1335. Makanan Kemasan Tanpa Label ‘HALAL’

1335. BBG Al Ilmu

Tanya :
Ustadz, jika ada makanan kemasan yang belum ada label halal-nya. Tapi dari daftar ‘ingredient’ (komposisi produk) tidak ada yang berasal dari yang haram, apakah boleh dikonsumsi ?

Jawab :
Ustadz Irfan Helmi, Lc, حفظه الله تعالى

Boleh saja. Karena hukum asal makanan itu boleh dimakan sampai ada dalil atau indikasi yang menunjukkan keharamannya atau (minimal) syubhat.

Cuman masalahnya, banyak perusahaan yang TIDAK mencantumkan komposisi produknya secara utuh dan jujur.
والله المستعان
والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Antara Syi’ah, Sunnah, Atau Liberal ?!… Bantahan Atas Ceramah Pengasuh Radio RASIL

Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Berikut ini beberapa kritikan terhadap ceramah Habib Husain Al-Atas –semoga Allah memberi petunjuk kepadanya-, yang disampaikan oleh beliau dalam kajian acara renungan dibawah naungan al quran dari surat Al Arof ayat 181-188 bersama ust Husin Alatas pada hari selasa tanggl 12 mei 2015 jam 08.00  dan disiarkan ulang jam 22.00 (silahkan download di https://goo.gl/k71wCL)

Penulis merasa penting untuk menyampaikan kritikan ini mengingat isi ceramah beliau bertentangan dengan pokok akidah umat Islam.

Baca selengkapnya :

http://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/901-habib-husain-al-atas-pengasuh-radio-rasil-antara-syi-ah-sunnah-atau-liberal

1334. Mau Menikah Dengan Wanita Ahlul Kitab Yang Tetap Mempertahankan Keyakinannya…

1334. BBG Al Ilmu – 399

Tanya :
Apakah Pria muslim boleh menikah dengan Wanita Yahudi atau Nashoro, dan si wanita tetap mempertahankan keyakinannya. Mohon bisa dilampirkan juga dalilnya untuk dapat meyakinkan si Pria.

Jawab :
Ustadz Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى

Bila seseorang menikahi wanita ahlul kitab, maka dia mempunyai tugas besar meng-ISLAM-kan istrinya. Dia harus dakwahi istrinya dari hari pertama hingga hari terakhir (pernikahannya) karena Allah berfirman dalam Surat At-Tahrim ayat 6 (yang artinya) : ”Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari siksa api neraka.”

Maka begitu menikah dengan wanita ahlul kitab, PR besar menanti sang suami  : dia harus menyelamatkan istrinya dari siksa api neraka… bukan didiamkan begitu saja.

Apabila istrinya tetap menjadi seorang nasrani saat meninggal dunia karena kelalaian dan kekurangan waktu sang suami untuk mendakwahi istrinya atau bahkan sang suami tidak mendakwahi istrinya sama sekali, maka dia akan ditanya kelak di hadapan Allahu Ta’ala karena tidak mengamalkan Surat At Tahrim ayat 6 diatas. Apalagi jika salah satu anaknya mengikuti agama ibunya, sang suami kelak akan di azab Allah karena ayat yang sama.

Betul sebagian sahabat menikah dengan wanita ahlul kitab namun pada faktanya istri-istri mereka kemudian masuk Islam.

Ref :
Ref : https://bbg-alilmu.com/archives/13203

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1333. Ikut Sunat Masal Saat Acara Isro’ dan Mi’roj…

1333. BBG Al Ilmu – 491

Tanya :
Assalamu’alaykum. Mau tanya, Ada perayaan isra mi’raj, dalam perayaan itu ada acara sunatan masal. Bagaimana hukum ikut sunatan masal tersebut ? Halalkah?

Jawab :
Ustadz Irfan Helmi, حفظه الله تعالى

Sebaiknya dihindari. Karena secara tidak langsung, Anda telah ikut memeriahkan perayaan bid’ah tersebut. Padahal Allah Ta’ala berfirman :

ولا تعاونوا على الٳثم والعدوان

“Janganlah kalian saling bekerja sama dalam perbuatan dosa dan permusuhan” (QS Al Maidah: 2)

Lagi pula, khitan (sunat) tidak perlu menunggu diadakan acara sunatan massal. Wallahul muwaffiq.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1332. Siapakah Imam Ath-Thobroni ?

1332. BBG Al Ilmu – 153

Tanya :
Ustadz, mau bertanya
Siapakah Thobroni itu ? Apakah dia termasuk imam, ulama atau syaikh? Dan beliau hidup pada tahun berapa ?

Jawab :
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Imam At-Thobrony rohimahullah adalah imam besar dan ulama serta pakar hadist, kitab-kitab Nya sangat terkenal di antara nya mu’jam shoghir, mu’jam ausath, dan mu’jam kabir. Disana terdapat puluhan ribu hadist.

Tambahan :
Nama beliau adalah Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub bin Mathir Al-Lakhamy Asy-Syami Ath-Thobroni, panggilan/kunyah beliau : Abul Qosim.

Beliau dilahirkan di tahun 260 Hijriyah di tengah keluarga terhormat dari kabilah Lukham suku di Yaman.

Adz-Dzahabi rohimahullah mengatakan : “Ath-Thobroni adalah seorang Imam, Al-Hafizh, tsiqoh, ulama yang banyak melakukan perjalanan, ahli hadits dan bendera para penyeberang lautan ilmu. Pertama kali ia mencari ilmu pada tahun 273 Hijriyah saat usianya 13 tahun. Ath-Thobroni hidup selama 100 tahun lebih sepuluh bulan di Asfahan. (Dinukil dari “60 Biografi Ulama Salaf”, Syaikh Ahmad Farid, hal: 634-640)

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Katanya

Katanya, kita harus SEIMBANG antara mencari dunia dan mencari akherat.

Padahal Allah berpesan untuk lebih mendahulukan dan mementingkan akherat. Renungkanlah firmanNya:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Carilah negeri AKHERAT pada nikmat yang diberikan Allah kepadamu, tapi jangan kamu lupakan bagianmu dari dunia..” [QS. Al-Qosos:77].

Jujurlah, mungkinkah Anda menyeimbangkan antara dunia dan akherat..?! Sungguh, seakan itu hal yang mustahil..

Yang ada: mendahulukan dunia, atau mendahulukan akherat, dan yang terakhir inilah yang Allah perintahkan.

Makanya, Allah berfirman dalam ayat lain:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidaklah ciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah hanya kepada-Ku..” [QS. Adz-Dzariyat: 56].

Ini menunjukkan bahwa ibadah adalah tujuan UTAMA kita diciptakan.

Jika demikian, pantaskan kita seimbangkan antara tujuan utama dengan yang lainnya..?!

Bahkan dalam do’a “sapu jagat” yang sangat masyhur di kalangan awam, ada isyarat untuk mendahulukan kehidupan akherat:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, juga kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka..”

Di sini ada 3 permintaan :

– SATU permintaan untuk kehidupan dunia, dan

– DUA permintaan untuk kehidupan akherat

Inilah isyarat, bahwa kita harus lebih memikirkan kehidupan akherat, wallohu a’lam.

Semoga bermanfaat, amin…

Penulis, 
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah