1378. Baca apa ketika lewat kuburan muslim dan juga kuburan kafir ?…

1378. BBG Al Ilmu

Tanya :
Ustadz, dalam silsilah al-hadits as-shohiihah/18, ada hadits : “setiapkali engkau lewat di kuburan orang kafir maka berilah dia kabar gembira dengan neraka.” Apakah ini sunnah yang bisa di amalkan terus menerus ? Dan bagaimana lafazh do’anya ustadz ? Syukran

Jawab :
Ust. Irfan Helmy, حفظه الله تعالى

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallan bersabda (yang artinya) :
“Setiapkali engkau lewat di kuburan orang kafir maka berilah dia kabar gembira dengan neraka.” (Silsilah al-Ahadits as-Shahihah/18).

Syaikh al-Albani رحمه الله berkata:
“Dalam hadits ini ada faedah yang sangat penting yang mayoritas kitab fiqih melalaikannya yaitu disyari’atkannya kita memberi kabar gembira dengan neraka bagi orang kafir jika kita lewat di kuburnya, dan sangat jelas bagaimana disyari’atkannya kita melakukan hal ini untuk menyadarkan seorang mukmin, mengingatkan seorang mukmin alangkah bahayanya dosa orang kafir itu, dia telah melakukan dosa yang begitu besar yang seandainya seluruh dosa selainnya dikumpulkan akan ringan dibandingkan dosa ini, yaitu dosa kafir kepada Allah dan berbuat syirik kepadanya, di mana Allah menjelaskan bagaimana murka dan kebencian-Nya yang begitu besar terhadap dosa ini ketika mengecualikannya dari ampunan-Nya, Allah berfirman (yang artinya):
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa selainnya bagi siapa yang dia kehendaki.” (QS an-Nisa:48).

Oleh karena itu Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya) :
“Dosa besar yang paling besar adalah engkau menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dia yang menciptakan mu” (Muttafaq Alaih). Lihat kitab As-Shahihah hlm.57-58.

Kesimpulan: amalan tersebut diamalkan tatkala ketika lewat kuburan yang kita tahu dia orang kafir.

Tidak ada doa khusus dalam hal ini, sepanjang yang ana ketahui. Bisa saja dengan ucapan: “bergembiralah kalian dengan neraka yang telah dijanjikan bagi orang-orang kafir”

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Berdamai Dengan Teman, Cerdaskah ?…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat! Menurut anda, bijakkah bila ada orang yang menjalin perdamaian dengan sahabat sendiri yang selalu seiya dan sekata dengan anda?

Kalau sudah bersahabat bahkan selalu seiya dan sekata, buat apa anda membuat perjanjian damai?

Kalau menurut hemat saya yang bodoh ini, bila ada orang yang masih berpikir untuk membuat perjanjian damai dengan sahabat apalagi saudara sendiri yang selalu seiya dan sekata maka ia adalah PENDUSTA BESAR DALAM persahabatan dan kekeluargaannya, alias musang berbulu domba. Perilaku musang, bengis, keji dan selalu berkhianat namun berpenampilan bagaikan domba jinak.

Persahabatan apalagi persaudaraan menjadikan anda merasa bahwa derita sahabat atau saudara anda adalah derita anda sendiri. Kekurangan mereka adalah kekurangan anda sendiri sehingga anda mengobatinya dengan penuh kasih sayang, tanpa perlu ada perjanjian.

Persahabatan yang sejati dan persaudaraan yang hakiki menumbuhkan kesadaran pada diri anda untuk berkorban demi sahabat atau saudara anda. Karena itu, dahulu kaum Anshar radhiallahu anhum yang benar benar telah menjadi sahabat bahkan saudara kaum Muhajirin, dalam diri mereka tumbuh kesadaran untuk iitsar ( mendahulukan saudaranya dibanding diri sendiri) terhadap kaum Muhajirin, tanpa perlu ada perjanjian damai dan saling menahan diri.

Biasanya, Adanya perjanjian damai karena adanya perbedaan bahkan jurang atau perseteruan yang memisahkan, sehingga perlu dibuat jembatan agar bisa terjalin komunikasi dan kesepahaman, atau minimal komitmen bersama untuk saling menahan diri agar jurang tidak semakin lebar.

