MUTIARA SALAF : Surga Dunia

• Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

“Di dunia itu terdapat surga. Barangsiapa yang tidak memasukinya, maka dia tidak akan memperoleh surga akhirat..”

(Al-Wabilus Shoyyib Minal Kalimit Thoyyib, hal. 81)

• Ibnul Qoyyim rohimahullah menjelaskan bahwa surga dunia adalah :

– mencintai Allah,
– mengenal Allah,
– senantiasa mengingat-Nya,
– merasa tenang dan thuma’ninah ketika bermunajat pada-Nya,
– menjadikan kecintaan hakiki hanya untuk-Nya,
– memiliki rasa takut dan dibarengi rasa harap kepada-Nya,
– senantiasa bertawakkal pada-Nya dan menyerahkan segala urusan hanya pada-Nya.

(Shohih Al Wabilush Shoyyib, Dar Ibnul Jauziy)

Inilah surga dunia yang dirindukan oleh para pecinta surga akhirat.

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Antara Sholat Dan Persidangan Allah

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata :

لِلْعَبْدِ بَيْنَ يَدَيْ اللهِ مَوْقِفَانِ، مَوْقِفٌ بَيْنَ يَدَيْهِ فِي الصَّلاَةِ وَمَوْقِفٌ بَيْنَ يَدَيْهِ يَوْمَ لِقَائِهِ فَمَنْ قَامَ بِحَقِّ الْمَوْقِفِ الأَوَّلِ هُوِّنَ عَلَيْهِ الْمَوْقِفُ الآخَرُ وَمَنِ اسْتَهَانَ بِهَذَا الْمَوْقِفِ وَلَمْ يُوَفِّهِ حَقَّهُ شُدِّدَ عَلَيْهِ ذَلِكَ الْمَوْقِفُ قَالَ تَعَالَى ومن الليل فاسجد له وسبحه ليلا طويلا إن هؤلاء يحبون العاجلة ويذرون وراءهم يوما ثقيلا

“Seorang hamba, menghadap Allah dalam dua kondisi, kondisi ia berhadapan dengan Allah tatkala sedang sholat, dan kondisi berhadapan dengan Allah tatkala hari kiamat (untuk dihisab/disidang dan mempertanggung jawaban amal perbuatannya-pen).

Barang siapa yang berhadapan kepada Allah pada kondisi pertama sebagaimana mestinya (dengan baik) maka akan diringankan baginya tatkala menghadap Allah pada hari kiamat.

Barang siapa yang meremehkan kondisi yang pertama dan tidak menjalankan sebagaimana mestinya maka ia dipersulit dan disikapi dengan keras tatkala berhadapan dengan Allah pada hari kiamat.

وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلا طَوِيلا (٢٦) إِنَّ هَؤُلاءِ يُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَاءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيلا

“Dan pada sebagian dari malam, Maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat)” (QS Al-Insaan : 26-27)

(Demikian perkataan Ibnul Qoyyim rohimahullah dalam kitab Al-Fawaaid)

Karenanya..
berusahalah untuk khusyu’ tatkala sholat..

jika Allah mengetahui bahwasanya engkau berusaha khusyu’ maka niscaya Allah akan memudahkanmu untuk meraihnya..

Jika engkau sadar bahwa hatimu sedang terlepas dan berpetualang tatkala sholat maka jangan biarkan..
tariklah kembali untuk konsentrasi dan khusyuk dalam sholat..

ingatlah keagungan Allah..
ingatlah dosa-dosamu..
ingatlah dahsyat dan sulitnya persidangan Allah pada hari kiamat kelak..

Semoga dengan khusyuknya sholatmu maka akan ringan dan mudah persidangan yang akan engkau jalani kelak..
pada hari dimana tidak bermanfaat harta sedikitpun..

Penulis, 
Ustadz Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

Edisi Mandi Wajib: Apakah Keluar Mani Tanpa Jima’ Wajib Mandi ? Bagaimana Tata Cara Mandi Yang Sempurna ?

