1376. Mengirim Al Fatihah untuk orangtua yang sudah wafat…

1376. BBG Al Ilmu

Tanya :
Mau tanya, bukankah mengirim fatihah sebuah wujud dari sikap anak sholih kepada orangtuanya yang sudah wafat dalam mengirim do’a ?

Jawab :
Ustadz Irfan Helmy, حفظه الله تعالى

Mengirim Al-Fatihah kepada mayit merupakan masalah yang diperselisihkan para ulama (khilafiyah). Bagi yang mengikuti pendapat bahwa bacaan Al Fatihah akan sampai kepada mayit (seperti pendapat madzhab Hambali), maka mengirim Al Fatihah bagi orangtua yang sudah wafat akan dinilai sebagai wujud sikap anak yang shalih kepada orangtuanya.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Ambillah Pelajaran Dari Perjalanan Hidup Ini

Saat umurku 4 th: “Ayahku adalah orang yang paling hebat..”

Saat umurku 6 th: “Ayahku tahu semua orang..”

Saat umurku 10 th: “Ayahku istimewa, tapi cepet marah..”

Saat umurku 12 th: “Ayahku dulu penyayang, ketika aku masih kecil..”

Saat umurku 14 th: “Ayahku mulai lebih sensitif..”

Saat umurku 16 th: “Ayahku tidak mungkin mengikuti zaman ini..”

Saat umurku 18 th: “Ayahku seiring berjalannya waktu akan menjadi lebih susah..”

Saat umurku 20 th: “Sulit sekali aku memaafkan ayahku, aku heran bagaimana ibuku bisa tahan hidup dengannya..”

Saat umurku 25 th: “Ayahku menentang semua yang ingin ku lakukan..”

Saat umurku 30 th: “Susah sekali aku setuju dengan ayah, mungkin saja kakekku dulu capek ketika ayahku muda..

Saat umurku 40 th: “Ayahku telah mendidikku dalam kehidupan ini dengan banyak aturan, dan aku harus melakukan hal yang sama..”

Saat umurku 45 th: “Aku bingung, bagaimana ayahku dulu mampu mendidik kami semua..?”

Saat umurku 50 th: “Memang susah mengatur anak-anak, bagaimana capeknya ayahku dulu dalam mendidik kita dan menjaga kita..?”

Saat umurku 55 th: “Ayahku dulu punya pandangan yang jauh, dan telah merencanakan banyak hal untuk kita, ayah memang orang yang istimewa dan penyayang..”

Saat umurku 60 th: “Ayahku adalah orang yang paling hebat..”

Lingkaran perjalanan ini menghabiskan waktu 56 tahun untuk kembali ke titik semula di umur 4 th, saat ku katakan “Ayahku adalah orang yang paling hebat..”

====================

Maka hendaklah kita berbakti kepada orangtua kita sebelum kesempatan itu hilang, dan hendaklah kita berdo’a kepada Allah agar menjadikan anak-anak kita lebih baik dalam bermu’amalah dengan kita melebihi mu’amalah kita dengan orangtua kita.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya):
“Tuhanmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kalian berbuat baik pada ibu bapak dengan sebaik-baiknya..

Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya telah sampai usia lanjut di sisimu, maka janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”, dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia..

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil..” [Al-Isro’: 23-24].

Ini adalah risalah dari seseorang yang telah menjalani semua perjalanan hidup di atas, maka aku senang meringkasnya untuk diambil ibrah dan pelajaran.

Ya Allah ampunilah kami dan orangtua kami serta siapapun yang berjasa kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami semua Surga Firdaus-Mu..

Ditulis oleh,
Ustadz  Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Berkurban ? Ah, Sayang Uangnya..!

Mungkin sebagian orang berkata seperti di atas, dan bisa jadi anda salah satu dari mereka.

Sobat, sebelum anda memutuskan untuk mempertahankan ungkapan di atas, alangkah baiknya bila anda membaca lalu merenungkan hadits berikut dengan seksama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

Barang siapa memiliki kelapangan namun ia tidak berkurban (menyembelih hewan kurban) maka hendaknya ia tidak mendekat dari tepat sholat (iedul adha) kami.” (Riwayat Ahmad dan lainnya)

Sobat! Anda penasaran ingin mengetahui berapa besar keutamaan dan pahala menyembelih hewan kurban? Temukan jawabannya pada hadits berikut:

ما عمل ابن آدم يوم النحر أحب إلى الله من إهراق الدم، وإنه ليؤتى يوم القيامة بقرونها وأشعارها وأظلافها، وإن الدم ليقع من الله بمكان قبل أن يقع بالأرض، فطيبوا بها نفسا.