Ini adalah pemahaman dan persepsi dangkal saya, bisa jadi saudara punya persepsi yang berbeda dan sepenuhnya saya menghormati persepsi dan pemahaman saudara. Wallahu Ta’ala A’alam bisshawab.

Dosa bani Adam…

 

dosa anak adam

Dosa ibnu adam yang paling banyak terdapat pada lisannya….

Hadits ini merupakan salah satu dari hadits-hadits yang berisi perintah agar menjaga lisan.

Lisan kita merupakan anggota tubuh yang kecil, namun sangat banyak digunakan.

Sehingga,kita diperintahkan untuk selalu menjaga anggota tubuh tersebut agar tidak terjerumus ke dalam neraka dikarenakan dosa-dosa yang ditimbulkan oleh lisan.

Sebagaimana Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda

“Bukankah yang banyak menyebabkan tersungkurnya wajah-wajah manusia di dalam neraka adalah lisan-lisan mereka?!”

Dosa-dosa yang sering dilakukan dengan lisan diantaranya adalah berdusta, ghibah, mencela orang, memfitnah orang, dan lain-lain. Semua itu adalah perbuatan dosa yang wajib kita tinggalkan.

Oleh karena itu, Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka ucapkanlah sesuatu yang baik. Atau jika tidak, maka diamlah.”

و الله تعالى أعلم.

Ust Riki, حفظه الله تعالى

Courtesy : JODOH

Jangan khawatirkan Agama Islam…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Ya.. jangan merisaukan Agama Islam, bagaimanapun usaha kaum kafirin, kaum munafikin, dan siapapun yang mengikuti jejak mereka untuk menjatuhkan dan menghinakan Islam, sungguh Islam takkan terpengaruh, Islam akan tetap terjaga dengan baik, karena Allah telah menjamin untuk menjaganya.

Allah telah berfirman (yang artinya):

“Sungguh Kami telah menurunkan Adz-Dzikr (Alquran), dan Kami pula yang benar-benar akan menjaganya”. [QS. Al-Hijr:9]

Sebagaimana Allah menjaga kemurnian Alquran, Allah juga akan menjaga kemurnian Islam… karena kandungan Alquran, tidak lain adalah Islam yang murni.

Kita lihat hari-hari ini, seringkali sosok yang ditokohkan merendahkan sebagian Syariat Islam, seperti: jenggot, cadar, celana di atas mata kaki, Alquran disebut kitab paling porno, teknologi zaman ini disebut lebih hebat dari mukjizat nabi, haji sebaiknya dihentikan karena pemborosan, dan statemen statemen lainnya…

Tentu kita sebagai muslim geram dengan itu semua, tapi tenanglah, sejukkan hati anda, dan yakinlah bahwa usaha mereka akan sia-sia, mereka semua akan hilang sebagaimana para pendahulunya, dan Islam akan tetap tegak berdiri di muka bumi ini.

Allah telah berfirman (yang artinya):

“Mereka ingin memadamkan ‘cahaya Allah’ dengan mulut mereka, namun Allah menolak kecuali menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang orang kafir membencinya”. [QS. Attaubah: 33].

Yang dimaksud “cahaya Allah” dalam ayat ini adalah petunjuk dan agama haq yang dibawa oleh Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. [Tafsir Ibnu Katsir: 4/136].

Lihatlah bagaimana agungnya agama ini, agama yang dijamin Allah akan selalu hidup sempurna di muka bumi, sehingga tidak perlu kita mengkhawatirkannya lagi.

Justeru yang perlu kita takutkan adalah diri kita, sudahkah kita menerapkan agama ini dalam hidup kita, sudahkah kita peduli dengan agama kita… sungguh Islam tidak akan rugi tanpa kita, namun kita akan rugi total tanpa Islam.

Justeru mereka yang berusaha merendahkan Islam itulah yang harusnya waspada, karena tindakan mereka itu hanya merugikan dan membinasakan diri mereka sendiri, Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Maka harusnya orang-orang yang menyelisihi perintah Rosul itu takut akan tertimpa bencana atau terkena adzab yang pedih”. [QS. Annur:63].

