Kajian Khusus Muslimah Ke 6

💠 *﷽* 💠

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

AL ILMU Akhwat kembali menghadirkan :

KAJIAN KHUSUS MUSLIMAH KE 6

👤 Nara Sumber :
Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary Lc, حفظه الله تعالى 

📝 Tema : PEMULIAAN ISLAM TERHADAP WANITA

🗓️ Kamis,12 Oktober 2023 / 27 Rabi’ul Awal 1445 H
• Pukul : 08.30 – 14.30 WIB (registrasi jam 07.30)
• The Krakatau Grand Ballroom TMII

https://maps.app.goo.gl/5i4RaybHNTgYaom96p

📩 Infaq Tiket : Rp. 200.000/pax
(Notes, pulpen, nametag, paper bag, snack, air mineral dan makan siang)

📱Tiket Online :
• 0812 1200 2399
• 0812 9554 5770
• 0812 9610 869

TEMPAT TERBATAS
DILARANG MEMBAWA ANAK KECIL

جَزَاك اللّهُ خَيْرًا وَ بَارَكَ اللَّهُ فِيْك
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Panitia
AL ILMU Akhwat
AL MADINAH MUTIARA SUNNAH

selangkah menuju Baitullah

Menyikapi Yang Telah Berlalu

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

‏ما مضى لا يُدفع بالحزن ؛ بل بالرِّضا ، والحمد ، والصَّبر ، والإيمان بالقدر ، وقول العبد :
‏ قدَّر اللَّـه و ما شاء فعل

“Yang telah berlalu jangan disikapi dengan kesedihan tapi dengan :
– keridhoan,
– memuji Allah,
– sabar dan beriman kepada takdir,
– dan ucapan : “semua sudah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki (*)..”

(Zaadul Ma’ad 2/327)

Karena kesedihan tidak ada gunanya..
Bahkan menimbulkan tidak ridho dengan ketentuan..

Kewajiban hamba adalah bersabar..
Yakin bahwa ketentuan Allah itu baik untuknya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

(*) qoddarallah wa maa syaa-a fa’ala (semua sudah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki)

MUTIARA SALAF : Keadaan Mukmin Saat Pagi Dan Sore Hari

Al-Hasan al-Bashri rohimahullah berkata,

إنما الناس ثلاثة: مؤمن، وكافر، ومنافق

Manusia terdiri dari tiga golongan:
– mukmin,
– kafir, dan
– munafik.

فأما المؤمن، فعامل الله بطاعته

Orang mukmin, Allah subhanahu wata’ala memperlakukan mereka sesuai dengan ketaatannya.

وأما الكافر، فقد أذله الله كما قد رأيتم

Orang kafir, Allah subhanahu wata’ala telah menghinakan mereka sebagaimana kalian lihat.

وأما المنافق، فهاهنا معنا في الحجر والطرق والأسواق، نعوذ بالله، والله ما عرفوا ربهم، اعتبروا إنكارهم ربهم بأعمالهم الخبيثة

Adapun orang munafik, mereka ada di sini, bersama kita di rumah-rumah, jalan-jalan, dan pasar-pasar. Kita berlindung kepada Allah subhanahu wata’ala. Demi Allah, mereka tidak mengenal Robb mereka. Hitunglah amalan jelek yang mereka lakukan karena sebab ingkar mereka kepada Allah subhanahu wata’ala.

وإن المؤمن، لا يصبح إلا خائفا، وإن كان محسنا، لا يصلحه إلا ذلك، ولا يمسي إلا خائفا، وإن كان محسنا، لأنه بين مخافتين

Sungguh, tidaklah seorang mukmin memasuki waktu pagi melainkan dalam keadaan cemas, meski telah berbuat baik. Tidak pantas baginya selain demikian.

Ia pun memasuki waktu sore dalam keadaan khawatir, meski telah berbuat baik.

Sebab, dia berada di antara dua kekhawatiran:

بين ذنب قد مضى لا يدري ما ذا يصنع الله تعالى فيه

1. Dosa yang telah berlalu : dia tidak tahu apa yang akan Allah subhanahu wata’ala lakukan terhadap dosanya (apakah diampuni atau tetap dibalas dengan adzab).

