Bahagianya Orang Yang Ikhlas…

Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Sesungguhnya orang yang paling berbahagia adalah orang yang paling ikhlas. Semakin dia meningkatkan keikhlasannya, maka dia akan semakin berbahagia.

Bagaimana dia tidak berbahagia ? ALLAH Subhanahu wa Ta’ala mengetahui kebaikannya, ALLAH mengetahui amalannya dan dia menyerahkan ibadahnya semata-mata hanya untuk ALLAH Subhanahu wa Ta’ala.

Seseorang di atas muka bumi ini bahagia kalau dia bisa dikenal oleh orang yang mulia. Dia dikenal oleh pejabat misalnya bupati, apalagi presiden. Lantas bagaimana jika yang mengenalnya adalah Rabbul’alamin, Pencipta dan Penguasa alam semesta ini? Yang jika menghendaki sesuatu hanya mengatakan, “Kun, fayakun”.

Orang yang ikhlas adalah orang yang paling bahagia.

Suatu saat RasuluLLah shallaLLahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Ubay bin Ka’ab, Abu Mundzir radhiaLLahu’anhu:

يَا أُبَيٍّ إِنَّ الله أَمَرَنِي أَنْ أَقْرَأَ عَلَيْكَ القرآن

“Wahai Ubay, sesungguhnya ALLah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan aku untuk membacakan Al-Qur’an kepadamu.”

Maka Ubay berkata:

هَلْ سَمَّانِي لك

“RasuluLLah, apakah ALLah menyebutkan namaku kepadamu?”

Kata RasuluLLah shallaLLahu ‘alaihi wa sallam:

سَمَّاكَ لي

“Ya, ALLah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebut namamu di hadapanku.”

فَجَعَلَ أُبَيٌّ يَبْكِي

“Maka Ubay bin Ka’ab pun menangis.”

Kenapa? Ubay menangis karena sangat gembira. ALLah Subhanahu wa Ta’ala mengenalnya, ALLah menyebut namanya.

Orang yang ikhlas, dia tahu bahwasanya ALLah mengetahui amal ibadahnya. Meskipun mungkin orang lain tidak ada yang melihatnya. Mungkin orang lain tidak mempedulikannya, mungkin orang lain merendahkannya, tapi dia tahu dan yakin, bahwasanya apa yang dia lakukan, kebaikan yang dia lakukan diketahui oleh ALLah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahuLLah dalam kitabnya “Al Wasaail Al Mufidah Lil Hayati Sa’iidah” (Kiat-kiat Untuk Meraih Kabahagiaan), beliau menyebutkan:

“Di antara hal yang bisa mendatangkan kebahagian yaitu seseorang tatkala sedang berbuat baik kepada orang lain, jangan dia menganggap sedang bermuamalah dengan orang tersebut, tetapi sedang bermuamalah kepada ALLah Subhanahu wa Ta’ala.”

Tatkala dia memberikan sumbangan kepada orang lain, tatkala dia memberikan bantuan uang kepada orang lain, dia ingat bahwasanya sekarang ini dia sedang bermuamalah dengan ALLah Subhanahu wa Ta’ala; ALLah sedang melihat dia memberi sumbangan. Muamalah dia bukan dengan orang yang dia bantu, tapi muamalah dia dengan ALLah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga jika perkaranya demikian, yang dia harapkan hanyalah pujian ALLah Subhanahu wa Ta’ala, yang dia harapkan ALLah mengetahui siapa dirinya.

Semakin dia ikhlas, semakin tidak ada orang yang mengetahui amalannya, ALLah akan semakin mengetahui dia, ALLah akan semakin mengenalnya, ALLah akan semakin mencintainya. Oleh karenanya, dia tidak peduli dengan komentar orang-orang yang dia bantu, dia tidak perlu dengan komentar orang lain.

Dan syi’arnya sebagaimana orang-orang bertakwa yang ALLah sebutkan dalam Al-Qur’an:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ الله لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Kami memberi makan kepada kalian karena ALLah Subhanahu wa Ta’ala, muamalah kami dengan ALLah Subhanahu wa Ta’ala, bukan dengan kalian. Kami tidak butuh dari kalian terima kasih dan kami tidak butuh dari kalian balasan.” (QS. Al-Insaan: 9)

Inilah orang yang paling ikhlas, orang yang paling bahagia.