Tidaklah seorang hamba mengamalkan suatu amalan pada hari AN Naher (10 Zul Hijjah) yang lebih utama dibanding menyembelih hewan kurban. Kelak pada hari Kiyamat, hewan kurban akan datang menghadap kepada Allah lengkap dengan tanduk, bulu dan kuku kakinya. Sesungguhnya darah hewan kurban benar benar mendapat kedudukan yang tinggi (diterima oleh Allah dan mendapat imbalan yang besar) sebelum darah itu jatuh ke tanah, karena itu sembelihlah hewan kurbanmu dengan suka rela.” (At Tirmizy, Ibnu Majah dan lainnya)

Sobat! Mari bulatkan tekad untuk membuktikan keimanan kita dan cinta kita kepada Allah dengan mengurbankan sebagian hewan ternak.

Semoga Allah menerima amal ibadah anda semua.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

1375. Mencicil bacaan surat Al Kahfi…

1375. BBG Al Ilmu

Tanya :
Ustadz, mau tanya tentang surat al-Kahfi. Bacanya bolehkah dibagi ? Sebagian dibaca malam ini dan sisanya esok pagi ? Ataukah harus langsung selesai sekali baca ?

Jawab :
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Boleh. Akan tetapi jika langsung (1 surat dalam satu waktu) maka lebih utama.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1374. Keutamaan sholat dhuha…

1374. BBG Al Ilmu

Tanya :
Apakah ke utamaan shalat dhuha..? Dan saya mendapatkan keterangan bahwa dengan sholat dhuha 2 roka’at maka kita dapat menggantikan 360 sedekah. Terima kasih Ustadz.

Jawab :
Ust. Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Simak penjelasan Ust. Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini :

Klik :
https://bbg-alilmu.com/archives/14261

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

RAHASIAKANLAH Rencana Anda

Rahasiakanlah rencana Anda, agar anda sukses dalam menggapainya.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

استعينوا على إنجاح الحوائج بالكتمان ، فإن كل ذي نعمة محسود

“Bantulah KESUKSESAN hajat-hajat kalian dengan MERAHASIAKANNYA, karena setiap orang yang memiliki nikmat itu akan menjadi sasaran HASAD orang lain..” [Silsilah Shohihah: 1453]

Oleh karena itulah, seringkali rencana kita gagal atau mengalami banyak hambatan ketika beritanya mulai tersebar.

Wallahu a’lam..

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

Ustadzpun Kadang ASBUN…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Asbun alias asal bunyi atau melontar pendapat atau sikap tanpa terlebih dahulu berpikir apalagi mencari tahu apalagi tabayyun adalah kesalahan dan sikap yang tercela.

Kesalahan ini sebagaimana bisa menimpa orang awam; juga bisa menimpa orang yang telah berilmu atau yang dikenal dengan ustadz atau kiyai.

Hal ini wajar; walaupun mereka berilmu namun tetap saja manusia biasa yang pasti bisa khilaf dan berdosa.

Mungkin anda berkata; aah statmen ini bisa saja merendahkan martabat para kiyai dan ustadz dan menjatuhkan kehormatan mereka di hadapan masyarakat.

Sobat; sama sekali tidak demikian; ini adalah tazkir alias peringatan. Bukankah dahulu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

كل بني آدم خطاء وخير الخطائين التوابون

Setiap anak keturunan Adam pasti banyak berbuat kesalahan; dan sebaik baik pelaku kesalahan ialah yang banyak bertaubat.

Hadits ini berlaku pada semua orang dan dalam segala urusan termasuk para ustadz dan juga termasuk dalam urusan pendapat dan fatwa.

Imam Muslim meriwayatkan bahwa ‘Aisyah radhiallahu anha meminta agar jenazah sahabat Saad bin Abi Waqqash radhiallahu anhu dibawa ke masjid agar beliau (‘Aisyah) bisa turut mensholatkannya.

Permintaan sahabat ‘Aisyah ini menuai kritik dari banyak orang; mereka mengira bahwa tidak pantas atau bahkan tidak boleh menunaikan sholat janazah di masjid.

Kritikan ini begitu santer dan segera menyebar luas sehingga beliau merasa perlu untuk mengklarifikasi permintaan atau sikapnya ini; beliau berkata

مَا أَسْرَعَ النَّاسَ إِلَى أَنْ يَعِيبُوا مَا لَا عِلْمَ لَهُمْ بِهِ، عَابُوا عَلَيْنَا أَنْ يُمَرَّ بِجَنَازَةٍ فِي الْمَسْجِدِ، «وَمَا صَلَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى سُهَيْلِ ابْنِ بَيْضَاءَ إِلَّا فِي جَوْفِ الْمَسْجِدِ»

Betapa cepatnya masyarakat untuk mencela sesuatu yang tidak mereka kuasai ilmunya. Mereka mencela kami yang meminta agar jenazah sahabat Saad dibawa ke masjid, padahal dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidaklah mensholati Suhail putra Baidha’ kecuali di dalam masjid. (Muslim).

Sobat! Bila hal ini bisa terjadi pada para sahabat tentu para ustadz dan kiyai sangat mungkin untuk melakukannya; karena itu untuk apa fanatik dengan sikap dan pendapat mereka. Berlakulah bijak dan sewajarnya.

Menebar Cahaya Sunnah