وبين أجل قد بقي لا يدري ما يصيب فيه من الهلكات

2. Ajal yang tersisa (dalam hidupnya) : dia tidak tahu kebinasaan apa saja yang akan menimpanya pada masa yang akan datang.

(Mawa’izh al-Hasan al-Bashri, hlm. 57—58)

Kecintaan Allah Terhadap Bersatunya Hati Para Hamba-Nya

Al Imam Muhammad bin Ismail ash-Shon’any rohimahullah berkata,

انظر في حكمة الله ومحبته لاجتماع القلوب كيف حرم النميمة -وهي صدق!- لما فيها من إفساد القلوب وتوليد العداوة والوحشة! وأباح الكذب -وإن كان حراما!- إذا كان لجمع القلوب وجلب المودة وإذهاب العداوة!

“Perhatikanlah hikmah Allah dan kecintaan-Nya terhadap bersatunya hati hamba-hamba-Nya.

Dia (Allah) mengharamkan tindakan mengadu domba —walaupun yang disampaikan itu benar— karena mengandung upaya merusak hati dan melahirkan permusuhan, serta kerenggangan hubungan.

Sementara itu, Dia (Allah) membolehkan dusta —walaupun hukum asalnya haram—jika tujuannya untuk menyatukan hati, meraih kecintaan, dan melenyapkan permusuhan..!”

(Subulus Salam – 4/203)

Bersabar Dan Ridho Ketika Tertimpa Musibah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ

“Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu..” (At-Taghabun: 11)

Ibnu Katsir rohimahullah menafsirkan,

ﻭﻣﻦ ﺃﺻﺎﺑﺘﻪ ﻣﺼﻴﺒﺔ ﻓﻌﻠﻢ ﺃﻧﻬﺎ ﺑﻘﻀﺎء اﻟﻠﻪ ﻭﻗﺪﺭﻩ، ﻓﺼﺒﺮ ﻭاﺣﺘﺴﺐ ﻭاﺳﺘﺴﻠﻢ ﻟﻘﻀﺎء اﻟﻠﻪ، ﻫﺪﻯ اﻟﻠﻪ ﻗﻠﺒﻪ، ﻭﻋﻮﺿﻪ ﻋﻤﺎ ﻓﺎﺗﻪ ﻣﻦ اﻟﺪﻧﻴﺎ ﻫﺪﻯ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻪ، ﻭﻳﻘﻴﻨﺎ ﺻﺎﺩﻗﺎ، ﻭﻗﺪ ﻳﺨﻠﻒ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺃﺧﺬ ﻣﻨﻪ، ﺃﻭ ﺧﻴﺮا ﻣﻨﻪ

“Siapa yang tertimpa musibah, kemudian ia meyakini bahwa itu berasal dari ketentuan dan takdir Allah; lantas ia bersabar, berihtisab (mengharap pahala dari Allah), dan menyerahkan semuanya kepada takdir Allah; niscaya Allah akan memberi kalbunya hidayah.

Demikian pula Allah akan mengganti apa yang hilang dari perkara dunianya dengan memberi kalbunya petunjuk dan keyakinan yang jujur.

Bahkan, terkadang atau seringkali Allah menganugerahi ganti yang serupa atau lebih baik..”

(Tafsir Al-Qur’an al-‘Azhim 8/137)

==========
Berikut ini adalah ayat lainnya dari Alqur’an dan beberapa hadits shohih terkait dengan musibah :

Tersesat Dan Menyesatkan

Allah Ta’ala berfirman,

اَفَمَنْ زُيِّنَ لَهٗ سُوْۤءُ عَمَلِهٖ فَرَاٰهُ حَسَنًاۗ فَاِنَّ اللّٰهَ يُضِلُّ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۖ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرٰتٍۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ ۢبِمَا يَصْنَعُوْنَ (٨)

“Maka apakah pantas orang yang dijadikan terasa indah perbuatan buruknya, lalu menganggap baik perbuatannya itu..? Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Maka jangan engkau (Muhammad) biarkan dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat..”

(Q.S. Fatir ayat 8)

Akibat membiasakan diri dengan maksiat..
Allah jadikan hati tak lagi menganggapnya buruk..

