Berbaik Sangka

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Imam As-Syafii rahimahullah berkata :

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَقْضِيَ لَهُ بِالْحُسْنَى, فَلْيُحْسِنْ بِالنَّاسِ الظَّنَّ

“Barangsiapa yang ingin Allah menganugrahkan baginya husnul khootimah maka hendaknya ia berhusnudzon kepada orang-orang” (Mawaa’idz Al-Imaam As-Syafii)

Seakan-akan Imam Syafii mengingatkan bahwasanya berbaik sangka kepada orang lain akan menjauhkan seseorang dari banyak kedzoliman dan dosa besar yang muncul dari berburuk sangka, seperti ghibah dan namimah, serta praktek pemboikotan/hajr yang keliru..dll.

Selain itu orang yang mampu senantiasa untuk berhusnudzon maka akan senantiasa memiliki hati yang lembut…sayang kepada saudaranya…jauh dari hasad….tidak merendahkan orang lain..dll.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Keutamaan Puasa

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala` rosulillah, wa ba`du;

Puasa merupakan ibadah yang paling utama, ketaatan yang paling mulia, hingga Allah Ta`ala memfardhukan ibadah ini pada setiap umat sebelum kita, sebagai mana di firman kan, dalam QS Al-Baqarah 183 , ” Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Sekiranya ibadah ini tidak memiliki nilai niscaya tidak di wajib kan pada setiap umat, akan tetapi di karena kan puasa adalah ibadah yang agung hingga setiap orang merasa butuh dan di fardhukan bagi mereka.

Di antara keutamaan puasa adalah menghapus dosa dosa dan keburukan, sebagai mana di riwayat kan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu`anhu, bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda,” Barangsiapa berpuasa ramadhan dengan penuh keimanan dan mencari pahala maka akan di hapus dosa dosa nya yang terdahulu “. HR Bukhari dan Muslim.

Maksud hadits ini adalah jika seseorang berpuasa dalam rangka beriman dan ridho akan fardhu nya puasa, ia hanya meniatkan untuk mencari pahala dan ganjaran semata, tidak merasa benci dan ragu atas pahala yang di janjikan maka ia akan di hapus dosa dosa nya yang terdahulu.

Sebagai mana pula dalam sabda Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam,” Sholat lima waktu, Jum`at sampai Jum`at berikutnya, ramadhan hingga ramadhan berikutnya akan menghapus kan dosa dosa jika ia menjauhi dosa besar “. HR Muslim.

Di antara keutamaan puasa adalah akan di berikan balasan yang tidak terhingga, sebagai mana di riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu`anhu bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta`ala berfirman,” Setiap amalan anak cucu Adam akan kembali pada diri nya, kecuali ibadah puasa, maka sesungguhnya puasa itu untuk Ku, dan Aku akan memberikan balasan nya, puasa adalah perisai, jikalau kalian berpuasa maka jangan berbuat sia sia, berbuat aniaya.

jikalau kalian menjumpai seorang yang mencela atau hendak membunuh maka katakan kepadanya bahwa aku berpuasa, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya sungguh aroma mulut orang yang berpuasa lebih wangi dari pada aroma kasturi, dan bagi yang berpuasa ia menjumpai dua kebahagiaan, jika ia berbuka puasa maka ia akan merasa bahagia dan juga kelak berjumpa dengan Tuhannya”. (HR Bukhari dan Muslim).

Dari hadits ini terdapat banyak keutamaan berpuasa, di antara nya:

» Amalan puasa merupakan amalan khusus yang dipersembahkan untuk Allah Ta`ala, dikarenakan di sana mengandung rasa ikhlas dan rahasia antara ia dan Allah Ta`ala semata, memungkinkan bagi yang berpuasa ia makan dan minum di tempat tersembunyi, akan tetapi ia meninggalkan ini semata karena Allah dan mengharapkan pahala, sehingga Allah bersyukur kepadanya atas keihlasan yang ia lakukan. Didalam hadits di katakan, “Ia meninggalkan syahwat dan makan karena Aku”.
Berkata Sufyan ibnu Uyainah rohimahullahu, “Jika nanti hari kiamat Allah akan menghisap amalan para hamba dan di balasannya semua kezaliman-kezaliman dari perbuatannya hingga tidak tersisa dari amalannya kecuali puasa maka Allah akan menanggung apa yang tersisa dari kezaliman dan ia pun dimasukkan ke dalam surga dengan puasa tersebut”.

» Allah Ta`ala berjanji, “Sesungguhnya Aku akan membalasinya”. Dalam hadits ini dikatakan setiap amalan kebaikan akan diberikan balasan berlipat ganda sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat dan lebih, adapun puasa maka Allah menyandarkan pahala kepada diri-Nya Ta`ala, tanpa perhitungan kelipatan, sedangkan Allah adalah Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah, sehingga pahala puasa memiliki pahala besar dan banyak karena puasa merupakan ketaatan dan kesabaran terhadap perkara yang dilarang dan sabar dari menjalankan ketaatan, dan sabar dari takdir yang terasa berat dari menahan lapar dan haus dan lemah nya badan, hingga terkumpul tiga jenis kesabaran.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

“WONG CILIK” Dilarang Keras Jadi Guru Ngaji !

Ust. M Wasitho, حفظه الله تعالى

عن أبي أمية الجمحي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ” إِنَّ مِنْ أَشْرِاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ “.

» Dari Abu Umayyah Al-Jumahi radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari Kiamat adalah ilmu agama diambil dan dipelajari dari orang-orang kecil (yakni ahli bid’ah, pent).”. (Dikeluarkan oleh Abdullah bin Al-Mubarok di dalam kitab Az-Zuhd hal.61, al-Lalaka’i, dan al-Khothib al-Baghdadi. Dan dinyatakan SHOHIH oleh Syaikh al-Albani di dalam Shohih al-Jami’ ash-Shoghir, no. 2203, dan Silsilatu Al-Ahadits Ash-Shohihah II/316, dan Syaikh Salim al-Hilali dalam kitab Hilyatul ‘Alim, hal. 81).

» Umar bin Khoththob radhiyallahu ‘anhu berkata: “Agama Islam ini akan rusak jika ilmu agama diambil dan dipelajari dari “Wong Cilik”. Dan baiknya (urusan dan keadaan) umat Islam bilamana ilmu agama dipelajari dari orang besar (maksudnya para ulama sunnah yang paham tentang agama Islam dengan baik dan benar, pent).”. (Dikeluarkan oleh Qosim bin Ashbag di dalam kitab Mushonnaf-nya dengan sanad yang Shohih sebagaimana dinyatakan oleh AL-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani di dalam Fathul Bari I/201-202).

» Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya kalian senantiasa dalam keadaan baik selagi kalian menuntut ilmu agama dari orang-orang besar (yakni para Ulama Ahlus Sunnah). Namun, jika kalian belajar ilmu agama pada orang-orang kecil (maksudnya: Ahli Bid’ah), maka (yang akan terjadi) Wong Cilik membodoh-bodohkan orang besar (Ulama Sunnah).”. (Lihat Jami’ Bayan Al-‘Ilmi, I/159).

Abdullah bin Al-Mubarok rahimahullah pernah ditanya: “Siapakah orang-orang kecil (Wong Cilik) itu?” Beliau menjawab: “Yaitu Orang-orang yang berbicara (tentang perkara agama) dengan akal pikiran mereka. Adapun Ash-Shoghir (Wong Cilik dalam hal usia dan badan, pent) yang meriwayatkan (ilmu dan hadits) dari Al-Kabir (orang besar, yakni Ahlus Sunnah), maka dia bukanlah termasuk Ash-Shoghir (Ahli Bid’ah).”. (Lihat Jami’ Bayanil ‘ilmi, karya Ibnu Abdil Barr, hlm. 246).

» Di dalam riwayat lain, Imam Abdullah bin Al-Mubarok juga mengatakan: “(Yang dimaksud) Wong Cilik ialah golongan Ahli Bid’ah”. (Riwayat Al-Lalaka’i, I/85).

» Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah –seorang ulama Saudi, anggota Komisi Fatwa Saudi Arabia- berkata: “Waspadalah terhadap Abu Jahal (bapak dan dedengkot kebodohan), yaitu ahli bid’ah, yang tertimpa penyimpangan aqidah, diselimuti oleh awan khurafat; dia menjadikan hawa nafsu sebagai hakim (penentu keputusan) dengan menyebutnya dengan kata “akal”; dia menyimpang dari dalil syar’i (wahyu Allah berupa Al-Qur’an dan Hadits Shohih, pent), padahal bukankah akal itu hanya ada dalam nash? Dia memegangi dalil yang Dho’if (lemah) dan menjauhi yang Shohih. Mereka juga dinamakan ahli syubuhat (orang-orang yang memiliki dan menebar kerancauan pemikiran) dan ahlul ahwa’ (orang-orang yang mengikuti kemauan hawa nafsu). Oleh karena itulah Ibnul Mubarok menamakan ahli bid’ah dengan Ash-Shoghir (Wong Cilik).” (Lihat Hilyatu Tholibil ‘Ilmi, hal. 39, karya Syaikh Bakr Abu Zaid).  (Klaten, 30 Juni 2014).

» BBG Majlis Hadits, chat room Kajian Hadits Shohih.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Satu Beradab Sedangkan Dua Serakah

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat! Di bulan Ramadhan ini, biasanya ummat Islam sampaipun yang di negri kita Indonesia, menikmati buah kurma. Satu kenikmatan yang patut disyukuri. Betapa tidak, dahulu,bagi banyak orang, kurma hanya diperoleh bila ada kerabat atau sahabat yang pulang dari negri arab. Kurma menjadi salah satu oleh-oleh istimewa yang dinanti-nantikan, namun kini semuanya telah berubah, sehingga buah istimewa ini dengan mudah kita dapatkan di pasar dengan harga yang terjangkau.

Walau demikian, di bulan Ramadhan ini, buah kurma kembali menjadi istimewa, karena mayoritas ummat Islam menyadari bahwa disunnahkan untuk menjadikan buah kurma sebagai santapan pembuka puasa kita.

Sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengisahkan:

كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يفطر على رطبات قبل أن يصلي فإن لم يكن رطبات فعلى تمرات فإن لم يكن تمرات حسا حسوات من ماء
“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka puasa dengan menyantap beberapa biji kurma segar (Ruthab) sebelum mendirikan shalat Maghrib. Dan bila tida ada kurma segar (ruthab) maka beliau menyantap beberapa biji kurma, dan bila tidak ada kurma, maka beliau meneguk beberapa teguk air.” (Ahmad dan lainnya)

Saya yakin, semangat meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam inilah yang menjadikan anda membeli dan menyajikan buah kurma di rumah anda di setap bulan Ramadhan.

Sobat! Untuk semakin menyempurnakan keteladanan anda kepada beliau dalam amalan ini, maka ada baiknya bila anda mengindahkan adab makan kurma, terlebih bila anda sedang makan bersama keluarga atau sahabat anda.

Jabalah mengisahkan: Suatu hari kami sedang berada di kota Madinah bersama beberapa orang dari negri Irak. Kala itu, kami sedang dilanda paceklik, sehingga Abdullah bin Az Zubair membagi-bagikan kurma kepada kami. Di saat kami menerima pembagian kurma, sahabat Abdullah bin Umar melintas, lalu beliau berkata:

إن رسول الله صلى الله عليه و سلم نهى عن الإقران إلا أن يستأذن الرجل منكم أخاه
“Sesungguhnya rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang kalian dari memakan dua biji kurma dalam sekali suap (secara bersamaan), kecuali bila teman makanmu mengizinkannya.” (Bukhari & Muslim)

Para ulama’ menyebutkan beberapa hikmah dari larangan menyuap dua biji kurma sekaligus:
1) Menyantap DUA biji sekaligus semacam ini mencerminkan sikap SERAKAH atau RAKUS.

2) Bila buah kurmanya milik bersama, bukan milik pribadi, maka menyuap Dua biji sekaligus ini bisa menjadi bentuk dari PERAMPASAN hak sahabat anda yang juga memiliki hak atas buah kurma tersebut, karena anda makan lebih banyak dari mereka.

