Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Mari kita simak penjelasan Ustadz Firanda حفظه الله تعالى mengenai berbagai kondisi wanita saat dicerai yang menyebabkan berbedanya masa iddah bagi setiap kondisi.
Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Mari kita simak penjelasan Ustadz Firanda حفظه الله تعالى mengenai berbagai kondisi wanita saat dicerai yang menyebabkan berbedanya masa iddah bagi setiap kondisi.
Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, حفظه الله تعالى
Dalam audio berikut ini Ustadz Abu Ya’la حفظه الله تعالى memberikan contoh cara membaca surat Al Fatihah dengan benar.
Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى
Ah, aku malu untuk banyak berbicara, mulutku berbau kurang sedap.
Kira-kira demikianlah desah batin anda tatkala menyadari bahwa bau mulut anda mulai terasa tidak sedap di saat anda sedang berpuasa. Dan mungkin saja anda buru-buru berkumur dengan cairan penyegar mulut. Selanjutnya, andapun merasa lebih pede setelah berkumur untuk berbicara dan berinteraksi dengan orang lain.
Tidak perlu berkecil hati saudaraku! Bau mulut anda yang kurang sedap karena berpuasa, ternyata tidak sia-sia. Walau terasa tidak sedap pada penilaian orang, akan tetapi di sisi Allah, sangat dicintai dan bernilai tinggi.
(وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ) متفق عليه
“Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dibanding aroma misik.” Muttafaqun ‘alaih
Saudaraku! coba anda renungkan, mengapa bau mulut orang berpuasa yang kurang sedap kok dicintai Allah, sehingga di akhirat mendapatkan balasan yang begitu indah. Mungkin pernah terbetik pikiran: iih agama Islam ini kok terkesan kotor ya.
Aduuh, gimana sih, agama yang aku cintai ini; bau mulut orang berpuasa yang kurang sedap dianggap bernilai ibadah.
Penampilan orang yang berhaji dibuat sedemikian rupa, dilarang mengenakan wewangian, memotong kuku, penampilannya tidak rapi, akibatnya bau keringatpun jadi menyengat.
Bila sholat, menempelkan wajah ke tanah atau lantai masjid yang mungkin saja karpetnya telah lama tidak dibersihkan.
Semuanya mengesankan keterbelakangan, kolot, kumuh dan kotor.
Saudaraku! Mungkin demikianlah iblis membisikkan ke dalam hati anda, dengan suara yang santun nan lirih, sehingga terkesan ia sedang membela kepentingan anda.
Tentu sebagai orang yang beriman, anda langsung memberangus berbagai bisikan biadab tersebut dan tidak pernah memberinya peluang untuk melekat di batin anda. Akan tetapi betapa banyak dari saudara-sadara kita yang lemah iman menjadi termenung dan kebingungan memikirkannya.
Ketahuilah saudaraku! Bahwa efek samping dari berbagai amal ibadah di atas, walaupun terasa tidak baik dan kurang menyenangkan, akan tetapi itu merupakan bagian dari uji keimanan anda. Itu adalah bagian dari pengorbanan demi tegaknya ibadah kepada Allah.
Akankah dengan adanya efek samping yang kurang menyenangkan itu, anda menjadi hanyut oleh badai bisikan setan ataukah anda tetap tegar berjuang mencari keridhaan Allah, dengan segala konsekwensi dan tantangannya?
Segala hal yang kurang menyenangkan yang menimpa anda semasa menjalankan ibadah kepada Allah adalah bagian dari duri dan aral yang melintang di jalan-jalan menuju surga Allah.
Demikianlah ketetapan Allah yang berlaku pada kehidupan dunia. Pintu-pintu surga bertabirkan duri dan kesusahan. Sedangkan pintu-pintu neraka diselimuti oleh kesenangan.
Walau demikian, rasa sakit dan hal-hal yang tidak menyenangkan tersebut tidak akan sia-sia begitu saja.
