Karena DUNIA Lebih Berharga Di Mata Mereka Daripada AGAMA

Ibnu Muflih -rohimahulloh- mengatakan:

“Diantara pemandangan yang mengherankan dari keadaan manusia adalah: banyaknya ratapan mereka atas rusaknya rumah, matinya kerabat dan pendahulu, dan sedikitnya harta sehingga mereka mencela zaman dan orang-orangnya, serta kepayahan hidup di dalamnya.

Padahal di sisi lain mereka juga melihat runtuhnya Islam, rapuhnya agama, matinya banyak sunnah, mencuatnya banyak bid’ah, dan banyaknya maksiat dilakukan manusia.

Tapi aku tidak dapati orang yang meratapi agamanya, tidak pula orang yang menangisi umurnya yang kurang dimanfaatkan, bahkan tidak pula orang yang menyesali waktunya yang disia-siakan.

Dan aku tidak lihat sebabnya, kecuali sedikitnya perhatian mereka terhadap agamanya, dan keagungan dunia di mata mereka”.

[Al-Adabusy Syar’iyyah 3/240].

————

Jika kita tidak bisa menghilangkan cinta dunia di hati, paling tidak mari tumbuhkan dan besarkan cinta agama di hati kita… dan sedikit demi sedikit berusaha untuk mengubah paradigma di benak kita.

Ingatlah selalu, di dunia kita tidak akan lama… semuanya akan berlalu dengan cepat… untuk menuju kehidupan akherat… di sanalah keabadian yang harusnya kita perjuangkan.

Semoga Allah menyelamatkan kita dari fitnah dunia… amin.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

 

Kelompok Khowarij Adalah Pemburu Dunia…

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Imam Alhasan Albashri -rohimahulloh- pernah didatangi salah seorang dari kelompok khowarij, dia bertanya kepada beliau: “apa pendapatmu tentang kelompok khowarij?”.

Beliau menjawab: “mereka pemburu dunia”.

Dia: “darimana kamu katakan mereka pemburu dunia, padahal ada diantara mereka yang berjalan di tengah-tengah peperangan hingga banyak terluka, dia juga keluar meninggalkan isteri dan anaknya?!”.

Beliau: “coba kau jelaskan kepadaku perihal raja kita, apakah dia melarangmu untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat, pergi haji dan umroh?”.

Dia: “tidak”.

Beliau: “makanya aku berpandangan, sungguh sebabnya hanyalah karena dia menghalangimu dari harta dunia, sehingga kau memerangi dia”.

[Kitab: Albashoir wadz-dzakhoir 1/156]

————-

Khowarij adalah kelompok yang memandang bolehnya memberontak penguasa muslim yang sah… dan mereka banyak mengafirkan seseorang karena dosa besar yang diperbuatnya.

Banyak ulama ahlussunnah di zaman ini memasukkan ISIS dalam kelompok khowarij, semoga Allah segera memotong “tanduk” mereka, amin.

Jangan Merasa Paling Benar

Banyak orang ketika anda tegur kesalahan yang ia lakukan berkilah dengan mengatakan ‘sudahlah, jangan merasa benar sendiri..!’

sehingga menjadi pertanyaan pada benak kita; apakah perkataan tersebut berasal dari wahyu ataukah hanya sebatas kilah yang tak beralasan pada dalil yang menunjukkan kepada kebingungan..?

Tentunya hal itu harus kita cermati secara seksama dengan hati yang dingin apakah ada ayat atau hadist atau pendapat para ulama yang mengatakan dengan perkataan tersebut. Coba lihat Qs. An-nissa : 59 :

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“jika kamu berbeda pendapat tentang suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan rosul, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian…” (Qs. An-nissa : 59).

Ayat ini dengan tegas mengatakan bahwa setiap perselisihan wajib dikembalikan kepada Allah dan Rosul-Nya, Allah tidak mengatakan, jika kamu berselisih janganlah kamu merasa benar sendiri, atau kembalikan pada pendapat masing-masing. Akan tetapi Allah menyuruh untuk mengembalikannya kepada Quran dan sunnah, ini menunjukkan bahwa yang benar hanyalah yang berdasarkan al-quran dan sunnah.