Ustadz Muhammad Wasitho, Lc, MA, حفظه الله تعالى

Tanya:
Assalamualaikum. Bagaimna Tata Cara mandi wajib yang benar? Apakah keluar mani tapi tidak karena hubungn suami istri harus mandi wajib? Jazakallah khoiron

Jawab:

Bismillah. Iya, benar demikian. Yakni siapa saja yang mengeluarkan mani dengan muncrat disertai syahwat, baik itu laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan sadar (melek/terjaga) maupun tidur, baik dengan cara halal (seperti jima’ atau bercumbu dengan istri) maupun dengan cara yang haram (seperti onani dengan tangan atau alat bantu pemuas sex, atau selainnya), semuanya itu mewajibkan mandi.

» Hal ini berdasarkan hadits shohih yang diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, bahwa Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha pernah datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dalam menjelaskan kebenaran. Apakah wanita wajib mandi jika dia mimpi indah (mimpi basah)?’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
نعم إِذا رأت الماء
“Betul, wajib mandi, jika dia melihat air mani.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

» Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah mengatakan: “Keluarnya mani dengan muncrat disertai syahwat, mewajibkan mandi bagi lelaki dan wanita, baik dalam keadaan sadar maupun tidur. Ini merupakan pendapat ulama secara umum. At-Tirmidzi menegaskan, ‘Saya tidak menjumpai adanya perselisihan dalam masalah ini.’. (Lihat Al-Mughni, I/146).

(*) Adapun tata cara mandi wajib atau mandi besar atau mandi junub berdasarkan hadits shohih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebagaimana berikut ini:

1. Dimulai dengan mengucapkan bismillah, dan berniat di dalam hatinya untuk menghilangkan hadast besar.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
(Innamal A’maalu Bin-Niyyaat)

Artinya: “Sesungguhnya Amalan-amalan itu Tergantung Pada Niatnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

2. Membersihkan kedua telapak tangannya tiga kali.

3. Membersihkan kemaluannya, dan kotoran yang ada di sekitarnya.

4. Berwudhu seperti halnya orang yang berwudhu ketika hendak shalat, kecuali kedua kakinya. Namun boleh membersikan kedua kakinya ketika berwudhu atau mengakhirkannya sampai selesai mandi.

5. Mencelupkan kedua telapak tangannya ke dalam air, lalu menyela-nyela pangkal rambut kepalanya dengan kedua telapak tangannya itu (yakni sama seperti membersihkan rambut dengan shampo), kemudian membersihkan kepalanya dan kedua telinganya tiga kali dengan tiga cidukan.

» Catatan: Menyela-nyela pangkal rambut hanya khusus bagi laki-laki. Sedangkan bagi wanita, cukup dengan mengguyurkan pada kepalanya tiga kali guyuran, dan menggosoknya, tapi tidak diwajibkan mengurai/membuka rambutnya yang dikepang, karena ada hadist yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Ummu Salamah radhiyallahu anha yang bertanya kepada Rasulullah, “Aku bertanya, wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku ini perempuan yang sangat kuat jalinan rambut kepalanya, apakah aku boleh mengurai ketika mandi junub (mandi besar)?” Maka Rasulullah menjawab, “Tidak perlu, sebetulnya cukup bagimu mengguyurkan air pada kepalamu tiga kali guyuran.” (HR At-Tirmidzi).

6. Mengguyur tubuhnya yang sebelah kanan dengan air, membersihkannya dari atas sampai ke bawah, kemudian bagian yang kiri seperti itu juga berturut-turut sambil membersihkan bagian-bagian yang tersembunyi (pusar, bawah ketiak, lutut, sela-sela jari kaki dan selainnya).

» Tata cara ini berdasarkan apa yang diceritakan Aisyah Radhiyallahu Anha di dalam riwayat berikut ini (yang artinya):

“Apabila Rasulullah hendak mandi junub (mandi besar), beliau memulai dengan membasuh kedua tangannya sebelum memasukannya ke dalam bejana. Kemudian beliau membasuh kemaluannya dan berwudhu seperti halnya berwudhu untuk shalat. Setelah itu, beliau menuangkan air pada rambut kepalanya, kemudian mengguyurkan air pada kepalanya tiga kali guyuran, kemudian mengguyurkannya ke seluruh tubuhnya,” (HR At-Tirmidzi no.104, dan Abu Daud no.243).

Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan. Semoga mudah dipahami dan diamalkan. Dan semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua. Amiin. Wallahu’alam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq. (Cirebon, 2 Agustus 2014).

» BBG Majlis Hadits, chat room Tanya Jawab.

Orang Ikhlas Adalah Yang Senang Dinasehati

Ustadz Kholid Syamhudi, Lc, حفظه الله تعالى

Orang yang mengharapkan wajah Allah tidak takut dikritik kesalahannya dalam berkata dan tidak khawatir ditunjukkan kebatilan perkataannya, bahkan ia menyintai kebenaran darimana pun datangnya dan menerima petunjuk (Huda) dari orang yang memberinya petunjuk.

Kekerasan dalam kebenaran dan nasehat lebih ia cintai dari bermanis muka atas perkataan buruk.

Temanmu adalah yang meluruskanmu secara jujur bukan yang selalu membenarkanmu.

(Al-Awaashim walQawaashim, karya ibnul Wazir 1/223).

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

The King Without A Kingdom (Raja Tanpa Kerajaan)

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Nama atau sebutan akan berarti bila dilengkapi dengan bukti nyata. Apalah artinya suatu nama atau sebutan yang indah namun hampa bahkan menyelisihi fakta dan kenyataan.

Bisa jadi anda bernamakan indah, namun apalah arti nama itu bila ternyata perilaku dan bahkan fisik anda tidak indak alias buruk.

Boleh saja anda bernamakan sholeh, namun apalah artinya nama itu bila ternyata perilaku anda menyimpang dan melanggar agama Allah.

Bagi masyarakat banyak, indahnya nama yang menyelisihi fakta seringkali berubah menjadi celaan: namanya indah namun perilakunya bubrah ! Namanya sholeh namun perilakunya fasik alias tholeh.

Kondisi ini banyak terjadi di masyarakat, nama hanya sebatas nama karena menyelisihi faktanya.

Diantara nama indah yang terbukti menyelisihi fakta ialah sebutan imam yang disematkan kepada ke 10 figur dari 12 imam imam syiah (selain sahabat Ali bin Abi Thalib dan Al Hasan Bin Ali)

Mereka disebut imam (khalifah/pemimpin) padahal faktanya ke10 figur tersebut tidak pernah menjadi khalifah atau imam walau hanya sesaat.

Bahkan sebagian mereka gugur gara gara upayanya merebut kekhilafahan dari imam yang sah pada masanya.

Sebagaimana fakta sejarah telah membuktikab bahwa Imam mereka ke 2 yaitu Al Hasan bin Ali telah menyerahkan imamah / kepemimpinan kepada sahabat Mu’awiyah radhiallahu anhuma.

Praktis sejak saat itu imamah berada di tangan sahabat Muawiyah dan kemudian berpindah kepada tokoh tokoh dari Bani Umayyah selanjutnya.

Faka sejarah ini meruntuhkan konsep imamah 12 yang diyakini dan diajarkan oleh sekte syiah .

Dan kalau ada yang berkelit: bahwa yang dimaksud dengan imamah adalam kepemimpinan dalam urusan agama, maka sejarah telah membuktikan bahwa imam agama buaanyak sekali, diantaranya imam-imam keempat mazhab .

Dengan demikian fakta ini membuktikan kesesatan doktrin imamah syiah.

Konsep mereka menyelisihi dalil dan fakta sehingga lebih pantas disebut dengan hoak atau penipuan, atau pembodohan, sehingga pantas disebut dengan the king without a kingdom yang hanya ada dalam dongeng alias dipaido keneng (boleh didustakan) he he he, kasian deh, kecewa para pengikut syiah.

Islam Yang Diasingkan Dan Dimusuhi… Bangunlah Dari Buaian Tidurmu, Wahai Kaum Muslimin…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى

1. Biarawati boleh menutup tubuhnya dari kepalanya hingga ujung jari kakinya untuk mendermakan hidupnya dalam ibadah kepada tuhannya… Tapi seorang muslimah, jika melakukan hal yang sama, mengapa ditekan dan dilawan?!

2. Ketika wanita barat memutuskan untuk selalu di rumahnya, mengorbankan hidupnya demi keluarga dan anak-anaknya; dia sangat dihargai masyarakatnya… Tapi seorang muslimah, jika melakukan hal yang sama, mengapa dicemooh dan direndahkan?!

