Amalan Yang Mendekatkan Ke Surga

(MUSLIM – 15) : Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya at-Tamimi telah mengabarkan kepada kami Abu al-Ahwash. (dalam riwayat lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu al-Ahwash dari Abu Ishaq dari Musa bin Thalhah dari Abu Ayyub dia berkata,

“Seorang laki-laki mendatangi Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, seraya bertanya, ‘Tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang mendekatkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka..?’

Beliau menjawab:
– kamu menyembah Allah,
– tidak mensyirikkan-Nya dengan sesuatu apa pun,
– mendirikan sholat,
– menunaikan zakat,
– menyambung silaturrahim dengan keluarga.

Ketika dia pamit maka Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika dia berpegang teguh pada sesuatu yang diperintahkan kepadanya niscaya dia masuk surga’..” Dan dalam suatu riwayat Ibnu Abu Syaibah, “Jika dia berpegang teguh dengannya..”

Abu Ayyub Khalid bin Zaid bin Kulaib Al Anshari, shahabat besar yang ikut perang badar.

FAWAID HADITS

1. Mengharapkan surga dalam ibadah adalah perkara yang dilakukan oleh Rosulullah dan para shahabatnya, tidak seperti yang disangka sebagian orang bahwa kita ibadah hanya berharap ridho Allah saja bukan surga-Nya. Ini adalah kebodohan yang jelas.

2. Para shahabat selalu bertanya tentang amal yang dapat memasukkan ke surga dan menjauhkan dari Neraka, karena itu yang menjadi kesibukkan dan keinginan terbesar mereka.

3. Tauhid adalah perkara terbesar yang memasukkan seseorang ke dalam surga.

4. Pentingnya menjaga silaturahim, dan ia termasuk amal yang dapat memasukkan pelakunya ke dalam surga. Sebaliknya orang yang memutuskannya tidak masuk surga.

5. Amal-amal yang disebutkan oleh Nabi adalah induk amalan lain dan pembuka, karena bila kita dapat menjaga amal-amal diatas, maka memberi kekuatan untuk menjaga amal lainnya.

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

JANGAN Hizbiyah…

Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى

Alhamdulillah..

Banyak saudara/i kita yang berlomba kepada kebaikan..
Tuk menebar sunnah..
Mengajak manusia kepada jalan Allah..
Majelis majelis taklim merebak..
Grup – grup BB merambah..
Berbagai media telah menjadi wasilah..

Namun..

Ada sesuatu..

Terkadang kita terkena ujub..

Merasa telah berjasa untuk dakwah..

Padahal..
Kalau bukan karena Allah yang memberi hidayah..
Tentu kita tersesat jalan..

Robbuna berfirman:
بمنون عليك أن أسلموا قل لا تمنوا علي إسلامكم بل الله يمن عليكم أن هداكم للإيمان

“Mereka mengungkit keislaman mereka kepadamu. Katakan, “Janganlah kamu mengungkit keislaman kalian kepadaku, tetapi Allahlah yang memberikan kepada kalian hidayah kepada iman.” (Al Hujurot: 17).

Pujilah Allah atas nikmat hidayah sunnah..
Pujilah Allah yang telah memberi kekuatan menebar sunnah..

Ada sesuatu lain..

Ya.. Ini juga penting..

Radio, televisi, grup BBM, facebook dan sebagainya..

Hanyalah wasilah dan bukan tujuan..

Namun..

Terkadang kita berbangga dengan nama…
Sehingga menjerat kita dalam tali hizbiyyah..

Padahal Allah Ta’ala berfirman:

ولا تكونوا من المشركين من الذين فرقوا دينهم وكانوا شيعا كل حزب بما لديهم فرحون

“Janganlah kalian seperti kaum musyrikin. Orang-orang yang memecah belah agama dan mereka menjadi berkelompok-kelompok. Setiap kelompok berbangga dengan apa yang ada pada mereka.” (Ar Ruum: 31-32).

Inilah hakikat hizbiyyah..
Berbangga dengan nama organisasi..
Berbangga dengan ustadz fulan..
Berbangga dengan radio anu..
Lalu memberikan loyalitas dan permusuhan di atasnya..
Musibah.. Saudara/i ku..