Terakhir, yang harus digaris bawahi di sini, bahwa ketika kita tidak merisaukan Islam, bukan berarti kita tidak membela dan memperjuangkan Islam… Namun, harusnya kita tetap berusaha mendakwahkan Islam, karena Allah telah memerintahkan kita untuk terus berdakwah memperjuangkan Islam…

Sepantasnya kita berusaha menjadikan diri sebagai pejuang Islam, karena kalau bukan kita, pasti Allah memilih orang lain untuk mengisinya… dan ingatlah bahwa semakin kita berjuang untuk Islam, maka semakin banyak kemuliaan yang kita dapatkan darinya, wallohu a’lam.

Semoga bermanfaat…

Hari Kamis Istimewa…

Ustadz Syafiq Basalamah, حفظه الله تعالى

Akhi/ ukhti…moga Allah senantiasa menjagamu‬‬

‪‪Hari ini : Kamis‬‬
‪‪Hmmm, ia emangnya kenapa??‬‬
‪‪Setiap pekan kita selalu melewati hari kamis..‬‬
‪‪ ‬‬
‪‪Sebenarnya tidak ada yang istimewa…‬‬
‪‪ ‬‬
‪‪Tapi pada hari ini dan hari senin amalan kita diangkat untuk dipaparkan kepada Allah‬‬
‪‪ ‬
‪‪Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam‬‬
‪‪Yang sudah diampuni dosa-dosanya‬‬
‪‪Yang dijamin keselamatannya‬‬
‪‪ ‬‬
‪‪Beliau biasa untuk meninggalkan makan dan minum di hari ini‬‬
‪‪ ‬‬
‪‪Beliau berpuasa‬‬
‪‪ ‬‬
‪‪Karena beliau ingin amalnya diangkat dalam kondisi berpuasa…(HR Tirmidzi, Shahih)‬‬
‪‪ ‬‬
‪‪Untuk yang berpuasa, moga Allah mencintai dan menerima amalmu‬‬
‪‪ ‬‬
‪‪Bagi yang tidak berpuasa, moga umurnya disampaikan pada hari senin‬‬
‪‪ ‬‬
‪‪Agar kau bisa berpuasa dan meraih pahala…‬‬
‪‪Dan kelak dikumpulkan bersama Rasulullah‬‬
‪‪ ‬‬
‪‪Tapi pada hari ini pun, kau bisa mendapatkan amalan puasa…‬‬
‪‪ ‬‬
‪‪Bila mentari akan tenggelam‬‬
‪‪ ‬‬
‪‪Carilah orang-orang yang berpuasa‬‬
‪‪Di masjid‬‬
‪‪Di panti asuhan‬‬
‪‪Di pesantren‬‬
‪‪Atau siapa yang kau tahu dia lagi berpuasa‬‬
‪‪ ‬‬
‪‪Berikanlah kepadanya makanan atau minuman yang thoyyib‬‬
‪‪Yang kau beli atau kau buat‬‬
‪‪ ‬‬
‪‪Dengannya hari ini kau tetap akan mendapatkan pahala puasa(HR Ahmad, Tirmidzi, SHOHIh)‬‬
‪‪ ‬‬
‪‪Allah itu sangat Baik…‬‬
‪‪Tapi kitanya…‬‬

Kunjungan Ke Gus Idrus Ramli…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Alhamdulillah; pada hari ini 2 Dzul Hijjah 1436 Hijriyah saya Muhammad Arifin Badri; bersama Ustadz Muhammad Yasir Lc dan juga Usta Nur Kholis Kurdian Lc. M.Th.i berkesempatan untuk bersilaturrahmi ke kediaman Gus Idrus Ramli.

Alhamdulillah dengan mudah kami menemukan kediaman beliau berkat pertolongan Allah Taala lalu petunjuk arah yang beliau berikan. Tiba di kediaman beliau di kecamatan Kencong Jember, pada sekitar pukul 15.30.

Kami langsung disambut oleh tuan rumah yaitu Gus Idrus Ramli yang segera mempersilahkan kami masuk dan duduk di rumah beliau.