3) Sikap ini mencerminkah ketergesa-gesan yang sudah barang tentu tercela, bahkan bisa MENGANCAM KESELAMATAN ANDA.

Ketiga alasan ini, melandasi sebagian ulama’ untuk berfatwa HARAM hukumnya menyantap DUA biji sekaligus, bila buah kurmanya milik bersama dan bukan milik anda sendiri.

Sobat! Bila anda menghadiri acara buka bersama, maka terapkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, ambil SATU dulu dan jangan sekali kali serakah dengan mengambil DUA sekaligus.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

 

Menanamkan Akhlak Mulia Pada Anak

Ustadz Abdullah Zaen, Lc, MA, حفظه الله تعالى

Apa yang ada dalam pikiran Anda? Ketika mendapati seorang anak yang lembut tutur katanya, sopan perilakunya, taat ibadahnya dan terdidik pemikirannya? Pasti Anda akan merasa senang untuk berjumpa dan melihatnya.

Kita tentu bisa menerka bahwa anak tersebut terdidik dengan baik dan mendapat bimbingan akhlak yang memadai. Mengapa demikian? Sebab terbentuknya akhlak yang mulia pada diri seseorang sangat dipengaruhi tempaan pendidikan yang dilaluinya.

Karenanya, sangat penting bagi kita untuk mengisi masa kanak-kanak mereka dengan menanamkan adab dan akhlak yang terpuji. Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah yang murni dan perangai yang lurus. Jiwa yang polos ini menerima bentuk perangai apapun yang dipahatkan pada dirinya. Selanjutnya pahatan itu akan meluas sedikit demi sedikit hingga akhirnya meliputi seluruh jiwa dan menjadi tabiat yang melekat padanya. Juga akan menentang segala yang berlawanan dengannya.

Dalam kitab Tuhfah al-Maudûd, Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Yang sangat dibutuhkan anak adalah perhatian terhadap akhlaknya. Ia akan tumbuh sesuai dengan apa yang dibiasakan oleh pendidiknya saat kecil. Jika sejak kecil ia terbiasa marah, keras kepala, tergesa-gesa dan mudah mengikuti hawa nafsu, serampangan, tamak dan seterusnya, maka akan sulit baginya untuk memperbaiki dan menjauhi hal itu ketika dewasa. Perangai seperti ini akan menjadi sifat dan perilaku yang melekat pada dirinya. Jika ia tidak dibentengi betul dari hal itu, maka pada suatu ketika, semua perangai itu akan muncul. Karena itu, kita temukan manusia yang akhlaknya menyimpang, itu disebabkan oleh pendidikan yang dilaluinya”.

Maka, langkah pertama yang harus ditempuh adalah pembinaan akhlak secara nyata melalui keteladanan yang baik dari orang tua. Hingga mereka tumbuh dengan perangai yang mulia dan tidak mengabaikan akhlak-akhlak Islam. Terlebih lagi di hadapan berbagai gelombang arus perilaku yang menyimpang.

Contohlah akhlak Rasulullah shallallahualaihiwasallam! Beliau menyuruh dan melarang anak. Bercanda dengan mereka, mengajak mereka bermain, membonceng mereka dan murah senyum. Tidak marah-marah di hadapan mereka dan tidak mencela mereka. Inilah kunci agar anak merasa dekat dengan kita. Hingga terciptalah suasana yang hangat. Buahnya kita akan lebih leluasa dan mudah memberikan pengajaran serta pengarahan kepada mereka.

Anas bin Malik radhiyallahu’anhu menuturkan, “Nabi shallallahu’alaihiwasallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Suatu hari beliau mengutusku untuk suatu keperluan. Lalu akupun menjawab, “Aku tidak mau pergi!”. Padahal sebenarnya di hatiku akan berangkat menuruti perintah Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam. Akupun keluar sampai akhirnya aku melewati anak-anak kecil yang sedang bermain di pasar. Ternyata Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengikuti pelan-pelan di belakang. Aku kemudian melihat beliau ketika sedang tertawa. Beliau berkata, “Ternyata engkau berangkat juga ke tempat yang kuperintahkan”. Aku menjawab, “Ya, aku berangkat wahai Rasulullah!”. Selanjutnya Anas berkata, “Demi Allah, aku menjadi pelayan Nabi selama sembilan tahun. Dan seingatku beliau tidak pernah mengomentari sesuatu yang kulakukan dengan mengatakan, “Kenapa kamu lakukan begitu?”. Atau mengomentari sesuatu yang kutinggalkan dengan mengatakan, “Kenapa tidak kamu lakukan ini?”. (HR. Muslim).

Ref:  http://tunasilmu.com/silsilah-fiqih-pendidikan-anak-no-32-menanamkan-akhlak-mulia-pada-anak/

 

Ramadhan Kariim, Benarkah Ucapan Ini ?

Ust. Fuad Hamzah Baraba’, Lc حفظه الله تعالى

Ringkasan Fatwa:

Syeikh al-Utsaimin ditanya tentang ucapan “Ramadhan Kariim”.

Beliau menjawab: Bahwa ucapan itu tidak benar, karena Ramadhan bukan yang memberikan kemuliaan, tetapi Allah ‘Azza wa Jalla yang menjadikan bulan tersebut penuh berkah, ucapan yang benar adalah “Ramadhan Mubarak” Ramadhan bulan yang penuh berkah. (Fatwa al-Utsaimiin: 20/93).

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Pada Setiap Malam Bulan Ramadhan Terdapat Pembebasan Dari Api Neraka

Ust. Fuad Hamzah Baraba’, Lc حفظه الله تعالى

Pada setiap malam bulan ramadhan terdapat pembebasan dari api neraka, oleh karena itu jangan lalai, dan pergunakan kesempatan ramadhan sekarang ini dengan sebaik mungkin.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

إذا كان أول ليلة من شهر رمضان صفدت الشياطين ومردة الجن وغلقت أبواب النار فلم يفتح منها باب وفتحت أبواب الجنة فلم يغلق منها باب وينادي مناد يا باغي الخير أقبل ويا باغي الشر أقصر ولله عتقاء من النار وذلك كل ليلة.

“Apabila malam pertama dari bulan ramadhan maka setan-setan dan jin jahat dibelenggu, dikunci pintu-pintu neraka dan tidak dibuka satupun, dibuka pintu-pintu surga dan tidak ditutup satupun. Kemudian seorang penyeru mengatakan: Wahai orang yang mencintai kebaikan kemarilah, dan wahai orang yang mencintai kejahatan berhentilah. Allah memiliki orang-orang yang akan dibebaskan dari api neraka, dan itu setiap malam“. [HR. At-Tirmidzi (685), Ibnu Majah (1642), Ibnu Khuzaimah (1776) dan (1883), Ibnu Hibban (3435) dan (3504), Al-Hakim (1479), Al-Baihaqi (8764-Sunan) dan (3446-Syu’abul Iman), dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi (1/209) dan Shahih Ibnu Majah (1/275), dari Abu Huroiroh رضي الله عنه].

Sebegitu besar karunia Allah Ta’ala kepada para hambanya, dengan memberikan itu semua.

Wahai saudarakau janganlah engkau dilalaikan hanya dengan menghabiskan malam-malam ramadhan dengan sesuatu yang sia-sia, nonton piala dunia, sibuk begadang atau yang lainnya.

Marilah kita raih pembebasan dari api neraka.

Ingat, itu bukan hanya pada sepuluh terakhir saja, namun SETIAP MALAM.

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Wooow, Alhamdulillah Segarnya!

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Lega deh, haus dan laparnya kini telah sirna, enak nian masakan ibu sore ini!

Dua ungkapan di atas hanyalah tebak reka saya tentang ungkapan yang keluar dari lisan anda seusai menyantap hidangan buka puasa anda. Dua ungkapan yang menggambarkan betapa nikmatnya hidangan buka puasa anda.

Di saat yang sama dua ungkapan di atas juga menggambarkan betapa bahagia dan senangnya hati anda dengan acara buka puasa anda. Betapa tidak setelah melalui satu siang yang berat, haus, lapar, dan letih bercampur baur menjadi satu, sekarang anda berhasil melepaskan semuanya.

Betapa indahnya gambaran anda yang sedang berada di tengah-tengah keluarga tercinta, bersama-sama menikmati hidangan buka puasa anda.

Rasa bahagia yang anda temukan ditengah-tengah keluarga anda pada saat berbuka puasa hanyalah sebagian kecil dari kebahagiaan yang tersimpan di balik ibadah puasa anda. Kebahagiaan yang belum anda rasakan masih terlalu besar.

Semoga anda bersama keluarga anda berhasil menemukan sisa kebahagiaan yang terpendam di balik ibadah puasa anda.

Anda ingin tahu apa kebahagian bagian kedua yang seyogyanya anda nikmati bersama keluarga anda? Temukan jawabannya pada sabda Rasulullah berikut:

(لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ، وَإِذَا لَقِىَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ) متفق عليه
“Orang yang berpuasa akan menikmati dua kebahagiaan : bila ia berbuka puasa ia berbahagia, dan bila kelak ia berjumpa dengan Tuhan-nya iapun kembali berbahagia dengan puasanya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Saudaraku! Coba sekali lagi anda membayangkannya kembali senyum yang terkulum di bibir anda di saat anda menyantap hidangan buka puasa anda. Indah bukan?

Akan tetapi, tahukah anda bahwa di sekitar anda masih banyak saudara-saudara anda seiman dan seakidah, walaupun adzan Maghrib telah berkumandang, tidak dapat merasakan nikmat dan bahagianya berbuka puasa.

Apalagi turut merasakan indahnya senyuman seperti yang anda rasakan. Isak tangis anak-anak mereka saja tak kuasa mereka hentikan.

Tahukah anda apa sebabnya? Sebabnya sepele; yaitu walaupun adzan telah dikumandangkan, ternyata mereka terpaksa meneruskan puasa mereka. Rasa lapar berkelanjutan, haus berkepanjangan, dan letih tak kunjung sirna. Betapa tidak, tidak sesuap nasipun yang dapat mengusir rasa lapar mereka, apalagi hidangan makanan yang lezat dan beraneka ragam. Seteguk air putihpun tidak mereka miliki, apalagi berbagai jus dan minuman segar lainnya.

Tidakkah anda dapat membayangkan betapa berat penderitaan mereka?

Tidakkah pintu hati anda terketuk untuk turut menyertakan mereka dalam kebahagiaan anda ketika berbuka puasa.

Jangan khawatir saudaraku! Uluran tangan anda kepada mereka tidak akan sirna begitu saja. Bahkan kebahagiaan puasa anda akan semakin berlipat ganda, dengan menyertakan mereka dalam kebahagian berbuka puasa.

(مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا ) رواه الترمذي وابن ماجة وابن خزيمة وصححه الألباني
“Barang siapa yang memberi makanan untuk berbuka orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang tersebut tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala orang yang berpuasa itu.” (Riwayat At Tirmizy, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah)

Bayangkan! Andai anda memberi makanan untuk berbuka puasa kepada sepuluh orang, maka anda mendapatkan pahala sebesar pahala puasa kesepuluh orang tersebut.

Semakin banyak yang anda beri, maka semakin banyak pula pahala yang anda dapatkan.

Saudaraku! sudah berapa banyakkah orang yang anda beri makanan buka puasa?  Mumpung kesempatan masih terbuka lebar, bergegaslah saudaraku untuk berlomba-lomba merebutkan kesempatan menumpuk pahala di sisi Allah ini.

Saudaraku! coba bayangkan betapa beruntungnya diri anda, bila pada bulan puasa ini yang hanya berjumlah 30/29 hari, anda berhasil mengumpulkan pahala puasa beribu-ribu hari!

Selamat berjuang mengumpulkan pahala puasa sebanyak mungkin, semoga berhasil.

 

Yang Pintar Menasehati Buanyak….!!! Tapi Yang Mengamalkan Nasehatnya Sendiri ?