Itu adalah sebagian kecil dari penyakit dakwah..
Yang merusak pejalanan mulia ini..
Semoga keberkahan selalu menyapa kita di hari ini..
Amiin..

Ketika ISLAM Berjaya…

Ustadz Abu Sa’ad Muhammad Nurhuda, حفظه الله تعالى

Ketika kita berjaya…

Surat dari Kaisar Romawi kepada Mu’awiyah: “Kami mengetahui apa yang terjadi antara kalian dengan Ali bin Abi Tholib, dan menurut kami, kalian-lah yang lebih berhak menjadi khalifah dibanding dia (Ali bin Abi Thalib). Kalau kamu mau, akan kami kirimkan pasukan untuk membawakan kepadamu kepala Ali bin Abi Thalib.”

Mu’awiyah menjawab surat tersebut: Dari Muawiyah kepada Heraklius (Hiroql): “Apa urusanmu ikut campur urusan dua saudara yang sedang berselisih? Kalau kamu tidak diam, akan aku kirimkan pasukan kepadamu, pasukan, yang mana bagian terdepan berada di tempatmu dan yang terakhir berada ditempatku ini, yang akan memenggal kepalamu dan membawakannya kepadaku, dan akan aku serahkan ke Ali.”

Ketika kita berjaya…

Khalid bin Walid mengirim surat kepada Kaisar Persia: “Peluklah agama Islam maka kalian akan selamat, atau akan aku kirimkan kepadamu pemuda yang cinta kematian sebagaimana kalian yang cinta dunia.”

Ketika membaca surat tersebut, Kaisar menyurati Raja Cina dan memohon bantuan darinya, maka Raja Cina menjawab surat tersebut: “Wahai Kaisar, aku tak sanggup menghadapi kaum yang andaikata mereka ingin memindahkan gunung, maka akan dipindah gunung tersebut.”

Ketika kita berjaya…

Di era pemerintahan Utsmaniyyah (Othoman), ketika kapal-kapal Utsmaniyyah melintasi pelabuhan Eropa, gereja-gereja berhenti membunyikan lonceng mereka karena takut dengan kaum Muslimin, mereka takut kota mereka ditaklukkan kaum Muslimin.

Ketika kita berjaya…

Dikisahkan pada zaman dahulu, seorang pendeta Italia berdiri di salah satu lapangan di sebuah kota disana, dalam pidatonya ia mengatakan: sangat disayangkan sekali kami melihat pemuda kaum nasrani mulai meniru kaum Muslimin Arab dalam gaya berpakaian mereka, gaya hidup mereka, dan cara berpikir mereka, sampai-sampai bila ada yang ingin berbangga dihadapan pasangannya, ia mengatakan kepada pasangannya “uhibbuki” dengan menggunakan bahasa Arab, dia ingin menunjukkan kepada pasangannya betapa gaulnya ia dan betapa terpelajarnya dirinya karena mampu berbicara bahasa Arab.

Ketika kita berjaya…

Pada era pemerintahan Utsmaniyyah, di depan setiap rumah terdapat dua buah palu, palu kecil dan palu besar, ketika diketuk palu yang besar, semua yang di dalam rumah mengerti bahwa yang mengetuk adalah seorang lelaki, maka salah seorang lelaki pula-lah yang membukakan pintu. Dan ketika diketuk palu yang kecil, semua yang di dalam rumah mengerti bahwa yang mengetuk adalah seorang wanita, maka salah seorang wanita-lah yang membukakan pintu. Dan ketika di dalam rumah ada yang sakit, digantung bunga merah, yang dengan itu para tamu kalau di dalamnya terdapat orang sakit dan dengan itu tidak menimbulkan suara yang mengganggu orang sakit tersebut.

Ketika kita berjaya…

Pada malam peperangan Haththin, di mana ketika itu kaum Muslimin merebut kembali Baitul Maqdis dan mengalahkan kaum salibis, komandan perang Sholahuddin Al-Ayyubi berpatroli memeriksa kondisi kemah pasukannya, ia mendengar salah satu tenda para pasukannya sedang qiyamullail dan sholat malam, dan tenda lainnya sedang berdzikir kepada Allah, dan tenda lainnya sedang dipenuhi lantunan ayat suci Al-Qur’an, sampai suatu saat ia melewati tenda yang mana para pasukan di dalamnya sedang tertidur lelap, lalu ia mengatakan kepada orang-orang yang bersamanya: melalui pasukan ini kita akan kalah…!

