Bekal Yang Sedikit

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda (yang artinya),

“Pergunakanlah yang lima sebelum datang yang lima (yaitu) :
● masa mudamu sebelum datang masa tua
● masa sehatmu sebelum datang masa sakit
● masa kayamu sebelum datang masa miskin
● masa luangmu sebelum datang masa sibuk
● masa hidupmu sebelum datang kematian..”

(HR. Al Hakim dalam Mustadroknya, IV/306; Abu Nu’aim, IV/148; al-Baghawi dalam Syarhussunnah, V/182; Ibnul Mubarak dalam kitab az-Zuhd, no.2; al-‘Ajalûni dalam Kasyful Khafâ, I/167; Ibnu Abi Syaibah, XII/223 dan dicantumkan dalam Shohiihul Jaami’, no.1077)

● Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Menyia-nyiakan waktu itu lebih parah dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari (mengingat) Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya..”

(Al Fawaid)

● Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

“Barangsiapa yang mengetahui bahwasanya umur adalah perbekalan yang sangat sedikit yang ia gunakan
untuk perjalanan menuju tempat yang kekal dan terus menerus di dalam jannah (surga), niscaya ia tidak akan menyia-nyiakan umurnya..”

(Hifzhul ‘Umr – hlm. 57)

● Sufyan ats-Tsaury rohimahullah berkata,

“Siapa yang bermain-main dengan umurnya maka dia akan menyia-nyiakan hari-hari yang seharusnya dia gunakan untuk menanam.. dan siapa yang menyia-nyiakan hari-hari untuk menanam maka dia akan menyesal pada hari-hari menuai (akherat)..”

(Hifzhul ‘Umr – hlm 65)

Bahayanya Syahwat

Imam Abu Bakr bin Abi Syaibah rohimahullah berkata,

الشهوة أمرها خطير وشرها جسيم،
‏فكم من عابد لله حولته الشهوة إلى فاسق،
‏وكم من عالم حولته إلى جاهل،
‏وكم أخرجت أناسا من الدين كانوا في نظر من يعرفهم أبعد الناس عن الضلال والانحراف .

“Syahwat itu berbahaya, dan keburukannya besar.
– Berapa banyak ahli ibadah yang berubah menjadi fasiq akibat mengikuti syahwat.
– Berapa banyak ulama menjadi jahil akibat syahwat.
– Berapa banyak orang yang kita kenal jauh dari kesesatan menjadi keluar dari agama akibat syahwat..”

(Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah 4/46)

Syahwat terhadap harta, wanita, tahta, ketenaran, dan pujian manusia..
Seringkali menutupi akal manusia..
Sehingga akal tak berfungi untuk memikirkan kebaikan..
Akibat hanya memikirkan kesenangan syahwat..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kisah Perang Badar : 17 Ramadhan – 02 Hijriyah

KILAS BALIK PERISTIWA DALAM SEJARAH ISLAM

Pertempuran Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun 2 Hijriyah.

Allah Ta’ala berfirman,

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu : “Sesungguhnya aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu Malaikat yang datang berturut-turut..” (Qs Al-Anfaal/8:9)

Sebanyak 14 sahabat rodhiyallahu ‘anhum, gugur sebagai syahid di jalan Allah dalam pertempuran ini, nama-nama mereka adalah (lihat foto).

Continue reading Kisah Perang Badar : 17 Ramadhan – 02 Hijriyah

Tetap Menjawab Adzan Saat Berbuka Puasa

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rohimahullah pernah ditanya sbb :

Pertanyaan:

عندما يكون الشخص صائما سواء في شهر رمضان أو في غيره ونودي لصلاة المغرب هل يفطر مباشرة من أول سماعه للأذان أم يجيب المؤذن الأول ثم يذكر الأدعية الواردة بعد لأذان ويفطر بعد ذلك؟ أفيدونا فضيلة الشيخ

“Ketika seorang yang berpuasa (baik puasa di bulan Ramadhan maupun selainnya) dikumandangkan adzan untuk sholat Maghrib:
– apakah dia langsung berbuka sejak awal mendengar adzan, ataukah dia menjawab adzan terlebih dahulu, lalu berdo’a dengan do’a yang warid dibaca setelah adzan. Kemudian, baru dia berbuka setelah itu..? Berilah kami bimbingan, wahai Syaikh yang mulia.

Jawaban:

لا أعتقد أن في المبادرة بالإفطار وإجابة المؤذن، لا أعتقد أن بينهما تعارضا لأنه يمكن أن يجيب المؤذن وهو يأكل

“Saya tidak yakin bahwa antara bersegera dalam berbuka dan menjawab adzan, saya tidak yakin antara keduanya ada pertentangan. Sebab, sangat mungkin seseorang menjawab adzan dalam keadaan makan.

فنقول إذا سمع المؤذن الثقة الذي لا يؤذن إلا بعد دخول وقت المغرب، أن الإنسان يمكنه أن يأكل تمرة أو تمرتين أو أكثر وهو يجيب المؤذن

Oleh karena itu, kami katakan:
Apabila seseorang telah mendengar adzan dari muadzin terpercaya-yang tidaklah dia adzan kecuali setelah (benar-benar) masuk waktu Maghrib, sangat mungkin baginya untuk (berbuka dengan) makan satu atau dua butir kurma atau lebih, bersamaan dengan itu dia tetap menjawab adzan..”

(As-Suaal ‘ala al-Haatif no. 1221)

Akhlak Yang Mulia

Syaikh Abdul Qodir Al Jilani rohimahullah berkata,

كن مع الحق بلا خلق وكن مع الخلق بلا نفس

“Hendaklah saat bersama Allah tanpa makhluk. Dan saat bersama makhluk tanpa ego pribadi..”

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

فتأمل. ما أجل هاتين الكلمتين، مع اختصارهما، وما أجمعهما لقواعد السلوك ولكل خلق جميل؟ وفساد الخلق إنما ينشأ من توسط الخلق بينك وبين الله تعالى.
وتوسط النفس بينك وبين خلقه. فمتى عزلت الخلق – حال كونك مع الله تعالى – وعزلت النفس – حال كونك مع الخلق – فقد فزت

“Perhatikanlah betapa agungnya dua kalimat ini padahal amat ringkas, namun mencakup kaidah kaidah suluk dan akhlak yang mulia.

Karena rusaknya akhlak adalah akibat hubungan antara hamba dengan Allah dirusak oleh makhluk. Dan adanya ego pribadi saat berhubungan dengan makhluk.

Saat engkau fokus kepada Allah dan tidak mengingat makhluk saat bermunajat kepada-Nya, dan engkau tinggalkan ego pribadi saat berhubungan dengan makhluk, maka kamu akan sukses..”

(Madarijussalikin 2/310)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah