Persatuan Dan Perpecahan

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, washolatu wassalamu ala’ Rosulillah, wa ba’du;

Sesungguhnya diantara prinsip akidah Ahlussunnah wal Jama’ah adalah persatuan dan kasih sayang diatas Al-Hak dan kebenaran, Allah Ta’ala berfirman,” Dan berpegang teguhlah kalian diatas tali (agama ) Allah dan janganlah bercerai-berai  dan ingatlah nikmat Allah kepada mu, tatkala kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah persatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi saling bersaudara “. QS Ali Imron 103.

Dan Allah mencela perpecahan sebagaimana firman-Nya, “Dan janganlah kalian termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan, setiap golongan bangga dengan apa yang ada pada golongannya “. QS Ar-Rum 31-32.

Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi Sallallahu alihi wa sallam ,” Sesungguhnya Allah meridhoi tiga perkara, yaitu agar kalian menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan Nya dengan sesuatu, dan agar kalian berpegang erat dengan tali (agama) Allah dan tidak bercerai-berai “.HR Muslim.

Syariat Islam menganjurkan agar besatu didalam kebenaran, berlemah lembut serta bekerja sama didalamnya, sebagaimana Allah berfirman, “Dan tolong-menolonglah kalian dalam mengerjakan kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan “. QS Al-Ma’idah 2.

Maka disini sepantasnya untuk diperhatikan :
* Syariat agama tidak menganjurkan semata-mata persatuan, akan tetapi dengan rambu jika berada diatas Al-hak dan kebenaran, sehingga tidak dibenarkan apabila bersatu dalam melakukan keburukan dan kejahatan, kemungkaran, perkara haram, dan perbuatan syahwat dan syubhat seperti minum arak dan perbuatan bid’ah nya kaum sufi dalam dzikir yang bid’ah.

*  Bersatu nya badan secara dhohir dengan adanya perbedaan akidah adalah tercela dalam pandangan syariat, sebagaimana Allah mencela orang yahudi dalam firman-Nya ,

,”Permusuhan antara sesama mereka sangat hebat, kamu kira mereka itu bersatu, padahal hati mereka berpecah-belah, yang demikiyan dikarenakan mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti.” QS Al-Hasyr 14.

*  Syariat Islam tidak mencela perpecahan secara muthlak, jika yang berpisah dan ditinggalkan adalah kebathilan maka ini adalah terpuji secara syariat, sebagaimana diriwayatkan oleh imam Ahmad dan Bukhary didalam adabul-mufrod, dari sahabat Mikdad radhiyallahu ‘anhu, berkata tentang Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Nabi datang dengan membawa furkon, yang memisah antara kebenaran dan kebathilan, memisah antara ayah dan anak nya.”

*  Amar makruf dan nahi mungkar bukanlah sarana pemecah belah yang tercela, dikarenakan syariat yang menganjurkan untuk persatuan juga memerintahkan agar beramar makruf nahi munkar, Allah Ta’ala berfirman, “Kalian (umat islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh berbuat baik dan mencegah berbuat mungkar dan beriman kepada Allah.” QS Ali-Imron 110.

Bahkan menjalankan amar makruf nahi mungkar merupakan sebab tegaknya persatuan diatas kebenaran, maka barang siapa mengingkari kemungkaran kepada suatu kaum yang sedang berbuat munkar, sesungguhnya ia merupakan penyeru persatuan diatas kebenaran. Dan yang semisal ini adalah memberikan tahdzir kepada orang yang menyeleweng dari kalangan pelaku bid’ah.

View

Antara Kematian Dan Sikap Kita

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Kematian adalah perkara yang sangat diyakini sekaligus sangat diragukan oleh manusia….semua orang meyakini bahwa dirinya pasti akan mati cepat atau lambat…akan tetapi ternyata perbuatan dan tingkah laku banyak orang yang tenggelam dalam dunia dan terjerumus dalam kemaksiatan menunjukan bahwa mereka sangat ragu akan datangnya kematian.

Apakah kita termasuk orang yang meyakini ataukah yang meragukannya??!! jawabannya terletak pada amal perbuatan kita…..

Semoga Allah menjadikan kita orang yang yakin dengan datangnya kematian sehingga menjadikan kita untuk terus bersabar dalam beramal sholeh dan meninggalkan kemaksiatan…aaamiiin

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

Uukh Panasnya !

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

Akhir-akhir ini, terik matahari begitu menyengat, badan bercucuran keringat, dan dedauan mulai mengering.

Namun, di balik itu semua ada satu pertanyaan yang melintas di pikiran saya sore ini; matahari yang begitu panas, kok tidak pernah aus, atau meleleh sehingga lelehannya netes ke dunia, padahal letak matahari ada di atas sana? Kebayang deh, andai matahari meleleh lalu menetes ke bumi, kira-kira seperti apa jadinya.

Sobat, menurut hemat anda, apa yang menjadikan matahari tidak meleleh dan tidak menetes ke bumi ? Dan siapakah yang menjaganya sehingga tidak meleleh dan tidak pula meledak, atau meleleh ke bumi ?

Mungkin bagi anda yang cerdas, apalagi yang hobi membaca berbagai penelitian dan analisa ilmuan, ada berbagai jawaban. Namun yang pasti bagi saya ada satu jawaban yang pasti benar pula, semua itu adalah kuasa Allah Azza wa Jalla. Andai urusan matahari diserahkan kepada manusia, niscaya ummat manusia telah binasa sejak dahulu kala.

Dialah Allah Yang telah mengatur segalanya sehingga tidak terjadi kekacaaun sebelum waktu yang telah Ia tentukan, yaitu hari kiyamat. Kala itu matahari akan digulung, dan berakhirlah kehidupan dunia.

إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ

“Bila matahari telah digulung.” (At takwir 1)

Maha Suci Allah, yang telah menciptakan segala sesuatu dengan bijak dan membawa hikmah bagi ummat manusia.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

Amalan Yang Paling Banyak Membuat Masuk Surga

Ust. Muhammad Abduh Tuasikal, MSc,  حفظه الله تعالى


Yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga ada dua amalan yaitu takwa dan akhlak yang baik.

Yang terakhir di atas yang amat jarang ditemukan, bahkan pada orang-orang yang sudah kenal agama. Ada yang sudah lama ngaji, sudah sekian duduk di majelis ilmu, namun ia adalah orang yang sering lalaikan amanat. Dengan tampilannya yang jenggotan, namun terlihat sangar (tidak murah senyum) dan kasar. Seolah-olah yang dipentingkan adalah penampilan lahiriyah tanpa memperhatikan akhlak yang santun, amanat dan lemah lembut. Padahal seharusnya dengan rajinnya menuntut ilmu dan sudah menjalankan ajaran Rasul semakin terbimbing pada akhlak yang baik. Karena takwa dan akhlak baik itulah yang mengantarkan pada surga.

Dari Abu Hurairah, ia berkata,

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ « تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ ». وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ « الْفَمُ وَالْفَرْجُ »

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi no. 2004 dan Ibnu Majah no. 4246. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Maksud Takwa

Takwa asalanya adalah menjadikan antara seorang hamba dan seseutu yang ditakuti suatu penghalang. Sehingga takwa kepada Allah berarti menjadikan antara hamba dan Allah suatu benteng yang dapat menghalangi dari kemarahan, murka dan siksa Allah. Takwa ini dilakukan dengan melaksanakan perintah dan menjauhi maksiat.

Namun takwa yang sempurna kata Ibnu Rajab Al Hambali adalah dengan mengerjakan kewajiban, meninggalkan keharaman dan perkara syubhat, juga mengerjakan perkara sunnah, dan meninggalkan yang makruh. Inilah derajat takwa yang paling tinggi.

Al Hasan Al Bashri berkata,

المتقون اتَّقَوا ما حُرِّم عليهم ، وأدَّوا ما افْتُرِض عليهم

“Orang yang bertakwa adalah mereka yang menjauhi hal-hal yang diharamkan dan menunaikan berbagai kewajiban.”

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,

ليس تقوى الله بصيام النهار ، ولا بقيام الليل ، والتخليطِ فيما بَيْنَ ذلك ، ولكن تقوى اللهِ تركُ ما حرَّم الله ، وأداءُ ما افترضَ الله ،فمن رُزِقَ بعد ذلك خيراً ، فهو خيرٌ إلى خير

“Takwa bukanlah hanya dengan puasa di siang hari atau mendirikan shalat malam, atau melakukan kedua-duanya. Namun takwa adalah meninggalkan yang Allah haramkan dan menunaikan yang Allah wajibkan. Siapa yang setelah itu dianugerahkan kebaikan, maka itu adalah kebaikan pada kebaikan.”