Yaa Allah, kembalikanlah kejayaan Islam…

Tidak Semua Prasangka Atau Kecurigaan Itu Buruk…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Sebagai seorang muslim, kita dituntut cerdas, cerdik, dan waspada… Oleh karenanya, bila kita melihat gelagat yang mencurigakan, sudah sepantasnya kita curiga dan waspada.

Allah ta’ala telah berfirman yang artinya:

“Sungguh SEBAGIAN prasangka adalah tindakan dosa”. [Al-Hujurot:12].

Imam Qurthubi -rohimahulloh- mengatakan:

“Para ulama kami mengatakan bahwa yang dimaksud ‘prasangka’… dalam ayat tersebut adalah tuduhan, dan sasaran ancaman dan larangan untuk tuduhan itu hanya pada tuduhan yang tidak ada dasarnya, seperti orang yang menuduh orang lain berzina atau meminum khomr, padahal tidak tampak padanya sesuatu yang menunjukkan hal itu”. [Tafsir Qurthubi: 16/331].

Dan ini bukan berarti kita boleh memata-matai saudara kita, tanpa ada sesuatu yang mendesak kita melakukannya.

Karena Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah melarang kita memata-matai saudara kita dan menguping pembicaraan yang ingin disembunyikannya. [Muttafaqun Alaih, Bukhori: 5143, Muslim: 2563.

Intinya:

CERDASLAH dalam menilai keadaan, adakalanya kita harus ber-husnuzhon, dan adakalanya kita harus ber-su’uzhon kepada orang lain… Di sisi lain, jangan sampai kita memata-matai saudara kita bila tidak ada sesuatu yang membolehkan dan mendesak kita melakukannya. wallohu a’lam.

Ingin Menikah Dengan Sesama Salafi ?…

Almanhaj

Redaksi Ykh
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu
Saya sorang akhwat, saya seorang salafi walau masih banyak kelemahan. Saya sudah cukup untuk menikah, dan ada yang meminang, namun dia bukan salafi. Bahkan di antara kami ada perbedaan prinsip. Sebenarnya saya ingin sekali menikah dengan sesama salafi, apalagi saya banyak memiliki kelemahan dan kekurangan sebagai salafi, dan di daerah kami, salafi sangat sedikit. Itupun kerabat. Apa saya terima pinangan ikhwan tersebut? Atau sebaiknya saya harus bagaimana? Mohon bantuannya, dan jazakumullah khairan.

Akhwat
081321xxxxxx

Jawab :
Permasalahan Saudari kami khawatirkan didasari ketidak tahuan tentang definisi salafi, dan siapa salafi itu. Sehingga, terkadang menganggap seseorang tidak salafi, hanya karena tidak mengikuti majlis pada pengajian yang Saudari ikuti.

Perlu kami berikan penjelasan berkenaan dengan masalah ini. Saudari harus melihat kembali ikhwan yang meminang tersebut, apakah ia memiliki komitmen yang kuat terhadap Al Qur`an dan Sunnah? Apakah dia menerima hukum syariat walaupun bertentangan dengan pendapat dan keinginannya? Ini sangat perlu dilihat. Karena, terkadang seseorang menyimpang dari ajaran Islam disebabkan ketidak tahuannya, padahal ia seorang yang menerima dan mau merubah sikap dan pendiriannya, bila ternyata bertentangan dengan Al Qur`an dan Sunnah.

Memang tidak dipungkiri pernikahan dua orang yang berbeda prinsip merupakan satu permasalahan sendiri. Namun, dengan adanya saling pengertian dan selalu berusaha merujuk kepada ajaran Islam, insya Allah dapat diselesaikan. Masalahnya, seandainya perbedaan ini berhubungan dengan bid’ah, maka harus dijelaskan dahulu perbedaan prinsip tersebut. Apabila bid’ahnya telah dihukumi sebagai bid’ah mukaffirah (bid’ah yang mengeluarkan pelakunya dari Islam) seperti Rafidhah Syi’ah atau aliran kebatinan dan sebagainya, maka para ulama melarang pernikahan muslimah dengan mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan: “Dilarang menikahkan seseorang yang berada di bawah perwaliannya kepada seorang Rafidhah Syi’ah, dan tidak juga kepada orang yang tidak shalat. Apabila ketika menikahkannya laki-laki tersebut Ahlu Sunnah dan shalat lima waktu, kemudian jelas ia adalah seorang Syi’ah Rafidhah dan tidak shalat, atau ia kembali menajdi Syi’ah dan meninggalkan shalat, maka pernikahannya dibatalkan.[1]

Apabila kebid’ahan laki-laki tersebut tidak sampai mukaffirah, maka pernikahannya sah bila telah terjadi, namun akad tersebut tidak sah, kecuali dengan persetujuan dan keridhaan wanita dan walinya. Hal ini, tidak berarti Ahlu Sunnah mendukung pernikahan dengan ahli bid’ah. Pernikahan mereka tersebut sah, karena telah sempurna syarat-syaratnya, yang merupakan satu masalah tersendiri, dan keridhaan terhadap pernikahan tersebut juga masalah lain yang terpisah.

Pernikahan ini, walaupun sah, namun dimakruhkan para ulama ahlu sunnah, karena adanya kemudharatan yang timbul dari pernikahan tersebut untuk sang wanita dan anak-anaknya dikemudian hari. Imam Al Fudhail bin ‘Iyadh menyatakan :

مَنْ زَوَّجَ كَرِيْمَتَهُ مِن مُبْتَدِعٍ فَقَدْ قَطَعَ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang menikahkan anak perempuannya kepada seorang ahli bid’ah, maka sungguh ia telah memutus kekerabatannya”.[2]

Demikianlah para wali yang menikahkan anak perempuannya kepada ahli bid’ah telah mendatangkan kemudharatan bagi keluarganya, karena perkawinan dan pergaulan dengan ahli bid’ah tersebut memiliki pengaruh berbahaya bagi rumah tangga tersebut. Yang berarti, dia juga telah berbuat buruk kepada anak perempuannya tersebut dan tidak memilih yang terbaik untuknya. Dikhawatirkan anak perempuannya tersebut terpengaruh dan terbawa aqidah suaminya yang menyimpang. Kita ketahui, wanita memiliki tabiat lemah dan kurang mendalam memandang permasalahan.

Oleh karena itu, para ulama ahlu sunnah (salafiyun) sangat memakruhkan pernikahan dengan wanita dan laki-laki ahli bid’ah, karena mudharat yang mungkin timbul dari pernikahan tersebut. Imam Malik bin Anas, imam madzhab Malikiyah menyatakan :

لاَ يُنْكَحُ أَهلُ البِدْعَةِ وَلاَ يُنْكَح إِلَيْهِمْ وَ لاَ يَسَلِّم عَلَيْهِمْ وَلاَ يَصَلِّى خَلْفَهُمْ وَلاَ تُشْهَد جَنَائِزُهُمْ

“Janganlah ahli bid’ah dinikahi dan janganlah menikahkan kepada mereka, jangan memberi salam dan shalat di belakangnya, serta jangan menyaksikan jenazahnya”.

Demikian juga Imam Ahmad menyatakan:

مَنْ لَمْ يَرْبَعْ بِعَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ فِيْ الْخِلاَفَةِ فَلاَ تُكَلِّمُوْهُ وَ لاَ تُنَاكِحُوْهُ

“Barangsiapa yang tidak menjadikan Imam Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah keempat, maka jangan ajak bicara dan jangan mengadakan pernikahan dengannya”. [3]

Berdasarkan penjelasan ini, maka Saudari bisa melihat kembali orang yang telah meminang Saudari tersebut. Kalau memang tampak pada diri laki-laki tersebut baik ketakwaannya, semangat menerima kebenaran dan mengamalkannya, juga memiliki akhlak mulia, maka ajaklah untuk meniti manhaj Salaf. Sebaliknya, jika laki-laki tersebut memang tidak baik agama, kurang bertakwa serta tidak nampak pada dirinya adanya keinginan menerima kebenaran dan mengamalkannya, maka dengan berbekal takwa dan tawakal kepadaNya, Saudari bisa mencari orang lain yang lebih baik, walaupun harus menunggu beberapa lama. Sebab memilih suami yang shalih dan beraqidah benar, akan memberikan kebaikan kepada Saudari dan kaluarga pada masa depan.