Ustadz Firanda Andirja, Lc, MA,

Sungguh banyak diantara kita yang “HOBY” menasehati di facebook, sungguh ini merupakan kebaikan…tapi janganlah lupa agar kita juga semangat untuk mengamalkan nasehat-nasehat kita sendiri. Renungkanlah perkataan Abul Aswad Ad-Dualy:

يَا أَيُّهَا الرَّجُلُ الْمُعَلِّمُ غيره *** هَلاَّ لِنَفْسِكَ كَانَ ذَا التَّعْلِيْمِ

“Wahai orang yang mengajari orang lain…. Tidakkah kau mengajari dirimu dulu (sebelum orang lain)”

أَتَرَاكَ تُلَقِّحُ بِالرَّشَادِ عُقُوْلَنَا *** صِفَةً وَأَنْتَ مِنَ الرَّشَادِ عَدِيْمُ
“Pantaskah kau tanamkan pada akal kami “sifat mulia”.. Tapi ternyata, engkau kosong dari sifat mulia itu”

لاَ تَنْهَ عَنْ خُلُقٍ وَتَأْتِي مِثْلَهُ *** عَارٌ عَلَيْكَ إِذَا فَعَلْتَ عَظِيْمُ
“Janganlah engkau melarang akhlak (yang buruk), tapi kau sendiri melakukannya… Sungguh sangat tercela, jika kau berbuat seperti itu”

اِبْدَأْ بِنَفْسِكَ فَانْهَهَا عَنْ غَيِّهَا *** فَإِذَا انْتَهَتْ عَنْهُ فَأَنْتَ حَكِيْمُ
“Mulailah dari dirimu, dan lepaskanlah dosanya… Karena engkaulah sang bijaksana, jika kau telah lepas darinya”

فَهُنَاكَ يَنْفَعُ إِنْ وَعَظْتَ وَيُقْتَدَى *** بِالْقَوْلِ مِنْكَ وَيَنْفَعُ التَّعْلِيْمُ
“Saat itulah, nasehat dan didikanmu kan berguna. Begitu pula ucapanmu, akan menjadi panutan”

Yaa Allah ampunilah kami yang sering menasehati akan tetapi lalai dari nasehatnya sendiri…tunjukanlah kami jalan yang lurus, tutuplah aib-aib kami di dunia, terlebih-lebih lagi di akhirat…

Aamiiin yaa Robbal ‘Aaalamiin

 

Berpuasa Namun Sayang Tidak Berjilbab

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Itulah yang kita temukan pada remaja saat ini, mereka tidak lagi peduli dengan kewajiban mereka. Mereka asal saja berpuasa, namun tidak tahu bahwa dengan bermaksiat dapat membuat pahala seseorang itu berkurang. Termasuk dalam hal ini adalah mengumbar aurat, bebas begitu saja berpakaian. Bahkan yang kami pandang, anak-anak remaja saat puasa masih berpakaian mini dan ketat, juga menampakkan betis.

Menutup aurat tentu saja wajib. Allah Ta’ala berfirman,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur [24] : 31). Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Atho’ bin Abi Robbah, dan Mahkul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan. (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Amru Abdul Mun’im, hal. 14).

Enggan berjilbab termasuk berbuat dosa besar karena diancam dengan ancaman yang keras dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128).

Yang dimaksud berpakaian tetapi telanjang itu apa? Yaitu berpakaian dengan sengaja menampakkan keindahan tubuh. Juga yang dimaksud adalah berpakaian tipis sehinga nampak bagian dalam tubuh. Itulah yang kita lihat dari model pakaian muda-mudi saat ini.

Orang yang berpuasa tentu saja mesti meninggalkan maksiat. Satu persen saja ia menahan lapar dan dahaga, 99% lainnya yang lebih berat yaitu meninggalkan maksiat. Dan mengumbar dan membuka-buka aurat termasuk maksiat. Lihatlah akibat dari orang yang berpuasa namun masih terus bermaksiat.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta (az zuur) dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903). Mengamalkan az zuur yang dimaksud dalam hadits ini adalah mengamalkan suatu yang haram secara umum.

Apakah mesti menghijabi hati lebih dulu? Tidak demikian. Justru dengan menutupi aurat dengan hijab sempurna, hati pun akan ikut baik. Kenapa tidak percaya itu? Terus menerus membuka aurat malah membuat hati semakin kelam dan gelap karena terus dinodai hitamnya maksiat.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah kepada setiap wanita muslimah supaya mereka sadar untuk menutupi aurat mereka. 

 

Menebar Cahaya Sunnah