3. Ketika wanita manapun bisa pergi ke kampusnya mengenakan pakaian model apapun yang dia kehendaki, dia bebas dan sesukanya dalam memilih dan memakainya… Tapi seorang muslimah, ketika dia memilih pakaian kesuciannya untuk pergi ke kampusnya, mengapa dilarang dan diperangi?!

4. Ketika anak kecil menaruh perhatian khusus pada bidang tertentu, dia disebut-sebut memiliki kelebihan dalam hal tersebut, dan masa depannya cemerlang… Tapi ketika anak kecil muslim, menaruh perhatian khusus pada agamanya; dia dianggap kuno dan masa depannya hilang.

5. Ketika ada orang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan kehidupan orang banyak; maka dia dianggap pahlawan dan semua orang menghormatinya… Tapi ketika orang Palestina mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan anaknya, saudaranya, ibunya, rumahnya, masjidnya; dia dituduh sebagai teroris!

6. Ketika seorang yahudi membunuh orang lain; hal itu tidak dihubungkan dengan agamanya… Namun, ketika seorang muslim dituduh melakukan hal yang sama; maka AGAMA ISLAM lah yang menjadi tertuduh utama.

7. Ketika muncul masalah, kita menerima solusi apapun… Namun, bila solusi itu ada pada Islam, maka semuanya menolak, bahkan melirik pun tidak!

8. Ketika ada orang mengendarai mobil mewah tanpa aturan dan akhirnya mobilnya rusak; tidak ada seorang pun yang menyalahkan mobilnya… Namun, ketika ada seorang muslim melakukan kesalahan atau tidak baik dalam bergaul dengan orang lain; mereka mengatakan: ‘Islamlah sebabnya’.

9. Ketika media menuduh Kaum Muslimin sebagai teroris, pembunuh, brutal; mereka sangat percaya… Namun, ketika Alqur’an dan Sunnah mengatakan Islam adalah rahmatan lil aalamin, penyempurna akhlak mulia, dst; mereka tutup mata dan telinga.

[@Inti_Karikatur]

Kesalahan Kaum Muslimin di mata mereka adalah karena mereka beragama Islam, maka sungguh benar firman Allah ta’ala:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

“Kaum Yahudi dan Kaum Nasrani tidak akan rela denganmu hingga kamu mengikuti agama mereka”. [Al-Baqoroh: 120].

Terus Jaga Amalan Yang Biasa Dijaga …

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc حفظه الله تعالى

Ibnu Taimiyah berkata:

“Barang siapa yang memiliki kebiasaan pada amalan tertentu yang disyari’atkan seperti shalat Dhuha, shalat malam, atau selainnya, hendaklah ia terus menjaganya dalam setiap keadaan.”

Amalan yang terbaik adalah amalan yang kontinu (ajeg) walau jumlahnya sedikit.

Bisakah amalan kita selepas Ramadhan seperti itu?

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Ketika Cobaan Datang Bertubi-Tubi….

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Terkadang seseorang ditimpa ujian dan musibah datang bertubi-tubi…silih berganti…hilang yang satu datang lagi yang lain semisalnya…
Terkadang seseorang tidak melihat kegembiraan kecuali sangat jarang sekali.

Sungguh indah perkataan Al-Imam Asy-Syafii rahimahullah tatkala beliau berbicara tentang banyaknya kesedihan dan sedikitnya kegembiraan.

مِحَنُ الزَّماَنِ كَثِيْرَةٌ لاَ تَنْقَضِي … وَسُرُوْرُهَا يَأْتِيْكَ كَالأَعْيَادِ
“Ujian zaman banyak dan tidak berhenti menimpa….
Dan kegembiraannya mendatangimu sesekali seperti hari raya yang datang sesekali…”

Bahkan terkadang ujian dan musibah terkadang datang tidak satu persatu akan tetapi datang bergerombol…

Al-Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata :

تَأْتِي الْمَكَارِهُ حِيْنَ تَأْتِي جُمْلَةً … وَأَرَى السُّرُوْرَ يَجِيْءُ فِي الْفَلَتَاتِ
“Hal-hal yang dibenci tatkala menimpa datang secara bergerombol…
Dan aku memandang kesenangan datangnya sesekali…”

Memang benar, terkadang musibah dan ujian menimpa seseorang secara bergerombol…sampai-sampai terkadang seseorang tidak bisa berfikir dan bersikap yang waras..

