

Dilamar Pria Perokok, Jangan Terima…!

Ammi Nur Baits, حفظه الله تعالى

Jika ada pria perokok yang melamar, apakah boleh diterima. Terus terang, hampir semua wanita keberatan punya suami perokok. Tapi… sementara ini, dia yang serius maju. Apa ada pertimbangan lain.

Ana Nur

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Sebagaimana lelaki disarankan untuk memilih calon istri yang solihah, wanita juga disarankan untuk memilih calon suami yang solih. Karena predikat ini menyangkut kebahagiaannya di masa mendatang, selama dia mengarungi bahtera rumah tangga.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan, orang yang asal-asalan dalam memilih jodoh, adalah orang yang celaka.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Umumnya wanita itu dinikahi karena 4 pertimbangan: hartanya, nasabnya, parasnya, dan agamanya. Pilihlah yang memiliki agama, jika tidak kamu celaka.” (HR. Bukhari 5090, Muslim 3708, dan yang lainnya).

Kalimat dalam hadis: ‘Taribat yadaka’ yang jika diterjemahkan tekstual berarti, ‘Kamu melumuri tanganmu dengan tanah’ artinya kamu akan terhina, sengsara.

Ada pelajaran menarik yang disampaikan an-Nawawi ketika menjelaskan hadis ini,

وفي هذا الحديث الحث على مصاحبة أهل الدين في كل شيء لأن صاحبهم يستفيد من أخلاقهم وبركتهم وحسن طرائقهم ويأمن المفسدة من جهتهم

Dalam hadis ini, terdapat anjuran untuk memilih teman hidup yang agamanya baik dan semua perilakunya. Karena yang menjadi pendampingnya akan mendapatkan manfaat dari akhlaknya yang baik, keberkahannya, dan perilakunya yang indah. Serta minimal, dia bisa merasa aman dari kerusakan yang ditimbulkan temannya. (Syarh Shahih Muslim, 10/52)

Ketika anda menikah, berapa lama anda akan bersama pasangan anda?

Tentu semua berharap, pernikahan ini langgeng sampai akhir hayat. Sehingga suami, maupun istri diharapkan bisa menjadi teman hidup abadi di dunia.

Apa yang bisa anda bayangkan, ketika selama perjalanan yang tanpa batas itu, anda ditemani manusia yang sangat tidak anda sukai karakternya? Memiliki kebiasaan yang sangat mengganggu diri anda.

Membuat polusi rumah anda..

Posisi anda menjadi korban perokok pasif…

Belum lagi anak anda yang sangat mungkin jadi korban sejak bayi…

Bajunya, bau tembakau

Mulutnya, bau nikotin

Nafasnya, bau arap rokok…

Di mana istri akan bisa mendapatkan kenyamanan jika ditemani lelaki semacam ini?

Dan seperti yang anda sampaikan, wanita mana yang suka dengan pasangan perokok..

Setidaknya, apa yang dinyatakan Imam an-Nawawi di bagian akhir, tidak terpenuhi, “merasa aman dari kerusakan yang ditimbulkan temannya.

Padahal rokok semua isinya merusak!

Tapi istri dipaksa untuk toleran dengan segala dampak buruk rokok suami.

Ketika dilarang, dia marah… lebih membela rokok dari pada keluarganya.

Perokok hanya bisa dimengerti dan tidak pernah mau mengerti…

Kecuali jika istri suka latihan tahan nafas ketika bersama suaminya.

Kami tidak membahas dari sudut pandang hukum rokok. Karena tidak ada perokok yang bersedia ketika disebut bahwa rokok itu haram. Pecandu yang haram, dia orang fasik. Dan tidak selayaknya, seorang muslimah memiliki suami yang fasik.

Allahu a’lam…

Ref : https://konsultasisyariah.com/25327-dilamar-pria-perokok-jangan-terima.html

Siapa Ikut Siapa..?

Copas dari status (yang juga di copas oleh) Ustadz Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى

Dialog seru dan inspiratif…

A (orang kristen) : “Kenapa kalian selalu ngikutin kami?”

B (orang muslim) : “Ngikutin apa? Kami tidak merasa ngikutin kalian?”