Tanpa menunggu perkenalan atau lainnya; masyaAllah Gus Idrus segera menyuguhi kami dan salah satunya adalah hidangan favorit saya; secangkir kopi tubruk yang begitu berkesan dari lidah hingga ke lubuk hati.

Bukan sekedar minuman dan camilan; walaupun bukan jam makan; kami juga disuguhi makan nasi; berlaukkan lele; gule; dan sate; lengkap sudah.

Setelah beramah tamah dan memperkenalkan diri; kami membicarakan kondisi ummat yang akhir akhir ini sering diberitakan kurang harmonis dan seakan tidak bisa dipertemukan dalam nuansa ukhuwah.

Padahal realitanya tidaklah demikian, dari pertemuan kami dengan beliau yang berlangsung sekitar 1 jam 30 menit, kami dapat mencatatkan beberapa hal positif:

1. Selama ini Gus Idrus Ramli belum pernah berinisiatif untuk beredebat dengan seorangpun dari teman teman salafy atau yang sering disebut dengan wahaby. Yang terjadi beliau hanya memenuhi undangan pihak lain untuk menyampaikan ceramah atau diskusi/debat.

Pernyataan ini patut dicermati bersama; sebenarnya masalah yang terjadi adalah masalah lokal daerah tertentu yang kemudian melibatkan pihak luar.

Sebagai buktinya perdebatan serupa tidak terjadi di jember walaupun di jember ada STDI IMAM SYAFII dan ada pula pondok As Salafy binaan ust Luqman Baabduh.

Menurut beliau; apa untungnya perdebatan bila hanya untuk unjuk kekuatan atau memancing keributan masyarakat?

Yang lebih unik; walaupun perdebatan dengan salafy hanya dua kali namun demikian; perdebatan ini banyak diberitakan di media; terutama medsos.

Adapun perdebatan beliau dengan kelompok syi’ah yang begitu sering; jarang dimuat dan dibicarakan media termasuk medsos. Beliau sangat keheranan dengan hal ini; ada apa? Mungkinkah ada pihak pihak yang sengaja MENGADU DOMBA?

2. Beliau sepakat betapa pentingnya kita menjaga kesatuan dan ukhuwah sesama ummat Islam.

3. Beliau juga sependapat bahwa perbedaan pendapat adalah satu hal yang wajar dan tidak mungkin bisa dihindari karena telah terjadi sejak dahulu kala.

Namun demikian beliau menekankan pentingnya kedewasaan sikap dan sikap toleransi alias saling menghormati pihak lain dalam menjalankan pilihan dan keyakinannya.
4. Menghormati pendapat bukan berarti menutup rapat ruang untuk bermuzakarah (diskusi ilmiyah) antara para ahli ilmu, guna meningkatkan keilmuan dan bukan dalam rangka unjuk kekuatan dihadapan publik.

5. Kami memaparkan bahwa di kampus kami STDI IMAM SYAFII; kami mempelajari ilmu fiqih muqqaranah /perbandingan. Karena itu rujukan fiqih yang diajarkan di kampus adalah kitab Bidayatul Mujtahid karya Imam Ibnu Rusyud Al Hafizh, dan untuk ilmu ushul fiqih kami menggunakan kitab Raudhatu An Nazhir karya Imam Ibnu Qudamah yang merupakan ringkasan dari kitab Al Mustashfa karya Imam Ghozali As Syafii. Dan untuk ilmu tafsir; maka kami menggunakan Tafsir Ibnu Katsir as syafii.

6. Kami juga menyampaikan bahwa kunjungan semacam ini insyaAllah bukan hanya sekali saja namun kami akan berusaha melanjutkannya sehingga terwujud hubungan yang harmonis. Sebagaimana beliau juga mengutarakan minatnya untuk berkunjung ke kampus STDI IMAM SYAFII.

7. Adapun perbedaan yang ada antara praktek keagamaan yang ada di masyarakat dengan yang diamalkan dan diajarkan di STDI IMAM SYAFII adalah satu hal yang sudah dimaklumi bersama. Tidak ada manfaatnya bila kita menyibukkan diri dengan perbedaan perbedan itu dan melupakan sekian banyak persamaan yang ada. Kami sepakat untuk bercermin dengan apa yang terjadi dahulu pada Imam Syafii yang berguru kepada Imam Muhammad bin Hasan Al Hanafi sebagaimana beliau juga berguru kepada Imam Malik dan di saat yang sama beliau juga menjadi gurunya Imam Ahmad. Padahal antara mereka terjadi perbedaan yang cukup banyak, namun perbedaan perbedaan tersebut dapat dikelola dengan bijak sehingga suasana kondusif.