Mudah-mudahan Allah memberikan suami terbaik buat Saudari. Bersabarlah dan istiqamah dalam jalan kebenaran. Wallahu a’lam. (Khs).

Ref : http://almanhaj.or.id/content/1547/slash/0/ingin-menikah-dengan-sesama-salafi/

1327. Tuntutan Istri Ketika Diceraikan Suami

1327. BBG Al Ilmu

Tanya :
Assalamu’alaykum Ustadz, mau tanya, ada saudara yang hendak menceraikan istrinya secara hukum di KUA, karena si istri telah melakukan nusyus dan suami tidak bisa memaafkan. Si istri mau dicerai, tetapi menuntut nafkah maaliyah, nafkah iddah, dan nafkah mut’ah dengan jumlah yang si suami tidak sanggup memenuhinya.

Pertanyaan:
1. Apakah nafkah-nafkah yang dminta istri tersebut syar’i/memang hak sang istri untuk menuntutnya?

2. Jika si suami tidak sanggup, bagaimana solusinya ?

Jawab :
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Wa alaikumussalam warohmatullah wa barokatuh.

Talak 1 dan 2 selama dalam masa iddah, mereka berdua  masih dalam pasangan suami istri, memiliki hak dan kewajiban pasutri. Termasuk sandang, pangan dan papan dst….Adapun mut’ah juga di jumpai dalilnya dalam Al-Qur’an yang dianjurkan  untuk di lakukan bagi suami. Tentunya  secara makruf  bukan secara berlebihan.  Adapun sebab cerai, di karenakan nusyuz, maka di tinjau ulang, apakah benar dalam kategori nusyuz atau bukan, sehingga tidak salah dalam memutuskan perkara tersebut.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Teka Teki

Pernahkah Anda mengisi teka teki silang..?

Terkadang teka teki yang ada di koran atau surat kabar tidak memberi pelajaran yang baik.

Dahulu Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam pernah memberikan teka teki kepada para shahabat.

Suatu hari Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam berkumpul dengan para shahabatnya, Beliau bertanya, “kabarkan kepadaku sebuah pohon yang perumpamaanya seperti seorang mu’min..?”

Rupanya para shahabat memikirkan pohon-pohon yang ada di pedesaan.

Lalu Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam menjawab: “Dia adalah pohon kurma..”

Lihatlah.. Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam memberikan teka teki kepada para shahabatnya.

➡️ Kenapa pohon kurma mirip dengan seorang mu’min yaa akhii..?

● Pohon kurma.. dedaunannya tidak pernah jatuh.
Kata para ulama, itu berarti amalan seorang mu’min tidak pernah gugur .. kenapa..? Karena keimanan dan ketakwaan dia.
Demikianlah, amalan seorang mu’min tidak pernah gugur.

● Kata para ulama juga, pohon kurma selalu bermanfaat di semua bagiannya.. Daunnya.. buahnya.. bijinya.. batangnya..
Demikian seorang mu’min, seorang mu’min bermanfaat di semua amalannya.
Dimana dia pergi.. dimana dia tinggal.. selalu memberikan manfaat kepada manusia. Dia tidak pernah menyusahkan orang.

● Lihatlah pohon kurma.. ketika dia ditanam di sebuah tanah yang tandus di negeri Arab dengan sedikit sekali air.. tetapi dia bisa tumbuh.
Luar biasa..
Kurma dapat hidup dalam keadaan yang sangat ekstrim sekalipun.
Begitu juga seorang mu’min, dalam keadaan apapun dia sabar. Saat sulit sabar.. kuat.. tegar.. menghadapi berbagai macam ujian.. musibah.. malapetaka.

“Mengagumkan seorang mu’min itu, seorang mumin itu semuanya baik.. Jika ditimpa kesenangan dia bersyukur.. maka itu menjadi kebaikan untuk dia.. Kalau dia ditimpa kesusahan, dia sabar.. maka itupun kebaikan buat dia..” (HR. Muslim no 2999)

➡️ Dan itu tidak akan terjadi kecuali pada seorang mu’min.