A : “Gak merasa? Coba diperhatikan, kami merayakan Hari Ulang Tahun Yesus (atau Maulidnya Nabi Isa), lalu kalian ikut2an merayakan Maulid Nabi Muhammad?!

Kami juga merayakan hari kenaikan Isa al Masih (diangkatnya Nabi Isa ke langit), kalian ikut2an merayakan hari Isra Mi’raj (naiknya Nabi Muhammad ke langit)?!

Kami merayakan Tahun Baru Masehi milik kami, kalian juga merayakan tahun baru hijriyah milik kalian?!

Kami beribadah dengan bernyanyi dan bermain alat musik, kalian juga sekarang mulai beribadah dengan bernyanyi-nyanyi membaca shalawat/dzikir dengan alunan musik?!

C (orang Hindu) : “Iya nih…! Kalian (orang muslim) juga banyak yang ngikutin perayaan acara kami…”

A : “Lho…lho…apalagi ini? Siapa yang ngikutin?”

C : “Lihat saja, acara nujuh bulanan bagi wanita yang hamil itu kan asalnya dari kami orang Hindu. Begitu juga Tahlilan atau Selamatan Kematian selama 7 hari, 40, 100 s/d 1000 hari itu semua adalah acara kami, lalu kalian mengikutinya. Kalo gak percaya, sini ikut saya, saya kasih buktinya!”

B : “Enak saja ngaku2! Yang ngikutin itu kalian semua, orang Kristen dan orang Hindu pada ngikutin kami semua..!!”

A : “Eh…Kalo bicara pake otak! Emang duluan siapa agamanya?
Agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad baru ada sekitar 1400 tahun yang lalu.
sedangkan agama kami Nasrani sudah ada sekitar 2000an tahun yang lalu. Gak masuk akal kalo kami yang ngikutin kalian!”

C : “Hehehe…apalagi agama saya. Agama kami lebih dulu dari agama kalian. Agama kami sudah ada sejak 2500 tahun sebelum masehi, jadi sudah ada sekitar 4500 tahun yang lalu. Sedangkan di Indonesia, agama kami lah yang paling tua dan pertama. Gak masuk akal kalo kami yang malah mengikuti agama kalian, apalagi yang namanya Islam kejawen, mirip abis dengan kami…hehehe.”

A : “Betul…betul…betul…Belum lagi kalian umat islam banyak yang berpartisipasi merayakan hari perayaan agama kami, seperti Tahun Baru Masehi, Hari Valentine, Hari Ulang Tahun, Hari Hallowen, Hari April Mop, hari Ibu, dll.”

B : (garuk2 kepala)…

D (orang Muslim Ahlus Sunnah) : “Ambil semua acara2 kalian, kami tidak butuh acara2 seperti itu. Karena kami sudah punya acara sendiri yang tidak mengikuti agama2 kalian.

Dan acara2 seperti itu tidak pernah dilakukan oleh orang Muslim yang berada diatas Sunnah seperti kami ini, insya Allah. Dalam golongan kami (yaitu Ahlus Sunnah), tidak ada perayaan Maulid Nabi, perayaan Isra Mi’raj, perayaan Tahun Baru Hijriyah, perayaan nujuh bulan, Selamatan Kematian (Tahlilan), dll.”

A & C : “Lho…kalian B dan D khan sama2 muslim, koq saling berbeda?
Yang B merayakan acara2 itu sedangkan yang D tidak merayakan? Aneh sekali, satu agama tapi beda2.”

D : “Kenapa kalian heran dengan kami?
Bukankah kalian sendiri juga memiliki banyak perbedaan dan perpecahan?
Agama Nasrani memiliki banyak sekte, seperti Protestan, Katholik, Advent, dll.

Bahkan dalam agama kami disebutkan bahwa kaum Nasrani terpecah belah menjadi 72 golongan.
Begitu juga dengan agama Hindu yang memiliki banyak sekte dan juga warna (kasta).

Tidakkah kalian tahu tentang itu? Sedangkan agama Islam terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali 1 yaitu Al Jamaah (Ahlus Sunnah wal Jamaah).