8. Kami juga berkomitmen untuk tidak saling mengusik dan menyinggung kegiatan pihak lain; demi terciptanya ukhuwah di tengah tengah ummat islam secara umum dan muslimin di Jember secara khusus.

Semoga kunjungan ini dapat menjadi sarana terciptanya persatuan dan kejayaan ummat Islam.

Amiin Ya Rabbal Alamin

Ref :  https://www.facebook.com/DrMuhammadArifinBadri/posts/881992551881919:0

Goblok Tapi Cerdas…?? … Bantahan…

Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Pak Kiyai berkata : “Menurut saya orang yang berjenggot itu mengurangi kecerdasannya, karena syaraf yang sebenarnya untuk mendukung otak sehingga dia menjadi cerdas tertarik habis oleh jenggot sehingga jenggotnya menjadi panjang.
Nah orang berjenggot panjang walaupun kecerdasannya kurang, dia akan turun ke hati. Artinya orang berjenggot panjang adalah simbol dari orang yang hatinya sudah arif, hatinya sudah bersih, sudah tidak lagi mencintai harta, mencintai dunia, kedudukan, jabatan, orang yang selalu beramal ikhlas lillahi ta’alaa….
karena kecerdasannya telah pindah dari otak ke hati…
Bagi yang belum sampai ke maqom itu, seyogyanya menurut saya tidak usah menghiasi dirinya dengan penampilan jenggot panjang ….”
Demikian sebagian cuplikan dari perkataan kiyai, silahkan lihat lengkapnya di bawah ini

Komentar :

Pertama : Pak kiyai tetap bersikeras bahwa jenggot adalah penyebab kegoblokan. Akan tetapi pak kiyai kali lebih halus dengan menyatakan bahwa jenggot mengurangi kecerdasan. Padahal dalam bahasa indonesia (Kurang cerdas = goblok)

Kedua : Dalil pak kiyai akan pernyataan beliau tidak berubah, yaitu syaraf yang harusnya mendukung kecerdasan otak tertarik habis oleh jenggot sehingga jenggotnya menjadi panjang.
Nah “dalil” ini apakah perkara yang ilmiyah?, artinya pak kiyai sudah mengkonsultasikannya kepada para ahli syaraf? para dokter? Ataukah berdasarkan penilitian pak kiyai sendiri?

Ketiga : Pak kiyai berusaha memplintir pernyataannya, sehingga sekarang dia ingin menyatakan sebaliknya, yaitu “Jenggot panjang pertanda kecerdasan !!”
Yaitu kecerdasan telah pindah ke hati !!!

Pernyataan ini juga tentunya butuh penjelasan dan argumen yang kuat. Apakah kecerdasan tersebut berpindah dari otak langsung ke hati? Ataukah kecerdasan berpindah dari otak ke jenggot lalu dari jenggot panjang pindah ke hati?
Lalu apa dalil dan argumen pernyataan ini semua? Adakah alim ulama yang menyatakan demikian? Adakah cendekiawan dan ilmuan yang menyatakan demikian? Ataukah ini penemuan nusantara oleh pak Kiyai??!!

Keempat : Masih sulit kesimpulan yang bisa diambil dari pernytaan kiyai, apakah orang yang jenggotnya panjang berarti goblok tapi cerdas? Artinya goblok ditinjau dari sisi otak tapi cerdas ditinjau dari sisi hati krn kecerdasan yg berpindah ke hati? Dengan kata lain (goblok otak tapi cerdas hati)
Bukankah ini adalah menggabungkan dua hal yang kontradiktif, sebagaimana menggabungkan antara timur dan barat?, air dan api?