Akan tetapi seorang mukmin bagaimanapun kesulitan dan ujian yang dihadapinya maka ia akan tetap percaya dan yakin dengan rahmat Allah dan bertawakkal kepada Allah. Ia yakin bahwasanya akan ada jalan keluar…akan terurai ikatan-ikatan kesulitan tersebut….bahkan justru keyakinan ini muncul dan nampak dalam kondisi yang amat sangat genting !!!

Al-Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata :

وَلَرُبَّ نَازِلَةٍ يَضِيْقُ بِهَا الْفَتَى — ذَرْعاً وَعِنْدَ اللهِ مِنْهَا الْمَخْرَجُ
ضَاقَتْ فَلَمَّا اسْتَحْكَمَتْ حَلَقَاتُهَا — فَرُجَتْ وَكُنْتُ أَظُنُّهَا لاَ تَفْرَجُ

“Betapa sering musibah yang menjadikan sesak dada seorang pemuda… padahal di sisi Allah ada jalan keluarnya…
Menjadi sempit…bahkan tatkala telah semakin kokoh rantai-rantai pengikat… terbukalah…padahal aku telah menyangka bahwasanya tidak akan terbuka ikatan tersebut…”

Seorang muslim janganlah lupa bahwasanya terkadang karunia Allah bisa jadi datang dalam musibah tersebut…bahwasanya :

أَنَّ وَرَاءَ كُلِّ مِحْنَةٍ مِنْحَةً

“Dibalik setiap ujian ada pemberian dan karunia Allah.”

Kita yakin bahwasanya Allah tidak menguji kita untuk mengadzab kita, akan tetapi untuk meramati kita. Seberat apapun juga suatu ujian maka pasti dibaliknya ada kebaikan yang banyak.

Bisa jadi kita tidak akan tahu hikmah dibalik ujian dan musibah tersebut kecuali setelah perginya ujian dan musibah tersebut.

Jika kita tidak bisa melihat keindahan dan hikmah pada musibah maka hendaknya kita merenungkan kisah yang terjadi antara Nabi Musa ‘alaihis salam bersama Khodir dalam surat Al-Kahfi. Lihatlah bagaimana Musa memandang bahwasanya perbuatan Khodir yang membocorkan perahu, membunuh anak muda, dan menegakkan dinding merupakan murni keburukan, sehingga akhirnya iapun mengingkarnya. Akan tetapi… ternyata dibalik perkara-perkara tersebut ada kebaikan dan hikmah.

Ternyata dibocorkannya perahu tersebut merupakan sebab selamatnya perahu agar tidak diambil oleh raja yang dzolim, dibunuhnya anak tersebut ternyata merupakan rahmat dari Allah terhadap kedua orang tuanya, yang ternyata jika sang anak besar maka akan menjerumuskan kedua orang tuanya dalam kekufuran. Dan dengan menegakkan tembok yang menyebabkan ditangguhkannya rejeki kedua anak yatim, ternyata merupakan rahmat dari Allah.

Sebagaimana pepatah :

رُبَّ أَمْرٍ تَتَّقِيْهِ، جَرَّ أَمْرًا تَرْتَجِيْهِ

“Betapa sering perkara yang kau jauhi/tidak sukai, ternyata mendatangkan perkara yang kau harapkan.”

Allah berfirman :

فَعَسَى أَن تَكرَهُوا شَيئاً وَيَجعَلَ اللهُ فِيهِ خَيراً كَثِيراً

“Maka bisa jadi engkau membenci suatu perkara dan Allah menjadikan pada perkara tersebut banyak kebaikan.” (QS An-Nisaa : 19)

Seorang penyair berkata :

إِذَا أَرْهَقَتْكَ هُمُوْمُ الْحَيَاِة ….وَمَسَّكَ مِنْهَا عَظِيْمُ الضَّرَرِ..

“Jika kesedihan hidup sungguh telah melelahkanmu…
Kau telah ditimpa dengan kemudorotan yang besar.”

