Larangan Untuk Berburuk Sangka Dan Tajassus – 2

Tajassus adalah : mencari-cari kesalahan atau kejelekan orang lain

● Allah Ta’ala berfirman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain..”

( Al-Hujurat/49 : 12 )

● Abu Qilabah rohimahullah berkata,

”Jika sampai kepadamu berita tentang tindakan saudaramu yang tidak engkau sukai, maka berusahalah mencari alasan (berbaik sangka) kepadanya semampumu..

Jika engkau tidak mendapatkan alasan untuknya, maka katakanlah pada dirimu sendiri, ”Mungkin saudaraku itu mempunyai alasan yang tidak aku ketahui..”

( Hilyatul Auliya – 2/285 )

Larangan Untuk Berburuk Sangka Dan Tajassus – 1

Tajassus adalah : mencari-cari kesalahan atau kejelekan orang lain

● Allah Ta’ala berfirman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain..”

( Al-Hujurat/49 : 12 )

● Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan..

Janganlah kalian :
– saling mencari berita kejelekan orang lain,
– saling memata-matai,
– saling mendengki,
– saling membelakangi, dan
– saling membenci.

Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara..”

( HR. Bukhari no. 6064 dan Muslim no. 2563 )

Do’a Nabi Musa ‘Alayhissalam

Syaikh Abdurrozaq Al Badr hafizhohullah berkata,

“Seorang yang membutuhkan pekerjaan dan membutuhkan pernikahan yang layak (pasangan yang sholeh/sholehah) maka ia selalu mengulang-ulang do’a mulia ini :

رَبِّ إِنِّيْ لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ

⁣ROBBI INNII LIMAA ANZALTA ILAYYA MIN KHOIRIN FAQIIR

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat membutuhkan setiap kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku..”⁣

(QS. Al-Qashas: 24)⁣

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah MA, حفظه الله تعالى

ref : https://t.me/SRB_Official/1558

Tanda Sehatnya Iman

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

فكل ما وقع في قلب المؤمن من خواطر الكفر والنفاق فكرهه وألقاه ازداد إيمانا ويقينا ، كما أن كل من حدثته نفسه بذنب فكرهه ونفاه عن نفسه وتركه لله ازداد صلاحا وبرا وتقوى .

“Setiap kali muncul di hati mukmin pikiran yang kufur dan nifaq lalu ia membencinya dan membuangnya, akan bertambahlah iman dan keyakinannya.

Sebagaimana orang yang berkeinginan untuk berbuat dosa, lalu ia tepis dan meninggalkannya karena Allah maka bertambah kesalehan, kebaikan dan ketakwaannya..”

(Majmu’ Fatawa 10/767)

Pikiran pikiran yang buruk itu selalu muncul di hati..
Karena setan berusaha menjerumuskan hamba kepada keburukan..

Namun saat hati kita menolak dan membencinya..
Itu tanda masih sehatnya iman kita..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Termasuk Kesalahan Besar

Syaikh Abdurrohman As Sa’diy rohimahullah berkata,

من الغلط الفاحش الخَطِر ؛ قبول قول الناس بعضِهم في بعض ، ثم يبني عليه السامع حُبًّا وبغضًا ومدحًا وذمًا فكم حصل بهذا الغلط أمور صار عاقبتها الندامة .
‏وكم أشاع الناس عن الناس أمورًا لا حقائق لها بالكلية أو لها بعض الحقيقة فنمِّيَت بالكذب والزور ، وخصوصًا مَن عُرفوا بعدم المبالاة بالنقل أو عرف منهم الهوى !
‏فالواجب على العاقل التثبت والتحرز وعدم التسرّع ، وبهذا يُعرف دين العبد ورزانته وعقله .

“Termasuk kesalahan besar dan fatal adalah mudah menerima ucapan seseorang tentang orang lain. Lalu pendengarnya membangun cinta dan benci, pujian dan celaan di atasnya. Akibat kesalahan ini banyak terjadi yang membuat pelakunya menyesal.

Berapa banyak berita yang disebarkan ternyata tidak benar sama sekali. Atau benar sebagiannya lalu dibumbui dengan kedustaan. Terlebih bila pelakunya adalah orang yang tak peduli atau (orang yang) mengikuti hawa nafsu.

Kewajiban orang yang berakal adalah kroscek dan tidak tergesa gesa. Dengan inilah terlihat agama seseorang, kebaikan akhlak dan akalnya..”

(Ar Riyaadhu An Nazhiroh – 209)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Temanmu Yang Hakiki

● Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda tentang alam kubur,

وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ ، حَسَنُ الثِّيَابِ ، طَيِّبُ الرِّيحِ ، فَيَقُولُ : أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ . فَيَقُولُ لَهُ : مَنْ أَنْتَ ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ . فَيَقُولُ : أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ . فَيَقُولُ : رَبِّ أَقِمْ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِي وَمَالِي

“Lalu datanglah kepadanya seorang laki laki yang wajahnya indah, pakaiannya bagus, dan sangat wangi.

Ia berkata, “Bergembiralah dengan sesuatu yang menyenangkanmu..! Ini adalah hari yang dijanjikan untukmu..”

Ia (mayat) berkata, “Siapakah kamu..? wajahmu membawa kebaikan..”

Ia menjawab, “Aku adalah amalmu yang sholeh..”

Ia (mayat) berkata, “Ya Robb, tegakkanlah hari kiamat agar aku bisa kembali kepada keluarga dan hartaku..”

(HR Ahmad)

● Al Hafizh Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

صاحب مَن تُصاحب، فواللّٰه الذي على العرش اسْتوى لن يُصاحبك في قبرك إلّا صاحبٌ واحد، ألا وهو عملك الصّالح، فأحسن صُحبته، يحسن صُحبتك في قبرك.

“Temanilah yang akan menemanimu.. demi Allah yang ber-istiwa di atas ‘Arasy, tidak akan ada yang menemanimu di kuburmu kecuali satu teman saja. Ia adalah amalmu yang sholeh..

Maka perbaikilah persahabatanmu dengannya. Ia akan menjadi sahabatmu terbaik di kuburmu..”

(Lathoiful Ma’arif hal. 99)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Tujuan Penciptaan Jin Dan Manusia

● Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku .. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku..” (Qs Adz Dzaariyaat : 56-57)

● Ibnul Qoyyim rohimahullah, tatkala menjelaskan ke 2 ayat di atas, mengatakan,

“Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia tidaklah menciptakan jin dan manusia karena butuh pada mereka, bukan untuk mendapatkan keuntungan dari makhluk tersebut..

Akan tetapi, Allah Ta’ala menciptakan mereka justru dalam rangka berderma dan berbuat baik pada mereka, yaitu supaya mereka beribadah kepada Allah, lalu mereka pun nantinya akan mendapatkan keuntungan. Semua keuntungan pun akan kembali kepada mereka..

Hal ini sama halnya dengan perkataan seseorang, ‘jika engkau berbuat baik, maka semua kebaikan tersebut akan kembali padamu..’

Jadi, barangsiapa melakukan amalan sholeh, maka itu akan kembali untuk dirinya sendiri..”

(Thoriqul Hijrotain, hal. 222)

Makna Ridho Kepada Allah

Ibnul Qoyyim rohimahullah menjelaskan,

“Ridho kepada Allah adalah mencakup ridho kepada uluhiyah-Nya yang mengandung :
– ridho dengan mencintai-Nya,
– takut kepada-Nya,
– berharap dan kembali kepada-Nya..

Juga ridho kepada rububiyah-Nya yang mengandung :
– ridho kepada aturan-Nya, yang berkonsekuensi untuk hanya bertawakkal kepada-Nya,
– memohon pertolongan-Nya,
– yakin dan bersandar kepada-Nya, dan
– ridho kepada semua perbuatan-Nya..

Adapun ridho kepada Nabi-Nya adalah :
– ketundukan yang sempurna kepadanya,
– taslim yang mutlak sehingga ia lebih mendahulukannya di atas kepentingan dirinya,
– Ia hanya mengambil petunjuk darinya dan berhukum kepadanya (petunjuk tersebut) dan tidak ridho dengan hukum selainnya..”

(Madarijus Salikin 2/477-478 secara ringkas)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kajian Khusus Muslimah Ke 6

💠 *﷽* 💠

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

AL ILMU Akhwat kembali menghadirkan :

KAJIAN KHUSUS MUSLIMAH KE 6

👤 Nara Sumber :
Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary Lc, حفظه الله تعالى 

📝 Tema : PEMULIAAN ISLAM TERHADAP WANITA

🗓️ Kamis,12 Oktober 2023 / 27 Rabi’ul Awal 1445 H
• Pukul : 08.30 – 14.30 WIB (registrasi jam 07.30)
• The Krakatau Grand Ballroom TMII

https://maps.app.goo.gl/5i4RaybHNTgYaom96p

📩 Infaq Tiket : Rp. 200.000/pax
(Notes, pulpen, nametag, paper bag, snack, air mineral dan makan siang)

📱Tiket Online :
• 0812 1200 2399
• 0812 9554 5770
• 0812 9610 869

TEMPAT TERBATAS
DILARANG MEMBAWA ANAK KECIL

جَزَاك اللّهُ خَيْرًا وَ بَارَكَ اللَّهُ فِيْك
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Panitia
AL ILMU Akhwat
AL MADINAH MUTIARA SUNNAH

selangkah menuju Baitullah

Menyikapi Yang Telah Berlalu

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

‏ما مضى لا يُدفع بالحزن ؛ بل بالرِّضا ، والحمد ، والصَّبر ، والإيمان بالقدر ، وقول العبد :
‏ قدَّر اللَّـه و ما شاء فعل

“Yang telah berlalu jangan disikapi dengan kesedihan tapi dengan :
– keridhoan,
– memuji Allah,
– sabar dan beriman kepada takdir,
– dan ucapan : “semua sudah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki (*)..”

(Zaadul Ma’ad 2/327)

Karena kesedihan tidak ada gunanya..
Bahkan menimbulkan tidak ridho dengan ketentuan..

Kewajiban hamba adalah bersabar..
Yakin bahwa ketentuan Allah itu baik untuknya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

(*) qoddarallah wa maa syaa-a fa’ala (semua sudah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki)

Menebar Cahaya Sunnah