1352. Anak Pindah Agama – Berdosakah Orangtuanya..?

1352. BBG Al Ilmu – 391

TANYA :
Asalamualaikum. Apakah hukum bagi orang tua (muslim) yang anaknya pindah ke nasrani..?

JAWAB :
Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Wa alaikumussalam warohmatullah wa barokatuh.

Pindah agama atau murtad adalah perbuatan yang terkutuk, yang dimurkai Allah Ta’ala, jika orang tua telah memberikan nasihat, menyampaikan jalan yang benar, berupa sekuat tenaga untuk menjaga agama nya, namun sang anak tetap memilih jalan neraka, maka sebagai orangtua tidak dibebankan dosa nya, karena anak memilih jalan sendiri, dan hakikatnya dia bukan anaknya.

Allah Ta’ala berfirman, tentang kisah Nabi Nuh ‘alayhissalaam bersama anak nya yang tidak mengikuti ajaran nya tatkala adzab datang,

” وَنَادَىٰ نُوحٌ رَّبَّهُۥ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ٱبْنِى مِنْ أَهْلِى وَإِنَّ وَعْدَكَ ٱلْحَقُّ وَأَنتَ أَحْكَمُ ٱلْحَٰكِمِينَ ﴿٤٥﴾

“45. Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya..” (Q.S.11:45) ,

kemudian jawaban Allah Ta’ala,

” قَالَ يَٰنُوحُ إِنَّهُۥ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُۥ عَمَلٌ غَيْرُ صَٰلِحٍ ۖ فَلَا تَسْـَٔلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۖ إِنِّىٓ أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ ٱلْجَٰهِلِينَ ﴿٤٦﴾

“46. Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan..” Q.S.11:46)

والله أعلم بالصواب

=======

Berikut adalah jawaban Ustadz Firanda Andirja MA, terkait pertanyaan serupa.

 

1351. Kertas Tulisan Do’a Dalam Dompet…

1351. BBG Al Ilmu

Tanya :
Ustadz, ana punya tulisan do’a buka puasa/setelah makan dan saya taruh di dompet agar mudah mempelajarinya. Yang saya mau tanyakan, dompet itu biasanya ada di saku belakang, dan dompet yang ada do’a-do’a tadi otomatis terduduki juga, apakah ini dosa ustadz ? Syukron ustadz

Jawab :
Ustadz Irfan Helmi, حفظه الله تعالى

Itu tidak mengapa, sepanjang anda tidak berniat melecehkan do’a-do’a tersebut.

Anda berdosa jika tahu bahwa yang anda duduki adalah ayat-ayat Al-Qur’an. Karena kita diwajibkan untuk menghormati dan mengagungkan Al-Qur’an (ta’zhimul Qur’an). Wallahul muwaffiq.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Nasehat…

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, was sholaatu was salaamu ala Rosulillah, wa ba’du :

Sesungguhnya perkara yang paling utama, amalan yang paling agung, urusan yang sepatutnya kaum mukminin berlomba-lomba, adalah memberikan nasihat, mengingatkan orang yang lupa, memberikan teguran kepada orang yang berbuat kesalahan, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَذَكِّرْ فَإِنَّ ٱلذِّكْرَىٰ تَنفَعُ ٱلْمُؤْمِنِينَ

” Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S.51 Adz-Dza’riyat : 55)

Sebaik – baik nasihat ,wasiat dan peringatan adalah menyampaikan ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana Lukman ber wasiat kepada putra – putra nya, yang berisikan kebajikan urusan dunia dan akhirat, wasiat pertama kali yang disampaikan adalah memperingatkan dari terjerumus ke dalam dosa syirik, yaitu mempersekutukan Allah Ta’ala dengan makhluk, menyelewengkan jenis ibadah kepada selain Allah Ta’ala, mengharapkan sesuatu manfaat, menolak suatu mudhorot, menyeru dan berdoa kepada selain Allah Ta’ala, baik kepada malaikat, orang saleh, jin, kuburan, pohon, batu dan selainnya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (Q.S.31 Lukman:13)

قُلْ أَرَءَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَرُونِى مَاذَا خَلَقُوا۟ مِنَ ٱلْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ ۖ ٱئْتُونِى بِكِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ هَٰذَآ أَوْ أَثَٰرَةٍ مِّنْ عِلْمٍ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ

” Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit?…..

MUTIARA SALAF : Agar Pahala Puasa Anda Terjaga, Maka Berpuasalah Dari DOSA

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Orang yang berpuasa adalah orang yang anggota badannya berpuasa dari dosa-dosa..

lisannya berpuasa dari kedustaan, kekejian, dan penipuan..