Kelima : Menurut pak kiyai jenggot panjang merupakan simbol kearifan, tidak mencintai dunia, harta dan jabatan.
Maka apakah sebaliknya bahwa jenggot plontos adalah lambang cinta dunia, harta, jabatan, dan ketidak ikhlasan?
Karena orang menggundul habis jenggotnya berarti kecerdasannya hanya diotak dan tidak  berpindah ke hati? Jadilah dia (cerdas otak tapi goblok hati)

Keenam : Menurut pak kiyai orang yang belum sampai pada maqom ikhlas, tidak mencintai dunia harta dan jabatan, maka sebaiknya tidak usah memelihara jenggot panjang.

Ini merupakan pernyataan yang aneh dari pak kiyai. Penjelasan pak kiyai mengisyaratkan bahwa memeihara jenggot menyebabkan berpindahnya kecerdasan dari otak menuju hati, sehingga hati menjadi arif dan tidak mencintai dunia. Maka seharusnya pak kiyai berkata : “Panjangjanlah jenggot kalian agar kecerdasan kalian berpindah dari otak ke hati sehingga kalian mencapai maqom ikhlas dan tidak mengharapkan dunia, harta, dan jabatan !!”
Nah sekarang seakan akan pak kiyau berkata, “Janganlah kalian panjangkan jenggot kalian sampai hati kalian bersih terlebih dahulu, yaitu sampai kecerdasan kalian berpindah dari otak ke hati !!”
Padahal yang menjadi sarana perpindahan kecerdasan dari otak ke hati adalah jenggot yang panjang!!

Maka seakan akan pak Kiyai berkata, “Turunlah dari pohon agar engkau berpindah dari atas pohon ke bawah pohon, tapi janganlah engkau turun dari atas pohon sampai engkau di bawah pohon!!”
Nah bagaimana bisa berpindah dari atas ke bawah jika tanpa “turun”?

Ketujuh: Pernyataan kiyai tentu berbeda dengan penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang memerintahkan memelihara jenggot adalah untuk menyelishi majusi dan ahlul kitab. Nabi shallalahu ‘alaihi wasllam tidak pernah menjelaskan bahwa memlihara jenggot adalah untuk mengikhlaskan hati dan agar tidak mencintai dunia, harta, dan jabatan. Adakah ulama yang menyatakan demikian sebelum pak kiyai?

Kedelapan : Lagi pula Nabi shallallahu ‘alaihi wasallm tatkala memerintahkan memanjangkan jenggot tanpa mempersyaratkan apa yang disyaratkan oleh pak kiyai, nah adakah dalil dari pak kiyai atas persyaratan ini?

Kesembilan : Saya rasa jika pak kiyai mengakui kesalahan itu lebih baik dan lebih gentlemen dan menunjukan keikhlasan, kearifan hati, dan bersihnya hati kiyai dari cinta dunia, harta dan jabatan. Karena kalau kita kembali mendengar pernyataan pak kiyai sebelumnya : (semakin panjang jenggot semakin goblok) tentu ini diucapkan dalam kondisi menghina dan bahan tertawaan. Sampai pak kiyai menyebutkan tiga contoh orang cerdas yang tidak berjenggot !!

Kesepuluh : Kita berterima kasih kepada pak kiyai yang telah mengingatkan bahwa jenggot adalah “SUNNAH” dan orang yang berjenggot harus mencerminkan akhlak nabi yang tidak sombong dll.
Ini adalah masukan yang indah dari pak kiyai, bahwa jangan hanya memperhatikan penampilan luar aja, tapi harus memperhatikan penampilan dalam juga.
Kami juga berharap agar pak kiyai sebagaimana memperhatikan penampilan dalam, maka hendaknya juga memperhatikan penampilan luar diantaranya memelihara jenggot. Sehingga pak kiyai indah luar dalam.

Yang paling menyedihkan adalah jika kurang baik penampilan luar dalam, sudah tidak menjalankan sunnah jenggot lantas mudah menghina dan mengejek orang lain …

Mekkah, 02-12-1436 H / 16-09-2015 M
Abu Abdil Muhsin Firanda

Mekkah, 02-12-1436 H / 16-09-2015 M
Abu Abdil Muhsin Firanda

Ref : http://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/970-goblok-tapi-cerdas

Menebar Cahaya Sunnah