Jadi, menurut pemahaman kami sebagai Ahlus Sunnah, kami tidak boleh tasyabbuh (mengikuti) orang2 kafir dalam ciri khas mereka, seperti acara2 yang kalian sebutkan tadi. Maka itu golongan kami tidak pernah melakukan dan mengadakan acara2 seperti itu.

Jika ada sebagian dari kaum muslimin yang melakukan atau mengadakan acara2 itu, maka itu adalah oknum atau karena ketidaktahuannya akan hal itu.”

A & C : “Kami juga tahu itu semua. Hanya saja tadi kami ingin mengetest si B, apakah dia punya alasan tentang itu? Rupanya dia tidak punya alasan dan gak tau apa2 tentang agamanya. Bisanya cuma ikut2an saja.”

B : “Hmmmm…berarti saya ini oknum ya? kalo begitu saya tidak mau jadi oknum lagi ah…saya mau ngikutin si D aja, biar gak jadi oknum!!!”

D : “Hmmm juga…kamu masih jadi oknum akhi, karena kamu masih ikut2an, yaitu ngikutin saya.”

B : “Berarti saya harus ngikutin siapa donk?”

D : “Biar kamu gak jadi oknum, kamu harus ngikutin Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam beserta para sahabat2nya. Insya Allah kamu akan menjadi seorang Ahlus Sunnah sejati.

Dan untuk mewujudkan itu semua, maka hendaknya kamu menuntut ilmu syar’i dengan benar, dari sumber yang benar,sebab berilmu itu sebelum berkata dan beramal”.

Berharap Husnul Khootimah…

Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Tentunya setiap kita berharap dianugrahi husnul khotimah… ajal menjemput tatkala kita sedang beribadah kepada Allah… tatkala bertaubat kepada Allah…sedang ingat kepada Allah… , akan tetapi betapa banyak orang yang berharap meninggal dalam kondisi husnul khotimah akan tetapi kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya…. Suul khootimah… maut menjemputnya tatkala ia sedang bermaksiat kepada Penciptanya dan Pencipta alam semesta ini…

Bagaimana mungkin seseorang meninggal dalam kondisi husnul Khotimah sementara hari-harinya ia penuhi dengan bermaksiat kepada Allah… hari-harinya ia penuhi tanpa menjaga pendengarannya… pandangannya ia umbar… hatinya dipenuhi dengan beragam penyakit hati… lisannya jauh dari berdzikir dan mengingat Allah…

Ingatlah para pembaca yang budiman… sesungguhnya seseorang akan dicabut nyawanya berdasarkan kehidupan yang biasa ia jalankan…

Berikut ini adalah kisah-kisah yang mencoba menggugah hati kita untuk membiasakan diri beramal sholeh sehingga tatkala maut menjemput kitapun dalam keadaan beramal sholeh :

 

Kisah Pertama: kisah seorang ahli ibadah Abdullah bin Idriis (190-192 H)

عَنْ حُسَيْن الْعَنْقَزِي قَالَ: لَمَّا نَزَلَ بِابْنِ إِدْرِيْسَ الْمَوْتُ بَكَتْ ابْنَتُهُ فَقَالَ: لاَ تَبْكِي يَا بُنَيَّة، فَقَدْ خَتَمْتُ الْقُرْآنَ فِي هَذَا الْبَيْتِ أَرْبَعَةَ آلاَف خَتْمَة

Dari Husain Al-‘Anqozi, ia bertutur :

Ketika kematian mendatangi Abdullah bin Idris, maka putrinya pun menangis, maka Dia pun berkata: “Wahai putriku, jangan menangis! Sungguh, Aku telah mengkhatamkan al Quran dirumah ini 4000 kali” (Lihat Taariikh Al-Islaam karya Ad-Dzahabi 13/250, Ats-Tsabaat ‘inda Al-Mamaat karya Ibnil Jauzi hal 154)

 

Kisah kedua : Kisah Abu Bakr bin ‘Ayyaasy (193 H)

لما حضرت أبا بكر بن عَيَّاش الوفاةُ بَكَتْ أُخْتُهُ فقال : لاَ تَبْكِ اُنْظُرِي إِلىَ تِلْكَ الزَّاوِيَةِ الَّتِي فِي الْبَيْتِ قَدْ خَتَمَ أَخُوْكَ فِي هَذِهِ الزَّاوِيَةِ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ أَلَف خَتْمَة