Bahkan hatinya menjadi terbalik..
Tidak suka kepada ketaatan..
Dan menganggap orang yang taat sebagai orang yang sok suci..
Bahkan gembira saat melihat kesalahan mereka..

Dia merasa suka jika maksiat itu dilakukan oleh manusia..
Ia tersesat dan menyesatkan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Penguji Keimanan Dan Kesabaran

Muhammad bin Abdil Qodir rohimahullah berkata,

يا بني المصيبة ما جاءت لتهلك ، وإنما جاءت لتمتحن صبرك وإيمانك ، يا بني القدر سبع ، والسبع لا يأكل الميتة ، فالمصيبة كير العبد ، فإما أن يخرج ذهبا أو خبثا

– Wahai anakku, musibah itu datang bukan untuk membinasakan tapi untuk menguji keimanan dan kesabaranmu.

– Wahai anakku, takdir itu bagaikan binatang buas, sedangkan binatang buas tidak memakan bangkai. Musibah pun bagaikan ububan yang memilah emas dan kotorannya..”

(Al Adabusyar’iyah karya Ibnul Muflih 3/192)

Pandai besi meniup emas dengan ububan..
Agar semakin berkilau dan hilang kotorannya..

Itulah perumpamaan ujian yang menerpa..
Untuk melihat apakah dengan ujian itu iman kita semakin berkemilau..
Ataukah ternyata palsu..

Ya muqollibal quluub tsabbit quluubana ‘alaa diinika..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Bolehkah Berpuasa Hanya Pada Hari ‘Asyuro Saja..?

PERTANYAAN :

Bolehkah kita berpuasa satu hari saja, yaitu hanya pada hari ‘asyuro..?

JAWABAN :

يجوز صيام يوم عاشوراء يوماً واحداً فقط، لكن الأفضل صيام يوم قبله أو يوم بعده

“Boleh berpuasa satu hari hanya pada hari ‘asyuro saja.

Akan tetapi, yang lebih utama adalah berpuasa juga sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.

Ini adalah sunnah yang telah ditetapkan oleh Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam. Beliau bersabda,

لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع

“Sekiranya aku masih hidup hingga tahun depan, sungguh niscaya aku akan berpuasa juga pada tanggal 9 (al muharrom)-nya..”

Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa berkata,

يعني مع العاشر

Maksudnya, berpuasa bersama dengan puasa tanggal 10 al muharrom-nya.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Dan petunjuk hanyalah dari Allah. Semoga sholawat dan salam terlimpah kepada nabi kita Muhammad, keluarganya, serta para sahabatnya..”

(Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta – no. 13700)

MUTIARA SALAF : Muliakanlah Perintah Allah Di Mana Saja Kamu Berada

Abu Ka’ab berkata, ‘aku ingin pergi safar lalu aku mendatangi Al Hasan Al Bashri..’

Aku berkata, ‘Berikan aku wasiat..’

Beliau berkata, ‘Muliakanlah perintah Allah dimana saja kamu berada, niscaya Allah akan memuliakanmu..’

Abu Ka’ab berkata, ‘Akupun melakukannya. Ternyata Aku senantiasa dimuliakan sampai aku pulang..’

(Siyar Salaf Sholihin no 1293)

Karena kemuliaan hanyalah milik Allah..
Siapapun yang ingin dimuliakan oleh Allah maka muliakanlah agama-Nya..

Allah berfirman,

مَن كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا

“Barang siapa yang menginginkan kemuliaan. Maka sesungguhnya milik Allahlah kemuliaan itu seluruhnya..” (Fathir: 10)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Tawakal Yang Hakiki

Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

“Tawakal yang hakiki adalah menyandarkan hati yang sebenarnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam :

● meraih berbagai kemaslahatan (kebaikan),
● menghindari semua bahaya,
● dalam semua urusan dunia maupun akhirat,
● menyerahkan semua urusan kepada-Nya, dan
● benar-benar meyakini bahwa tidak ada yang dapat memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya serta memberikan manfaat kecuali Allah (semata).. ”

[Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam 2/497]

Menebar Cahaya Sunnah