Adapun orang yang tidak ikhlas, dia senantiasa sibuk mendengar komentar orang lain tentang bagaimana amalan dia. Apakah dia dipuji, apakah dia dicela.

Tapi orang ikhlash, dia tidak peduli dengan perkataan orang lain, yang penting dia baik di hadapan ALLahSubhanahu wa Ta’ala. Dia tahu bahwasanya pujian manusia tidak akan meninggikan derajatnya, dan dia tahu bahwa celaan manusia pun tidak akan merendahkan derajatnya, yang penting dia baik di hadapan ALLahSubhanahu wa Ta’ala. Benar-benar konsentrasinya untuk bermuamalah dengan ALLah Subhanahu wa Ta’ala.

Karenanya, di antara 7 golongan yang akan ALLah naungi pada hari kiamat kelak, ada dua orang yang RasulullahshallaLLahu ‘alaihi wa sallam sebutkan tentang ciri khusus mereka, yaitu ikhlas.

Yang pertama, kata Nabi shallaLLahu ‘alaihi wa sallam:

رَجُلٌ تَصَدَّقَ بِ يَمِينِهِ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ

“Seseorang yang dia berinfaq dengan tangan kanannya kemudian dia sembunyikan sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan olah tangan kanannya.”

Dia bahagia tatkala dia tahu bahwasanya hanya ALLah yang mengetahui amalannya. Dia tidak pedulikan komentar orang lain, bahkan dia sengaja menyembunyikan amalannya, agar yang mengetahui hanyalah ALLahSubhanahu wa Ta’ala. Dia tidak butuh pujian orang lain.

Yang kedua, kata Nabi  shallaLLahu ‘alaihi wa sallam:

رَجُلٌ ذَكَرَ الله خَلَاءٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Seseorang yang tatkala dia mengingat ALLah dalam bersendirian, maka kemudian matanya mengalirkan air mata.”

Orang ini, dia bersendirian dan dia begitu merasakan kelezatan tatkala mengingat ALLah Subhanahu wa Ta’ala, dan tatkala mengagungkan ALLah Subhanahu wa Ta’ala. Dia seakan-akan sedang berbicara langsung dengan ALLah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga diapun menangis meskipun tidak ada yang melihatnya; dia mengeluarkan air mata kebahagiaan. Kenapa? Karena ALLah mengetahui tangisannya; ALLah mengetahui dia mengagungkan ALLah Subhanahu wa Ta’ala.

Bahkan di antara tafsiran para ulama: “Demikian pula seseorang yang tatkala di hadapan orang banyak, namun saking ikhlasnya, dia bisa mengkondisikan dirinya seakan-akan dia sedang sendirian.”

Kenapa? Karena dia tidak mempedulikan komentar orang lain. Sehingga dia tetap menangis meskipun di hadapan banyak orang. Dia yakin sedang bermuamalah dengan ALLah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga meskipun di hadapan banyak orang, dia tetap menangis karena mengagungkan ALLah Subhanahu wa Ta’ala.

Anda akan bahagia jika anda mengikhlashkan amalan ibadah Anda hanya kepada ALLahSubhanahu wa Ta’ala.

Adapun jika Anda kemudian sibuk dengan komentar orang lain, sibuk dengan pujian orang lain atau sibuk dengan cercaan orang lain, maka anda tidak akan pernah bahagia. Karena tidak mungkin ada seorangpun yang akan dipuji oleh semua orang, tidak mungkin, mustahil. Betapapun baiknya anda, pasti ada yang memuji dan pasti ada yang mencela.

ALLah Subhanahu wa Ta’ala, Rabbul ‘ālamīn, Pencipta alam semesta ini tidak selamat dari celaan ciptaan-Nya, seperti orang-orang yahudi yang mengatakan bahwasanya:

يَدُ الله مَغْلُولَةٌ

“Tangan ALLah terbelenggu,”

Mereka juga mengatakan:

إِنَّ الله فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ

“Sesungguhnya ALLah miskin dan kamilah yang kaya.”