Tatkala kematian mendatangi Abu Bakr bin ‘Ayaasy maka saudara perempuannya pun menangis. Maka Abu Bakrpun berkata kepadanya, “Janganlah menangis, lihatlah di pojok rumah ini, sesungguhnya saudara laki-lakimu ini telah mengkhatamkan Al-Qur’an di situ sebanyak 18 ribu kali” (Lihat Hilyatul Auliyaa’ karya Abu Nu’aim 8/304 dan Taariikh Baghdaad 14/383)

Demikianlah para pembaca yang budiman…Ahli ibadah ini Abdullah bin Idris telah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 4000 kali… Abu Bakr bin ‘Ayyaasy telah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 18 ribu kali…..semuanya demi menghadapi waktu yang sangat kritis ini… waktu untuk meninggalkan dunia ke alam akhirat yang abadi….

 

Kisah Ketiga : Kisah Aamir bin Abdillah Az-Zubair

Mush’ab bin Abdillah bercerita tentang ‘Aamir bin Abdillah bin Zubair yang dalam keadaan sakit parah :

سمع عامر المؤذن وهو يجود بنفسه فقال: خذوا بيدي إلى المسجد، فقيل: إنك عليل فقال: أسمع داعي الله فلا أجيبه فأخذوا بيده فدخل مع الإمام في صلاة المغرب فركع مع الإمام ركعة ثم مات

‘Aaamir bin Abdillah mendengar muadzin mengumandangkan adzan untuk shalat maghrib, padahal ia dalam kondisi sakaratul maut pada nafas-nafas terakhir, maka iapun berkata, “Pegang tanganku ke mesjid…!!” merekapun berkata, “Engkau dalam kondisi sakit !” , Diapun berkata,”Aku mendengar muadzin mengumandangkan adzan sedangkan aku tidak menjawab (panggilan)nya? Pegang tanganku…! Maka merekapun memapahnya lalu iapun sholat maghrib bersama Imam berjama’ah, diapun shalat satu rakaat kemudian meninggal dunia. (Lihat Taariikh Al-Islaam 8/142)

Inilah kondisi seorang alim yang senantiasa mengisi kehidupannya dengan beribadah sesegera mungkin… bahkan dalam kondisi sekarat tetap ingin segera bisa sholat berjama’ah….

Bandingkanlah dengan kondisi sebagian kita… yang tatkala dikumadangkan adzan maka hatinya berbisik : “Iqomat masih lama…., entar lagi aja baru ke mesjid…, biasanya juga imamnya telat ko’…, selesaikan dulu pekerjaanmu.. tanggung…”, dan bisikan-bisikan yang lain yang merupakan tiupan yang dihembuskan oleh Iblis dalam hatinya.

Wahai Wanita.. Tirulah Akhlak Bidadari Surga…

Badru Salam, حفظه الله تعالى

Tahukah anda wahai wanita..
Bagaimana akhlak para bidadari surga..

Mereka selalu menjaga pandangannya..
Merekapun tak pernah disentuh oleh lelaki manusia maupun jin..
Sebagaimana dalam surat Arrahman: 56:

فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ

“Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka dan tidak pula oleh jin.”

Firman Allah juga: “Dan di sisi mereka ada (bidadari-bidadari) yang bermata indah, dan membatasi pandangannya.” (ash-Shaaffaat: 48).

Mereka suka untuk tinggal di rumah rumahnya..

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Istri-istri penduduk surga sungguh akan mendendangkan nyanyian dengan suara paling merdu. Sama sekali tidak pernah seorang pun mendengar suara sebagus itu. Di antara yang mereka dendangkan:
‘Kami adalah wanita yang baik akhlaknya lagi cantik-cantik parasnya. Istri-istri dari kaum yang mulia
Yang terlihat sebagai penenteram/penyejuk mata’
Termasuk yang mereka dendangkan pula:
‘Kami adalah wanita-wanita yang kekal tidak akan mati
Kami adalah wanita-wanita yang aman tidak merasa takut
Kami adalah wanita-wanita yang berdiam di tempat, tidak pernah bepergian jauh’.” (HR. ath-Thayalisi, dinyatakan sahih dalam Shahihul Jami’ no. 1561).