Tholq bin Habib mengatakan,

التقوى أنْ تعملَ بطاعةِ الله ، على نورٍ من الله ، ترجو ثوابَ الله ، وأنْ تتركَ معصيةَ الله على نورٍ من الله تخافُ عقابَ الله

“Takwa berarti engkau menjalankan ketaatan pada Allah atas petunjuk cahaya dari Allah dan engkau mengharap pahala dari-Nya. Termasuk dalam takwa pula adalah menjauhi maksiat atas petunjuk cahaya dari Allah dan engkau takut akan siksa-Nya.”

Ibnu Mas’ud ketika menafsirkan ayat bertakwalah pada Allah dengan sebenar-benarnya takwa yang terdapat dalam surat Ali Imran ayat 102, beliau berkata,

أنْ يُطاع فلا يُعصى ، ويُذكر فلا ينسى ، وأن يُشكر فلا يُكفر

“Maksud ayat tersebut adalah Allah itu ditaati, tidak bermaksiat pada-Nya. Allah itu terus diingat, tidak melupakan-Nya. Nikmat Allah itu disyukuri, tidak diingkari.” (HR. Al Hakim secara marfu’, namun mauquf lebih shahih).

Yang dimaksud bersyukur pada Allah adalah dengan melakukan ketaatan pada-Nya.

Adapun maksud mengingat Allah dan tidak melupakan-Nya adalah selalu mengingat Allah dengan hati pada setiap gerakan dan diamnya, begitu saat berucap. Semuanya dilakukan hanya untuk meraih pahala dari Allah. Begitu pula larangan-Nya pun dijauhi. (Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 397-402)

Maksud Akhlak yang Baik

Dalam hadits Abu Dzar disebutkan,

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Ikutilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Ibnu Rajab mengatakan bahwa berakhlak yang baik termasuk bagian dari takwa. Akhlak disebutkan secara bersendirian karena ingin ditunjukkan pentingnya akhlak. Sebab banyak yang menyangka bahwa takwa hanyalah menunaikan hak Allah tanpa memperhatikan hak sesama. (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 454).

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan akhlak yang baik sebagai tanda kesempurnaan iman. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Daud no. 4682 dan Ibnu Majah no. 1162. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Akhlak yang baik (husnul khuluq) ditafsirkan oleh para salaf dengan menyebutkan beberapa contoh. Al Hasan Al Bashri mengatakan,

حُسنُ الخلق : الكرمُ والبذلة والاحتمالُ

“Akhlak yang baik adalah ramah, dermawan, dan bisa menahan amarah.”

Asy Sya’bi berkata bahwa akhlak yang baik adalah,

البذلة والعطية والبِشرُ الحسن ، وكان الشعبي كذلك

“Bersikap dermawan, suka memberi, dan memberi kegembiraan pada orang lain.” Demikianlah Asy Sya’bi, ia gemar melakukan hal itu.

Ibnul Mubarok mengatakan bahwa akhlak yang baik adalah,

هو بسطُ الوجه ، وبذلُ المعروف ، وكفُّ الأذى

“Bermuka manis, gemar melakukan kebaikan dan menahan diri dari menyakiti orang lain.”

Imam Ahmad berkata,

حُسنُ الخلق أنْ لا تَغضَبَ ولا تحْتدَّ ، وعنه أنَّه قال : حُسنُ الخلق أنْ تحتملَ ما يكونُ من الناس

“Akhlak yang baik adalah jangan engkau marah dan cepat naik darah.” Beliau juga berkata, “Berakhlak yang baik adalah bisa menahan amarah di hadapan manusia.”

Ishaq bin Rohuwyah berkata tentang akhlak yang baik,

هو بسطُ الوجهِ ، وأنْ لا تغضب

“Bermuka manis dan jangan marah.” (Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 457-458).

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita sifat takwa dan akhlak yang mulia. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Selesai disusun menjelang Zhuhur, 24 Jumadal Ula 1435 H di Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

Ref:  http://rumaysho.com/akhlaq/amalan-yang-paling-banyak-membuat-masuk-surga-7037

View

Bergegaslah Memasuki Pintu Kebaikan

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Seorang salaf berkata :
“Jika pintu kebaikan dibukakan untukmu maka bergegaslah memasuki pintu kebaikan tersebut, karena kamu tidak tahu kapan pintu tersebut tertutup.”

Sungguh betapa sering Allah memberikan kita kesempatan untuk beramal akan tetapi kita menunda-nundanya…seakan-akan pintu kesempatan tersebut akan terbuka setiap saat untuk kita…akan tetapi kenyataannya begitu cepat ia tertutup..bahkan terkadang tidak pernah terbuka lagi selamanya…yang tertinggal hanyalah penyesalan yang tiada guna.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

Pemilu ? Pilpres ?

Ust. Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Pemilu dan Pilpres selalu menjadi polemik diantara kaum muslimin. Terkadang tidak sungkan-sungkan untuk mencela dan tanpa sadar malah mengghibah kepada sesama muslim. sudah seharusnya kita selalu menyikapi segala sesuatu itu dengan adil. Bagaimanakah Seorang muslim menyikapi polemik terhadap pemilihan sesuatu ?

Mari kita Simak video berikut ini (13:44)
Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc dalam Menyikapi Seputar Polemik PILPRES

https://www.facebook.com/photo.php?v=245303812329737

atau

http://youtu.be/ZPBX6WMuj_8

View

Orang Kampung Pertama Kali Ke Kota

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

Woooow, waaaah, dan ungkapan serupa sering terucap dari lisan orang kampung saat pertama kali ke kota. Semua serba mengegumkan, mengherankan dan bahkan membingungkan. Sekedar mau menyebrang jalan saja, ia grogi, salah tingkah, takut, bingung, dan bercampur kagum. Kendaraannya bagus-bagus dan banyak berseliweran. Kondisi semacam ini kadang kala menyebabkannya ditimpa celaka, di copet, ditipu, dan bahkan tertabrak, atau paling ringan ialah tersesat jalan.

Hal serupa, juga terjadi dengan orang kota yang pertama kali ke kampung. Sekedar melihat anak angsa, atau anak kambing yang baru lahir, kedua matanya terbelalak kagum, dan lisannya segera berucap: wooow, cihui, menakjubkan, atau luar biasa.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan frekwensi kedatangannya ke kota atau ke desa, sedikit demi sedikit, kondisi tersebut berubah. Hingga pada saatnya orang kampung tersebut tidak lagi canggung dan benar-benar beradaptasi dengan kondisi di kota. Dan orang kota tersebut juga terbiasa dengan pemandangan yang ia saksikan di desa.

Fenomena tentang orang desa dan kota ini sejatinya adalah ilustrasi sederhana tentang bagaimana sikap dan perilaku orang yang menghadapi hal baru dalam hidupnya.

Kondisi seperti di atas juga berlaku pada orang yang tidak pernah membuka mata dan telinga terhadap berbagai dinamika dalam dunia ilmu pengetahuan.

Perbedaan pendapat antara ulama’ dianggap sebagai satu hal yang mengherankan dan disikapi berlebihan oleh orang-orang yang seumur hidupnya tidak pernah mengetahui adanya perbedaan tersebut. Mereka mengira bahwa dunia bisa hancur dan kacau balau bila terjadi perbedaan, mereka menuntut agar semua ulama’ dan juru dakwah selalu bersepakat, seiya dan sekata dalam segala masalah.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, bila ia rajin membuka mata dan telinga dan mencermati buku buku para ulama’, maka semuanya akan terasa biasa saja.

Dahulu Atha’ berkata:

لا ينبغي لأحد أن يفتي الناس حتى يكون عالما باختلاف الناس فإنه إن لم يكن كذلك رد من العلم ما هو أوثق من الذي في يديه

“Tidak pantas bagi siapapun untuk memberi fatwa kepada orang lain hingga ia mengetahui perbedaan pendapat yang terjadi antara para ulama’. Karena bila tidak mengetahuinya, bisa jadi ia menentang ilmu yang lebih kuat dibanding apa yang ia pahami/pelajari.”