ALLah Subhanahu wa Ta’ala saja tidak selamat dari cercaan makhluknya. Nabi shallaLLahu ‘alaihi wa sallam yang memiliki akhlak super mulia pun tidak selamat dari cercaan kaumnya. Bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan Anda? Tentunya, mengharapkan keridhaan seluruh manusia adalah sesuatu yang mustahil, sebagaimana perkataan Imam Syafi’iy rahimahuLLah:

رضا الناس غاية لا تدرك

“Bahwasanya mencari keridhaan manusia adalah suatu hal yang mustahil (tujuan yang mustahil) untuk diraih.”

Karenanya, ikatkan hati Anda hanya kepada ALLah Subhanahu wa Ta’ala. Yakinlah bahwasanya saat Anda sedang bermuamalah dengan ALLah Subhanahu wa Ta’ala, maka Anda akan bahagia karena ALLah yang akan membahagiakan Anda dan Anda tidak akan memperdulikan komentar manusia.

WaLLahu Ta’ala a’lam bish shawwab.

Ref : http://www.bimbinganislam.com/materi-tematik-002/

Dingin, Kedinginan, Panas, Kepanasan…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Ruwet sampai mumet. Itulah manusia, di saat panas katanya kepanasan, sehingga maunya yang dingin, eeh disaat dingin katanya kedinginan sehingga maunya yang panas.

Itulah manusia, apapun rasanya dan apapun yang didapat tetap saja berkeluh kesah; serasa paling menderita di dunia.

(إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا)
“Manusia diciptakan dalam kondisi penuh dengan ambisi.”

(إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا)
“Bila ditimpa kesusahan ia senantiasa berkeluh kesah.”

(وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا)
“Dan bila mendapat kebaikan ia berlaku kikir.” (Surat Al Maarij 19-20)

Sobat! Pernahkah anda merasa sebagai orang paling beruntung/bahagia di dunia, minimal di komunitas anda? Dan pernahkah anda merasa sebagai orang paling buntung di dunia atau minimal di komunitas anda?

Manakah yang paling sering anda lakukan, merasa paling beruntung atau merasa paling buntung?

Bila anda lebih sering merasa paling buntung maka segera benahi sholat anda, itu pertanda sholat anda bermasalah. Dan bila anda lebih sering merasa paling beruntung maka bersyukurlah, dan jaga sholat anda dan tingkatkanlah. Demikianlah sebagian pelajaran yang dapat kita petik dari kelanjutan ayat ayat di atas.

Kaidah Yang Sangat Ampuh

Lau kaana khoiron lasabaquuna ilaih… (Seandainya itu baik, tentu mereka para salaf telah mendahului kita).

=======

Ya… Inilah kaidah yang sangat AMPUH untuk menjawab semua amalan bid’ah dalam agama.

Sekuat apapun dalil mereka untuk melegalkan amalan bid’ah, pasti bisa kita patahkan dengan perkataan di atas: “Seandainya itu baik, tentu mereka para salaf telah mendahului kita..”

Karena tidak mungkin kita lebih ALIM dari mereka dalam masalah agama, dan tidak mungkin kita lebih SEMANGAT dari mereka dalam mengamalkan kebaikan, sehingga tidak mungkin ada amal kebaikan yang tidak pernah diamalkan oleh mereka para generasi salaf.

Kalau ada yang mengatakan, mana dalil kaedah di atas..?!

Kita katakan: Kaedah di atas diambil dari mafhumnya firman Allah ta’ala:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ

“Orang-orang kafir itu mengatakan kepada orang-orang yang beriman: seandainya itu baik, tentu mereka TIDAK mendahului kami..” [Al-Ahqof: 11].