Semuanya bernilai ibadah dan mendapatkan balasan yang setimpal dan bahkan lebih baik.
Bau mulut anda semasa berpuasa akan berubah menjadi aroma yang lebih harum dibanding aroma minyak misik.
Penampilan anda yang kusut lagi berdebu semasa berihram menjalankan manasik haji dan umrah, berbuah ampunan dari Allah.
(انْظُرُوا إِلَى عِبَادِي شُعْثاً غُبْراً، اشْهَدُوا أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُم ذُنُوبَهُم) رواه الطبراني وابن حبان وحسنه الألباني
“Saksikanlah hamba-hambaku yang sedang berpenampilan kusut lagi berdebu. Persaksikanlah bahwa aku telah mengampuni seluruh dosa-dosa mereka.” Riwayat At Thabrani, Ibnu Hibban dan dinyatakan sebagai hadits hasan oleh Al Albani.
Bekas sujud yang melekat di dahi, hidung, lutut, tangan dan kaki anda akan terhindar dari sengatan api neraka.
(حَرَّمَ اللَّهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ مِنِ ابْنِ آدَمَ أَثَرَ السُّجُودِ) رواه البخاري
“Allah mengharamkan atas api neraka untuk menyentuh anggota tubuh manusia yang membawa bekas sujud.” Riwayat Bukhary
Tidakkah anda mengimpikan untuk menjadi salah satu dari orang-orang yang kelak di hari kiamat mulutnya berbau harum bak misk, dan tubuh anda selamat dari sengatan api neraka.?
Saudaraku! Besarkan hatimu dan ridhailah Islam sebagai agamamu, niscaya Allahpun meridhaimu.
Sadarlah, bahwa jalan menuju ke surga penuh dengan duri tajam, dan aral yang melintang. Semoga Allah Ta’ala meneguhkan hati anda dan membulatkan tekad tekad anda, dan menjadikan perjumpaan kita di surga.
Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Amiin, wassalamu’alaikum.
Jika nanti ada yang memberi anda makanan dan minuman pembuka puasa, maka bacalah do’a berikut ini bagi mereka…

Orang yang menerapkan kebenaran, apalagi yang mendakwahkannya dan ingin memperbaiki keadaan, tentu akan banyak menuai celaan dari manusia.
Dan itu adalah sunnatullah yang biasa dialami oleh para pembawa dan pejuang kebenaran.
Tapi ingatlah, Allah berkehendak demikian bukan untuk menghukum mereka yang baik, namun untuk memuliakan mereka dan memberikan banyak pahala.
Semakin berat cobaan yang mereka alami, tentu semakin besar PAHALA yang Allah berikan, dan semakin tinggi kedudukan yang mereka dapatkan.
Oleh karena itu, lupakanlah celaan mereka, dan ingatlah pahalaNya, lalu jauhilah para pencela itu dengan cara yang baik.
Ingatlah perintah Allah kepada Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam-, Sang Pejuang kebenaran:
وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا
“Bersabarlah terhadap apapun yang mereka katakan, dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (Al-Muzzammil:10)
Ya.. kita tidak hanya diperintah untuk bersabar, tapi juga diperintah menjauhi mereka.
Karena dengan itu hati kita akan terjaga, dan kita bisa terus berjalan untuk mendakwahkan kebenaran kepada yang lainnya, wallohua’lam.
Semoga kita bisa teguh dan istiqomah di atas jalan kebenaran, di atas Al Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para salafush shalih, amin.
Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى
1362. BBG Al Ilmu
Tanya :
Ustadz, teman saya baru tau masalah gaya rambut Qoza’ (separuh tebal, separuh dicukur) itu dilarang dalam agama. Profesi teman saya adalah tukang cukur dan customer nya dari kalangan TNI dan sipil juga dan rata-rata gaya rambut mereka seperti itu ustadz, sebahagin saja didepan/atas yang disisakan/tentara, kalau yang sipil ya macam-macam. Apa yang harus dia lakukan bila ada permintaan potongan rambut qoza’ terutama dari kalangan TNI ? Syukran.