Perutnya berpuasa dari makanan dan minuman..

Kemaluannya berpuasa dari tindakan keji.

Sehingga bila berbicara; dia tidak berbicara dengan sesuatu yang dapat menodai puasanya, dan apabila berbuat; dia tidak berbuat sesuatu yang dapat merusak puasanya..

Sehingga semua perkataannya bermanfaat dan baik, begitu pula amal-amalnya..

Dia seperti bau yang dicium oleh orang yang duduk bersama orang yang membawa parfum misik..

Begitu pula orang yang duduk bersama orang yang berpuasa, dia akan mendapatkan manfaat dari duduk bersamanya, dia juga akan selamat saat duduk bersamanya dari kata tipuan, kedustaan, kekejian dan kezaliman..

Inilah puasa yang disyariatkan, bukan hanya sekedar menahan diri dari makanan dan minuman..

Jadi, puasa adalah puasanya anggota badan dari dosa dan puasanya perut dari makanan dan minuman..

Maka, sebagaimana makanan dan minuman bisa membatalkan puasa dan merusaknya, begitu pula dosa bisa membatalkan pahalanya dan merusak buahnya, sehingga dia seperti orang yang tidak berpuasa..”

[Alwabilush Shoyyib, hal 32-32]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Manfaatkan Bulan Ramadhan Ini Sebaik-Baiknya

Bismillah.

Generasi ulama as-salafus sholih merupakan generasi yang paling agung dan utama dari umat Islam sebagaimana yang dikabarkan Oleh Allah dan Rasul-Nya di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka adalah generasi yang paling lurus aqidah dan manhajnya, paling baik ibadah dan akhlaknya, serta paling semangat dalam memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata:

“Barangsiapa yang ingin mengambil teladan, maka teladanilah (petunjuk) orang-orang mukmin yang telah meninggal dunia (yakni Nabi shallallahu alaihi wasallam bersama para sahabat, pent), sebab orang yang masih hidup tidak (ada jaminan) aman dari tertimpa fitnah (syahwat maupun syubhat, pent)..”

(Lihat Tafsir Al-Baghowi I/284, I’lamul Muwaqqi’iin karya Ibnul Qoyyim II/202-203, Ighotsatul Lahfan I/159, Madarijus Salikin III/436).

Jadi, dalam memahami dan mengamalkan syari’at Islam yang sempurna ini, hendaknya kita meneladani dan menggabungkan diri kita hanya bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam, para sahabat, dan para ulama yang setia mengikuti jejak mereka dengan baik. Bukan dengan cara menggabungkan diri bersama Si fulan dan Si Alan, atau kelompok ini dan kelompok itu.

Berikut ini adalah perkataan dan sikap para ulama as-salafus sholih terhadap waktu.

1. Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Tidaklah aku menyesal terhadap sesuatu sebagaimana menyesalku ketika pada hari yang matahari telah tenggelam sementara umurku berkurang padahal amalanku tidak bertambah pada hari itu..”

2. Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Para penghuni Surga tidaklah menyesal melainkan karena suatu waktu yang pernah mereka lalui (ketika di dunia) tanpa berdzikir kepada Allah azza wajalla..” (Lihat Al-Wabilu Ash-Shoyyib, Hal.59).

3. Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu juga berkata: “Sesungguhnya setiap majlis yang mana seorang hamba Tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, maka majlis itu Akan menjadi penyesalan baginya pada hari Kiamat..” (Lihat Al-Wabilu Ash-Shoyyib, Hal.59).

4. Al-Hasan Al-Bashri rohimahullah berkata: “Wahai anak Adam! Sesungguhnya kamu itu adalah seperti hari-hari, jika satu hari telah pergi, maka telah hilanglah sebagian dari dirimu..”

5. Al-Hasan Al-Bashri rohimahullah juga berkata: “Wahai anak Adam! Waktu siangmu adalah tamumu, maka berbuat baiklah kepadanya, karena sesungguhnya jika kamu berbuat baik kepadanya, dia akan pergi dengan memujimu, dan jika kamu bersikap jelek padanya, maka dia akan pergi dalam keadaan mencelamu, demikian juga waktu malammu..”

6. Al-Hasan Al-Bashri rohimahullah juga berkata: “Dunia itu ada tiga hari: (1) Adapun kemarin, maka dia telah pergi dengan amalan-amalan yang kamu lakukan padanya, (2) adapun besok, mungkin saja kamu tidak akan menjumpainya lagi, (3) dan adapun hari ini, maka ini untukmu, maka beramallah pada saat itu juga..”