Seorang pakar tafsir Imam Ibnu Katsir -rohimahulloh- mengatakan:

“Maksud ayat ini, bahwa mereka (orang kafir Mekah) mengatakan kepada kaum yang mengimani Alqur’an: ‘Seandainya Alqur’an itu baik, tentu MEREKA tidak akan mendahului kita (dalam beriman) kepadanya’, dan perkataan ini mereka tujukan kepada Bilal, Ammar, Shuhaib, Khobab, dan yang semisal dengan mereka yang merupakan orang-orang lemah dan para hamba sahaya.. Sungguh mereka itu telah salah fatal dan jelas-jelas keliru.

Adapun AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH, maka mereka akan mengatakan dalam setiap perbuatan dan perkataan yang TIDAK valid dari para sahabat bahwa itu adalah BID’AH.

Karena ‘seandainya itu kebaikan, tentu mereka (para sahabat) telah mendahului kita dalam melakukannya.’

Karena mereka tidaklah menyisakan SATUPUN amal kebaikan, kecuali mereka telah bersegera melakukannya..”

[Kitab: Tafsir Ibnu Katsir 7/278-279].

————-

Sayangnya di zaman ini, orang yang menggunakan semboyan yang bersumber dari Alqur’an ini, selalu dijuluki sebagai wahabi.

Padahal Imam Ibnu Katsir -rohimahulloh- telah jelas MENEGASKAN bahwa itu adalah perkataan Ahlussunnah wal Jama’ah, wallohul musta’an.

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

1321. Makanan Yang Didapat Dari Acara Tahlilan, Yasinan, dll

1321. BBG Al Ilmu – 301

Tanya :
Apa hukum memakan makanan dari acara tahlilan yasinan dan acara-acara bid’ah lainnya ?

Jawab :
Ustadz Abu Hudzaifah, حفظه الله تعالى

Kenduri (pertemuan untuk selamatan serta jamuan makan) yang dikaitkan dengan kematian ketika keluarga yang ditinggal mati masih dirundung kesedihan, maka kalau memang kenduri tersebut berasal dari keluarga yang bersangkutan, maka menurut imam syafi’i kita tidak boleh memakannya.

Pun demikian, Syaikh Bin Baz memfatwakan agar sebaiknya kita tidak memakan kenduri yang dihidangkan/disuguhkan kepada kita walaupun hukumnya boleh dimakan. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk pengingkaran terhadap bid’ah-bid’ah tersebut, agar pelakunya sadar bahwa perbuatan tersebut tidak diperbolehkan dalam agama dan kita tidak menyukainya. In-sya Allah dengan begitu, adat bid’ah ini akan terkikis sedikit demi sedikit hingga hilang total. Namun jika kita hanya mengingkari dalam hati saja, dan tidak menampakkannya walaupun dalam bentuk penolakan, maka budaya ini akan kuat terus mengakar di masyarakat.

Ref : http://basweidan.com/status-makanan-dlm-kenduri/comment-page-1/

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Melawan Lupa

Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Allah berfirman :

إِنَّ الْإِنسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ

“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya” (QS Al-‘Adiyaat : 6)

Al-Hasan rahimahullah berkata :

هُوَ الَّذِي يَعُدُّ الْمَصَائِبَ، وَيَنْسَى نِعَمَ رَبِّهِ.

Yaitu orang yang menghitung-hitung musibah (yang sedikit-pen) dan melupakan kenikmatan-kenikmatan Robnya (yg telah banyak diberikan kepadanya-pen) (Tafsir Ibnu Katsir 8/467)

Akan terlihat hakikat kita sesungguhnya tatkala kita ditimpa musibah, apakah kita termasuk كَنُوْد (ingkar) ? Atau termasuk sabar (yang tidak lupa dengan karunia-karunia Allah sehingga menjadikan kita lebih sabar dalam menerima keputusan Allah)?

Musibah yang menimpa kita hanyalah sesekali, sementara kenikmatan terus tercurah kepada kita tiada hentinya dengan berbagai macam modelnya. Namun demikianlah karena kurang kuatnya iman sebagian kita sehingga tatkala terkena musibah yang diingat-ingat hanyalah beratnya musibah tersebut, sementara anugerah dan karunia Allah terlupakan…

Contoh kecil :

–  Ada yang mobilnya mogok, maka iapun mengeluh sejadi-jadinya, ia lupa bahwa mobilnya mogok hanya sekali-sekali, selama ini sekian ribu kilo meter mobilnya jalan dengan baik tanpa halangan.