Jawab :
Ustadz Irfan Helmi, حفظه الله تعالى
Qoza’ adalah mencukur sebagian rambut kepala dan membiarkan sebagian yang lain. Hukumnya adalah makruh (dibenci).
Dalilnya:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَهَى عَنِ الْقَزَعِ
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam melarang Qoza” (HR. Bukhari & Muslim)
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang anak yang dicukur sebagian rambut kepalanya dan dibiarkan sebagian yang lain, maka beliau melarang perbuatan itu seraya bersabda:
اِحْلِقْهُ كُلَّهُ أَوْ دَعْهُ كُلَّهُ
“Cukurlah semuanya atau biarkan semuanya (tidak dicukur.” (HR Ahmad, Abu Dawud & An-Nasa’I).
Bila ada permintaan dicukur qoza’ dari pihak manapun hendaknya anda tidak penuhi permintaan tsb. Karena akan terkena ayat “walaa ta’awanu ‘alal itsmi wal ‘udwan” (dan janganlah kalian saling bekerjasama dalam perbuatan dosa dan permusuhan).
QS Al-Maidah: 2
Solusi nya, anda bisa mencukur seluruh rambutnya dengan model “cepak” sebagaimana lazim berlaku di kalangan TNI. Dan tidak mengapa membuat sedikit tebal di sebagian rambut kepalanya (misalnya di bagian depan/jambul) karena hal itu TIDAK termasuk kategori qoza’.
Adapun rambut yang dicukur cepak secara merata lalu ada sebagian dicukur habis (gundul) yang biasanya membentuk lekukan “seni” tertentu, maka ini termasuk kategori qoza’ yang dilarang.
والله أعلم بالصواب
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
1361. BBG Al Ilmu
Tanya :
Ustadz, ana (akhwat) punya rambut panjang, terus di ikat, terkadang kan sampai ada yang kelihatan menjulang (rambutnya digulung) jadi seperti ada punuk unta di jilbab, nah itu bagaimana ya ustadz ? Kalau rambutnya panjang tadi. Syukran
Jawab :
Ustadz Irfan Helmi, حفظه الله تعالى
Rambut panjang tidak masalah. Tidak perlu digulung sehingga seperti punuk unta.
Solusi nya, pakailah jilbab yang lebar dan panjang. Agar tidak nampak bila rambut terjurai.
Wallahul muwaffiq.
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
1360. BBG Al Ilmu – 117
Tanya :
Bolehkah jadi imam tarawih dengan membaca ayat-ayat yang diletakkan di depan tempat sujud ? mungkin maksudnya karena tidak hafal sehinga dia baca sambil sholat.
Jawab :
Ulama berbeda pendapat mengenai hukum kasus ini. Sebagian membencinya, dan mayoritas ulama membolehkannya.
Dalam kitab “Qiyam al-Lail wa Qiyam Ramadhan” karya al-Maruzi dinyatakan: Dari Ibnu Abi Mulaikah, bahwa Dzakwan (Abu Amr) –budak yang dijanjikan bebas oleh Aisyah jika beliau (Aisyah) meninggal- mengimami Aisyah dan orang-orang bersama Aisyah di bukan Ramadhan dengan membaca mushaf. (HR. Bukhari secara Muallaq, dan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf)
Imam Ibnu Baz رحمه الله berpendapat bahwa hal semacam ini boleh jika dibutuhkan. Seperti shalat malam ketika Ramadhan yang panjang bagi imam yang tidak hafal Alquran. Hanya saja beliau menyarakan agar imam berusaha untuk menghafalkan Alquran, sehingga tidak perlu membawa Alquran ketika menjadi imam. (Kitab ad-Dakwah, 2:116)
Inilah saran yang tepat, agar kita bisa terbebas dari perselisihan pendapat dan berada di posisi yang lebih selamat.