Para sahabat senantiasa menyalahkan orang-orang yang mereka pandang salah dan tidak pernah di antara mereka yang mengatakan : ‘jangan merasa benar sendiri..!’

Seperti dalam suatu kisah yang diriwayatkan oleh Addarimi dalam sunannya bahwa Ibnu Mas`ud rodhiyallahu ‘anhu mendatangi suatu kaum yang berdzikir berjamaah dengan memakai kerikir dan berkata : ‘celaka kamu hai umat Muhammad betapa cepatnya kebinasaan kalian… apakah kamu merasa di atas millah yang lebih baik dari millah Muhammad ataukah kamu hendak membuka pintu kesesatan..?!

kemudian mereka berkata : “Sesungguhnya kami menginginkan kebaikan..”

Beliau berkata : “berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi ia tidak mendapatkannya(karena caranya salah)..”

Dalam kisah tersebut tidak dikatakan : ‘jangan kamu merasa benar sendiri..’

Demikian pula para tabiin, disebutkan dalam kisah yang diriwayatkanoleh al-baihaqi dalam sunannya (2/466), Abdurrozaq (3/52), Ad-darimi dan Ibnu Nashr bahwa Sa`id bin Musayyid melihat seorang laki-laki sholat setelah terbit fajar lebih dari dua rokaat, lalu Sa`id melarangnya, kemudian orang itu berkata : “wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan mengadzab saya gara-gara sholat..?”

Beliau menjawab : “tidak, tapi Allah akan mengadzabmu karena kamu menyalahi sunnah..” Tidak pula dikatakan padanya : ‘jangan merasa benar sendiri..’

Demikian pula tabi`ut tabiin dan para ulama setelahnya. Senantiasa mereka membantah pendapat yang mereka pandang lemah atau salah tapi tidak ada satupun dari mereka yang mengatakan : ‘jangan merasa benar sendiri..’

Disebutkan dalam kisah bahwa imam Asy-Syafii mendebat imam Ahmad dalam masalah hukum orang meninggalkan sholat, di mana Imam Ahmad berpendapat bahwa orang yang meninggalkan sholat kafir murtad dai agama Islam, sedangkan imam Asy-Syafii tidak mengkafirkannya, tapi imam Asy-syafii atau imam Ahmad tidak pernah mengatakan : ‘jangan merasa benar sendiri..!’

Tapi yang dikatakan imam Asy-Syafii adalah : “tidaklah aku berdialog dengan seorang pun kecuali aku berkata : Ya Allah, alirkanlah kebenaran pada lisan dan hatinya, jika kebenaran itu bersamaku, ia mau mengikutiku dan kebenaran itu ada padanya, aku akan mengikutinya..” (lihat Ilmu Ushul Bida` hal. 179).

Mereka juga menulis kitab-kitab bantahan terhadap bid`ah dan kesesatan, imam Ahmad menulis kitab Arrodd `alal Jahmiyyah (bantahan terhadap jahmiyyah), Abu Dawud punya kitab Arrodd `alal Qodariyyah (bantahan terhadap qodariyyah), Ad-darimi menulis kitab Roddu ustman ad darimi `ala Bisyir Al-Marisi adl Dlooll (bantahan Ustman ad-darimi terhadap Bisyir Al-Marisi yang sesat), dan banyak lagi kitab-kitab bantahan lainnya. Tidak ada satupun di antara mereka yang berkata : ‘jangan merasa benar sendiri..’

Cobalah anda renungkan perkataan syaikhul islam Abu Ismail Abdullah bin Muhammad Al-Harowi : “pedang dihadapkan kepadaku sebanyak lima kali bukan untuk menyuruhku agar keluar dari keyakinanku, akan tetapi dikatakan kepadaku : diamlah dari orang yang menyelisihimu!! Aku tetap menjawab : aku tidak akan pernah diam….(Siyar A`lam Nubala 18/509 karya Imam Adz-Dzahabi).

Merasa benar adalah fitrah manusia, buktinya jika engkau bertanya kepada orang yang mengatakan : jangan merasa benar sendiri” apakah anda merasa benar dengan perkataan tersebut? Tentu ia berkata : ya. Dia sendiri merasa benar sendiri dengan pendapat tersebut lalu ia melarang orang lain merasa benar sendiri, jelas ini kontradiktif yang fatal.