7. Mu’awiyah bin Qurroh rohimahullah berkata: “Manusia yang paling berat hisab (penghitungan Amal)nya pada hari kiamat ialah orang sehat yang memiliki waktu luang (namun ia tidak menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat, pent)..” (Lihat Iqtidhoul ‘Ilmi Al-‘Amal, Hal.103).

8. As-Suri bin Al-Muflis rohimahullah berkata: “Jika kamu merasa sedih karena hartamu berkurang, maka menangislah karena berkurangnya umurmu..”

9. Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata: “Menyia-nyiakan waktu itu lebih dahsyat daripada kematian. Karena Menyia-nyiakan waktu Akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian itu hanya akan memutuskanmu dari kehidupan dunia dan para penghuninya.” (Lihat Al-Fawa’id, Hal.44).

Demikian faedah ilmiyah Dan mau’izhoh Hasanah yang dapat kami sebutkan pada hari ini. Semoga kita semua bisa meneladani generasi as-Salafus Sholih dalam memanfaatkan sisa umur kita di dunia ini dengan sebaik-baiknya. Amiin.

Ditulis oleh,
Ustadz Muhammad Wasitho MA, حفظه الله تعالى

(Klaten, 1 Romadhon 1436 H).

Marhaban…

Ustadz Djazuli, حفظه الله تعالى

Bismillah,

Saudaraku..

Dalam hitungan jam ke depan إن شاء الله kita akan kembali memasuki bulan Ramadhan.

Suatu hari Nabi صلى الله عليه وسلم pernah keluar menemui para Shahabatnya dan bersabda:

اتاكم شهر مبارك

Telah datang pada kalian bulan yang diberkahi.
(HR.An Nasaa’i no.2106,dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dlm Shahihut Targhib no.999).

Berdasarkan hadits tadi sebagian Ulama (seperti Imam Suyuthi dalam kitabnya “Wushuul Amaanii fii Ushuulit Tahaanii”,dan juga Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali-rahimahumallah) berpendapat disunnahkannya untuk memberikan ucapan selamat (tahni’ah) ketika memasuki bulan Ramadhan.

Syaikh ‘Ali Hasan Al-Halaby hafizhahullah, mengatakan sebagian ‘Ulama lainnya juga membolehkan ucapan:

بارك الله لكم في هذا الشهر

Semoga Allah memberkahi kalian semua di bulan ini.

Oleh karenanya, saya juga ikut berdoa:

بارك الله لنا و لكم في هذا الشهر

Semoga Allah memberkahi kita semua semua di bulan ini

Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita semua dalam menjalankan ibadah di bulan yang mulia ini.

Menjadikan siangnya untuk puasa, malamnya untuk Qiyamul lail, membaca Al Qur’an, shadaqah dan juga yang lainnya..

Allahumma Aamiin

Sumber:
(Ceramah Syaikh ‘Ali Hasan Al-Halaby yang berjudul “Min Fiqhis Shiyaam”).

Kami sekeluarga menghaturkan,

بارك الله لنا و لكم في هذا الشهر

Semoga Allah memberkahi kita semua semua di bulan ini.

Istri-istri Kejam! Lebih Cinta Kepada Kulkasnya Dibanding Suaminya…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Bulan ramadhan adalah momentum istimewa untuk membuktikan nilai nilai ketakwaan kepada Allah dan kasih sayang kepada sesama manusia. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang orang sebelum kalian niscaya kalian menjadi orang orang yang bertaqwa.”  (Al Baqarah 183 )

Namun demikian, betapa disayangkan, pada kenyataannya, kini bulan Ramadhan malah menjadi momentum bagi sebagian kaum wanita untuk membuktikan kekejamannya kepada suami dan anak-anaknya.

Anda tidak percaya? Atau barang kali sebagia wanita, anda merasa tersinggung dengan ucapan ini?

Sobat! Izinkan saya membuktikannya, betapa banyak di bulan Ramadhan kaum ibu/wanita yang berkata kepada suami atau anak anaknya: “ayolah ayah, habiskan sisa hidangan yang tinggal sedikit, jangan sampai menuh menuhi kulkas kita”.
” ayolah nak, habiskan hidangannya, ibu malas kalau menyimpannya lagi di kulkas, kulkasnya sudah penuh.”

Anda pernah berkata demikian? Atau pernahkah istri saudara mengatakan demikian?