–  Ada yang uangnya hilang, iapun marah dan mengeluh, padahal selama ini uang yang Allah berikan kepadanya tidak pernah hilang, namun ini semua terlupakan, yang diingat hanya uangnya yang hilang tersebut.

–  Ada yang tubuhnya sakit, lalu iapun mengeluh dan tidak sabar, padahal puluhan tahun Allah menjadikan tubuhnya sehat, lantas apakah sakit yang sebentar tersebut membuatnya lupa dengan kesehatan puluhan tahun lamanya?

–  Ada yang mengalami kegagalan, maka iapun marah, padahal kegagalan tersebut hanya sesekali, dan bisa jadi sekali saja. Sementara kemudahan dan keberhasilan sudah sering ia raih, namun terlupakan karena kegagalan tersebut.

–  Yang lebih berat, adalah ada yang anaknya meninggal karena sakit atau sebab yang lainnya. Maka iapun meronta dan menangis sejadi-jadinya dengan mengangkat suara, seakan-akan protes dengan keputusan Allah. Ia lupa bahwasanya Allah telah banyak memberikan kepadanya banyak anak, dan yang lainnya dalam kondisi sehat wal afiyat.

Jika kita terkena musibah maka berusahalah mengingat kebaikan-kebaikan Allah kepada kita, sehingga hal ini akan meringankan beban musibah kita dan kita tetap berhusnuzon (berbaik sangka) kepada Allah.

As-Suddiy rahimahullah berkata :

تَسَاقَطَ لَحْمُ أَيُّوْبَ حَتَّى لَمْ يَبْقَ إِلاَّ الْعَصبُ وَالْعِظَامُ، فَكَانَتْ امْرَأَتُهُ تَقُوْمُ عَلَيْهِ وَتَأْتِيْهِ بِالزَّادِ يَكُوْنُ فِيْهِ، فَقَالَتْ لَهُ امْرَأَتُهُ لَمَّا طَالَ وَجْعُهُ: يَا أَيُّوْبُ، لَوْ دَعَوْتَ رَبَّكَ يُفَرِّجُ عَنْكَ؟ فَقَالَ: قَدْ عِشْتُ سَبْعِيْنَ سَنَةً صَحِيْحًا، فَهَلْ قَلِيْلٌ للهِ أَنْ أَصْبِرَ لَهُ سَبْعين سنة؟

“Daging nabi Ayub berjatuhan (karena sakit parah) maka tidak tersisa di tubuhnya kecuali urat dan tulang. Istrinya mengurusnya dan membawakan makanan diletakan di sisi nabi Ayub. Maka istrinya berkata tatkala lama sakitnya nabi Ayub : “Wahai Ayub, kenapa engkau tidak berdoa kepada Robmu untuk menghilangkan sakitmu?” Maka nabi Ayub ‘alaihis salam berkata, “Aku telah hidup selama 70 tahun dalam kondisi sehat, maka bukankah perkara yang sedikit karena Allah jika aku bersabar karena-Nya 70 tahun pula? (Tafsir Ibnu Katsir : 5/360)

Disebutkan bahwa nabi Ayub sakit selama 7 tahun atau 18 tahun –sebagaimana disebutkan dalam buku-buku tafsir-, maka bagi beliau itu ringan dibandingkan kenikmatan kesehatan yang Allah telah berikan kepadanya selama 70 tahun.

Demikianlah mengingat-ingat kenikmatan menjadikan musibah terasa lebih ringan.

Wallahu A’lam bis-showab.