Pohon kurma terlihat anggun, tumbuh diatas batang yang kokoh..
Begitu juga seorang mu’min.. Imannya kokoh.. pondasinya kokoh karena dia berdiri diatas keimanan.

Pohon kurma memiliki cabang-cabang..
Demikian juga seorang mu’min.. Pondasinya iman dan cabangnya adalah amalan-amalan.

Pohon kurma buahnya manis..
Seorang mumin yang tidak membaca Alquran seperti buah kurma.. Tidak ada wanginya tetapi manis.. karena seorang mu’min hatinya bercahaya karena keimanan.

➡️ Tapi Subhaanallah..

Pohon kurma memiliki duri-duri dimana durinya melindunginya dari siapa yang mengganggunya.
Demikian juga seorang mu’min, dia terlihat lembut, bersahaja dan berakhlak tetapi kalau agamanya diganggu, maka dia marah karena Allah dan tidak akan berdiam diri.

Jika pohon kurma ditanam ditanah tandus maka menjadikan tanah disekitarnya menjadi subur..
Demikian seorang mu’min, dimana saja dia tinggal dia selalu mewarnai.. selalu menjadikan tempatnya subur dengan keimanan..
Dia dakwahi tetangganya, dia ajak orang sekitarnya untuk beriman kepada Allah, untuk senantiasa menabur keimanan dalam hati hati manusia.

Maa syaa Allah.. betapa mirip sekali antara seorang mu’min dengan pohon kurma.

➡️ Maka jadilah kita seperti pohon kurma.. menjadi mu’min yang bermanfaat untuk manusia, yang sabar menghadapi berbagai macam keadaan dan senantiasa berusaha untuk memperlihatkan keindahan Islam.

Tapi bukan keindahan berdasarkan kelemahan, akan tetapi keindahan atas dasar kekokohan iman dan taqwa kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.

📝
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Jangan Melihat Ke Atas…

Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي اللّه عنه قَالَ:قَالَ رَسُوْلُ اللّهِ صلّى اللّه عليه وسلّم أُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ عَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

Dari Abu Hurairah radhiyallāhu Ta’ālā ‘anhu ia berkata: Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Lihatlah kepada yang dibawah kalian dan janganlah kalian melihat yang diatas kalian sesungguhnya hal ini akan menjadikan kalian tidak merendahkan nikmat Allāh yang Allāh berikan kepada kalian”.
(Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Ikhwan dan akhwat sekalian yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla, hadits ini mengajarkan kita dalam masalah dunia hendaknya kita melihat ke bawah, bagaimanapun kekurangan yang ada pada diri kita dalam masalah dunia, pasti masih ada orang-orang yang lebih parah daripada kita.

Lihatlah kita sekarang dalam keadaan sehat alhamdulillah. Kalau kita melihat ke bawah, betapa banyak orang yang sakit, betapa banyak orang yang terkapar di tempat tidur tidak bisa bergerak karena sakit. Kemudian betapa banyak juga orang yang cacat yang lebih parah dari kita lebih banyak. Dan seorangpun kalau diapun sakit masih ada yang lebih parah sakitnya. Senantiasa pasti ada yang lebih menderita daripada apa yang kita rasakan.

Kalau kita selalu melihat ke bawah dalam masalah kesehatan saja, maka kita akan senantiasa bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan ini memang berat. Senantiasa bersyukur bukan perkara yang mudah.

Oleh karenanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
Hanya sedikit dari hamba-hambaKu yang bersyukur. (Saba’:13)

Kita berdo’a semoga Allāh menjadikan kita termasuk dari hamba-hamba Allāh yang sedikit tersebut.

Dan diantara hal yang membuat kita senantiasa bersyukur, melihat ke bawah dalam masalah dunia.

Demikian juga masalah harta, misalnya, kita mungkin punya kendaraan yang mungkin kurang bagus, tetapi masih banyak orang dibawah kita yang kendaraannya lebih jelek daripada kendaraan milik kita.

Dan bisa jadi masih banyak orang yang hanya memiliki motor atau memiliki sepeda bahkan. Masih banyak orang yang hanya bisa berjalan kaki, tidak memiliki kendaraan sama sekali maka dalam hal dunia kita lihat ke bawah, jangan kita lihat ke atas. Karena dunia kalau lihat ke atas maka tidak akan ada habisnya. Maka Rasūlullāh melarang untuk melihat ke atas masalah dunia.