والله أعلم بالصواب
Ref : http://www.konsultasisyariah.com/imam-shalat-sambil-membaca-mushaf/
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
1359. BBG Al Ilmu – 463
Tanya :
Dalam tausyiah, ustadz mengatakan bahwa setelah taraweh dan witiran bersama imam di masjid, masih bisa sholat tahajjud di pertengahan malam dengan cara :
1. Sholat tahajjud tanpa ada lagi witirnya.
2. Terlebih dahulu menggenapkan witirnya dengan menambah 1 roka’at lagi kemudian mengakhiri lagi tahajjudnya dengan witir.
Yang mana sebenarnya cara yang shahih ustadz ?
Jawab :
Silahkan buka link berikut, penjelasan (audio) dari Ustadz Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى
Klik (dan tunggu hingga muncul audio player) :
https://bbg-alilmu.com/archives/13548
والله أعلم بالصواب
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى
Sobat! Di bulan Ramadhan ini, setiap muslim memiliki tradisi baru yaitu menantikan detik-detik matahari terbenam yang menandai datangnya malam dan kepergian siang. Ada satu alasan anda menantikan terbenamnya matahari, yaitu pada waktu itu anda diizinkan untuk berbuka puasa.
Dan biasanya pula, untuk menyambut terbenamnya matahari ini, istri atau ibu anda menyiapkan menu makanan dan minuman yang lezaat. Terlebih lagi anda menyantap hidangan dan minuman itu setelah sesiangan menahan rasa lapar dan dahaga. Padahal sepenuhnya anda menyadari, tanpa anda nantikan matahari pasti terbenam, dan tanpa istri atau ibunda mempersiapkan hidangan atau minuman, mentari pasti terbenam.
Anda bisa bayangkan, bagaimana perasaan anda bila setelah penantian yang cukup melelahkan, anda membuka tutup saji hidangan yang terletak di meja makan, ternyata anda tidak menemukan secuil makanan dan setetes air minuman. Kira kira, apa dan bagaimana perasaan anda? Kecewa, konyol, marah dan duka yang mendalam,…. Bukankah demikian?
Sobat! Kondisi di atas sejatinya adalah ilustrasi sederhana tentang ajal yang saat ini tidak anda nantikan namun pasti datang menjemput anda. Saat ini, selama anda menjalani kehidupan di dunia, sejatinya anda sedang berpuasa, menahan diri dari berbagai kenikmatan yang menanti anda di surga kelak. Kehidupan dunia ini bagaikan puasa yang saat ini anda jalankan, dan tidak lama lagi mentari kehidupan anda pastilah berakhir dan terbenam. Namun sudahkah anda menyiapkan hidangan lezat dan minuman segar yang akan anda santap setelah anda memejamkan mata kehidupan di dunia dan membuka mata di kehidupan di akhirat?
Bila ibadah puasa dengan menahan diri dari kenikmatan dunia menjadikan anda dan keluarga anda sadar untuk menyiapkan sajian berbuka, maka mengapa selama ini perintah Allah kepada anda untuk menahan diri dari syahwat dan kenikmatan haram seakan belum menggugah anda dari kelalaian panjang dari menyiapkan sajian untuk berbuka di akhirat kelak? Mungkinkah anda lebih siap untuk menahan rasa kecewa dan duka yang akan menimpa anda ketika kelak membuka mata di alam kubur, melebihi kesiapan anda untuk menahan kecewa dan duka karena setelah mentari dunia terbenam anda tidak menemukan secuil hidangan atau setetes minuman?
Renungkan baik baik sobat! Dan simak firman Allah Ta’ala berikut, semoga anda segera terjaga dari kelalaian anda yang telah berkepanjangan:
)أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ(
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al Hadid 16 )