Sekilas nampak mencerminkan rasa sayang, namun sejatinyan menyimpan kekejaman yag luar biasa. Betapa tidak, istri atau ibu itu tanpa sadar lebih senang bila perut dan tubuh suami atau anak anak ya menjadi tempat penimbunan makanan yang tidak habis, namun mereka tidak rela bila kulkasnya dipenuhi atau terus menjadi tempat menimbun/menyimpan sisa makanan.

Akibatnya, di bulan ramadhan banyak orang yang kekenyangan& bisa jadi kolesterol dan gula darahnya meningkat.

Romadhan yang sehatusnya melatih kita untuk emngurangi konsumsi makan dan minum namun faktanya malah melipatgandakan jumlah makanan dan minuman yang kita santap. Mungkin inilah salah satu biang yang menjadikan kita merasa bahwa ramadhan terasa hampa.

Walau Carut Marut, Namun Mentari Harapan Pasti Bersinar…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat! Carut marutnya negri kita atau centang berentangnya masyarakat anda, bukanlah alasan bagi anda untuk pesimis, apalagi menyombongkan diri dengan merasa bahwa hanya anda yang benar atau selamat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

” إذا قال الرجل: قد هلك الناس، فهو أهلكهم

Bila ada orang yang berkata: semua masyarakat telah binasa, maka dialah sejatinya orang yang paling binasa. ( Ahmad dan lainnya )

Seburuk apapun kondisi yang ada, maka percayalah banyak kebaikan yang masih menyelimuti kehidupan kita. Bahkan bila direnungkan dengan baik, setiap keburukan yang terjadi maka sejatinya itu adalah nikmat dari sisi lain. Semuanya itu sederhana saja, yaitu dari mana anda memikirkan dan memandang kondisi yang ada? Bila anda memandangnya dari sudut yang negatif maka nampak negatif, namun bila anda memandangnya dari sisi yang positif, maka sekejap semuanya berubah menjadi nikmat dan indah.

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal hal itu adalah baik untuk kalian, dan bisa jadi kalian mencintai sesuatu padahal hal itu adalah buruk bagi kalian. Dan allah mengetahui sedangkan kalian tidaklah mengetahui. ( Al Baqarah 216 )

Di saat anda ditipu seseorang, sesaat terasa menyakitkan, namun ketahuilah bahwa kejadian itu membawa sejuta kebaikan, anda menjadi lebih waspada dan mengenali bahwa orang yang selama ini anda puja dan sanjung ternyata musang berbulu domba, sehingga esok hari anda tidak tertipu untuk kedua kalinya. Karena itu dahulu Nabi shalallallahu alaihi wa sallam selalu memuji Allah atas segala kondisi yang menimpa beliau.

Tugas Dalam Sisa Waktu Di Bulan Sya’baan Untuk Menyambut Ramadhan…

Ustadz Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى

Berapakah umur anda?
Berapa Ramadhan yang telah anda temui?

Apakah seseorang yang sudah 20 tahun bertemu dengan Ramadhan memiliki perasaan yang sama dengan seorang muallaf yang akan menjumpai Ramadhan pertamanya sebagai seorang muslim?

* Kaidah mengatakan:

كثرة المساس تميت الاحساس

“Seringnya berinteraksi bisa mematikan sensitifitas”.

Dari kaidah diatas tahulah kita betapa pentingnya bagi kita yang sudah sering kali bertemu dengan bulan suci umat Islam, bulan penuh rahmat dan keberkahan, bulan penuh magfiroh dan ampunan, untuk tetap menjaga semangat kita agar tidak cenderung bosan dalam menyambut bulan istimewa ini.

Namun tahukah anda bahwa bulan yang sangat mulia ini ternyata bisa membuat kita celaka?

* Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رغم أنف رجل دخل عليه رمضان ثم انسلخ قبل أن يغفر له

“Celakalah seseorang yang memasuki bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan dalam keadaan tidak diampuni dosanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’aala”.
[Hadits Imam Muslim]

Bulan suci Ramadhan bagaikan pisau bermata dua, yang apabila kita tidak memanfaatkannya maka akan membuat kita celaka. Berikut adalah PR (pekerjaan rumah) di akhir hari-hari Sya’ban untuk mensiasati penyambutan kita terhadap bulan Ramadhan :

1. PEMANASAN

Bulan Ramadhan adalah BULAN PERLOMBAAN BAGI AHLI TAQWA.