Di dunia ini, tidak ada orang yang merasa paling sesat. Fir’aun saja berasa dirinya benar. Baca saja surat ghafir ayat 29.

Jadi merasa benar dengan pendapat yang jelas dalilnya lebih-lebih bila didukung oleh `ijma ulama adalah sebuah keharusan sedangkan merasa benar dengan kesesatan adalah kesalahan. Adapun dalam perkara ijtihadi yang tidak ada dalilnya yang gamblang maka kita ikuti yang paling kuat dalilnya tanpa menyesatkan yang lainnya.

Wallahu a`lam.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Cobalah Raba HATI Anda – Masih Hidupkah Dia..?!

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Seorang mukmin, tidak mungkin menjadi sempurna kenikmatannya karena kemaksiatan, tidak mungkin menjadi lengkap kebahagiaannya karena kemaksiatan.

Bahkan, tidaklah dia melakukan kemaksiatan, melainkan kegundahan akan mencampuri hatinya, tapi karena syahwatnya yang mabuk menutupi hatinya; dia tidak merasakan kegundahan itu.

Ketika kegundahan ini hilang dari hatinya, bahkan rasa ingin dan senang terhadap kemaksiatan malah bertambah, maka harusnya dia berprasangka buruk pada imannya dan menangisi KEMATIAN hatinya.

Karena seandainya hatinya masih hidup, harusnya perbuatan dosanya itu menjadikan hatinya gundah, berat, dan sulit menjalani…

Ketika hati itu sudah tidak bisa merasakan (pedihnya) dosa; maka tidaklah sebuah luka menjadikan tubuh yang sudah mati merasakan sakit..”

[Kitab: Madarijus Salikin, Ibnul Qoyyim, 1/198-199].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Mendidik Anak…

Abu Riyadl Nurcholis, حفظه الله تعالى

Wahai ortu Hindari Mendidik dengan hinaan, kekerasan dan berbagai pukulan.

Sebagian para ortu terkadang melampaui batas dalam mendidik anak-anaknya. dia memukul dengan pukulan yang sadis, bersikap keras, mencela dan menghina, juga berlebih-lebihan dalam memberikan hukuman.

Para ortu tersebut lupa bahwa kelembutan adalah akhlak yang mulia, sikap halus dan lembut adalah suatu keharusan dalam pendidikan islam.

Di dalam hadits shahih dari Anas berkata; “Aku tidak melihat seseorang yang sangat menyayangi keluarganya dari pada Rasulillah”. Diriwayatkan oleh Muslim: 2316.

قال رسول الله: إنما يرحم الله من عباده الرحماء
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang”.

Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’: 2381.

Penghinaan dan pukulan bisa menghilangkan kasih sayang dan kecintaan dari hati para anak terhadap ortu mereka, Berapa banyak anak lelaki atau perempuan yang terjatuh dalam tempat kerusakan karena mencari ketenangan hati.

Renungilah kisah al-Aqra’ bin kHabis ketika melihat Nabi mencium Hasan, Ia berkata “Sesungguhnya aku memiliki sepuluh anak, dan aku tidak pernah mencium seorangpun”. Maka Rasulullah bersabda: “Apa yang akan aku miliki jika Allah mencabut dari kalian rasa kasih sayangitu ?”. Diriwayatkan oleh Muslim: 2317.

Kelembutan, kasih sayang, dan empati adalah pendidikan yang baik dan bisa menyebabkan kedua orang tua mendapatkan bakti dari anak anaknya.

Perhatikan..! Barangsiapa yang tumbuh di atas kekerasan dan kebencian serta hapa dari kasih sayang, niscaya dia akan menjadi orang keras, temprament dan bengis..

Wahai para ortu.., kasih sayang adalah salah satu kebutuhan sebagaimana makanan dan minuman. Apakah engkau telah
mengenyangkan anak-anakmu dengan kasih sayangmu?

tetapi bukanlah tegas dalam pendidikan berarti keras..
Adakalanya ortu tegas pada prinsip yang benar agar lurus dalam mendidik anak anaknya..

http://www.abu-riyadl.blogspot.com/p/blog-page_15.html?m=1

Menebar Cahaya Sunnah