Tak Seperti Mereka…

Ustadz Syafiq Basalamah, حفظه الله تعالى

Aku Mengharapkan Dirimu Tidak Seperti Mereka

Akhi ukhti… 

AKU INGIN BERBAGI, berbagi SESUATU YANG BARU SAJA AKU LIHAT

Sering kali  kita berjumpa dengan sohib atau kerabat 

Lalu dalam perbincangannya ia curhat

Curhat tentang beberapa perlakuan manusia terhadapnya 

Baik kawan

Tetangga
Atau yang lainnya 

Pada dasarnya ada sebuah pesan INDAH yang ingin ia sampaiKAN padamu
 
Ada sebuaH risalah SYAHDU yang ingin ia benamkan di dalam lubuk hatimu
 
Pesan itu Singkat tapi Padat
Pesan itu berkata 

AKU MENGHARAPKAN DIRIMU TIDAK SEPERTI MEREKA

TIDAK MENJADI Obrolan BURUK YANG DIHIKAYATKAN OLEH ORANG LAIN

Catatan Perjalanan…

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Berikut adalah catatan Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى yang disampaikan kepada kami.

Ana sedang duduk sama Syaikh Abdurrozaq di mobil..
Syaikh membaca AlQur’an surat al Qashash..

Ketika lewat ayat 15 dan 16..
beliau berhenti..
lalu menjelaskan kepada ana faidah ayat tersebut..

Kata beliau: lihat ayat ini..
ketika Nabi Musa membela seorang kaumnya yang sedang bertengkar dengan bangsa fir’aun..
maka Musa mendorongnya dengan kepalan tangannya..
dan beliau tidak bermaksud membunuhnya..
namun orang tersebut mati..

Maka Nabi Musa berkata, “Ini adalah perbuatan setan..
padahal orang itu adalah musuh yang kafir..
lalu Nabi Musa berkata..
Rabbi aku telah manzalimi diriku..
maka ampuni aku..

Syaikh berkata..
lihat padahal Musa tidak bermaksud membunuhnya..
dan orang tersebut adalah musuh yang kafir..
namun Nabi Musa menganggapnya sebagai kezaliman..
ini membantah perbuatan orang yang meledakkan bom..
dimana yang mati juga kaum mukminin..

Daripada Hanya DIET, Lebih Baik Sekalian PUASA… Bolehkah?

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Syeikh Abdul Karim Al-Khudhoir -hafizhohulloh- mengatakan:

“Tidak diragukan lagi manfaat PUASA dari sisi kesehatan, (bahkan) banyak orang sakit yang diberi resep untuk berdiet dengan meninggalkan makan dan minum.

Bagi yang diberi resep untuk meninggalkan makan minum, dan dia diharuskan untuk berdiet, lalu dia mengatakan: “Daripada aku diet, lebih baik aku puasa”. Padahal yang mendorong dia untuk puasa itu diet, apakah dia akan mendapatkan pahala atau tidak?

Kita katakan: Ini adalah penggabungan (niat) dalam ibadah, tapi ini merupakan penggabungan yang DIBOLEHKAN. Memang tidak diragukan lagi bahwa orang yang dorongan puasanya (hanya) ingin mendapatkan pahala dari Allah -subhanahu wata’ala- itu lebih sempurna dan lebih afdhol…

Masalah penggabungan (niat) dalam ibadah ini, memang membutuhkan lebih banyak perincian, penjabaran, permisalan, dan perbandingan. Penggabungan suatu ibadah dengan ibadah lain ada hukumnya sendiri, penggabungan suatu ibadah dengan sesuatu yang mubah ada hukumnya sendiri, dan penggabungan suatu ibadah dengan sesuatu yang haram ada hukumnya sendiri.

Jadi, orang yang disuruh untuk banyak jalan, lalu dia mengatakan: “Daripada saya mengelilingi pasar, lebih baik saya towaf, sehingga disamping saya mendapatkan tujuanku, aku juga dapat pahala towaf.”

Kita katakan: orang ini dapat pahala dari towafnya, karena dia tidaklah beralih dari pilihan ini ke pilihan itu kecuali karena menginginkan pahala.

Begitu pula orang yang tadi, dia tidaklah meninggalkan pilihan (untuk sekedar) diet dengan tidak makan minum tanpa puasa, lalu memilih puasa, kecuali karena menginginkan Wajah Allah subhanahu wata’ala. Memang pahalanya akan berkurang.