Dunia tidak akan pernah habisnya, orang yang mencari dunia akan senantiasa haus akan dunia. Maka terkadang kita heran tatkala melihat ada seorang sudah tua, umur sudah 60 tahun atau 70 tahun atau bahkan 80 tahun, namun masih sibuk tenggelam dalam dunia, masih memikirkan ini memikirkan anu, kapan dia mau istirahat? Kapan dia mau menikmati dunianya sementara dia terus mencari dunia dan demikian terus kehidupannya.

Mungkin kita heran, tapi dia sendiri tidak heran. Kenapa? Karena memang tidak ada rasa batas terakhir masalah kepuasan dunia. Seorang kapan mendapatkan sesuatu dia masih mencari yang lain lagi.

Kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا ، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ

“Seandainya anak Adam memiliki 2 lembah emas maka dia akan mencari lembah yang ke-3 dan dia tidak akan berhenti kecuali kalau pasir sudah dimasukkan dalam mulutnya”.

Kalau sudah meninggal baru dia berhenti. Dunia itu ibarat air laut yang asin. Semakin ditelan maka akan semakin membuat haus seseorang. Makanya dalam masalah dunia kita lihat dibawah agar kita senantiasa bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Berbeda halnya dengan masalah akhirat, masalah akhirat kita lihat ke atas. Allāh mengajarkan kita untuk semangat dalam masalah akhirat.

Oleh karenanya tatkala kita sholat kita mengatakan :
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ
“Ya Allāh tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka”.

Siapa? Mereka yaitu nabiyyiin wa shiddiqiin wasy syuhadaa wash shaalihin, jalan para Nabi, jalan para orang shidiq, para syuhada dan orang-orang shalih.

Kita disuruh untuk melihat ke atas masalah akhirat senantiasa minta petunjuk mereka, petunjuk jalan yang pernah ditempuh oleh orang-orang yang hebat-hebat seperti para Nabi, para syuhada, para shalihin.

Demikian juga Allāh mengatakan:
وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

“Dan untuk yang demikian, maka hendaknya orang-orang yang berlomba, berlomba-lombalah…”. (Al Muthaffifin : 26)

Dalam masalah surga maka berlomba-lombalah.
Kata Allāh :
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
“Berlomba-lombalah dalam kebaikan”. (AlBaqarah : 148)

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ

“Berlomba-lombalah untuk meraih ampunan Allāh. Dan berlomba-lombalah untuk segera meraih surga yang luasnya seluas langit dan bumi”.
(Ali Imran: 133)

Dalam masalah kebaikan, dalam masalah agama maka seorang melihat ke atas sehingga dia tidak merasa puas dengan agama yang dia miliki, dia tidak merasa ujub (merasa bangga).

Bukan sebaliknya, sebaliknya orang masalah dunia lihat ke atas, masalah agama lihat ke bawah. Masalah dunia tidak pernah puas, melihat ke atas terus, sudah punya mobil masih melihat tertarik kepada mobil yang mewah, melihat tetangganya, melihat teman-temannya. Masalah agama malah justru lihat kebawah. Dia mengatakan “Ah, alhamdulillah saya sudah sholat, masih banyak orang yang tidak sholat”. Ya benar memang masih banyak orang yang tidak sholat, bersyukur kepada Allāh. Tapi lihat ke atas, agar kau merasa dirimu penuh kekurangan, masih banyak orang-orang yang lebih hebat dari engkau sehingga engkau terpacu untuk mencari yang lebih dalam masalah agama.

Karenanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan :

فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ، وَأَعْلَى الْجَنَّةِ…..

“Jika engkau minta surga maka mintalah surga Firdaus, surga yang paling tinggi. Karena itulah surga yang paling tinggi”.

Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk memiliki himmah ‘aaliyah (semangat yang tinggi) di dalam masalah agama dan kita tidak pernah puas dengan apa yang kita miliki sekarang.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan kita orang-orang yang memandang kebawah tatkala masalah dunia dan menjadikan kita orang-orang yang memandang ke atas dalam masalah agama.

Wabillahit taufiq, wassalaamu ‘alaykum warahmatullahi wabarakātuh.

(Dari group WA BIAS)

Menebar Cahaya Sunnah