وَذُقْتَ الْأَمْرَيْنِ حَتَّى بَكَيْتَ…وَضَجَّ فُؤَادُكَ حَتَّى انْفَجَرَ..

“Dua perkara tersebut telah kau rasakan hingga membuatmu menangis…
Hatimu telah bergeliak hingga meledak.”

وَسُدَّتْ بِوَجْهِكَ كُلُّ الدُّرُوْبَ…وَأَوْشَكْتَ أَنْ تَسْقُطَ بَيْنَ الْحُفَرِ..

“Telah tertutup seluruh jalan dihadapanmu…
Engkau hampir terjungkal diantara lobang-lobang…”

فَيَمِّمْ إِلَى اللهِ فِي لَهْفَةٍ…وَبُثَّ الشَّكَاةَ لِرَبِّ الْبَشَرِ

“Maka menujulah kepada Allah dalam kesedihan…dan curahkanlah keluhanmu kepada Penguasa manusia”

(Diringkas oleh Firanda Andirja)

Derita Seindah Ni’mat

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Dinamika kehidupan dunia menjadikan kita harus melalui berbagai hal-hal yang menyenangkan sebagaimana kita juga harus melalui berbagai derita dan cobaan.

Tiada kiatnya alias mustahil anda dapat menghindari salah seluruh derita atau semua kesenangan. Keduanya pasti anda lalui secara silih berganti.

Namun demikian, sadarkah anda bahwa kedua hal yang saling bergantian tersebut adalah kunci keindahan hidup di dunia ini? Nikmat bagi siapapun nampak indah dan terasa menyenangkan.

Di saat yang sama, derita walau nampak menakutkan dan menyakitkan, namun sejatinya indah dan menyenangkan. Walaupun pada kenyataannya anda salah persepsi sehingga memaki dan mencela derita atau cobaan.

Puasa ramadhan mengajarkan kepada kita bahwa bagi ORANG YANG BERIMAN sejatinya derita semisal rasa lapar dan dahaga dapat mendatangkan kebahagiaan sebagaimana rasa kenyang juga mendatangkan kegembiraan.

Tiada seorangpun dari ummat Islam yang menangisi atau menyesali rasa lapar dan dahaga yang ia rasakan di siang ramadhan. Sebagaimana tiada seorangpun yang memaki rasa kenyang di malam ramadhan. Setiap orang yang beriman saat ini pasti mensyukuri keduanya tanpa ada bedanya sedikitpun. Allah Taala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Setiap jiwa pastilah merasakan kematian. Dan Kami menguji kalian dengan kejelekan / musibah dan dengan kebaikan sebagai cobaan, dan hanya kepada Kami-lah kalian semua kembali.” (al Anbiya’ 35)

Cermatilah sobatku! Pada ayat ini Allah Azza wa Jalla menyamakan kebaikan dengan kejelekan. Keduanya adalah ujian dan cobaan yang menimpa anda. Bila anda merasa senang lalu bersyukur maka sepatutnya anda juga merasa senang lalu bersyukur atas kejelekan yang menimpa anda.

Bila anda merasa harus bersabar ketika ditimpa kejelekan, maka demikian pula sepatutnya anda bersabar sehingga tidak lupa daratan disaat mendapat kenikmatan.

Demikianlah dahulu yang diamalkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Bila mendapat kenikmatan beliau berkata:

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات
“Segala puji bagi Allah, atas kenikmatannya segala kebaikan dapat terwujud.”

Dan bila mendapatkan sesuatu yang beliau benci, maka beliau berkata:

الحمد لله على كل حال
“Segala puji hanya milik Allah atas segala kondisi yang terjadi.”

Bagaimana dengan anda sobat?

1221. Apakah Pemakaian Betadin Di Luka Menghalangi Wudhu ?

1221. BBG Al Ilmu

Tanya:
Jika tangan saya terluka dan saya kasi betadin, apakah ketika wudhu, bagian luka yang kena betadin itu harus dibersihkan dahulu ? Maksud saya apakah pemakaian betadin menghalangi wudhu yang sempurna ?

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Betadin tidak menghalangi wudhu, jadi tidak mengapa sholat dan sah.
والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Menebar Cahaya Sunnah