Seorang imam, bila dia memanjangkan rukuknya karena (menunggu) orang yang masuk masjid (agar mendapatkan rukuknya), ini merupakan penggabungan (niat) dalam ibadah. Karena imam itu asalnya berniat untuk membaca tasbih 7 kali, lalu ketika mendengar pintu masjid terbuka, dia berkata dalam hatinya: “Mungkin orang ini bisa mendapatkan rekaat ini,” maka dia pun bertasbih 10 kali karena orang yang masuk tersebut, menurut mayoritas ulama hal ini tidak mengapa, dan itu termasuk dalam bab berbuat baik kepada saudaranya…

Jika menyingkat sholat karena tangisan anak dan karena (melihat perasaan) ibunya dibolehkan, maka memanjangkan sholat -tanpa riya’- karena ingin berbuat baik kepada orang yang masuk tersebut lebih pantas untuk dibolehkan.”

[Kitab: Syarah Zadul Mustaqni’ 1/17-18].

Agar Tidak Menjadi Jahil

Alim tapi jahil..

Ya.. Itu sangat mungkin terjadi, bahkan ternyata hal ini banyak terjadi di sekitar kita, semoga kita bukan dari mereka.

Mengapa bisa demikian..? Itu karena perkataan Al Fudhoil -rohimahulloh- berikut ini:

“Seorang ALIM masih dalam keadaan JAHIL dengan apa yang dia ilmui, sehingga dia mengamalkan ilmunya..”

Oleh karenanya, jika Anda tidak ingin menjadi JAHIL, maka amalkanlah ilmu Anda, lihatlah semangat para ulama dalam menerapkan ilmunya.

Ummu Habibah Isteri Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- mengatakan: “Aku tidak pernah meninggalkan (sholat sunnah rowatib 12 reka’at) setelah aku mendengarnya dari Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-..”.

Imam Ahmad -rohimahulloh- mengatakan: “Tidaklah aku menulis hadits, melainkan aku telah mengamalkannya..”

Imam Bukhori -rohimahulloh- juga mengatakan: “Aku tidak pernah meng-ghibah siapapun, sejak aku tahu bahwa itu haram..”

Karena kebaikan ilmu itu bila diamalkan, Allah telah berfirman (yang artinya):

“Andaikan mereka MENGAMALKAN apa yang dinasehatkan kepada mereka, tentu itu lebih baik bagi mereka, dan lebih meneguhkan hati mereka..” [QS. Annisa: 66].

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

1320. Tawassul Kepada Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam

1320. BBG Al Ilmu – 301

Tanya :
Bagaimana hukum bertawasul kepada rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam ?

Jawab :

Seseorang meminta kepada Allah dengan (perantaraan) kedudukan para nabi atau kedudukan seorang wali dari wali-wali Allah dengan berkata -misalnya- ‘Ya Allah, sesunguhnya aku meminta kepadaMu dengan kedudukan nabiMu atau dengan kedudukan Husain’. Tawassul yang seperti ini tidak boleh karena kedudukan wali-wali Allah dan lebih khusus lagai kekasih kita Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, sekalipun agung di sisi Allah, bukanlah sebab yang disyariatkan dan bukan pula suatu yang lumrah bagi terkabulnya sebuah doa.

Karena itulah ketika mengalami musim kemarau, para sahabat Radhiayallahu ‘anhum berpaling dari tawassul dengan kedudukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berdoa meminat hujan dan lebih memilih ber-tawassul dengan doa paman beliau, Abbas Radhiyallahu ‘anhu, padahal kedudukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada diatas kedudukan orang selain beliau. Demikian pula, tidak diketahui bahwa para sahabat Radhiyallahu ‘anhum ada yang ber-tawassul dengan (perantraan) Nabi setelah beliau wafat, sementara mereka adalah generasi yang paling baik, manusia yang paling mengetahui hak-hak Nabi Shallalalhu ‘alaihi wa sallam, dan yang paling cinta kepada beliau.

Ref : http://almanhaj.or.id/content/1305/slash/0/tawasul-dengan-perantara-para-nabi-dan-orang-orang-shalih/

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Menebar Cahaya Sunnah