Allah memerintahkan kalian untuk tinggal di rumah..

“Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS. Al Ahzab: 33).

Itulah diantara akhlak bidadari surga..
Tidakkah engkau ingin meniru mereka??

Hikmah mengapa hanya Maryam Yang Disebut Namanya Dalam Al Qur’an Dari Kalangan Wanita…

Ammi Nur Baits, حفظه الله تعالى

Satu-satunya wanita yang namanya disebutkan dalam al-Quran adalah Maryam bintu Imran radhiyallahu ‘anha. Bahkan namanya menjadi nama salah satu surat dalam al-Quran.

Beliau juga menjadi wanita yang Allah putihkan kehormatannya dalam al-Quran,

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ

“(ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan Dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-KitabNya, dan Dia adalah Termasuk orang-orang yang taat” (QS. At-Tahrim: 12)

Rahasia di Balik Penyebutan Nama Maryam

Mari kita simak keterangan Al-Qurthubi,

لم يذكر الله عز وجل امرأة وسماها باسمها في كتابه إلا مريم ابنة عمران، فإنه ذكر اسمها في نحو من ثلاثين موضعاً، لحكمة ذكرها بعض الأشياخ، فإن الملوك والأشراف لا يذكرون حرائرهم في الملأ، ولا يبتذلون أسماءهن، بل يكنون عن الزوجة بالعرس والأهل والعيال ونحو ذلك، فإن ذكروا الإماء لم يكنوا عنهن ولم يصونوا أسماءهن عن الذكر والتصريح بها، فلما قالت النصارى في مريم ما قالت وفي ابنها، صرح الله باسمها، ولم يُكنِّ عنها بالأموَّة والعبودية التي هي صفة لها، وأجرى الكلام على عادة العرب في ذكر إمائها

“Allah tidak menyebutkan nama seorangpun wanita dalam kitab-Nya selain Maryam bintu Imran. Allah menyebutkan namanya sekitar 30 kali kesempatan. Karena mengandung hikmah sebagaimana yang disebutkan para ulama,

Bahwa para raja dan orang-orang terpandang, mereka tidak pernah menyebutkan nama istrinya di depan rakyat, tidak pula mempopulerkan nama mereka. Akan tetapi, mereka menyebut istrinya dengan ungkapan pasangan, ibu, keluarga raja, dst.

Namun ketika mereka bersikap terhadap budak, mereka tidak merahasiakannya dan tidak menyembunyikan namanya. Ketika orang nasrani mengatakan bahwa Maryam istri tuhan dan Isa anak tuhan, maka Allah terang-terangan menyebut nama Maryam. Dan tidak Allah sembunyikan dengan budak Allah atau hamba Allah, yang merupakan sifat asli Maryam. Dan Allah jadikan hal ini sebagai kebiasaan masyarakat arab dalam menyebutkan budaknya” (Tafsir al-Qurthubi, 6/21).

Az-Zarkasyi menambahkan,

ومع هذا فإن عيسى لا أب له، واعتقاد هذا واجب، فإذا تكرر ذكره منسوباً إلى الأم استشعرت القلوب ما يجب عليها اعتقاده من نفي الأب عنه، وتنزيه الأم الطاهرة عن مقالة اليهود لعنهم الله

“Sesungguhnya Isa terlahir tanpa bapak. Ini keyakinan yang wajib kita miliki. Ketika keterangan nasabnya ke ibunya disebutkan berulang-ulang, maka akan muncul perasaan dalam hati, berupa keyakinan bahwa beliau tidak memiliki bapak. Dan memutihkan nama baik ibunya sang wanita suci, dari perkataan kotor orang yahudi – semoga Allah melaknat mereka –” (al-Burhan fi Ulum al-Quran, 1/163).

Kita dapat simpulkan

Semakin disimpan, semakin terhormat
Mulai ubah paradigma! Wanita semakin disimpan, semakin terhormat. Yang berarti kehormatan pula bagi suaminya. Kita bisa membaca ratusan biografi ulama. Sangat jarang sekali disebutkan siapa nama istrinya, siapa nama putri-putrinya.

Menebar Cahaya Sunnah