View

Keberkahan Hidup

Ust. Aan Chandra Thalib, حفظه الله تعالى

Ibnu Qayyim, rahimahullah, berkata,
“Kelapangan rezeki dan amalan tidak diukur dengan jumlahnya yang banyak, Panjang umur juga tidak dilihat dari banyaknya bulan dan tahun yang dilalui. Akan tetapi, kelapangan rezeki dan umur dinilai berdasarkan keberkahannya.”

(Al-Jawabul Kafi: 56).

Catt:
** Rezeki dan umur bisa dikatakan memiliki barokah bila keduanya membuat seseorang semakit dekat dengan Allah.

** Banyaknya harta tidak membuat dia lupa untuk bersyukur. Dan panjangnya umur tak membuat dia terpedaya.

 Ditulis oleh Ustadz Aan Chandra Thalib, حفظه الله تعالى

Ref:
https://www.facebook.com/aan.c.thalib

Semoga bermanfaat.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

Memuliakan Istri….Salah Satu Ciri Suami Yang Sholeh

Ust. Ibnu_Mukhtar, حفظه الله تعالى

Segala puji bagi اللّـﮧ, sholawat & salam untuk Rosululloh..wa ba’du!

Saudaraku seislam ~khususnya para suami- yang saya cintai, memuliakan istri merupakan salah satu tanda kesholehan seorang suami. Banyak perkara yang bisa kita lakukan untuk memuliakan istri kita, di antaranya :

Pertama, memanggil istri dengan panggilan mesra yang disukainya.

Sepakatilah dengan istri tentang panggilan mesra yang disukainya, dan janganlah pernah merasa sungkan atau berat memanggil ‘Sayangku’ kepadanya. Bagi yang istrinya lebih dari satu, jangan sampai tertukar panggilan sayangnya itu, hmm.. bisa-bisa kena jewer lho..

Kedua, berikanlah busana yg sesuai syar’ie, dan bantulah agar ia selalu menutup dan menjaga aurotnya sebagaimana yang ditetapkan اللّـﮧ & Rosul-Nya.

Ketiga, bimbinglah istrimu menjadi istri yang sholeh, penyejuk mata & hatimu dgn ilmu yang benar, kasih sayang dan ketauladanan, bukan dengan arogansi, kekejian dan kekasaran.

Keempat, jika ada perkara yang tidak disukai, janganlah mencela dan mencaci makinya apalagi sampai memukul atau menyiksanya. Luruskanlah dengan seindah-indah ungkapan dan setepat-tepat tindakan, semoga ia makin menyenangkan & mempesonamu.

Kelima, nafkahilah istrimu itu dengan penghasilan yang halal, dan nafkahilah kebutuhan batinnya dengan penuh cinta berdasar adab-adab yang indah sebagaimana diajarkan agama kita.

Keenam, jangan sungkan mencium mesra, merayunya dan membisikan kata-kata cinta kepadanya. Sungguh ungkapan cinta yang tulus dari sang suami itu lebih menyegarkan batinnya daripada pemberian yang lain.

Ketujuh, doakanlah kebaikan, keberkahan dan ampunan untuk istrimu. Jauhilah melaknat, menyumpah atau mendoa-doakan yang buruk untuknya.

Semoga catatan ringan ini ada manfaatnya untukku dan untuk yang mau mengambil manfaatnya.

Wa shollallohu wa sallama ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad
بَارَكَ اللَّهُ فِيْكُمْ

View

Dicintai Dan Dibenci

Ust. Aan Chandra Thalib,  حفظه الله تعالى

Dicintai dan dibenci adalah sebuah keniscayaan. Karena ridho manusia merupakan suatu hal yang mustahil untuk diraih. Bagaimanapun baiknya seseorang pasti ada yang membencinya.

Imam Syafi’I –rahimahullah pernah berkata, “Tidak ada jalan untuk menghindar dari gangguan manusia, maka bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang mendatangkan manfaat untukmu dan jangan pedulikan mereka”.

Iya, hanya pengecut yang akan menghabiskan hidupnya untuk melayani para pembenci, adapun orang-orang besar mereka akan menghabiskan waktunya untuk menjadi berarti dihadapan Allah.

————————
Senin 08-06-1435 H.

Ref:  http://abulfayruz.blogspot.com/2014/05/kumpulan-status-bulan-april-2014-m.html

View

Menebar Cahaya Sunnah