* Allah Subhanahu wa Ta’aala berfirman:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan”.
[QS. Al-Baqarah: 148]

Allah-lah yang menyatakan bahwa kebaikan adalah suatu perlombaan. Bagaikan seorang atlit yang akan bersiap untuk berlomba, seorang muslim harus bersiap untuk perlombaan di bulan penuh keberkahan.

Biasakanlah kembali membaca Al-Qur’an yang sudah lama tidak kita sentuh, bangunlah pada malam hari dan perpanjang durasi sholat malam anda, jadikan siang anda dalam keadaan berpuasa, amalkan amalan-amalan sunnah agar anda terbiasa ketika memasuki bulan Ramadhan.

2. KUMPULKAN ILMU YANG KOMPLIT TENTANG BULAN RAMADHAN

* Allah Ta’aala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya”.
[QS. Al-Israa: 36]

* Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

العلم قبل القول و العمل

“Ilmu sebelum perkatan dan perbuatan”.
[Hadits Shahih Bukhori]

Kumpulkanlah ilmu mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan,
kewajiban-kewajibannya, sunnah-sunnahnya, hal-hal yang membatalkan puasa, dsb.

3. MEMPELAJARI HIKMAH AMALAN DI BULAN RAMADHAN

* Imam Al-Qurtubi mengatakan bahwa, ‘salah satu faktor kegagalan seseorang yang sudah beribadah adalah ketidaktahuannya.

Maka kita harus mencari hikmah dibalik amalan-amalan di bulan suci Ramadhan. Misalnya, sebagaimana kita menjaga diri kita dari perbuatan maksiat ketika berpuasa, Ramadhan mengajarkan kepada kita bahwa dalam kehidupan ini kita harus memiliki rem untuk perbuatan maksiat.

4. PERBANYAK ISTIGFAR DAN TAUBAT

Pernahkah anda merasa bahwa semakin hari ibadah Ramadhan anda semakin tidak maksimal? Bukankah semakin hari jamaah sholat subuh di masjid semakin maju, dikarenakan makmumnya hanya tinggal satu shaff ?

* Simak baik-baik firman Allah Ta’alaa berikut:

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”. [QS. Al-Mutoffifiin: 14]

Ma syaa Allah, ternyata yang membuat kita cepat merasa capek dalam melaksanakan ibadah adalah beban dosa yang menutupi hati kita. Maka perbanyaklah istigfar dan bertaubat sebelum dan ketika memasuki Ramadhan.

5. TAWAKKAL KEPADA ALLAH

* Allah Subhanahu wa Ta’aala berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mewujudkan cita-citanya”. [QS. At-Talaq: 3]

Bertawakallah kepada Allah dalam menjalani ibadah bulan suci Ramadhan, dan janganlah mengandalkan diri kita. Sebagaimana bacaan doa dzikir pagi dan petang yang diajarkan Rasulullaah shallaahu ‘alaihi wa sallam:
يَا حَيُّ يَا قَيُّومْ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِي كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, Wahai Rabb Yang Maha Berdiri sendiri, dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala keadaan dan urusanku dan jangan Engkau serahkan kepadaku meski sekejap mata sekalipun (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu)”.

6. DOKTRIN DIRI KITA BAHWA BISA JADI INI ADALAH RAMADHAN TERAKHIR KITA

Perbanyaklah mengingat bahwa bisa jadi ini adalah Ramadhan terakhir kita. Ingat akan hal ini saat canda tawa keluarga menghiasi waktu berbuka anda, saat bangun anda untuk bersahur, saat sujud anda dalam sholat tarawih, saat kebahagiaan menghiasi hati anda ketika bersedekah, syukuri setiap momen dalam bulan ini karena bisa jadi anda tidak akan pernah menjumpainya lagi.

7. BUAT TARGET IBADAH RAMADHAN

Berapa kali anda ingin khatam Al-Qur’an di bulan ini? Berapa lembar yang harus anda baca dalam sehari untuk mencapai target khatam anda? Buatlah jadwal untuk membantu menuntaskan target tersebut, dan korbankanlah aktifitas dunia di bulan Ramadhan, seperti mengurangi jadwal berbuka puasa bersama yang mengurangi waktu anda dalam beribadah di bulan dimana Allah membuka segala pintu kebaikan, dan meminimalisir segala bentuk kemaksiatan.

Sumber :
Catatan seorang jama’ah dalam kajian ‘Meet and Greet Ramadhan’ yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri حفظه الله تعالى pada hari Rabu 10 Juni 2015, dan disaksikan langsung oleh Admin.

Menebar Cahaya Sunnah